Galau Menuju Ampana

Pagi akhirnya datang juga setelah semalaman saya galau ke mana saya akan pergi setelah di Ampana nanti. Suasana resor pagi itu terlihat ramai karena sebagian besar wisatawan akan pergi, seperti rombongan Manado yang 3 orang, rombongan Toli-Toli 5 orang, Czech Gang 3 orang, kami 3 orang, Gema, serta beberapa pasangan yang akan pindah ke pulau lain. Ada pasangan bule Belanda yang saya rekomendasikan untuk pindah menginap ke Waleakodi agar lebih dekat dengan Dolong dan bisa mendapatkan KM Cengkih Afo ke Bumbulan pada Sabtu sore. Pasangan Belanda ini sebelumnya bertanya tentang jadwal kapal ke Gorontalo atau Bumbulan kepada manajer resor tetapi ditawari untuk menyewa kapal saja agar cepat sampai karena memang pada bulan Mei ini hanya ada KM Cengkih Afo yang beroperasi. Dengan tarif sewa kapal yang bisa mencapai Rp3.000.000, bule-bule backpacker ini tentu lebih memilih untuk sedikit memperpanjang jadwal mereka di Togean daripada harus mengeluarkan uang sebanyak itu, demikian pun jika itu terjadi pada kami, toh mereka masih akan balik via Manado ke Jakarta semingguan lagi. Ada pasangan bule Belanda lain serta pasangan bule Italia yang sempat saya tunjukkan jadwal kapal terbaru yang saya dapatkan beberapa hari sebelum keberangkatan saya ke Togean yang dikirimi oleh Ales dari Walekodi Resort. Saya benar-benar masih merasa utang budi kepada Ales yang sudah saya repoti bertanya ini-itu sejak akhir bulan April tetapi malah ujung-ujungnya pada saat KM Cengkih Afo mulai berlayar saya malah pindah ke resor lain karena bujukan orang. Saya merasa blank saat itu ketika saya yang sudah menyiapkan banyak data tentang Togean bisa terbujuk untuk pindah resor. Mungkin saya lelah.

Togean (56)

Geng TKI yang sudah siap cabut dari resor setelah sarapan. Seperti yang terlihat, Bunda sudah siap cabut duluan dengan mengenakan pakain renang yang lebih paripurna dibanding kemarin saat kami island hopping. Padahal Bunda akan mengunjungi perkampungan Suku Bajo dan danau ubur-ubur lagi , tetapi dengan ditemani orang yang berbeda. #uhuk

Togean (57)

Kami, Czech Gang, dan rombongan Toli-Toli agak was-was dengan pihak resor yang tidak juga menyediakan kapal untuk mengantarkan kami ke Wakai karena menunggu manajer resor yang masih menjemput tamu baru, padahal  resor mempunyai banyak kapal lho. Bukannya berprasangka buruk, tetapi manajer resor ini sepertinya agak marah kepada saya yang beberapa kali memberikan informasi kepada bule-bule tentang jadwal kapal, pesawat, travel, serta penginapan-penginapan di Togean. Dengan mengikuti saran saya, para bule bisa menghemat beberapa ratus ribu hingga jutaan rupiah untuk biaya sewa mobil atau pun kapal daripada menyewa kapal resor atau rental mobil dari travel yang bekerja sama dengan resor. Bunda sempat mendengar manajer resor marah-marah karena banyak tamu yang akan pergi pada Kamis pagi dan sempat mengatakan kepada karyawan resor semacam “Itu rombongan tante-tante (julukan (((((TANTE))))) merujuk ke saya, red) itu jadi balik Kamis besok? Kenapa tidak Sabtu saja?”. Saya memang dari awal berencana untuk ke luar Togean pada hari Sabtu agar bisa gegoleran lebih lama di sini, tetapi karena banyak godaan lain serta perilaku manajer hotel yang gengges maka mari kita cabut pada hari Kamis saja.

Untuk menuju Ampana, kami berencana naik KM Kapia Touna yang menurut jadwal akan berangkat dari Wakai menuju Ampana pada pukul 11.00 wita tetapi menurut info yang saya dapatkan akan berangkat pukul 9.30 atau jika penumpang sudah penuh. Akhirnya pada pukul 8.50 wita kami diantarkan oleh pihak resor ke Pelabuhan Wakai dan tanpa didampingi manajer resor. Sekitar pukul 9.15 wita kami pun tiba di Wakai dan melihat KM Kapia Touna sudah penuh sesak penumpang dan sudah siap berangkat dan kami dipersilakan masuk ke kapal tidak melalui dermaga tetapi masuk langsung melalui pintu samping kapal dengan melompat dari kapal resor. Syukurlah kapal mulai bergerak menuju Ampana pada pukul 10.00 wita. Kami harus membayar Rp65.000 per orang untuk rute Wakai-Ampana yang akan ditempuh sekitar 4 jam. Beginilah posisi duduk melantai kami saat itu.

Togean (58)

Bule-bule yang membunuh waktu dengan membaca. Berbeda dengan kebiasaan saya. -,-

Togean (61)

Bu Joko juga sibuk membaca, sambil mendengarkan musik.

Togean (60)

Coba tebak siapa yang harus berjemur di bangku belakang kapal karena tidak mendapat jatah tempat duduk yang ada atapnya.

Togean (67)

Look like an editorial for Vogue Homme International.

Togean (65)

David yang masih harus berjemur.

Togean (62)

Beberapa jam duduk umpel-umpelan membuat saya ingin jalan-jalan di kapal dan ternyata saya mendapati adik bayi lucu ini tidak jauh dari tempat saya duduk. Ibu bayi ini bercerita bahwa ia akan ke Ampana untuk mengambil uang. Sambil menggoda bayi lucu yang sedang makan jeli ini, saya bertanya mengapa Si Mmbak tidak bersama suaminya ke Ampana. Dan tiba-tiba dapatlah curhatan dari si Mbak yang mengatakan bahwa bapak bayi ini baru saja melintas dengan kapal lain ke arah Togean dari Ampana. Si Mbak ternyata sudah berpisah dengan bapak bayi ini saat bayi ini akan lahir karena sang mantan suami tergoda bule Prancis yang mengajak dia untuk bekerja sama membangun resor dan rumah tangga. Banyak pulau di Togean yang memang dikelola oleh pasangan di mana salah satunya adalah bule dan yang satu merupakan penduduk lokal. Mau nggak galau gimana coba kalau habis lihat sang mantan melintas dengan bahagia saat kita masih sendiri dan sedih begini. Tidak lama kemudian datang seorang laki-laki dan bergabung dalam obrolan kami. Lelaki tersebut ternyata adalah kakak Si Mbak. Mas ini juga tahu kalau mantan suami Si Mbak tadi sempat melintas dengan kapal dan pasti adiknya langsung jadi galau makanya dia becandain si adik. Si Mas bercerita kalau dia punya bisnis travel, rental mobil, dan penginapan di dekat Ampana. Dia menawari saya untuk menginap gratis di penginapannya dan megajak jalan-jalan ke Tanjung Api dengan cukup mengganti biaya bahan bakar kapal. Saya sebenarnya sangat ingin ke Tanjung Api dan masuk dalam daftar tujuan saya saat masih membuat itinerary tetapi karena letaknya yang hanya bisa ditempuh dengan kapal sewaan maka saya menghapusnya dari daftar tujuan saya. Kegalauan mau ke mana nanti setelah di Ampana sedikit menghilang saat mendapat tawaran dari Si Mas, di mana kira-kira kami hanya perlu mengganti biaya bahan bakar kapal ke Tanjung Api dan mobil ke Poso sebesar Rp500.000 dibagi dua (saya dan Bu Joko) untuk jalan-jalan bersamanya dan adik serta ponakannya hingga hari Sabtu. Bu Joko ternyata meminta saya untuk memikirkan lagi barangkali akan ada opsi yang lebih hemat dan lebih baik sebelum kami tiba di Ampana.

Michal yang sudah mendapatkan tempat duduk strategis dan bisa tidur pulas.

Togean (63)

Jarak tempuh ke Ampana semakin dekat tetapi saya kami masih belum menentukan tujuan. Saya mendengarkan obrolan Jan dan pasangan bule Prancis yang sedang berencana pergi ke Tentena. Saya jadi teringat kata Ardi, agen travel yang bersama Geng Toli-Toli, yang mengatakan bahwa di dekat Tentena ada Lembah Bada yang merupakan situs bebatuan megalitikum yang sangat unik. Kami tertarik dengan Lembah Bada tersebut, yang baru pertama kali kami dengar dari Ardi. Saya bertanya kepada Czech Gang apakah mereka mau singgah di Tentena dulu sebelum ke Tana Toraja yang masih memerlukan waktu perjalanan belasan jam dari Tentena, dan mereka ternyata setuju. Akhirnya saya, Bu Joko, 3 orang Czech gang, dan pasangan Bule Prancis sepakat untuk menuju Tentena saja dan meminta Ardi mencarikan kami mobil di Pelabuhan Ampana. Ardi mengatakan bahwa kami bisa menggunakan mobil dengan kapasitas 8 orang penumpang, termasuk 1 orang supir, yang telah dia hubungi dengan biaya sewa Rp850.000 yang akan ditempuh kurang lebih dalam waktu 8 jam perjalanan.

Di sepanjang perjalanan dari Wakai ke Ampana akan banyak kita jumpai pulau-pulau koral kecil imut nan cantik seperti ini.

Togean (64)

Sekitar pukul 14.00 kapal mulai mendekati Pelabuhan Ampana dan terlihat banyak agen travel serta penduduk menunggu sejejar arah kedatangan kapal. Pelabuhan Ampana tidak sebesar dan semodern Pelabuhan Gorontalo, tetapi lebih besar dan lebih modern daripada Pelabuhan Wakai. Then i heard someone was yelling “ESTU… ESTU… I’ve been waiting for you and your bule friends” Oh my… I did’nt know that i had a fanatic fan there and did’nt expect this kinda welcome party. Ardi told me that our driver to Tentena was in the car and i had to follow him to find the car so i thought this crazy angry old guy was not our driver. I acted as someone else but that gray haired with bright green coloured jacket guy kept yelling my name “YOU MUST BE ESTU, ESTU… ESTU… YOU MUST BE ESTU… Lina has told me that you are wearing that colorful tshirt and accompanying 3 bules”. Pfffttttt. I could’nt act as someone else then. I put the blame on the one and only LINA, the manager of BM Resort in Togean. How could she gave my name to this crazy guy and made me feel ashamed in the middle of the crowd in a new place for me.

Saya menemui orang tersebut, yang ternyata dalah seorang ibu paruh baya, dan menanyakan apa maksudnya teriak-teriak memanggil nama saya. Dia mengatakan bahwa dirinya dihubungi Lina bahwa akan ada Estu yang memakai kaos warna-warni bersama 3 orang bule yang akan menyewa mobil ke Tana Toraja. Laknat banget ini si LINA pakai adegan sok baik mencarikan kami mobil ke Tana Toraja padahal itu cuma rencana kami pada saat masih galau di Togean. Saya jelaskan kepada Si Ibu itu bahwa itu hanya skenario sekilas yang ditanyakan Czech Gang ke Lina semalam sebelum kami memutuskan benar-benar mau ke mana. Tidak tahu dia kalau kami pada saat di kapal tadi memutuskan akan ke Tentena dulu. Saya benar-benar masih jengkel dengan Si Ibu yang meneriaki “ESTU… ESTU… KAMU PASTI ESTU” tadi dan tidak terima dengan kelakuan Lina. Akhirnya Si Ibu menelepon Lina untuk mendapatkan kepastian tentang calon korbannya ini dan meminta saya untuk berbicara langsung dengan Lina. Dalam obrolan di telepon beberapa detik tersebut, saya marahi Lina yang berani-beraninya berbuat sok baik mencarikan kami mobil dengan mengumpankan kami kepada mamak macan berambut silver ini. Setelah itu, bukannya melepaskan kami, Si Ibu malah tetap memaksa saya harus memakai mobilnya karena sudah dipesan oleh Lina. Dengan sama-sama bernada tinggi, saya menolak permintaan dia untuk memakai jasa sewa mobilnya walau dia bilang dia bisa mengantar kami ke Tentena saja, yang penting pakai mobil yang dia sediakan dan tidak peduli dengan Ardi siapalah itu yang telah kami pesan. LHO!!! Sak enake gundule dhewe ngono. Saya, yang benar-benar menjadi pusat perhatian seluruh penumpang kapal yang baru saja turun karena kelakuan ibu ini, kemudian mencari Ardi untuk bertanya bagaimana ini karena saya dipaksa menggunakan kendaraan yg diobjekkan ibu itu. Ardi mengatakan terserah saya saja kalau membatalkan mobil darinya. Bule-bule juga mnegatakan sudah apa saja lah yang penting sampai Tentena. Akhirnya saya kembali menemui ibu itu dan diminta melapor ke Tourist Information Center yang berwarna biru. Di depan tempat yang ditunjukkan Si Ibu, supir yang dipesan Ardi ternyata menemui saya dan bilang siap mengantar kami dan saya bilang ke dia kalau saya harus menyelesaikan urusan di kantor informasi dulu. Di tempat yang dibilang sebagai pusat informasi ini saya mendapati wanita lain yang sedang duduk bersila menaikkan satu kakinya ke atas kursi sambil merokor dan tidak memperhatikan kehadiran saya. WTH. Bagaimana pariwisata Indonesia mau bagus kalau sumber daya manuasianya tidak sopan dan sak enake udhele gini. Kemudian datanglah Si Ibu beruban yang mulai melepas jaket hijaunya sambil menanyakan kami mau ke mana. Saya bilang kami mau ke Tentena bertujuh, bukan langsung ke Tana Toraja seperti yang dibilang Lina, dan berangkat sekarang juga. Si Ibu dengan mudahnya bilang dia siap menyediakan mobil untuk kami sekarang juga. Saat saya menanyakan biaya sewa mobil ke Tentena, Si Ibu yang duduk di kursi bilang Rp1 juta dan saya bilang enak saja segitu, wong saya bisa mendapatkan mobil dengan harga Rp800.000 dari Ardi (padahal tadi deal-nya Rp850.000), dan ternyata mereka mau dengan tarif Rp800.000 tersebut. Iyalah yang penting tidak kehilangan mangsa kan?? HUH.

Tojo Una-Una (1)Segera saya ke luar kantor dan melihat mobil yang disediakan Si Ibu yang ternyata menggunakan mobil dan supir yang sama dengan yang ditawarkan oleh Ardi. Jadi ceritanya ibu ini mengakuisisi mobil dan supir yang tersedia untuk kepentingannya bisnisnya sesuka hati gitu kali ya. Tetapi saya pikir lumayan lah akhirnya dapat mobil yang lebih murah Rp50.000 dari hasil marah-marah dan tipu-tipuan dengan duo racun berkedok tourist information center ini.

Saya memanggil Bu Joko, Czech Gang, dan pasangan bule Prancis untuk segera masuk ke mobil dan cus ke Tentena. Dan dong, duo racun masih berupaya menjerumuskan agar kami harus makan saja dulu di warung dekat lokasi mereka. Saya kekeuh tidak mau makan di sini dan lebih memilih di warung agak jauh dari pelabuhan walaupun kata mereka bakal terkena penutupan jalan menuju Poso sehingga susah mencari warung yang buka. Akhirnya berangkatlah kami menuju tentena dengan disupiri Pak Mito yang juga jadi korban keganasan duo racun. Maaf ya Pak karena duo racun akhirnya pemasukan Bapak pasti berkurang karena seharusnya kami langsung membayar Bapak Rp850.000 tetapi jadinya hanya Rp800.000 dan itu pun melalui duo racun.

Ini dia Si Ibu “ESTU… KAMU PASTI ESTU”.

Tojo Una-Una (2)

Rincian pengeluaran dari Gorontalo, selama di Togean, hingga sampai di Ampana.

11 Mei 2015
Kapal Cengkih Afo ke Wakai @89.000      267.000
12 Mei 2015
Penginapan 2x3x200.000    1.200.000
Kelapa          30.000
Lobster      200.000
Alat snorkeling      180.000
13 Mei 2015
Kapal      850.000
Air 6×15.000          90.000
Alat snorkeling      150.000
Share cost dari bule    (500.000)
Total    2.467.000
Per orang      822.333
14 Mei 2015
Kapal Kapia Touna ke Ampana          65.000
 Total pengeluaran 887.333

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *