R.i.n.j.a.n.i

@Instapendaki x @parapejalan ke Rinjani

Hai hai….

Demi banget ini aku kembali menulis untuk konten yang harus disubmit kurang dari dua jam lagi. Dan aku memutuskan untuk mendongeng tentang pengalamanku mendaki Gunung Rinjani dengan @instapendaki pada akhir April 2018 lalu. Pendakian ini semacam obsesiku yang telah lama terpendam dan aku bertekad mewujudkan di tahun 2018. Aku iseng mengajak Si Borjong, Eda, yang sudah dua tahun tidak jalan bersamaku dan ternyata dia mau. Si Eda mengajak Kakak Eva dan Vicky. Kakak Eva mengajak Nyol. Lengkap sudah Lima Pendekar Wanita akan mendaki Rinjani huhuhu.

Demi kelancara pendakian, aku mulai diet pada akhir Februari, terutama menghindari garam dan karbo. Mulai akhir Maret, aku mulai menggencarkan olah raga terutama naik turun tangga di kantor. Berat aku yang semula 72kg bisa berkurang menjadi 65kg dengan kondisi fisik yang lebih slim pula. Tak lupa para wanita itu aku ingatkan untuk turut berolah raga karena pendakian Rinjani bukan pendakian cantik ala Papandayan yang pernah kulakukan bersama Eda dan Vicky.

Singkat cerita, untuk trip ini kami menggunakan porter dengan biaya tambahan untuk membawakan tas gunung kami sehingga lebih ringan dan cukup membawa diri yang sudah keberatan dosa serta logistik pribadi selama pendakian.

Sabtu pagi, 28 April 2018 tim bertemu di Bandara Internasional Lombok. Dengan menggunakan elf kami dibawa ke Sembalun untuk briefing dan makan siang terlebih dahulu di salah satu rumah warga. Sekitar pukul 14.00 kami mulai berjalan dari Pos Sembalun menuju Pos 2 tempat kami akan menginap. Tersedia ojek dari Pos Sembalun hingga Pos 2 dengan biaya Rp150.000 dan bisa menghemat waktu sekitar 2 jam. Awalnya sih masih berjalan dalam jumlah besar tetapi dengan tanjakan dan jalur yang semakin terjal, rombongan mulai terpecah. Dari Pos 1 ke Pos 2 aku berjalan sendiri. Sempat berkenalan di jalan dengan Nugie dan Aris yang berasal dari Jakarta, duo yang mendaki hanya memang berdua dan mengunakan 1 porter. Setibanya di Pos 2, kami bisa mendirikan tenda dan beristirahat. Malam itu, angin di Pos 2 sangat kencang. Head lamp yang diantung di dalam tenda bahan bergoyang-goyang dengan tenda seperti akan terangkat. Belum lagi suhu udara yang sangat dingin. Ini salah satu angin di gunung paling mengerikan, mungkin karena Pos 2 berada di savana jadi angin dapat berhembus kencang.

Pada pagi harinya, porter mulai memasak, kami pun bisa mengambil air di sumber yang berada di dekat Pos 2 ini. Sama seperti malam tadi, aku masih menjaga makan dengan tidak makan nasi, mie instan dsb yang dimasak porter, hanya makan crackers dan kurma. Tetapi eh tetapi karena kemarin masih makan nasi dan sayur yang sedikit pedas saat di Bandara Lombok dan rumah warga di Sembalun, perutku mules dan terpaksa mencari semak-semak di perbukitan ilalang. Doh pengalaman pertama banget buang hajat di gunung saat mendaki bermodalkan air sebotol 600ml dan tissue basah. Biasanya sih bisa menahan diri kalau cuma 1 atau 2 malam di gunung. Hihihihi.

Puncak terlihat dekat, bukan? Bukaaaannnn… Masih jauh banget woy, masih juga Pos 2. 🙁

Dari Pos 2 Gunung Rinjani terlihat sangat cantik dan gagah. Tim pun masih penuh semangat karena telah beristirahat semalam. Dan aku masih terlihat bugar dan langsing.

Terlihat jenjang begini aku saat itu. Masih jalan bersama 2 Eda ini pula.

Setelah Pos 3 ini, semakin sedikit rombongan tim yang berjalan bersamaku dan porter awal-awal.

Sekitar & Bukit Penyesalan

Biasanya di tempat ini untuk memasak makan siang, tetapi karena rombongan masih pada jauh di belakang maka aku cuma istirahat sejenak dan melanjutkan perjalanan dengan porter tim kami yang juga tidak berhenti untuk makan siang.

Pos Pelawangan

Pos Pelawangan ini merupakan pos terakhir sebelum puncak. Para pendaki berkemah di sini untuk beristirahat sebelum summit maupun sebelum turun ke Segara Anak. Ada beberapa sumber mata air dan lokasinya luas dan enak untuk nge-camp.

Nyemil sumber energi utama

Alhamdulillah bisa sampai Pos Pelawangan duluan sekitar pukul 14.00, padahal yang lain baru datang mulai pukul 16.00. Berkat sumber energi utamaku, crackers dan kurma. Crackers sebagai pengganti karbo dan bisa dimakan di pos pemberhentian, kurma bisa dimakan sambil berjalan. Aku bisa mandi di sumber air dan tidur siang beratap langit menunggu kawan-kawan.

Kak Yanur salat Asar saat hampir senja

Syahdu sekali rekan setendaku ini salat Asar. Agak mepet Maghrib karena dari awal pendakian dia sakit perut sehingga terpaksa pelan-pelan jalannya, dan kamu berhasil. Proud.

Menunggu matahari terbenam di Pos Pelawangan
Dari dalam dapur porter yang sedang memasak

Meskipun aku menghindari makanan pedas, mie, dan berbagai makanan yang disiapkan porter demi kesehatan perut dan kelincahan, aku suka nongkrong dan membantu para porter yang memasak entah itu mengiris dan menggoreng tempe, atau cuma ikut berkomen haha hihi. Seperti saat mereka memasak kari sayur dengan penyedap rasa yang melimpah ini. 😀

Setelah makan malam, kami diminta lekas beristirahat karena summit akan dimulai sekitar pukul 01.00 dini hari. Akan tetapi kami masih pada berisik dan tidak tidur-tidur apalagi tenda para borjong yang perang kentut dan ngobrol ngakak tiada henti.

Pukul 01.00 kami mulai dibangunkan untuk summit, pada bersiap memakai pakaian untuk mendaki, jaket, dekker, sarung tangan, kupluk, head lamp, trekking pole, masker. Ternyata Mbokde Kakak Eva sakit sehingga tidak bisa ikut naik dan tetap di tenda saja. Kami pun memulai pendakian bersama-sama dengan suhu udara yang sangat dingin dan gelap. Aku dan beberapa rekan yang berjalan dulu telah tiba di jalur kerikil bebatuan sekitar pukul 03.30 dan aku optimis 1 jam lagi akan tiba di puncak yang sepertinya sudah kelihatan. Sudah berjalan dengan tertatih, membungkuk untuk istirahat, duduk di tepi jurang tetapi puncak tidak juga dapat diraih dan terasa semakin menjauh. Sudah pukul 05.00, matahari mulai terlihat tetapi aku masih di tengah padang kerikil yang membuat sangat frustasi dan letih. Hawa dingin sangat menusuk persendian karena pergerakan yang lambat dan orang yang semakin sedikit dengan tingkat kemiringan yang semakin tajam ditambah ngantuk yang menyerang. Debu dari kerikil dan bebatuan juga cukup menggangu pernafasanku meskipun memakai masker.

Puncak Rinjani

Akhirnya setelah hampir 4 jam berada di padang kerikil, tibalah aku di puncak Rinjani. Berat banget cyyynnnn. Alhamdulillah banget. Ramainya kayak pasar dengan luas puncak yang tidak begitu besar dan harus mengantre bergantian dengan pendaki lain yang terkadang langsung menyerobot di spot ini.

Rizal, Nugie, Aris, dan yours truly

Bertemu Nugie dan Aris yang tiba paling pagi di puncak. Duo pendaki ini berani dan lincah banget.

Jalur bebatuan menuju puncak

Pada saat turun, ternyata begini penampakan lautan batu tak berujung yang kulewati tadi Subuh. Pantesan tidak sampai-sampai ke puncak -,-

Jalan turun dengan kemiringan yang sangat tajam, kerikil, pasir sepanjang jalan ditambah aku ingin segera sampai di Pelawangan, membuatku sedikit berlari menukik yang menyebabkan jari kelingking kakiku perih banget yang sepertinya lecet. Untung pakai dekker jadi pasir, kerikil tidak masuk ke dalam sepatu yang akan menyebabkan kaki semakin dalam terluka.

Pose ala-ala dengan latar Danau Segara Anak setelah berhasil turun melewati padang kerikil yang curam.

Pose-pose kemenangan sebelum turun kembali ke Sembalun.

Werk it gurl 😀
Berkibarlan bendera negeriku. Buat stok foto 17-an.
Serasa Dewi Anjani dengan selendang sutranya.
Bubarkan tenda, Jenderal
Bertemu porter yang baru melewati pos 2. Berat banget lihatnya. 🙁

Akuberjalan turun duluan seorang diri meskipun kaki kiriku semakin terasa perih. Lebih baik terus berjalan mumpung masih kuat daripada berhenti-berhenti dan semakin sakit.

Para pendaki yang sedang makan siang di sekitar Pos 2

Langit biru menaungi perjalananku turun kembali ke Pos Sembalun, aku sempat bertemu dan mengobrol dengan beberapa rombongan lain, seperti rombongan adik-adik dari Dampit (tetangga kecamatan di Malang, sesama Arema) juga rombongan dedek-dedek koko-cici dari Jakarta Utara yang lincah sekali jalannya.

Nyol dan Eda

My gurl finally came to Sembalun Camp around 4.30pm. Puji syukur kami semua telah tiba di pos ini lagi. Bisa makan, minum es teh, dan ke toilet yang sudah beberapan hari kami rindukan.

Terluka hatiku

Oh bukan, ternyata kakiku yang lecet saat turun dari puncak pada hari sebelumnya. Kenang-kenangan yang akan kubawa ke trip selanjutnya, live on board ke Labuan Bajo esok hari.

Into the Wild

Banda NeiraCover story: Banda Neira Rising
Photographer: E.A. Paminto
Stylist: E.A. Paminto
Models: Ieda Kroess
Make-Up: Natural
Hair: Natural
Location: Banda Neira
Dress: Model’s private collection
Banda NeiraIts been so long since my last post on August 2017 and my blog seems like shutting down, but hey I am back for good. Thanks Nain for inviting me to Arisan Blog group so i have a motivation to write one one two sentences. Foto di atas merupakan Benten Fort Belgica yang ikonik di Banda Neira, dengan bentuk segi lima dan masih kokoh hingga saat ini padahal dibangun pada abad ke-17. Banda Neira

Meriam peninggalan masa lalu di Fort Belgica.

Banda NeiraMercusuar ini merupakan salah satu objek favorit yang dipopulerkan oleh Bli Ano. Untuk memanjatnya tidak semudah yang terlihat tapi di atasya sumpah keren banget.
2016_0504_10361900-01Pulau Hatta merupakan pulau favorit saya di Banda Neira karena pemandangannya sangat indah. Terumbu karang di sekitar pantainya bagus, kalau mau maju sedikit akan kita temui palung dengan arus kencang tetapi menawarkan pemandangan luar biasa terutama untuk para penyelam. Jika kita beruntung, akan kita temui migrasi ikan hiu di sekitar pantai. Pulau ini masih alami dan dihuni tidak begitu banyak penduduk. Saat itu masih belum ada sinyal telepon. Damai menikmati hidup di sini.
Banda NeiraPulau Pisang merupakan salah satu spot wajib snorkeling. Pulaunya terlihat rindang dengan dikelilingi laut dengan gelombang yang kecil dan terumbu karang yang indah.
Banda NeiraNaik ojek di runway bandara kapan lagi kalau tidak di Banda Neira. Saat itu Susi Air sedang tidak beroperasi jadi landasan pesawat ini bisa dengan bebas digunakan untuk foto-foto.

Banda NeiraKegiatan memanjakan diri dengan bergelantungan di hammock di Pulau Hatta. Bayangkan bagaimana zaman dulu Bung Hatta bisa dibuang ke Pulau yang jauh ini.
Banda Neira

Gunung Api Banda atau Lawerani ini tingginya 680m di atas permukaan laut dan terakhir meletus pada tahun 1988. Meskipun terlihat tidak terlalu tinggi, tetapi tingkat kesulitan mendaki gunung ini sangat tinggi mengingat tidak adanya pohon dan akar untuk berpegangan serta jalur penuh dengan pasir dan kerikil dengan kemiringan yang tajam.

2016_0506_06531900-01Teringat quote bahwa jangan mati sebelum berkunjung ke Banda Neira. Saya mau kembali ke sana jika ada waktu dan rezeki lagi nanti.

Long Hot Summer

Banda Neira

Cover story: Wave to The Untouched Paradise
Photographer: E.A. Paminto
Stylist: E.A. Paminto
Models: E.A. Bunda Hunny Kloss, Ieda Kroess, Frisberbie Small, Agnova Ewers, Echa Delevingne
Make-Up: Natural
Hair: Natural
Location: Banda Neira
Dress: Models private collection

2016_0505_12015500-01

Social Climber: Hotpants is far too chic to visit chicken coop.

Banda Neira

Somewhere along the jungle in Chanel pantone-halterneck scarf top.

Banda Neira

Back for good in asymmetrical Marni bikini.

Banda Neira

Natural allure in Prada bikini and Bali beach sarong.

Banda Neira

Hammocking

Pulau Hatta Banda Neira

or sunbathing?

