R.i.n.j.a.n.i

@Instapendaki x @parapejalan ke Rinjani

Hai hai….

Demi banget ini aku kembali menulis untuk konten yang harus disubmit kurang dari dua jam lagi. Dan aku memutuskan untuk mendongeng tentang pengalamanku mendaki Gunung Rinjani dengan @instapendaki pada akhir April 2018 lalu. Pendakian ini semacam obsesiku yang telah lama terpendam dan aku bertekad mewujudkan di tahun 2018. Aku iseng mengajak Si Borjong, Eda, yang sudah dua tahun tidak jalan bersamaku dan ternyata dia mau. Si Eda mengajak Kakak Eva dan Vicky. Kakak Eva mengajak Nyol. Lengkap sudah Lima Pendekar Wanita akan mendaki Rinjani huhuhu.

Demi kelancara pendakian, aku mulai diet pada akhir Februari, terutama menghindari garam dan karbo. Mulai akhir Maret, aku mulai menggencarkan olah raga terutama naik turun tangga di kantor. Berat aku yang semula 72kg bisa berkurang menjadi 65kg dengan kondisi fisik yang lebih slim pula. Tak lupa para wanita itu aku ingatkan untuk turut berolah raga karena pendakian Rinjani bukan pendakian cantik ala Papandayan yang pernah kulakukan bersama Eda dan Vicky.

Singkat cerita, untuk trip ini kami menggunakan porter dengan biaya tambahan untuk membawakan tas gunung kami sehingga lebih ringan dan cukup membawa diri yang sudah keberatan dosa serta logistik pribadi selama pendakian.

Sabtu pagi, 28 April 2018 tim bertemu di Bandara Internasional Lombok. Dengan menggunakan elf kami dibawa ke Sembalun untuk briefing dan makan siang terlebih dahulu di salah satu rumah warga. Sekitar pukul 14.00 kami mulai berjalan dari Pos Sembalun menuju Pos 2 tempat kami akan menginap. Tersedia ojek dari Pos Sembalun hingga Pos 2 dengan biaya Rp150.000 dan bisa menghemat waktu sekitar 2 jam. Awalnya sih masih berjalan dalam jumlah besar tetapi dengan tanjakan dan jalur yang semakin terjal, rombongan mulai terpecah. Dari Pos 1 ke Pos 2 aku berjalan sendiri. Sempat berkenalan di jalan dengan Nugie dan Aris yang berasal dari Jakarta, duo yang mendaki hanya memang berdua dan mengunakan 1 porter. Setibanya di Pos 2, kami bisa mendirikan tenda dan beristirahat. Malam itu, angin di Pos 2 sangat kencang. Head lamp yang diantung di dalam tenda bahan bergoyang-goyang dengan tenda seperti akan terangkat. Belum lagi suhu udara yang sangat dingin. Ini salah satu angin di gunung paling mengerikan, mungkin karena Pos 2 berada di savana jadi angin dapat berhembus kencang.

Pada pagi harinya, porter mulai memasak, kami pun bisa mengambil air di sumber yang berada di dekat Pos 2 ini. Sama seperti malam tadi, aku masih menjaga makan dengan tidak makan nasi, mie instan dsb yang dimasak porter, hanya makan crackers dan kurma. Tetapi eh tetapi karena kemarin masih makan nasi dan sayur yang sedikit pedas saat di Bandara Lombok dan rumah warga di Sembalun, perutku mules dan terpaksa mencari semak-semak di perbukitan ilalang. Doh pengalaman pertama banget buang hajat di gunung saat mendaki bermodalkan air sebotol 600ml dan tissue basah. Biasanya sih bisa menahan diri kalau cuma 1 atau 2 malam di gunung. Hihihihi.

Puncak terlihat dekat, bukan? Bukaaaannnn… Masih jauh banget woy, masih juga Pos 2. šŸ™

Dari Pos 2 Gunung Rinjani terlihat sangat cantik dan gagah. Tim pun masih penuh semangat karena telah beristirahat semalam. Dan aku masih terlihat bugar dan langsing.

Terlihat jenjang begini aku saat itu. Masih jalan bersama 2 Eda ini pula.

Setelah Pos 3 ini, semakin sedikit rombongan tim yang berjalan bersamaku dan porter awal-awal.

Sekitar & Bukit Penyesalan

Biasanya di tempat ini untuk memasak makan siang, tetapi karena rombongan masih pada jauh di belakang maka aku cuma istirahat sejenak dan melanjutkan perjalanan dengan porter tim kami yang juga tidak berhenti untuk makan siang.

Pos Pelawangan

Pos Pelawangan ini merupakan pos terakhir sebelum puncak. Para pendaki berkemah di sini untuk beristirahat sebelum summit maupun sebelum turun ke Segara Anak. Ada beberapa sumber mata air dan lokasinya luas dan enak untuk nge-camp.

Nyemil sumber energi utama

Alhamdulillah bisa sampai Pos Pelawangan duluan sekitar pukul 14.00, padahal yang lain baru datang mulai pukul 16.00. Berkat sumber energi utamaku, crackers dan kurma. Crackers sebagai pengganti karbo dan bisa dimakan di pos pemberhentian, kurma bisa dimakan sambil berjalan. Aku bisa mandi di sumber air dan tidur siang beratap langit menunggu kawan-kawan.

Kak Yanur salat Asar saat hampir senja

Syahdu sekali rekan setendaku ini salat Asar. Agak mepet Maghrib karena dari awal pendakian dia sakit perut sehingga terpaksa pelan-pelan jalannya, dan kamu berhasil. Proud.

Menunggu matahari terbenam di Pos Pelawangan
Dari dalam dapur porter yang sedang memasak

Meskipun aku menghindari makanan pedas, mie, dan berbagai makanan yang disiapkan porter demi kesehatan perut dan kelincahan, aku suka nongkrong dan membantu para porter yang memasak entah itu mengiris dan menggoreng tempe, atau cuma ikut berkomen haha hihi. Seperti saat mereka memasak kari sayur dengan penyedap rasa yang melimpah ini. šŸ˜€

Setelah makan malam, kami diminta lekas beristirahat karena summit akan dimulai sekitar pukul 01.00 dini hari. Akan tetapi kami masih pada berisik dan tidak tidur-tidur apalagi tenda para borjong yang perang kentut dan ngobrol ngakak tiada henti.

Pukul 01.00 kami mulai dibangunkan untuk summit, pada bersiap memakai pakaian untuk mendaki, jaket, dekker, sarung tangan, kupluk, head lamp, trekking pole, masker. Ternyata Mbokde Kakak Eva sakit sehingga tidak bisa ikut naik dan tetap di tenda saja. Kami pun memulai pendakian bersama-sama dengan suhu udara yang sangat dingin dan gelap. Aku dan beberapa rekan yang berjalan dulu telah tiba di jalur kerikil bebatuan sekitar pukul 03.30 dan aku optimis 1 jam lagi akan tiba di puncak yang sepertinya sudah kelihatan. Sudah berjalan dengan tertatih, membungkuk untuk istirahat, duduk di tepi jurang tetapi puncak tidak juga dapat diraih dan terasa semakin menjauh. Sudah pukul 05.00, matahari mulai terlihat tetapi aku masih di tengah padang kerikil yang membuat sangat frustasi dan letih. Hawa dingin sangat menusuk persendian karena pergerakan yang lambat dan orang yang semakin sedikit dengan tingkat kemiringan yang semakin tajam ditambah ngantuk yang menyerang. Debu dari kerikil dan bebatuan juga cukup menggangu pernafasanku meskipun memakai masker.

Puncak Rinjani

Akhirnya setelah hampir 4 jam berada di padang kerikil, tibalah aku di puncak Rinjani. Berat banget cyyynnnn. Alhamdulillah banget. Ramainya kayak pasar dengan luas puncak yang tidak begitu besar dan harus mengantre bergantian dengan pendaki lain yang terkadang langsung menyerobot di spot ini.

Rizal, Nugie, Aris, dan yours truly

Bertemu Nugie dan Aris yang tiba paling pagi di puncak. Duo pendaki ini berani dan lincah banget.

Jalur bebatuan menuju puncak

Pada saat turun, ternyata begini penampakan lautan batu tak berujung yang kulewati tadi Subuh. Pantesan tidak sampai-sampai ke puncak -,-

Jalan turun dengan kemiringan yang sangat tajam, kerikil, pasir sepanjang jalan ditambah aku ingin segera sampai di Pelawangan, membuatku sedikit berlari menukik yang menyebabkan jari kelingking kakiku perih banget yang sepertinya lecet. Untung pakai dekker jadi pasir, kerikil tidak masuk ke dalam sepatu yang akan menyebabkan kaki semakin dalam terluka.

Pose ala-ala dengan latar Danau Segara Anak setelah berhasil turun melewati padang kerikil yang curam.

Pose-pose kemenangan sebelum turun kembali ke Sembalun.

Werk it gurl šŸ˜€
Berkibarlan bendera negeriku. Buat stok foto 17-an.
Serasa Dewi Anjani dengan selendang sutranya.
Bubarkan tenda, Jenderal
Bertemu porter yang baru melewati pos 2. Berat banget lihatnya. šŸ™

Akuberjalan turun duluan seorang diri meskipun kaki kiriku semakin terasa perih. Lebih baik terus berjalan mumpung masih kuat daripada berhenti-berhenti dan semakin sakit.

Para pendaki yang sedang makan siang di sekitar Pos 2

Langit biru menaungi perjalananku turun kembali ke Pos Sembalun, aku sempat bertemu dan mengobrol dengan beberapa rombongan lain, seperti rombongan adik-adik dari Dampit (tetangga kecamatan di Malang, sesama Arema) juga rombongan dedek-dedek koko-cici dari Jakarta Utara yang lincah sekali jalannya.

Nyol dan Eda

My gurl finally came to Sembalun Camp around 4.30pm. Puji syukur kami semua telah tiba di pos ini lagi. Bisa makan, minum es teh, dan ke toilet yang sudah beberapan hari kami rindukan.

Terluka hatiku

Oh bukan, ternyata kakiku yang lecet saat turun dari puncak pada hari sebelumnya. Kenang-kenangan yang akan kubawa ke trip selanjutnya, live on board ke Labuan Bajo esok hari.

Into the Wild

Banda NeiraCover story: Banda Neira Rising
Photographer: E.A. Paminto
Stylist: E.A. Paminto
Models: Ieda Kroess
Make-Up: Natural
Hair: Natural
Location: Banda Neira
Dress: Model’s private collection
Banda NeiraIts been so long since my last post on August 2017 and my blog seems like shutting down, but hey I am back for good. Thanks Nain for inviting me to Arisan Blog group so i have a motivation to write one one two sentences. Foto di atas merupakan Benten Fort Belgica yang ikonik di Banda Neira, dengan bentuk segi lima dan masih kokoh hingga saat ini padahal dibangun pada abad ke-17. Banda Neira

Meriam peninggalan masa lalu di Fort Belgica.

Banda NeiraMercusuar ini merupakan salah satu objek favorit yang dipopulerkan oleh Bli Ano. Untuk memanjatnya tidak semudah yang terlihat tapi di atasya sumpah keren banget.
2016_0504_10361900-01Pulau Hatta merupakan pulau favorit saya di Banda Neira karena pemandangannya sangat indah. Terumbu karang di sekitar pantainya bagus, kalau mau maju sedikit akan kita temui palung dengan arus kencang tetapi menawarkan pemandangan luar biasa terutama untuk para penyelam. Jika kita beruntung, akan kita temui migrasi ikan hiu di sekitar pantai. Pulau ini masih alami dan dihuni tidak begitu banyak penduduk. Saat itu masih belum ada sinyal telepon. Damai menikmati hidup di sini.
Banda NeiraPulau Pisang merupakan salah satu spot wajib snorkeling. Pulaunya terlihat rindang dengan dikelilingi laut dengan gelombang yang kecil dan terumbu karang yang indah.
Banda NeiraNaik ojek di runway bandara kapan lagi kalau tidak di Banda Neira. Saat itu Susi Air sedang tidak beroperasi jadi landasan pesawat ini bisa dengan bebas digunakan untuk foto-foto.

Banda NeiraKegiatan memanjakan diri dengan bergelantungan di hammock di Pulau Hatta. Bayangkan bagaimana zaman dulu Bung Hatta bisa dibuang ke Pulau yang jauh ini.
Banda Neira

Gunung Api Banda atau Lawerani ini tingginya 680m di atas permukaan laut dan terakhir meletus pada tahun 1988. Meskipun terlihat tidak terlalu tinggi, tetapi tingkat kesulitan mendaki gunung ini sangat tinggi mengingat tidak adanya pohon dan akar untuk berpegangan serta jalur penuh dengan pasir dan kerikil dengan kemiringan yang tajam.

2016_0506_06531900-01Teringat quote bahwa jangan mati sebelum berkunjung ke Banda Neira. Saya mau kembali ke sana jika ada waktu dan rezeki lagi nanti.

Long Hot Summer

Banda Neira

Cover story: Wave to The Untouched Paradise
Photographer: E.A. Paminto
Stylist: E.A. Paminto
Models: E.A. Bunda Hunny Kloss, Ieda Kroess, Frisberbie Small, Agnova Ewers, Echa Delevingne
Make-Up: Natural
Hair: Natural
Location: Banda Neira
Dress: Models private collection

2016_0505_12015500-01

Social Climber: Hotpants is far too chic to visit chicken coop.

Banda Neira

Somewhere along the jungle in Chanel pantone-halterneck scarf top.

Banda Neira

Back for good in asymmetrical Marni bikini.

Banda Neira

Natural allure in Prada bikini and Bali beach sarong.

Banda Neira

Hammocking

Pulau Hatta Banda Neira

or sunbathing?

Banda Neira

Casual chic. This beauty deserves to be known by the world.

Banda Neira

Off shoulder scarf top
Banda Neira
Luxe life: Lets have some fun in Hermes
Banda Neira

Shadow play.
Banda Neira

Taking health and beauty inspiration from mother nature.

Banda Neira

 

Less is More

16-05-22-13-06-33-912_deco

Cover story: Less is More
Photographer: E.A. Paminto
Stylist: E.A. Paminto
Models: E.A. Bunda Hunny Kloss, Ieda Kroess, Frisberbie Small, Agnova Ewers, Echa Delevingne
Make-Up: Natural
Hair: Natural
Location: Banda Neira
Dress: Models private collection

Banda Neira

Flowery shirt in stripes runway.

2016_0507_11360700-01

Bold lips and headband with edge attitude.
Pulau Hatta Banda Neira

In between street style and island culture.

Pulau Hatta Banda Neira

A serious meet-up under the sun with a cheerful nod to 90s New York.
Pulau Hatta Banda Neira
Happy lyfe in beautiful island.
16-05-21-22-47-14-769_deco
Think of sequined black shirt instead two-pieces bikini.
2016_0504_10361900-01

To Get Through to the Osi Island

Pulau Osi, Seram

Cover Story: To Get Through to the Osi Island
Photographer: E.A. Paminto
Stylist: E.A. Paminto
Models: E.A. Bunda Hunny Kloss, Ieda Kroess
Make-Up: Natural
Hair: Natural
Location: Osi Island and Piru, Seram Bagian Barat, Muluku
Dress: E.A.Ā Paminto, private collection

16-04-30-21-25-10-288_deco

Ulos and Boru Batak take on edgy-feminism with the touch of flower prints, denim, and wide brim hats.

Pulau Osi, Seram

Kiss the sunset.

16-05-01-10-40-46-393_deco

Tranquil hues.
Pulau Osi, Seram

Dance like there is no tomorrow.

Pulau Osi, Seram

So much chic.

Pulau Osi, Seram

The shadow of ethereal beauty.

Pulau Osi, Seram

H A P P Y

Pulau Osi, Seram

Grape-ing

Pulau Osi, Seram

Daydream almost over.
Pulau Osi, Seram

Pulau Osi: Luxury of the Simple Life

Langit biru Pulau Seram pada siang itu, Sabtu 30 April 2016, menyambut saya, Bunda Hani, dan Farida menuju Pulau Osi. Pulau Osi baru saya tahu namanya beberapa hari sebelum keberangkatan trip yang utamanya akan menuju Banda Neira ini. Sama halnya dengan trip ini yang hanya saya susun beberapa hari yang lalu pada hari Sabtu tanggal 23 April 2016. Terima kasih Bebeb Dona yang memberitahu tentang Pulau Osi yang ia kunjungi tahun 2015 dengan menumpang rombongan keluarga dari Ambon PP Osi-Seram dalam satu hari sesaat sebelum ke Raja Ampat.

2016_0430_10353100-01

Dengan menggunakan maskapai burung merah, kami dari Jakarta pada pukul 01.30 WIB dan tiba di Ambon pada pukul 07.00 WIT. Sebenarnya masih cukup waktu misalkan kami terus menuju pelabuhan Tulehu dan langsung ikut kapal cepat ke Banda Neira, tetapi sengaja saya memutuskan untuk melewati Tulehu menuju Pelabuhan Liang untuk kemudian menyeberang ke Pulau Seram.Ā  Kami menggunakan mobil sewaan yang banyak tersedia di bandara. Supir kami waktu itu Pak Miki 082199697722 memberikan harga Rp250.000 dari Bandara Internasional Pattimura Ambon ke Pelabuhan Liang. Pagi itu sedang ada lomba baris berbaris di sekitar Tulehu.

Pulau Osi, Seram

Deru suara kapal akan berangkat ke Waipirit terdengar di Pelabuhan Hunimua, Liang saat kami baru sampai di parkiran pelabuhan. kami segera berlari menuju loket, membayar tiket Rp16.500 per orang dan memasuki kapal. Dan benar sekali pintu palka ditutup setelah kami memasuki kapal.
Pulau Osi, SeramKapal pagi itu cukup ramai karena banyak warga Seram yang bekerja atau sekolah di Ambon akan mudik ke Seram. Kita akan banyak menjumpai penjual keripik singkong pedas ala keripik sanjai dari Sumatera Barat dijajakan di kapal. Keripiknya enak, apalagi saat lapar belum sarapan seperti saat itu.
Pulau Osi, Seram

Saat di kapal, saya duduk di samping seorang pekerja di Ambon dari Seram. Pria berusia 20 tahunan tersebut kemudian banyak bercerita, dengan sedikit banyak pertanyaan dari saya tentunya, tentang ada apa saja di Seram dan bagaimana kami menuju tempat wisata tersebut dalam penyeberangan selama sekitar 1,5 jam tersebut. Untuk menuju Pulau Osi, dari Pelabuhan Waipirit di Seram Bagian Barat kita bisa menggunakan angkutan umum ataupun mobil sewaan yang banyak mangkal di terminal depan pelabuhan. Jika menggunakan angkutan umum, biayanya sekitar Rp50.000 hingga Piru lalu harus naik ojek Rp40.000 menuju Pulau Osi. Saat itu setelah tawar menawar, kami memutuskan untuk menyewa mobil Pak Sammy 082239250990 menuju Pulau Osi dengan biaya Rp300.000.
Pulau Osi, Seram

Dengan menyewa mobil yang harganya juga tidak terlalu jauh dari naik angkutan umum ditambah naik ojek, maka kita bisa minta berhenti di spot-spot kece selama di perjalanan yang akan ditempuh sekitar 2 jam. Contohnya di Gapura “Selamat Datang di Kota Piru” ini. Gapura megah di tengah jalan berliku perbukitan tanpa perumahan dengan latar langit super kece dan pemandangan laut ini membuat saya takjub. Suka.
2016_0430_09584800-01

Melanjutkan perjalanan dengan jalan yang semakin naik turun dan berliku tetapi semulus paha Gigi Hadid kami singgah sebentar di belantara pepohonan kayu putih.
Piru

Those cotton candy clouds look so gooood.
Pulau Osi, Seram

Dan akhirnya kami tiba di pintu gerbang Pulau Osi.
Pulau Osi, Seram

Pulau Osi merupakan kumpulan beberapa pulau seperti Pulau tatobalabunte, Pulau tatobalasungke, Pulau Tatobosurati, Pulau Tatobobensin, Pulau Osi,Ā  dan beberapa pulau karang kecil . Dari pintu gerbang Pulau Osi, kita bisa menggunakan ojek dengan biaya Rp15.000,00 atau berjalan kaki.
Pulau Osi, Seram

Jembatan papan seperti ini yang menghubungkan di antara hutan bakau sepanjang kurang lebih 1,5 km ini yang mengubungkan pulau-pulau di sini.
2016_0502_10424000-01

Terdapat dua penginapan di Pulau Osi yang berupa resor di atas laut yang bisa kita pilih, di samping ada beberapa rumah penduduk juga yang biasa digunakan sebagai homestay.

Pulau Osi, Seram

Penginapan pertama yang saya survei sembari gadis-gadis menunggu di bawah rindang pohon dekat pangkalan ojek bernama My Moon Daud Resort (MD Resort) yang dikelola oleh Ibu Mila di nomor telepon 082198868000 / 081343259972 / 082197969172 dengan harga antara Rp350.000–Rp500.000 per malam per bungalo. Penginapan kedua yaitu Indigo Resort and Restaurant.

Pulau Osi, Seram

Saya memilih menginap di MD Resort yang memiliki fasilitas lebih bagus dan restorannya lebih ramai dibanding Indigo. Kami menginap 1 kamar seharga Rp400.000 per malam dengan kasur tambahan untuk saya dengan biaya Rp100.000 per malam.

Pulau Osi, Seram

Pemandangan balkon belakang kamar yang cihuiii abis. Buat gegoleran, merendam kaki, sempat senam, melihat bintang, atau mau berenang juga bisa.

Pulau Osi, Seram

Setelah puas beristirahat, kami berjalan-jalan di sekitar resor menjelang senja.

2016_0501_16174200-01

Matahari terbenam di sini benar-benar indah. Sunset Purefection.

Pulau Osi, Seram

Jarang sekali wisatawan yang menginap di sini, bahkan malam itu hanya ada kami bertiga serta sepasang kekasih di bungalo sebelah. Resor Indigo yang tidak begitu jauh juga terlihat sepi tanpa ada lampu menyala di bungalo-bungalonya hanya sura musik dangdut. Menu makan kami di restoran MD Resort, ikan bubara yang baru ditangkap di kolam di bawah restoran serta sambal segar ini benar-benar nikmat. harga ikan bubara bakar Rp50.000/ekor, nasi Rp5.000/porsi,Ā  dan teh Rp25.000/teko.
Pulau Osi, Seram

Hari kedua kami di Pulau Osi sengaja bangun agak siang dan baru sarapan pukul 8.00 lebih sebelum berkeliling ke pulau-pulau di sekitar. Benar-benar menikmati kehidupan yang selow dan sepoi-sepoi manjah tanpa kebisingan.

Pulau Osi, Seram

Bunda Hani mencoba es campur ala Pulau Osi yang dijual di dekat lapangan SD Negeri Pulau Osi. Berbaur dengan penduduk lokal seperti ini sangat mengasyikan. Dan markombur setiap kali traveling menjadi ajang mengenal kearifan lokal tempat yang saya datangi.

Pulau Osi, Seram

Menyusuri kampung dengan langir biru dan matahari semakin memanas. Pulau utama yang terletak di ujung jembatan papan yang selalu ramai setiap jam makan siang karena biasanya warga ke Pulau Osi hanya untuk makan ikan dan berwisata yang bukan untuk menginap. Untuk wisata bawah laut, biasanya pengunjung akan menyeberang ke Pulau Marsegu yang terkenal kaya akan biota laut dan tidak jauh dari Pulau osi. Kami sempat nongkrong di salah satu warung di ujung Pulau Osi dengan menikmati semangka dan kelapa muda yang bikin segeer.

Pulau Osi, Seram

Setelah sesi pemotretan keliling pulau di siang yang terik dengan hasil di sini, kami boboci dengan angin semilir yang menghembus masuk ke kamar. Bangun-bangun dalam keadaan lapar sekitar pukul 15.00 dan menuju restauran untuk makan. Kami ditawari menu super bernama Sarimento ini. Mie instan diberi potongan cabai dan tomat segar lalu dicampurkan telur dan diaduk-aduk dan setelahnya ditambahkan telor rebus dan jeruk nipis serta bawang goreng dengan harga Rp20.000/porsi. Enak banget deh.

2016_0501_13450300-01

Menikmati senja di hari kedua karena besok siang harus kembali ke Ambon.
Pulau Osi

Laut dan jembatan papan di sini akan cukup ramai jika senja karena warga yang bekerja akan kembali pulang. Setelah itu kami makan malam ikan bakar lagi seperti malam sebelumnya.
Pulau Osi

Hari terakhir di Pulau Osi sebelum kembali ke Ambon. Bangun agak siang lagi dan langsung menenggak sebotol air putih biar tetap waras dan sehat. Setiap kali traveling, saya selalu membawa botol ini untuk menyimpan air putih. Bunda Hani juga demikian. Kami biasanya membeli air mineral ukuran 1,5 liter kemudian menuangkan dalam botol dan sisanya kami minum dan botol kami buang kalau habis. Setidaknya tidak semakin banyak botol plastik yang kami buang dengan membeli air mineral ukuran kecil atau sedang. Lebih hemat pula kalau makan sudah bawa minum jadi tidak perlu memesan minuman.

Pulau Osi, SeramSetelah sarapan, saya berkeliling di sekitar resor saja dan mengobrol dengan pengelola. Resor ini dimiliki oleh orang asli Pulau Osi yang sudah sukses berkarir di Jakarta sehingga ikut membangun kampung halaman dengan mendirikan resor yang cukup banyak menampung tenaga kerja. Adik imut berbaju jingga ini adalah ponakan pengelola resor yang sedang pulang kampung dari Ambon ke Pulau Osi bersama bapakya.
Pulau Osi, Seram

Saya memutuskan untuk pergi dari resor duluan dan meninggalkan Bunda dan Ida yang masih gegoleran di kamar karena akan foto-foto di sekitar dan mungkin akan jalan kaki menuju gerbang masuk Pulau Osi sembari menunggu Pak Sammy, supir mobil dari Waipirit yang sudah kami minta untuk menjemput kami pada siang nanti. Saya punya ratusan foto jembatan ini dari berbagai sudut. Rasanya ini merupakan tempat paling khas dan heits di Pulau Osi.
Pulau Osi, SeramIndigo Resort dan MD resort di kejauhan.
2016_0502_09560500-01

Beginilah kalau basi banget kapan jalan kapan nulisnya jadi lupa nama-nama tokoh yang saya temui saat perjalanan hampir setahun yang lalu karena catatannya enath di mana. Termasuk sosok Bapak Tua yang penuh pengabdian dan keikhlasan untuk memperbaiki jembatan papan yang lubang, rusak, atau patah ini dengan imbalan hanya Tuhan yang tahu.
2016_0502_11011600-01

Dalam cuaca yang sangat panas tengah hari dan membawa tas punggung yang cukup berat saya berhasil menempuh perjalanan menyusuri jembatan papan hingga sampai gerbang Pulau Osi untuk menunggu Pak Sammy. Sekitar pukul 13.30 Bunda Hani dan Ida sampai juga di gerbang Pulau Osi dan Pak Sammy kemudian juga tiba dengan mobilnya yang katanya sempat mengalami bocor ban. Kami singgah di Kota Piru sejenak untuk makan siang di sebuah RM Padang dengan harga Rp20.000/porsi . Makanan mendunia di seluruh penjuru nusantara. wkwkkwwk
Pulau Osi, Seram

Sekitar pukul 15.15 kami tiba di Pelabuhan Waipirit. Setelah membayar mobil Rp300.00 kami langsung menuju KMP Terubuk yang tak lama lagi akan berangkat.
Pulau Osi, Seram

Laut di sekitar Pelabuhan Waipirit, Seram Bagian Barat.
Pulau Osi, Seram

Dan 1,5 jam kemudian kami akhirnya berlabuh lagi di Liang kermudian meneruskan perjalanan ke Kota Ambon dengan menggunakan bus 3/4 dengan biaya Rp18.000/orang.
Pulau Osi, Seram

Saat melewati Pelabuhan Tulehu, saya sebenarnya ingin menginap di sekitar situ saja karena esok pagi-pagi juga harus kembali ke Tulehu untuk menuju Banda Neira tetapi sepertinya jarang peninapan dan daerahnya juga jarang terdapat tempat makan. Hampir pukul 19.00 kami tiba di sekitar Pasar Batumerah lalu melanjutkan perjalanan menuju penginapan di sekitar Tugu Perdamaian sesuai saran Bebeb Dona dengan menggunakan becak. Yah, banyak sekali penginapan murah meriah di sepanjang Jalan Sam Ratulangi. Kami memilih Penginapan Rejeki. Lumayan lah dekat ke tempat ngopi-ngopi dan banyak tempat makanĀ  di sekitar sini. Mari istirahat untuk menuju Banda Neira esok pagi. xoxo

Pasir Panjang Beberapa Kg yang Lalu

It was a major flashback to September 2012 in Singkawang, West Kalimantan.

In front of Vihara Tri Dharma Bumi Raya Singkawang.

When i was ANTM-wannabe.

Pasir Panjang Beach.

Langit saat itu berwarna abu-abu karena asap kebakaran hutan yang terlihat nyata dengan bau sangit yang cukup menyengat hidung tetapi tidak menghalangi pemotretan di kala senja itu.

Trip di Ujung Rel

Seperti kisah cinta yang lama menggantung dan tak berujung tetapi masih terpendam dan tak terlupakan, mungkin inilah yang terjadi pada tulisan di blogku. Kapan kualami, entah kapan kutulis. Banyak yang lupa, tetapi masih juga banyak yang tersimpan di hati. Termasuk perjalananku ke Tangerang pada Natal tahun 2015 lalu. Erghhhh

Mas W saat itu datang untuk menikmati libur Natal di Jakarta dan ingin wisata kuliner saja sebenarnya. Sehari sebelumnya kami bertemu di Tebet untuk makan di Daeng Tata, lalu ke Kota Tua, dan terakhir ke GI. Saya tiba-tibat teringat Cina Benteng dan klenteng-klenteng tua yang berada di Tangerang yang sempat saya baca di blog, dan akhirnya saya mengajak Nadia untuk trip hemat dan dekat ini. Untuk menuju Tangerang cara hematnya dengan menggunakan KRL dari Bintaro-Tanah Abang-Suri-Tangerang. Pengalaman pertama transit di Stasiun Duri untuk menuju Stasiun Tangerang karena biasanya hanya sampai Tanah Abang saja. Dari Duri ke Tangerang ternyata cukup jauh dan keretanya tidak begitu banyak. Setelah hampir 2 jam akhirnya kami tiba di Stasiun Tangerang.

Stasiun Tangerang

Siang itu cukup panas dan macet sekali di depan Stasiun Tangerang. Kami berjalan menuju gedung yang terlihat seperti mal untuk mendinginkan diri dan mencari minuman. Di gedung yang agak sepi tersebut tidak begitu banyak toko dan tempat makan hanya Robinson yang terlihat paling besar. kami membeli beberapa botol minuman dingin lalu duduk-duduk mendinginkan diri sebentar sebelum pergi menuju Vihara Boen San Bio menggunakan taksi. Yayasan Vihara Nimmala Boen San Bio ini terletak tidak begitu jauh dari stasiun hanya sekitar 1,5 km dan berada di dekat Sungai Cisadane.

Bun San Bio

Kami yang belum pernah masuk ke vihara bertanya kepada penjaga apakah kami diizinkan untuk melihat-lihat ke dalam vihara dan syukurlah diizinkan. Lampion yang banyak dan indah ini menyambut kami memasuki vihara.
Chic in PIK

Di bagian dalam vihara ini sungguh sangat indah. Cukup rindang dan banyak tempat duduk. Terdapat ruangan serbaguna yang sedang digunakan untuk acara pernikahan.

Chic in PIK

Di selasar antara taman dan bagian depan vihara terdapat spot cantik yang bisa dipakai untuk foto-foto ini. Menurut Aroeng Binang, Kelenteng ini dibangun pada tahun 1689 berbentuk empat persegi panjang di atas tanah seluas 1.650 m2 oleh seorang pedagang dari Cina bernama Lim Tau Koen, dan ia menempatkan patung Kim Sing Kong-co Hok Tek Tjeng Sin yang dibawanya dari Banten. Kelenteng Boen San Bio mengalami beberapa kali renovasi, termasuk setelah terjadi kebakaran pada tahun 1998.

Chic in PIK

Dari Kelenteng Boen San Bio, kami kembali menggunakan taksi untuk menuju Kelenteng Boen Tek Bio dengan melewati depan Stasiun Tangerang lagi. Siang itu terdapat beberapa pengalihan jalur karena malamnya akan diadakan panggung hiburan rakyat di Pasar Lama sehingga kami harus memutara dan berjalan beberapa gang sebelum Pasar Lama untuk menuju Boen Tek Bio. Berbeda dengan Boen San Bio yang terletak di pinggir jalan besar, kelenteng ini berada di tengah pemukiman dan harus melewati Jalan Bakti Saham yang penuh dengan pedagang dan hanya bisa dilalui motor untuk mencapainya.

Boen Tek Bio

Menurut Aroeng Binang, Komunitas Tionghoa di Petak Sembilan mendirikan kelenteng ini pada 1684 dalam bentuk yang sangat sederhana dan merupakan kelenteng tertua di Tangerang dan berpengaruh bersama dengan Kelenteng Boen Hay Bio (berdiri 1694) dan Kelenteng Boen San Bio (1689).

Chic in PIK

Pada tahun 1844 kelenteng ini mengalami renovasi dengan mendatangkan ahli bangunan dan kelengkapan kelenteng dari negeri Tiongkok.

Boen Tek Bio 4

Boen Tek Bio berarti tempat ibadah sastra kebajikan.
Boen Tek Bio 3

Keberadaan tempat ibadah ini tidak lepas dari sejarah kedatangan orang Tionghoa di Tangerang pada abad ke-15. Pada 1407, seperti dicatat dalam buku sejarah Sunda Tina Layang Parahyang (Catatan dari Parahyangan), rombongan Tjen Tjie Lung (Halung) dengan tujuh kepala keluarga dan sembilan orang gadis, terdampar di daerah yang sekarang dikenal sebagai Kampung Teluk Naga. Tujuan mereka semula adalah ke Jayakarta.

Pada waktu mereka meminta pertolongan kepada Sanghyang Anggalarang, yang ketika itu menjadi penguasa daerah di bawah Sanghyang Banyak Citra dari Parahyangan, konon para pegawai penguasa jatuh cinta pada gadis-gadis itu. Kesembilan gadis itu pun mereka kawini. Rombongan itu kemudian mendapat sebidang tanah di daerah Kampung Teluk Naga itu.

Boen Tek Bio 2

My partner in crime, Mojang <3

Chic in PIK

Dari Kelenteng kami menyusuri gang menuju Masjid Jami Kalipasir. Kami awalnya tidak menyangka jika masjid berwarna hijau adalah bangunan bersejarah dan termasuk cagar budaya karena nampak seperti masjid atau musala di tengah perkampungan pada umumnya.

Masjid Jami Kalipasir 2

Kami sempat Salat Asar di sini dan duduk-duduk sebentar.

Masjid Jami Kalipasir

Dari masjid, kami kembali menyusuri gang depan Kelenteng Boen Tek Bio menuju Pasar Lama Tangerang di Jalan Kisamaun. Di sepanjang Jalan Kisamaun ini kalau sore banyak sekali warung tenda yang menjajakan berbagai makanan. Kami sempat mencoba es buah dan somay sembari ngadem sejenak.

Pasar Lama 2

Gapura Pasar Lama Tangerang yang megah.

Pasar lama

Gedung Pendopo Kabupaten Tangerang yang indah dan megah di depan Stasiun Tangerang.

Pendopo Tangerang

Kami tiba kembali di Stasiun Tangerang untuk melanjutkan perjalanan ke Pantai Indah Kapuk aka PIK dengan menggunakan KRL hingga stasiun Rawa Buaya dilanjut dengan menggunakan taksi cukup jauh. wkwkkw

Stasiun Tangerang 2

PIK Avenue Mal yang saat itu masih belum selesai dibangun tetapi sudah terlihat akan megah.

Chic in PIK

Tujuan pertama kami ke Martabak Pecenongan 43 yang sudah saya idam-idamkan rasanya. Setelah itu kami berjalan menyusuri ruko-ruko sambil memikirkan tujuan selanjutnya. Ohka, yang sekarang sudah pindah ke Golden Truly, akhirnya menjadi tujuan kami. Ramen di sini enak dan cukup memuaskan bagi saya yang sebenarnya tidak suka ramen. Sayang sekali tempat ini sekarang tinggal menjadi kenangan.

Chic in PIK

Dari Ohka, kami bergeser sedikit ke Shirayuki yang ngehits banget dengan desert cantiknya. Shirayuki ini dulu adalah restauran Jepang bernama Kobacha lalu sekarang juga sudah berganti nama dan bergabung dengan Alu-Alu Seafood. Shirayuki ini selalu ramai dengan anak muda yang nongkrong-nongkrong cantik dengan desert yang harganya lumayan, rasa cukup ok, tetapi sangat instagramable.

Chic in PIK

Kami nongkrong di Shirayuki cukup lama karena menunggu pesanan cukup lama dan lama foto-foto. Sekitar pukul 20.00 kami pun kembali ke Bintaro dengan menggunakan taksi daring. Perjalanan yang lumayan menyenangkan dan hemat tetapi agak boros di makan-makan. šŸ˜€

Bara Bere di Tanjung Bira

Trip ini saya lakukan di bulan April 2016, sekitar 8 bulan lalu yang awalnya hanya untuk ke acara nikahan teman kantor saat akhir pekan dan berubah menjadi trip dadakan ke Tanjung Bira. Saya sudah beli tiket PP ke Makassar berangkat Jumat malam sekitar pukul 22.00 wib dan kembali ke Jakarta dari Makassar hari Minggu malam pukul 20.00an dari bulan Februari dengan harga sekitar Rp1.000.000 lebih sedikit saja. Sudah googling sana-sini masih bingung amau ke mana dengan waktu yang sangat terbatas dan seorang diri tersebut. Kalau harus naik angkutan umum dan berpindah-pindah bakal membuang waktu di jalan, kalau menyewa kendaraan seorang diri bakal cukup mahal. Eh alhamdulillah, pada hari RabuĀ sebelum keberangkatan tiba-tiba ada 2 teman yang mau ikut, si GGS aka Mika dan Kak Ipin. Saya pun segeraĀ menetapkan tujuan utama jalan-jalan ke mana dan bagaimana ke sananya serta bagaimana bisa sampai di Makassar Minggu malam ke acara nikahan teman. Setelah mencoba menghubungi beberapa travel yang menyewakan mobil saya memilih untuk menyewaĀ mobil Mas Ayit (087841486600) dari Bugis Makassar TripĀ dan disepakatilah harga sewa untuk 2 hari sebesar Rp1.300.000 all in. Dihitung 2 hari karena kami mendarat Sabtu dini hari pukul 01.00 dan kembali ke bandara pada Minggu malam.

Tanjung Bira

Saat kami mendarat di Makassar, kami langsung dijemput Pak Alman, supir yang akan membawa kami ke Tanjung Bira. Dengan masih memakai baju kantor kami langsung melaju manja ke Bulukumba di ujung paling bawah Sulawesi yang memerlukan waktu sekitar 4 jam dari Makassar. Saya yang sangat mengantuk (seperti biasa dikorbankan untuk) duduk di samping Pak Alman mencoba tetap terjaga dan berbincang dengan Pak Alman yang terlihat mengantuk juga apalagi kondisi jalan ternyata bagus, walau terkadang naik turun serta cukup jauh, sehingga tentunya membuat supir mudah terlena dan dikhawatirkan tertidur. Sekitar pukul 6.00 pagi kami tiba di Tanjung Bira dan langsung memilihĀ penginapan yang akan kami tempati. Dari beberapa pilihan yang direkomendasikan Pak Alman, kami memilih penginapan yang meskipun tidak berada di bibir pantai tetapi masih dekat dengan pantai dan lumayan bagus serta murah serta hanya akan mengenakan biaya satu malam meskipun kamiĀ early check in.

Sekitar pukul 08.00 wita setelah sedikit beristirahat dan sarapan, kami langsung menuju Pulau Kambing. Kami menyewa kapal yang direkomendasikan pihak penginapan dengan harga Rp550.000 meliputi Pulau kambing, Pulau Liukang, dan Pantai Bara, dan sudah termasuk fin serta google untuk seharian. Pulau Kambing hanya berjarak sekitar 45 menit dari Tanjung Bira. Dinamakan Pulau Kambing konon karena pulau ini sempat menjadi perebutan sehingga untuk menandakan bahwa pulau ada penghuninya dan tidak bisa dikuasai pihak lain maka dipeliharalah beberapa kambing yang kemudian berkembang biak menjadi banyak yang hidup di pulau. Saya sih tidak melihat sendiri kambing-kambing itu karena kami snorkeling di bagian tebing yang tidak dapat digunakan kapal untuk berlabuh.

Tanjung Bira

Pemandangan di atas laut maupun di bawah laut di Pulau Kambing ini AMAZING. Bagussss bangeeeet. Saya sempat hampir satu jam hanya untuk foto-foto dan menyaksikan keindahan di sekitar pulau ini.

Tanjung Bira

Sebelum akhirnya ikut nyemplung kayak si GGS ini.

Tanjung Bira

Tapi tidak menyelam begini karena saya memangĀ  tidak bisa dan tidak berani menyelam. -,-

Palembang

Sekitar pukul 11.00 wita, kami meninggalkan Pulau Kambing untuk menuju Pulau Liukang yang berjarak sekitar 30 menit dari Ā dari Pulau Kambing.

Tanjung BiraPemandangan di Pulau Liukang ini juga sungguh indah.Ā Langit biru, pulau yang hijau, pantai turquoise, laut yang biru.
Tanjung Bira

Pada saat berlabuh, kami penasaran dengan tempat makan yang berada di atas keramba di tengah laut. Untuk menuju keramba tersebut (bangunan dengan atap orange di pojok kiri atas foto di bawah) tidak semudah yang terlihatĀ dan cukup jauh dari tempat kami berlabuh serta terik matahari yang sangat menyengat saat itu. Menggunakan kapal sepertinya menjadi pilihan yang tepat untuk mencapainya. Makanan yang ditawarkan masih lebih bervariasi dan menarik di tempat makan tempat kami berlabuh. Di tempat ini hanya ada pisang goreng, kelapa muda, serta mie goreng dan menu ikan meskipun tempatnya cukup bagus.
Tanjung Bira

Saya memutuskan untuk pergi dulu dari keramba dan menjelajahi perkampungan di pulau ini. Saya kembali menyusuri kampung untuk menuju tempat makan di mana kapal berlabuh.

Tanjung Bira

Tidak disangka ternyata penduduk pulau ini adalah pengrajin tenun khas Bulukumba yang sangat indah. Saya cukup lama berbincang-bincang dengan seorang Ibu penenun yang sedang sibuk menenun sarung. Harga sarung tenun yang ditawarkan saat itu Rp500.000, Rp700.000, dan Rp900.000 tergantung motif dan bahan. Motif yang lebih rumit dan bahan yang mengandung benang emas/prada tentu harganya lebih mahal dibanding yang motif lebih sederhana dan benang perak. Dengan berat hati saya meninggalkan Ibu penenun tanpa hasil karena tidak bisa menawar lebih murah lagi dan kasihan kalau harus dihargai lebih murah. Hemat juga sih aslinya, -.-

Tanjung Bira

Ā Sembari menunggu pesanan makan datang, saya naik sedikit ke bukit. Suka banget gradasi warnanya.

Tanjung Bira

Walaupun aslinya panas gila. šŸ˜

Tanjung Bira

Pesanan sop dan ikan bakar untuk makan siang yang rasanya enak dan porsinya banyak serta lumayan murah.

Tanjung Bira
Dari Pulau Liukang, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Bara yang sebenarnya sederetan dnegan Tanjung Bira tetapi letaknya agak masuk. Pantai ini terlihat panjang dan landai denganĀ butiran pasir yang putih dan halus. Ada beberapa penginapan yang terlihat sepi, damai, dan bagus yang sepertinya dikelola serta ditempati orang asing.

Tanjung Bira

Dan akhirnya kami kembali ke Tanjung Bira untuk menikmati sunset dengan sebotol minuman ringan di Hakuna Matata Resort. Resor ini berada di pinggir tebing dan langsung mengarah ke pantai. Selain Hakunan Matata juga ada Amatoa Resort di sebelahnya yang perlu mengeluarkan uang lebih dari Rp1 juta per malam untuk menginap.
Tanjung Bira

Kita cukup membeli minuman atau makan di restauran resor ini tanpa harus menginap dan bisa menikmati pemandangan matahari terbenam dari tempat terbaiknya di Tanjung Bira.
Tanjung BiraSetelah puas menikmati sunset, kami melanjutkan berkeliling untuk mencari makan malam. Awalnya sih mengincar mau makan malam di salah satu resto berbentuk kapal laut tetapi ternyata sudah dipesan untuk acara sehingga kami harus mencari tempat lain. Beberapa rumah makan di sekitar pantai ternyata juga sudah dipesan atau penuh sehingga kami berjalan ke arah jalan utama dan mencari tempat makan yang kira-kira tepat. Dan akhirnya kami makan ini. Di sekitar jalan utama menuju Tanjung Bira dipenuhi penjual oleh-oleh yang didominasi aneka emping dan kerupuk nasi dengan harga yang sangat terjangkau.
Tanjung BiraMalam minggu kami lanjutkan di kamar masing-masing sambil menikmati kebisingan dangdut, karaoke, ceramh, hingga doa bersama hingga tengah malam dari penginapan sebelah yang sedang dipakai untuk acara anak SMA yang akan lulus. Walaupun bising tapi kami tidur lumayan nyenyak kok wkwkkw.

Minggu pagi setelah sarapan kami langsung meninggalkan penginapan dan menuju Pantai Apparalang yang menurut google sedang heits. Biaya retribusi saat itu hanya Rp2.000 per orang dan fasilitas masih minim tetapi pemandangan yang menakjubkan. Ini adalah bagian pertama yang berada di dekat parkiran. Terdapat tangga yang baru dan sedang dibangun untuk menuruni tebing hingga mencapai air laut. Di bagian ini saja sudah terpukau lho.

Tanjung Bira

Beranjak ke bagian lain pantai, di sini terdapat bagian untuk nyemplung-nyemplung ke air dengan menuruni tangga yang yang cukup tinggi dan dibagi 2 tingkat. Agak seram juga tentunya tetapi banyak yang mau mencobanya. Cuaca di sekitar pantai ini cukup mudah berganti-ganti, seperti saat itu dari mendung tiba-tiba cerah lalu mendung lagi. Bagusnya sih saat matahari benar-benar bersinar terang sehingga langit biru dan airnya tampak cetar membahana nan indah.
Tanjung Bira

Dan saya benar-benar terpukau dengan Ā perpaduan langit, tebing, dan gradasi warna air laut yang cetar membahana di bagian lain pantai ini. Pantai seindah ini akan sangat ramai dan menjadi kotor dan penuh dengan perusakan yang dilakukan oleh pengunjung jika berada di tempat yang mudah dijangkau dan ramai, misal di Pulau Jawa -.-.

Tanjung Bira

Dari Apparalang, kami melanjutkan perjalanan ke Kampung Tana Beru yang merupakan kampung pembuat kapal pinisi yang berada di pesisir tidak begitu jauh dari Tanjung Bira. Saya terkagum-kagum dengan betapa banyak pembuat kapal pinisi serta betapa besar ukuran kapal yang dibuat. Katanya kapal-kapal yang dibuat itu sudah ada yang pesan karena biaya produksi yang sangat besar dan waktu pembuatan bisa setahun atau lebih serta harganya bisa mencapai miliaran rupiah. Dan saya melihat beberapa bule yang sedang melihat progres kapal yang sudah dia pesan.Ā Ritual yang dilakukan juga cukup banyak mulai dari saat akan dimulai pengerjaan hingga saat selesai pengerjaan untuk mendorong kapal pelan-pelan masuk ke laut yang membutuhkan waktu hingga sebulan. Mahakarya anak negeri banget.

Tanjung Bira

Islamic Center Dato’ Tiro, Bulukumba yang megah dan indah.

Tanjung Bira

Beginilah pemandangan kanan kiri jalan yang begitu Indah di sekitar Jeneponto saat menuju Makassar

Tanjung Bira

Kami mampir untuk makan siang coto kuda di Coto Turatea Belokallong di Jeneponto. Awalnya sih agak-agak ngeri gitu mau makan daging kuda, tapi pas sudah mencicipi sih lumayan enak cuma agak bau besi gitu ternyata daging kuda itu. Ketupat 2 buah, semangkok coto yang penuh kolesterol dan lemak serta sebungkus emping pun ludes dalam sekejap. #crytapinikmat

Tanjung Bira

Kami juga sempat mencicipi kue putu cangkir yang banyak dijajakan di pinggir jalan di daerah Gowa.
Tanjung Bira

Di Gowa, saya menghubungi teman lama saya, Bu Uchi dan Pak Kasman, dan mengajak ketemuan makan saat nanti sudah tiba di Makassar. Dan kami pun mampir ke Museum Balla Lompoa yang cukup luas dan terletak di jalan utama sehingga cukup ramai.

Tanjung Bira

Sesampainya di Makassar, kami makan sore dan cemal-cemil cantik di RM Muda Mudi. Jalangkote, lumpia, kroket dan pisang ijo di sini enaaaakkkk… Udah gitu dibayarin pula, jadi makin enak… Makasih Bu Uchi dan Pak Kasman…
Tanjung Bira

Tidak lengkap ke satu kota tanpa belanja kain khasnya, apalagi setelah gagal mendapatkan tenun Bulukumba. Ā Sesuai rekomendasi Uchi, kami mengunjungi Toko KeradjinanĀ untuk membeli oleh-oleh dan kain. Saya khilaf membeli aneka kain tenun khas Makassar sekalian untuk keluarga besar saat lebaran serta untuk kado nikahan teman.

Tanjung Bira

Pantai Losari letaknya tidak begitu jauh dari Toko Keradjinan dan kami menyempatkan diri untuk sekadar foto-foto serta menikmati pisang epe yang enaaaaakk dan murah tentunya. Seporsi sekitar Rp10.000. Jangan lupa minumnya saraba, semacam kopi susumahe khas Sulawesi.

Tanjung Bira

Hujan besar mengguyur Makassar saat kami selesai menikmati pisang epe dan akan meluncur ke tempat kondangan kawan yang merupakan bukan tujuan utama trip kali ini. Selamat untuk Arfah yang akhirnya mengakhiri masa lajangnya dengan mempersunting Mbak Cantik.

IMG-20160410-WA0011

Kami buru-buru foto dan meluncur ke bandara karena jadwal pesawat yang mepet dan ternyata tol menuju bandara sangat macet karena sedang ada pembuatan underpass di simpang lima dekat bandara. Tapi syukurlah kami masih bisa tiba di bandara di detik-detik terakhir diperbolehkan check in. Dan alhamdulillah saya boleh bawa tas keril saya yang sudah terisi penuh kain puluhan meter, walau sudah saya titipkan Kak Ipin dan GGS juga sebagian, boleh dibawa langsung ke pesawat tanpa harus dimasukkan bagasi.

\(*.*)/

Merana dan Gerhana

Gerhana Jembatan Ampera Palembang

Pengalaman yang sudahĀ  berbulan-bulan lalu yang juga baru sempat saya tulis nih. Gak papa lah ya buat kenang-kenangan mumpung catatan singkatnya masih ada. Akhir bulan Januari 2016 saat mengetahui akan ada gerhana matahari total yang melintasi beberapa kota di Indonesia seperti Palu, Ternate, Palembang, langsung saya terfikir untuk ke Palembang saja. Kota yang tidak begitu jauh dari Jakarta dan sudah beberapa kali saya kunjungi ini merupakan salah satu tujuan kuliner (dan belaja kain) favorit saya. Saya mendapatkan tiket PP sekitar Rp600.000 dengan si singa merah viat tiket.com sekitar 1,5 bulan sebelum keberangkatan. Lumayan lah walaupun saya pernah mendapatkan tiket promo yang lebih murah dari Garuda Rp500.000 PP pada tahun 2012 lalu.

Bunda Hani dan Nadya tertarik untuk mengikuti trip kilat dan cuma semalam serta di tengah pekan kali ini. Bunda Hani mempunyai Paklik yang sedang bertugas di sana sehingga mau sekalian mengunjungi, sedangkan Nadya mempunyai masa lalu kuliah di Palembang sehingga ingin bernostalgia.

Palembang

Beberapa hari sebelum keberangkatan, kabar baik tiba dari Bunda Hani yang ternyata Pakliknya akan menjamu kami mulai dari menyediakan penginapan hingga mobil dan supirnya untuk kami. Alhamdu…lillah…

Bandara Soetta

Saat mendarat di Pelembang, supir Pakliknya Bunda Hani menyambut di parkiran bandara dan langsung membawa kami ke Martabak Har dekat Masjid Agung untuk makan malam. Suka banget Martabak Har dan selalu rela menampung seporsi martabak yang tebal nikmat dengan kuah yang pekat kental berrempah dan penuh lemak ini.

Gerhana Matahari Palembang

Tidak lupa kami foto-foto di sekitaran air mancur dan Masjid Agung.

Gerhana Matahari Palembang

Dulu air mancur ini warna-warni tapi sekarang (atau pada saat kami ke situ saja) warnanya tidak berganti-ganti?

Gerhana Matahari Palembang

Menikmati pemndangan Jembatan Ampera saat malam hari dari Benteng Kuto Besak adalah mandatori setiap orang yang berkunjung ke kota pempek ini. Bagitu pun saya yang untuk ke sekian kali menikmati pemandangan Jembatan Ampera ini. Malam itu begitu banyak warga yang memang sudah mengikuti rangkaian acara yang diadakan dari siang harinya dan puncaknya akan dilaksanakan dengan penutupan Jembatan Ampera untuk kegiatan nonton gerhana bareng.

Gerhana Matahari Palembang

Jembatan Ampera lebih dekat dari tempat kami memarkir mobil.

Gerhana Matahari Palembang

Hampir tengah malam kami menuju Hotel ClassieĀ yang sudah dipesankan oleh Pakliknya Bunda Hani. Saat kami mauĀ check in, Bunda Hani baru menyadari bahwa dompetnya yang berisi uang dan beraneka kartu hilang entah di mana. Sudah mencari di semua bagian tas dan mobil tetapi tidak ada juga hingga kami menyusuri kembali ke Martabak Har, air mancur hingga pinggir Sungai Musi di depan Benteng Kuto Besak tetapi hasilnya nihil. Dan akhirnya Bunda Hani hanya bisa merelakan dompetnya hilang dan kami memutuskan untuk kembali saja ke hotel dan beristirahat.

Sudah hampir pukul 1 dini hari akhirnya saya bisa masuk ke dalam kamar Hotel Classie yang nyaman dan gratis ini, tetapi masih kepikiran dompet Bunda yang hilang. šŸ™

Palembang

Pagi harinya sekitar pukul 6.00, dengan kondisi masih sangat mengantuk, kami sudah dijemput Pak Supir untuk berangkat ke sekitar Masjid Agung menunggu saat gerhana matahari total. Keadaan Palembang pagi itu sangat luar biasa macet karena semua orang menuju titik kumpul yang sama di sekitar Jembatan Ampera. Setelah mendapatkan tempat parkir yang tidak begitu jauh dari Martabak Har, kami kembali menikmati martabak itu lagi untuk sarapan dan kali ini sudah disambut oleh Paklik dan Buliknya Bunda Hani. Dua porsi martabak dalam waktu kurang dari delapan jam. #pffft

Palembang

Dan beginilah suasana gerhana total yang tertutup mendung sekitar pukul 07.15 pagi itu. Jujur saya agak takut dan merinding saat gelap total ini bukan karena gelapnya tetapi karena takjub dengan keadaan yang tiba-tiba gelap gulita serasa maghrib. Suara takbir orang-orang di sekitar saya juga membuat semakin merinding dan mengingatkan betapa besar kuasa-Nya. Beberapa menit yang tak akan terlupa.

Gerhana Matahari Palembang

Setelah matahari kembali terlihat, tampaklah puluhan ribu warga yang mulai berjalan meninggalkan Jembatan Ampera menuju arah air mancur. (((ITU ORANG SEMUA)))

Palembang

Terlihat banyak pejabat, artis, sosialita, dan wartawan yang juga berada di jembatan ini entah dari jam berapa dan mulai meninggalkan jembatan. Dan beginilah saat Ampera sudah mulai sepi.

Gerhana Matahari Palembang

Saat kembali ke sekitar air mancur, ada si bapak polisi ganteng ini yang sedang bertugas.

Palembang

Pfffttt sedang mereviu foto-foto bapak polisi ganteng.

Palembang

Dan ada polisi ganteng lain yang terlihat masih muda. Fokus. Fokus. LOL.

Palembang

Kami pun mengakhiri foto-foto Pak polisi dan memutuskan kembali ke parkiran. Di sinilah di antara ruko-ruko tua kami memarkir mobil yang pada pagi hari tadi sangat penuh sesak kendaraan.

Palembang

Selanjutnya kami menuju tempat favorit saya di Palembang, Pasar Kito yang berada di kompleks Ramayana di dekat Palembang Indah Mal. Saya mempunyai beberapa langganan untuk mencari jumputan maupun songket dan selalu khilaf pada saat ke pasar ini.

Palembang

Songket warna-warni yang sangat indah ini harganya kurang dari Rp2.000.000 dan masih bisa ditawar. Haute Couture.

Gerhana Matahari Palembang

#NoCaptionNeeded

Gerhana Matahari Palembang

When you are feeling hot outside but you need to show the world your fabulous fabric.

Palembang

Setelah kalap membeli puluhan helai jumputan yang harganya murah meriah dari Rp50.000 per lembar (2 meter) hingga titipan songket, kami menuju Pempek Vico dengan berjalan kaki. Sayang sungguh sayang, Vico baru buka dan masih banyak menu yang yang belum tersedia seperti pistel, otak-otak, es kacang merah bahkan mie ayam favorit saya pun belum ada. Akhirnya kami pun hanya menikmati beberapa buah pempek adaan lalu kembali ke hotel untuk berkemas karena sudah hampir jam 11.30. Setibanya di hotel, kami segera beberes dan mandi tetapi ujung-ujungnya check out sudah hampir pukul 13.00 tetapi untuk tidak didenda. šŸ˜€

Karena belum membeli pempek untuk oleh-oleh, kami mampir ke Pempek Beringin yang letaknya di dekat hotel.

Gerhana Matahari Palembang

Tempatnya terlihat nyaman pada saat kami masuk. Kami pun langsung memilih-milih pempek maupun makanna lain untuk kami santap. Tak lupa memesan es kacang merah yang belum terpenuhi di Vico. Ada 1 rombongan lain sepertinya orang dari Jawa Timur yang sedang berada di sini dan datangnya hampir bersamaan dengan kami. Sembari menunggu pempek digoreng, kami menuju tempat pemesanan pempek untuk oleh-oleh yang berada di dekat pintu masuk. Kami memesan beberapa kotak pempek untuk menjadi buah tangan dan saat itu sudah dicatat untuk segera dibungkus.

Kembali ke meja dan pempek baru saja datang, kami pun segera menikmati pempek dengan cuko dan otak-otak yang rasanya enaaak. Saya kemudian menuju tempat pengambilan pempek dan menanyakan di mana minuman kami kok belum datang karena ada teman yang mulai makan pempek dan kepedasan. Katanya sih sebentar lagi siap dan saya pun diminta kembali ke meja. Sudah beberapa menit tetapi minuman kami pun belum jadi dan saya pun kembali ke depan untuk menanyakan. Eh bukannya sudah jadi, malah dibilang kalau ternyata kacang merah maupun kelapa muda yang kami pesan sedang tidak ada. Lah… bukannya ngomong dari tadi malah baru ngomong sekarang setelah 2 kali ditanya. Akhirnya saya mengambil langsung air putih dalam kemasan botol dan membanwanya ke meja sambil menggerutu dan menyampaikan kepada Bunda dan Nadya serta Pak Supir. Kami segera menyelesaikan makan pempek yang sebenarnya enak tetapi layanannya yang kurang memuaskan ini dan menuju ke tempat pengemasan pempek untuk dibawa ke Jakarta sekaligus membayar. Saat menyampaikan kepada kasir yang sekaligus sepertinya pemilik, bahwa kami sudah selesai makan dan akan membayar termasuk pempek yang tadi sudah dipesan untuk dikemas dalam kotak eh kok ternyata pesanan kami belum ada dan mas yang menulis pesanan tadi sudah tidak di tempat dan mas yang sekarang bertugas mengemas di situ tidak tahu apa-apa. D’oh… akhirnya memuncaklah kemarahan saya yang sudah 2 kali kecewa dengan pelayanan tempat ini. Saya bilang bahwa kami kecewa dengan pelayanan di sini dan sudah tidak perlu dibungkuskan karena kami buru-buru mau ke bandara dan tidak ada waktu menunggu dibungkuskan lagi. Saya segera membayar dan kami pun pergi dari sini. I don’t like drama but drama loves me wherever i go.

Gerhana Matahari Palembang

Kami selanjutnya menuju kantor polisi yang letaknya juga tidak begitu jauh dari hotel untuk membuat suratĀ  keterangan kehilangan dompet dan kartu-kartu Bunda. Di kantor, yang sebenarnya lebih tepat disebut pos polisi tersebut, hanya ada seorang Bapak Polisi sudah tua dan mungkin hampir pensiun yang berjaga. Kami menyampaikan maksud kami dan tak disangka layanannya sungguh luar biasa. Dengan diselingi sedikit guyonan dan tanya mengenai asal kami dan kronologis kehilangan, surat keterangan pun sudah diterbitkan dan ditandatangani. Terima kasih, Pak.

Karena layanan yang singkat cepat dan memuaskan dari pak Polisi, maka kami masih ada waktu untuk mampir mencari pempek di Jalan Mujahidin Pasar 26 Ilir di belakang Mie Celor 26 HM Syafei. Di sepanjang jalan ini banyak pempek dengan cuko yang murah dan enak yang harganya hanya Rp1000 per buah. Favorit saya sih Pempek Hesty. Biasanya saya beli pempek Hesty dan dibungkus plastik dengan cukonya lalu disobek bagian bawah plastik dan memakan pempek dari sobekan tersebut seperti makan cilok di Jawa. Sayang sore itu karena Pempek Hasty terlihat lumayan penuh dengan mobil yang berderet di depannya, maka kami mencari pempek lain yang lebih sepi biar bisa segera membungkus untuk dibawa ke Jakarta. Kami pun mampir di salah satu warung pempek dan membeli pempek hanya dengan harga Rp100.000 mendapat 100 buah pempek sekaligus cuko yang enak. Kami juga sempat menikmati pempek dan es kacang merah di situ. Mungkin ini hikmah gagal memesan pempek tadi karena kalau di toko pempek yang sudah punya nama, pempek 1 buah harganya sekitar Rp4.000 padahal kalau oleh-oleh kantor sih dibawakan saja sudah bagus, apalagi ini bukan perjalanan dinas yang lebih agak wajib membawa oleh-oleh. Dan saya juga bukan tipe yang suka membawakan oleh-oleh atau pun meminta oleh-oleh. Kalau nitip sih kadang-kadang asal tidak merepotkan.

Palembang

Dari Pasar 26 Ilir, kami melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi rumah dinas Pakliknya Bunda di pinggiran kota Palembang sekaligus menyerahkan talas yang semalam sempat dipertanyakan pihak keamanan bandara karena saat dipindai di dalam tas saya terlihat aneh. Hohoho iyalah, 4 buah talas bogor dengan batang kira-kira 30cm masuk ke dalam tas keril saya yang hanya berisi sedikit pakaian karena mau saya isi kain yang saya beli di Pasar Kito. šŸ˜€

Setelah duduk-duduk bercengkerama dengan Paklik dan Bulik Bunda serta menikmati pempek enak banget yang disajikan dan enath merek apa, kami pun pamit dan segera bergegas ke bandara. Tak disangka di bandara bertemu Jeng Ria, teman yang sudah beberapa tahun tak jumpa, yang berangkat pagi dan sore sudah balik serta tidak kebagian gerhana dan malah ke Pulau Kemarau. Ternyata lebih singkat kunjungannya di palembang daripada kami.

Gerhana Jembatan Ampera Palembang

Terima kasih untuk Pakliknya Bunda, yang sekarang sudah pindah ke Jakarta, yang sudah menjamu kami. Dan sampai jumpa lagi Palembang tahun depan.