Semalam di KM Cengkih Afo

 Setelah memegang tiket kelas bisnis KM Cengkih Afo, kami masuk kapal yang saat itu masih sepi. Akan tetapi, karena AC belum dihidupkan dan kapal yang agak bergoyang-goyang maka kami kemudian turun lagi untuk ngeteh di sebuah warung yang banyak digunakan oleh para pekerja dan ABK di Pelabuhan Penyeberangan Gorontalo.

Cengkih Afo (1)

Saat waktu menunjukkan pukul 17 wita, kami kembali mendekati kapal untuk duduk-duduk saja di depan pintu masuk kapal. Dan baru sekitar pukul 18.00 wita kami kembali masuk ke kapal dan duduk di kursi tempat kami meletakkan tas. Baru duduk sebentar, saya memutuskan untuk naik ke buritan kapal melalui ruang ABK dan mengambil foto senja. Cantik kali ternyata pelabuhan yang sangat panas di siang hari.

Gorontalo (23)

Dari sisi buritan sebelah yang menghadap lautan nampak kapal-kapal nelayan dengan lampu warna-warninya yang sepertinya akan berangkat melaut.
Gorontalo (24)

Sekitar pukul 18.30 wita di saat kami sudah berkumpul dan duduk ayem di kursi dan saya bersiap makan malam, tiba-tiba Bu Joko diajak ngobrol seorang bapak yang duduk di belakang kami. Dia bertanya kami akan ke mana, apakah pertama kali datang ke Togean, mau menginap di mana, kapan balik, dsb. Enak sih si sepertinya cara berkomunikasi bapak ini. Akhirnya setelah selesai makan, saya nimbrung obrolan mereka dan baru mengetahui kalau si bapak ini seorang free lance yang baru saja mengantar bule pelatih menyelam di salah satu resor untuk mengurus perpanjangan izin tinggal atau apa gitu di Kantor Imigrasi Gorontalo. Si Bapak kemudian bilang kalau Togean itu semuanya indah, jadi mau menginap di mana saja semuanya indah. Dan terkait jadwal kepulangan yang kami rencanakan di hari Sabtu, si bapak bilang bahwa kapal tidak ada di hari Sabtu sehingga kemungkinan kami harus menyewa kapal ke Pelabuhan Ampana di hari itu.

Saya sebelumnya telah menyusun rencana perjalanan ke Togean dari membuat daftar perbandingan harga, fasilitas, dan komentar pengunjung resor, serta mencari informasi tentang jadwal kapal, pesawat, dan ada apa saja di Togean. Setelah melalui perang batin yang cukup panjang, saya akhirnya melakukan komunikasi melalui surel aka email secara intensif dengan Ales, bule pengelola Waleakodi Sifa Resort, yang menurut hasil riset saya di internet merupakan pilihan yang paling sesuai dengan keinginan dan bujet kami. Menurut revisi rencana perjalanan yang saya rencanakan terkait perubahan jadwal kapal karena perbaikan Kapal Tuna Tomini, jika kami tiba di Wakai hari Selasa pagi maka kami akan melanjutkan dengan menggunakan kapal umum menuju Pelabuhan Malenge sebelum dijemput kapal resor menuju Sifa Cottage. Saya rencanakan untuk tinggal di Sifa hingga hari Kamis lalu pindah ke Poya Lisa lalu pada Sabtu pagi baru menuju Ampana. Saya juga sempat menghubungi Pak Edi dari Ampana Travel yang berkedudukan di Pelabuhan Ampana di nomor 082349951833, yang merupakan penghubung jika kita ingin menginap di Poya Lisa, Marina, serta Lestari Resort karena keterbatasan sinyal telepon di Togean. Pak Edi menawari saya sewa kapal selama 4 hari selama dari saat tiba di Togean, ke Sifa Cottage, island hopping, pindah ke Poya Lisa, mengantar kami ke Tanjung Api hingga ke Pelabuhan Ampana. Paket yang ditawarkan Pak Edi sebenarnya sangat terjangkau asalkan kami berjumlah sekitar 10 orang, akan tetapi kami hanya bertiga, bagaimana dong. Saya sempat membuka open trip di kaskus, twitter, dan coachsurfing tetapi cukup mendadak hanya dalam kurun waktu seminggu sebelum keberangkatan sehingga tidak mendapat tambahan teman untuk berbagi biaya. Walhasil, saya, Bu Joko dan Bunda Hani memutuskan untuk tidak menerima tawaran Pak Edi dan memilih akan ngeteng dengan kapal umum saja.

Cengkih Afo (2)

Kembali tentang saran si bapak di kapal, saya yang pusing pala barbie tentang jadwal kami di Togean jika tidak ada kapal di hari Sabtu selama Tuna Tomini perbaikan dan tidak ada kapal umum ke Ampana pada hari Jumat memutuskan untuk mencari second opinion dari ABK yang sudah beberapa kali saya ajak ngobrol sejak pagi tadi pertama ke kapal. Dari hasil diskusi tersebut ternyata rencana perjalanan yang saya buat ada yang melenceng di mana untuk keberangkatan ke Togean saya menggunakan jadwal kapal terbaru yang dikirimi Ales beberapa hari sebelum keberangkatan, sedang untuk jadwal ke Ampana saya masih memakai jadwal kapal lama. Dengan kondisi tersebut memang kami akan tiba lebih cepat di Wakai, Togean pada hari Selasa pagi dengan KM Cengkih Afo, berbeda dengan jadwal KM Tuna Tomini yang akan berlabuh di Wakai pada Rabu pagi, akan tetapi kapan dan bagaimana cara kami ke luar Togean menuju Ampana dengan hemat jika tidak ada kapal umum pada hari Sabtu.

Cengkih Afo (3)

Saya kembali ke kursi dan kembali mengikuti pembicaraan Bu Joko dan si bapak. I told him that i realized my mistake about the old and new ferry schedule. Then i, Bu Joko, and Bunda Hani reached a decision to move to Black Marlin Resort (BM) which is close enough to Wakai harbour. Si Bapak yang sejak mengetahui kami mau ke Sifa sudah bilang kalau Sifa itu jauh sehingga membuang-buang waktu kami untuk berpindah-pindah pulau dan kapal, berbeda dengan Black Marlin yang letaknya lebih strategis tersenyum menyeringai. Walaupun si bapak habis mengantar 2 bule pelatih selam di BM untuk mengurus dokumen di Imigrasi Gorontalo, dia bilang bukan agen BM dan free lance membantu turis-turis, dan dia akan melanjutkan perjalanan ke Ampana di mana dia sekarang mengurus bisnis tournya. Dia bertanya kepada 2 bule dari BM tentang ketersediaan kamar di sana dan mereka bilang ada sehingga kami bisa menginap di sana. Sehubungan perubahan tempat menginap dadakan tersebut dan mumpung masih ada koneksi data, maka saya segera mengirim surel ke Ales untuk memberitahunya bahwa kami tidak jadi menginap di Sifa karena alasan ketersediaan kapal sehubungan dengan perbaikan KM Tuna Tomini. Surel terkirim sesaat sebelum kapal mulai meninggalkan pelabuhan pada pukul 20.15 wita di mana saat itu ada mas ABK yang menunjukkan cara pemakaian pelampung layaknya pramugari pesawat. Pertama kali melihat adegan seperti ini karena pada saat naik kapal dari Gunung Sitoli ke Sibolga atau dari Merak ke Lampung saya tidak mendapati adegan seperti ini.
Gorontalo (25)

Bunda dan Bu Joko yang sudah terlelap walaupun belum menyantap makan malam yang sudah kami beli di Gorontalo. Si Bunda takut mabok seperti di travel dari Manado ke Gotontalo. Kebetulan keadaan penumpang kapal malam itu tidak terlalu penuh yang mungkin disebabkan banyaknya calon penumpang yang tidak mengetahui perubahan jadwal kapal. Kami bisa selonjoran tidur.
Gorontalo (22)

Keesokan harinya saya sudah bangun sekitar pukul 5.30 dan langsung ke buritan kapal lewat ruang ABK lagi. Sebenarnya ada tangga ke buritan dan ruang penumpang ekonomi di belakang ruang penumpang bisnis akan tetapi pintunya agak rusak sehingga dikunci.
Togean (6)

I wish you were here and we made a homage to the infamous Titanic’s scene. You know, what i mean is neither the drawing nor the in the car scene, but the Im-flying scene when Leo hugged Kate from behind. ūüėÄ
Togean (5)

When i was so mandele, this beautiful German lady who just visited Bawean Island for about 10 days. I have never been to the island and that was her second visit after last year.

