A Cup of Coffee for A Sane Life

Spring talks

Vogue Italia March 2016, The Food Issue: Spring Talks
Model: Mojang and Mochan
Fotografer: Paminto Meisel
Makeup Artist: Estu McGrath
Hair: Guido Paminto
Set: Estu
Stylist: Franca Soestu
Cover story: A Cup of Coffee for A Sane Life

Ngopi sudah menjadi budaya bagi masyarakat di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia sebagai salah satu negara penghasil kopi. Jika di daerah-daerah banyak kedai kopi tradisional yang menyajikan kopi dan sebagai tempat berbincang-bincang serta main kartu, maka di kota-kota besar kedai ngopi sudah menjadi tempat yang menggabungkan semua hal dalam kedai kopi tradisional dan gaya hidup kekinian sambil misal online, rapat, melepaskan penat setelah ngantor, hingga mengerjakan tugas kuliah atau pun pekerjaan kantor. Dua wanita yang menjadi cover girl ini contohnya. Sebagai wanita karir, mereka terbiasa mampir salah satu kedai kopi setiap pagi untuk membeli satu, dua, atau tiga gelas kopi dan membawanya ke kantor. Di kantor, mereka juga sering meracik kopi atau memesan kopi melalui ojek online agar tetap fit dan cetar berkarya sepanjang hari. Sepulang kantor pun mereka juga sering menikmati kopi di berbagai gerai kopi.

1. Kedai Tjikini, Jalan Cikini Raya 17 Jakarta Pusat.
Kedai kopi ngehits di bilangan Cikini berada di jalur trotoar hall of fame yang bergambar aneka mural batik nan cantik yang membuat kita sudah gemets untuk foto-foto bahkan sebelum masuk ke kedai klasik ini. Semua menu di sini berbau zaman doeloe dengan variasi dari berbagai daerah di Indonesia. Mau pempek ada, mau pisang goreng ada, mau singkong ada, mau pancake juga ada. Kopinya enak. Tempatnya juga enak buat nongkrong.

Tjikini

2. Tanamera Coffee Roastery, Thamrin City Office Park Blok AA No. 7, Jl. Kb. Kacang Raya, Jakarta Pusat.

FoodliciousKopi di sini enak. Enak banget. Suka banget dengan apple crumbled pienya. Soal tempat sih tidak begitu luas di lantai 1 tetapi kita bisa mencoba di lantai 3. Berasa kayak mengunjungi gudang sekaligus pabrik kopi. Salah satu tempat ngopi paling enak.
Foodlicious3. Caribou Coffee, Jalan Senopati No. 52, Jakarta.
Dari luar saja tempatnya terlihat menarik, apalagi saat kita masuk. Ada perapian, sofa-sofa, hingga tangganya pun menarik untuk difoto. Blended caramel, mocha, dan vanila yang kami nikmati dalam ukuran large ini bikin puas banget. Creme brulee-nya enak dan gede. Dan karena di Senopati yang mana cukup dekat dari kantor, maka tempat ini cukup favorit bagi orang sekantor baik dari pagi hari saat menuju kantor hingga untuk berkumpul dan tsurhat setelah pulang kantor.
Foodlicious4. Brownstones Coffee, Jalan. Bintaro Utama 3A, Blok DD12 No. 41, Bintaro.
Tempat ngopi yang baru buka beberapa hari saat kami melakukan pemotretan cover ini dan saat itu masih banyak promo. Tempatnya lumayan luas dengan menyediakan teras hingga tempat bermain anak, jadi serasa nyaman kayak di rumah sendiri gitu. Kopi di sini juga lumayan enak dan dekat banget dari tempat aku tinggal.

Foodlicious

5. Filosofi Kopi Bintaro, Jl. Bintaro Utama 1, Blok F2 No. 6, Bintaro.
Tempat ngopi di jalur utama orang-orang Bintaro yang akan kembali ke Bintaro dari arah pusat kota Jakarta yang baru beberapa bulan dibuka dan merupakan kedai Filosofi Kopi kedua setelah di Melawai. Tempatnya tidak begitu luas seperti halnay yang di Melawai tetapi cukup nyaman untuk nongkrong-nongkrong syantiex dan manja bersama kawan-kawan. Akan lebih nikmat ngopi di sini jika sedang ada Chico Jericho dan Rio Dewanto yang mengunjungi kedai kopi mereka ini. Kopinya enak dan baristanya juga ramah-ramah.

Filosofi Kopi Bintaro6.  Anomali Coffee Senopati, Jl. Senopati No. 9, Jakarta.
Ini dia tempat dua wanita manja nan berkarya nyata merengkuh kopi setiap hari kerja. They do love the coffee in this place sampai berharap Anomali ada di Bintaro.
AnomaliKopi dan makanan di Anomali ini memang enak-enak dengan tempat yang luas dan nyaman. Ada yang indoor maupun outdoor baik di lantai 1 maupun 2. Ada smoking area serta parkir yang cukup tetapi selalu penuh karena memang pengunjungnya selalu banyak dari buka hingga tutup. Meja, kursi, hiasan, serta bangunan di sini kekinian dan instagram-able banget yang membuat suasanan nongkrong ngopi-ngopi cantik makin asyik.
Anomali

8 Hours City Tour with The Czech Gang

Delapan hari setelah berpisah dengan The Czech Gang di Hotel Victory Tentena, saya kembali bertemu dengan mereka pagi itu di Bandara Soekarno Hatta saat mereka transit sebelum harus kembali terbang ke Ceko via Dubai pada sore harinya. Saya baru sampai bandara pada pukul 8.10an karena harus menunggu supir yang belum datang sedangkan para bule sudah mendarat pada pukul 7.00 wib.  I initiated this city tour on Friday when they were still in Tanjung Bira Beach, South Sulawesi. And they simply agree to my offering.

jakarta (5)

Our first destination was Soto Betawi Roxy H. Darwasa, an infamous traditional Jakarta soup made of beef or beef offal, cooked in a whitish cow milk or coconut milk broth, with fried potato and tomato. Our real first destination was an Indomart store near to Roxy when Michal tried to find banana for breakfast as he was having a stomach problem.

Soto betawi Darwasa (1)

I don’t really like soto Betawi, but i can’t resist Soto Betawi H. Darwasa seduction. It is the most delicious Soto Betawi in town.
Soto betawi Darwasa (2)

Gambar di atas bukanlah bekas makanan kami tetapi bekas tetangga sebelah meja kami. Ini baru bekas makanan kami.

Soto betawi Darwasa (3)

Saat saya masuk membawa 3 orang bule, warung soto ini tiba-tiba menjadi sedikit heboh baik pengunjung maupun pengelolanya. Mereka bertanya kepada saya bule dari mana ini, mau ke mana, sedang apa di Jakarta, dsb. Walhasil kami mendapat layanan yang lumayan istimewa saat itu dengan harga makanan sama seperti pengunjung lain. 😀
Soto betawi Darwasa (4)

At 10 am, we arrived at Kota Tua (Jakarta Old Town or Oud Batavia), a reminder of Dutch colonial. There are some historical buildings with Dutch or European architecture style in the area.Fatahillah square in front of Jakarta History Museum (Museum Fatahillah).

Batavia Old Town (1)

You can rent these colorful bicycles to go along the area.
Batavia Old Town (2)

INGAT!!! Semua museum di Jakarta yang dikelola Pemda libur setiap hari Senin, jadi jangan mencoba jelajah museum pada hari Senin karena akan percuma saja.

Saatnya masuk ke Museum Fatahillah yang sudah lama tidak saya kunjungi. Sekarang kalau mau masuk Museum Fatahillah harus memakai sandal jepit, tidak boleh memakai sepatu. Petugas menyediakan sendal jepit dan kantong untuk menyimpan alas kaki kita selama kita memakai sandal jepit.

Batavia Old Town (3)

Kurang tahu pertimbangan kebijakan memakai sandal jepit ini, mungkin karena jika kita memakai stiletto, wedges, platform shoes, sepatu gunung atau alas kaki lain bisa merusak lantai museum yang terbuat dari kayu.
Batavia Old Town (4)

What kind of selfie we did?? -,-

Batavia Old Town (5)

Suddenly there were so may fans of Czech Gang in the museum. Some were so polite and shy to take a picture or talk to the bules, but some so agresive and cabe-cabean-look-alike. And there was a girl touched David’s nose and tried to have a kiss from him. :O

Fans

Segera setelah mengembalikan sandal ke petugas museum, kami pergi ke toilet sebentar dan para fans bule-bule ini masih saja banyak, bahkan saat kami sedang menuju Museum Wayang dan melihat-lihat penjual makanan dan minuman yang akhirnya saya mengajak bule-bule ini ke Museum Seni Rupa dan Keramik saja biar tidak banyak fans berkeliaran.

I love being in Fine Art and Ceramic Museum as it serene, cool, beautiful, and less noise. The museum displays some beautiful paintings from the infamous Indonesian painters like Raden Saleh and Affandi on the second floor.
Batavia Old Town (6)

We only met some elementary school students who were drawing their favourite object in the museum with a teacher as guide.

Lalu kami berpindah ke bagian keramik mancanegara. Keramik-keramik indah ini dipajang di ruang yang entah memang dindingnya dibuat artistik atau memang rusak karena termakan rayap dan waktu.

Batavia Old Town (7)

Karamik nuansa oriental yang sangat cantik.
Batavia Old Town (8)

Melewati ruangan yang terlihat sangat nyaman dan artistik ini. Serasa ingin bisa gegoleran atau pun bicara dari hati ke hati denganmu dalam pencahayaan yang syahdu ini. 🙁

Batavia Old Town (9)

How cute these piggy banks by potters of Trowulan, East Java in this national ceramic section.
Batavia Old Town (10)

Ceramics from Bali, Singkawang, Manado, Malang, Banten, and other area in Indonesia are well displayed here. <3

Batavia Old Town (11)

It was exactly midday when we arrived at Port of Sunda Kelapa. So hooottt.
Sunda Kelapa (2)

This was my first time to be here and i was amazed by the size of the Pinisi, a traditional two masted wooden sailing ship serving inter-island freight service in the archipelago.

Sunda Kelapa (1)

We had an opportunity to sight-seeing a ship when Jan allowed to get in by the worker.
Sunda Kelapa (3)

This ship is serving interisland freight service from Jakarta to Pontianak. It takes about 1 to 2 weeks to load the cargo in to the ship, 3 days sailing to Pontianak, another 1 week to unload the cargo, then load another cargo before they go back to Jakarta. The cargo contains cements, pipes, food, drinks, and anything.

Sunda Kelapa (4)

This was the end of the traditional Pinisi line up as you found some modern ships and cargo. We might  go back to the place where we dropped by in an unofficial car park. I met a young lonely Switzerland guy, named Stephane, who arrived in jakarta Yesterday and would go to Yogyajarta when i walked out from this port. I asked him to join us to go to Istiqlal Mosque and he agreed. Port of Sunda Kelapa became of of Syahrini’s “Seperti Itu” music video set, btw.
Sunda Kelapa (5)

Pernah sih ke Masjid Istiqlal cuma ke halaman dan bagian masuk bagian samping tapi belum pernah masuk dan melihat kubanya yang ternyata bagus banget dan besar ini. Awalnya sih agak ragu, apa bisa nonmuslim masuk ke Istiqlal tetapi karena bule-bule ini pada ingin masuk ya sudahlah. Ternyata nonmuslim boleh masuk ke Masjid Istiqlal tetapi di beberapa bagian saja dan akan dibimbing oleh Bagian Humas Masjid Istiqlal. Kita harus mendaftar ke Bagian Humas lalu berganti pakaian jika mengenakan pakaian yang masih memperlihatkan aurat, seperti saya yang memakai celana pendek, dan menggantinya dengan jubah batik yang disediakan. Akan ada petugas yang mendampingi kita berkeliling agar tahu bagian mana saja yang boleh diinjak oleh nonmuslim dan mana yang tidak boleh. Sepengamatan saya, bagian untuk salat yang berkarpet merupakan bagian yang dilarang untuk diinjak pengunjung yang nonmuslim.

Istiqlal (1)

Ternyata ada semacam lapangan terbuka yang bisa digunakan jika jamaah membludak misal saat Salat Jumat atau pada Bulan Ramadan. gara-gara aurat nih jadi harus ganti jubah ala bathrobe ini.
Istiqlal (2)

Mas Bayu, tour guide kami saat itu, sedang meminta kami menuliskan nama di buku tamu. Pengunjung dapat menyumbang sukarela untuk tur yang telah dilakukan. Dan ternyata banyak bule nonmuslim yang mengunjungi masjid ini.

jakarta (1)

Dari Masjid Istiqlal kami berpindah ke Gereja Katedral Jakarta di seberangnya. Tour yang adem ayem dari awal terasa kurang seru kalau tidak ada dramanya. Tiba-tiba ada seorang tour guide yang baru saja selesai tugasnya dengan mengantar bule ke Istiqlal tiba-tiba menyamperi kami dan menawarkan jasa travelnya. Si Stephane di dekati terus dan ditanya-tanyai mau ke mana setelah ini, ke sana naik apa, mau menginap di mana, dsb tetapi Stephane hanya menjawab seperlunya dan tidak mau menggunakan jasa travel untuk perjalanannya nanti. Setelah itu dia mendekati saya sambil bertanya dari mana tadi, sudah berapa lama sama bule-bule ini, mau ke mana setelah ini dan tiba-tiba nyinyir “Enak ya nge-guide-in bule gini pasti dapat banyak tip apalagi sejak dari Sulawesi”. lalu saya omelin lah dia “Enak aja banyak tip, mereka adalah teman-teman saya sejak di Sulawesi dan untuk city tour ini atas inisiatif saya dan saya tidak memungut biaya apa pun dari mereka apalagi tip.” tetapi dia masih tertawa-tawa seperti tidak percaya dan malah ikut kami menyeberang ke Katedral.
Katedral Jakarta (1)

Gereja Katedral Jakarta ini ternyata sangat indah dengan nuansa Eropa yang kental.

Katedral Jakarta (2)

Pada saat kami ke luar dari gereja, si mas ini masih ngotot mendekati Stephane walaupun Stephane menghindar bahkan berpura-pura mau ikut aku ke Bandara untuk mengantar Czrech Gang. Dan kami pun memilih untuk kembali ke mobil yang di parkir di dekat Ragusa memilih jalan di pinggir jalan tidak melalui dalam masjid agar si mas agen travel tidak membuntuti kami.

Czech Gang meminta saya mengantar mereka ke toko oleh-oleh khas Jakarta tetapi saya bingung mau oleh-oleh macam apa. Lalu mereka bilang kaos dan kata supir kami mungkin sebaiknya mencari kaos di para pedang di pinggiran Monas. Sesampainya di Monas ternyata tidak ada kaos yang bertuliskan jakarta, adanya yang bertuliskan Monas atau Indonesia padahal saat itu sudah pukul 15.00 wib. Oleh-oleh lain yang diinginkan adalah cabai, mungkin karena tidak ada cabai di Ceko sana. Saya membelikan cabai di sebuah warung lalapan ayam goreng di kawasan Monas juga sekaligus beberap buah pisang untuk Michal yang merasa kelaparan karena pagi hanya makan pisang dan hanya mencicipi sedikit soto Betawi. Seperti halnya saat kami di tengah jalan dari Ampana ke Tentena saat membeli camilan di warung, pemilik warung lalapan juga kaget karena dia bilang di sini seharusnya hanya boleh menjual paket makanan seperti yang tertera di nama warung lalu membayarnya ke kasir bersama, bukan hanya membeli segenggam cabai dan beberapa buah pisang dan langsung dibayar. Lalu ngapain pula kata dia bule-bule ini membeli cabai. 😀
jakarta (2)

Stepahen dan kami akhirnya harus berpisah di Monas saat saya harus mengantarkan para bule Ceko ke Bandara dan Stephane memilih untuk tetap di sekitar Monas saja. beberapa hari kemudian saat saya Whatsapp Stephane, dia mengatakan bahwa sepeninggal kami, dia ternyata tidak sengaja bertemu mas agen travel di sekitar Monas lalu mas itu mengajak Stephane untuk ngopi di Sevel atau sejenisnya dan Stephane mengiyakan. Sambil ngopi-ngopi itu, si mas agen travel masih berusaha agar Stepahne menggunakan jasa travelnya tetapi sayang dia tidak berhasil walaupun telah mengeluarkan uang untuk mentraktir kopi Stephane.

Saya dan Czech Gang langsung meluncur ke bandara via Tomang tetapi kami mampir dulu ke Indomaret di jalan menuju Slipi untuk membeli rokok dan pisang. David sebenarnya tidak merokok, kalau dirokok sih mungkin suka, tetapi rokok sebagai oleh-oleh untuk rekan-rekannya di Ceko. Katanya rokok di Ceko berbeda dengan rokok di Indonesia karena ada atau tidaknya mentol sehingga setiap kali ke Indomaret atau Alfamart dia akan membeli rokok yang berbeda sebagai oleh-oleh. Sedangkan Michal, dia beli pisang lagi dan lagi. Seingat saya, kami telah mampir 3 Indomaret/Alfamart.

jakarta (4)

Dan akhirnya sekitar pukul 16.30 wib kami tiba di Bandara Soekarno Hatta. Sebelum mereka masuk, saya memberikan kenang-kenangan berupa selembar batik Betawi untuk masing-masing dengan harapan agar mereka mengingat saya sekaligus mempromosikan produk Indonesia di Ceko.

jakarta (3)

Nice to meet you, guys. BYE.

Terjebak di Ruang Nostalgila

terjebak

Commuter line merupakan sarana transportasi yang cukup bisa diandalkan oleh warga di Jabodetabek karena cukup murah dan waktu tempuh yang lebih cepat dibanding dengan mobul atau bus meskipun harus berdesak-desakan di jam sibuk.

Seperti malam-malam biasanya di mana setelah naik komuter dari Stasiun Sudirman maka saya turun di Stasiun Tanah Abang di jalur 2. Dari jalur 2, saya harus berpindah naik komuter di jalur 5 atau 6. Pada saat buru-buru berpindah jalur ini saya sering berada dalam posisi menunggu komuter dari arah Stasiun Duri yang akan masuk ke Stasiun Tanah Abang di jalur 3 untuk menyeberang ke jalur 5 atau 6 dan komuter yang baru saja saya naiki sudah mulai berjalan ke arah Stasiun Duri di jalur 2.

Kebetulan malam itu saya terjebak dalam situasi menunggu di tengah-tengah 2 komuter yang sedang melintas di mana saya sedang membawa kamera Fujifilm X-A1 kesayangan saya. Segera saya keluarkan kamera dan mencoba peruntungan mendapatkan foto “Terjebak di Ruang Nostalgila” ini.

Hembusan angin dari 2 komuter yang melintas dengan kecepatan yang satu mulai naik dan yang satu mulai melambat, suara gesekan komuter dengan rel, keriuhan para penumpang yang sudah tidak sabar melintas demi mengejar kereta yang sudah bertengger di jalur sebelah menjadikan suasana menunggu sejenak ini cukup mendebarkan. Suasana yang berbeda dengan diapit 2 komuter yang melintas pada saat kita menunggu di peron karena posisi kita berdiri sejajar pintu masuk kereta, sedangkan ini dengan posisi berdiri sejejar rel yang lebih rendah 60cm atau lebih dari pintu komuter.

Entah mengapa setiap  berada pada posisi ini, banyak kegalauan yang saya rasakan. Kerinduan akan kehadiran sosok yang selalu membuat saya terpesona dengan dengan senyum manis dan tatapan indahnya. People come and go into my life, but you are the only one i want to be with. Ahu masihol tu ho.

Jakarta City Tour Part II

Setelah dari es krim Ragusa, kami melanjutkan perjalanan ke Museum Taman Prasasti.

City Tour  (33)

Harga tiket masuk museum Taman Prasasti ini Rp5.000 per orang.

City Tour  (35)

Pose….

City Tour  (58)

Pose lagi…

City Tour  (61)

Dan kami pun menonton video Agnes Monica “Tanpa Kekasihku” yang syuting di sini untuk menirukan adegan apa yang bisa kami lakukan di sini. Dan begini hasilnya.
City Tour  (34)

Lalu…

City Tour  (59)

Lalu ini…

City Tour  (53)

Ini…

City Tour  (52)

lagi…

City Tour  (56)

lagi…

City Tour  (54)

dan lagi…

City Tour  (60)

dan adegan begini.

City Tour  (57)

Ada pula prasasti atas nama James Alexander Bond yang kemudian saya pose tiduri.

City Tour  (51)

Setelah itu kami berpindah ngadem di mal. Bertiga benikmati semangkok macha teh hijau seharga Rp55.000. Pertama kalinya saya mencicipi hidangan ini. Es campur cincau dikasih eskrim dungdung mungkin lebih cocok dengan lidah dan kantong saya.

City Tour  (36)

Setelah duduk dan ngobrol ngalor ngidul dari Asar hingga maghrib di GI, kami berpindah ke Jalan Sabang.

City Tour  (37)

Nadia mencoba soto ranjau (tulang-tulang ayam) di Soto Ceker dan Ranjau Pak Gendut.

City Tour  (38)

Seafood yang selalu ramai di Jalan Sabang.

City Tour  (39)

Di antara beberapa tempat makan di dekat perempatan Sabang ini, favorit saya adalah Kopi Oey d.h. Kopitiam Oey punya Pak Bondan, serta Sabang 16 yang ngeheits dulu saat zaman twitter.

City Tour  (40)

Menyusuri Jalan Kebon Sirih.

City Tour  (41)

Kami di Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih. Awalnya kami duduk di dekat tempat menggoreng nasi tetapi karena bau daging kambing yang menyengat maka para gadis mengusulkan pindah tempat.

City Tour  (42)

Seporsi nasi goreng kambing Kebon Sirih dihargai Rp30.000 dengan potongan daging, lemak, dan jeroan kambing yang banyak dan rasanya nikmaaaaaaaattttt. My favourite street food in Jakarta.

City Tour  (45)

Mari makan.

City Tour  (43)

Sate kambingnya endeus tetapi harganya sekarang sudah Rp55.000 per porsi 10 tusuk, padahal 2 minggu lalu masih Rp50.000.

City Tour  (44)

Ibu Nyonya yang bayarin kami, walau setelah itu totalan sih.

City Tour  (46)

Memasuki KRL.

City Tour  (47)

Bisa gegoleran gini di KRL padahal biasanya masih ramai banget walau pun akhir pekan.

City Tour  (48)

Dan perjalanan keliling sedikit bagian kota Jakarta hari ini pun berakhir.

City Tour  (49)

Jakarta City Tour Part I

Libur 3 hari di awal bulan Mei kemarin walaupun tidak ke luar kota tetapi saya berhasil melewatinya dengan cukup produktif menikmati kota Jakarta yang sedang lengang.

City Tour  (5)

Saya mengajak rombongan teman-teman #PJ11AdventureClub untuk naik bus tingkat City Tour. Dari awalnya cukup banyak yang tertarik hingga akhirnya hanya saya, Nadia, serta Zie yang mengikuti tour kali ini.

City Tour  (6)

Di jembatan penyeberangan Halte Bunderan HI.

City Tour  (1)

Di mana kita harus menunggu City Tour Bus? Di depan Louis Vuitton Store. Halte bus tingkat untuk keliling kota ada di depan Vuitton Store ini.

City Tour  (7)

Kondektur bus yang ramah dan cukup bagus mengatur penumpang.

City Tour  (2)

Untuk menaiki bus ini tidak dipungut biaya sama sekali dan sepuas-puasnya kita saja mau berapa kali putaran dan turun atau naik di halte mana selama masih di jam operasi dan halte yang ditentukan.

City Tour  (3)

Jumlah penumpang bus ini juga dibatasi sebanyak jumlah kursi sehingga jangan takut tidak kebagian kursi dan harus berdiri karena kondektur akan melarang calon penumpang masuk jika kapasitas sudah tidak memungkinkan semua penumpang untuk duduk.

City Tour  (4)

Kita bisa menunggu bus ini di beberapa halte yaitu:

– Halte Bunderan HI depan Louis Vuitton Store

– Halte Museum Nasional

– Halte Bank ANZ dekat Harmoni

– Halte Kantor Pos dekat Gedung Kesenian Jakarta

-Halte Istiqlal

– Halte Monas

– Halte Balai Kota

City Tour  (50)

Setelah menaiki bus satu putaran untuk mengetahui rutenya, maka kami memutuskan untuk berjenti di Museum Nasional.

City Tour  (23)

Serasa akan diterkam badai.

City Tour  (8)

Area playground di antara 2 gedung Museum Nasional.

City Tour  (22)

Di museum ini banyak sekali arca-arca, keramik, maupun benda-benda khas berbagai daerah di Indonesia. Bagian arca dan patung-patung.

City Tour  (9)

Zie dan Nadia gelandotan di tiang.

City Tour  (10)

Bagian wilayah Papua.

City Tour  (11)

Di bagian gedung satunya terdapat 4 lantai yang masing-masing ada temanya.

City Tour  (21)

Di lantai 1 ini temanya manusia dan lingkungan.

City Tour  (20)

Bagian lain museum.

City Tour  (15)

Headdress yang indah.

City Tour  (16)

Miniatur perahu.

City Tour  (14)

Seperti monogram Louis Vuitton tetapi bentuknya mirip Louis Vuitton x Yayoi Kusama pumpkin clutch.

City Tour  (17)

Di lantai 4 ini sungguh indah. Penuh dengan emas dan keramik yang sungguh luar biasa indah akan tetapi kita dilarang memotret di dalam ruangan sehingga ini hasil mengambil gambar dari luar ruangan.

City Tour  (18)

Bagus kan?

City Tour  (19)

Ada beberapa peta besar tentang sebaran suku, bahasa, dsb.

City Tour  (12)

Menunggu bus untuk menuju Halte Istiqlal.

City Tour  (24)

Bagi Anda yang ingin jalan-jalan keliling (sebagian wilayah) Jakarta dengan gratis dan nyaman, terutama bersama anak-anak dan keluarga di akhir pekan, mungkin Anda perlu sekali-kali mencoba city tour dengan bus ini. Hmmmm… Subhanalloh.

City Tour  (25)

Bus kali ini kondekturnya cewek, begitu pun supirnya.

City Tour  (26)

Dan kami pun turun di Halte Istiqlal untuk menuju es krim “Ragusa”. Antrenya panjang kali dan kudu ngetag di dekat orang yang kira-kira mau selesai agar segera dapat jatah kursi. *sambil melotot*

City Tour  (27)

Berikut daftar menu dan harga di Ragusa.

City Tour  (29) City Tour  (28)

Ada beberapa penjual makanan di depan ragusa yang bisa kita pesan sebagai pendamping makan es krim, yaitu sate ayam, gado-gado, asinan dan juhi, serta otak-otak.

City Tour  (62)

Menunggu pesanan lengkap.

City Tour  (30)

Dan ini dia seluruh pesanan kami. Harga es krim 3 warna, banana split, rum raisin dalah Rp80.000. Seporsi sate ayam dihargai RFp25.000, seporsi asinan dan seporsi juhi Rp30.000, serta 10 buah otak-otak dihargai Rp25.000.

City Tour  (31)

Yeayyyy…

City Tour  (32)