Lapar di Bogor

Postingan ini sudah lama saya buat draftnya tetapi lupa belum diposting ternyata. #ngok #alaala

Berawal dari keinginan untuk menengok Bu Joko yang sedang sakit, saya dan Bunda Hani janjian untuk jalan-jalan dan makan-makan di sekitar Kota Bogor. Dengan menggunakan KRL, saya mendatangi Bogor yang kemudian dijemput Bunda di stasiun.

Foodlicious

Tujuan pertama kami adalah ke RM Kebuli di Jl. Jenderal Sudirman No. 14A, Bogor. Porsi nasi kebuli dan nasi goreng yang kami pesan lumayan banyak dan rasanya juga lumayan enak.

Foodlicious

Lidah saya sih lebih suka dengan Nasi Kebuli bang Moch di Arinda, Tangerang Selatan. Bumbu di bang Moch lebih ciamiiiik. Apalagi nasi goreng rempahnya… nyaaammm…  Ini penampakan di Bang Moch.

Foodlicious

Cukup jauh berpindah dari nasi kebuli, kami sebenarnya ingin mencicipi makanan di salah satu kafe, tetapi kafe tersebut sedang tutup. Mampirlah kami ke Two Stories di Jalan Pajajaran Indah V No. 7, Cilendek Timur, Bogor yang ramai sekali siang itu. Konsep bangunan beberapa lantai ada yang indoor, outdoor dan rooftopnya sangat menarik. Variasi makanan dan minuman yang disajikan membuat tempat ini ngeheits di Bogor. Mau nongkrong sama abang gebetan di sini juga bisa. Ada live music juga jika kita sedang beruntung.

Foodlicious

Selanjutnya kami menuju kedai pojok entahlah di dekat Sop Duren Lodaya yang kata Bunda enak dan ada yang jual klapertart. rencananya sih mau bawain Bu Joko klapertart tetapi ternyata tidak ada yang jual klapertaart dan malah beli kwetiau dan eskrim matcha low cost yang lumayan ini.

Foodlicious

Tidak jauh dari kedai pojok, kami ke Sop Duren Lodaya. Sop duren inisempat ngeheits beberapa saat lalu saat berkolaborasi dengan Tante Farah Quinn. Rasa sop durennya lumayan, walaupun es batunya agak mengganggu bagi saya dan mungkin lebih baik diganti es serut atau es batu yang lebih kecil. Rasa keju malah terlalu dominan dan menutupi durian yang porsinya tidak lebih banyak daripada keju dan es batu.

Foodlicious

Perjalanan ke Bogor kali ini tumben banget tidak mampir ke Kedai Kita yang biasanya selalu menjadi tempat favorit jika ke Bogor. Akhirnya kami baru meluncur ke kediaman Bu Joko menjelang maghrib untuk menjenguknya. Sehat selalu Bu Joko dan kita semua…

Menikmati Alam Sekaligus Wisata Kuliner di Sekitar Taman Safari Bogor

 tsb

Sumber: flickr.com

Siapa yang tidak tahu Taman Safari yang terletak di Cisarua Bogor? Pasti Sebagian besar penduduk Bogor dan sekitarnya sudah tahu tempat yang satu ini. Obyek wisata ini merupakan salah satu pilihan favorit sehingga banyak fasilitas penunjang seperti hotel yang memudahkan dan membuat Anda sangat nyaman saat menikmati indahnya kota Bogor.

Anda tidak perlu khawatir soal ketersediaan hotel di sekitar Taman Safari Bogor, Anda bisa cek langsung di website traveloka.com. Terdapat banyak hotel dengan harga beserta fasilitasnya yang ditawarkan di website, sehingga Anda memiliki banyak pilihan sesuai kebutuhan Anda. Terutama bagi Anda yang berencana menginap, menikmati indahnya Kota Bogor dan mengisi waktu libur yang istimewa dengan keluarga atau pun orang-orang tercinta.

Kembali lagi ke pembahasan Taman Safari, taman ini terletak di Desa Cibeureum, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dari segi sejarahnya, Taman Safari Bogor dibangun di atas tanah bekas perkebunan teh yang sebelumnya sudah tidak lagi produktif. Lalu barulah pada tahun 1980 mulai dibangun Taman Safari Indonesia Bogor yang dijadikan sebagai obyek wisata Nasional dan pusat penangkaran beberapa satwa Langka yang ada di Indonesia pada tahun 1990.

Taman Safari berada di kawasan puncak Bogor, tepatnya di ketinggian sekitar 900 sampai 1800 mdpl. Suhu udara di kawasan puncak terbilang cukup dingin, yakni sekitar 16o – 24o Celcius karena memang datarannya yang tinggi. Sebenarnya banyak sekali kebun binatang yang terdapat di Indonesia tetapi di Taman Safari memiliki cara yang berbeda untuk mengenalkan alam secara langsung kepada pengunjung.

Para pengunjung dapat berkeliling kebun binatang Taman Safari dengan menggunakan kendaraan bus yang telah disediakan oleh pihak Taman Safari. Anda juga dapat menggunakan kendaraan pribadi menuju lokasi. Sangat seru bukan? Anda dan keluarga akan merasakan pengalaman baru karena bisa melihat aktifitas satwa di alam liar secara langsung. Bahkan Anda juga bisa bermain dan memberi makan satwa-satwa yang berada di Taman Safari tersebut.

Di Taman Safari Bogor terdapat kurang lebih 2500 spesies yang merupakan koleksi satwa yang berasal dari seluruh dunia. Dan jika beruntung, Anda juga bisa menemukan beberapa satwa langka yang terdapat di kebun binatang Taman Safari ini. Beberapa diantaranya Singa, Orangutan, Gajah, Komodo, dan beberapa satwa langka lainnya. Dan selain berkunjung ke kebun binatang, Anda juga bisa menikmati Safari Trek/trekking, outbound, cowboy show, dolpin show, Waterpark, dan wahana bermain seru lainnya.

Setelah Anda puas berkeliling di Taman Safari, bisa menuju ke lokasi lain untuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Tenang saja, di sekitar Taman Safari selain terdapat banyak hotel, juga terdapat banyak tempat wisata kuliner. Mulai dari kaki lima hingga kelas bintang lima.

Masing-masing tempat menyediakan menu kuliner andalan sekaligus landscape dari desain rumah makan dan alam sekitar yang bisa menjadi pengalaman menarik. Menikmati pemandangan sambil menyantap kulinernya yang lezat adalah salah satunya kenyamanan dan kepuasan yang ditawarkan oleh Rumah Makan Bumi Nini.

rm-bumi-nini

Sumber: muradmaulana.com

Rumah Makan Bumi Nini beralamat di Jl. Raya Puncak Cisarua No 18, KM 81, Puncak – Bogor, Jawa Barat. Rumah makan Bumi Nini adalah cabang dari rumah makan Bumi Aki yang sudah cukup terkenal karena cita rasanya yang lezat di kawasan Puncak Bogor. Jarak menuju rumah makan Bumi Nini hanya sekitar 5,4km dari Taman Safari Indonesia.