Cengkih Afo (5)

Colorful boat.

Cengkih Afo (6)
Naik-naik sampai ke bagian atap kapal segala.
Togean (8)
Dan akhirnya kami melihat pulau-pulau kecil di Togean kemudian kapal cepat BM melintas untuk menjemput kami dari pelabuhan Wakai menuju resor bersama 2 bule pelatih selamnya serta David, Jan, Michael.
Togean (7)

Go Go Let’s Go to Gorontalo

Minggu sore menjelang Maghrib itu,  dengan menggunakan Travel Garuda (081340041128) yang telah kami hubungi pada Sabtu malam saat berada di rumah Ika, kami menuju Gorontalo dari Manado.. Travel Garuda banyak jenisnya di Manado tinggal pilih saja mau dan dapat yang mana. Jenis mobil sih beda-beda tipis antara Xenia, Avanza, gitu-gitu lah. Tersedia jadwal keberangkatan dari Manado pukul 8.00, 10.00, dan 14.00 untuk hari Senin-Sabtu, dan jadwal tambahan pada pukul 16.00 dan 18.00 khusus hari Minggu atau setelah libur panjang. Biaya travel Manado ke Gorontalo dibedakan dari posisi kursi kita, untuk posisi duduk di samping kursi harganya Rp200.000, untuk kursi di deret tengah, seperti kami saat itu, seharga Rp175.000, dan kursi di deret belakang Rp150.000.

Awalnya kami ingin langsung diantar ke pelabuhan saat tiba di Gorontalo, tetapi apa daya karena perjalanan yang berkelak-kelok walaupun jalannya halus dan mulus, ditambah Bunda yang mabok maka kami memutuskan untuk menginap di Hotel New Melati, Gorontalo. Tarif hotel ini sangat bersahabat bagi backpacker, seperti kamar kami yang tarifnya Rp130.000 per malam dengan 2 kasur, kamar mandi dalam, kipas angin, dan ruangan yang bersih. Kami tiba di hotel ini sekitar pukul 2 dini hari setelah sebelumnya mengantar Clay dan Ibunya dulu ke dekat Limboto baru meluncur ke kota. Ada beberapa hotel juga di Jalan Ahmad Yani, Gorontalo, tetapi terlihat tarifnya pasti di atas Hotel New Melati  sehingga kami memutuskan untuk menginap di hotel yang terletak di Jalan Walter Monginsidi, dekat Kantor Walikota dan Lapangan Nani Wartabone ini.

Gorontalo (4)

Sekitar pukul 6.30 saya jalan-jalan ke Lapangan Nani Wartabone yang berada di seberang hotel. Lapangannya cukup bersih walaupun ada beberapa pedagang yang menjual air minum di situ yang justru ikut membantu menyapu sebagian lapangan di sekitar lokasi dia berjualan.

Gorontalo (26)

Setelah duduk-duduk di lapangan dan mengobrol dengan seorang ibu penjual minuman, saya menuju Warung Nasi Kuning Gorontalo “Sukarame” yang berada di belakang Kantor Wali¬†Kota Gorontalo. Warung ini walaupun sepertinya hanya terletak di samping rumah tetapi ramai pembeli. Anda bisa memesan makanan di warung ini dengan menghubungi 085298153451. Nasi kuning komplit dengan rempeyek dan kuah serta telur rebus ini seharga kurang dari Rp30.000. Rasanya endeeuuusss… muachhh.
Gorontalo (5)

