Piknik Asyik di PIK Bagian II

Saya cukup sering berwisata kuliner di PIK, hampir setiap bulan terkadang sebulan bisa dua kali. Pada saat libur Idul Adha di Bulan Oktober lalu, saya menyempatkan diri ke PIK untuk mengunjungi mal PIK Avenue yang baru dibuka. Mal yang baru beberap hari dibuka tersebut ternyata masih cukup berantakan dan belum lengkap selain jaringan toko pakaian dari Jepang dan Swedia yang sudah siap. Akhirnya saya dan teman-teman saya memilih untuk makan di kafe yang berada di ruko-ruko di sekitarnya.

1. Beatrice Quarters. Berlokasi di Ruko Crown Golf, Blok B No. 26, Bukit Golf Mediterania, Jalan Marina Indah Raya, Pantai Indah Kapuk, Jakarta. Telepon 021-29424926

Saat masuk ke sini terlihat interiornya bagus. Bagi yang tidak merokok, lebih baik memilih tempat duduk di dalam yang ber-AC dan pilih sofa yang dekat pintu ruang dalam karena lebih nyaman dan private.
Beatrice Quarters

Kami mencoba beberapa menu yaitu chicken carbonara rice pizza, fruits dazzling, dan home run. Rice pizzanya enak. Untuk ukuran small seharga 39k tidak terlalu kecil ukurannya dan cukup mengenyangkan dengan rasa keju yang gurih dan topping yang lezat.
Beatrice Quarters

Menu Home Run untuk champion breakfast terdiri salmon, home made protein loaf, 2 jenis jamur, telur, salad yang semuanya enak dan porsi besar. Gak rugi mengeluarkan 79k untuk menu ini.
Beatrice Quarters

Roti panggang yang renyah di luar tapi empuk dan enak dalamnya dengan toping eskrim stroberi, potongan buah stroberi, peach, dan kiwi segar serta macarons yang super manis menjadikan Dazzling fruits menu yang wajib kita coba. Penampilannya cantik dan porsinya juga luar biasa besar. Toilet di sini juga bersih dan bagus. Pelayannya juga ramah dan sangat membantu. Patut dikunjungi.

Beatrice Quarters

2. BC’s Cone. Dessert shop yang berlokasi di

Good place with good interior.

BC's Cone
The place is not too crowded and has a good restroom.
BC's Cone

Its artsy mango cone and black cheesecake ice cream with fresh strawberry, mango and nutella tasted a bit plain but sweet from nutella. Its thai tea ice cream tasted very thai tea and nice.
BC's Cone

  Rambut neneknya heboh dan seru buat foto-foto seperti di dessert shop lain.
BC's Cone

3. Warung Mevvah. Warung Indomie kekinian yang berlokasi di Ruko Crown Golf, Blok B No. 12, Bukit Golf Mediterania, Jl. Marina Indah Raya, Pantai Indah Kapuk, Jakarta ini baru buka beberpa bulan lalu. Ramai kalau sore dan akhir pekan seperti saat kami kunjungi saat itu.

Warung Mevvah

Tempatnya cukup ok dan cukup luas tetapi tidak begitu dingin apalagi yang bagian depan dekat atap kaca.Dengan beberpa interior yang lumayan oke juga buat difoto. Toiletnya standarlah.

Warung Mevvah

Indomie bumbu sate yang saya coba ok lah tetapi kurang greget bumbu satenya. Indomie ayam saos margarinenya lumayan. Sempat mencicipi tester susu mevvah rasa taro yang menurut saya mungkin bisa ditambahkan potongan buah agar agak asam dan lebih ringan rasanya.

Warung Mevvah

4. Do An. Berlokasi di

Karena sudah hampir malam, kami akhirnya pindah ke salah satu tempat favorit saya di PIK yaitu Do An. Hampir setiap ke PIK apalagi bersama teman muslim yang takut mencicipi makanan inti yang mungkin tidak halal maka saya mengajak mereka ke Do An. Pho dan makanan lain di Do An selalu cocok di lidah saya dan nikmat.

Toby’s Estate PIK Avenue

Toby's Estate PIK Avenue

Sebagai kelas bawah mencoba ikut gaya ala-ala menengah ke atas, pengalaman saya pada saat libur Maulid Nabi lalu cukup menyadarkan saya bahwa saya mungkin tidak ada bakat menjadi kelas menengah ngehe, apalagi kelas atas. Dengan berbekal tas punggung, kaos putih aku-kudu-piye, celana jeans, dan sepatu kets, saya bersama Mas W dari Stasiun Bogor menggunakan KRL menuju Stasiun Duri untuk selanjutnya pindah KRL menuju Stasiun Rawa Buaya dan dilanjutkan menggunakan jasa mobil Uber untuk menuju PIK Avenue. Berawal dari melihat foto makanan yang diunggah @eatandtreats di instagram pada Minggu pagi tentang kafe yang baru buka pada hari Sabtu dengan menu seperti foto di atas, saya tiba-tiba ingin meluncur ke PIK Avenue apalagi sudah 2 bulan tidak ke PIK setelah mencoba memasuki PIK Avenue beberapa hari setelah pembukaannya pada awal Oktober lalu. Dengan muka yang tidak begitu segar setelah menempuh perjalanan Bogor-PIK sembari harus berhujan-hujan ria di stasiun mungkin memang kami kurang cocok ngemal.

Toby's Estate PIK Avenue

Ini lah Toby’s Estate yang saya tuju. Mas W sebenarnya kurang sreg dengan kafe ini saat kami akan masuk karena kami sudah kelaparan belum makan siang sedangkan saat itu sekitar pukul 15.30 wib dan sepertinya ini adalah tipe warung kopi dengan makanan yang kurang nampol di perut. Kafe terlihat penuh yang meyakinkan saya kalau ini kafe yang menyajikan makanan dan minuman nikmat. Syukurlah pada saat kami masuk, ada bagian ujung sofa dengan meja bulat yang baru saja kosong sehingga kami tidak perlu mengantre.

Toby's Estate PIK Avenue

Sofa di sebelah kami yang kosong juga langsung diisi pengunjung lain yang sudah mengantre. Bahkan antrean di depan pintu masuk bagian dalam kafe tiba-tiba sudah mengular.
Toby's Estate PIK Avenue
Saya memesan menu sama dengan yang diunggah fotonya oleh @eatandtreats yaitu buttermilk chicken corn fritata dan cappuccino sedangkan Mas W memesan cokelat panas dan kentang goreng dengan keju parmesan dan jamur truffle.
Toby's Estate PIK Avenue
Cekrek-cekrek sana-sini tengok sana-sini tanpa beranjak dari sofa. Pengunjung kafe ini dari bule, om, tante, mbak, mas, dedek gemes, seru lah semua ada.
Toby's Estate PIK Avenue

Tiktok sampai kehabisan sudut yang mau difoto hingga memoto kaki Mbak pengarah layanan kafe yang sibuk mondar-mandir mengantar pengunjung yang baru datang ke kursi yang tersedia dan mengurusi permintaan pelanggan. Saya tengok ke pasangan tetangga sofa sebelah yang datang setelah kami tadi yang ternyata mereka sudah mendapatkan 2 cangkir kopi dan sudah hampir habis. Hmmm! Saya bertanya kepada seorang Mbak pelayan yang sedang menunggu barista meracik kopi yang letaknya di depan kami tentang pesanan kami dan dia bilang kami tunggu saja nanti pesanan kami diantarkan sehingga tidak perlu mengantre (seperti pembeli lain yang membeli untuk dibawa pulang serta banyak juga pengunjung yang berjajar di depan meja saji barista untuk melihat pertunjukan barista meracik kopi).