Rumah Makan Bumi Nini selalu ramai pengunjung. Bahkan jika Anda menggunakan kendaraan pribadi dan ingin makan di jam makan siang atau jam makan malam, Anda harus bersabar antri parkiran. Ada banyak antrian kendaraan yang memanjang menuju pintu masuk rumah makan legendaris yang satu ini. Walaupun banyak yang merasa kesulitan untuk parkir, tetap saja banyak pengunjung yang datang untuk menikmati wisata kuliner di Bumi Nini.

rm-bumi-nini-food

Sumber: happyuniii.blogspot.co.id

Di rumah makan ini terdapat menu kuliner andalan yakni gurame cobek goreng. Yang membedakan dari rumah makan lain, saat sebelum di goreng, gurame diberi bumbu sampai meresap. Untuk melengkapi rasanya, gurame tersebut di siram dengan sambal khas dari rumah makan Bumi Nini. Sehingga membuat gurame cobek goreng memiliki cita rasa yang tiada duanya. Selain gurame cobek goreng, juga terdapat beberapa menu diantaranya: gurame bakar, tempe mendoan, sayur asem, karedok, kopi hitam, juice strawberry, teh manis.

Nikmati liburan Anda di Kota Bogor dengan berbagai tempat wisata alam, wisata kuliner dan wisata menarik lainnya. Happy holiday!

Visit Kuningan dan Cirebon 2015

Denpe sudah hampir 4 jam berada di Cirebon menunggu saya dari Purwokerto. Dia sudah ke masjid di Keraton Kasepuhan dan muter-muter Cirebon dengan becak sebelum akhirnya berhenti di Masjid Attaqwa untuk menunggu saya.

Cirebon (1)Kami dijemput Pak Pres, Bu Pres, dan Riri untuk berkeliling Kota Cirebon, kota yang telah saya tinggalkan 5,5 tahun setelah sempat tinggal di sana 2,5 tahun sejak pertengahan 2007. Saya usul kepada Pak Pres agar kami ke Kuningan saja, makan malam di Rumah Makan Laksana, di dekat Pemndian Sangkanurip. RM Laksana ini merupakan favorit Pak Bos saya dulu dan memang enak makanannya walaupun cukup mahal memang untuk ukuran di Kuningan. Menu favorit saya di sini adalah nasi merah dengan lauk apa pun dari capcay goreng, ikan bakar, atau tempe dan tahu goreng.

Cirebon (3)

Daftar menu dan harga makanan di Rumah Makan Laksana, Kuningan.

Cirebon (2)

Setelah makan, saya mengajak Denpe untuk mandi-mandi cantik di Taman Rekreasi Sangkanurip Alami sementara Pak Pres, Bu Pres, dan Riri tetap menunggu saja di Laksana. Denpe yang hanya membawa 1 celana pendek harus membeli celana pendek dulu di toko sekitar pintu masuk pemandian.

Cirebon (4)

Kami kemudian membeli tiket dan saya memutuskan untuk membeli yang paling mahal dari daftar harga yang ada yaitu ruang eksekutif dengan harga Rp30.000 per orang.

Cirebon (5)

Pintu masuk menuju kolam renang.

Cirebon (6)

Petugas yang mengantar kami ke ruang eksekutif menanyai kami apakah mau sendiri-sendiri atau satu ruangan saja dan kami bilang satu ruangan saja. Dan ternyata, ruang eksekutif adalah sebuah ruangan yang menyediakan 1 bathtub untuk mandi air panas. Saya dan Denpe tatap-tatapan ya masak kami harus mandi bersama menggunakan 1 bathtub ukuran 1 orang begitu. Kalau saja saat itu denganmu sih mungkin saya mau banget, tetapi ini saya dengan Denpe? Denpe dengan saya? No Thanks. 😀

Lalu saya bertanya kepada petugas tentang mandi air panas di kolam kecil dalam kamar yang bisa beberapa orang yang dulu sering saya lakukan bersama teman-teman di Cirebon jika akhir pekan. Ternyata itu namanya bukan ruang eksekutif tetapi ruang utama yang mana harganya hanya Rp10.000 per orang dan bisa digunakan hingga 3 atau 4 orang. Malas bertanya sesat di jalan nih namanya. Inilah ruangan yang saya maksud. Dengan membayar Rp10.000 per orang, kita bisa menikmati mandi air panas alami di ruangan ini selama 45 menit dihitung dari masuk ruangan hingga dibunyikan bel tanda harus ke luar ruangan oleh petugas.

Cirebon (7)

Setelah mandi-mandi cantik dengan Denpe, saya mengintip-intip kolam renang yang tiket masuknya Rp8.000 per orang. Sebenarnya terdapat beberapa kolam renang dengan kedalaman dan ukuran yang berbeda-beda, beberapa kamar ganti dan bangku untuk menunggu dan menaruh barang bawaan tetapi selalu ramai dan kolam renangnya jika sudah malam begini pasti keruh agak kecoklatan karena banyak daki pengunjung yang sudah menyatu dengan air kolam. Saat kami kembali ke Laksana, rumah makan tersebut sudah tutup dan mobil Pak Pres sudah tidak di situ. Pak Pres ternyata telah mengirim pesan kepada saya bahwa karena rumah makan mau ditutup, dia dan keluarga pindah ke parkiran pemandian yang berada sekitar 100 meter dari pemandian. Jadi enak gak enak deh sudah harus menunggu kami mandi, makan dibayarin lalu pindah ke parkiran segala.

Cirebon (8)

Pagi pun tiba setelah semalam yang melelahkan karena perjalanan dari Jakarta/Purwokerto-Cirebon-Kuningan-Cirebon. Kami pergi ke Nasi Jamblang Pelabuhan. Salah satu tempat sarapan favoritku yang menyediakan nasi jamblang paling enak di Kota Cirebon. Nasi Jamblang Pelabuhan ini buka pagi-pagi hingga pukul 10 atau 11 pagi saja tergantung masih ada atau tidaknya maakanan. Di sini makanannya prasmanan jadi kita ambil-ambil sendiri sesuka kita baru kita tunjukkan ke kasir dan akan dicatat dalam secarik kertas berapa harga makanan kita. Dulu, seorang nenek bertugas sebagai kasir di sini dengan kecepatan menghitung dan menentukan makanan apa yang kita ambil, berapa porsi, harga, dan totalnya dengan luar biasa cepat. Nenek yang sudah sangat sepuh itu sudah tidak ada lagi di sini.

2 bungkus nasi jamblang, 1 semur tahu, satu sambal jamblang, 1 telur dadar, 1 perkedel kentang, sepotong ikan, dan satu tusuk sate kentang yang saya makan ini harganya sekitar Rp14.000 dan rasanya luar biasa enak.

Cirebon (9)

Denpe yang baru kali pertama mencicipi nasi jamblang.

Cirebon (10)

Dari Nasi Jamblang Pelabuhan, kami diantar Pak Pres ke Kawasan Batik Trusmi lalu diumbar di situ sedangkan Pak Pres dan keluarga kembali ke rumahnya.

Cirebon (20)

Trusmi dari arah perempatan pasar.

Cirebon (19)

Tujuan pertama saya pagi itu adalah Batik Annur di Jalan Trusmi Kulon, No. 435 telp 0231-321762. Saya selalu mengunjungi toko batik milik Bu Haji entah siapa namanya ini setiap kali ke Cirebon.

Cirebon (13)

Dulu saya sering menghabiskan waktu seharian pada saat akhir pekan di sini jika tidak bepergian ke mana-mana sehingga saya sudah hafal seluk beluk toko ini dan sudah entah berapa kali ganti penjaga toko.

Cirebon (12)

Saya membeli beberapa batik di bawah ini dengan harga yang cukup murah dan masih bisa ditawar apalagi jika sedang ada Bu Haji maka langsung saya geboy Ibunya untuk memberi diskon tambahan.

Cirebon (11)

Dari Batik Annur, kami berpindah ke toko batik di depan Annur. terlihat beberapa batik dengan gradasi warna yang sangat banyak dan cantik ini tetapi harganya lumayan sehingga saya tidak jadi membelinya. 😀

Cirebon (15)

Lalu kami meluncur ke arah pasar lagi ke Batik Asofa di Jalan Trusmi Kulon, No. 200, Plered, 45154 telp 0231-325219. Kebetulan si Jelo saat itu memesan batik mega mendhung warna oranye di mana di Asofa ini kebetulan stok mega mendhungnya sedang lengkap sehingga saya membelikannya di sini.

Cirebon (16)

Dan malah kalap membeli belasan pasang kain batik dan selendang yang sedang didiskon untuk hadiah lebaran nenek, bulik, budhe, serta keluarga saya di Malang. Di Asofa ini kita bisa membeli es durian, bubur sumsum, empal, dan beberapa camilan lain di depan toko, jadi sambil jangan khawatir haus atau lapar. Batik yang siap saya bawa dan es durian untuk mendinginkan kepala agar tidak semakin kalap belanja.

Cirebon (17)

Untung punya porter jadi tidak perlu repot bawa belanjaan. 😀

Cirebon (18)

Setelah dari Trusmi, kami kembali ke rumah Pak Pres dan segera bersiap kembali ke Jakarta. Kami mampir makan siang yang telat banget sekitar pukul 14.30 di Nasi Lengko H. Barno di Jalan Pagongan, Cirebon. Sebenarnya ada Nasi Lengko Pagongan Ibu Sukinah yang menurut banyak orang lebih enak dari Nasi Lengko H. Barno yaitu  yang letaknya di Gang Bie Liong sekitar 20 meter di deretan Nasi Lengko H. Barno arah Jalan Parujakan, namun nasi lengko ini cepat sekali habis dan tutup sehingga jika ingin mencicipinya harus datang di waktu yang tepat antara pukul 10 hingga 12.00 wib.

Cirebon (21)

Saat itu saya menghabiskan 2 porsi nasi lengko dengan sate beberapa kambing tusuk. Harga seporsi sate kambing isi 10 tusuk Rp30.000, sedangkan seporsi nasi lengko harganya Rp9.000. Ada es durian juga di sini jika kita ingin lebih fly setelah makan sate kambing.

Cirebon (22)

Dari Nasi Lengko H. Barno, kami menuju ke Pangestu, toko oleh-oleh khas Cirebon, yang juga favorit bos saya dulu dan memang menyajikan oleh-oleh khas Cirebon dengan kualitas terbaik dan harga yang bersaing. Favorit saya yang juga favorit bos saya adalah teri kacang. Dengan harga sekitar Rp35.000 untuk toples kecil ukuran 200g, kita bisa menikmati teri kacang yang benar-benar nikmat. Saya sering makan oatmeal, nasi merah, atau nasi putih hanya dengan teri kacang ini. Enak banget. Beneran. Oleh-oleh wajib dari Cirebon deh.

Cirebon (23)

Toko Oleh-Oleh Pangestu berada di jalan Sukalila Selatan Nomor 49 Cirebon, telp 0231-204073. Sekarang Pangestu membuka Pangestu Point di Jalan Siliwangi 165, dekat Super Indo Siliwangi arah PGC, Cirebon telep 0231-243456.

Cirebon (24)

hampir pukul 16.00 wib kami tiba di Stasiun Cirebon dan harus bersiap mengakhiri petualangan akhir pekan di Purwokerto dan Cirebon.

Cirebon (25)

Inside Cirebon Kejaksan Railway Station.

Cirebon (26)

This station is getting better and bigger since i left this  city.

Cirebon (27)

Bye Cirebon.

Cirebon (14)

Selfie 😀

Cirebon (28)

Senja tanpamu. Memang pernah senja bersamamu?
Cirebon (29)

Another sunset view on our way from Cirebon to Pasar Senen Sailway Station in Jakarta.

Cirebon (30)

Papandayan Perjuangan

Papandayan Perjuangan ini merupakan kegiatan pendakian Gunung Papandayan yang sudah dari tahun 2014  saya rencanakan dan ingin lakukan. Sebenarnya saya sudah hampir berangkat ke Gunung Papandayan bersama teman-teman #PJ11AdventureClub untuk menyambut perayaan 17 Agustus 2014, tetapi apa daya beberapa jam sebelum keberangkatan sakit maag saya kambuh dan memaksa saya berangkat ke rumah sakit dan istirahat selama beberapa hari. Karena kegagalan mengikuti trip tersebut, maka saya bertekad untuk mengadakan Papandayan Perjuangan ini. Awalnya Papandayan Perjuangan ini saya rencanakan pada awal Februari kemarin, eh ternyata gunung-gunung pada banyak yang ditutup sampai dengan akhir Maret, jadinya diundur menjadi awal April deh. Pada awal April, beberapa orang yang sudah mendaftar untuk ikut ternyata berhalangan hanya beberapa hari sebelum tanggal yang sudah ditentukan sehingga lebih baik dibatalkan dan dijadwal ulang di akhir bulan Mei karena jadwal saya hanya kosong di tanggal tersebut. #pffttt #soksibuk #kibasrambut #memangsibuk

Perjalanan kali ini saya berhasil mengajak 7 teman dengan komposisi 1 cowok dan 6 cewek, 3 teman sekantor dan 4 temannya teman sekantor, 2 orang pernah naik gunung dan 5 orang newbies, 1 orang Sunda dan 6 orang Batak. Jadi perjalanan kali ini temanya horas mejuah-juah. Dengan kompisisi pemula yang banyak, selain ada yang membawa perlengkapan sendiri, saya juga meminjam beberapa perlengkapan naik gunung teman-teman #PJ11AdventureClub mulai dari matras, sleeping bag, tas, tongkat, tenda, dan syukurlah semua terpenuhi.

Papandayan (2)

Jumat malam, di mana kemacetan luar biasa selalu terjadi di Jakarta, sama seperti malam itu. Farida yang harus mengikuti rapat di Lapangan Banteng baru tiba di kantor pukul 18.00 wib, Kristine yang baru saja mengikuti kegiatan kantornya di Taman Buah Mekarsari terjebak macet dan baru tiba di kantor pukul 18.15 wib, teman-teman baru yang kantornya di Soedirman masih ada yang dikejar deadline, dan saya sendiri belum packing doang. Sekitar 20.15 wib kami semua berkumpul di pool bus Primajasa di dekat BKN, Cawang dan segera mengambil nomor antrean. Bus ke  Garut cukup banyak peminatnya sehingga jika kita ingin naik, maka kita harus mengambil nomor antrean dulu. Saat itu kami dapat nomor antrean 886 s.d. 893. Saat mendekati nomor antrean, kita harus mendekati bus agar tahu jika kita dipanggil karena jika kita tidak tahu maka nomor kita akan dilewati. Bus yang kami tumpangi berangkat tepat pukul 21.00 wib dengan tarif per penumpang Rp52.000. Bus dengan tempat duduk 2-3 dan ber-AC ini cukup nyaman walau agak sempit dan terkadang ngebut agak skeri di tol.
Papandayan (60)

Kami tiba di Terminal Guntur, Garut sekitar pukul 1.30 dini hari dan langsung melanjutkan perjalanan ke Pasar Cisurupan dengan menggunakan angkot yang banyak tersedia di depan terminal untuk membawa pendaki dengan tari Rp20.000 per orang. Dengan jarak tempuh yang lumayan jauh, kami harus berdesak-desakan karena mobil angkot dengan kursi berjajar ke depan ini harus diisi oleh 4 penumpang tiap baris dan supir baru akan memberangkatkan angkot jika sudah terpenuhi kapasitas 15 penumpang. Kami bergabung dengan rombongan Olan yang berjumlah 5 orang. Perjalanan dari Terminal Garut ke Pasar Cisurupan ditempuh dalam waktu kurang lebih 30 menit dalam keadaan jalan bebas macet. #emangJakarta? #hah?

Dari Pasar Cisurupan kita harus berganti mobil bak terbuka aka pick up untuk menuju Pos I dan parkiran Gunung Papandayan. Kapasitas pick up ini juga 15 penumpang dan tarif per orangnya juga Rp20.000 sama seperti angkot tadi hanya waktu tempuhnya lebih singkat walau jalan yang dilalui menanjak. Pemandangan langit yang bertabur bintang terhampar di atas kita jika tidak sedang mendung seperti malam itu. Kata teman-teman yang ke sini tahun lalu, jalan yang dilalui pick up sangat rusak dan hancur, tetapi saat kami melewati kemarin jalannya sudah halus. Wefie di atas pick up.
Papandayan (3)

Pada saat memasuki Pos I kita akan didata berapa jumlah anggota yang akan berkemah dan diharuskan membayar uang administrasi. Kami yang se-pick up berjumlah 15 orang sepakat bergabung menjadi 1 grup saja dan membayar administrasi Rp112.000 atau sekitar Rp7.500 per orang. Pick up menurunkan kami di dekat warung-warung sebelum parkiran di mana kita bisa ke toilet atau beli makanan, minuman, kaos tangan, atau printilan yang kurang.
Papandayan (4)

Memasuki parkiran, kami membayar biaya administrasi Rp30.000 sebelum memulai pendakian. And you know what? We could actually drive a car to get to this place. There were already some city cars and even an old sedan in car park. It’s even cheaper, more comfortable, and save. Kami mulai mendaki sekitar pukul 4.15 wib dengan berjalan cantik nan pelan. Sudah lama nggak olah raga sih jadi letoy gini. Ternyata cukup banyak pendaki yang mulai bergerak saat itu sehingga kami cukup membuntuti yang depan agar tidak tersesat.
Papandayan (6)

Setelah berjalan dan beristirahat lalu berjalan lagi sekitar 45 menit, kami tiba di dekat kawah.
Papandayan (5)

Di dekat kawah ini kami berfoto-foto dan berfoto-foto dan terus foto-foto hingga lebih dari pukul 6.00 wib.
Papandayan (7)

Kumpulan siluet 7 orang pendaki.

Guess who is this.
Papandayan (10)

Looks cherfull even only a silhoutte.
Papandayan (11)

Unang mandele, Eda.
Papandayan (12)

Fierce.
Papandayan (13)

Strong.
Papandayan (14)

Playful.
Papandayan (8)

Keep on walking.
Papandayan (9)

The pros.
Papandayan (16)

Syella and the sun.

Papandayan (18)

Smoking hot Nainggolan.

Papandayan (19)

Rombongan kami dan rombongan Olan berfoto bersama.
Papandayan (15)

Zie yang membawa tenda, 2 matras dan sleeping bag. Kuat bingits yes?

Papandayan (17)

Kami berhenti di dekat kawah untuk sarapan hingga pukul 7.15 wib. Kami sarapan mie rebus dan gorengan serta minum teh manis panas di sini. Harga seporsi mie Rp10.000, satu buah gorengan Rp1.000, dan air mineral ukuran 1,5l Rp10.000, sama seperti di warung dekat parkiran. Di sekitar kawah ini banyak tumbuh pohon cantigi yang buahnya bisa dimakan langsung seperti lalapan. Kakak beradik ini adalah anak pemilik warung yang sedang bermain. How cute they are.
Papandayan (20)

Songon parbinsar ni ari manogot ma nian las ni rohanta.
Papandayan (21)

Kami siap melanjutkan perjalanan.
Papandayan (22)

Molo loja mangulon.

Papandayan (24)

Walaupun kata orang ini cukup mudah dan bisa digunakan sebagai latihan untuk pemula, kenyataannya jalur pendakian Gunung Papandayan cukup berat dan curam di beberapa titik. bahkan ada lho teman cowok yang sampai muntah di sekitar tanjakan ini.

Papandayan (26)

What a gorgeous view.
Papandayan (27)

Kami tiba di Pos II sekitar pukul 9.00 wib kemudian melapor dan melanjutkan perjalanan ke Pondok Saladah.

Vicky…

Papandayan (30)

Lince…
Papandayan (31)

Farida….
Papandayan (33)

Dengan jalan-pelan-pelan, beberapa kali istirahat, dan banyak banget foto-foto hingga 1 baterai kamera saya sudah habis saat kami tiba di Pondok Saladah sekitar pukul 9.30 wib. Kami mendirikan tenda di bagian agak belakang di dekat pepohonan dan ternyata lumayan dekat dengan toilet umum. Kami membawa 2 tenda, 1 tenda yang cuma 1 lapisan yang sudah sering saya pakai yang dibawa Zie dan 1 tenda baru yang lebih besar karena 2 lapisan yang belum pernah saya buka dan coba pasang. Walaupun agak kesulitan awalnya, tapi kami berhasil memasang si tenda kuning baru dengan mengintip tenda tetangga yang sejenis dan gambar di bungkus tenda. Toilet baru di dekat kami selesai dibangun hari Kamis 2 hari lalu sehingga masih cukup bersih dan nyaman dipakai, apalagi masih belum begitu banyak pendaki yang tiba. Berbeda dengan saat sore hari di mana kami sempat mengantre hingga 1 jam untuk bisa memakai toilet. Biaya pemakain toilet Rp2.000 atau sesukarela kita. Si bapak penjaga toilet juga ramah dan enak diajak ngobrol. Si bapak bercerita kalau dia bersama 5 orang rekannya berinisitaif membuat toilet ini seminggu lalu karena kasihan melihat banyak pendaki yang harus antre toilet. Bahan baku pembuatan toilet ini diangkut dengan menggunakan motor dari bawah. Motor trail bisa sampai ke Pondok Saladah dengan jalur yang sangat menyeramkan dan berbahaya. Kami melihat beberapa kali motor mati mesin dan berhenti di tanjakan sehingga harus dipegangi oleh pendaki yang berada di sekitar atau ditahan sendiri oleh pengendaranya.
Papandayan (68)

Untuk soal makanan, bagi Anda yang tidak mau ribet membawa nesting, perbekalan, air, camilan, dsb, Anda bisa membeli makanan dan minuman di sini dengan harga masih cukup terjangkau dibanding dengan di Jakarta. Ada lontong kari, kupat tahu, mie rebus, mie goreng, nasi goreng yang rata-rata dijual seharga Rp10.000 per porsi. Gorengan seperti bakwan, pisang aroma, tempe juga cilok harganya Rp1.000 per buah. Harga air mineral 1,5l beda sedikit dengan di bawah atau di dekat kawah, di sini harganya Rp15.000 per botol. Ada juga es campur bagi Anda yang ingin lebih mendinginkan hati dan pikiran di sini. Sandal, obat-obatan, sikat gigi, sabun, pembalut, sampo, aneka minuman, ada juga di sini. Cuma yang jual jodoh saja sepertinya yang tidak ada, eh, barangkali bisa dapat jodoh di sini.
Papandayan (69)

Setelah bersitirahat, makan siang di warung, and the ladies sudah touch up, kami siap menuju hutan mati. Sayangnya ChanHut, Syella, dan Kristine tidak iku ke hutan mati karena kondisi badan mereka. Dari Pondok Saladah, kita bisa melintasi jalur di pinggir hutan atau melewati aliran air untuk menuju hutan mati. Karena ketidaktahuan, kami mengikuti beberapa orang yang akan ke hutan mati lewat aliran air yang licin, berlumpur, dan sering membuat jatuh pengunjung yang lewat. Melewati jalur di samping hutan merupakan pilihan yang lebih baik karena jalur aliran air sering antre menumpuk dan terkadang membuat kita harus melepas sepatu daripada terpeleset atau menunggu antrean terlalu lama.
Papandayan (70)

Hutan mati jaraknya hanya sekitar 15 menit, ditambah waktu antre di aliran air, dari Pondok Saladah. Kita akan melewati banyak bunga leontopodium alpinum atau yang lebih dikenal dengan bunga edelweiss untuk menuju hutan mati. Tetap kinclong ya bo’ di gunung karena berbekal makeup dari eyeliner, lipgloss, lipbalm, foundation, bedak, to name a few.

Papandayan (37)

Kawah yang pagi tadi kami lewati terlihat dekat dari hutan mati.

Papandayan (43)

Sekitar pukul 16.30 wib kami kembali ke tenda, mandi dan membersihkan diri, lalu memasak makan malam. Syella memimpin acara memasak mie instan dan menggoreng sosis saat itu. Kami juga membeli nasi putih, gorengan, dan cilok sebagai pelengkap makan malam. Untuk minuman, kami membawa bandrek, teh, dan kopi, tetapi bandrek menjadi yang paling laris. Setelah makan malam, ada yang langsung tidur karena capek, ada yang markombur dengan tetangga tenda sebelah yang ternyata adik kelas dan teman 1 instansi, dan ada yang memantau keadaan sekitar, itu saya. Saya malam itu tidur dengan ChanHut, sedangkan 6 cewek berkumpul dalam 1 tenda karena tidak mau mengganggu saya dengan Chanhut. #eh Tenda sebelah kami berisi 2 orang cowok yang merupakan pasangan di mana si cowok mudanya sepertinya sedang menulis puisi atau semacam diary. Si Zie yang tidur paling dekat dengan pasangan itu mau tak mau mendengar pembicaraan mereka semalaman yang membuat dia jadi iri karena tidak membawa pasangan ke tempat dingin seperti ini. 😀

Pagi-pagi sekitar pukul 5.30 saya sudah ke luar tenda untuk mencari titik memotret matahari terbit yang berada di tempat Vicky, Lince, dan Farida berpose menjelang Pondok Saladah. Ada juga pendaki yang memilih memotret matahari terbit dari hutan mati, dan itu terlihat lebih keren sepertinya.
Papandayan (45)

Dan harapanku untuk bisa bersamamu tidak akan hilang selama matahari masih menampakkan sinarnya dari ufuk timur.
Papandayan (46)

Tenda yang jumlahnya jauh lebih banyak dibanding saat kami datang atau makan siang kemarin. Entah kapan didirikannya.
Papandayan (47)

Syella lagi-lagi memasak untuk kami.
Papandayan (48)

Kristine dan Zie menunggu cantik Syella dan mie rebusnya.
Papandayan (49)

Dan akhirnya kami siap untuk kembali ke peradaban nyata dan meninggalkan indahnya Papandayan.
Papandayan (54)

Zie dan printilannya.
Papandayan (50)

Tempat saya tadi pagi memotret matahari terbit di mana saya dikira kabur ke tenda pasangan sebelah karena pada saat anak-anak bangun, saya sudah tidak ada di tenda. #ngok 😀
Papandayan (51)

Semangat!! Semangat!! Semangat!!! Semangat ya, Bang, ngumpulin sinamot demi adik. Kalau aku sih walau gak ada sinamot yang penting ada kasih sayang Abang saja sudah cukup kok. *_*
Papandayan (52)

Jalan yang kami lalui kemarin pagi, kembali kami lalui.
Papandayan (53)

Kawah Gunung Papandayan yang ramai dikunjungi warga.
Papandayan (56)

Zie kakinya keseleo di dekat kawah yang membuatnya harus saya bopong untuk turun ke parkiran dan barang-barangnya dibawakan Chanhut. Tapi syukurlah sudah di jalan balik dan tinggal sedikit lagi ya.

Papandayan (1)

Parkiran Gunung Papandayan yang penuh. Kami menikmati kelapa muda seharga Rp7.000 per buah di pojok parkiran ini.
Papandayan (57)

Berjalan ke depan pintu masuk untuk mendapatkan pick up yang akan membawa kami kembali ke Pasar Cisurupan.
Papandayan (58)

Dan akhirnya kami tiba di Terminal Guntur setelah desak-desakan naik angkot lagi. Di dekat terminal, kami makan siang, belanja oleh-oleh, serta mandi dulu sebelum balik ke Jakarta. Tim kami pecah jadi dua yaitu yang jurusan pool Primajasa BKN dan jurusan Lebak Bulus. Karena saya, Syella, dan Farida akan ke Lebak Bulus, maka barang-barang pinjaman seperti sleeping bag, tenda, dan matras saya wadahi dalam karung beras yang saya beli di warung dekat terminal. Dan sampai sekarang karung itu masih belum saya bongkar isinya.

Senang berjumpa dengan kalian yang naik gunung saja membawa makeup lengkap dan masih sempat dandan paripurna di gunung. See you next trip.
Papandayan (59)

Pre Asian African Conference Getaway

Last week, i, Nananana, Ridha, and Lulel attended our collegaue wedding ceremony (in a remote area) in West Bandung. His wedding was just not that important to be attended, actually, because we only wanted to visit Bandung before Asian African Conference and Keraton Cliff. #slappedbyPanji

wedding

We’ve booked two rooms at Javaretro Hotel which is located on Jalan Cibogo 3 No.2, Sukajadi, Kota Bandung, Jawa Barat 40164, phone +62 22 2004358. A bit hard to find without Google maps and a bit far from the center of the city.

Bandung  (30)

The room was clean, the floor and the furniture was beautiful.  The parking lot was not large but you can use the street in front of the hotel to park your car. Free Wi-Fi was available but the signal wasnt that good. The staff were friendly. We skipped the buffet breakfast due to our city tour since early morning. What a good service for a low budget hotel.

Bandung  (32)

At 3.30 pm, we were going to Dago Pakar in a heavy traffic jam. We intended to visit Tebing Keraton but our friend-to-be-guide told us that we’d better go there tomorrow morning. So we only did a sight seeing near to The Valley and turned back to the center of the city afterwards. Its about at 5 pm when we touched down Asia Afrika street and was greeted by a very-very-heavy-traffic jam. I saw a huge excitement from the people to welcome the Asian African Conference Commemoration 2015 that would be held there. It took about 80 minutes to reach the parking lot in Great Mosque of Bandung that usually only takes less than 10 minutes.

Bandung  (1)

We prayed at the mosque first before doing photocall in all over the street.

Bandung  (2)

The mosque was beautiful and the yard was just covered with the new synthetic grass. Children love playing there.

Bandung  (4)

The sign of “Alun-Alun Bandung” which means Bandung City Square.

Bandung  (3)

Here we come in the Asia Afrika boulevard with those colorful flags from the participants of the conference.

Bandung  (19)

I almost did’nt know any country leader on the painted box.

Bandung  (6)

The girls with i-know-some-of-these-leaders figures.

Bandung  (5)

The guys styled our president with a sideway hat and jacket. -,-

Bandung  (7)

Then we had dinner in the not-satisfying a la Japanese restaurant nearby our location in Naripan Street. We had to wait until half and an hour to have our ramen, bento, and dimsum to be served while the other customer had only wait for less than 15 minutes. We asked for our dishes like five times but they were just busy with the other customer. That was our decision to stay there due to our friends were on their way to this place while we had been here for an hour. At the end, there were some beverage and dimsum they couldnt serve but they possibly served it to another customer. This place offered us a good vibe to hang out with fellas and the taste of the food was just ok actually.

Bandung  (8)

We went back to the crowd in the fountain area.

Bandung  (9)

The girls tried to atrract the police attention.

Bandung  (10)

Lulel seemed lost in the crowd.

Bandung  (12)

The building was almost ready to welcome the delegate.

Bandung  (11)

I took a part on a selfie competition which was held in front of Pikiran Rakyat building.

Bandung  (29)

Nananana tried to operate this big and antique typewitter.

Bandung  (13)

Homeless guy across the street of GKN.

Bandung  (14)

A beautiful colonial building and the traffic jam.

Bandung  (15)

Selfie time.

Bandung  (16)

And we did a selfie again with the museum as the background.

Bandung  (17)

Mamang with Charlie Chaplin.

Bandung  (20)

Passing by East Cikapundung Street again.

Bandung  (18)

A beautiful globe monument with the name of country participants of the conference.

Bandung  (21)

It was 10.30 pm when we got back to the parking lot under the mosque. We moved to La Viva Cafe on Jalan Setiabudi No. 173, Bandung to taste the infamous surabi or serabi, Indonesian pancake made of rice flour and coconut milk. Surabi is best cooked with mini pans made of clay, then cooked on the charcoal-fire stove.

Bandung  (23) Bandung  (22)

In Bandung, surabi are served with so many topping choices like cheese, chocolate, jackfruit, palm sugar, oncom, durian, corn, chicken, strawberry, banana, etc. It costs Rp5.500 to Rp13.000.

Bandung  (25)

It was Sunday morning when we went all they way up to Keraton Cliff.

2015-04-26-10-47-44_deco

Then we packed up our belongings and checked out from the hotel and had some shopping spree in House of Donatello and Kartikasari on Juanda Street. We enjoyed our last moment in Bandung by having a late luncheon at Kupu Bistro Cafe on Ranggagading Street, phone +62 22 4232621. This cafe offered a very cozy environment to hang out.

 Bandung  (34)

The food and beverage taste was average and the price was not pricey.

Bandung  (33)

Its lychee virgin mojito was so fresh and testeful with this beautiful presentation.

Bandung  (35)

Finally we had to go back to Jtown and ended our fabulous weekend getaway.

Freedom in Keraton Cliff

wpid-2015-04-21-19-30-51_deco.jpg

Cover Story: Freedom in Keraton Cliff
Photographer: Lulel, E.A. Paminto
Stylist: E.A. Paminto
Models: E.A. Paminto, Nananana, Lulel, Ridha
Make-Up: Natural
Hair: Natural
Location: Taman Hutan Rakyat (Tahura) Juanda & Tebing Keraton, Bandung
Dress: E.A. Paminto, private collection

wpid-tahura-2.jpg.jpeg

Tebing (in English: cliff) Keraton is the new hype and a must-visit place in Bandung city, the capital of West Java. To get this place, go to Tahura in Bukit Dago Pakar from Terminal Dago.

wpid-tahura.jpg

Go ahead from Tahura then turn right in the first  T-junction after Tahura and go all the way up until you reach Warung Bandrek. Then take the left road until you reach the village and take the left road again until it ends and you’ll reach the gate of Keraton Cliff.

2015-04-24-21-34-28_deco

We took an ojek (motorcycle taxi) ride to Keraton Cliff from Tahura as we parked our car there. The ojek ride costs Rp75.000 per person for a round-trip. Normally, we should pay Rp100.000 (some people said it only costs Rp50.000 last year, but now it increases twice) but we negotiated the price for about 10 minutes,  left the drivers to have a breakfast, then got the deal with the drivers. I was so happy for the Rp75.000 deal. I couldnt imagine that we (i mean the girls, because i just can’t drive the car) had to drive on the bumpy, narrow, and steep road. Ojek ride from Warung Bandrek to Keraton Cliff costs about Rp40.000 for a round-trip.

wpid-2015-04-21-17-19-09_deco.jpg

A misty morning.

2015-04-24-21-13-17_deco

She’s free… I mean she is still available… #dikeplak

2015-04-24-21-14-04_deco

Always pack light when traveling. Bring colourful pashmina, scarf, and hijab, in order to accentuate your fabulous trip and increase your mobility.

2015-04-24-21-12-42_deco

Lulel with cheerful style.

wpid-2015-04-21-17-20-04_deco.jpg

Nananana with boyish style.

wpid-tebing_keraton-2.jpg.jpeg

Ridha with high class style.

wpid-tebing_keraton-1.jpg.jpeg

Myself with dramatic style.

wpid-2015-04-21-17-57-29_deco.jpg

For sure i wore my pashmina better like no one wears Victoria Beckham collection better than her.

wpid-2015-04-21-17-58-47_deco.jpg

Keraton Cliff… Superb view with less effort… 😀

2015-04-24-21-14-33_deco

Lelakon Akhir Pekan di Cirebon

Saya sempat tinggal di kota ini selama 30 bulan, sejak pertama kali penempatan untuk bekerja yang diawalai dengan mewek-mewek karena tidak tahu di mana kota ini hanya sering mendengar saja. Ternyata Cirebon adalah kota yang kaya akan kuliner, batik, wisata rohani, dan lumayan enak untuk tinggal. Walaupun kota ini panas, sepanas goyang tarling (gitar dan suling) yang merupakan ciri khas pantura, tetapi cukup bebas dari polusi dengan biaya hidup yang cukup terjangkau. Tingkat kemacetan di Cirebon masih wajar jika dibanding dengan Jakarta yang sudah level pengen dielus-elus lalu ditendang ke planet Mars. Kunjungan saya ke Cirebon ini hanya untuk weekend getaway sekaligus kondangan. Saya berangkat ke Cirebon dengan menggunakan Tegal Express pukul 06.40 wib dan tiba pukul 10.00.

Stasiun Prujakan

Di Stasiun Cirebon Prujakan, saya sudah ditunggu oleh 2 keluarga muda. Keluarga Mr dan Mrs President, serta keluarga Bapak dan Emak. Pak’e dan Mak’e balik ke rumah dulu sehingga saya jalan-jalannya dengan Mr dan Mrs President. Tujuan pertama adalah ke Gado-Gado Prujakan yang terletak di depan stasiun.

kerata

Yang khas dari gado-gado ini adalah kuah kuning (di dalam panci dekat cobek) yang dicampurkan ke bumbu kacang.

Gado-Gado Prujakan (3)

Gado-gado ini terdiri dari aneka sayuran, mie kuning, potongan tempe dan tahu goreng, lontong, serta kerupuk udang yang dicampur jadi satu dengan bumbu kacang lalu ditambahkan setengah butir telur rebus di atasnya

Gado-Gado Prujakan (2)

Strike a pose with the Chef.

Gado-Gado Prujakan

Seporsi gado-gado ini harganya sekitar Rp15.000. Terlihat sedikit tetapi aslinya banyak banget dan bikin kenyang.

Gado-Gado Prujakan (4)

Di sini juga tersedia bubur sum-sum dengan mutiara dan biji salak.

Gado-Gado Prujakan (7)

Endeuuuusss bener dah.

Gado-Gado Prujakan (8)

Ada juga kerupuk soun sambal yang pedas-pedas nikmat.

Gado-Gado Prujakan (9)

Misro yang manis kayak kamu.

Gado-Gado Prujakan (6)

Bakwan udang yang merupakan gorengan favorit di sini dan bakwan biasa yang juga tak kalah enak.

Gado-Gado Prujakan (5)

Kami melanjutkan perjalanan ke Keraton Kasepuhan. Harga tiket masuknya Rp20.000,00/orang untuk akhir pekan.

harga Tiket Keraton

Replika Kereta Kencana Singa Barong dengan efek ala-ala.

Kereta

Kereta Kencana Singa Barong yang asli.

Kereta (2)

Lukisan Parbu Siliwangi di Keraton Kasepuhan ini konon bisa melirik mengikuti pandangan orang yang menatapnya saat berpindah dari sisi depan ke samping. Sayangnya saya tidak melihat lirikan itu, padahal saya mau dilirik juga. #eh

Lukisan

Mr. dan Mrs. President serta Princess Ririri berpose dulu.

Keraton (2)

Pintu menuju bagian pendopo kareton serta tempat tinggal sultan dan keluarga.

Keraton

Pengunjung tidak diizinkan melewati garis pembatas ke dalam pendopo ini.

Keraton (4)

Langit Cirebon yang biru dengan cuaca yang panas dan terik.

Keraton (3)

Saya diajak ke rumah Mr. President dulu karena Ririri sudah saatnya tidur siang. Kenyataannya sih walaupun sudah dikeloni bapaknya, si Ririri malah ngerecokin bundanya yang sedang saya ajari membuat sayur lodeh.

Sekitar pukul 16.30, kami berangkat ke kantor lama saya untuk menjemput Mas W.

Lalu kami pun cus ke Nasi Jamblang Ibu Nur di Jalan Cangkring II, dekat Grage Mal di Jalan Tentara Pelajar ke arah Stasiun Prujakan, di sebelah kiri jalan masuk beberapa meter.

Jamblang Bu Nur

Nasi Jamblang Bu Nur ini ngeheits banget sejak saya pindah dari Cirebon. Dulu lokasinya di Jalan Tentara Pelajar dengan warung di pinggir jalan yang sederhana tetapai ramai sekali setiap sore hingga malam. Menu yang ditawarkan di sini seperti di nasi jamblang lain tetapi tempatnya yang lumayan luas dan enak karena menggunakan bangunan berlantai dua. Sistem antrean seperti di teller bank juga membantu agar pengunjung lebih tertib dalam mengambil menu yang ada, nasi jamblang lain belum menerapkan sistem ini dan cenderung serobotan saja antarpengunjung.

Jamblang Bu Nur (2)

Meja dan kursi kayu panjang untuk pengunjung di lantai satu.

Jamblang Bu Nur (3)

Mr. dan Mrs. president serta Ririri mengantar saya dan Mas W ke rumah Fajar yang akan mengantar kami jalan-jalan lagi. Fajar, Mas W dan saya kemudian menjemput Mas F yang baru datang di stasiun dan kami langsung menuju angkringan di Kanoman. Lokasi yang sama dengan Pasar Kanoman saat pagi hingga siang hari di dekat Ace Hardware ini akan berubah menjadi angkringan jika malam. Makan lagi…….

Angkringan

Minggu pagi saya kabur sendirian dari rumah Fajar demi Nasi Jamblang Pelabuhan. Gedung British American Tobacco di dekat pelabuhan yang saya lewati.

BAT

Dan sampailan saya di Nasi Jamblang Pelabuhan yang nyempil di pojokan tetapi rasanya enak banget.

jamblang pelabuhan

Nasi jamblang di sini adalah favorit saya karena rasanya yang paling sesuai dengan selera saya, ada pula Nasi Jamblang Tulen di Jamblang, sebuah daerah di Cirebon arah Majalengka, yang enaknya melebihi nasi jamblang ini tetapi jauh dari kota. Jika ingin merasakan nikmatnya Nasi Jamblang Pelabuhan, jangan lebih dari pukul 09.00 wib di akhir pekan karena biasanya menunya tinggal sedikit atau sudah habis.

Jamblang Pelabuhan (2)

Selamat makaaaaannnn….

Jamblang Pelabuhan

Dari pelabuhan, saya melanjutkan perjalanan ke Pasar Pagi dengan naik becak untuk mencari oleh-oleh yang murah meriah dengan kualitas yang lumayan jika dibandingkan dengan Pangestu, toko oleh-oleh favorit saya di Sukalila Selatan yang saat itu masih belum buka. Dari emping, kue gapit, aneka ikan asin, kerupuk udang, terasi, manisan mangga, tapai Kuningan, sirup Tjampolay, dan banyak lagi deh.

Pasar pagi

Setelah membeli sedikit oleh-oleh, saya melanjutkan jalan kaki ke arah Jalan Siliwangi yang sedang diadakan car free day di sana. Saya mampir untuk sarapan kedua di Bubur Toha di jalan M. Toha dekat Balai Kota Cirebon. Bubur ayam di sini enak banget dan porsinya tidak berlebihan. Jangan lupa menambahkan sambal dan kerupuk kuning saat makan bubur ayamnnya.

Bubur Toha

Dan ternyata perut saya belum kenyang juga. Bubur kacang hijau dan ketan hitam yang enak ini menanti untuk saya santap. Selain bubur ayam dan bubur kacang hijau dan ketan hitam, di sini yang melegenda adalah telur ayam kampung rebus setengah matangnya, sayangnya saya tidak suka telur setengah matang. Pengunjung sering memesan 4 atau 5 butir telur yang dituang dalam sebuah gelas kemudian diaduk dan diminum.

Bubur Toha (2)

Selesai sarapan (lagi) di Bubur Toha, saya hanya tengok-tengok mampir sejenak di docang, makanan khas Cirebon yang tidak begitu saya sukai, yang ngeheits di depan Hotel Slamet dekat Bubur Toha depan Warteg Siliwangi (yang harganya selangit). Kata teman yang suka docang sih, doang di sini enak banget.

docang

Kemudian beli mangga gincu di Pasar Kramat dekat situ.

Mangga Gincu

Lalu foto-foto sebentar di depan Istana Negara sebelum akhirnya kembali ke rumah Fajar.

Istana Negara

Sesampainya di rumah Fajar, dia dan Mas F mengajak saya untuk mencari sarapan dan saya usulkan gado-gado ayam. Kami pergi ke Gado-Gado ayam Mang Djum di Jalan Pulasaren nomor 53, Cirebon. Menu yang tersedia di sini selain gado-gado ayam adalah nasi lengko, kupat tahu, dan soto ayam seperti gambar di bawah.

Sop

Gado-gado ayam tidak seperti gado-gado Prujakan atau gado-gado pada umumnya yang menggunakan bumbu kacang dan sayuran, lebih mirip orem-orem (Malang-an), atau ketupat sayur, atau kari ayam dengan sedikit bumbu kacang. Potongan ketupat/lontong yang sudah tersedia ditambahi dengan taoge rebus, potongan kentang rebus, potongan tahu, potongan telur rebus, dan ayam suwir lalu dituangkan kuah santan yang seperti kari, diberi sedikit bumbu kacang, dan terakhir ditaburi kerupuk.

Gado-gado ayam

Lalu kami bersiap-siap untuk kondangan yang menjadi acara utama kami ke Cirebon saat itu. Setelah kondangan, saya, Fajar, Mas W, dan Mas F menyempatkan diri ke Trusmi. Karena waktu yang terbatas, mereka langsung saya arahkan ke Batik Annur yang merupakan toko favorit saya. I bought the blue one while Mas F bought some pieces to her girlfriends and the other boys didnt buy anything.

batik trusmi

Kami menyempatkan diri untuk mencicipi es santan dengan roti dan tapai ketan hijau yang nikmat dan murah meriah di siang yang panas banget ini di sekitar Batembat.

Es Santan

Juga menyempatkan diri membeli kue-kue di La Palma di Jalan Siliwangi samping Balai Kota yang merupakan salah satu toko kue favorit saya dulu. Puding tapai ketan hijau FTW.

la palma

Dan akhirnya buru-buru ke Stasiun Prujakan untuk mengejar kereta Tegal Express pukul 15.50. Berakhirlah sudah perjalanan makan-makan saya di akhir pekan ini.docang

Prujakan

Natural High

During my first year addicted to fashion, all I ever knew was Americas Next Top Model-related things. Then, in the end of 2008, my excitement about fashion was getting bigger and bigger when i found some fashion sites like models.com, supermodels.nl, style.com and watched FTV even more. Lets say I was already that good copying every pose from ANTM then i saw those sites and the real fashion show on FTV that delivered the editorial, campaign, fashion show, backstage etc. I said to myself, “That’s the real supermodel, now you have to improve youself to have that kinda style and do that pose”. I remember, I downloaded and saved some Heidi Klum editorial pictures from the site and she’s just wowed me how she’s done that. And i also found this “Natural High” which was fresh from the magazine and totally blowed me away.

image

Came from Vogue US October 2008, Natural High photographed by Steven Meisel and styled by Marie Amelie Sauve.

image

Some supermodel, then become my favorite, Coco Rocha, Anna Maria Jagodzinska, Lily Donaldson, Caroline Trentini, fronting the lens of Meisel.

image

They wore the most wanted pieces from the season. Coats from Mikhael Kors, Revillon, Cavalli, Dennis Basso, de la Renta, J. Mendel, Pucci, Nina Ricci, Dolce & Gabbana, Gucci, and Fendi. The shoes, the dresses, sweater, the heels, cuff, clutch, necklace, make up, hair do, ough gosh everything seemed to be so purefect.

image

My favorite part of this editorial is Coco Rocha. She nailed it. Then Lily’s pose in velvet Vera Wang dress was just gorgeous.

image

Now I’m gonna show you my editorial inspired by Natural High.

image

Taken from the Gede Mountain summit that we did back in September.

image

This faux fur coat, inspired by Prada SS 2014 mink coat, made by fabric that i bought in Cipadu, a traditional market for garments, bed cover, carpets, etc nearby my location.

image

The fabric only costed less than Rp100.000,00.

image

It feels so warm and soft. She really likes my coat.

image

I didn’t wear Loubi, Choo, YSL, or Vuitton heels, but Rei. A must have adventure gear.

image

That’s Pangrango Mountain behind my Rei.

image

Look at my muscular leg.

image

I think i have to stop before you slap my ass and throw your heels to my face. Thanks to my adventure team. My colleague.

image

And this is my real dress that time.

image