Setelah kenyang sarapan, saya jalan-jalan di sekitar Jalan Ahmad Yani. Foto sana-sini lalu melaksanakan misi utama untuk pergi ke Pelabuhan Gorontalo untuk membeli tiket kapal ke Togean. Saya bertemu dengan seorang pengemudi bentor, Pak Ryan (082346837054), yang saya minta untuk mengantar saya ke pelabuhan dan sekalian berkeliling hari itu. Gorontalo adalah kota bentor, barangkali ada ribuan bentor tersebar di seluruh penjuru kota ini. Patokan tarif bentor di sini juga murah meriah dan bisa ditawar. Oughh… my¬†face. ūüėÄ
Gorontalo (8)

Melewati Jembatan Talumolo yang merupakan penghubung 2 bagian Gorontalo yang dipisahkan Sungai Bone.
Gorontalo (6)

Waktu tempuh dengan bentor dari kota ke pelabuhan sekitar 30 menit dengan pemandangan yang luar biasa indah melewati pinggir laut di Jalan Trans Sulawesi. Saat tiba di Pelabuhan Penyeberangan Gorontalo, saya disambut baliho penyambutan Ignasius Jonan yang sepertinya beberapa saat yang lalu datang ke tempat yang sedang dalam pembangunan ini. Kemudian saya ke loket tiket, tetapi ternyata loket masih tutup. Usut punya usut dengan bertanya kepada bapak-bapak pejabat pelabuhan di salah satu ruang kantor, ternyata loket tiket baru akan dibuka pukul 15.00 wita. Yaksip.

Agar tidak kembali dengan tangan kosong, saya akhirnya melihat-lihat Kapal Cengkih Afo dari dekat lalu minta izin kepada ABK atau semacam manajer kapal untuk masuk dan foto-foto di kapal yang sedang membongkar muatan yang dibawa dari Ampana. Pagi itu ternyata merupakan kali pertama kapal ini berlabuh di Gorontalo untuk menggantikan Kapal Touna Tomini yang merupakan kapal utama yang menyeberangkan penumpang dari Gorontalo, Wakai di Togean, hingga Ampana dan sebaliknya, yang sedang diperbaiki hingga sekitar awal Juni. KM Cengkih Afo ini biasanya melayani rute dari pelabuhan Bumbulan di Paguat menuju Dolong lalu Ampana dan sebaliknya. Muatan utama Kapal Cengkih Afo ternyata adalah jagung pipil kering dari Ampana. Konon jagung Gorontalo yang terkenal juga ternyata banyak yang disuplai dari daerah sekitar Ampana yang dikirim dengan memakai kapal seperti yang saya lihat pagi itu.

Saya puas mengelilingi kapal pagi itu karena bisa melihat kapal yang sedang dibersihkan, jadi teringat kapal Teratai Marin di Manado, dari bagian geladak, buritan, anjungan, kursi penumpang bisnis dan penumpang ekonomi, hingga tempat ABK. Saya juga sempat bertanya kepada ABK dan bapak manajer tentang harga sewa kamar, yang biasanya merupakan kamar ABK, tetapi mereka tidak ada yang tahu karena biasanya ditentukan oleh agen perjalanan yang membawa bule. Karena saya pikir sudah cukup, maka saya mengajak Pak Ryan untuk kembali ke kota saja.
Gorontalo (11)

Beginilah pemandangan di jalan dari arah Pelabuhan ke Kota Gorontalo atau sebaliknya.
Gorontalo (12)

Pelabuhan bongkar muat peti kemas yang berada beberapa ratus meter sebelum pelabuhan penyeberangan.
Gorontalo (13)

Dari pelabuhan, saya sempat mampir ke Jalan Arif Rahman Hakim untuk selfie di depan KPP Pratama Gorontalo. ūüėÄ

Gorontalo

Dan akhirnya saya sampai lagi di hotel.

Gorontalo (14)

Dengan tarif kamar Rp130.000, hotel macam ini yang kami dapatkan dan ternyata banyak bule yang menginap di sini. Bule juga hemat, cyyyyn.
Gorontalo (15)

Saya sempat tidur-tidur ayam selagi menunggu Bu Joko yang sedang berkeliling ke Danau Limboto. Saya yang semalaman di travel tidak tidur karena siaga demi yang Bunda mabok dan setelah di hotel cuma tidur sekitar 1 jam memutuskan untuk tetap di hotel saja, padahal pengen banget ke Danau Limboto dan Benteng Otanaha di dekatnya.
Gorontalo (17)

Setelah Bu Joko tiba di hotel, kami mengemasi barang-barang, checkout, menitipkan tas di lobi, lalu naik bentor Pak Ryan bertiga ke Rumah Makan Nur Alam khas Gorontalo yang berada di Jalan Nani Wartabone, Gorontalo. Menu di rumah makan ini beraneka ragam dari ikan, daging ayam, gorengan, sayur.

Gorontalo (19)

Selain makan di tempat, kami juga membungkus untuk makan malam di kapal. Konon nasi dan masakan orang Gorontalo bisa bertahan lebih lama daripada masakan umumnya kerna teknis memasak yang lebih ulet dan sabar. Porsi makanku siang itu yang terdiri dari nasi seabreg, sayur terong, bakwan, tempe goreng, cumi-cumi, dan sayur pisang. Sayur pisangnya endeuuuss. Bukan karena aku penggemar pisang ya, apalagi pisang lokal yang segar, besar, dan panjang, tetapi karena pisang muda yang dimasak kuah santan di sini memang enak. Makan 3 porsi di tempat dan 3 bungkus untuk di kapal harganya Rp110.000.
Gorontalo (16)

Setelah makan siang yang hampir pukul 14.00 wita tersebut, kami meluncur ke toko kain krawang (atau karawang atau karawo) dan peci rotan Gorontalo yang sebenarnya sudah dikunjungi Bu Joko setelah dari Danau Limboto. Nama tokonya adalah Toko Cahaya Krawang di Jalan Jenderal Katamso nomor 3, Gorontalo 9616 telp. 0435 821464 atau 824310. In this store, i did’nt care about that rattan head cap, i just focused on every single piece of krawang fabric. I was amazed by the colorful¬†hand-crafted embroidery on the fabrics. Their magic led me to buy about 7¬†pieces of krawang veil and 7 pieces of krawang clothing¬†fabric.

Based on www.indonesia.travel krawang embroidery now adorns not only women’s clothing, but men’s as well. Krawang motifs are also used on tablecloths, ties, wallets, caps, handkerchiefs, scarves, ties, fans and a variety of other accessories. Making a piece of krawang fabric can take anywhere from one week to one month. How long it takes is determined by several factors such as the type of fabric, the type of yarn used for embroidery and the intricacy of the designs. Obviously, a more intricate pattern would take much longer than a simple one. The quality of fabric, level of workmanship, complexity of patterns and the color combinations will ultimately determine the selling price.

Price range of krawang clothing fabrics are about Rp120.000 to 200.000 for a piece of top with standard embroidery detail meanwhile for the full embroidery fabrics like the three red krawang below are listed above Rp350.000 to a million. A piece of krawang veil is about Rp50.000.

Gorontalo (10)

There is also a six meters krawang fabric for a floor length dress for woman which costs about Rp300.000. By the way, i didn’t own it all, a half of those pieces was requested by my buddy, Jealeou. And i brought it all to Togean for the shake of photoshot that i intended to do in the island. For those interested in krawang fabric, there are several centers of the art in Gorontalo like Menara Ilmu or Tower of Science, is one of the most well-known krawang centers, and Pondok Karawo, both are located in Bulota Village, Limboto, Gorontalo.

krawangSetelah berbelanja, kami buru-buru ke hotel untuk mengambil tas, memanggil bentor 1 lagi, dan segera menuju Pelabuhan Penyeberangan Gorontalo karena saat itu sudah sekitar pukul 14.40 wita.
Gorontalo (18)

Loket tiket di Pelabuhan Gorontalo pada saat kami datang ternyata belum buka dan masih sepi juga walaupun sudah pukul 15.15 wita. ternyata selain ke Ampana, ada juga kapal ke arah Pagimana di dekat Luwuk. Terlihat mbak dan mas yang jaga loket sedang sibuk mempersiapkan aneka kelas tiket dan printilan sebelum membuka loket. Mereka ramah-ramah dan cukup informatif lho ditanya-tanya walaupun masih sibuk persiapan membuka loket.

Gorontalo (20)

Sambil menunggu loket buka, kami juga sempat mengorbol dengan Bu Haria Kuke yang berasal dari wilayah dekat Ampana dan baru saja mengunjungi anaknya yang telah menetap di Gorontalo bersama suaminya. Ibu ini aslinya bernama Haria Pancaroga di mana Parancoga merupakan marga Bu Haria yang diwarisi dari bapaknya sejak dia lahir akan tetapi karena Bu Haria menikah dengan Pak Abdul Latif Kuke maka namanya berubah jadi haria Pancaroga. Akan tetapi Pak Abdul telah meninggal dunia sehingga Bu Haria kini kembali memakai nama Hria Pancaroga yang diberikan oleh orang tuanya. Belum terlalu banyak bertanya juga sih tentang tata cara pemargaan di daerah Bu Haria.Akhirnya sekitar pukul 15.45 wita, mas dan mbak penjaga loketnya mempersilakan kami membeli tiket. Harga tiket kapal kelas binis dari Gorontalo ke Wakai adalah Rp89.000, sedangkan yang ekonomi Rp64.000, sedangkan jika sampai Ampana maka harganya Rp147.000 untuk yang bisnis dan Rp122.000 untuk yang ekonomi.

Berikut ini daftar tarif kapal dari Pelabuhan Penyeberangan Gorontalo.

1. Daftar tarif kapal dari Gorontalo-Wakai

Jadwal kapal (3)

2. Daftar tarif kapal dari Gorontalo-Wakai-Ampana.

Jadwal kapal (2)

3. Daftar tarif kapal Gorontalo ke Pagimana.

Jadwal kapal (1)

Berpose dengan tiket yang sudah di tangan. ūüėÄ

 

Gorontalo (21)

Saatnya kami memasuki kapal dan bersiap-siap menuju surga dunia di Togean.

*Rincian pengeluaran bersama di Gorontalo:

Travel @175.000      525.000
Camilan          42.000
Makan          91.000
Hotel New Melati      260.000
Makan di Nur Alam      110.000
Bentor          80.000
TOTAL    1.108.000
Pengeluaran per orang      369.333

Baby Clay

Gorontalo (3)

Oh gosh…. we met this very good loking, adorable, and cute toddler when we were on our way from Manado to Gorontalo. His name is Clay, a son of a court secretary in Boalemo Regency, Gorontalo Province. Her mother origin is Manado, but she has to work in Boalemo Regency. On Friday evening she takes a public travel ride from Boalemo to Manado and has to go back to Boalemo on Sunday evening, with her baby ¬†boy since he was like 3 months. Her husband is a worker in Manado city and the whole family are also there. He loves dancing while listening to dangdut music. We played him some dangdut music like goyang dumang, sakitnya tuh di sini, etc from Bunda’s mobile phone when he was wide awake.¬†The cover photo was taken near to Limboto city, a¬†regency seat of Gorontalo Regency at 2 am when they were dropped from public travel before continuing their trip by taking another public travel to Boalemo for about 2 hours, and the photo below was taken in a food stall i-didn’t-know-where¬†in between Manado and Gorontalo at 10 pm.

Gorontalo (1)

Jadwal Penyeberangan Feri Gorontalo-Wakai-Ampana Mei 2015

image

Ini jadwal penyeberangan menuju Togean dari Ampana, Togean dari Gorontalo, juga Togean dari Bumbulan untuk bulan Mei 2015 selama Kapal Tuna Tomini masuk dok.

Ayo segera susun jadwalmu ke Togean bulan Mei ini.

Jadwal kapal di atas aku dapat dari Ales, Waleakodi Sifa Cottage. We’re about to have a Cengkih Afo ferry ride from Gorontalo to Wakai in less than 3 hours. Tonight is gonna be the first time Cengkih Afo Ferry operates to substitute Tuna Tomini Ferry.

We’re ready to sail Tomini Gulf for 12 hours. Wish us luck. Xoxo