Banda Neira

Casual chic. This beauty deserves to be known by the world.

Banda Neira

Off shoulder scarf top
Banda Neira
Luxe life: Lets have some fun in Hermes
Banda Neira

Shadow play.
Banda Neira

Taking health and beauty inspiration from mother nature.

Banda Neira

 

Less is More

16-05-22-13-06-33-912_deco

Cover story: Less is More
Photographer: E.A. Paminto
Stylist: E.A. Paminto
Models: E.A. Bunda Hunny Kloss, Ieda Kroess, Frisberbie Small, Agnova Ewers, Echa Delevingne
Make-Up: Natural
Hair: Natural
Location: Banda Neira
Dress: Models private collection

Banda Neira

Flowery shirt in stripes runway.

2016_0507_11360700-01

Bold lips and headband with edge attitude.
Pulau Hatta Banda Neira

In between street style and island culture.

Pulau Hatta Banda Neira

A serious meet-up under the sun with a cheerful nod to 90s New York.
Pulau Hatta Banda Neira
Happy lyfe in beautiful island.
16-05-21-22-47-14-769_deco
Think of sequined black shirt instead two-pieces bikini.
2016_0504_10361900-01

To Get Through to the Osi Island

Pulau Osi, Seram

Cover Story: To Get Through to the Osi Island
Photographer: E.A. Paminto
Stylist: E.A. Paminto
Models: E.A. Bunda Hunny Kloss, Ieda Kroess
Make-Up: Natural
Hair: Natural
Location: Osi Island and Piru, Seram Bagian Barat, Muluku
Dress: E.A. Paminto, private collection

16-04-30-21-25-10-288_deco

Ulos and Boru Batak take on edgy-feminism with the touch of flower prints, denim, and wide brim hats.

Pulau Osi, Seram

Kiss the sunset.

16-05-01-10-40-46-393_deco

Tranquil hues.
Pulau Osi, Seram

Dance like there is no tomorrow.

Pulau Osi, Seram

So much chic.

Pulau Osi, Seram

The shadow of ethereal beauty.

Pulau Osi, Seram

H A P P Y

Pulau Osi, Seram

Grape-ing

Pulau Osi, Seram

Daydream almost over.
Pulau Osi, Seram

Pulau Osi: Luxury of the Simple Life

Langit biru Pulau Seram pada siang itu, Sabtu 30 April 2016, menyambut saya, Bunda Hani, dan Farida menuju Pulau Osi. Pulau Osi baru saya tahu namanya beberapa hari sebelum keberangkatan trip yang utamanya akan menuju Banda Neira ini. Sama halnya dengan trip ini yang hanya saya susun beberapa hari yang lalu pada hari Sabtu tanggal 23 April 2016. Terima kasih Bebeb Dona yang memberitahu tentang Pulau Osi yang ia kunjungi tahun 2015 dengan menumpang rombongan keluarga dari Ambon PP Osi-Seram dalam satu hari sesaat sebelum ke Raja Ampat.

2016_0430_10353100-01

Dengan menggunakan maskapai burung merah, kami dari Jakarta pada pukul 01.30 WIB dan tiba di Ambon pada pukul 07.00 WIT. Sebenarnya masih cukup waktu misalkan kami terus menuju pelabuhan Tulehu dan langsung ikut kapal cepat ke Banda Neira, tetapi sengaja saya memutuskan untuk melewati Tulehu menuju Pelabuhan Liang untuk kemudian menyeberang ke Pulau Seram.  Kami menggunakan mobil sewaan yang banyak tersedia di bandara. Supir kami waktu itu Pak Miki 082199697722 memberikan harga Rp250.000 dari Bandara Internasional Pattimura Ambon ke Pelabuhan Liang. Pagi itu sedang ada lomba baris berbaris di sekitar Tulehu.

Pulau Osi, Seram

Deru suara kapal akan berangkat ke Waipirit terdengar di Pelabuhan Hunimua, Liang saat kami baru sampai di parkiran pelabuhan. kami segera berlari menuju loket, membayar tiket Rp16.500 per orang dan memasuki kapal. Dan benar sekali pintu palka ditutup setelah kami memasuki kapal.
Pulau Osi, SeramKapal pagi itu cukup ramai karena banyak warga Seram yang bekerja atau sekolah di Ambon akan mudik ke Seram. Kita akan banyak menjumpai penjual keripik singkong pedas ala keripik sanjai dari Sumatera Barat dijajakan di kapal. Keripiknya enak, apalagi saat lapar belum sarapan seperti saat itu.
Pulau Osi, Seram

Saat di kapal, saya duduk di samping seorang pekerja di Ambon dari Seram. Pria berusia 20 tahunan tersebut kemudian banyak bercerita, dengan sedikit banyak pertanyaan dari saya tentunya, tentang ada apa saja di Seram dan bagaimana kami menuju tempat wisata tersebut dalam penyeberangan selama sekitar 1,5 jam tersebut. Untuk menuju Pulau Osi, dari Pelabuhan Waipirit di Seram Bagian Barat kita bisa menggunakan angkutan umum ataupun mobil sewaan yang banyak mangkal di terminal depan pelabuhan. Jika menggunakan angkutan umum, biayanya sekitar Rp50.000 hingga Piru lalu harus naik ojek Rp40.000 menuju Pulau Osi. Saat itu setelah tawar menawar, kami memutuskan untuk menyewa mobil Pak Sammy 082239250990 menuju Pulau Osi dengan biaya Rp300.000.
Pulau Osi, Seram

Dengan menyewa mobil yang harganya juga tidak terlalu jauh dari naik angkutan umum ditambah naik ojek, maka kita bisa minta berhenti di spot-spot kece selama di perjalanan yang akan ditempuh sekitar 2 jam. Contohnya di Gapura “Selamat Datang di Kota Piru” ini. Gapura megah di tengah jalan berliku perbukitan tanpa perumahan dengan latar langit super kece dan pemandangan laut ini membuat saya takjub. Suka.
2016_0430_09584800-01

Melanjutkan perjalanan dengan jalan yang semakin naik turun dan berliku tetapi semulus paha Gigi Hadid kami singgah sebentar di belantara pepohonan kayu putih.
Piru

Those cotton candy clouds look so gooood.
Pulau Osi, Seram

Dan akhirnya kami tiba di pintu gerbang Pulau Osi.
Pulau Osi, Seram

Pulau Osi merupakan kumpulan beberapa pulau seperti Pulau tatobalabunte, Pulau tatobalasungke, Pulau Tatobosurati, Pulau Tatobobensin, Pulau Osi,  dan beberapa pulau karang kecil . Dari pintu gerbang Pulau Osi, kita bisa menggunakan ojek dengan biaya Rp15.000,00 atau berjalan kaki.
Pulau Osi, Seram

Jembatan papan seperti ini yang menghubungkan di antara hutan bakau sepanjang kurang lebih 1,5 km ini yang mengubungkan pulau-pulau di sini.
2016_0502_10424000-01

Terdapat dua penginapan di Pulau Osi yang berupa resor di atas laut yang bisa kita pilih, di samping ada beberapa rumah penduduk juga yang biasa digunakan sebagai homestay.

Pulau Osi, Seram

Penginapan pertama yang saya survei sembari gadis-gadis menunggu di bawah rindang pohon dekat pangkalan ojek bernama My Moon Daud Resort (MD Resort) yang dikelola oleh Ibu Mila di nomor telepon 082198868000 / 081343259972 / 082197969172 dengan harga antara Rp350.000–Rp500.000 per malam per bungalo. Penginapan kedua yaitu Indigo Resort and Restaurant.

Pulau Osi, Seram

Saya memilih menginap di MD Resort yang memiliki fasilitas lebih bagus dan restorannya lebih ramai dibanding Indigo. Kami menginap 1 kamar seharga Rp400.000 per malam dengan kasur tambahan untuk saya dengan biaya Rp100.000 per malam.

Pulau Osi, Seram

Pemandangan balkon belakang kamar yang cihuiii abis. Buat gegoleran, merendam kaki, sempat senam, melihat bintang, atau mau berenang juga bisa.

Pulau Osi, Seram

Setelah puas beristirahat, kami berjalan-jalan di sekitar resor menjelang senja.

2016_0501_16174200-01

Matahari terbenam di sini benar-benar indah. Sunset Purefection.

Pulau Osi, Seram

Jarang sekali wisatawan yang menginap di sini, bahkan malam itu hanya ada kami bertiga serta sepasang kekasih di bungalo sebelah. Resor Indigo yang tidak begitu jauh juga terlihat sepi tanpa ada lampu menyala di bungalo-bungalonya hanya sura musik dangdut. Menu makan kami di restoran MD Resort, ikan bubara yang baru ditangkap di kolam di bawah restoran serta sambal segar ini benar-benar nikmat. harga ikan bubara bakar Rp50.000/ekor, nasi Rp5.000/porsi,  dan teh Rp25.000/teko.
Pulau Osi, Seram

Hari kedua kami di Pulau Osi sengaja bangun agak siang dan baru sarapan pukul 8.00 lebih sebelum berkeliling ke pulau-pulau di sekitar. Benar-benar menikmati kehidupan yang selow dan sepoi-sepoi manjah tanpa kebisingan.

Pulau Osi, Seram

Bunda Hani mencoba es campur ala Pulau Osi yang dijual di dekat lapangan SD Negeri Pulau Osi. Berbaur dengan penduduk lokal seperti ini sangat mengasyikan. Dan markombur setiap kali traveling menjadi ajang mengenal kearifan lokal tempat yang saya datangi.

Pulau Osi, Seram

Menyusuri kampung dengan langir biru dan matahari semakin memanas. Pulau utama yang terletak di ujung jembatan papan yang selalu ramai setiap jam makan siang karena biasanya warga ke Pulau Osi hanya untuk makan ikan dan berwisata yang bukan untuk menginap. Untuk wisata bawah laut, biasanya pengunjung akan menyeberang ke Pulau Marsegu yang terkenal kaya akan biota laut dan tidak jauh dari Pulau osi. Kami sempat nongkrong di salah satu warung di ujung Pulau Osi dengan menikmati semangka dan kelapa muda yang bikin segeer.

Pulau Osi, Seram

Setelah sesi pemotretan keliling pulau di siang yang terik dengan hasil di sini, kami boboci dengan angin semilir yang menghembus masuk ke kamar. Bangun-bangun dalam keadaan lapar sekitar pukul 15.00 dan menuju restauran untuk makan. Kami ditawari menu super bernama Sarimento ini. Mie instan diberi potongan cabai dan tomat segar lalu dicampurkan telur dan diaduk-aduk dan setelahnya ditambahkan telor rebus dan jeruk nipis serta bawang goreng dengan harga Rp20.000/porsi. Enak banget deh.

2016_0501_13450300-01

Menikmati senja di hari kedua karena besok siang harus kembali ke Ambon.
Pulau Osi

Laut dan jembatan papan di sini akan cukup ramai jika senja karena warga yang bekerja akan kembali pulang. Setelah itu kami makan malam ikan bakar lagi seperti malam sebelumnya.
Pulau Osi

Hari terakhir di Pulau Osi sebelum kembali ke Ambon. Bangun agak siang lagi dan langsung menenggak sebotol air putih biar tetap waras dan sehat. Setiap kali traveling, saya selalu membawa botol ini untuk menyimpan air putih. Bunda Hani juga demikian. Kami biasanya membeli air mineral ukuran 1,5 liter kemudian menuangkan dalam botol dan sisanya kami minum dan botol kami buang kalau habis. Setidaknya tidak semakin banyak botol plastik yang kami buang dengan membeli air mineral ukuran kecil atau sedang. Lebih hemat pula kalau makan sudah bawa minum jadi tidak perlu memesan minuman.

Pulau Osi, SeramSetelah sarapan, saya berkeliling di sekitar resor saja dan mengobrol dengan pengelola. Resor ini dimiliki oleh orang asli Pulau Osi yang sudah sukses berkarir di Jakarta sehingga ikut membangun kampung halaman dengan mendirikan resor yang cukup banyak menampung tenaga kerja. Adik imut berbaju jingga ini adalah ponakan pengelola resor yang sedang pulang kampung dari Ambon ke Pulau Osi bersama bapakya.
Pulau Osi, Seram

Saya memutuskan untuk pergi dari resor duluan dan meninggalkan Bunda dan Ida yang masih gegoleran di kamar karena akan foto-foto di sekitar dan mungkin akan jalan kaki menuju gerbang masuk Pulau Osi sembari menunggu Pak Sammy, supir mobil dari Waipirit yang sudah kami minta untuk menjemput kami pada siang nanti. Saya punya ratusan foto jembatan ini dari berbagai sudut. Rasanya ini merupakan tempat paling khas dan heits di Pulau Osi.
Pulau Osi, SeramIndigo Resort dan MD resort di kejauhan.
2016_0502_09560500-01

Beginilah kalau basi banget kapan jalan kapan nulisnya jadi lupa nama-nama tokoh yang saya temui saat perjalanan hampir setahun yang lalu karena catatannya enath di mana. Termasuk sosok Bapak Tua yang penuh pengabdian dan keikhlasan untuk memperbaiki jembatan papan yang lubang, rusak, atau patah ini dengan imbalan hanya Tuhan yang tahu.
2016_0502_11011600-01

Dalam cuaca yang sangat panas tengah hari dan membawa tas punggung yang cukup berat saya berhasil menempuh perjalanan menyusuri jembatan papan hingga sampai gerbang Pulau Osi untuk menunggu Pak Sammy. Sekitar pukul 13.30 Bunda Hani dan Ida sampai juga di gerbang Pulau Osi dan Pak Sammy kemudian juga tiba dengan mobilnya yang katanya sempat mengalami bocor ban. Kami singgah di Kota Piru sejenak untuk makan siang di sebuah RM Padang dengan harga Rp20.000/porsi . Makanan mendunia di seluruh penjuru nusantara. wkwkkwwk
Pulau Osi, Seram

Sekitar pukul 15.15 kami tiba di Pelabuhan Waipirit. Setelah membayar mobil Rp300.00 kami langsung menuju KMP Terubuk yang tak lama lagi akan berangkat.
Pulau Osi, Seram

Laut di sekitar Pelabuhan Waipirit, Seram Bagian Barat.
Pulau Osi, Seram

Dan 1,5 jam kemudian kami akhirnya berlabuh lagi di Liang kermudian meneruskan perjalanan ke Kota Ambon dengan menggunakan bus 3/4 dengan biaya Rp18.000/orang.
Pulau Osi, Seram

Saat melewati Pelabuhan Tulehu, saya sebenarnya ingin menginap di sekitar situ saja karena esok pagi-pagi juga harus kembali ke Tulehu untuk menuju Banda Neira tetapi sepertinya jarang peninapan dan daerahnya juga jarang terdapat tempat makan. Hampir pukul 19.00 kami tiba di sekitar Pasar Batumerah lalu melanjutkan perjalanan menuju penginapan di sekitar Tugu Perdamaian sesuai saran Bebeb Dona dengan menggunakan becak. Yah, banyak sekali penginapan murah meriah di sepanjang Jalan Sam Ratulangi. Kami memilih Penginapan Rejeki. Lumayan lah dekat ke tempat ngopi-ngopi dan banyak tempat makan  di sekitar sini. Mari istirahat untuk menuju Banda Neira esok pagi. xoxo

Pasir Panjang Beberapa Kg yang Lalu

It was a major flashback to September 2012 in Singkawang, West Kalimantan.

In front of Vihara Tri Dharma Bumi Raya Singkawang.

When i was ANTM-wannabe.

Pasir Panjang Beach.

Langit saat itu berwarna abu-abu karena asap kebakaran hutan yang terlihat nyata dengan bau sangit yang cukup menyengat hidung tetapi tidak menghalangi pemotretan di kala senja itu.

Trip di Ujung Rel

Seperti kisah cinta yang lama menggantung dan tak berujung tetapi masih terpendam dan tak terlupakan, mungkin inilah yang terjadi pada tulisan di blogku. Kapan kualami, entah kapan kutulis. Banyak yang lupa, tetapi masih juga banyak yang tersimpan di hati. Termasuk perjalananku ke Tangerang pada Natal tahun 2015 lalu. Erghhhh

Mas W saat itu datang untuk menikmati libur Natal di Jakarta dan ingin wisata kuliner saja sebenarnya. Sehari sebelumnya kami bertemu di Tebet untuk makan di Daeng Tata, lalu ke Kota Tua, dan terakhir ke GI. Saya tiba-tibat teringat Cina Benteng dan klenteng-klenteng tua yang berada di Tangerang yang sempat saya baca di blog, dan akhirnya saya mengajak Nadia untuk trip hemat dan dekat ini. Untuk menuju Tangerang cara hematnya dengan menggunakan KRL dari Bintaro-Tanah Abang-Suri-Tangerang. Pengalaman pertama transit di Stasiun Duri untuk menuju Stasiun Tangerang karena biasanya hanya sampai Tanah Abang saja. Dari Duri ke Tangerang ternyata cukup jauh dan keretanya tidak begitu banyak. Setelah hampir 2 jam akhirnya kami tiba di Stasiun Tangerang.

Stasiun Tangerang

Siang itu cukup panas dan macet sekali di depan Stasiun Tangerang. Kami berjalan menuju gedung yang terlihat seperti mal untuk mendinginkan diri dan mencari minuman. Di gedung yang agak sepi tersebut tidak begitu banyak toko dan tempat makan hanya Robinson yang terlihat paling besar. kami membeli beberapa botol minuman dingin lalu duduk-duduk mendinginkan diri sebentar sebelum pergi menuju Vihara Boen San Bio menggunakan taksi. Yayasan Vihara Nimmala Boen San Bio ini terletak tidak begitu jauh dari stasiun hanya sekitar 1,5 km dan berada di dekat Sungai Cisadane.

Bun San Bio

Kami yang belum pernah masuk ke vihara bertanya kepada penjaga apakah kami diizinkan untuk melihat-lihat ke dalam vihara dan syukurlah diizinkan. Lampion yang banyak dan indah ini menyambut kami memasuki vihara.
Chic in PIK

Di bagian dalam vihara ini sungguh sangat indah. Cukup rindang dan banyak tempat duduk. Terdapat ruangan serbaguna yang sedang digunakan untuk acara pernikahan.

Chic in PIK

Di selasar antara taman dan bagian depan vihara terdapat spot cantik yang bisa dipakai untuk foto-foto ini. Menurut Aroeng Binang, Kelenteng ini dibangun pada tahun 1689 berbentuk empat persegi panjang di atas tanah seluas 1.650 m2 oleh seorang pedagang dari Cina bernama Lim Tau Koen, dan ia menempatkan patung Kim Sing Kong-co Hok Tek Tjeng Sin yang dibawanya dari Banten. Kelenteng Boen San Bio mengalami beberapa kali renovasi, termasuk setelah terjadi kebakaran pada tahun 1998.

Chic in PIK

Dari Kelenteng Boen San Bio, kami kembali menggunakan taksi untuk menuju Kelenteng Boen Tek Bio dengan melewati depan Stasiun Tangerang lagi. Siang itu terdapat beberapa pengalihan jalur karena malamnya akan diadakan panggung hiburan rakyat di Pasar Lama sehingga kami harus memutara dan berjalan beberapa gang sebelum Pasar Lama untuk menuju Boen Tek Bio. Berbeda dengan Boen San Bio yang terletak di pinggir jalan besar, kelenteng ini berada di tengah pemukiman dan harus melewati Jalan Bakti Saham yang penuh dengan pedagang dan hanya bisa dilalui motor untuk mencapainya.

Boen Tek Bio

Menurut Aroeng Binang, Komunitas Tionghoa di Petak Sembilan mendirikan kelenteng ini pada 1684 dalam bentuk yang sangat sederhana dan merupakan kelenteng tertua di Tangerang dan berpengaruh bersama dengan Kelenteng Boen Hay Bio (berdiri 1694) dan Kelenteng Boen San Bio (1689).

Chic in PIK

Pada tahun 1844 kelenteng ini mengalami renovasi dengan mendatangkan ahli bangunan dan kelengkapan kelenteng dari negeri Tiongkok.

Boen Tek Bio 4

Boen Tek Bio berarti tempat ibadah sastra kebajikan.
Boen Tek Bio 3

Keberadaan tempat ibadah ini tidak lepas dari sejarah kedatangan orang Tionghoa di Tangerang pada abad ke-15. Pada 1407, seperti dicatat dalam buku sejarah Sunda Tina Layang Parahyang (Catatan dari Parahyangan), rombongan Tjen Tjie Lung (Halung) dengan tujuh kepala keluarga dan sembilan orang gadis, terdampar di daerah yang sekarang dikenal sebagai Kampung Teluk Naga. Tujuan mereka semula adalah ke Jayakarta.

Pada waktu mereka meminta pertolongan kepada Sanghyang Anggalarang, yang ketika itu menjadi penguasa daerah di bawah Sanghyang Banyak Citra dari Parahyangan, konon para pegawai penguasa jatuh cinta pada gadis-gadis itu. Kesembilan gadis itu pun mereka kawini. Rombongan itu kemudian mendapat sebidang tanah di daerah Kampung Teluk Naga itu.

Boen Tek Bio 2

My partner in crime, Mojang <3

Chic in PIK

Dari Kelenteng kami menyusuri gang menuju Masjid Jami Kalipasir. Kami awalnya tidak menyangka jika masjid berwarna hijau adalah bangunan bersejarah dan termasuk cagar budaya karena nampak seperti masjid atau musala di tengah perkampungan pada umumnya.

Masjid Jami Kalipasir 2

Kami sempat Salat Asar di sini dan duduk-duduk sebentar.

Masjid Jami Kalipasir

Dari masjid, kami kembali menyusuri gang depan Kelenteng Boen Tek Bio menuju Pasar Lama Tangerang di Jalan Kisamaun. Di sepanjang Jalan Kisamaun ini kalau sore banyak sekali warung tenda yang menjajakan berbagai makanan. Kami sempat mencoba es buah dan somay sembari ngadem sejenak.

Pasar Lama 2

Gapura Pasar Lama Tangerang yang megah.

Pasar lama

Gedung Pendopo Kabupaten Tangerang yang indah dan megah di depan Stasiun Tangerang.

Pendopo Tangerang

Kami tiba kembali di Stasiun Tangerang untuk melanjutkan perjalanan ke Pantai Indah Kapuk aka PIK dengan menggunakan KRL hingga stasiun Rawa Buaya dilanjut dengan menggunakan taksi cukup jauh. wkwkkw

Stasiun Tangerang 2

PIK Avenue Mal yang saat itu masih belum selesai dibangun tetapi sudah terlihat akan megah.

Chic in PIK

Tujuan pertama kami ke Martabak Pecenongan 43 yang sudah saya idam-idamkan rasanya. Setelah itu kami berjalan menyusuri ruko-ruko sambil memikirkan tujuan selanjutnya. Ohka, yang sekarang sudah pindah ke Golden Truly, akhirnya menjadi tujuan kami. Ramen di sini enak dan cukup memuaskan bagi saya yang sebenarnya tidak suka ramen. Sayang sekali tempat ini sekarang tinggal menjadi kenangan.

Chic in PIK

Dari Ohka, kami bergeser sedikit ke Shirayuki yang ngehits banget dengan desert cantiknya. Shirayuki ini dulu adalah restauran Jepang bernama Kobacha lalu sekarang juga sudah berganti nama dan bergabung dengan Alu-Alu Seafood. Shirayuki ini selalu ramai dengan anak muda yang nongkrong-nongkrong cantik dengan desert yang harganya lumayan, rasa cukup ok, tetapi sangat instagramable.

Chic in PIK

Kami nongkrong di Shirayuki cukup lama karena menunggu pesanan cukup lama dan lama foto-foto. Sekitar pukul 20.00 kami pun kembali ke Bintaro dengan menggunakan taksi daring. Perjalanan yang lumayan menyenangkan dan hemat tetapi agak boros di makan-makan. 😀

Piknik Asyik di PIK Bagian II

Saya cukup sering berwisata kuliner di PIK, hampir setiap bulan terkadang sebulan bisa dua kali. Pada saat libur Idul Adha di Bulan Oktober lalu, saya menyempatkan diri ke PIK untuk mengunjungi mal PIK Avenue yang baru dibuka. Mal yang baru beberap hari dibuka tersebut ternyata masih cukup berantakan dan belum lengkap selain jaringan toko pakaian dari Jepang dan Swedia yang sudah siap. Akhirnya saya dan teman-teman saya memilih untuk makan di kafe yang berada di ruko-ruko di sekitarnya.

1. Beatrice Quarters. Berlokasi di Ruko Crown Golf, Blok B No. 26, Bukit Golf Mediterania, Jalan Marina Indah Raya, Pantai Indah Kapuk, Jakarta. Telepon 021-29424926

Saat masuk ke sini terlihat interiornya bagus. Bagi yang tidak merokok, lebih baik memilih tempat duduk di dalam yang ber-AC dan pilih sofa yang dekat pintu ruang dalam karena lebih nyaman dan private.
Beatrice Quarters

Kami mencoba beberapa menu yaitu chicken carbonara rice pizza, fruits dazzling, dan home run. Rice pizzanya enak. Untuk ukuran small seharga 39k tidak terlalu kecil ukurannya dan cukup mengenyangkan dengan rasa keju yang gurih dan topping yang lezat.
Beatrice Quarters

Menu Home Run untuk champion breakfast terdiri salmon, home made protein loaf, 2 jenis jamur, telur, salad yang semuanya enak dan porsi besar. Gak rugi mengeluarkan 79k untuk menu ini.
Beatrice Quarters

Roti panggang yang renyah di luar tapi empuk dan enak dalamnya dengan toping eskrim stroberi, potongan buah stroberi, peach, dan kiwi segar serta macarons yang super manis menjadikan Dazzling fruits menu yang wajib kita coba. Penampilannya cantik dan porsinya juga luar biasa besar. Toilet di sini juga bersih dan bagus. Pelayannya juga ramah dan sangat membantu. Patut dikunjungi.

Beatrice Quarters

2. BC’s Cone. Dessert shop yang berlokasi di

Good place with good interior.

BC's Cone
The place is not too crowded and has a good restroom.
BC's Cone

Its artsy mango cone and black cheesecake ice cream with fresh strawberry, mango and nutella tasted a bit plain but sweet from nutella. Its thai tea ice cream tasted very thai tea and nice.
BC's Cone

  Rambut neneknya heboh dan seru buat foto-foto seperti di dessert shop lain.
BC's Cone

3. Warung Mevvah. Warung Indomie kekinian yang berlokasi di Ruko Crown Golf, Blok B No. 12, Bukit Golf Mediterania, Jl. Marina Indah Raya, Pantai Indah Kapuk, Jakarta ini baru buka beberpa bulan lalu. Ramai kalau sore dan akhir pekan seperti saat kami kunjungi saat itu.

Warung Mevvah

Tempatnya cukup ok dan cukup luas tetapi tidak begitu dingin apalagi yang bagian depan dekat atap kaca.Dengan beberpa interior yang lumayan oke juga buat difoto. Toiletnya standarlah.

