Mencari Batak Bagian II

Pagi itu, hari ketiga berkelana di Tanah Batak, bangun dengan pemandangan di depan kamar seperti ini.

tuk-tuk (11)

Sekitar pukul 06.30 wib saya menuju Batu Kursi di Ambarita sesuai anjuran Mr. Bule kemarin. Saya sudah berjalan sekitar 1 km saat ada bukit indah ini tapi belum ada tanda-tanda keramaian. Untungnya ada ojek yang lewat dan bersedia mengantar saya ke Ambarita, yang ternyata masih berjarak sekitar 3 km, dengan biaya Rp10.000,00.

samosir (3)

Pak Ojek mengantar saya hanya sampai di jalan utama Simanindo yang membuat saya harus berjalan melewati perkampungan dan persawahan menuju Batu Kursi.

batu kursi (4)

Saat sudah mendekati kompleks Batu Raja, saya menyempatkan diri untuk sarapan di sebuah warung. Warung itu ternyata hanya menjual mie gomak sebagai menu sarapan yang akhirnya saya pesan dengan ditemani teh manis panas dan bapak-bapak yang sedang markombur di meja sebelah.

mie gomak

Here i come in Chair Stone of King Siallagan at 8.

batu kursi

A quiet early visit while no other visitors were here.

batu kursi (5)

Batu Kursi dan rumah tradisional Batak dengan tempat pemasungan di depannya.

batu kursi (6)

Semacam tempat pertunjukan dengan properti yang sudah tersedia.

batu kursi (3)

Saya sibuk foto-foto dan memperhatikan detail tempat ini selama sekitar 1 jam hingga akhirnya saya ke luar dan berbelanja bahan (baca: segala jenis bahan yang bisa digunakan untuk membuat pakaian). Saya mampir di sebuah lapak seorang Inang yang ramah. Dan saya mendapatkan 2 buah ulos.

batu kursi (2)

Saya kembali menuju jalan raya utama dengan jalan kaki untuk menuju tempat selanjutnya yang direkomendasikan oleh Inang pemilik lapak. Objek Wisata Budaya Museum Hutabolon Simanindo. Pemandangan Samosir yang sangat indah dari dalam elf yang saya sewa (penumpangnya hanya saya seorang dengan tarif kurang dari Rp5.000,00)

samosir

Tepat pukul 10.00 wib saya tiba di Museum Hutabolon.

simanindo (5)

Apa saja yang ada di Museum Hutabolon Simanindo.

Simanindo 5

Saya ditawari untuk menyaksikan tarian tradisional Batak dengan harga tiket masuk Rp50.000 untuk turis lokal yang akan dimulai pukul 10.30 wib.

Simanindo 6

Manortor-nya dimulai.

simanindo

Pada saat inilah datang 3 mbak-mbak serta beberapa saat kemudian ada segerombolan cowok untuk menyaksikan tarian. Padahal tadi saya merasa sedih dan kasihan karena masak penontonnya cuma saya dan sepasang kakek-nenek bule saja yang datang terlebih dahulu.

Simanindo 4

Saya, yang seorang diri, kenalan dengan mbak-mbak itu dan akhirnya difotoin oleh salah satunya yang tidak ikut manortor karena dia adalah seorang Batak dan masa kecilnya pernah tinggal di Samosir jadi rela berkorban untuk motretin teman-temannya, dan saya. πŸ™‚ We’re posing with the dancers.

Simanindo 8

The guys are Malaysian tourist, btw.

Simanindo 2

The cemetery in front of the dancing area, near to the main gate of the museum.

Simanindo 7

Royal boat house.

simanindo (4)

The rice punding house.

simanindo (2)

Setelah menonton tarian, saya memotret-motret beberapa bagian museum hingga sekitar pantai (baca: Danau Toba). Pada saat inilah saya ngobrol-ngobrol lagi dengan mbak-mbak itu dan ternyata kami sama-sama dari Jakarta dengan lokasi kantor yang berdekatan.

simanindo (3)

Diajaklah saya ikut bergabung ke rombongan 3 gadis itu yang sudah menyewa mobil untuk jalan-jalan. Rezeki tampang ngenes seorang diri. πŸ˜‰

samosir (5)

Ikutlah saya ke tujuan mereka selanjutnya, yaitu Pangururan Hotspring.

Pangururan 1

Panas terik tengah hari di tengah kompleks air panas.

Pangururan 4

A multigirls photoshoot on the white hills against the clear blue sky and greenish hill.

Pangururan 8

Ulos yang kubeli di Batu Raja berguna untuk properti foto. Werk it, girl.

Pangururan 6

You wanna be on top? Smize… fierce… *Tyra Banks mode on*

Pangururan 7

Then we moved 100 m down the hill to Aek Rengat harbour andΒ  a made some pose.

Pangururan 2

It’s a heaven on earth, isnt it?

Pangururan 5

Pose… pose… and pose…

Pangururan 3

Pose…

pangururan

Lalu kami kembali ke arah Simanindo dan berhenti di kamu. Berhenti di tugu yang indah ini.
simarmata

Karena The Ladies belum ke Batu Kursi, maka kami ke tempat itu. Setelah tadi pagi, eh, aku kembali ke sini lagi.

batu kursi (7)

Walhasil aku dapat sejenis songket untuk ibu dan ulos lagi di toko sebelah Inang tadi pagi setelah kelamaan menawar hingga aku yang akhirnya ditunggu The Ladies. πŸ˜‰

batu kursi (6)

Setelah itu kami ke Tomok untuk melihat beberapa objek wisata di sana

tomok (2)

Traditional Batak’s house

tomok

Kuburan Tua Raja Sidabutar. Saat masuk ke tempat ini, kita harus memakai ulos. *keluarin ulos*

Β tomok (3)

Kuburan batu (sarkofagus) Raja Sidabutar ini sudah berumur lebih dari 4 abad dan terbuat dari batu utuh tanpa sambungan yang dipahat sebagai tempat peristirahatan Raja Tomok kala itu.

tomok (5)

Sisi lain kuburan tua ini.

tomok (4)

Kami kemudian ke rumah tante kenalan The Ladies saat di travel dari Medan menuju Samosir. Tante ini jago banget buat roti. Roti abonnya endeeeusss bingit.

samosir (4)

Rumah Tante luas dan indah. Seperti resor di luar negeri gitu. *padahal belum pernah ke luar negeri juga* πŸ˜€

samosir (2)

The girls dropped me from the car when I arrived in front of my homestay and we made an appointment to go to Kisaran together on the next day. Yeay…. finally, i enjoyed a glass of hot tea on the rainy evening.

tuk-tuk (4)

749 thoughts on “Mencari Batak Bagian II”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *