Merana dan Gerhana

Gerhana Jembatan Ampera Palembang

Pengalaman yang sudah  berbulan-bulan lalu yang juga baru sempat saya tulis nih. Gak papa lah ya buat kenang-kenangan mumpung catatan singkatnya masih ada. Akhir bulan Januari 2016 saat mengetahui akan ada gerhana matahari total yang melintasi beberapa kota di Indonesia seperti Palu, Ternate, Palembang, langsung saya terfikir untuk ke Palembang saja. Kota yang tidak begitu jauh dari Jakarta dan sudah beberapa kali saya kunjungi ini merupakan salah satu tujuan kuliner (dan belaja kain) favorit saya. Saya mendapatkan tiket PP sekitar Rp600.000 dengan si singa merah viat tiket.com sekitar 1,5 bulan sebelum keberangkatan. Lumayan lah walaupun saya pernah mendapatkan tiket promo yang lebih murah dari Garuda Rp500.000 PP pada tahun 2012 lalu.

Bunda Hani dan Nadya tertarik untuk mengikuti trip kilat dan cuma semalam serta di tengah pekan kali ini. Bunda Hani mempunyai Paklik yang sedang bertugas di sana sehingga mau sekalian mengunjungi, sedangkan Nadya mempunyai masa lalu kuliah di Palembang sehingga ingin bernostalgia.

Palembang

Beberapa hari sebelum keberangkatan, kabar baik tiba dari Bunda Hani yang ternyata Pakliknya akan menjamu kami mulai dari menyediakan penginapan hingga mobil dan supirnya untuk kami. Alhamdu…lillah…

Bandara Soetta

Saat mendarat di Pelembang, supir Pakliknya Bunda Hani menyambut di parkiran bandara dan langsung membawa kami ke Martabak Har dekat Masjid Agung untuk makan malam. Suka banget Martabak Har dan selalu rela menampung seporsi martabak yang tebal nikmat dengan kuah yang pekat kental berrempah dan penuh lemak ini.

Gerhana Matahari Palembang

Tidak lupa kami foto-foto di sekitaran air mancur dan Masjid Agung.

Gerhana Matahari Palembang

Dulu air mancur ini warna-warni tapi sekarang (atau pada saat kami ke situ saja) warnanya tidak berganti-ganti?

Gerhana Matahari Palembang

Menikmati pemndangan Jembatan Ampera saat malam hari dari Benteng Kuto Besak adalah mandatori setiap orang yang berkunjung ke kota pempek ini. Bagitu pun saya yang untuk ke sekian kali menikmati pemandangan Jembatan Ampera ini. Malam itu begitu banyak warga yang memang sudah mengikuti rangkaian acara yang diadakan dari siang harinya dan puncaknya akan dilaksanakan dengan penutupan Jembatan Ampera untuk kegiatan nonton gerhana bareng.

Gerhana Matahari Palembang

Jembatan Ampera lebih dekat dari tempat kami memarkir mobil.

Gerhana Matahari Palembang

Hampir tengah malam kami menuju Hotel Classie yang sudah dipesankan oleh Pakliknya Bunda Hani. Saat kami mau check in, Bunda Hani baru menyadari bahwa dompetnya yang berisi uang dan beraneka kartu hilang entah di mana. Sudah mencari di semua bagian tas dan mobil tetapi tidak ada juga hingga kami menyusuri kembali ke Martabak Har, air mancur hingga pinggir Sungai Musi di depan Benteng Kuto Besak tetapi hasilnya nihil. Dan akhirnya Bunda Hani hanya bisa merelakan dompetnya hilang dan kami memutuskan untuk kembali saja ke hotel dan beristirahat.

Sudah hampir pukul 1 dini hari akhirnya saya bisa masuk ke dalam kamar Hotel Classie yang nyaman dan gratis ini, tetapi masih kepikiran dompet Bunda yang hilang. 🙁

Palembang

Pagi harinya sekitar pukul 6.00, dengan kondisi masih sangat mengantuk, kami sudah dijemput Pak Supir untuk berangkat ke sekitar Masjid Agung menunggu saat gerhana matahari total. Keadaan Palembang pagi itu sangat luar biasa macet karena semua orang menuju titik kumpul yang sama di sekitar Jembatan Ampera. Setelah mendapatkan tempat parkir yang tidak begitu jauh dari Martabak Har, kami kembali menikmati martabak itu lagi untuk sarapan dan kali ini sudah disambut oleh Paklik dan Buliknya Bunda Hani. Dua porsi martabak dalam waktu kurang dari delapan jam. #pffft

Palembang

Dan beginilah suasana gerhana total yang tertutup mendung sekitar pukul 07.15 pagi itu. Jujur saya agak takut dan merinding saat gelap total ini bukan karena gelapnya tetapi karena takjub dengan keadaan yang tiba-tiba gelap gulita serasa maghrib. Suara takbir orang-orang di sekitar saya juga membuat semakin merinding dan mengingatkan betapa besar kuasa-Nya. Beberapa menit yang tak akan terlupa.

Gerhana Matahari Palembang

Setelah matahari kembali terlihat, tampaklah puluhan ribu warga yang mulai berjalan meninggalkan Jembatan Ampera menuju arah air mancur. (((ITU ORANG SEMUA)))

Palembang

Terlihat banyak pejabat, artis, sosialita, dan wartawan yang juga berada di jembatan ini entah dari jam berapa dan mulai meninggalkan jembatan. Dan beginilah saat Ampera sudah mulai sepi.

Gerhana Matahari Palembang

Saat kembali ke sekitar air mancur, ada si bapak polisi ganteng ini yang sedang bertugas.

Palembang

Pfffttt sedang mereviu foto-foto bapak polisi ganteng.

Palembang

Dan ada polisi ganteng lain yang terlihat masih muda. Fokus. Fokus. LOL.

Palembang

Kami pun mengakhiri foto-foto Pak polisi dan memutuskan kembali ke parkiran. Di sinilah di antara ruko-ruko tua kami memarkir mobil yang pada pagi hari tadi sangat penuh sesak kendaraan.

Palembang

Selanjutnya kami menuju tempat favorit saya di Palembang, Pasar Kito yang berada di kompleks Ramayana di dekat Palembang Indah Mal. Saya mempunyai beberapa langganan untuk mencari jumputan maupun songket dan selalu khilaf pada saat ke pasar ini.

Palembang

Songket warna-warni yang sangat indah ini harganya kurang dari Rp2.000.000 dan masih bisa ditawar. Haute Couture.

Gerhana Matahari Palembang

#NoCaptionNeeded

Gerhana Matahari Palembang

When you are feeling hot outside but you need to show the world your fabulous fabric.

Palembang

Setelah kalap membeli puluhan helai jumputan yang harganya murah meriah dari Rp50.000 per lembar (2 meter) hingga titipan songket, kami menuju Pempek Vico dengan berjalan kaki. Sayang sungguh sayang, Vico baru buka dan masih banyak menu yang yang belum tersedia seperti pistel, otak-otak, es kacang merah bahkan mie ayam favorit saya pun belum ada. Akhirnya kami pun hanya menikmati beberapa buah pempek adaan lalu kembali ke hotel untuk berkemas karena sudah hampir jam 11.30. Setibanya di hotel, kami segera beberes dan mandi tetapi ujung-ujungnya check out sudah hampir pukul 13.00 tetapi untuk tidak didenda. 😀

Karena belum membeli pempek untuk oleh-oleh, kami mampir ke Pempek Beringin yang letaknya di dekat hotel.

Gerhana Matahari Palembang

Tempatnya terlihat nyaman pada saat kami masuk. Kami pun langsung memilih-milih pempek maupun makanna lain untuk kami santap. Tak lupa memesan es kacang merah yang belum terpenuhi di Vico. Ada 1 rombongan lain sepertinya orang dari Jawa Timur yang sedang berada di sini dan datangnya hampir bersamaan dengan kami. Sembari menunggu pempek digoreng, kami menuju tempat pemesanan pempek untuk oleh-oleh yang berada di dekat pintu masuk. Kami memesan beberapa kotak pempek untuk menjadi buah tangan dan saat itu sudah dicatat untuk segera dibungkus.

Kembali ke meja dan pempek baru saja datang, kami pun segera menikmati pempek dengan cuko dan otak-otak yang rasanya enaaak. Saya kemudian menuju tempat pengambilan pempek dan menanyakan di mana minuman kami kok belum datang karena ada teman yang mulai makan pempek dan kepedasan. Katanya sih sebentar lagi siap dan saya pun diminta kembali ke meja. Sudah beberapa menit tetapi minuman kami pun belum jadi dan saya pun kembali ke depan untuk menanyakan. Eh bukannya sudah jadi, malah dibilang kalau ternyata kacang merah maupun kelapa muda yang kami pesan sedang tidak ada. Lah… bukannya ngomong dari tadi malah baru ngomong sekarang setelah 2 kali ditanya. Akhirnya saya mengambil langsung air putih dalam kemasan botol dan membanwanya ke meja sambil menggerutu dan menyampaikan kepada Bunda dan Nadya serta Pak Supir. Kami segera menyelesaikan makan pempek yang sebenarnya enak tetapi layanannya yang kurang memuaskan ini dan menuju ke tempat pengemasan pempek untuk dibawa ke Jakarta sekaligus membayar. Saat menyampaikan kepada kasir yang sekaligus sepertinya pemilik, bahwa kami sudah selesai makan dan akan membayar termasuk pempek yang tadi sudah dipesan untuk dikemas dalam kotak eh kok ternyata pesanan kami belum ada dan mas yang menulis pesanan tadi sudah tidak di tempat dan mas yang sekarang bertugas mengemas di situ tidak tahu apa-apa. D’oh… akhirnya memuncaklah kemarahan saya yang sudah 2 kali kecewa dengan pelayanan tempat ini. Saya bilang bahwa kami kecewa dengan pelayanan di sini dan sudah tidak perlu dibungkuskan karena kami buru-buru mau ke bandara dan tidak ada waktu menunggu dibungkuskan lagi. Saya segera membayar dan kami pun pergi dari sini. I don’t like drama but drama loves me wherever i go.

Gerhana Matahari Palembang

Kami selanjutnya menuju kantor polisi yang letaknya juga tidak begitu jauh dari hotel untuk membuat surat  keterangan kehilangan dompet dan kartu-kartu Bunda. Di kantor, yang sebenarnya lebih tepat disebut pos polisi tersebut, hanya ada seorang Bapak Polisi sudah tua dan mungkin hampir pensiun yang berjaga. Kami menyampaikan maksud kami dan tak disangka layanannya sungguh luar biasa. Dengan diselingi sedikit guyonan dan tanya mengenai asal kami dan kronologis kehilangan, surat keterangan pun sudah diterbitkan dan ditandatangani. Terima kasih, Pak.

Karena layanan yang singkat cepat dan memuaskan dari pak Polisi, maka kami masih ada waktu untuk mampir mencari pempek di Jalan Mujahidin Pasar 26 Ilir di belakang Mie Celor 26 HM Syafei. Di sepanjang jalan ini banyak pempek dengan cuko yang murah dan enak yang harganya hanya Rp1000 per buah. Favorit saya sih Pempek Hesty. Biasanya saya beli pempek Hesty dan dibungkus plastik dengan cukonya lalu disobek bagian bawah plastik dan memakan pempek dari sobekan tersebut seperti makan cilok di Jawa. Sayang sore itu karena Pempek Hasty terlihat lumayan penuh dengan mobil yang berderet di depannya, maka kami mencari pempek lain yang lebih sepi biar bisa segera membungkus untuk dibawa ke Jakarta. Kami pun mampir di salah satu warung pempek dan membeli pempek hanya dengan harga Rp100.000 mendapat 100 buah pempek sekaligus cuko yang enak. Kami juga sempat menikmati pempek dan es kacang merah di situ. Mungkin ini hikmah gagal memesan pempek tadi karena kalau di toko pempek yang sudah punya nama, pempek 1 buah harganya sekitar Rp4.000 padahal kalau oleh-oleh kantor sih dibawakan saja sudah bagus, apalagi ini bukan perjalanan dinas yang lebih agak wajib membawa oleh-oleh. Dan saya juga bukan tipe yang suka membawakan oleh-oleh atau pun meminta oleh-oleh. Kalau nitip sih kadang-kadang asal tidak merepotkan.

Palembang

Dari Pasar 26 Ilir, kami melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi rumah dinas Pakliknya Bunda di pinggiran kota Palembang sekaligus menyerahkan talas yang semalam sempat dipertanyakan pihak keamanan bandara karena saat dipindai di dalam tas saya terlihat aneh. Hohoho iyalah, 4 buah talas bogor dengan batang kira-kira 30cm masuk ke dalam tas keril saya yang hanya berisi sedikit pakaian karena mau saya isi kain yang saya beli di Pasar Kito. 😀

Setelah duduk-duduk bercengkerama dengan Paklik dan Bulik Bunda serta menikmati pempek enak banget yang disajikan dan enath merek apa, kami pun pamit dan segera bergegas ke bandara. Tak disangka di bandara bertemu Jeng Ria, teman yang sudah beberapa tahun tak jumpa, yang berangkat pagi dan sore sudah balik serta tidak kebagian gerhana dan malah ke Pulau Kemarau. Ternyata lebih singkat kunjungannya di palembang daripada kami.

Gerhana Jembatan Ampera Palembang

Terima kasih untuk Pakliknya Bunda, yang sekarang sudah pindah ke Jakarta, yang sudah menjamu kami. Dan sampai jumpa lagi Palembang tahun depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *