Selasa Bahasa 23 Juni 2015

Sudah lama rasanya saya tidak menulis tentang penggunaan Bahasa Indonesia di sekitar saya. Kemarin saya sedang membaca sebuah dokumen dan menemukan beberapa kejanggalan dalam dokumen tersebut karena itu saya ingin membahas tentang beberapa bagian yang tertulis dalam dokumen yang menurut saya merupakan kesalaham umum penggunaan Bahasa Indonesia sehari-hari dalam surat dinas.

1. Kata “izin” tertulis “ijin”
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata yang tepat adalah “izin” yang artinya “pernyataan mengabulkan (tidak melarang dsb); per-setujuan membolehkan: ia telah mendapat — untuk mendiri-kan perusahaan mebel“.

Selain “ijin”, kata lain yang kerap salah penulisannya adalah “jaman” yang seharusnya “zaman”.

2. Kata “objektif” tertulis “obyektif”
Menurut KBBI, kata yang tepat adalah “objektif” yang artinya “1. mengenai keadaan yang sebenarnya tanpa dipengaruhi pendapat atau pandangan pribadi; 2 n (Fis) kanta (lensa) pada peralatan optis yang terletak paling dekat dengan benda yang diamati”.

Sama halnya dengan kata “subyektif” yang seharusnya “subjektif”.

3. Penulisan kata depan/preposisi “di”, “ke”, dan “dari”
Penulisan preposisi tersebut seharusnya dipisah dengan kata yang mengikuti, seperti: di mana, di atas, di bawah, di depan, di belakang, ke mana, ke atas, ke depan, ke belakang, ke luar, ke samping, dari sana, dari luar, dari atas.

Penulisan “di mana”, “di bawah” dan “di atas” merupakan yang paling sering saya temui kesalahannya. Beberapa rekan kerja mengganggap “dimana” adalah suatu kata tersendiri, bukan merupakan preposisi “di” yang diikuti kata “mana”. Saya pernah membaca tulisan Uda Ivan Lanin yang mengusulkan bagaimana jika kita membiasakan diri untuk menggunakan “tempat” sebagai ganti “di mana” yang merupakan terjemahan dari “where”, misal “Saya tidak tahu tempat pulpen itu” daripada “Saya tidak tahu di mana pulpen itu”.

Terdapat pengecualian penulisan “dari” dan “ke” yang dipisah yang dipisah untuk penulisan “daripada”, “kepada”, dan “keluar” sebagai lawan kata masuk.

4. Penulisan kata “terima kasih” sebagai kata majemuk yang ditulis serangkai.
Menurut portalbahasa, kata “terima kasih” merupakan kata majemuk yang umunya ditulis terpisah demi keterbacaan, seperti kata “kerja sama”. Selain yang ditulis terpisah, terdapat 52 kata yang merupakan kata majemuk yang ditulis serangkai, yaitu: acapkali; adakalanya; akhirulkalam; alhamdulillah; apalagi; astagfirullah; bagaimana; barangkali; beasiswa; belasungkawa; bilamana; bismillah; bumiputra; daripada; darmabakti; darmasiswa; darmawisata; dukacita; halalbihalal; hulubalang; kacamata; kasatmata; kepada; keratabasa; kilometer; manakala; manasuka; mangkubumi; matahari; olahraga; padahal; paramasastra; peribahasa; perilaku; puspawarna; radioaktif; saptamarga; saputangan; saripati; sebagaimana; sediakala; segitiga; sekalipun; silaturahmi; sukacita; sukarela; sukaria; syahbandar; titimangsa; waralaba; wasalam; wiraswata.

5. Kata “meterai” tertulis “materai”
Menurut KBBI, kata yang tepat adalah “meterai” yang artinya “cap tanda berupa gambar yang tercantum pada kertas atau terukir (terpateri dsb) pada kayu, besi, dsb; cap; tera; segel”.

6. Kalimat penutup surat dinas “Demikian disampaikan”
Surat dinas yang kita buat bukanlah menyampaikan “demikian” tetapi menyampaikan laporan, pemberitahuan, pernyataan, permintaan, atau penyampaian pendapat sehingga sebaiknya diganti “Demikian laporan kami sampaikan, …” atau tanpa menggunakan “Demikian disampaikan” sehingga menjadi seperti “Atas perhatian dan kerja sama Saudara, kami ucapkan terima kasih.”

Itu dulu yang ingin saya sampaikan pada kesempatan kali ini. Sampai jumpa.

Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh

Demi apa yasaya menonton film di bioskop dua kali dalam kurun waktu hanya lima hari. Iya, dua kali setelah hampir dua tahun tidak pernah menonton film atau pun ke bioskop. Pada hari Rabu malam, 24 Desember 2014 kemarin, saya tiba-tiba sepulang kantor ingin menonton Supernova karena saya khawatir film tersebut akan segera ditarik dari layar perak.
imageFillm diputar mulai pukul 20.45 WIB dan ternyata penontonnya sedikit, mungkin tidak sampai dua puluh orang. Saya pikir mungkin orang-orang sudah menontonnya dan ini malam Natal jadi sudah sepi di sini. Saat studio mulai gelap dan muncul tulisan “Soraya Intercine Films”, saya, yang menonton sendirian, menjadi sangat semangat menyambut bagaimana buku best seller Dewi “Dee” Lestari ini divisualisasikan dalam sebuah film.

Pemeran film ini adalah Herjunot Ali sebagai Ferre, Raline Shah sebagai Rana, Paula Verhoeven sebagai Diva, Arifin Putra sebagai Reuben, Hamish Daud sebagai Dimas, dan Fedi Nuril sebagai Arwin. Pemilihan Junot dan Paula sebagai pemeran film ini menurut saya kurang tepat. Saya membayangkan tokoh Ferre akan diperankan oleh seseorang yang lebih dendi (issshhh ((((DENDI))))). Junot cukup bagus, mampu melahap dialog panjang, tinggi, ganteng, tetapi kurang greget sebagai Ferre. Saya mungkin memilih Nicolas Saputra untuk memerankannya, atau Tora Sudiro (beberapa tahun lalu). Paula yang memerankan Diva adalah yang paling menarik perhatian saya. Paula tidak tepat memerankan Diva karena menurut saya bahasa tubuh dan ekspresi muka dia kurang gereget dan kurang terlihat cerdas seperti yang diceritakan di buku, dialog yang dilakukannya pun terdengar sangat kaku, serta sikap dia sebagai model kelas atas yang menggoda juga kurang dapat ditampilkan. Dominique Diyose yang terlintas di pikiran saya daripada Paula untuk peran Diva. Arifin Putra dan Hamish Daud sangat pas memerankan tokoh Reuben dan Dimas dan mampu menyajikan ikatan sebagai pasangan gay dengan apik tanpa berlebihan. Raline Shah untuk adegan bergerak dan visualisasi juga terlihat sempurna, walaupun di beberapa dialog ada ekspresinya yang kurang tepat. Kalau Fedi Nuril sih tidak perlu diragukan lagi aktingnya.

Alur cerita yang disajikan Supernova mudah dipahami, tidak sesulit di buku, sehingga penonton yang belum pernah membaca bukunya juga bisa menikmati film ini. Akan tetapi, ke mana Gio? Mengapa dia hilang? Gio yang menjadi penghubung antarbuku pada seri Supernova tidak ditampilkan dalam film ini. Dan mengapa saya terbayang sosok Nicolas Saputra juga yang memerankan tokoh ini. Istilah-istilah yang luar biasa sulit dan bertaburan di buku hanya beberapa kali muncul di film dan mengkin agak membingungkan bagi penonton yang belum membaca bukunya. Saya harus beberapa kali membaca catatan kaki di buku setiap ada istilah asing di buku (kecuali pada Gelombang, yang istilah terkait Batak-nya sudah cukup familiar bagiku -.-).

Sehubungan dengan lokasi pengambilan gambar, mata saya sangat terpuaskan dengan keindahan Indonesia dan sedikit Amerika yang disajikan. Walaupun disebutkan latar film ini adalah di pseudo Jakarta, ternyata film ini banyak menggunakan Bali sebagai lokasi pengambilan gambarnya. Rumah Ferre, rumah Diva, tempat rapat Rana di tebing pantai, hotel tempat Ferre dan Rana selingkuh, yang sepertinya Alila Uluwatu, adalah tempat-tempat indah di Bali. Adegan di kapal, tempat Ferre dan Rana berlibur, yang berada Laut Labuan Bajo merupakan salah satu pemandangan terindah di film ini. Selain itu, sepertinya Graha Adhi Media Complex Bintaro juga dipakai sebagai lokasi kantor Rana, lokasi dia dijemput beberapa kali oleh suaminya, juga Danau Toba dengan Pulau Samosirnya yang dipakai oleh diva sebagai latar dia menyepi. Pengambilan gambar di Labuan Bajo dan gedung pencakar langit di Jakarta dari atas dan cukup lama sangat memanjakan mata.

imageDee merupakan penulis yang selalu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar dalam bukunya. Akan tetapi, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di film ini, terutama dalam penulisan pesan ICQ kepada atau dari Supernova, sangat mengganggu saya. Ragam bahasa lisan di film ini mungkin tidak masalah, namun dalam ragam bahasa tulis seharusnya penulisan pesan, yang divisualisasikan seperti bentuk pesan pendek, harus benar-benar diperhatikan oleh produser film. Beberapa contoh penggunaan bahasa Indonesia yang tidak tepat di film Supernova, yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk mengetik kata-kata tersebut di gawai saya, adalah sebagai berikut.

1. Penulisan di sebagai preposisi, seperti disini, disana, dimana-mana, diatas, dikemudian hari, seharusnya dipisah menjadi di sini, di sana, di mana-mana, di atas, di kemudian hari.

2. Penulisan huruf kapital untuk kata anda yang digunakan penyapaan, contoh  “Saya meminta anda menjawab”. Kata Anda seharusnya ditulis dengan huruf A kapital, tetapi di film ditulis dengan huruf kecil.

3. Seringnya penulisan huruf kapital yang tidak sesuai kaidah dan tiba-tiba muncul di tengah kalimat padahal tidak seharusnya ditulis kapital, misalnya “Benar, Jelas sudah semuanya”, “Tidak Banyak orang yang bisa saya percaya”, seharusnya “Benar, jelas sudah semuanya”, “Tidak banyak orang yang bisa saya percaya”.

4. Tidak digunakannya tanda baca koma dalam pesan, padahal di subjudul bahasa Inggris (bisa) digunakan, misalnya dalam pesan kepada Supernova bahasa Indonesia, “Supernova(tanpa koma) aku ingin terbang” sedangkan dalam subjudul bahasa Inggris, “Supernova, i wish to fly”. Mengapa tidak ditambahkan koma juga di pesan bahasa Indonesia-nya?

5. kata berseliweran yang tertulis bersliweran.

Walaupun sehari-hari kita memang masih sering tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tetapi yang saya soroti adalah film ini diadaptasi dari buku yang menjunjung tinggi bahasa Indonesia, mengapa bisa banyak yang tidak tepat begitu?
imagePelajaran yang bisa dipetik dari film (juga buku KPBJ) ini sangat banyak. Adegan paling saya suka baik di buku maupun film adalah saat Deswin mengatakan “Aku mencintaimu. Terlalu mencintaimu. Kamu nggak akan pernah tahu betapa besar perasaan ini….” yang kemudian membuat Rana semakin menangis sadar akan apa yang dipunyai Arwin. Cinta yang membebaskan. Secara keseluruhan, aku mengapresiasi Rizal Mantovani dan SIF yang mampu menyajikan mahakarya Dee dalam bentuk visual.

Pendekar Tongkat Emas

Hai, Bioskop, kita berjumpa lagi di akhir tahun 2014…

Itulah kesan pertama saya ketika akhirnya saya turun gunung dari pertapaan menonton film. Terakhir kali saya menonton film adalah di suatu malam pekan kedua Januari 2013 di salah satu bioskop di kawasan Senayan, menonton film “Demi Ucok” bersamanya. What a perfect memory. Lha, kok, malah curcol.

Sabtu pagi, 20 Desember 2014, saya meminta beberapa teman saya dari #PJ11adventureclub untuk menemani saya berburu promo kamera di salah satu toko di mal yang sangat besar di dekat Bundaran HI karena saya baru dua kali ke mal tersebut beberapa tahun silam dan hanya sebentar-sebentar kala itu. Setelah berhasil mendapatkan kamera yang sedang dibanting harga, Mbak Ratna mengajak kami menonton film Pendekar Tongkat E(abang)mas. Menurut kabar di Twitter yang kubaca, film ini keren banget dengan cerita yang apik, pemeran kelas wahid, dan pemandangan Sumba yang luar biasa. Itung-itung anak gunung sedang kumpul di tempat gaul dan iming-iming pemandangan Sumba yang dahsyat, maka kami sepakat untuk menonton film itu dan diputuskanlah untuk menonton di Metropole karena jadwalnya yang paling dekat dan lokasinya yang tidak begitu jauh dari kami saat ini.

Saat kami memasuki studio 1 di Metropole, ternyata penonton masih sepi dan banyak kursi yang kosong hingga film dimulai. Wah, bakal mencapai dua juta penonton tidak ya film ini, karena Mira Lesmana bilang jika penonton film ini mencapai dua juta, ia akan membuat sekuel AADC. *generasi 2000-an awal banget ya yang sampai menanti-nanti kelanjutan AADC* 😀

Film dimulai tepat pukul 16.55 WIB. Terdengar suara Christine Hakim membaca narasi film dengan sangat menyayat dilanjutkan keindahan pemandangan Sumba yang disajikan yang langsung membuat saya terngangah. Cempaka (yang diperankan Christine Hakim) adalah pemilik tongkat emas yang akan mewariskan tongkatnya kepada salah satu di antara empat muridnya , yaitu Biru (Reza Rahadian), Gerhana (Tara Basro), Dara (Eva Celia), dan Angin (Aria Kusumah), yang merupakan anak musuh-musuhnya yang telah dikalahkannya. Akan tetapi, Cempaka tewas sebelum ia berhasil mewariskan jurus Melingkar Bumi kepada murid pilihannya dan tongkat emasnya jatuh kepada pihak yang tidak semestinya. Konflik di film ini bebas dari efek naga-naga terbang, kilat cahaya tenaga dalam yang dikeluarkan pemain, atau adegan membatin diiringi pelototan, yang merupakan ciri khas film atau sinetron kita di era milenium ini. Topik balas dendam yang dalam film ini membawa kita dalam masa-masa indah perfilman laga Indonesia di tahun 80 dan 90-an. Kawan yang menjadi lawan, lawan yang menjadi kawan. Saya sarankan, pakai banget, untuk menonton film yang bagus banget ini.

Pengambilan gambar yang mampu menampilkan keindahan Sumba Timur dengan sempurna. Pemandangan alam yang disajikan di film ini luar biasa indah, Indonesia yang sangat indah, di sepanjang film. Tenun ikat yang digunakan untuk pakaian, hiasan, alas tempat tidur, semuanya indah. Saya sangat menyukai semua kain-kain yang digunakan sebagai pakain pemain dalam film ini dan membuat saya ingin membuat pakaian seperti itu. Pada beberapa adegan di ruang tidur Cempaka contohnya, kain tenun yang digunakan sebagai alas tempat tidurnya sungguh indah meski dambil gambarnya dalam keadaan remang-remang. Penggunaan tenun ikat sebagai obi pakaian pendekar yang dikenakan Dara juga sangat menarik. Selain itu, jubah hitam yang dipakai Dewan Datuk Bumi Persilatan dengan sedikit motif tenun juga membuat saya ingin memakainya.

Dari segi akting, para bintang yang berperan dalam film ini sangat menjiwai dan total dalam setiap adegan. Christine Hakim, meskipun hanya tampil sejenak, mampu memberi jiwa pada keseluruhan alur film dan sangat kuat karakter yang ia sampaikan. Eva Celia yang terhitung baru, mampu menampikan adegan-adegan yang luar biasa meski terkadang agak kaku saat berdialog. Nico tidak perlu diragukan lagi kemampuannya. Lagi dan lagi dia menjadi tokoh cool yang selalu diidolakan para wanita, bahkan pria. Reza juga keren aktingnya. Tara mampu menampilkan mimik muka ice queen yang tajam yang sesuai dengan perannya. Slamet Rahardjo, Darius, Prisia yang hanya tampil beberapa adegan juga bisa membawa arti dalam film ini. Yang paling saya sukai adalah akting Aria Kusumah, kadang serius, kadang lucu, sedikit biacar tetapi ekspresinya oke, dan menyedihkan di saat-saat akhir.
imageSepanjang film di setiap adegan laga, saya berteriak-teriak seperti “mati koen (mati kamu)”, “aaah”, karena saking serunya adegan-adegan pada film ini. Lalu dilanjut melongo lihat pemandangan Sumba Timur lagi, dan tersayat beberapa adegan sedih. Pada saat puncak pertarungan di akhir film, sangat seru dan murni laga tanpa efek aneh-aneh tidak logis yang terlalu sering dimunculkan di televisi.

Janji para pesilat yang dipegang teguh juga merupakan pesan yang disampaikan film ini. Bagaimana jika ia melanggar dan kewajiban dia untuk menurunkan ilmu yang harus ia laksanakan. Demi untuk mencapai impian, para pesilat harus berjuang mati-matian dari berlatih, mempertahankan gelar dan apa yang menjadi haknya, serta mencari ilmu pada guru terbaik. Hidup adalah perjuangan. Hidup adalah pilihan. Mungkin kamu pernah membuat pilihan yang salah dan melakukan kesalahan, jadikan kesalahan itu sebagai pelajaran. Berjuanglah hingga titik darah penghabisan demi kebenaran dna kepentingan orang banyak.
image

Film ini juga menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, setidaknya pada beberapa adegan yang dialognya benar-benar saya perhatikan. Penggunaan kata “mengubah” yang sering salah dengan “merubah” tidak terjadi di film ini. Saya sangat memperhatikan ketika seperti ada penekanan dalam pengucapan “mengubah” oleh Darius dan gurunya. Selain itu, Nico, yang dengan dinginnya, lagi-lagi meninggalkan seorang wanita dalam kesedihan entah berapa purnama lagi. Dan adegan anak musuh yang sedang berlatih di bukit yang indah di kala senja yang menyiratkan “lihat saja pembalasan dendamku” tidak akan benar-benar diwujudkan dalam sekuel film ini jika memang tidak benar-benar #sesuestu.
image

Terima kasih untuk semua pihak yang terlibat dalam film Pendekar Tongkat Emas (The Golden Cane Warrior), Ifa Isfansyah selaku seutradara, Jujur Prananto dan Miles Film, atas film yang luar biasa ini dan mampu membuat saya ingin segera bisa ke Sumba Timur dan menikmati keindahan Indonesia di sana.

Penghubung Antarkalimat

penghubung-antarkalimat-discourse-connectivePenghubung antarkalimat (discourse connective) adalah kata atau ungkapan yang menghubungkan suatu kalimat dengan kalimat lain dalam satu alinea guna menambah kepaduan wacana. Penghubung antarkalimat diletakkan di awal kalimattetapi bukan di awal kalimat pertama suatu paragrafdan diikuti dengan tanda koma. Contoh penghubung antarkalimat adalah akan tetapi, jadi, dan oleh sebab itu.

Pedoman EYD tidak memberikan daftar lengkap ungkapan yang dapat berfungsi sebagai penghubung antarkalimat. Berdasarkan beberapa rujukan, ada 53 ungkapan yang dapat dipakai sebagai penghubung antarkalimat. Daftar ini mungkin tidak lengkap, tetapi, paling tidak, kata atau frasa yang berada dalam senarai ini dapat digunakan sebagai rujukan oleh para pengguna bahasa.

Berikut ini daftar kata atau frasa yang biasa dipakai sebagai penghubung antarkalimat dalam bahasa Indonesia.

  1. Agaknya, …
  2. Akan tetapi, …
  3. Akhirnya, …
  4. Akibatnya, …
  5. Artinya, …
  6. Berkaitan dengan itu, …
  7. Biarpun begitu, …
  8. Biarpun demikian, …
  9. Contohnya, …
  10. Dalam hal ini, …
  11. Dalam hubungan ini, …
  12. Dalam konteks ini, …
  13. Dengan demikian, …
  14. Dengan kata lain, …
  15. Di pihak lain, …
  16. Di samping itu, …
  17. Di satu pihak, …
  18. Jadi, …
  19. Jika demikian, …
  20. Kalau begitu, …
  21. Kalau tidak salah, …
  22. Karena itu, …
  23. Kecuali itu, …
  24. Lagi pula, …
  25. Meskipun begitu, …
  26. Meskipun demikian, …
  27. Misalnya, …
  28. Namun, …
  29. Oleh karena itu, …
  30. Oleh sebab itu, …
  31. Pada dasarnya, …
  32. Pada hakikatnya, …
  33. Pada prinsipnya, …
  34. Paling tidak, …
  35. Sebagai kesimpulan, …
  36. Sebaiknya, …
  37. Sebaliknya, …
  38. Sebelumnya, …
  39. Sebenarnya, …
  40. Sebetulnya, …
  41. Sehubungan dengan itu, …
  42. Selain itu, …
  43. Selanjutnya, …
  44. Sementara itu, …
  45. Sesudah itu, …
  46. Sesungguhnya, …
  47. Setelah itu, …
  48. Sungguhpun begitu, …
  49. Sungguhpun demikian, …
  50. Tambahan lagi, …
  51. Tambahan pula, …
  52. Untuk itu, …
  53. Walaupun demikian, …

Rujukan:

  • Eneste, P. (2012). Buku Pintar Penyuntingan Naskah Edisi Kedua (Revisi). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Sugono, D. (Ed.). (2007). Buku Praktis Bahasa Indonesia Jilid 1. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
  • Trim, B. (2012). Tak Ada Naskah yang Tak “Retak”: Panduan Profesional Editing Naskah. Bandung: Trim Komunikata.

 

Reblog dari laman Uda Ivan Lanin: Penghubung Antarkalimat

Lema Acak 27102013

1. Jempalit, bukan “jempalik”.
2. Netralisasi, bukan “netralisir”.
3. Sangu: bekal, biasanya berupa uang; sangon.
4. Diagnosis, bukan “diagnosa”.
5. Wenter: 1 cat pewarna: sebuah kuas dan cairan — merupakan alat lukis bagi seniman; 2 serbuk pewarna (untuk pakaian).
6. Wukerar: pemberi pinjaman (uang dsb): dengan adanya Pusat Koperasi TNI, para warakawuri tidak lagi menguntungkan para –.

Lema Acak 20102013

1. Liang lahad, bukan “liang lahat”.
2. Kendur, bukan “kendor”.
3. Burak, bukan “borak”: kendaraan yang dipakai Nabi Muhammad saw. Ketika melaksanakan Isra.
4. Portir, bukan “porter”: penjaga pintu (di pabrik, stasiun kereta api,
kantor, dsb).
5. Nahas, bukan “naas”: sial; celaka; malang (terutama
dihubungkan dengan hari, bulan, dsb
yang dianggap kurang baik menurut
perhitungan).

Lema Acak 14102013

1. Meterai; bukan materai: cap tanda berupa gambar yang tercantum pada kertas atau terukir (terpateri dsb) pada kayu, besi, dsb; cap; tera; segel.
2. Rancak: bagus; cantik; elok.
3. Necis; neat; well groomed: bersih dan rapi; apik; bagus.
4. Esai: karangan prosa yg membahas suatu masalah secara sepintas lalu dr sudut pandang pribadi penulisnya.
5. Yuyitsu: olahraga bela diri dari Jepang yang memerlukan pengetahuan tentang anatomi dan penerapan prinsip pengumpilan sehingga kekuatan dan berat badan lawan dapat digunakan untuk mengalahkannya (Jujitsu).
6. Uber, menguber; go after; pursue: mengejar(-ngejar); memburu(-buru).
7. Surogat: pengganti bagi zat lain; alternatif. Misal: margarin sebagai surogat mentega.

Lema Acak 06102013

Pada kesempatan kali ini, lema acaknya adalah sebagai berikut.
1. Yu; mbakyu; mbak; embak; yayu: kata sapaan thd wanita yg lebih tua di daerah Jawa.
2. Derel: tembakan serentak.
3. Mbeling: nakal.
4. Cakus: geretan; korek api; macis; pemantik. Mencakus: mengambil sedikit-sedikit makanan yg tersaji sebelum makan yg sungguh-sungguh dimulai.
5. Syal (shawl): cal; selendang; mafela.
6. Calak (sharp-tongued; glib): pandai bicara; suka turut campur pembicaraan orang; lancang mulut; banyak bicara; bawel.
7. Peterseli (parsley): tanaman perdu, sejenis seledri, batangnya berbentuk persegi, daunnya keriting berwarna hijau muda, digunakan sebagai bumbu dapur dan penghias masakan; Petroselinum crispum.
8. Kesek, mengesek (rubbing; door mat): menggesek dengan barang yang kesat.
9. Sedekap (arm folding): menumpangkan kedua tangan di atas perut; melipatkan tangan di atas perut (spt sedang salat).
10. Sedeng; sendeng; serendeng; sinting (crazy): gila; kurang waras.

Lema Acak 29092013

Hari ini belajar beberapa kata baru, yaitu:
1. Mentimun dendam: Mentimun yang rasanya pahit.
2. Safar (bukan Sapar): Perjalanan; Bulan kedua tahun Hijriah.
3. Jebai; berjebai: Berserak-serak tidak teratur; scattered. Pictures perfect memories scattered all around the floor…. I just need you now…..
4. Ustaz (bukan ustad).
5. Palem (bukan palm).
6. Pelesat (bukan melesat); memelesat; terpelesat.
7. Keruan (bukan karuan): pasti; tentu.
8. Celat; mencelat: terpelanting jauh/tinggi; membumbung; melejit; melesat; menyembat; melambung; mental.

Lema Acak 15092013

Lema acak hari ini:
1. Mahbub: kekasih (laki-laki)
2. Muanas: feminin.
3. Munasabah: cocok; sesuai; tepat benar.
4. Istiqlal: kebebasan; kemerdekaan.
5. Marbut: penjaga dan pengurus masjid.
6. Tesmak: kacamata.

Itulah beberapa lema acak hari ini. Kita bisa mempelajari berbagai penggunaan bahasa Indonesia sesuai KBBI dan ejaan yang disempurnakan dengan membaca terjemahan Alquran. Dengan membaca Alquran dilanjutkan membaca terjemahannya maka selain kita bisa mendapatkan pahala dan menenangkan hati, juga bisa mempelajari bahasa Indonesia yang baik dan benar, terutama untuk penggunaan istilah atau kata yang berhubungan dengan agama.

Berikut beberapa kata pada terjemahan Alquran surat Luqman berdasarkan ayatnya:
4) … zakat…;
5) … itulah…;
6) … di antara…;
9) … Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana;
10) … memperkembangbiakkan…;
12) … Mahakaya, Maha Terpuji;
16) (Luqman berkata), “Wahai anakku!”;
25) Katakanlah, “Segala puji bagi Allah,”;
26) Milik Allahlah…;
28) Allah Maha Mendengar, Maha Melihat;
29) Tidakkah engkau memperhatikan…;
31) Tanda-tanda (kebesaran)-Nya…
33) … dalam menaati Allah.

Bisa dilihat bagaimana penggunaan tanda baca, partikel, kata yang harus dipisah atau disambung, kata yang luluh dengan awalan, dan sebagainya.