Selamat Datang di Bumi Cengkih, Ternate

 Perjalanan akbar saya tahun ini sudah saya rencanakan dari sekitar awal bulan November 2014 di mana saat itu saya memulai riset tentang daerah mana di Indonesia yang akan kutuju di tahun 2015 dan terpilihlan wilayah Indonesia timur yang akan  saya kunjungi (bukan Tao Batak lagi dan lagi). Saat itu saya tiba-tiba kepikiran beberapa teman saya saat masih SD yang bekerja sebagai kontraktor di sana dan yah saya memutuskan tujuan pertama saya adalah Ternate, sebuah pulau yang terkenal sebagai penghasil rempah-rempah yang diperebutkan saudagar dari berbagai negara beberapa abad yang lalu. Saya juga teringat tentang perjalanan Mbak @DianOnno ke Morotai dan Togean pada tahun 2012 lalu. Jika di tahun 2014 saya mengunjungi Nias yang digambarkan dalam uang 1000 rupiah keluaran tahun 1992 dengan pelompat batunya,


Rp1000 tahun1992

maka di Ternate saya akan bisa melihat Pulau Maitana dan Tidore yang ada di uang 1000 rupiah yang saat ini masih kita pakai.

Ada dua teman yang berminat untuk menemani saya dalam perjalanan kali ini yaitu Cheva dan Mbak Hance. Sebenarnya saya sudah membuka open trip via Kaskus, Coachsurfing, dan Twitter akan tetapi itu baru saya lakukan dalam kurun 1 minggu sebelum perjalanan dan ternyata tidak mendapat tambahan teman perjalanan untuk berbagi. Saya berangkat menggunakan Si Singa pada tanggal 7 Mei 2015 pukul 5.00 wib, sedangkan Cheva dan Mbak Hance sudah berangkat duluan dengan menggunakan Si Plat Merah pada pada pukul 2 dini hari.

Ternate (12)Pemandangan sebelum singgah di Manado.

Ternate (30)

Pada saat saya transit di Manado, Cheva dan Mbak Hance sudah berkeliling sebagian Kota Ternate.
Ternate (29)

Sekitar pukul 11.30 WIT akhirnya saya tiba di Bandara Sultan Babullah, Ternate. Sesuai saran Cheva dan Mbak Hance, maka saya berjalan sekitar 1 km ke arah pintu masuk bandara untuk mendapatkan angkot menuju kota yang ngetem di sana. Tarif angkot dari bandara ke kota hanya Rp5.000 sedangkan tarif ojek, yang tersedia dari dekat parkiran bandara hingga sepanjang jalan, bisa mencapai Rp25.000-40.000 tergantung kemampuan menawar kita. Setelah berjalan hingga depan pintu masuk bandara, bukannya naik angkot, saya malah memilih naik ojek dengan tarif Rp10.000 agar lebih cepat sampai di meeting point kami di sebuah warung. Dapat ojek lebih murah juga kan akhirnya. Jika akan naik angkot, angkot di Ternate itu tidak ada jurusannya jadi kita harus bertanya apakah sang supir angkot mau melewati rute kita atau kita harus mencari angkot lain. Warung es kacang di Jalan Merdeka ini lah yang menjadi tempat kami bertemu dan makan nasi kuning khas Ternate dan minum es kacang merah yang nikmat dan nyessss, seger. Harga seporsi nasi kuning dengan lauk ikan adalah Rp15.000, sedangkan semangkuk es kacang merah dihargai Rp12.000.

Ternate (28)

Dari warung es kacang, kami berjalan menyusuri Jalan Merdeka untuk mencari penginapan di sekitar Masjid Muhajirin yang menurut Ibu penjual es kacang, di dekat masjid situ banyak penginapan murah. Setelah berjalan cukup jauh dengan membawa tas kerir yang cukup berat, kami tiba di dekat Masjid Muhajirin dan mendapati beberapa hotel. Saat kita memasuki Jalan Sultan Nuku, kita akan melihat Ternate City Hotel dan Hotel New Archie.

Ternate (23)

Di seberang hotel New Archie, ada Hotel Archie. Kedua hotel ini berada dalam satu manajemen tetapi tarif Hotel Archie lebih murah dibanding Hotel New Archie.

Ternate (22)Di Hotel Archie tersedia kamar ekonomi dengan kamar mandi di luar dengan tarif Rp150.000 untuk 2 orang. kami sempat mengintip kamar deluxe dengan single size bed yang tarifnya Rp330.000. Nyaman sih tetapi cukup mahal.

Ternate (27)

Sekitar 10 meter dari Hotel Archie, kita akan menemukan Hotel Nusantara. Tarif hotel di Jalan Sultan Nuku ini semuanya berkisar sekitar Rp300.000,00.

Ternate (24)
Pada saat berada di sekitar Hotel Nusantara dan menimbang-nimbang mau memilih hotel yang mana, tiba-tiba ada seorang Bapak yang melintas dan menawari kami untuk melihat penginapan bagus yang cukup murah di dekat kontrakan ybs. We decided to follow him then he showed us SaQavia Homestay.  From Archie Hotel, we turned right to a small street just before Nusantara Hotel and go ahead just like 150 meters.

Ternate (25)

SaQavia is located at Kampung Kodok street, Falajawa I, Ternate 0921-3111147. Its rate is Rp150.000 per night for two person. Too bad, we couldnt get any room that time. This is maybe one of the most recommended homestay in Ternate with the best location in the city.

Ternate (26)

Then we went ahead and found Penginapan Intan in Salim Fabanyo street. We decided to stay there for 2 nights. Its rate is Rp165.000 per night for 2 person with breakfast and hot shower. Kekurangan penginapan ini adalah kamar tamu ada di lantai 2 rumah pemilik penginapan sehingga jika ingin ke luar atau masuk harus melalui ruang tamu pemilik penginapan yang juga merupakan tempat persewaan alat pesta dan salon kecantikan. Karena siang itu sedang hujan dan kami juga sangat lelah karena belum tidur semalaman, maka kami boboci dulu hingga menjelang senja sebelum mengunjungi pelabuhan.

Di deratan Masjid Muhajirin di depan Pantai Falajawa sebenarnya banyak penginapan murah tetapi beberapa terlihat agak kumuh dengan tarif sekitar Rp100.000,00, seperti Penginapan Anggrek di Jalan Pahlawan Revolusi, masuk gang sedikit di deretan Masjid Muhajirin, dengan nomor telepon 0921-3122821.

Pantai Falajawa di pinggir jalan protokol Kota Ternate yang bersih dan indah.

Ternate (18)

Di Ternate ini penuh dengan orang Jawa Timur dan Makassar.

Ternate (21)

Ada pasar makanan dan ikan yang siap santap di pojokan seberang Pelabuhan Achmad Yani, Ternate. Kue yang dijual saat itu adalah kue cucur serta lemang ketan hitam dan ketan putih, tanpa isi pisang atau lainnya, padahal sudah lama ingin lemang isi pisang. Juga ada ketupat dan sagu.

Ternate (20)

Lalu kami pun mengunjungi Pelabuhan yang sebenarnya sore itu sudah disterilisasi karena pada hari Jumat tanggal 8 Mei 2015 akan dikunjungi presiden Jokowi yang akan menyeberang ke Sofifi. Setelah sedikit ngedumel kecewa gagal masuk pelabuhan padahal sudah jauh-jauh dari Jakarta di sekitar musala dekat pintu gerbang pelabuhan, tak disangka-sangka bapak-bapak aparat yang menjaga pintu pelabuhan memanggil kami dan mempersilakan kami untuk masuk selama maksimal 1 jam untuk berfoto-foto. Terima kasih, Pak. *cium satu-satu*

Ternate (1)

Suasana ruang tunggu di pelabuhan yang dipenuhi calon penumpang kapal entah ke mana.

Ternate (17)

Tulisan Pantai Falajawa di depan Masjid Muhajirin, Ternate.
Ternate (16)

Welcoming Mr. President with no Mr. President’s face in the billboard. This kinda creepy things we have in Indonesia’s tourism billbooards which usually show 90% Governor-and/0r-mayor-and-friends’s-face and 10% tourism destination.

Ternate (15)

And we had such a yummy chicken satay, raw vegetable, fried tofu, fried tempeh, and fried chicken for dinner in Maryam-1, an East Java dishes favor food stall in Sultan M. Djabir Syah Street, for Rp90.000.

Ternate (14)