Baby Clay

Gorontalo (3)

Oh gosh…. we met this very good loking, adorable, and cute toddler when we were on our way from Manado to Gorontalo. His name is Clay, a son of a court secretary in Boalemo Regency, Gorontalo Province. Her mother origin is Manado, but she has to work in Boalemo Regency. On Friday evening she takes a public travel ride from Boalemo to Manado and has to go back to Boalemo on Sunday evening, with her baby  boy since he was like 3 months. Her husband is a worker in Manado city and the whole family are also there. He loves dancing while listening to dangdut music. We played him some dangdut music like goyang dumang, sakitnya tuh di sini, etc from Bunda’s mobile phone when he was wide awake. The cover photo was taken near to Limboto city, a regency seat of Gorontalo Regency at 2 am when they were dropped from public travel before continuing their trip by taking another public travel to Boalemo for about 2 hours, and the photo below was taken in a food stall i-didn’t-know-where in between Manado and Gorontalo at 10 pm.

Gorontalo (1)

Selasa Bahasa 23 Juni 2015

Sudah lama rasanya saya tidak menulis tentang penggunaan Bahasa Indonesia di sekitar saya. Kemarin saya sedang membaca sebuah dokumen dan menemukan beberapa kejanggalan dalam dokumen tersebut karena itu saya ingin membahas tentang beberapa bagian yang tertulis dalam dokumen yang menurut saya merupakan kesalaham umum penggunaan Bahasa Indonesia sehari-hari dalam surat dinas.

1. Kata “izin” tertulis “ijin”
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata yang tepat adalah “izin” yang artinya “pernyataan mengabulkan (tidak melarang dsb); per-setujuan membolehkan: ia telah mendapat — untuk mendiri-kan perusahaan mebel“.

Selain “ijin”, kata lain yang kerap salah penulisannya adalah “jaman” yang seharusnya “zaman”.

2. Kata “objektif” tertulis “obyektif”
Menurut KBBI, kata yang tepat adalah “objektif” yang artinya “1. mengenai keadaan yang sebenarnya tanpa dipengaruhi pendapat atau pandangan pribadi; 2 n (Fis) kanta (lensa) pada peralatan optis yang terletak paling dekat dengan benda yang diamati”.

Sama halnya dengan kata “subyektif” yang seharusnya “subjektif”.

3. Penulisan kata depan/preposisi “di”, “ke”, dan “dari”
Penulisan preposisi tersebut seharusnya dipisah dengan kata yang mengikuti, seperti: di mana, di atas, di bawah, di depan, di belakang, ke mana, ke atas, ke depan, ke belakang, ke luar, ke samping, dari sana, dari luar, dari atas.

Penulisan “di mana”, “di bawah” dan “di atas” merupakan yang paling sering saya temui kesalahannya. Beberapa rekan kerja mengganggap “dimana” adalah suatu kata tersendiri, bukan merupakan preposisi “di” yang diikuti kata “mana”. Saya pernah membaca tulisan Uda Ivan Lanin yang mengusulkan bagaimana jika kita membiasakan diri untuk menggunakan “tempat” sebagai ganti “di mana” yang merupakan terjemahan dari “where”, misal “Saya tidak tahu tempat pulpen itu” daripada “Saya tidak tahu di mana pulpen itu”.

Terdapat pengecualian penulisan “dari” dan “ke” yang dipisah yang dipisah untuk penulisan “daripada”, “kepada”, dan “keluar” sebagai lawan kata masuk.

4. Penulisan kata “terima kasih” sebagai kata majemuk yang ditulis serangkai.
Menurut portalbahasa, kata “terima kasih” merupakan kata majemuk yang umunya ditulis terpisah demi keterbacaan, seperti kata “kerja sama”. Selain yang ditulis terpisah, terdapat 52 kata yang merupakan kata majemuk yang ditulis serangkai, yaitu: acapkali; adakalanya; akhirulkalam; alhamdulillah; apalagi; astagfirullah; bagaimana; barangkali; beasiswa; belasungkawa; bilamana; bismillah; bumiputra; daripada; darmabakti; darmasiswa; darmawisata; dukacita; halalbihalal; hulubalang; kacamata; kasatmata; kepada; keratabasa; kilometer; manakala; manasuka; mangkubumi; matahari; olahraga; padahal; paramasastra; peribahasa; perilaku; puspawarna; radioaktif; saptamarga; saputangan; saripati; sebagaimana; sediakala; segitiga; sekalipun; silaturahmi; sukacita; sukarela; sukaria; syahbandar; titimangsa; waralaba; wasalam; wiraswata.

5. Kata “meterai” tertulis “materai”
Menurut KBBI, kata yang tepat adalah “meterai” yang artinya “cap tanda berupa gambar yang tercantum pada kertas atau terukir (terpateri dsb) pada kayu, besi, dsb; cap; tera; segel”.

6. Kalimat penutup surat dinas “Demikian disampaikan”
Surat dinas yang kita buat bukanlah menyampaikan “demikian” tetapi menyampaikan laporan, pemberitahuan, pernyataan, permintaan, atau penyampaian pendapat sehingga sebaiknya diganti “Demikian laporan kami sampaikan, …” atau tanpa menggunakan “Demikian disampaikan” sehingga menjadi seperti “Atas perhatian dan kerja sama Saudara, kami ucapkan terima kasih.”

Itu dulu yang ingin saya sampaikan pada kesempatan kali ini. Sampai jumpa.