Checkered Batik

When we obsessed with designer collection and we dont have that stupid money to spend, we’ll find a way to remake it on our way. Do It Yourself aka DIY. Thats what i’ve done as a homage to their fabulous item.

These Marc Jacobs’s Louis Vuitton spring/summer 2013 checkered dresses were so famous a couple of years ago.

style.com

Then Maria Grazia Chiuri & Pierpaolo Piccioli from Valentino delivered this harlequin dress for fall/winter 2014-2015.

style.com

In October 2014, when i went to Pasar Klewer  in Solo. Pasar Klewer known as one of the biggest textile market in Indonesia especially for batik. I felt like orgasm with all the batik and other traditional fabrics at Klewer. I found some classical batik pattern such as suri kencana, kawung, satria wibawa, semenromo, and bledak with affordable price. I wanted it all but i could only afford to buy some. 😀
klewer (2)

In a random batik merchant, i saw these unique batik pieces that reminded me of Vuitton and Valentino collection. I bought the black-red-white-yellow checkered stamp piece which costed under Rp100.000 per piece.

 klewer
Last Friday, i wore this colorful checkered batik shirt with zipper detail to the office and everyone just wondered was that a batik of a common checkered or flanel shirt. They said that it was’nt batik pattern, clown-dress-like, the color were too bright, eyecatching, and #whatsoever.
checkered batik (3)As far as i know, batik is not just about pattern but also technique. Based on Wikipedia, Batik  is a technique of wax-resist dyeing applied to whole cloth, or cloth made using this technique. Batik is made either by drawing dots and lines of the resist with a spouted tool called a canting, or by printing the resist with a copper stamp called a cap. The applied wax resists dyes and therefore allows the artisan to color selectively by soaking the cloth in one color, removing the wax with boiling water, and repeating if multiple colors are desired.

checkered batik (1)

When it comes to pattern, each region has its own traditional pattern such as megamendung motif from Cirebon, truntum and parang from Central Java, Dayak tribe motif, Papua tribe motif, Batak tribe motif, besurek motif from Bengkulu, etc.
checkered batik (4)

My harlequin batik shirt may looks like a flannel shirt, but when you see it closer and touch it, you’ll maybe find and know that it is stamped batik. Its not the finest batik which we usually call batik tulis (written batik), and doesnt show floral, tarditional, or another common motif, but you cant resist that it made by the stamp technique with simple pattern yet colorful and has a margin that people said it was the only batik part of my shirt.
checkered batik (5)

It’s fine if you are an inland batik (batik pedalaman) lover, with the taste of deep earthy colors with various indigenous patterns from Yogyakarta and Solo; an coastal batik lover, with vibrant colors and patterns inspired by a wide range of cultures as a consequence of maritime trading from Cirebon, Madura, Pekalongan, Lasem; Besurek lover, as they draw inspiration from Arabic calligraphy and it may looks more religious; or another tribe batik lover. I love batik, no matter where it comes from, whats the motif, dont care about the bright or dark color, hand written batik, stamped batik, or even just a printed pattern batik; is it silk, cotton, dobby; buttoned or zippered batik, and everything.

Today, the most common batik and relatively cheap is printed batik. Some traditional tribe motif are using print as their way to produce batik. I have some printed batik like my besurek from Bengkulu, and my pink and blue fish gills printed motif from Pontianak. Anik was wearing a hand written pink and white megamendung motif from Cirebon that we bought 5 or 6 years ago and it still looks great. And people also wondered about my batik.

IMG-20140709-WA0000

We can find so many made-in-China batik textiles which cost very cheap per meter. I try to avoid buying printed batik as long as there are another beautiful stamped or hand written batik with the affordable price. But yeah, sometimes we have no choices than buy the printed batik, right? I love batik and my closet is fulfilled with batik. The only rule in my office is we have to wear long sleeve batik shirt on Tuesday and short sleeve batik shirt on Friday. Cheersss… 😀
checkered batik (2)

Permisi, Itu Kursi Saya

 Manado (24)

Kisah ini terjadi saat saya akan terbang ke Manado dari Ternate. Saya dan dua teman saya, yang menjadi penumpang terakhir naik ke pesawat setelah drama ke Danau Ngade, mendapati penumpang sudah duduk di kursi masing-masing. Eh… lha.. kok…  mengapa kursiku diduduki seorang perempuan? Berujarlah saya kepada perempuan itu, “Permisi, Itu Kursi Saya”, lalu dia berkata, “Bukannya sama saja di pinggir jalan dengan di dekat jendela?”. Oughh oke, mbak ini ngajak ribut. Saya jawab, “Tentu beda, itulah mengapa saya bela-belain web check in (dini hari demi dapat sinyal internet yang mumpuni) sehingga bisa memilih posisi dekat jendela dan bisa melihat pemandangan. Boleh saya menempati kursi saya?” dan akhirnya dia berpindah dari kursi yang memang menjadi hak saya.

Selang beberapa menit setelah duduk dan memakan permen yang disajikan pramugari, si mbak tiba-tiba bertanya “Mas dari Jawa Timur, ya?”, saya jawab, “Iya. Kenapa, Mbak?”, lalu dia jawab, “Aku juga orang Jawa Timur, dari xxx”. Maka mulai nyambunglah pembicaraan kami karena berasal dari satu provinsi yang sama. Saya yang awalnya jaim mulailah bocor seperti si mbak.

Dia bercerita akan liburan ke Bali sekaligus menyelesaikan suatu urusan di sana. Menyenangkan sekali berlibur di Bali pikirku, akan tetapi kemudian dia tiba-tiba berujar kalau urusan utamanya adalah menyelesaikan sengketa perebutan anak dengan mantan suaminya yang merupakan warga negara asing. Ewww… Cucoklah mbak ini memang kulitnya eksotis, cantik khas Indonesia, pasti idabul aka idaman bule.

Dia menunjukkan foto anak laki-lakinya yang berumur sekitar 8 tahun yang sangat lucu, tampan, dan menawan. Pasti seperti bapaknya, ya? Dia mengatakan kalau sudah lama cerai dari si bule itu. Mereka sempat tinggal terpisah lalu si mbak menyusul ke negara bule. Karena rutinitas pekerjaan si bule yang sangat sibuk dari pagi sampai malam dan dia merasa kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian maka dia memutuskan untuk kembali ke Indonesia beserta anak semata wayangnya.

Setelah kembali di Indonesia dan si bule masih sibuk dengan pekerjaannya, serta adanya masalah dalam hubungan mereka, maka bercerailah mereka. Saat perceraian, si anak dibawa oleh si mbak tetapi si bule juga ingin mengasuhnya. Si mbak tidak ingin si anak diambil oleh si bule dan dibawa ke negaranya. Maka kaburlah si mbak ke suatu daerah yang tidak begitu dekat dari Ternate. Saya penasaran mengapa ke sini bukan daerah lain misal Kalimantan atau Sumatera, dan dia bilang hanya ingin saja ke daerah yang jauh dan sulit terdeteksi. Yeahhh… That was also my random trip about.

Si bule dan si mbak akan memutuskan tentang bagaimana masa depan anak mereka apakah akan tetap di Indonesia atau kah akan di Jepang dan semacamnya lah. Si mbak sebenarnya agak takut bertemu sang mantan suami di Bali karena si bule, yang masih belum mempunyai pengganti si mbak, katanya masih ingin rujuk dengan si mbak.

Tiba-tiba si mbak bilang kalau dia ke Bali dibiayai oleh si bapak. Saposek bapak itu? Mulailah semakin random ngobrol kami. Menurut si mbak, dia sekarang tinggal di sebuah rumah sederhana bersama anak dan seorang pembantu. Rumahnya tidak luas, masih plesteran semen, belum berkeramik, dengan kamar yang belum disekat. Suatu hari si mbak berkenalan dengan seorang bapak pejabat tajir melintir yang menguasai proyek pembangunan ini itu sehingga banyak mendapatkan uang dari kontraktor. Pfiiiuuuhhh.

Si pejabat rajin menyambangi si mbak dan membelikan ini itu untuk si mbak serta ikut membangun rumah si mbak. But there is no free lunch, right?? Walaupun si mbak tahu kalau si pejabat STW aka setengah tua, atau malah sudah tua, itu mempunyai anak istri, tetap saja si mbak getol mendekati si pejabat. Si mbak bilang kalau dia dibelikan motor cowok seharga 30 juta lebih. Tiap bulan diberi nafkah jutaan rupiah. Rumahnya sekarang sudah jauh lebih bagus daripada 1 tahun lalu sebelum berhubungan dengan si bapak.

Saya bertanya apakah dia tidak takut dilabrak istri si bapak itu. Dia bilang mereka sering menghabiskan waktu di Ternate, jauh dari rumahnya dan keluarga bapak itu, dan kota yang paling lengkap untuk belanja sehingga dia bisa minta dibelikan ini itu oleh si bapak. Yak sip. Pfffttt.

Si mbak bercerita lagi. Dia pernah mengunggah foto dirinya bermandikan uang seratusan dan lima puluh ribuan dengan mamakai bikini di Facebook. Then she showed me that picture and i was just like WHAAATTTTHEHECK. Setelah mengunggah foto mandi uang, beberapa lelaki mengajak dia chatting dan minta dibeliin ini itu dan ditransfer sejumlah rupiah. Jauh sebelum mengunggah foto mandi uang, si mbak mengatakan bahwa dia memang nakal di facebook. She loves chatting in Facebook and it will always end up as a private adult messaging. Arggghhhh.

She showed me some BBM messages with her boy-toys from all over Indonesia. The boys sent their d*ick or naked pricture to her. GLEG. Jika si mbak memutuskan akan bertemu dengan si cowok yang biasanya berada di sekitar Ternate, dia akan mengamati si cowok apakah sesuai dengan fotonya atau tidak. Pernah suatu hari katanya si cowok berbeda dengan di foto, setelah mengamati si cowok maka si mbak akan melipir kabur. jadi ingat iklan jadul yang “aku pakai baju merah” atau apalah itu. When the boy was cute or hot, they would have se*x. Apadeh apadeh ini. #_#

Kembali soal liburan di ke Bali kali ini, dia bilang dibiayai oleh si bapak pejabat. Dia mengaku sedang hamil dan akan aborsi di Bali kepada si Bapak. Untuk biaya aborsi saja, si bapak memberinya Rp25.000.000, lalu tiket pesawat, hotel, uang belanja, uang saku, deelel. Thank god, the flight only took 45 minutes and we already arrived in Manado. She gave me her BBM contact and i wrote it down on a piece of paper. I told her that my phonecell was off and i would add her BBM sooner. I dont know where i placed that paper since i had so many ticket and bills i kept from my 11 days trip. What kinda horror story i had on the plane that day.

Muter-Muter in Ternate

That was our last day in Ternate before we had to leave this beautiful island at 2 pm. What a beautiful view of Tidore island as seen from Beach Falajawa, Ternate.
Ternate (39)

We ate black glutinous rice and sweet mung bean porridge with coconut milk aka bubur ketan hitam & kacang hijau nearby to the beach.

Ternate (40)

Kami sangat menginginkan bisa mendapatkan gambar Pulau Maitara dan Tidore sebagaimana pada uang kertas Rp1000 sehingga tujuan kami pagi itu adalah mencari tempat terbaik untuk memotret dua pulau itu. Kami menyewa angkot untuk berkeliling pulau dengan supir seorang bapak tua. pemberhentian pertama di sebuah jalan yang menanjak dekat Danau Ngade. Ough damn.. the driver did’nt tell us that we were nearby Lake Ngade so we moved to the next place.
Ternate (41)

Kami berhenti di beberapa tempat sejenak-sejenak untuk mendapatkan gambar uang Rp1.000 yang terbaik tetapi tidak juga mendapatkan, apalagi pak supir tidak biasa membawa wisatawan jadi agak susah ditanya-tanyain.Setidaknya susunan Pulau Maitara dan Tidore sudah sesuai dengan posisi di uang Rp1.000. -,-

Ternate (58)

Lalu kami berhenti di dekat Pasar Bahari Berkesan, Desa Sasa. Eventhough it wasnt the best place, but I’m satisfied with my homage to the landscape view on the Rp1.000 banknote.
Ternate (3)

I love the boat effect. 😀
Ternate (2)

Pasar Bahari Berkesan, pasar modern yang terlihat bagus dari luar tapi masih lumayan sepi pengunjung, padahal banyak penjual yang ramah-ramah. Cabai, tomat, pinang, dan bumbu-bumbu sudah tersedia dalam takaran piring-piring kecil.
Ternate (42)

Banyak penjual ikan yang sudah diasap dan terlihat menggiurkan, tetapi bagaimana cara membawanya apalagi ini baru hari ketiga kami.
Ternate (59)

We continued our trip to a beautiful random beach where we did this emo photoshot.

“I’m about to give up about us”
Ternate (43)

“Arian borning holan mamamingkiri ho” pose
Ternate (44)

Red stone.
Ternate (45)

And we finally arrived at Lake Tolire.
Ternate (46)

Green water, trees, and Mount Gamalama at the same time. Purefection. There was free of charge to enter this lake and we dont need to trek, just walk like 20 meters from the car park to this spot.
Ternate (47)
Im running away from your shadow.
Ternate (4)

But still, holong na dirohangki tung so mose so muba tu ho, hasian.
Ternate (11)

Di sini tersedia penjual kelapa yang airnya dijamin menyegarkan tenggorokan dengan harga Rp10.000 per buah. Ada juga penjual batu untuk dilempar ke dalam danau. Orang-orang percaya bahwa batu yang dilempar ke arah tengah danau akan kembali lagi ke tepi danau. Jika dilihat-lihat sih kemungkinan karena efek angin dan bentuk danau yang membuat batu kembali ke tepi tempat orang melempar batu. Kalau ini sih pose “Mamak Tu Dolok Marbabo”.

Ternate (48)

Then we went out from the lake and stopped by in another beautiful random beach.
Ternate (49)

Kami sampai di Pantai Sulamadaha yang terkenal dengan airnya yang super duper jernih. Tiket masuk ke pantai ini tidak begitu pasti, waktu itu kami bayar Rp20.000 termasuk biaya parkir dan 4 orang pengunjung, tetapi kadang-kadang katanya Rp2.000. Berapa pun itu, masih terjangkau, bukan?
Ternate (9)

We spent like 30 minutes just by watching black sand, beach, and mount. Then i walked to the corner of the beach while we were waiting for our fried banana be prepared and the driver waiting for his coffe at a food stall. As i said before, our driver was not a good guide. He did’nt tell us that there was a bay that we could reach by walking trough this side. Just walk ahead, follow the yellow fence like 700 meters, go up and down the hills until you hear a crowd from the food stalls and visitors at the end of the road. I ran to get to this place due to the time limit that we had. Ough, and i forgot to tell my friends that i would go along this way to somewhere that caught my attention.
Ternate (50)

There was a feeling that led me to this heaven with cyristal clear water. I didnt research about this beach and i was in a rush so i only took some photos in 5 minutes visit, with no boat effect. You can find some food stalls, boat with a funtastic music, and a so-good beach to relax.
Ternate (10)

Mungkin sedikit menyesal karena  sebelumnyatidak mencari info secara lengkap tentang tempat wisata di Ternate sehingga tidak mengetahui pantai yang luar biasa cantik ini. Ough, thats the essence of my random traveling. By the way, we can take a motorcycle taxi to get to this bay. I did it to get back when i finally met Bu Joko on a half way. He tried to find me along the street and seemed a bit upset. #ampunkakak
Ternate (51)

 Si Pak Supir yang terlalu santai dan tidak bisa mengemudikan mobilnya dengan leboh cepat membuat kita was-was dengan jadwal penerbangan. Saat itu sudah lebih dari pukul 11.30 saat kami belum juga mendekati kota dan masih berada di sekitar batu angus. Akhirnya kami memutuskan untuk check in di bandara dulu baru check out di hotel supaya tetap bisa ke Danau Ngade yang tadi terlewat jika masih memungkinkan. Sekitar pukul 11.45 wit kami diba di bandara dan buru-burulah kami check in. Si bapak kami minta siap-siap di parkiran agar bisa segera kembali ke penginapan. Kami segera meluncur ke  penginapan dengan kecepatan yang dilambatkan oleh si pak supir. Katanya pelan-pelan saja, gak usah buru-buru. Pffttt mengapa tadi pagi ngambil angkot dengan supir yang musik di mobilnya juga tidak kekinian dan lambat gini ya.

Sekitar 12.15 wit kami tiba di penginapan, segera check out dan membawa tas-tas kami ke mobil angkot untuk menuju Danau Ngade. Dengan melewati rute sekitar Pelabuhan Bastiong seperti tadi pagi, dibutuhkan waktu hampir 20 menit untuk menuju Danau Ngade. Bukan danaunya, tetapi pinggir jalan raya sekitar Danau Ngade. Ternyata jika ngin mendapatkan foto Danau Ngade, Pulau Maitara, dan Pulau Tidore seperti di foto-foto maka harus trekking agak jauh, bahkan lumayan jauh, dan kami tidak punya cukup waktu untuk itu sehingag kami memutuskan untuk kembali ke arah bandara.

Bukannya dibawa ke bandara, tiba-tiba pak supir tua berhenti di pinggir jalan yang agak terlihat Danau Ngade dan memaksa kami untuk memotert danau. Kami tolak dan kami minta jalan saja. Kemudian dia berbelok ke jalan kecil, lalu saya tanya “mau ke mana ini pak?”, dia bilang “ke arah bandara”. OK. Tak begitu lama dari belokan tadi kok jalannya menyempit dan agak mencurigakan, lalu mulailah saya emosi dan bertanya “BAPAK!!! Ini bukan ke arah bandara kan?? Mau KE MANA ini?”. Si Bapak sambil tertawa bilang “Kita lihat Danau Ngade dari atas sana.” WHAAATTTT. Lalu kami pun mulai mencak-mencak dan saya minta si bapak untuk segera kembali ke jalan besar. Eh, dia malah bilang “Tenang aja, baliknya besok-besok saja. Di sini saja dulu nanti tinggal ganti pesawat.” #errrgghhh

Di saat semakin sakit jiwa begini si bapak benar-benar saya omelin dan saya minta segera menuju arah bandara saja. Akhirnya kami memutar arah setlah tadi dari pertigaan kami belok ke kiri menuju puncak, kali ini si bapak memilih jalan yang ke kanan dari arah kami datang dan ternyata JALAN BUNTU. Saya semakin mengomeli si bapak dan memaksanya kembali ke jalan raya yang tadi kami lewati. Akhirnya sekitar pukul 13.30 wit kami tiba di bandara dan segera membayar si bapak. Ternyata sama si bapak yang bilang tidak tahu tarif, seikhlasnya saja, kami diminta bayar Rp300.000. Ok! Fine! Sambil masih emosi, berlarilah kami ke dalam bandara dan ternyata para penumpang sudah mulai masuk pesawat, tinggal beberapa orang termasuk kami yang masih menunggu bus untuk diantar ke pesawat. Syukurlah tadi sudah check in dulu. Walaupun terburu-buru, kami masih sempat foto-foto dong.
Ternate (52)

Batu Angus, a complex of black rock from Gamalama fountain lava, as seen from the air.
Ternate (53)

Lake Tolire, Mount Gamalama, sea, cloud, and our plane.
Ternate (8)

* Berikut rekap pengeluaran kami selama 3 hari di Ternate:

07 Mei 2015
Penginapan 2x2x165.000      660.000
Minuman          18.000
Makan di Maryam          90.000
08 Mei 2015
Angkot ke Dufa-Dufa          30.000
Retribusi @1.000            3.000
Kapal ke Jailolo @50.000      150.000
Sarapan nasi kuning          50.000
Minuman          22.000
Bentor      150.000
Kapal ke Ternate @50.000      150.000
Minuman          24.000
Angkot @5.000          15.000
Makan bakso dan coto          96.000
Cilok            5.000
Gorengan            5.000
Minuman          12.000
09 Mei 2015
Bubur          15.000
Pantai Sulamadaha          20.000
Minuman dan pisang          25.000
Angkot      300.000
TOTAL    1.840.000
Pengeluaran per orang      613.333

Helo Jailolo

Jailolo (8)
Pagi itu rintik hujan masih membasahi Kota Ternate saat kami menunggu angkot yang mau membawa kami ke Pelabuhan Dufa-Dufa dari Penginapan Intan. Setelah beberapa kali bertanya kepada angkot yang lewat, dapatlah satu angkot yang mau membawa kami ke Dufa-Dufa dengan tarif Rp10.000 per orang. Tujuan kami pagi itu adalah ke Jailolo. Lalala lololo. Jailolo…….

Pelabuhan Dufa-Dufa merupakan pelabuhan rakyat untuk menuju Jailolo di Kabupaten Halmahera Barat. Pelabuhan Dufa-Dufa walaupun termasuk pelabuhan kecil dan sederhana, tetapi cukup informatif bagi pengunjung. Saat itu kami turun angkot dan langsung diarahkan menuju meja loket kecil di dekat dermaga. Kita harus membayar retribusi Rp1.000 per orang, biaya kapal cepat Rp50.000 per orang, serta menunggu penumpang kapal penuh selama kurang lebih 30 menit dan kapal siap diberangkatkan.

Jailolo (11)

Waktu tempuh kapal cepat adalah sekitar 1 jam perjalanan laut dan tersedia keberangkatan mulai pukul 6.00 WIT dan terakhir sekitar pukul 14.00 WIT. Kapal cepat dari Jailolo ke Pelabuhan Dufa-Dufa terakhir sekita pukul 16.00 WIT. It was about 8.30 am when we arrived in Jailolo. Yeahhh Jailolo, one of the most famous place in North Moluccas where the Jailolo Bay Festival will be held from Monday, May 11 2015 to Saturday, May 16 2015. We came too early, did’nt we? 😀
Jailolo (4)

Pada saat berlabuh di Pelabuhan Jailolo, hal pertama yang perlu kita lakukan adalah memotret Gunung Jailolo dalam pantulan air. Caranya pada saat setelah turun dari kapal, abaikan sejenak bapak-bapak bentor yang menawari Anda dari berbagai penjuru, menyeberanglah ke arah pagar seperti teralis setinggi kira-kira 2 meter yang membentang di pinggir jalan, carilah pagar yang sudah agak terkoyak dan terlihat pencerminan Gunung Jailolo di air. Silakan memasukkan kamera Anda ke celah-celah pagar tersebut untuk mendapatkan gambar Gunung Jailolo yang paling indah. Waktu terbaik untuk mendapatkan foto pantulan ini adalah pada saat pagi hari dengan langit yang cerah.

Foto Gunung Jailolo di bawah ini saya dapatkan pada saat saya akan kembali ke Ternate pada sore hari, sedangkan foto di atas adalah foto Gunung Jailolo yang saya dapatkan pada pagi hari.

Jailolo (1)Berjalan sekitar 100 meter dari tempat kapal berlabuh, terdapat lapangan atau alun-alun tempat penyelenggaraan Festival Teluk Jailolo.

Jailolo (5)

Pagi itu panggung utama acara yang akan diisi oleh penampilan band Geisha dari ibu kota masih dalam proses pengerjaan.

Jailolo (24)

Toilet umum di sekitar panggung yang berada di bibir pantai juga masih belum siap dan tampak rusuh. But the landscape background was just breathtaking.

Jailolo (23)

Masjid Jailolo yang megah dan warna yang menarik juga terletak di dekat lapangan.
Jailolo (13)

Di antara lapangan dan jalan raya depan masjid terdapat kolam air panas yang sering dimanfaatkan anak-anak untuk bermain air, melompat dari dekat pinggir jalan ke kolam, atau hanya mandi-mandi saja.
Jailolo (12)

Pada saat berangkat dari penginapan, kami mendapatkan sarapan semacam panada dan teh manis hangat sehingga masih lapar dan memutuskan untuk sarapan sejenak. Kami sarapan nasi kuning, sama seperti di Ternate. Lauk ikannya endeeuuus dengan harga per porsi sekitar Rp15.000. Setelah sarapan, kami memberhentikan mas bentor yang baru saja menurunkan penumpang. Setelah bernegoisasi, disepakatilah tarif Rp150.000 untuk mengantar kami beradegan keliling Jailolo dari pukul 10.00 WIT hingga sekitar pukul 15.00 WIT.
Jailolo (17)

Tujuan pertama kami pagi itu adalah Pantai Air Panas. Pantai ini letaknya tidak begitu jauh dari pelabuhan, di mana terdapat sumber air panas ke luar dari celah-celah bebatuan dan pasir sehingga air laut di pantai ini menjadi hangat hingga panas. Enak-enak panas serasa dipijat gitu.
Jailolo (16)

Tersedia beberapa gazebo yang bisa kita gunakan untuk gegoleran dan bergalau ria memandang indahnya pantai ini.
Jailolo (15)

Silakan menikmati setiap jengkal indahnya Pantai Air Panas ini dengan gratis karena tidak dipungut biaya apapun untuk memasuki wilayah pantai ini. Di pantai ini saya bertemu beberapa orang Jawa Timur yang sudah cukup lama tinggal di Jailolo. Ketemu konco dewe.
Jailolo (14)

Perjalanan kami selanjutnya adalah menuju kolam air panas di Gamtala yang letaknya cukup jauh dari pelabuhan.
Jailolo (19)

Barbienya Bunda Hani sudah sampai di kolam air panas Gamtala. Yeay. (Pffftt gini nih kelakuan Bunda yang bawa si boneka ke mana-mana)
Jailolo (18)

Di kolam air panas ini tersedia toilet dan gazebo untuk duduk-duduk menikmati indahnya tempat ini. Tak jauh dari kolam ini juga ada kolam air panas lain yang juga sempat kami kunjungi tetapi masih lebih bagus infrastruktur di kolam ini. Sepasang kakek-nenek yang akan pergi mencari ikan melewati sungai yang menghubungkan kolam air panas ini dengan laut.
Jailolo (3)

Pemandangan menuju dan dari kolam air panas sungguhlah indah. Kami disuguhi birunya langit, hijaunya Gunung Jailolo yang serasa memantau kami sepanjang perjalanan, beberapa gereja, rumah tradisional penduduk, serta balai pertemuan warga yang tersebar di penjuru Gamtala. Gereja Zaitun yang indah yang kami lewati saat kembali dari kolam air panas.
Jailolo (10)

Balai pertemuan yang sedang digunakan beberapa warga untuk bercengkerama. Markombur gitu kali ya.

Jailolo (56)

Kami juga sempat singgah di SMP Kristen Jailolo yang saat itu terlihat sepi, mungkin karena sedang libur atau ujian atau entahlah. We did a photocall under the bougainvillea tree in front of the school.
Jailolo (7)

Our spring cover with Bunda Hani fronting my lense was captured here. And then my turn.
Jailolo (6)

This gorgeous view all the way down from Gamtala hotspring.

Jailolo (54)

Kami pun melanjutkan perjalan ke Pantai Susupu yang kata mas bentor agak jauh dan beneran jauh ternyata. Dengan jarak tempuh 1 jam lebih sedikit menggunakan bentor yang memang tidak bisa bergerak dengan cepat karena penumpangnya banyak ini, cukup membuat selangkangan dan pantat saya sampai pegal.

Jailolo (57)

Dan… pada saat tiba di Pantai Susupu ternyata pantainya cantik dan bersih. Terik matarahari siang itu jadi langsung terabaikan. Pantai Susupu terletak di Desa Ropu Tengah Balu (RTB), Kecamatan Sahu, Kabupaten Halmahera Barat. Dinamakan Pantai Susupu karena pantai ini letaknya tidak jauh dari Gunung Susupu, tetapi jauh dari Gunung Jailolo. #iyalah
Jailolo (55)
Terlihat sempat dibangun beberapa fasilitas untuk leyeh-leyeh manja pengunjung akan tetapi sudah rusak dan terbengkalai. Sepi banget pengunjung pantai ini, hanya terlihat beberapa warga kampung yang sedang beraktivitas di sekitar rumah mereka yang menghadap pantai.
Jailolo (20)

Kami beranjak kembali ke arah pelabuhan karena waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 15.00 wit. Di tengah perjalanan, kebetulan kami melihat sedang diadakan perlombaan anak-anak di sebuah lapangan dalam rangka menyambut Festival Teluk Jailolo. Kami berhenti sejenak melihat acara tersebut. Ada permainan enggrang, semacam bola bekel khas Jailolo, memutar ban serta beberapa permainan lain. Ada juga anak-anak yang semacam menjadi cheerleaders dengan memakai rok rumbai-rumbai.
Jailolo

Anak-anak yang masih polos, bahagia, dan tanpa beban hidup.
Jailolo (22)

Gunung Jailolo yang setia mengamati setiap orang dari segala penjuru.
Jailolo (21)

Kami kembali ke Ternate dengan menggunakan kapal cepat pada pukul 15.00 wit dengan tarif Rp50.000 dan waktu tempuh sekitar satu jam seperti saat berangkat.
Jailolo (25)

Saya diizinkan duduk di bagian depan kapal bersawa beberapa awak. Lalu wefie. 😀

Jailolo (26)

Sekitar pukul 17.00 wit kami tiba di Pelabuhan Dufa-Dufa. Tujuan kami selanjutnya adalah Benteng Tolukko yang letaknya hanya sekitar 200 meter dari pelabuhan dengan melewati pasar tradisional Dufa-Dufa dan sedikit jalan kampung.
Ternate (31)

Benteng Tolukko berdiri dengan megah agak di atas bukit tidak jauh dari pantai. Kita bisa memandang indahnya Kota Ternate dengan latar belakang Gunung Gamalama dan latar depan laut serta kepulauan di sekitar dari atas benteng ini. Biaya masuk benteng ini Rp5.000 per orang.
Ternate (5)

Benteng ini didirikan oleh Portugis pada tahun 1540 sebagai pertahanan dalam mengusai cengkih. Benteng Tolukko ini dikenal juga dengan sebutan Benteng Hollandia.

Ternate (32)

Bunda stroke a pose.
Ternate (6)

Mas Joko’s turn. (I had to lay down on the floor to do this shoot)
Ternate (7)
Setelah itu kami naik angkot dengan biaya Rp5.000 per orang ke arah Jatiland Mall, mal paling ngeheits se-Ternate raya. Kami tidak ngemal, tetapi duduk-duduk di pinggir pantai di belakang Jatiland. Then we met the guy on the right side. He came from Bangka but has been living in Surabaya for a long time. Cak cuk cak cuk gitu sih sudah fasih. Dia datang ke Ternate untuk yang ke sekian kali karena ada urusan pekerjaan di sini.
Ternate (33)

Pusat kuliner malam di Ternate di belakang Jatiland Mall. Jangan hanya berjalan di pinggir jalan karena masih ada deretan tenda di belakang tenda yang nampak dari penggir jalan.
Ternate (34)

Saya dan Bunda mencoba makanan Makassar, di samping masakan Jawa Timur, yang bersebaran di sini. Bu Joko lebih memilih makan bakso di warung sebelah. Total pengeluaran makan malam ini adalah Rp78.000 untuk coto dsb, serta Rp18.000 untuk bakso.
Ternate (35)

Dan kami pun berjalan menyisiri pinggir pantai Kota Ternate melewati Masjid Almunawwar yang terletak di pinggir pantai ini. Di samping masjid ini akan didirikan semacam islamic center yang terlihat megah seperti masjid ini. Ada beberapa orang yang sedang berburu ikan dengan tombak dan senter di dekat parkiran mobil di samping masjid.
Ternate (36)

Lalu kami mampir ke Taman Nukila untuk sesi duduk-duduk remang-remang markombur sambil ditemani tikus segeda gaban yang berseliweran. Kemudian dilanjutkan menonton adik-adik yang sedang berlatih di Skatepark Ternate. Tante-tante macam mana pula ini. -,-
Ternate (37)

Mlipir sana-sini hingga akhirnya kami tiba di dekat Penginapan Intan, tempat kami menginap, di mana kami melihat rumah berwarna-warni yang menggoda iman ini. It was just too cute.
Ternate (38)

Selamat Datang di Bumi Cengkih, Ternate

 Perjalanan akbar saya tahun ini sudah saya rencanakan dari sekitar awal bulan November 2014 di mana saat itu saya memulai riset tentang daerah mana di Indonesia yang akan kutuju di tahun 2015 dan terpilihlan wilayah Indonesia timur yang akan  saya kunjungi (bukan Tao Batak lagi dan lagi). Saat itu saya tiba-tiba kepikiran beberapa teman saya saat masih SD yang bekerja sebagai kontraktor di sana dan yah saya memutuskan tujuan pertama saya adalah Ternate, sebuah pulau yang terkenal sebagai penghasil rempah-rempah yang diperebutkan saudagar dari berbagai negara beberapa abad yang lalu. Saya juga teringat tentang perjalanan Mbak @DianOnno ke Morotai dan Togean pada tahun 2012 lalu. Jika di tahun 2014 saya mengunjungi Nias yang digambarkan dalam uang 1000 rupiah keluaran tahun 1992 dengan pelompat batunya,


Rp1000 tahun1992

maka di Ternate saya akan bisa melihat Pulau Maitana dan Tidore yang ada di uang 1000 rupiah yang saat ini masih kita pakai.

Ada dua teman yang berminat untuk menemani saya dalam perjalanan kali ini yaitu Cheva dan Mbak Hance. Sebenarnya saya sudah membuka open trip via Kaskus, Coachsurfing, dan Twitter akan tetapi itu baru saya lakukan dalam kurun 1 minggu sebelum perjalanan dan ternyata tidak mendapat tambahan teman perjalanan untuk berbagi. Saya berangkat menggunakan Si Singa pada tanggal 7 Mei 2015 pukul 5.00 wib, sedangkan Cheva dan Mbak Hance sudah berangkat duluan dengan menggunakan Si Plat Merah pada pada pukul 2 dini hari.

Ternate (12)Pemandangan sebelum singgah di Manado.

Ternate (30)

Pada saat saya transit di Manado, Cheva dan Mbak Hance sudah berkeliling sebagian Kota Ternate.
Ternate (29)

Sekitar pukul 11.30 WIT akhirnya saya tiba di Bandara Sultan Babullah, Ternate. Sesuai saran Cheva dan Mbak Hance, maka saya berjalan sekitar 1 km ke arah pintu masuk bandara untuk mendapatkan angkot menuju kota yang ngetem di sana. Tarif angkot dari bandara ke kota hanya Rp5.000 sedangkan tarif ojek, yang tersedia dari dekat parkiran bandara hingga sepanjang jalan, bisa mencapai Rp25.000-40.000 tergantung kemampuan menawar kita. Setelah berjalan hingga depan pintu masuk bandara, bukannya naik angkot, saya malah memilih naik ojek dengan tarif Rp10.000 agar lebih cepat sampai di meeting point kami di sebuah warung. Dapat ojek lebih murah juga kan akhirnya. Jika akan naik angkot, angkot di Ternate itu tidak ada jurusannya jadi kita harus bertanya apakah sang supir angkot mau melewati rute kita atau kita harus mencari angkot lain. Warung es kacang di Jalan Merdeka ini lah yang menjadi tempat kami bertemu dan makan nasi kuning khas Ternate dan minum es kacang merah yang nikmat dan nyessss, seger. Harga seporsi nasi kuning dengan lauk ikan adalah Rp15.000, sedangkan semangkuk es kacang merah dihargai Rp12.000.

Ternate (28)

Dari warung es kacang, kami berjalan menyusuri Jalan Merdeka untuk mencari penginapan di sekitar Masjid Muhajirin yang menurut Ibu penjual es kacang, di dekat masjid situ banyak penginapan murah. Setelah berjalan cukup jauh dengan membawa tas kerir yang cukup berat, kami tiba di dekat Masjid Muhajirin dan mendapati beberapa hotel. Saat kita memasuki Jalan Sultan Nuku, kita akan melihat Ternate City Hotel dan Hotel New Archie.

Ternate (23)

Di seberang hotel New Archie, ada Hotel Archie. Kedua hotel ini berada dalam satu manajemen tetapi tarif Hotel Archie lebih murah dibanding Hotel New Archie.

Ternate (22)Di Hotel Archie tersedia kamar ekonomi dengan kamar mandi di luar dengan tarif Rp150.000 untuk 2 orang. kami sempat mengintip kamar deluxe dengan single size bed yang tarifnya Rp330.000. Nyaman sih tetapi cukup mahal.

Ternate (27)

Sekitar 10 meter dari Hotel Archie, kita akan menemukan Hotel Nusantara. Tarif hotel di Jalan Sultan Nuku ini semuanya berkisar sekitar Rp300.000,00.

Ternate (24)
Pada saat berada di sekitar Hotel Nusantara dan menimbang-nimbang mau memilih hotel yang mana, tiba-tiba ada seorang Bapak yang melintas dan menawari kami untuk melihat penginapan bagus yang cukup murah di dekat kontrakan ybs. We decided to follow him then he showed us SaQavia Homestay.  From Archie Hotel, we turned right to a small street just before Nusantara Hotel and go ahead just like 150 meters.

Ternate (25)

SaQavia is located at Kampung Kodok street, Falajawa I, Ternate 0921-3111147. Its rate is Rp150.000 per night for two person. Too bad, we couldnt get any room that time. This is maybe one of the most recommended homestay in Ternate with the best location in the city.

Ternate (26)

Then we went ahead and found Penginapan Intan in Salim Fabanyo street. We decided to stay there for 2 nights. Its rate is Rp165.000 per night for 2 person with breakfast and hot shower. Kekurangan penginapan ini adalah kamar tamu ada di lantai 2 rumah pemilik penginapan sehingga jika ingin ke luar atau masuk harus melalui ruang tamu pemilik penginapan yang juga merupakan tempat persewaan alat pesta dan salon kecantikan. Karena siang itu sedang hujan dan kami juga sangat lelah karena belum tidur semalaman, maka kami boboci dulu hingga menjelang senja sebelum mengunjungi pelabuhan.

Di deratan Masjid Muhajirin di depan Pantai Falajawa sebenarnya banyak penginapan murah tetapi beberapa terlihat agak kumuh dengan tarif sekitar Rp100.000,00, seperti Penginapan Anggrek di Jalan Pahlawan Revolusi, masuk gang sedikit di deretan Masjid Muhajirin, dengan nomor telepon 0921-3122821.

Pantai Falajawa di pinggir jalan protokol Kota Ternate yang bersih dan indah.

Ternate (18)

Di Ternate ini penuh dengan orang Jawa Timur dan Makassar.

Ternate (21)

Ada pasar makanan dan ikan yang siap santap di pojokan seberang Pelabuhan Achmad Yani, Ternate. Kue yang dijual saat itu adalah kue cucur serta lemang ketan hitam dan ketan putih, tanpa isi pisang atau lainnya, padahal sudah lama ingin lemang isi pisang. Juga ada ketupat dan sagu.

Ternate (20)

Lalu kami pun mengunjungi Pelabuhan yang sebenarnya sore itu sudah disterilisasi karena pada hari Jumat tanggal 8 Mei 2015 akan dikunjungi presiden Jokowi yang akan menyeberang ke Sofifi. Setelah sedikit ngedumel kecewa gagal masuk pelabuhan padahal sudah jauh-jauh dari Jakarta di sekitar musala dekat pintu gerbang pelabuhan, tak disangka-sangka bapak-bapak aparat yang menjaga pintu pelabuhan memanggil kami dan mempersilakan kami untuk masuk selama maksimal 1 jam untuk berfoto-foto. Terima kasih, Pak. *cium satu-satu*

Ternate (1)

Suasana ruang tunggu di pelabuhan yang dipenuhi calon penumpang kapal entah ke mana.

Ternate (17)

Tulisan Pantai Falajawa di depan Masjid Muhajirin, Ternate.
Ternate (16)

Welcoming Mr. President with no Mr. President’s face in the billboard. This kinda creepy things we have in Indonesia’s tourism billbooards which usually show 90% Governor-and/0r-mayor-and-friends’s-face and 10% tourism destination.

Ternate (15)

And we had such a yummy chicken satay, raw vegetable, fried tofu, fried tempeh, and fried chicken for dinner in Maryam-1, an East Java dishes favor food stall in Sultan M. Djabir Syah Street, for Rp90.000.

Ternate (14)

Jadwal Penyeberangan Feri Gorontalo-Wakai-Ampana Mei 2015

image

Ini jadwal penyeberangan menuju Togean dari Ampana, Togean dari Gorontalo, juga Togean dari Bumbulan untuk bulan Mei 2015 selama Kapal Tuna Tomini masuk dok.

Ayo segera susun jadwalmu ke Togean bulan Mei ini.

Jadwal kapal di atas aku dapat dari Ales, Waleakodi Sifa Cottage. We’re about to have a Cengkih Afo ferry ride from Gorontalo to Wakai in less than 3 hours. Tonight is gonna be the first time Cengkih Afo Ferry operates to substitute Tuna Tomini Ferry.

We’re ready to sail Tomini Gulf for 12 hours. Wish us luck. Xoxo

Jakarta City Tour Part II

Setelah dari es krim Ragusa, kami melanjutkan perjalanan ke Museum Taman Prasasti.

City Tour  (33)

Harga tiket masuk museum Taman Prasasti ini Rp5.000 per orang.

City Tour  (35)

Pose….

City Tour  (58)

Pose lagi…

City Tour  (61)

Dan kami pun menonton video Agnes Monica “Tanpa Kekasihku” yang syuting di sini untuk menirukan adegan apa yang bisa kami lakukan di sini. Dan begini hasilnya.
City Tour  (34)

Lalu…

City Tour  (59)

Lalu ini…

City Tour  (53)

Ini…

City Tour  (52)

lagi…

City Tour  (56)

lagi…

City Tour  (54)

dan lagi…

City Tour  (60)

dan adegan begini.

City Tour  (57)

Ada pula prasasti atas nama James Alexander Bond yang kemudian saya pose tiduri.

City Tour  (51)

Setelah itu kami berpindah ngadem di mal. Bertiga benikmati semangkok macha teh hijau seharga Rp55.000. Pertama kalinya saya mencicipi hidangan ini. Es campur cincau dikasih eskrim dungdung mungkin lebih cocok dengan lidah dan kantong saya.

City Tour  (36)

Setelah duduk dan ngobrol ngalor ngidul dari Asar hingga maghrib di GI, kami berpindah ke Jalan Sabang.

City Tour  (37)

Nadia mencoba soto ranjau (tulang-tulang ayam) di Soto Ceker dan Ranjau Pak Gendut.

City Tour  (38)

Seafood yang selalu ramai di Jalan Sabang.

City Tour  (39)

Di antara beberapa tempat makan di dekat perempatan Sabang ini, favorit saya adalah Kopi Oey d.h. Kopitiam Oey punya Pak Bondan, serta Sabang 16 yang ngeheits dulu saat zaman twitter.

City Tour  (40)

Menyusuri Jalan Kebon Sirih.

City Tour  (41)

Kami di Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih. Awalnya kami duduk di dekat tempat menggoreng nasi tetapi karena bau daging kambing yang menyengat maka para gadis mengusulkan pindah tempat.

City Tour  (42)

Seporsi nasi goreng kambing Kebon Sirih dihargai Rp30.000 dengan potongan daging, lemak, dan jeroan kambing yang banyak dan rasanya nikmaaaaaaaattttt. My favourite street food in Jakarta.

City Tour  (45)

Mari makan.

City Tour  (43)

Sate kambingnya endeus tetapi harganya sekarang sudah Rp55.000 per porsi 10 tusuk, padahal 2 minggu lalu masih Rp50.000.

City Tour  (44)

Ibu Nyonya yang bayarin kami, walau setelah itu totalan sih.

City Tour  (46)

Memasuki KRL.

City Tour  (47)

Bisa gegoleran gini di KRL padahal biasanya masih ramai banget walau pun akhir pekan.

City Tour  (48)

Dan perjalanan keliling sedikit bagian kota Jakarta hari ini pun berakhir.

City Tour  (49)

Jakarta City Tour Part I

Libur 3 hari di awal bulan Mei kemarin walaupun tidak ke luar kota tetapi saya berhasil melewatinya dengan cukup produktif menikmati kota Jakarta yang sedang lengang.

City Tour  (5)

Saya mengajak rombongan teman-teman #PJ11AdventureClub untuk naik bus tingkat City Tour. Dari awalnya cukup banyak yang tertarik hingga akhirnya hanya saya, Nadia, serta Zie yang mengikuti tour kali ini.

City Tour  (6)

Di jembatan penyeberangan Halte Bunderan HI.

City Tour  (1)

Di mana kita harus menunggu City Tour Bus? Di depan Louis Vuitton Store. Halte bus tingkat untuk keliling kota ada di depan Vuitton Store ini.

City Tour  (7)

Kondektur bus yang ramah dan cukup bagus mengatur penumpang.

City Tour  (2)

Untuk menaiki bus ini tidak dipungut biaya sama sekali dan sepuas-puasnya kita saja mau berapa kali putaran dan turun atau naik di halte mana selama masih di jam operasi dan halte yang ditentukan.

City Tour  (3)

Jumlah penumpang bus ini juga dibatasi sebanyak jumlah kursi sehingga jangan takut tidak kebagian kursi dan harus berdiri karena kondektur akan melarang calon penumpang masuk jika kapasitas sudah tidak memungkinkan semua penumpang untuk duduk.

City Tour  (4)

Kita bisa menunggu bus ini di beberapa halte yaitu:

– Halte Bunderan HI depan Louis Vuitton Store

– Halte Museum Nasional

– Halte Bank ANZ dekat Harmoni

– Halte Kantor Pos dekat Gedung Kesenian Jakarta

-Halte Istiqlal

– Halte Monas

– Halte Balai Kota

City Tour  (50)

Setelah menaiki bus satu putaran untuk mengetahui rutenya, maka kami memutuskan untuk berjenti di Museum Nasional.

City Tour  (23)

Serasa akan diterkam badai.

City Tour  (8)

Area playground di antara 2 gedung Museum Nasional.

City Tour  (22)

Di museum ini banyak sekali arca-arca, keramik, maupun benda-benda khas berbagai daerah di Indonesia. Bagian arca dan patung-patung.

City Tour  (9)

Zie dan Nadia gelandotan di tiang.

City Tour  (10)

Bagian wilayah Papua.

City Tour  (11)

Di bagian gedung satunya terdapat 4 lantai yang masing-masing ada temanya.

City Tour  (21)

Di lantai 1 ini temanya manusia dan lingkungan.

City Tour  (20)

Bagian lain museum.

City Tour  (15)

Headdress yang indah.

City Tour  (16)

Miniatur perahu.

City Tour  (14)

Seperti monogram Louis Vuitton tetapi bentuknya mirip Louis Vuitton x Yayoi Kusama pumpkin clutch.

City Tour  (17)

Di lantai 4 ini sungguh indah. Penuh dengan emas dan keramik yang sungguh luar biasa indah akan tetapi kita dilarang memotret di dalam ruangan sehingga ini hasil mengambil gambar dari luar ruangan.

City Tour  (18)

Bagus kan?

City Tour  (19)

Ada beberapa peta besar tentang sebaran suku, bahasa, dsb.

City Tour  (12)

Menunggu bus untuk menuju Halte Istiqlal.

City Tour  (24)

Bagi Anda yang ingin jalan-jalan keliling (sebagian wilayah) Jakarta dengan gratis dan nyaman, terutama bersama anak-anak dan keluarga di akhir pekan, mungkin Anda perlu sekali-kali mencoba city tour dengan bus ini. Hmmmm… Subhanalloh.

City Tour  (25)

Bus kali ini kondekturnya cewek, begitu pun supirnya.

City Tour  (26)

Dan kami pun turun di Halte Istiqlal untuk menuju es krim “Ragusa”. Antrenya panjang kali dan kudu ngetag di dekat orang yang kira-kira mau selesai agar segera dapat jatah kursi. *sambil melotot*

City Tour  (27)

Berikut daftar menu dan harga di Ragusa.

City Tour  (29) City Tour  (28)

Ada beberapa penjual makanan di depan ragusa yang bisa kita pesan sebagai pendamping makan es krim, yaitu sate ayam, gado-gado, asinan dan juhi, serta otak-otak.

City Tour  (62)

Menunggu pesanan lengkap.

City Tour  (30)

Dan ini dia seluruh pesanan kami. Harga es krim 3 warna, banana split, rum raisin dalah Rp80.000. Seporsi sate ayam dihargai RFp25.000, seporsi asinan dan seporsi juhi Rp30.000, serta 10 buah otak-otak dihargai Rp25.000.

City Tour  (31)

Yeayyyy…

City Tour  (32)

Welcoming My Ternate to Togean Trip

Saya berencana backpackeran ke Ternate, Manado, dan Togean dengan jadwal sebagai berikut:

Kamis 07 Mei 2015 05.00 terbang ke Ternate
Kamis 07 Mei 2015 11.45 Memulai jelajah Ternate
Jumat 08 Mei 2015 06.00 Menjelajah pulau-pulau sekitar Ternate
Sabtu 09 Mei 2015 06.00 Jelajah benteng di Ternate
Sabtu 09 Mei 2015 14.05 Terbang ke Manado
Sabtu 09 Mei 2015 14.00 Tiba di manado
Minggu 10 Mei 2015 06.00 Ke Bunaken
Senin 11 Mei 2015 08.00 Menuju Gorontalo dengan travel (tentatif)
Selasa 12 Mei 2015 17.00 Menuju Togean dgn kapal laut 12 jam
Rabu-Jumat 13-15 Mei 201 Togean
Sabtu 16 Mei 2015 06.00 Menuju Ampana, dilanjutkan perjalanan darat malam hari ke Palu via Poso selama 10 jam
Minggu 17 Mei 2015 16.00 Menuju Jakarta

Sekarang saya baru saja selesai packing dan dalam waktu kurang dari 3 jam lagi saya akan berangkat ke bandara.

Semoga perjalanan kali ini bisa terlaksana dengan aman, lancar, selamat, dan sehat hingga kembali nanti. Amiiiiiin.

Pre Asian African Conference Getaway

Last week, i, Nananana, Ridha, and Lulel attended our collegaue wedding ceremony (in a remote area) in West Bandung. His wedding was just not that important to be attended, actually, because we only wanted to visit Bandung before Asian African Conference and Keraton Cliff. #slappedbyPanji

wedding

We’ve booked two rooms at Javaretro Hotel which is located on Jalan Cibogo 3 No.2, Sukajadi, Kota Bandung, Jawa Barat 40164, phone +62 22 2004358. A bit hard to find without Google maps and a bit far from the center of the city.

Bandung  (30)

The room was clean, the floor and the furniture was beautiful.  The parking lot was not large but you can use the street in front of the hotel to park your car. Free Wi-Fi was available but the signal wasnt that good. The staff were friendly. We skipped the buffet breakfast due to our city tour since early morning. What a good service for a low budget hotel.

Bandung  (32)

At 3.30 pm, we were going to Dago Pakar in a heavy traffic jam. We intended to visit Tebing Keraton but our friend-to-be-guide told us that we’d better go there tomorrow morning. So we only did a sight seeing near to The Valley and turned back to the center of the city afterwards. Its about at 5 pm when we touched down Asia Afrika street and was greeted by a very-very-heavy-traffic jam. I saw a huge excitement from the people to welcome the Asian African Conference Commemoration 2015 that would be held there. It took about 80 minutes to reach the parking lot in Great Mosque of Bandung that usually only takes less than 10 minutes.

Bandung  (1)

We prayed at the mosque first before doing photocall in all over the street.

Bandung  (2)

The mosque was beautiful and the yard was just covered with the new synthetic grass. Children love playing there.

Bandung  (4)

The sign of “Alun-Alun Bandung” which means Bandung City Square.

Bandung  (3)

Here we come in the Asia Afrika boulevard with those colorful flags from the participants of the conference.

Bandung  (19)

I almost did’nt know any country leader on the painted box.

Bandung  (6)

The girls with i-know-some-of-these-leaders figures.

Bandung  (5)

The guys styled our president with a sideway hat and jacket. -,-

Bandung  (7)

Then we had dinner in the not-satisfying a la Japanese restaurant nearby our location in Naripan Street. We had to wait until half and an hour to have our ramen, bento, and dimsum to be served while the other customer had only wait for less than 15 minutes. We asked for our dishes like five times but they were just busy with the other customer. That was our decision to stay there due to our friends were on their way to this place while we had been here for an hour. At the end, there were some beverage and dimsum they couldnt serve but they possibly served it to another customer. This place offered us a good vibe to hang out with fellas and the taste of the food was just ok actually.

Bandung  (8)

We went back to the crowd in the fountain area.

Bandung  (9)

The girls tried to atrract the police attention.

Bandung  (10)

Lulel seemed lost in the crowd.

Bandung  (12)

The building was almost ready to welcome the delegate.

Bandung  (11)

I took a part on a selfie competition which was held in front of Pikiran Rakyat building.

Bandung  (29)

Nananana tried to operate this big and antique typewitter.

Bandung  (13)

Homeless guy across the street of GKN.

Bandung  (14)

A beautiful colonial building and the traffic jam.

Bandung  (15)

Selfie time.

Bandung  (16)

And we did a selfie again with the museum as the background.

Bandung  (17)

Mamang with Charlie Chaplin.

Bandung  (20)

Passing by East Cikapundung Street again.

Bandung  (18)

A beautiful globe monument with the name of country participants of the conference.

Bandung  (21)

It was 10.30 pm when we got back to the parking lot under the mosque. We moved to La Viva Cafe on Jalan Setiabudi No. 173, Bandung to taste the infamous surabi or serabi, Indonesian pancake made of rice flour and coconut milk. Surabi is best cooked with mini pans made of clay, then cooked on the charcoal-fire stove.

Bandung  (23) Bandung  (22)

In Bandung, surabi are served with so many topping choices like cheese, chocolate, jackfruit, palm sugar, oncom, durian, corn, chicken, strawberry, banana, etc. It costs Rp5.500 to Rp13.000.

Bandung  (25)

It was Sunday morning when we went all they way up to Keraton Cliff.

2015-04-26-10-47-44_deco

Then we packed up our belongings and checked out from the hotel and had some shopping spree in House of Donatello and Kartikasari on Juanda Street. We enjoyed our last moment in Bandung by having a late luncheon at Kupu Bistro Cafe on Ranggagading Street, phone +62 22 4232621. This cafe offered a very cozy environment to hang out.

 Bandung  (34)

The food and beverage taste was average and the price was not pricey.

Bandung  (33)

Its lychee virgin mojito was so fresh and testeful with this beautiful presentation.

Bandung  (35)

Finally we had to go back to Jtown and ended our fabulous weekend getaway.