Warung Mevvah

Indomie bumbu sate yang saya coba ok lah tetapi kurang greget bumbu satenya. Indomie ayam saos margarinenya lumayan. Sempat mencicipi tester susu mevvah rasa taro yang menurut saya mungkin bisa ditambahkan potongan buah agar agak asam dan lebih ringan rasanya.

Warung Mevvah

4. Do An. Berlokasi di

Karena sudah hampir malam, kami akhirnya pindah ke salah satu tempat favorit saya di PIK yaitu Do An. Hampir setiap ke PIK apalagi bersama teman muslim yang takut mencicipi makanan inti yang mungkin tidak halal maka saya mengajak mereka ke Do An. Pho dan makanan lain di Do An selalu cocok di lidah saya dan nikmat.

Toby’s Estate PIK Avenue

Toby's Estate PIK Avenue

Sebagai kelas bawah mencoba ikut gaya ala-ala menengah ke atas, pengalaman saya pada saat libur Maulid Nabi lalu cukup menyadarkan saya bahwa saya mungkin tidak ada bakat menjadi kelas menengah ngehe, apalagi kelas atas. Dengan berbekal tas punggung, kaos putih aku-kudu-piye, celana jeans, dan sepatu kets, saya bersama Mas W dari Stasiun Bogor menggunakan KRL menuju Stasiun Duri untuk selanjutnya pindah KRL menuju Stasiun Rawa Buaya dan dilanjutkan menggunakan jasa mobil Uber untuk menuju PIK Avenue. Berawal dari melihat foto makanan yang diunggah @eatandtreats di instagram pada Minggu pagi tentang kafe yang baru buka pada hari Sabtu dengan menu seperti foto di atas, saya tiba-tiba ingin meluncur ke PIK Avenue apalagi sudah 2 bulan tidak ke PIK setelah mencoba memasuki PIK Avenue beberapa hari setelah pembukaannya pada awal Oktober lalu. Dengan muka yang tidak begitu segar setelah menempuh perjalanan Bogor-PIK sembari harus berhujan-hujan ria di stasiun mungkin memang kami kurang cocok ngemal.

Toby's Estate PIK Avenue

Ini lah Toby’s Estate yang saya tuju. Mas W sebenarnya kurang sreg dengan kafe ini saat kami akan masuk karena kami sudah kelaparan belum makan siang sedangkan saat itu sekitar pukul 15.30 wib dan sepertinya ini adalah tipe warung kopi dengan makanan yang kurang nampol di perut. Kafe terlihat penuh yang meyakinkan saya kalau ini kafe yang menyajikan makanan dan minuman nikmat. Syukurlah pada saat kami masuk, ada bagian ujung sofa dengan meja bulat yang baru saja kosong sehingga kami tidak perlu mengantre.

Toby's Estate PIK Avenue

Sofa di sebelah kami yang kosong juga langsung diisi pengunjung lain yang sudah mengantre. Bahkan antrean di depan pintu masuk bagian dalam kafe tiba-tiba sudah mengular.
Toby's Estate PIK Avenue
Saya memesan menu sama dengan yang diunggah fotonya oleh @eatandtreats yaitu buttermilk chicken corn fritata dan cappuccino sedangkan Mas W memesan cokelat panas dan kentang goreng dengan keju parmesan dan jamur truffle.
Toby's Estate PIK Avenue
Cekrek-cekrek sana-sini tengok sana-sini tanpa beranjak dari sofa. Pengunjung kafe ini dari bule, om, tante, mbak, mas, dedek gemes, seru lah semua ada.
Toby's Estate PIK Avenue

Tiktok sampai kehabisan sudut yang mau difoto hingga memoto kaki Mbak pengarah layanan kafe yang sibuk mondar-mandir mengantar pengunjung yang baru datang ke kursi yang tersedia dan mengurusi permintaan pelanggan. Saya tengok ke pasangan tetangga sofa sebelah yang datang setelah kami tadi yang ternyata mereka sudah mendapatkan 2 cangkir kopi dan sudah hampir habis. Hmmm! Saya bertanya kepada seorang Mbak pelayan yang sedang menunggu barista meracik kopi yang letaknya di depan kami tentang pesanan kami dan dia bilang kami tunggu saja nanti pesanan kami diantarkan sehingga tidak perlu mengantre (seperti pembeli lain yang membeli untuk dibawa pulang serta banyak juga pengunjung yang berjajar di depan meja saji barista untuk melihat pertunjukan barista meracik kopi).

Toby's Estate PIK Avenue

Yak sip. Tengak-tengok kanan kiri dan instagram lagi.
Toby's Estate PIK Avenue

Belum ada perkembangan setelah hampir 15 menit setelah saya tanyakan nasib pesanan kami ke Mbak pelayanan tadi yang sepertinya semua pelayan memang sedang sibuk banget mengurusi pengunjung yang terus berdatangan. Saya mendatangi Mbak yang tidak memakai seragam pelayan , yang sepertinya manajemen kafe ini meskipun ikut menyajikan dan mondar-mandir seperti pelayan juga. Mbak Sarah namanya. Saya menyampaikan kepada Mbak Sarah kira-kira bagaimana pesanan saya, apa yang harus saya lakukan agar bisa segera mendapat pesanan saya karena saya sudah menunggu lama bahkan pasangan sebelah sudah selesai foto-foto dan hampir selesai menikmati kopi mereka sedangkan kami belum sama sekali mendapatkan pesanan kami. Dengan muka yang masih ceria tetapi mungkin was-was akan diomeli pelanggan kucel dari desa dengan membawa tas punggung besar Mbak Sarah memohon maaf dan menanyakan ulang pesanan kami.

Saya bilang kalau saya memesan menu lupa namanya apa tetapi yang diunggah @eatandtreats di instagram kemarin, kentang goreng dengan keju dan jamur truffle, cappuccino, serta cokelat panas. Mbak Sarah mencatat ulang pesanan kami dan mengatakan sebentar akan dicek.

Saya segera duduk kembali dan menunggu kabar dari Mbak Sarah yang langsung bergerilya. Tak lama berselang Mbak Sarah menghampiri kami dan meminta maaf karena ternyata pesanan kami belum diinput dan minta waktu 15 menit untuk menyelesaikan pesanan kami. Dan saya pun yang sudah kelaparan tetapi sedang tidak selera untuk marah-marah benar-benar hanya senyum-senyum kecut dengan muka pengharapan agar segera saja diolah pesanan kami. Setelah itu Mbak Sarah terlihat langsung menghampiri seorang barista. Mbak Sarah adalah wanita berkacamata berambut pendek yang mengenakan kemeja putih dan celana garis belang-belang hitam putih di foto di bawah ini.

Toby's Estate PIK Avenue

 Saya, yang sudah memantau gerak-gerik setiap orang yang berada di depan kami, melihat seorang Mbak pelayan membawa secangkir kopi ke sofa deretan kami dekat pintu masuk tetapi sepertinya ditolak pengunjung di sofa tersebut karena bukan pesanannya. Sang pelayan kemudian menuju meja kami dan menanyakan apakah kami memesan cappuccino dan segera saja saya iyakan sambil tersenyum kecut.

Toby's Estate PIK Avenue

Beberapa menit kemudian menu @eatandtreats yang saya pesan menghampiri kami. Begitu pun kentang goreng dengan aroma jamur truffle menyerbak akhirnya datang.

Toby's Estate PIK Avenue

Ini dia tampilan lengkap menu pesanan kami sebelum kami memulai makan. Dengan meja yang kecil dan posisi sofa hanya di salah satu bagian meja yang menghadap meja barista, maka saya putuskan untuk memangku makanan pesanan saya saat memakannya. Buttermilk chicken corn fritata ternyata merupakan dadar jagung dengan selada dan 2 potong ayam goreng tepung yang diberi saos keju dan beberapa lembar dadih. Ayam goreng tepungnya rasanya biasa saja karena bumbunya tidak begitu terasa dan tepungnya yang berwarna kecokelatan entahlah tepung apa dan dibumbui. Saladnya enak. Untuk dadar jagungnya menurut saya terlalu asin dan tepungnya terlalu lembek. Untuk versi murah dan lebih cocok dengan lidah saya, mungkin membeli bakwan jagung di warteg lalu diletakkan di dasar piring, ditambah potongan sayur segar dengan 2 potong ayam goreng tepung ala KFC pinggir jalan serta disiram saos mayones akan lebih sesuai ke lidah saya. Kentang gorengnya juga biasa saja sih. Bahkan kalau soal jamur truffle saya langsung ingat pasta krim kedelai dengan minyak jamur truffle di Mottomoo yang berlokasi tidak jauh dari situ yang rasanya cocok banget dengan lidah saya. Saya makan ayam gorengnya dengan mencomot, baru untuk selada dan dadar saya menggunakan sendok. Sing penting wareg, ra urus wong ndelok comot kabeh nganggo tangan lan mangku piring. Bhay.

Toby's Estate PIK Avenue

Tetangga sebelah sofa saja sudah berganti. Mungkin pengunjung sebelah yang sebelumnya kalau meminum kopi seperti saya, glakglek seperti minum air putih jadi cepat habis. Atau memang sudah terlalu lamaaaaaa kami menunggu jadi kopi tetangga sebelah yang sudah difoto dan dinikmati dengan perlahan dan cantik sembari bermesraan sudah habis?

Toby's Estate PIK Avenue

Kopi yang mungkin adalah andalan Toby’s juga baru saya nikmati setelah saya selesai makan sehingga sudah dingin. Rasa kopinya sebenarnya enak tetapi karena saya sudah kesal, maka saat itu saya minta gula cair ke barista agar kopi saya menjadi manis dan lidah saya tidak semakin pahit untuk mengomeli orang. Saya dan Mas W bukan tipe yang akan menyisakan makanan yang kami pesan atau kami dapat, tetapi mungkin karena sudah empet menunggu dan laparnya sudah hilang maka kentang goreng yang katanya favorit dan enak ini menjadi hambar dan kami biarkan tidak habis. Saya sudah tidak berselera.
Toby's Estate PIK Avenue
Sejenak setelah memutuskan untuk tidak menghabiskan kentang goreng, saya masih melihat sekitar. Kali ini saya menghitung ada sekitar 8 gelas kertas kopi yang sepertinya salah pesan atau apa yang menyebabkan kopi-kopi tersebut tidak diambil dan dibiarkan di meja barista sebelum akhirnya digabung dalam 1 nampan untuk ddipisahkan di pinggir meja. Setelah itu saya meminta tagihan kepada pelayanan tetapi sudah bermenit-menit tidak kami dapatkan juga tagihannya. Walhasil, saya yang melihat Mbak Sarah sedang menjaga kasir untuk pembayaran take away memutuskan untuk menyamperinya. Ada seorang pengunjung wanita yang entah memesan kopi apa tetapi mendapatkan kopi yang lain sehingga dia menanyakan nasib kopi itu kepada Mbak Sarah dan Mbak Sarah bilang kalau kopi yang dipegang si Mbak pengunjung tadi for free. Setelah Mbak Sarah beres melayani pengunjung barusan, saya menyakan bisakah saya membayar langsung di sini tanpa harus menunggu tagihan yang sudah saya tunggu tetapi tidak datang-datang juga. Mbak Sarah meminta maaf lagi karena lamanya tagihan. Mungkin Mbak Sarah juga tidak enak karena dari mau memesan sampai bayar saja kok saya jadi ribet gini. Akhirnya dengan tagihan bertuliskan Toby’s Estate 11/12/2016 16.50 T001 A000501 saya bayar tagihan Rp294.525. Terima kasih banyak Mbak Sarah. Pada akhirnya saya hanya bisa menyalahkan diri saya mengapa saya tergoda mengikuti keramaian kafe yang baru buka ini dan begitu mudah terbujuk di sosial media.

Berikut beberapa saran saya untuk Toby’s Estate yang sebentar lagi juga akan buka di sekitar Gunawarman, yang mana mungkin saya akn mencoba mampir pada saat berangkat atau pulang kantor. Mungkin iya mungkin tidak. Karena saya benar-benar masih mendongkol dengan layanan yang saya dapat pekan lalu.

  1. Gunakan sistem antrean misal dengan kertas bernomor atau dicatat rombongan siapa sehingga pada saat penuh dengan pelanggan bisa diketahui pelanggan yang datang dulu yang mana, bukan hanya dengan dijajar berdiri karena tidak mungkin dibuat berbaris lurus tetapi bergerombol.
  2. Penulisan meja dengan jelas sehingga dapat diketahui pengunjung di suatu meja memesan apa bukan hanya berdasar hafalan pelayan dan manajemen yang pada akhirnya memudahkan pelanggan untuk menyebutkan meja tempat dia memesan.
  3. Untuk pengunjung yang membeli untuk dibawa pulang, sebaiknya diatur lebih rapi karena luas antara meja tempat pemesanan, tempat pengunjung berdiri memesan, dengan meja bulat di depan sofa tempat pengunjung yang makan di tempat cukup terbatas, belum lagi untuk lalu lintas pelayan mengantar pesanan.
  4. Jika memang pengunjung berlebih, mungkin lebih baik dibatasi pengunjung yang masuk ke area kafe karena akan semakin membuat semrawut dan pelayanan tidak maksimal. Terlihat beberapa pelayan kebingungan dengan banyaknya pesanan yang akhirnya kesalahan dalam penyajian pesanan.
  5. Manajer harian atau pelayanan khusus untuk mengarahkan layanan harus lebih tanggap terhadap kebutuhan pengunjung. Perhatikan jika ada pengunjung yang belum juga mendapat pesanan setelah sekian lama atau hanya berdiam saja tanpa ada pesanan. Bisa saja belum terlayani atau masih bingung dengan menu yang ada.
  6. Perbanyak senyum dan lebih ramah kepada pengunjung.

Terima kasih.