Toby's Estate PIK Avenue

Yak sip. Tengak-tengok kanan kiri dan instagram lagi.
Toby's Estate PIK Avenue

Belum ada perkembangan setelah hampir 15 menit setelah saya tanyakan nasib pesanan kami ke Mbak pelayanan tadi yang sepertinya semua pelayan memang sedang sibuk banget mengurusi pengunjung yang terus berdatangan. Saya mendatangi Mbak yang tidak memakai seragam pelayan , yang sepertinya manajemen kafe ini meskipun ikut menyajikan dan mondar-mandir seperti pelayan juga. Mbak Sarah namanya. Saya menyampaikan kepada Mbak Sarah kira-kira bagaimana pesanan saya, apa yang harus saya lakukan agar bisa segera mendapat pesanan saya karena saya sudah menunggu lama bahkan pasangan sebelah sudah selesai foto-foto dan hampir selesai menikmati kopi mereka sedangkan kami belum sama sekali mendapatkan pesanan kami. Dengan muka yang masih ceria tetapi mungkin was-was akan diomeli pelanggan kucel dari desa dengan membawa tas punggung besar Mbak Sarah memohon maaf dan menanyakan ulang pesanan kami.

Saya bilang kalau saya memesan menu lupa namanya apa tetapi yang diunggah @eatandtreats di instagram kemarin, kentang goreng dengan keju dan jamur truffle, cappuccino, serta cokelat panas. Mbak Sarah mencatat ulang pesanan kami dan mengatakan sebentar akan dicek.

Saya segera duduk kembali dan menunggu kabar dari Mbak Sarah yang langsung bergerilya. Tak lama berselang Mbak Sarah menghampiri kami dan meminta maaf karena ternyata pesanan kami belum diinput dan minta waktu 15 menit untuk menyelesaikan pesanan kami. Dan saya pun yang sudah kelaparan tetapi sedang tidak selera untuk marah-marah benar-benar hanya senyum-senyum kecut dengan muka pengharapan agar segera saja diolah pesanan kami. Setelah itu Mbak Sarah terlihat langsung menghampiri seorang barista. Mbak Sarah adalah wanita berkacamata berambut pendek yang mengenakan kemeja putih dan celana garis belang-belang hitam putih di foto di bawah ini.

Toby's Estate PIK Avenue

 Saya, yang sudah memantau gerak-gerik setiap orang yang berada di depan kami, melihat seorang Mbak pelayan membawa secangkir kopi ke sofa deretan kami dekat pintu masuk tetapi sepertinya ditolak pengunjung di sofa tersebut karena bukan pesanannya. Sang pelayan kemudian menuju meja kami dan menanyakan apakah kami memesan cappuccino dan segera saja saya iyakan sambil tersenyum kecut.

Toby's Estate PIK Avenue

Beberapa menit kemudian menu @eatandtreats yang saya pesan menghampiri kami. Begitu pun kentang goreng dengan aroma jamur truffle menyerbak akhirnya datang.

Toby's Estate PIK Avenue

Ini dia tampilan lengkap menu pesanan kami sebelum kami memulai makan. Dengan meja yang kecil dan posisi sofa hanya di salah satu bagian meja yang menghadap meja barista, maka saya putuskan untuk memangku makanan pesanan saya saat memakannya. Buttermilk chicken corn fritata ternyata merupakan dadar jagung dengan selada dan 2 potong ayam goreng tepung yang diberi saos keju dan beberapa lembar dadih. Ayam goreng tepungnya rasanya biasa saja karena bumbunya tidak begitu terasa dan tepungnya yang berwarna kecokelatan entahlah tepung apa dan dibumbui. Saladnya enak. Untuk dadar jagungnya menurut saya terlalu asin dan tepungnya terlalu lembek. Untuk versi murah dan lebih cocok dengan lidah saya, mungkin membeli bakwan jagung di warteg lalu diletakkan di dasar piring, ditambah potongan sayur segar dengan 2 potong ayam goreng tepung ala KFC pinggir jalan serta disiram saos mayones akan lebih sesuai ke lidah saya. Kentang gorengnya juga biasa saja sih. Bahkan kalau soal jamur truffle saya langsung ingat pasta krim kedelai dengan minyak jamur truffle di Mottomoo yang berlokasi tidak jauh dari situ yang rasanya cocok banget dengan lidah saya. Saya makan ayam gorengnya dengan mencomot, baru untuk selada dan dadar saya menggunakan sendok. Sing penting wareg, ra urus wong ndelok comot kabeh nganggo tangan lan mangku piring. Bhay.

Toby's Estate PIK Avenue

Tetangga sebelah sofa saja sudah berganti. Mungkin pengunjung sebelah yang sebelumnya kalau meminum kopi seperti saya, glakglek seperti minum air putih jadi cepat habis. Atau memang sudah terlalu lamaaaaaa kami menunggu jadi kopi tetangga sebelah yang sudah difoto dan dinikmati dengan perlahan dan cantik sembari bermesraan sudah habis?

Toby's Estate PIK Avenue

Kopi yang mungkin adalah andalan Toby’s juga baru saya nikmati setelah saya selesai makan sehingga sudah dingin. Rasa kopinya sebenarnya enak tetapi karena saya sudah kesal, maka saat itu saya minta gula cair ke barista agar kopi saya menjadi manis dan lidah saya tidak semakin pahit untuk mengomeli orang. Saya dan Mas W bukan tipe yang akan menyisakan makanan yang kami pesan atau kami dapat, tetapi mungkin karena sudah empet menunggu dan laparnya sudah hilang maka kentang goreng yang katanya favorit dan enak ini menjadi hambar dan kami biarkan tidak habis. Saya sudah tidak berselera.
Toby's Estate PIK Avenue
Sejenak setelah memutuskan untuk tidak menghabiskan kentang goreng, saya masih melihat sekitar. Kali ini saya menghitung ada sekitar 8 gelas kertas kopi yang sepertinya salah pesan atau apa yang menyebabkan kopi-kopi tersebut tidak diambil dan dibiarkan di meja barista sebelum akhirnya digabung dalam 1 nampan untuk ddipisahkan di pinggir meja. Setelah itu saya meminta tagihan kepada pelayanan tetapi sudah bermenit-menit tidak kami dapatkan juga tagihannya. Walhasil, saya yang melihat Mbak Sarah sedang menjaga kasir untuk pembayaran take away memutuskan untuk menyamperinya. Ada seorang pengunjung wanita yang entah memesan kopi apa tetapi mendapatkan kopi yang lain sehingga dia menanyakan nasib kopi itu kepada Mbak Sarah dan Mbak Sarah bilang kalau kopi yang dipegang si Mbak pengunjung tadi for free. Setelah Mbak Sarah beres melayani pengunjung barusan, saya menyakan bisakah saya membayar langsung di sini tanpa harus menunggu tagihan yang sudah saya tunggu tetapi tidak datang-datang juga. Mbak Sarah meminta maaf lagi karena lamanya tagihan. Mungkin Mbak Sarah juga tidak enak karena dari mau memesan sampai bayar saja kok saya jadi ribet gini. Akhirnya dengan tagihan bertuliskan Toby’s Estate 11/12/2016 16.50 T001 A000501 saya bayar tagihan Rp294.525. Terima kasih banyak Mbak Sarah. Pada akhirnya saya hanya bisa menyalahkan diri saya mengapa saya tergoda mengikuti keramaian kafe yang baru buka ini dan begitu mudah terbujuk di sosial media.

Berikut beberapa saran saya untuk Toby’s Estate yang sebentar lagi juga akan buka di sekitar Gunawarman, yang mana mungkin saya akn mencoba mampir pada saat berangkat atau pulang kantor. Mungkin iya mungkin tidak. Karena saya benar-benar masih mendongkol dengan layanan yang saya dapat pekan lalu.

  1. Gunakan sistem antrean misal dengan kertas bernomor atau dicatat rombongan siapa sehingga pada saat penuh dengan pelanggan bisa diketahui pelanggan yang datang dulu yang mana, bukan hanya dengan dijajar berdiri karena tidak mungkin dibuat berbaris lurus tetapi bergerombol.
  2. Penulisan meja dengan jelas sehingga dapat diketahui pengunjung di suatu meja memesan apa bukan hanya berdasar hafalan pelayan dan manajemen yang pada akhirnya memudahkan pelanggan untuk menyebutkan meja tempat dia memesan.
  3. Untuk pengunjung yang membeli untuk dibawa pulang, sebaiknya diatur lebih rapi karena luas antara meja tempat pemesanan, tempat pengunjung berdiri memesan, dengan meja bulat di depan sofa tempat pengunjung yang makan di tempat cukup terbatas, belum lagi untuk lalu lintas pelayan mengantar pesanan.
  4. Jika memang pengunjung berlebih, mungkin lebih baik dibatasi pengunjung yang masuk ke area kafe karena akan semakin membuat semrawut dan pelayanan tidak maksimal. Terlihat beberapa pelayan kebingungan dengan banyaknya pesanan yang akhirnya kesalahan dalam penyajian pesanan.
  5. Manajer harian atau pelayanan khusus untuk mengarahkan layanan harus lebih tanggap terhadap kebutuhan pengunjung. Perhatikan jika ada pengunjung yang belum juga mendapat pesanan setelah sekian lama atau hanya berdiam saja tanpa ada pesanan. Bisa saja belum terlayani atau masih bingung dengan menu yang ada.
  6. Perbanyak senyum dan lebih ramah kepada pengunjung.

Terima kasih.

Bara Bere di Tanjung Bira

Trip ini saya lakukan di bulan April 2016, sekitar 8 bulan lalu yang awalnya hanya untuk ke acara nikahan teman kantor saat akhir pekan dan berubah menjadi trip dadakan ke Tanjung Bira. Saya sudah beli tiket PP ke Makassar berangkat Jumat malam sekitar pukul 22.00 wib dan kembali ke Jakarta dari Makassar hari Minggu malam pukul 20.00an dari bulan Februari dengan harga sekitar Rp1.000.000 lebih sedikit saja. Sudah googling sana-sini masih bingung amau ke mana dengan waktu yang sangat terbatas dan seorang diri tersebut. Kalau harus naik angkutan umum dan berpindah-pindah bakal membuang waktu di jalan, kalau menyewa kendaraan seorang diri bakal cukup mahal. Eh alhamdulillah, pada hari Rabu sebelum keberangkatan tiba-tiba ada 2 teman yang mau ikut, si GGS aka Mika dan Kak Ipin. Saya pun segera menetapkan tujuan utama jalan-jalan ke mana dan bagaimana ke sananya serta bagaimana bisa sampai di Makassar Minggu malam ke acara nikahan teman. Setelah mencoba menghubungi beberapa travel yang menyewakan mobil saya memilih untuk menyewa mobil Mas Ayit (087841486600) dari Bugis Makassar Trip dan disepakatilah harga sewa untuk 2 hari sebesar Rp1.300.000 all in. Dihitung 2 hari karena kami mendarat Sabtu dini hari pukul 01.00 dan kembali ke bandara pada Minggu malam.

Tanjung Bira

Saat kami mendarat di Makassar, kami langsung dijemput Pak Alman, supir yang akan membawa kami ke Tanjung Bira. Dengan masih memakai baju kantor kami langsung melaju manja ke Bulukumba di ujung paling bawah Sulawesi yang memerlukan waktu sekitar 4 jam dari Makassar. Saya yang sangat mengantuk (seperti biasa dikorbankan untuk) duduk di samping Pak Alman mencoba tetap terjaga dan berbincang dengan Pak Alman yang terlihat mengantuk juga apalagi kondisi jalan ternyata bagus, walau terkadang naik turun serta cukup jauh, sehingga tentunya membuat supir mudah terlena dan dikhawatirkan tertidur. Sekitar pukul 6.00 pagi kami tiba di Tanjung Bira dan langsung memilih penginapan yang akan kami tempati. Dari beberapa pilihan yang direkomendasikan Pak Alman, kami memilih penginapan yang meskipun tidak berada di bibir pantai tetapi masih dekat dengan pantai dan lumayan bagus serta murah serta hanya akan mengenakan biaya satu malam meskipun kami early check in.

Sekitar pukul 08.00 wita setelah sedikit beristirahat dan sarapan, kami langsung menuju Pulau Kambing. Kami menyewa kapal yang direkomendasikan pihak penginapan dengan harga Rp550.000 meliputi Pulau kambing, Pulau Liukang, dan Pantai Bara, dan sudah termasuk fin serta google untuk seharian. Pulau Kambing hanya berjarak sekitar 45 menit dari Tanjung Bira. Dinamakan Pulau Kambing konon karena pulau ini sempat menjadi perebutan sehingga untuk menandakan bahwa pulau ada penghuninya dan tidak bisa dikuasai pihak lain maka dipeliharalah beberapa kambing yang kemudian berkembang biak menjadi banyak yang hidup di pulau. Saya sih tidak melihat sendiri kambing-kambing itu karena kami snorkeling di bagian tebing yang tidak dapat digunakan kapal untuk berlabuh.

Tanjung Bira

Pemandangan di atas laut maupun di bawah laut di Pulau Kambing ini AMAZING. Bagussss bangeeeet. Saya sempat hampir satu jam hanya untuk foto-foto dan menyaksikan keindahan di sekitar pulau ini.

Tanjung Bira

Sebelum akhirnya ikut nyemplung kayak si GGS ini.

Tanjung Bira

Tapi tidak menyelam begini karena saya memang  tidak bisa dan tidak berani menyelam. -,-

Palembang

Sekitar pukul 11.00 wita, kami meninggalkan Pulau Kambing untuk menuju Pulau Liukang yang berjarak sekitar 30 menit dari  dari Pulau Kambing.

Tanjung BiraPemandangan di Pulau Liukang ini juga sungguh indah. Langit biru, pulau yang hijau, pantai turquoise, laut yang biru.
Tanjung Bira

Pada saat berlabuh, kami penasaran dengan tempat makan yang berada di atas keramba di tengah laut. Untuk menuju keramba tersebut (bangunan dengan atap orange di pojok kiri atas foto di bawah) tidak semudah yang terlihat dan cukup jauh dari tempat kami berlabuh serta terik matahari yang sangat menyengat saat itu. Menggunakan kapal sepertinya menjadi pilihan yang tepat untuk mencapainya. Makanan yang ditawarkan masih lebih bervariasi dan menarik di tempat makan tempat kami berlabuh. Di tempat ini hanya ada pisang goreng, kelapa muda, serta mie goreng dan menu ikan meskipun tempatnya cukup bagus.
Tanjung Bira

Saya memutuskan untuk pergi dulu dari keramba dan menjelajahi perkampungan di pulau ini. Saya kembali menyusuri kampung untuk menuju tempat makan di mana kapal berlabuh.

Tanjung Bira

Tidak disangka ternyata penduduk pulau ini adalah pengrajin tenun khas Bulukumba yang sangat indah. Saya cukup lama berbincang-bincang dengan seorang Ibu penenun yang sedang sibuk menenun sarung. Harga sarung tenun yang ditawarkan saat itu Rp500.000, Rp700.000, dan Rp900.000 tergantung motif dan bahan. Motif yang lebih rumit dan bahan yang mengandung benang emas/prada tentu harganya lebih mahal dibanding yang motif lebih sederhana dan benang perak. Dengan berat hati saya meninggalkan Ibu penenun tanpa hasil karena tidak bisa menawar lebih murah lagi dan kasihan kalau harus dihargai lebih murah. Hemat juga sih aslinya, -.-

Tanjung Bira

 Sembari menunggu pesanan makan datang, saya naik sedikit ke bukit. Suka banget gradasi warnanya.

Tanjung Bira

Walaupun aslinya panas gila. 😐

Tanjung Bira

Pesanan sop dan ikan bakar untuk makan siang yang rasanya enak dan porsinya banyak serta lumayan murah.

Tanjung Bira
Dari Pulau Liukang, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Bara yang sebenarnya sederetan dnegan Tanjung Bira tetapi letaknya agak masuk. Pantai ini terlihat panjang dan landai dengan butiran pasir yang putih dan halus. Ada beberapa penginapan yang terlihat sepi, damai, dan bagus yang sepertinya dikelola serta ditempati orang asing.

Tanjung Bira

Dan akhirnya kami kembali ke Tanjung Bira untuk menikmati sunset dengan sebotol minuman ringan di Hakuna Matata Resort. Resor ini berada di pinggir tebing dan langsung mengarah ke pantai. Selain Hakunan Matata juga ada Amatoa Resort di sebelahnya yang perlu mengeluarkan uang lebih dari Rp1 juta per malam untuk menginap.
Tanjung Bira

Kita cukup membeli minuman atau makan di restauran resor ini tanpa harus menginap dan bisa menikmati pemandangan matahari terbenam dari tempat terbaiknya di Tanjung Bira.
Tanjung BiraSetelah puas menikmati sunset, kami melanjutkan berkeliling untuk mencari makan malam. Awalnya sih mengincar mau makan malam di salah satu resto berbentuk kapal laut tetapi ternyata sudah dipesan untuk acara sehingga kami harus mencari tempat lain. Beberapa rumah makan di sekitar pantai ternyata juga sudah dipesan atau penuh sehingga kami berjalan ke arah jalan utama dan mencari tempat makan yang kira-kira tepat. Dan akhirnya kami makan ini. Di sekitar jalan utama menuju Tanjung Bira dipenuhi penjual oleh-oleh yang didominasi aneka emping dan kerupuk nasi dengan harga yang sangat terjangkau.
Tanjung BiraMalam minggu kami lanjutkan di kamar masing-masing sambil menikmati kebisingan dangdut, karaoke, ceramh, hingga doa bersama hingga tengah malam dari penginapan sebelah yang sedang dipakai untuk acara anak SMA yang akan lulus. Walaupun bising tapi kami tidur lumayan nyenyak kok wkwkkw.

Minggu pagi setelah sarapan kami langsung meninggalkan penginapan dan menuju Pantai Apparalang yang menurut google sedang heits. Biaya retribusi saat itu hanya Rp2.000 per orang dan fasilitas masih minim tetapi pemandangan yang menakjubkan. Ini adalah bagian pertama yang berada di dekat parkiran. Terdapat tangga yang baru dan sedang dibangun untuk menuruni tebing hingga mencapai air laut. Di bagian ini saja sudah terpukau lho.

Tanjung Bira

Beranjak ke bagian lain pantai, di sini terdapat bagian untuk nyemplung-nyemplung ke air dengan menuruni tangga yang yang cukup tinggi dan dibagi 2 tingkat. Agak seram juga tentunya tetapi banyak yang mau mencobanya. Cuaca di sekitar pantai ini cukup mudah berganti-ganti, seperti saat itu dari mendung tiba-tiba cerah lalu mendung lagi. Bagusnya sih saat matahari benar-benar bersinar terang sehingga langit biru dan airnya tampak cetar membahana nan indah.
Tanjung Bira

Dan saya benar-benar terpukau dengan  perpaduan langit, tebing, dan gradasi warna air laut yang cetar membahana di bagian lain pantai ini. Pantai seindah ini akan sangat ramai dan menjadi kotor dan penuh dengan perusakan yang dilakukan oleh pengunjung jika berada di tempat yang mudah dijangkau dan ramai, misal di Pulau Jawa -.-.

Tanjung Bira

Dari Apparalang, kami melanjutkan perjalanan ke Kampung Tana Beru yang merupakan kampung pembuat kapal pinisi yang berada di pesisir tidak begitu jauh dari Tanjung Bira. Saya terkagum-kagum dengan betapa banyak pembuat kapal pinisi serta betapa besar ukuran kapal yang dibuat. Katanya kapal-kapal yang dibuat itu sudah ada yang pesan karena biaya produksi yang sangat besar dan waktu pembuatan bisa setahun atau lebih serta harganya bisa mencapai miliaran rupiah. Dan saya melihat beberapa bule yang sedang melihat progres kapal yang sudah dia pesan. Ritual yang dilakukan juga cukup banyak mulai dari saat akan dimulai pengerjaan hingga saat selesai pengerjaan untuk mendorong kapal pelan-pelan masuk ke laut yang membutuhkan waktu hingga sebulan. Mahakarya anak negeri banget.

Tanjung Bira

Islamic Center Dato’ Tiro, Bulukumba yang megah dan indah.

Tanjung Bira

Beginilah pemandangan kanan kiri jalan yang begitu Indah di sekitar Jeneponto saat menuju Makassar

Tanjung Bira

Kami mampir untuk makan siang coto kuda di Coto Turatea Belokallong di Jeneponto. Awalnya sih agak-agak ngeri gitu mau makan daging kuda, tapi pas sudah mencicipi sih lumayan enak cuma agak bau besi gitu ternyata daging kuda itu. Ketupat 2 buah, semangkok coto yang penuh kolesterol dan lemak serta sebungkus emping pun ludes dalam sekejap. #crytapinikmat

Tanjung Bira

Kami juga sempat mencicipi kue putu cangkir yang banyak dijajakan di pinggir jalan di daerah Gowa.
Tanjung Bira

Di Gowa, saya menghubungi teman lama saya, Bu Uchi dan Pak Kasman, dan mengajak ketemuan makan saat nanti sudah tiba di Makassar. Dan kami pun mampir ke Museum Balla Lompoa yang cukup luas dan terletak di jalan utama sehingga cukup ramai.

Tanjung Bira

Sesampainya di Makassar, kami makan sore dan cemal-cemil cantik di RM Muda Mudi. Jalangkote, lumpia, kroket dan pisang ijo di sini enaaaakkkk… Udah gitu dibayarin pula, jadi makin enak… Makasih Bu Uchi dan Pak Kasman…
Tanjung Bira

Tidak lengkap ke satu kota tanpa belanja kain khasnya, apalagi setelah gagal mendapatkan tenun Bulukumba.  Sesuai rekomendasi Uchi, kami mengunjungi Toko Keradjinan untuk membeli oleh-oleh dan kain. Saya khilaf membeli aneka kain tenun khas Makassar sekalian untuk keluarga besar saat lebaran serta untuk kado nikahan teman.

Tanjung Bira

Pantai Losari letaknya tidak begitu jauh dari Toko Keradjinan dan kami menyempatkan diri untuk sekadar foto-foto serta menikmati pisang epe yang enaaaaakk dan murah tentunya. Seporsi sekitar Rp10.000. Jangan lupa minumnya saraba, semacam kopi susumahe khas Sulawesi.

Tanjung Bira

Hujan besar mengguyur Makassar saat kami selesai menikmati pisang epe dan akan meluncur ke tempat kondangan kawan yang merupakan bukan tujuan utama trip kali ini. Selamat untuk Arfah yang akhirnya mengakhiri masa lajangnya dengan mempersunting Mbak Cantik.

IMG-20160410-WA0011

Kami buru-buru foto dan meluncur ke bandara karena jadwal pesawat yang mepet dan ternyata tol menuju bandara sangat macet karena sedang ada pembuatan underpass di simpang lima dekat bandara. Tapi syukurlah kami masih bisa tiba di bandara di detik-detik terakhir diperbolehkan check in. Dan alhamdulillah saya boleh bawa tas keril saya yang sudah terisi penuh kain puluhan meter, walau sudah saya titipkan Kak Ipin dan GGS juga sebagian, boleh dibawa langsung ke pesawat tanpa harus dimasukkan bagasi.

\(*.*)/