Ada Ulos di Antara Kita

Pagi itu, 9 Maret 2013, saya mengunjungi objek wisata Batu Kursi Raja Siallagan di Ambarita, Kabupaten Samosir. Setelah puas foto sana sini dan belum tahu mau ke mana lagi, saya mapir di salah satu toko yang dijaga oleh seorang Inang Batak setengah baya. Dari semua suvenir yang ditawarkan, saya tertarik dengan ulos-ulos yang digantung di tengah maupun berjajar di bagian belakang toko. Saya membayangkan dirinya yang akan terlihat sangat cakep mengenakan ulos manapun di dalam suatu acara adat Batak. Dirinya yang membuat saya akhirnya tiba di Danau Toba ini untuk mengenal lebih jauh tentang adat budaya leluhurnya.

UlosSetelah memilah-milih dan tawar-menawar saya mendapatkan 3 helai ulos barwarna dasar hitam dengan ukuran dan tingkat kerumitan pembuatan berbeda. Inang penjual suvenir menyarankan saya untuk ke Museum Batak  Simanindo dan ke air panas di Pangururan saat saya tidak tahu mau ke mana. Dengan menumpang kendaraan umum saya menuju Museum Batak di Simanindo. Sesampainya di museum, saya mengeluarkan salah satu kain ulos yang baru saya beli yang paling saya sukai dan memakainya dengan menyelempangkan di leher. Di museum ini kita bisa menonton pertunjukan tarian Batak dengan membayar tiket Rp50.000 per orang untuk turis lokal dengan mayoritas penonton adalah bule. Pada saat pertunjukan sudah mulai, ada 3 gadis yang terlihat merupakan turis lokal dan kami pun berkenalan. Salah satu dari 3 gadis tersebut adalah Suku Batak yang dengan sukarela membantu memfoto saya dan 2 temannya saat kami turut serta dalam pertunjukan.

Ulos

Saya ditawari gadis-gadis itu untuk jalan bareng bersama mereka menggunakan mobil sewaan karena ternyata tempat menginap kami berdekatan di Tuk-Tuk. Dengan masih mengenakan ulos favorit yang bisa sekaligus melindungi tubuh dari terik mentari, saya menikmati indahnya kompleks air panas Pangururan.
Ulos

Dalam perjalanan kembali dari Pangururan menuju Tomok, saya meminta untuk berhenti sejenak di tugu leluhur dia-yang-membuat-saya-sampai-di-sini. Syahdu dan sendu yang saya rasakan saat itu. Andai saja saya bersamanya di tempat ini saat itu.

Ulos

Keesokan harinya saya dan 3 teman baru saya mendapatkan kesempatan emas untuk mengunjungi PLTA Sigura-gura. Di sepanjang perjalanan dari Samosir ke Asahan hingga saat masuk ke perut bumi untuk melihat langsung turbin PLTA saya mengenakan ulos yang membuat saya merasa “semakin Batak” perjalanan saya ini.

Ulos

Setelah perjalanan pertama saya ke Tanah Batak saat itu, saya membuat kemeja ulos dengan detail kancing di bagian atas sehingga tidak membuat tulisan “Dame ma di hita” pada ulos menjadi terpotong dan detail ulos bisa terpampang nyata. Kemeja ulos ini hanya saya pakai sesekali ke kantor dan untuk kondangan acara Batak. Teman-teman saya yang Batak pada suka kemeja ulos perdana saya ini dan mereka terinspirasi untuk membuat kemeja yang sama dengan menggunakan ulos yang mereka punya. Bahkan ada teman yang memberikan ulos kepada saya agar saya bisa membuat kreasi dari ulos.

Ulos

Di awal bulan April 2015, bos kami tercinta tiba-tiba dipindahtugaskan ke unit lain. Dalam acara perpisahan yang cukup dadakan tersebut, saya meminta beberapa teman kantor baik yang Batak maupun bukan untuk menyanyi lagu Batak “Sigulempong” bersama. Dengan berbekal kaos seragam dan ulos saya serta ulos pinjaman teman-teman Batak, jadilah kostum kami seperti ini. Kaos saya berbeda sendiri karena saya project manager acara perpisahan, penata gerak dan busana grup vokal ini, secara kalau saya ikut menyanyi maka akan rusaklah harmonisasi grup vokal ini.
Ulos

Pada saat libut lebaran di bulan Juli 2015, saya membuat kemeja ulos lagi. Masih dengan ulos yang saya dapat dari perjalanan saya di tahun 2013. Kali ini saya menggunakan detail 2 buah ritsleting sebagai hiasan sekaligus jalan keluar masuknya kepala, katun berwarna senada untuk lengan, serta aksen batik parang yang juga senada. Tak lupa juga fringe-nya tetap digunakan. Tapi sayang seribu sayang karena saya membuatnya pada saat ukuran badan sedang menjalankan puasa dan saat ini badan saya sedang melar dan jarang olah raga maka kemeja ini sangat ketat dan sulit untuk memakainya. #ayodietdanolahraga

Kemeja ulos

Di akhir bulan September kemarin, saya melakukan perjalanan ke Tao Batak untuk yang ke tiga kalinya setelah perjalanan saya di tahun 2013 yang saya ceritakan di atas serta perjalanan saya di tahun 2014 yang juga sendiri. Kali ini saya bersama teman kantor saya, Nadia. Di Museum Batak Simanindo, setelah menyaksikan pertunjukan tari, saya mendandani Nadia dengan ulos yang sudah saya bawa. Ulos sebagai hijab. Dan Nadia pun terlihat sangat cetar.

Manortor

Setelah dari Simanindo, kami mampir ke Pasar Tradisional Ambarita yang buka di hari Kamis. Setelah berkeliling ke beberapa bagian pasar, kami berhenti di salah satu lapak penjual ulos. Inang yang berjualan bilang kalau ulos-ulos yang dia jual langsung dari pembuat sehingga harganya jauh lebih murah daripada di toko suvenir bahkan banyak toko suvenir yang mengambil dari sini. Dan benar saja, selain koleksi ulosnya cantik-cantik dan beragam, harganya memang sangat miring dibanding beberapa tempat yang pernah saya kunjungi. Walhasil saya membeli 21 helai ulos berbagai jenis, warna, ukuran, dan harga.
Mangulosi

Ini Jealeou, teman saya yang selalu nitip kain setiap saya jalan-jalan. Dia percaya selera saya terhadap segala jenis kain tradisional sehingga dia cukup bilang mau berapa buah dan budget berapa. Beberapa bulan lalu saat saya tur ke Maluku Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, hingga Sulawesi Tengah, dia juga nitip berbagai kain yang saya sukai dari kain krawang Gorontalo warna kuning terang sepanjang 6 meter hingga tenun Donggala. Dan sebelum memanfaatkan kain-kain tersebut lebih lanjut, kami selalu suka menggunakannya untuk pemotretan ala-ala adibusana di Vogue Italia atau Vogue Paris. Jealeou menggunakan ulos sadum sebagai penutup kepala, ulos Angkola dimensi sebagai selendang, serta ulos pucca dengan benang prada sebagai bawahan.
Mangulosi

Jealeou menggunakan ulos sadum beraneka warna sebagai penutup kepala dan gaun, serta ulos Angkola warna ungu untuk layering gaun.

Ulos (2)

Jealeou memakai ulos bintang maratur yang merupakan ulos yang paling banyak kegunaannya di dalam acara-acara adat Batak Toba.

Ulos (3)

Dari semua perjalanan saya di Indonesia, memang hanya di Indonesia, dan perburuan kain-kain yang saya lakukan, hanya perjalanan ke Tanah Batak dan dengan uloslah saya merasakan ikatan yang sangat mendalam. Seorang suku Jawa yang sangat suka semua yang berbau Batak karena seorang Batak yang selalu dinanti walaupun telah lama mematahkan hati. #curcolabis

Postingan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog #KainDanPerjalanan yang diselenggarakan Wego. http://www.wego.co.id/berita/kompetisi-blog-perjalanan-dan-kain-tradisional/

8 thoughts on “Ada Ulos di Antara Kita”

  1. Myahahaha… fotonya kocak. Aku juga suka kain Indonesia. Aduh tapi Abang rajin menjahitnya. Iri. Pengen punya penjahit yang bisa mengubah kain traditional jadi baju bagus 😀 Salam buat Jealeou.

    Btw, saran buat blognya, pake font yang besar karena latarnya hitam. Bacanya agak capek karena fontnya kecil. Demikian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *