Secuil Pulau Banyak

“Nad, ayo cuti 4 hari dari 21-25 September nanti..” begitu kira-kira WA saya ke Nadia di tanggal belasan September lalu. Nadia sejak trip saya ke Suluttenggomalut di Mei lalu ingin diajak jika saya trip lagi dan saya bilang bagaimana kalau di akhir September pas ada libur Idul Adha. Saya yang belum ke Sumatera Utara di tahun 2015 ini memang berencana ke sana di bulan September tetapi di luar dugaan karena di sana dan Sumatera pada umumnya yang sedang kabut asap jadi membuat agak was-was jika mau liburan ke Tao Batak. Kami sepakat untuk mengajukan cuti dulu sembari memikirkan mau ke mana kami nanti apakah tetap ke Sumatera Utara, Lombok, Sumbawa, Flores atau ke mana. Saya sih sebenarnya ingin road trip dari Labuan Bajo-Ende-Maumere lalu menyeberang keLembata dan ke Alor tetapi kok ya kayaknya mahal banget kalau berdua saja. Saya sempat berkonsultasi dengan Mbak Tesa di Medan kira-kira aman gak kalau kami ke Medan dan menurutnya Medan sudah lumayan sering hujan dan kabut asap tidak begitu terasa, dan kami disarankan ke Pulau Banyak yang mana telah ia kunjungi di awal bulan September. Pada 17 September 2015 akhirnya kami beli tiket ke Medan untuk penerbangan tanggal 19 September pagi. Kamis malam itu saya segera mencari informasi tentang penginapan dan kapal di Pulau Banyak yang akhirnya jatuh kepada Pak Erwin di nomor 085359831515 yang punya kapal, menjemput kami di Pelabuhan Pulau Balai, mencarikan kami penginapan, dan mengantar kami kembali ke kapal menuju Aceh Singkil.

19 September 2015 pukul 8.00 kami mendarat di Bandara Kuala Namu di Lubuk Pakam. Terlihat kaca pesawat agak basah yang mungkin terkena hujan atau embun dan terlihat kabut di sekitar bandara. Kabut karena cuaca dingin pada awalnya pikir saya tetapi ternyata aroma kabut asaplah yang tercium saat kami mulai ke luar bandara. Sudah jauh-jauh mau bagaimana lagi ya kan? Yuwk ah nikmati liburan.

Dalam perjalanan menggunakan Bus ALS tujuan Binjai saya memesan travel ke Aceh Singkil dari Medan untuk nanti malam pukul 21.00 wib. Saya mendapat nomor Banyak Island Travel dari internet dengan Mas Rega di 081290990804 atau jika mau memesan travel dari Aceh SIngkil ke Medan dengan Pak Mawan di 081360170808. Saya diberi nomor telepon Mas Ade, supir travel yang akan menjemput kami malam nanti. Jadi kalau kita mau ke Aceh Singkil, Subulussalam dan sekitarnya dari Medan kita bisa naik travel atau sewa mobil yang dikemudikan oleh Mas Ade yang bisa dihubungi di nomor 085262295483. Biaya per orangnya adalah Rp140.000 untuk tujuan Aceh Singkil dari Medan di mana 1 mobil travel biasa diisi dengan 6 orang, jadi jika kita rombongan berenam maka kita bisa langsung menyewa travel langsung ke Aceh Singkil jam berarpapu kita mendarat di Kuala Namu tanpa perlu menunggu travel yang pukul 21.00 wib.Saya dan Nadia dari turun bus ALS hingga dijemput travel pada hampir pukul 23.00 wib dijamu oleh Mbak Tesa, Mas Gandy, dan Kokoh. Diajak makan-makan, jalan-jalan dan menikmati Medan yang ramai sekali di malam Minggu walaupun kabut asap terasa cukup pekat saat itu. Terima kasih, Kakak-Kakak.

Travel Mas Ade yang datang lumayan telat membawa kami berdua di kursi tengah, seorang ibu dan balitanya di kursi belakang, serta seorang abang di kursi depan dengan kecepatan lumayan tinggi serta jendela di samping Mas Ade yang terbuka karena dia sambil merokok. Saya dan Nadia sudah menyiapkan masker untuk menjaga diri dari polusi, asap, debu, serta kecantikan saat tidur mangap dalam perjalanan. Penumpang yang menuju pool travel di dekat Pelabuhan Jembatan Tinggi, Aceh Singkil hanya kami berdua karena penumpang lain sudah turun dulu di rumah mereka di dekat kota. Saat itu sudah pukul 6.00 wib saat mobil sudah mendekati pool, ada kucing di tengah jalan sudah berusaha dihindari oleh mobil Mas Ade tetapi apa daya kucing malah ikut menghindar ke arah tengah jalan yang mana malah akhirnya tertabrak mobil. Mas Ade turun dan meminjam cangkul penduduk sekitar untuk mengebumikan kucing malang tersebut. Beberapa saat kemudian kami tiba di pool travel dan sarapan sambil menunggu agak siangan ke pelabuhan.

Kami tiba di Pelabuhan Jembatan Tinggi sekitar pukul 8.00 wib saat KM Putri Sulung yang akan tumpangi masih sepi. Kapal ke Pulau Banyak tersedia setiap hari dari pelabuhan ini dengan jadwal kapal motor maupun kapal feri yang beroperasi bergantian, kecuali pada hari jumat di mana konon tidak ada kapal beroperasi. Sambil menunggu proses menaikkan barang, kami duduk-duduk di warung lalu kenalan ke brondi-brondi yang sepertinya juga akan menyeberang. Mereka bernama Joko dan Fahmi, yang ternyata dari Pematang Siantar dan akan kemah di Pulau Banyak. Tak lama berselang, saya berkenalan dengan Pak darmawan, seorang agen travel yang sedang mengurusi beberap bule yang baru datang. Pak Darmawan ini ternyata yang punya travel yang kami tumpangi dari Medan semalam. Nomor hp Pak Darmawan 081377219667 barangkali ingin menggunakan travelnya yang melayani rute dari Aceh Singkil hingga ke Padang, Pekanbaru, Sibolga, Barus, Medan, Parapat, dan sekitarnya.

KM Putri Sulung pagi itu tampak penuh dengan barang mulai dari sayuran, ayam, mie, buah, sofa, kasur, hingga motor yang akan diangkut ke Pulau Banyak. Setelah barang sudah tertata akhirnya kamu diizinkan naik ke kapal dan kapal mulai bergerak pada pukul 10.00 wib. Saya duduk menyandar ke karung buah semangka dan kentang yang menggapit saya, Joko, dan Fahmi di bagian lantai belakang kapal. Kapal ternyata membawa kapal kecil yang diikatkan pada bagian kapal. Cuaca yang terlihat mendung, berombak besar, berkabut asap, dan langit yang bergemuruh ternyata membuat kapal kecil yang ditarik kapal kami menjadi kemasukan air lalu sempat terlepas talinya. Sang kapten kapal pun turun ke kapal kecil yang terlepas dan berusaha mengikatkan kapal kecil ke kapal induk. Setelah kapal kecil kembali terikat, drama selanjutnya adalah bagaimana cara menguras air yang tertampung di kapal.

Pulau Banyak

Dengan susah payah sang kapten berjuang di tengah badai seperti saat mengikatkan kapal dengan dibantu wakil kapten untuk mengemudikan kapal, beberapa orang ABK yang menyediakan ember dan membantu menerjemahkan instruksi sang kapten kepada wakil kapten, serta beberapa penumpang yang ikut heboh teriak-teriak seperti saya atau pun yang ikut memegangi tali kapal.

Pulau Banyak

Drama penyelamatan kapal kecil yang hampir 1,5 jam ini akhirnya berakhir dan saya terkagum-kagum dengan penampilan sang kapten yang WOW banget. And there will be a rainbow after the rain. I mean there will always be a SYR (Syahrini) moment in every drama, and i love this SYR-wannabe mom during the voyage. She wore glittered wedges, btw.
Pulau Banyak

Kami pun tiba di Pulau Balai, Kecamatan Pulau Banyak hampir pukul 16.30 padahal seharusnya biasa tiba sekitar pukul 14.00 wib. Kami pun bertemu dengan Pak Erwin yang akan mengantar kami ke penginapan.

Pulau Banyak

Setelah membeli nasi bungkus, kami pun berangkat ke Pulau Tailana yang mana ternyata Joko dan Fahmi juga akan camping di sana tetapi kami menggunakan kapal yang berbeda karena telah memesan masing-masing. Foto kami barengan saat baru naik kapal di Pelabuhan Pulau Balai yang jarang banget selama perjalanan dan diambil oleh Daria atau putrinya, dua orang pelancong dari Australia yang sudah sering menjelajah berbagai daerah di Indonesia untuk liburan.


Pulau Banyak

Daria dan putrinya menginap di pulau entahlah dan turun duluan. Pulau Tailana ternyata lokasinya cukup jauh dari Pulau Balai. Hampir 90 menit kami arungi laut yang sedang diselimuti awan tebal dan gerimis di sore itu. Saat tiba di Tailana, saya dan Nadia sebenarnya memesan 1 bungalo biar hemat tetapi karena masih ada bungalo yang kosong dan harga bungalo juga masih terjangkau maka kami memilih untuk menggunakan bungalo yang berbeda. Jika 1 bungalo ditempati 2 orang maka biaya per orang adalah Rp100.000, sedangkan jika 1 bungalo ditempati oleh 1 orang maka biayanya Rp125.000 per malam. Menu makan malam pertama kami saat itu.

Pulau Banyak

I woke up to this view. #nebengtendathebrondies

Pulau Banyak

Sarapan khas di Tailana adalah pancake dengan topping kelapa parut serta susu kental manis. Pengelola penginapan di Tailana ini adalah seorang bule cewek dari Austria bernama Reka yang bisa kita hubungi di nomor hp 085275313251.

Pulau Banyak

Pemandangan pantai di Pulau Tailana saat saya akan menaiki kapal sebelum island hopping.

Pulau Banyak

Tujuan pertama kami pagi itu adalah Pulau Pandan. Pulau kecil tak berpenghuni yang luasnya tidak sampai 100 meter persegi ini airnya sangat jernih dengan pasir putih dan dipenuhi semak-semak serta beberapa pohon.

Pulau Banyak

Nampang dikit. ūüėÄ

Pulau Banyak

Pulau tujuan kami selanjutnya adalah Pulau Subang yang letaknya tidak begitu jauh dari Pulau Pandan. Di pulau ini kita bisa berenang dan snorkeling.

Pulau Banyak

Kapal kami dan The Brondies beriringan sehingga kami tiba di pulau ini berdekatan dan cukup lama menikmati keindahan pulau ini.

Pulau Banyak

Perut yang sudah keroncongan menggiring kami ke Pulau Ujung Sialit untuk makan siang. Pulau Ujung Sialit merupakan pulau yang cukup ramai dengan penduduk yang lumayan banyak dan tersedia berbagai warung kelontong,  toko alat pancing, bahkan sekolah pun ada di sini. Menu pembuka makan siang kami di salah satu rumah penduduk keturunan Minang.

Pulau Banyak

Dan inilah makan siang kami. Mie instan terasa nikmat saat tidak ada warung yang menjual nasi rames gini.

Pulau Banyak

Setelah makan, saya kembali berurusan dengan yang namanya tuak Nias di salah satu toko. Pulau Nias memang letaknya agak berdekatan dengan Pulau Banyak sehingga banyak penduduk Nias yang menjadi transmigran di sini. Saya ditawari membeli tuak ini tetapi Pak Erwin lah yang akhirnya membeli. Masih terkenang aroma tuak Nias yang dioplos minuman energi pada tahun 2014 lalu di Nias Utara.

Pulau Banyak

Pelabuhan di Pulau Ujung Sialit yang dipenuhi adik-adik yang sedang bermain sepulang sekolah.  Pada saat kami kembali ke kapal yang berlabuh di samping rumah penduduk, bagian samping kapal #thebrondies yang digunakan untuk tempat duduk patah saat diinjak Nadia yang akan melangkah ke kapal kami. Walhasil kapal tetangga harus sedikit diperbaiki sedang kapal kami bisa berputar-putar untuk memancing ikan sembari menunggu kapal tetangga siap. -,-

Pulau Banyak

Selanjutnya kami pergi ke Pulau Tambego untuk melihat gua yang disarankan Pak Herman, kapten kapal #TheBrondies.

Pulau Banyak

Meskipun harus sedikit bersusah payah melewati semak belukar dengan pandan berduri di lereng pulau, kami bisa juga mencapai gua yang indah ini. Untung ada yang bawa headlamp dan hape yang ada senternya sehingga bisa masuk ke dalam gua.

Pulau Banyak

Stalakmit dan stalaktit di gua ini sangat indah.

Pulau Banyak

Pak Adin (supir kapal kami), Nadia, Pak Herman, Bu Joko, dan Fahmi. Dari Pulau Tambeggo kami menuju Pulau Tabala. Pantai di sini bagus banget. Pulaunya lebih besar dibanding pulau-pulau kecil yang kami seinggahi sebelumnya.    Selain kuburan kuno yang konon ada di pulau ini, kita juga bisa menemukan bintang laut di pantainya. Dalam perjalanan kembali ke Pulau Tailana, kami sempat snorkeling di salah satu titik yang dari saat kami berangkat sudah terlihat sangat menggoda karena terumbu karangnya tidak begitu dalam, ikan-ikan yang terlihat jelas, serta ekosistem bawah laut yang masih sangat bagus. Nadia bilang puas banget dibimbing snorkeling oleh Pak Herman di sini.

Pulau Banyak

Dan hari pun semakin petang saat kami tiba di Tailana dengan membawa beberapa ikan hasil memancing di kapal tadi.

Pulau Banyak

Ikan yang kemudian menjadi lauk makan malam kami semua dengan pendamping sayur labu yang saya kira kolak labu pada awalnya. Ikan yang digoreng tanpa bumbu ini rasanya luar biasa nikmat karena memang masih benar-benar segar hasil memancing. Dan sebagai penggemar kolak, saya rasa lodeh sayur labu ini beda tipis rasanya dengan kolak. #penghiburan

Pulau Banyak

Work art on the wall of the restaurant in Tailana Resort.

Pulau Banyak

Akhirnya kami harus meninggalkan Tailana pagi itu. Tailana yang resornya tidak langsung menghadap ke laut karena ada banyak lavender dan pohon-pohon kecil menutupi kencangnya angin laut. Tailana yang nyamuknya hampir tidak ada berbeda dengan pulau-pulau lain yang konon banyak sekali nyamuknya. Tailana yang kamar mandinya¬†luas sekali¬† namun agak terbuka dengan pintu ditutupi plastik karena berfungsi sebagai tempat mencuci ikan dan piring-piring kotor juga. Tailana yang cuma ada listrik di restauran saja. Tailana yang hanya ada sinyal Telkomsel tanpa koneksi data. Ough… Tailana yang sungguh indah.

Pulau Tailana

Menara di tengah laut yang kami temui di perjalanan menuju Pulau Balai.

Pulau Banyak

Pulau Biawak yang juga kami lewati saat menuju Pulau Balai.

Pulau Banyak

Kami tiba di Pulau Balai sekitar pukul 12.30 wib dan langsung makan siang di salah satu warung di dekat pelabuhan sembari menunggu KM Putri Sulung berlayar pada pukul 14.00 wib. Naik kapal yang sama untuk berangkat dan kembali tetapi dengan kondisi kapal yang lebih sepi barang bawaan dibanding saat berangkat 2 hari sebelumnya. Biaya naik kapal dari Pelabuhan Jembatan Tinggi di Aceh Singkil ke pelabuhan di Pulau Balai, Pulau Banyak atau sebaliknya cukup terjangkau yaitu Rp30.000 per orang dengan waktu tempuh normal sekitar 3 jam. Dan kami pun tiba di Pelabuhan Jembatan Tinggi pada pukul 5.00 wib dengan dijemput langsung mobil travel Pak Darmawan yang sudah kami hubungi sebelumnya saat di Tailana. Terima kasih untuk semua keindahan dan pengalaman dalam secuil waktu dan bagian Pulau Banyak dalam 3 hari ini. Banyak Island is a must visit place. #WonderfulIndonesia #INAtopbucketlist

1,320 thoughts on “Secuil Pulau Banyak”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *