Trip di Ujung Rel

Seperti kisah cinta yang lama menggantung dan tak berujung tetapi masih terpendam dan tak terlupakan, mungkin inilah yang terjadi pada tulisan di blogku. Kapan kualami, entah kapan kutulis. Banyak yang lupa, tetapi masih juga banyak yang tersimpan di hati. Termasuk perjalananku ke Tangerang pada Natal tahun 2015 lalu. Erghhhh

Mas W saat itu datang untuk menikmati libur Natal di Jakarta dan ingin wisata kuliner saja sebenarnya. Sehari sebelumnya kami bertemu di Tebet untuk makan di Daeng Tata, lalu ke Kota Tua, dan terakhir ke GI. Saya tiba-tibat teringat Cina Benteng dan klenteng-klenteng tua yang berada di Tangerang yang sempat saya baca di blog, dan akhirnya saya mengajak Nadia untuk trip hemat dan dekat ini. Untuk menuju Tangerang cara hematnya dengan menggunakan KRL dari Bintaro-Tanah Abang-Suri-Tangerang. Pengalaman pertama transit di Stasiun Duri untuk menuju Stasiun Tangerang karena biasanya hanya sampai Tanah Abang saja. Dari Duri ke Tangerang ternyata cukup jauh dan keretanya tidak begitu banyak. Setelah hampir 2 jam akhirnya kami tiba di Stasiun Tangerang.

Stasiun Tangerang

Siang itu cukup panas dan macet sekali di depan Stasiun Tangerang. Kami berjalan menuju gedung yang terlihat seperti mal untuk mendinginkan diri dan mencari minuman. Di gedung yang agak sepi tersebut tidak begitu banyak toko dan tempat makan hanya Robinson yang terlihat paling besar. kami membeli beberapa botol minuman dingin lalu duduk-duduk mendinginkan diri sebentar sebelum pergi menuju Vihara Boen San Bio menggunakan taksi. Yayasan Vihara Nimmala Boen San Bio ini terletak tidak begitu jauh dari stasiun hanya sekitar 1,5 km dan berada di dekat Sungai Cisadane.

Bun San Bio

Kami yang belum pernah masuk ke vihara bertanya kepada penjaga apakah kami diizinkan untuk melihat-lihat ke dalam vihara dan syukurlah diizinkan. Lampion yang banyak dan indah ini menyambut kami memasuki vihara.
Chic in PIK

Di bagian dalam vihara ini sungguh sangat indah. Cukup rindang dan banyak tempat duduk. Terdapat ruangan serbaguna yang sedang digunakan untuk acara pernikahan.

Chic in PIK

Di selasar antara taman dan bagian depan vihara terdapat spot cantik yang bisa dipakai untuk foto-foto ini. Menurut Aroeng Binang, Kelenteng ini dibangun pada tahun 1689 berbentuk empat persegi panjang di atas tanah seluas 1.650 m2 oleh seorang pedagang dari Cina bernama Lim Tau Koen, dan ia menempatkan patung Kim Sing Kong-co Hok Tek Tjeng Sin yang dibawanya dari Banten. Kelenteng Boen San Bio mengalami beberapa kali renovasi, termasuk setelah terjadi kebakaran pada tahun 1998.

Chic in PIK

Dari Kelenteng Boen San Bio, kami kembali menggunakan taksi untuk menuju Kelenteng Boen Tek Bio dengan melewati depan Stasiun Tangerang lagi. Siang itu terdapat beberapa pengalihan jalur karena malamnya akan diadakan panggung hiburan rakyat di Pasar Lama sehingga kami harus memutara dan berjalan beberapa gang sebelum Pasar Lama untuk menuju Boen Tek Bio. Berbeda dengan Boen San Bio yang terletak di pinggir jalan besar, kelenteng ini berada di tengah pemukiman dan harus melewati Jalan Bakti Saham yang penuh dengan pedagang dan hanya bisa dilalui motor untuk mencapainya.

Boen Tek Bio

Menurut Aroeng Binang, Komunitas Tionghoa di Petak Sembilan mendirikan kelenteng ini pada 1684 dalam bentuk yang sangat sederhana dan merupakan kelenteng tertua di Tangerang dan berpengaruh bersama dengan Kelenteng Boen Hay Bio (berdiri 1694) dan Kelenteng Boen San Bio (1689).

Chic in PIK

Pada tahun 1844 kelenteng ini mengalami renovasi dengan mendatangkan ahli bangunan dan kelengkapan kelenteng dari negeri Tiongkok.

Boen Tek Bio 4

Boen Tek Bio berarti tempat ibadah sastra kebajikan.
Boen Tek Bio 3

Keberadaan tempat ibadah ini tidak lepas dari sejarah kedatangan orang Tionghoa di Tangerang pada abad ke-15. Pada 1407, seperti dicatat dalam buku sejarah Sunda Tina Layang Parahyang (Catatan dari Parahyangan), rombongan Tjen Tjie Lung (Halung) dengan tujuh kepala keluarga dan sembilan orang gadis, terdampar di daerah yang sekarang dikenal sebagai Kampung Teluk Naga. Tujuan mereka semula adalah ke Jayakarta.

Pada waktu mereka meminta pertolongan kepada Sanghyang Anggalarang, yang ketika itu menjadi penguasa daerah di bawah Sanghyang Banyak Citra dari Parahyangan, konon para pegawai penguasa jatuh cinta pada gadis-gadis itu. Kesembilan gadis itu pun mereka kawini. Rombongan itu kemudian mendapat sebidang tanah di daerah Kampung Teluk Naga itu.

Boen Tek Bio 2

My partner in crime, Mojang <3

Chic in PIK

Dari Kelenteng kami menyusuri gang menuju Masjid Jami Kalipasir. Kami awalnya tidak menyangka jika masjid berwarna hijau adalah bangunan bersejarah dan termasuk cagar budaya karena nampak seperti masjid atau musala di tengah perkampungan pada umumnya.

Masjid Jami Kalipasir 2

Kami sempat Salat Asar di sini dan duduk-duduk sebentar.

Masjid Jami Kalipasir

Dari masjid, kami kembali menyusuri gang depan Kelenteng Boen Tek Bio menuju Pasar Lama Tangerang di Jalan Kisamaun. Di sepanjang Jalan Kisamaun ini kalau sore banyak sekali warung tenda yang menjajakan berbagai makanan. Kami sempat mencoba es buah dan somay sembari ngadem sejenak.

Pasar Lama 2

Gapura Pasar Lama Tangerang yang megah.

Pasar lama

Gedung Pendopo Kabupaten Tangerang yang indah dan megah di depan Stasiun Tangerang.

Pendopo Tangerang

Kami tiba kembali di Stasiun Tangerang untuk melanjutkan perjalanan ke Pantai Indah Kapuk aka PIK dengan menggunakan KRL hingga stasiun Rawa Buaya dilanjut dengan menggunakan taksi cukup jauh. wkwkkw

Stasiun Tangerang 2

PIK Avenue Mal yang saat itu masih belum selesai dibangun tetapi sudah terlihat akan megah.

Chic in PIK

Tujuan pertama kami ke Martabak Pecenongan 43 yang sudah saya idam-idamkan rasanya. Setelah itu kami berjalan menyusuri ruko-ruko sambil memikirkan tujuan selanjutnya. Ohka, yang sekarang sudah pindah ke Golden Truly, akhirnya menjadi tujuan kami. Ramen di sini enak dan cukup memuaskan bagi saya yang sebenarnya tidak suka ramen. Sayang sekali tempat ini sekarang tinggal menjadi kenangan.

Chic in PIK

Dari Ohka, kami bergeser sedikit ke Shirayuki yang ngehits banget dengan desert cantiknya. Shirayuki ini dulu adalah restauran Jepang bernama Kobacha lalu sekarang juga sudah berganti nama dan bergabung dengan Alu-Alu Seafood. Shirayuki ini selalu ramai dengan anak muda yang nongkrong-nongkrong cantik dengan desert yang harganya lumayan, rasa cukup ok, tetapi sangat instagramable.

Chic in PIK

Kami nongkrong di Shirayuki cukup lama karena menunggu pesanan cukup lama dan lama foto-foto. Sekitar pukul 20.00 kami pun kembali ke Bintaro dengan menggunakan taksi daring. Perjalanan yang lumayan menyenangkan dan hemat tetapi agak boros di makan-makan. 😀

464 thoughts on “Trip di Ujung Rel”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *