Dieng Plateau

Dieng Plateau
Vogue Italia January 2016: Ancient Pieces
Model: Paminto, Zee
Fotografer: Paminto Meisel, Denpe Roversi
Makeup Artist: Estu McGrath
Hair: Guido Paminto
Set: Estu
Stylist: Franca Soestu
Cover story: Windy Road Memories

Dieng PlateauPosong berada di Kabupaten Temanggung hampir berbatasan dengan Wonosobo dan hanya ada gapura kecil yangmengantarkan kita seperti masuk ke jalan kampung yang hanya cukup dilewati 1 mobil. Jalanan menuju Posong masih berupa makadam dengan kondisi naik turun. Sayang sekali sore itu sedang mendung gelap sehingga pesona 7 puncak gunung yang berada di sekitarnya tidak begitu tampak.
Dieng Plateau
Zee is wearing tenun Lombok dress.
Dieng Plateau
Kemeja kain taplak yang agak keras dan seperti saringan yang saya dapat di Pasar Klewer, Solo dikombinasi dengan songket Palembang.
Dieng Plateau
On the day after, we went to Arjuna Temple in Dieng Plateau. Im wearing faux mink coat, deep v neck t shirt, and orange Ulos Sadum as scarf.
Dieng PlateauZee berbalut pashmina tenun Lombok.
Dieng

Pashmina tenun Lombok yang juga saya kenakan di Kawah Sikidang

Dieng

The Kondangan Team.
Dieng

Ala-Ala di Puerto Rico

Ini adalah kali ke sekian saya tahun ini ke Kota Ngapak, Purwokerto aka Puerto Rico. Saya ke sini lagi untuk mencoba ikut bea siswa dan ternyata tidak berhasil lagi. Kegagalan saya mungkin karena faktor strategi, kekurangseriusan, serta keberuntungan. But that’s ok cause i still had time to please myself in the city.

Purwokerto (2)

If you want to stay in a budget hotel, you can choose Hotel Pandawa Syariah. It is a good hotel with affordable price and frindly staff near to Purwokerto Railway Station. Hotel Pandawa Syariah is located at Jl. Gatot Subroto No. 8, Purwokerto phone 0281-636092.

Had a fabulous chitchat and dinner with my friends at Umaeh Inyong.

Purwokerto (1)

Yes, i already had a member card of this restaurant and always be here everytime i go to Puerto Rico.

Umaeh Inyong (3)I went to Umaeh Inyong again on the day after having dinner with my frineds for a big lunch after having test for scholarship.

Umaeh Inyong

Ukiran sebagai pembatas dengan taman.

Umaeh Inyong (6)

Bistiknya agak asin sih untuk selera saya tetapi lumayan lah untuk harga segitu.

Umaeh Inyong (5)Tempe mendoan sepiring dengan sambal kecap dan es durian. Slurrp.

Umaeh Inyong (4)

Sebelum kembali ke Jakarta setelah kondangan di Purbalingga pada awal tahun 2015 ini.

Umaeh Inyong (1)

Umaeh Inyong is located at JL Jenderal Ahmad Yani, No. 147, Purwokerto phone 0281-5759000. Umaeh Inyong (2)Setelah kekenyangan makan dan waktu keberangkatan kereta masih  lama, saya memilih ke stasiun dengan jalan kaki menelusuri Jalan Ahmad Yani dan Jalan Gatot Subroto.

Purwokerto (3)

Semakin mendekati Stasiun Purwokerto saat melintasi jembatan dengan sungai yang masih bersih ini. Andai saja sungai di Jakarta bisa seperti ini.

Purwokerto (4)

Stasiun terlihat dari bawah jalan layang di mana terdapat banyak warung dengan makanan yang nikmat.

Purwokerto (5)

Siap meninggalkan kota ini lagi untuk menuju Cirebon. Yay…..

Purwokerto (6)

Foodgasm in Semarang

This hot city is known for its Dutch colonial architecture, Chinatown, tidal flood, and culinary, especially the fusion culinary between Chinese and Indonesian flavors. Im gonna tell you about my culinary experience just around Simpang Lima and Gajah Mada street.

1. Lumpia Express

Located at Jalan Gajah Mada 142 AA, Semarang. This is kinda springrolls filled with bamboo shoots, chicken, shrimp, and boiled egg in wet and dried form. Bamboo shoots is a must filling in lumpia. Some of us may dislike bamboo shoots smell eventhough they have reduced a lot that stingy smell. My friend, who accompanied me that time, did’nt like that smell but when he tried to taste it, he succeded to eat that so-damn-good food. It is best served with onion leaves, cucumber pickles, fresh chili, and a special thick-and-sweet lumpia sauce. You can eat it in or take it away.

2015-02-25-21-19-58_deco

2. Pong Tofu “Perempatan Depok”

Located in the corner of Depok and Gajah Mada street intersection. The fried tofu is served with rise dish, fried boiled-egg, fermented-shrimp sauce, and radish pickles. You can taste this delicious food by paying only Rp13.000 for the pong tofu only package  to 24.000 for the complete one.

2015-02-25-21-00-08_deco

3. Nasi Pecel “Mbok Sador”

Located in Simpang Lima across the Ace Hardware building. This is the infamous pecel stall in Simpang Lima.

2015-02-25-21-22-22_deco

Nasi pecel is made of  rice dish with cooked vegetables (i.e. long bean, kangkung, bean sprouts, sawi, papaya leaves, cassava leaves) and peanut sauce (pecel). You can add rempeyek, kerupuk, satay, fried tempe and tofu, corn croquette, and many other choices.

2015-02-25-21-15-38_deco

4. Nasi Pindang Kudus and Soto Sapi “Gajahmada”

Located in front of Petempen street. Nasi pindang is made of rice dish with traditional spicy beef soup. There are some complementary side dishes like potatoe croquette, fried tempe and tahu, kerupuk, and chicken intestines satay. It opens from quite early in the morning until evening.

2015-02-25-21-17-01_deco

5. Maduranese Chicken Satay

You’ll find some food vendors sell this East Java dish in Gajah Mada street near to Depok street, but we chose H.M. Hasan satay. You can taste the delicious grilled chicken and egg served with peanut sauce, soy sauce, fresh onion slices, lime juice, and lontong slices (a cylinder boiled and compressed rice cake wrapped inside a banana leaf).

2015-02-25-21-12-11_deco

There is also a smashed banana vendor near to the satay vendor. You can choose topping combinations from chocolate sprinkles, cheese, powder sugar, to brown sugar. It only costs Rp5.000 per plate

2015-02-25-21-11-20_deco

6. Babat Fried Rice “Pak Karmin”

Located near to Lumpia Express. A mouth-watering spiciy and a bit sweet Javanesse fried rice with beef tripe (babat) that suits to my Javanesse tongue. You can order a plate of babat gongso, beef tripe stir-fried with soy sauce, to get more fat and satisfaction. A plate of fried rice costs about Rp20.000,00 with lots of babat slice.

2015-02-25-21-17-54_deco

7. Angkringan.

You will find this kinda food stall in the night in front of Great Mosque in Simpang Lima which you have to sit (in Javanesse “angkring”) on the floor and you can discuss or gosipping as long as you want to. There are mini gudeg rice, or rice with papaya leaves, or rice with anchovies costs as a main dish. A skewered, seasoned, boiled quail eggs satay, sausage satay, chicken intestines satay, meatball satay, fried snack (gorengan) as side dishes that cost very cheap. Don’t forget to order STMJ, abbreviation from susu (milk), telur (egg), madu (honey), and jahe (ginger), a hot traditional drink to warm your body. You’ll find many street musicians come and go, so you’d better prepare some small change for them.

2015-02-25-21-12-59_deco

8. Duck Fried Rice

This is an roadside food vendor in Inspeksi Street which sells hot spicy fried duck and hot spicy Javanesse fried rice with duck. It’s so hot, delicious, but a bit expensive for an open stall in Semarang.

2015-02-25-21-04-19_deco

9. Meatball Tofu “Cah Ungaran”

Located at Jalan Simpang Lima no. 2,  in the corner of Simpang Lima, near to a gift shop across the street from Ace building, this food originally comes from Ungaran, in Semarang highland. Ough goshhh… I do like this steamed tofu filled with meatball. You can fry it first or eat it directly. The fried meatball tofu costs Rp33.000, and the unfried one costs Rp30.000 per box contains 10 meatball tofus. Served with fresh green chili or table sauce.

2015-02-25-21-14-30_deco

I love Semarang culinary and can’t get enough of them.

Prau, Mudah, Meriah, dan Indah

Gunung Prau mungkin sedang ngeheits abis di kalangan pencinta gunung maupun para muda-mudi yang ingin merasakan indahnya di puncak gunung tetapi dengan perjuangan yang tidak terlalu berat. Tetapi, latar belakang saya ikut ekspedisi mendaki Gunung Prau ini bukan karena itu karena saya baru pertama kali mendengar namanya saat diajak Chevalier untuk bergabung ke rombongannya. Saat itu saya sih sedang mureee kali dan pelampiasan karena habis gagal ke Gunung Papandayan. Pendakian ke Papandayan adalah inisiatif saya. Saya yang memilih berangkat tanggal 15 Agustus 2014 agar bisa merasakan 17an di puncak gunung. Saya juga yang menyiapkan logistik untuk di sana. Akan tetapi, ndilalah sakit maag saya kumat sejak tanggal 12an dan tak tertahankan sakitnya setelah Jumatan, beberapa jam sebelum keberangkatan, sehingga saya terpaksa harus sowan ke UGD rumah sakit dan batal ikut mendaki Papandayan. Akhirnya rombongan teman kantor yang tergabung dalam  PJ11 Adventure Club berangkat berdelapan tanpaku. (salahe dewe ra njogo awak lan mangan) -____-‘

image

Cheva mengajakku ke Prau sekitar tanggal 20 dan saat itu juga aku langsung cari tiket kereta ke Purwokerto yang mendekati keberangkatan kereta rombongan Cheva yang berjumlah 7. Singkat cerita, aku naik kereta dengan keberangkatan pukul 18.50 pada hari Jumat, 5 September lalu dari Stasiun Pasàr Senen. Sekitar pukul 20.30, Cheva mengabari di Whatsapp kalau komuter dia dari Bogor masih tertahan di Stasiun Manggàrai di saat 6 orang anggota rombongan yang sudah di Senen sedang harap-harap cemas menunggu Cheva. Hingga saat keberangkatan kereta pukul 20.50, Cheva belum sampai juga di Senen dan ternyata dia yang pegang semua cetakan tiket rombongan. Walhasil saat tahu seluruh rombongan tertinggal kereta dan mereka memutuskan akan naik kereta pada Sabtu pagi, di saat saya sudah lewat Cirebon, saya bingung mau bagaimana nanti di Purwokerto. Daripada saya terlantar atau menginap di hotel à la-à la, maka saya memutuskan untuk bablas ke Kutoarjo saja, di mana kereta ini akan bermuara, yang saya pikir sudah dekat ke Yogyakarta jadi saya bisa jalan-jalan à la-à la saja di sana sambil menunggu rombongan. Menurut Mbah Google, cara menuju Yogyakarta pada pukul 03.00 dini hari dari Stasiun Kutoarjo adalah dengan ke luar stasiun ke arah jalan besar dan menunggu bus di depan kantor BRI yang lumayan nampak gedungnya dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Saya tidak memilih naik Prameks karena baru ada pukul 06.00 WIB.

Sampailah saya di Malioboro, 06 September 2014 pukul 06.30 WIB setelah naik bus jurusan Cirebon-Yogyakarta yang melintas di depan BRI dengan tarif Rp30.000, dilanjutkan naik TransJogja Rp3.000 dari Terminal Giwangan ke Halte Kridasono di Malioboro.

image

Makan pecel dulu lah kita.

image

Nyam….. makan pecel komplit nambah lauk beberapa kali seharga Rp28.0000,00. 😁

image

Setelah kenyang, muter-muter sebentar di Pasang Beringharjo tanpa tujuan, diteruskan membunuh waktu di Benteng Vredenburg. Masuk ke Benteng Vredenburg ini cukup membayar Rp2.000,00 untuk umum dan ada tarif khusus pelajar. Pada saat bergalau ria tidak jelas di benteng ini, aku iseng-iseng menghubungi temanku, Anggie, yang kantornya di Yogyakarta dan rumahnya di Magelang. Awalnya sih aku mau melanjutkan perjalanan ke Wonosobo via Magelang dengan numpang cemil-cemil sikit, eh ternyata alhamdulillah Mak Anggie, suami, anak, dan adiknya sedang di Yogyakarta dan tidak begitu jauh dari lokasiku. Lalala yeyeye. 😁

image

Akhirnya Mak Anggie dan keluarga menemaniku jalan-jalan di Kebung Binatang Gembira Loka dong. Tiket masuk kebung hinatang ini Rp25.000,00 per kepala. Lumayan banget muter-muter di sini hingga pukul 11.00 lebih.

image

Lalu kami pun uscita us us us sanah menuju homestay di mana mereka akan check out pindah ke hotel untuk malam nanti dan aku bisa numpang mandi juga. 😁

image

Dalam perjalanan ke homestay, aku berhasil menghubungi travel Sumber Alam yang kudapat dari internet.

Travel Sumber Alam, Yogyakarta 6: Terminal Jombor Pintu Keluar sebelah Utara (Kios A2) Telp. (0274) 7172017.

Dengan harga Rp45.000,00 dan keberangkatan pukul 13.30 WIB maka saya bisa santai sejenak di homestay sebelum diantar ke Terminal Jombor, bahkan sempat nongkrong nyemil es krim di salah satu kafe dulu karena kepanasan. 😄

Teman-teman yang naik kereta pagi dari Jakarta sudah tiba di Purwokerto dan sedang menuju Wonosobo menggunakan bus umum di saat saya sedang menunggu travel yang katanya berangkat pukul 13.00 tetapi belum tampak juga hingga hampir pukul 13.30 WIB. Kalau tarif bus dari Purwokerto-Wonosobo itu Rp20.000,00 dengan menggunakan bus 3/4 katanya. Tepat pukul 13.30 WIB travelnya datang yang ternyata berupa mobil minibus kapasitas 12an orang dan lumayan bagus dengan harga yang terjangkau tersebut. Perjalanan dari Yogyakarta ke Wonosobo diperkirakan akan ditempuh dalam 2,5-3 jam. Jalanan yang dilalui cukup menantang medannya karena berbelok-belok naik turun pegunungan dan terkadang agak rusak di beberapa titik. Sempat juga terjebak macet hampir 45 menit saat melewati lapangan tempat berlangsungnya acara dangdutan atau apalah yang menyebabkan warga dan kendaraan mereka tumpah ruah di jalan. Sekitar pukul 17.00 WIB saya tiba di Wonosobo, tepatnya di Taman Plaza, sebuah alun-alun yang indah dan bersih di pusat kota Wonosobo. Sambil menunggu teman-teman yang masih persiapan di rumah Cheva, saya menikmati semangkok mie ongklok sedap nan berlendir kenyal-kenyal nikmat beserta 5 tusuk sate ayam di dekat situ.

image

Sekitar pukul 18.00 WIB, Cheva dan rombongan datang menghampiri saya dengan menggunakan angkot sewaan unutuk menuju Dieng. Dalam remang-remang angkot, berkenalanlah saya dengan anggota rombongan yang lain. Saya hanya mengenal Cheva dan Tepoy sebelumnya, sedangkan dengan Jingga, Rere, Mbak Hani, dan Ihwan baru berkenalan dalam remang angkot tersebut. Biaya sewa angkot dari Wonosobo ke Dieng Rp125.000,00 sekali jalan, sebelum kenaikan BBM kemarin lho ya. Tersedia juga elf dan bus 3/4 dari Wonosobo ke terminal Dieng PP tetapi saya kurang tahu tarifnya.

Sekitar pukul 19.00 WIB kami tiba di Desa Patak Banteng, base camp tempat pendaftaran bagi para pendaki Gunung Prau. Biaya pendaftaran sebesar Rp5.000,00 per kepala harus dibayar ke petugas di base camp yang letaknya di belakang salah satu rumah penduduk. Kita harus melewati sisi samping rumah dan mripit-mripit untuk sampai ke base camp yang ternyata penuh dengan orang yang akan mendaftarkan diri untuk mendaki. Setelah mendaftar, ke toilet dan beres-beres maka kami mulai mendaki sekitar pukul 19.30 WIB. Janganlah terkejut ketika melihat parkiran motor dan pendaki yang jumlahnya tidak kalah dengan pengunjung mal pada akhir pekan. Ini gunung atau mal, gumamku.

Ada dua jalur mendaki Gunung Prau, yaitu melalui Bukit Teletubbies yang memerlukan waktu sekitar 4 jam dengan jalur yang cocok untuk pemula, atau melalui jalur Patak Banteng yang jalurnya agak curam tetapi waktu tempuh hanya sekitar 3 jam.

Dari base camp ke pos 1, kami melewati perkampungan rumah penduduk dan jalananya masih mudah dilalui bahkan motor pun bisa melaluinya dan belum diperlukan lampu senter karena pencahayaan dari sekitar masih mencukupi. Tiket masuk kita akan diperiksa saat kita berada di Pos 1. Kemudian barulah kita mulai melewati jalur menanjak nan curam. Saat itu aku, Tepoy, dan Ihwan sebagai tim pembuka lahan. Aku membawa tenda dan nesting. Ihwan juga membawa tenda satu lagi. Jalur Patak Banteng ini ternyata rusak dan penuh debu. Aku pikir ini karena pekan yang lalu pada akhir bulan Agustus diadakan Dieng Culture Festival, tetapi kata Mas-Mas yang asli situ yang sedang mengantdr tsmu untu mendaki yang sedang duduk beristirahat sejenak di tengah hiruk pikuk pendaki, katanya di sini memang semakin hari jalur dan alamnya semakin rusak bahkan dibanding beberapa pekan yang lalu saat dia naik. Mungkin juga karena tidak ada waktu larangan mendaki dan cukup mudahnya pendakian di situ. Ada rombongan yang menyalakan petasan berkali-kali sepanjang jalan dan kami hampir selalu berdekatan dengan mereka. Di tanjakan lain yang tidak ada pohon-pohon sama sekali, ada beberapa utas tali yang sepertinya terbuat dari kain dengan posisi saling menyilang digunakan sebagai pegangan pendaki pada bagian paling rusak dan curam di jalur Patàk Banteng ini. Setelah melewati bagian yang menurut saya paling berbahaya ini, kami duduk-duduk di rumput di lereng gunung dan memandangi langit yang penuh bintang.

Sekitar pukul 22.30 WIB, rombongan pembuka lahan tiba di puncak Gunung Prau dan kami langsung mendirikan tenda. Kami dapat lahan yang agak miring karena sebagian besar lahan ternyata sudah dipakai oleh rombongan lain. Saya tercengang melihat begitu banyak tenda yang didirikan di sini. Hampir pukul 24.00 saat tenda sudah siap, rombongan Cheva dan cewek-cewek tiba dan kami langsung menyantap makan malam yang telah dibawa dari Wonosobo. Menu makan malam kami dari sambal goreng ati, telur dadar, ikan goreng, ayam goreng, capcay, tempe mendoan, enaaaaakkkk.. 😀

Minggu, 7 September 2014 pukul 4.30 WIB. Dalam suhu udara yang cukup dingin, saya mulai bangkit dari tenda dan bergegas mèngejar matahari terbit dari lapangan. Saya ditemani Ikhwan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan teman-teman yang masih belum beranjak dari tidur mereka. Kami memiljh untuk pergi ke bukit agak jauh di depan lapangan tempat kami mendirikan tenda di mana terlihat beberapa orang sudah ada di sana.

Pemandangan matahari terbit yang begitu indah.

image

Bisa mendapatkan bonus pemandangan Gunung Sumbing dan Sindoro dari dekat dan Gunung Merapi dan Merbabu di kejauhan. Sungguh indah negeriku Indonesia tercinta ini.

image

Nampang sikit lah awak di puncak gunung-gunung terindah di dunia.

image

Oh indahnya….. 😍

image

Jika melihat ke depan akan mendapatkan pemandangan matahari terbit dan gunung-gunung yang indah, maka saat kita menghadap ke belakang akan mendapatkan lautan manusia yang seperti antre mau nonton film yang paling ngeheits saat ini di bioskop.

image

Gunung Prau 2565 mdpl.

image

Selain keindahan gunung-gunung di sekitarnya, Gunung Prau juga terkenal akan keindahan bungan daisinya yang menyebar di segala penjuru gunung. Terpampang nyata keindahan bunga ini.

image

Lautan tenda di puncak Gunung Prau. Tidak heran begitu banyak orang yang datang ke sini karena jalurnya yang bisa dibilang mudah dan jarak tempuh yang tidak lama serta pemandangan luar biasa yang didapat, maka banyak ABG hingga orang tua yang mendaki ke sini. Biarlah para pendaki memakai hot pants, wedges, leather bikers jacket atau pakaian apapun yang mereka inginkan, ASAL tolong jangan merusak alam di sini. Banyak para pendaki yang menuliskan nama mereka pada pohon dengan menggunakan cat atau pun guratan pisau layaknya itu adalah hall of fame atas kehadiran mereka. Ada juga yang membakar kayu atau membuat perapian di sekitar pohon-pohon yang rawan kebakaran, belum lagi sampah yang ditinggalkan tanpa dipedulikan. Pengelola Gunung Prau mungkin perlu mengatur jadwal tutup dari pendakian layaknya Gunung Gede/Pangrango atau gunung-gunung lain demi keberlangsungan ekosistem dan hayati di gunung ini. Atau penutupan selama 1 tahun agar gunung ini bisa istirahat sejenak dari kebisingan strangers yang selama ini mengusik dan merusanya.

image

Sekitar pukul 08.00 WIB kami telah selesai membereskan tenda dan siap untuk kembali ke Dieng melalui jalur Bukit Teletubbies. Pemandangan Telaga Warna dari Puncak Prau.

image

Tepoy dengan bunga-bunga daisi.

IMG_7690

Melewati Bukit Teletubbies. Andaikan kau ada di sini, mungkin kita akan berpelukan seperti Teletubbies….. 😣

image

Pagi itu saya dan Tepoy sebagai tim pembuka lahan dan tiba di terminal Dieng sekitar pukul 11.00 WIB sehingga kami bisa makan-makan dulu sambil menunggu yang lain tiba.

image

Saya memilih makan sop jamur di warung Mbak Mien dan teh manis panas. Di Dieng sini tidak ada minuman es teh atau es-es lainnya lho.

image

Sekitar pukul 12.00 WIB saat semua rombongan telah tiba, saya ditugasi menghubungi supir angkot yang mengantar kami dari Wonosobo untuk menjemput dan membawa kami kembali ke sana. Tik tok tik tok hingga pukul 13.30 supir tersebut belum datang juga. Akhirnya kami berpindahke masjid dari warung Mbak Mien. Sudah pukul 14.00 WIB dan supir belum datang jugà. Saat ditelepon selalu saja dia bilang sudah dekat lah, ini lah, itu lah tetapi kami tetap menunggu sambil membeli cilok di depan masjid, bahkan beli oleh-oleh khas Dieng seperti Purwaceng yang saya beli ini. 😆

image

Sudah lewat pukul 14.30 WIB dan supir angkot tersebut belum juga datang. Mau ditinggal kasihan, mau ditunggu kok belum datang juga. Akhirnya kami menunggu di depan pertigaan utama di Dieng karena sudah geregetan menunggu.

image

Pukul 15.05 pak supir datang denganangkotnya dan langsung membawa kami ke Wonosobo. Cheva kuminta menghubungi travel Sumber Alam untuk membawa kami dari Wonosobo ke Purwokerto.

Travel Sumber Alam, Wonosobo: JL. S Parman No. 32 (0286) 321 589, 0853 2666 0688

Pada saat memesan travel ini, kami sampaikan bahwa kami berdelapan dan akan ke Purwokerto untuk naik kereta pukul 19.50 WIB sehinngga kami meminta diutamakan dan dimohon pengertiannya. Akhirnya pihak travel bersedia akan memberangkatkan pada pukul 16.30 WIB dengan tarif per kepala Rp45.000,00 asal kami harus sudah tiba di lokasi travel pada waktu tersebut. Pukul 16.10an kami telah tiba di kantor travel yang letaknya dekat Taman Plaza tersebut dan langsung turun dari angkot dengan membayar tarif sewa seperti saat berangkat, yakni Rp125.000,00. Sambil menunggu kedatangan mobil travel, kami menikmati mie ongklok di seberang jalan kantor Sumber Alam tersebut. Mobil travel baru datang hampir pukul 17.00 WIB dan kami semakin deg-degan jangan sampai tertinggal kereta untuk yang kedua kalinya. Tetapi, walau deg-degan kami masih bisa tertidur pulas di sepanjang perjalanan karena sudah pada letih. Apalagi aku, yang sangat capek dan sedih menjalani hari-hari tanpamu.

image

Sekitar pukul 19.40 kami tiba di kota Purwokerto, tetapi kami harus menambah biaya Rp10.000,00 per kepala agar diantar sampai ke stasiun. Awalnya sih kami berencana mandi-mandi cantik dan gegoleran manja serta makan kenyang di rumah Mbak Hani jika sampai Purwokerto masih sore. Apa daya karena sampainya sudah mepet, maka Bapak Mbak Hani datangbke stasiun dan membawakan kami tempe mendoan seabreg buat dicemil di kereta. Dan ternyata……, keretanya telat. Kereta yang mengangkut rombongan Cheva diperkirakan akan tiba pukul 21.00 WIB, apa kabar keretaku yang harusnya berangkat pukul 21.00 WIB? :'(

IMG_7731

Kami memilih untuk duduk selonjoran di lantai stasiun saja sambil menunggu kereta. Kereta Cheva dkk datang pukul 21.00 WIB dan keretaku ternyata tidak begitu jauh jaraknya, yakni datang pada pukul 21.15 WIB. Dengan aroma keringat pada kaos, jaket, training dan tubuh ini yang tidak mandi 2 hari, mohon maaf untuk siapa pun di sekitar kursiku duduk di kereta malam itu.

Drama di Travel Menuju Resepsi Niong

Banyak jalan menuju Batak (walaupun saya belum pernah berkunjung ke Sumatera Utara untuk mencari Batak langsung di asalnya tapi mungkin ini bisa menjadi perumpamaan yang paling sesuai), begitulah adanya ketika aku dihadapkan beberapa pilihan menuju ke acara pernikahan nenek Niong di Purbalingga. Karena sudah mengetahui tanggal H pernikahan nenek agak lama maka bisa menimbang-nimbang moda transportasi yang akan kupakai menuju kesana. Berikut beberapa pilihan tersebut:

1. Keret api. Banyak kereta api yang melintasi stasiun Purwokerto yang mana merupakan stasiun paling dekat dari Purbalingga. Naik kereta api memerlukan waktu tempuh perjalanan yang tidak terlalu lama, sekitar 6 jam dari Jakarta dengan tarif bervariasi dari 35.000 yang ekonomi sampai ratusan ribu yang eksekutif. Jam keberangkatan juga bervariasi setelah maghrib sampai jam 21.00.

2. Bus. Moda transportasi ini cukup terjangkau dari Rp.40.000 sd 70.000an tetapi berangkat dari Jakarta sebelum jam 5 sore sehingga harus mengorbankan pulang cepat sebelum waktunya dan memotong tunjangan. 🙁

3. Travel. Naik travel sepertinya enak, tinggal nunggu dijemput, menikmati perjalanan dan sampai deh ke tujuan cus tanpa ganti-ganti kendaraan lagi. Ini yang direkomendasikan oleh nenek. Dijemput biasanya sekitar habis maghrib ddan sampai di Purbalingga subuh atau jam 6an pagi. Harganya juga lumayan terjangkau yakni Rp 120.000

4. Pesawat. Wohohoho yamasak harus naik pesawat ke Jogja dulu lalu lanjut bus ke Purwokerto atau Purbalingga? Sudah pesawatnya mahal masih pakai ganti-ganti kendaraan dan bisa lebih lama lagi di jalan.

5. Nebeng. Omai… masak mau nebeng bus rombongan teman-teman se-ruangan kakek??? Kenal aja nggak… bisa-bisa diusir yes…

Oke yes, dari empat pilihan tersebut rombongan mak-mak yang juga akan hadir ke Purbalingga memilih naik kereta karena yang paling nyaman dan cepat menurut mereka. Aku yang masih bingung naik apa kesana belum juga memutuskan mau ikut rombongan mak-mak atau bagaimana. Nenek mendukung dan sangat menganjurkanku naik travel apalagi agen travelnya adalah tetangganya sehingga lebih tenang lah gak bakal kesasar. Ku putuskan naik travel sesuai instruksi nenek itupun H-4 setelah bertapa brata nan cantik. Setelah memutuskan untuk naik travel itu, si nenek yang mau ngurusin pemesanan travel tiba-tiba tudak bisa dihubungi seharian karena HP nya ketinggalan di rumah dan lupa tidak dibawa ke kantor, makin deg-degan dong takut kehabisan travel. Sudah larut malam akhirnya nenek membalas sms ku dan memberitahu nomer telepon travel tapi karena sudah larut malam jadi belum ku hubunga. Keesokan harinya aku menelepon travel tersebut, mas yang menerima teleponku sudah tahu dong kalau si Diva Purbalingga bakal mengakhiri masa gadisnya jadi aku disambut baik untuk naik travel tersebut demi menghadiri acara hebring disana.

Sesuai rencana, hari jumat aku bakal dijemput setelah maghrib(???) di kantor oleh travel. Jumat menjelang maghrib aku di-sms travelnya kalau mereka(driver dan kenek) masih di Grogol untuk menjemput penumpang lain dan berhubung macet banget karena biasalah jumat sore ditambah habis ada demo perangkat desa di depan gedung DPR/MPR jadinya makin machicha deh jadi mungkin aku jam 7-an dijemputnya. Jam 7 kurang aku sms dan telepon mas travel, katanya sudah di Slipi menuju Gatot Subroto dan aku sudah siap dong dijemput. Karena satu dan lain hal mereka tersesat malah mau jemput aku di dekat Hotel Atlet Senayan, nah lho lah wong aku di Gatsu kok malah jemput di Senayan. Karena susah juga mau muternya jadi mereka memutuskan untuk menjemput penumpang lain yg tadi belum siap dijemput pas mereka di Grogol. Meluncurlah mereka ke Sunter menjemput penumpang tersebut. Walau aku tidak tahu Sunter dimana tapi sepertinya itu jauh di utara mana gitu dan harus muter lagi dong. Aku biarin sajalah toh aku tinggal nunggu saja di kantor.

Jam 20.30an aku belum juga dijemput dan telepon mereka dong agar aku dijemput saja di depan KC biar gak usah muter segala ke kantor apalagi masih macet banget terlihat dari kantor. Saat itu aku tanya mereka dan katanya masih di Sunter kejebak macet. Aku pikir beberapa saat lagi juga bakal sampai dan berrhubung perutku sudah lapar banget jadi aku cabut dari kantor dan makan malam saja dulu di Hokben KC sambil nunggu travel. Tik tok tik tok. Sudah selesai makan, sudah duduk-duduk centil sendirian sampai 1 jam lebih sampai hokben tutup jam 22.00 an tapi belum ada tanda-tanda kedatangan travel dan katanya mereka masih terjebak macet di Sunter. Hiiiiikkkkkksss. Mulai panik dan ngomel-ngomel sendiri dong. Konon ada Porsche nabrak Avanza atau sebaliknya gitu lah yang membuat tol macet parah. Yaksip.

Hokben sudah tutup dan duduk-duduklah aku SENDIRI di depan Hokben dalam remang-remang pegawai Hokben pulang sampai sepi pegawainya pulang dan gerainya benar-benar ditutup. Pukul 22.30 belum ada kabar juga dan agak serem juga sik duduk gajebo di depan Hokben situ jadi aku memutuskan untuk pindah duduk di pinggir jalan dekat pintu masuk parkiran motor. Sambil masih memakai batik hitam putih motif kupu-kupu yang sudah seharian kupakai dan belum sempat mandi di kantor jadilah aku duduk-duduk sendiri di pinggir jalan Gatsu yang tiba-tiba ramai lagi entahlah selain karena truk dan kendaraan besar sudah bisa lewat tol dalkot setelah jam 22.00 atau memang karena macet di ujung mana yang terurai, jadilah macet pindah ke sekitar Gatsu (Batik yang ku pakai ini adalah batik yang kupakai pas mudik dan terpaksa naik travel tengah malam dari Surabaya ke Malang bulan lalu).

Sudah garing banget dong jam 23.15an dan travel belum jemput mana kayak mangkal gini duduk di pinggir jalan sendirian. Setelah telepon-telepon mengabarkan posisiku dan posisi travel akhirnya jam 23.30an aku dijemput dari pinggir jalan itu. Masuk travel aku langsung disuguhi pemandangan yang uwow banget. Pemandangan dimana hanya ada 1 supir, 1 kenek, dan 1 penumpang cowok. Omaiiiii… yakin ini travel mau jalan ke Purbalingga kalau cuma 2 penumpang gini?? Masuklah travel ke tol dalam kota yang masih padat merayap tapi sutralah aku mau tidur saja karena capek banget nunggu dan berharap pas aku bangun sudah di Purbalingga di rumah nenek. Jam 01.30an aku terbangun dan menyadari bahwa travelku ada di suatu arena entahlah yang sepertinya sang supir sedang mencari penumpang di daerah Tambun, Bekasi coret jauh ke antah berantah. Aku lanjut tidur dam jam 1an dong baru berhasil menemukan seorang ibu yang membawa 1 anak balita dan 1 bayi di pelosok Tambun. Makin gemes aja dengan travel ini tapi mau gimana lagi.

Lanjut (pura-pura) tidur lagi. Jam 2.30an travel entahlah berada di daerah Cibitung atau mana yang aku semakin tak tahu. Muter-muterlah mencari penumpang 1 lagi yang ingin dijemput yang mana jam 3an baru berhasil ditemukan lokasinya dan kita lnagsung cus menuju jalan besar yang aku harap itu adalah jalan tol menuju Cikampek. Yah akhirnya masuklah kita ke tol sekitar jam 3.20an dan aku MAKIN khawatir apalagi dapat sms dari rombongan emak-emak yang sudah sampai di Purwokerto jam 3 kurang disaat AKU MASIH DI BEKASI. huwaaaaaaaaa

Memasuki Karawang, sang mempelai wanita tiba-tiba telepon aku.

Nenek: “Cu, sudah dimana?”

Aku: “Baru masuk Cikampek nek… hikss”

Nenek: “Apaaa?? masih di Cikampek? telat dong ke acaraku!!!”

Aku: “Udahlah nek tenang aja, sana make up an gih biar cucok, aku pokoke nyampai sana lah walau telat ya…” (sambil gemes dan jengkel banget karena masik di Cikampek dan bakal gak bisa menyaksikan akadnya nenek)

Dengan travel yang sangat mengebut dan kondisi hatiku yang jengkel banget akhirnya aku tidur lagi. Jam 5an sudah di Indramayu dan jam 6 memasuki Cirebon. Tiba-tiba agak macet dan cenderung memang macet dan aku langsung ingat kalau ini adalah hari sabtu dimana adalah hari pasaran di samping hari selasa di Pasar Tegal Gubug (pusat grosir pakaian di Cirebon). Erghhhh makin gemes dong sudah jam segini tapi malah kejebak macet lagi. Supir travelnya kemudian mengendarai mobil dengan kecepatan cukup tinggi di marka jalan yang berkontur njeglong-njeglong dan aku sudah semakin pasrah aja deh. Setelah melewati macet akhirnya tidak begitu lama kamipun memasuki jalan tol Palimanan-Kanci-Pejagan. Cus pak ayo cus pak.

Jam 7an sudah sampai di Pejagan dan travelnya bukan lewat jalur utama tapi malah masuk ke arah jalanan di tengah sawah-sawah yang agak rusak dan bergelombang gitu dan tetap dengan ngebutnya dan ujug-ujug sampai saja di jalur utama Bumiayu. Jam 8an di sekitar Ajibarang aku semakin geregetan karena tahu gak bakal kekejar akadnya nenek dan dapat sms dari mak Dada kalau akad nikah akan segera dimulai dan genk mak-mak baru saja ketemu nenek L tapi tetap dong dengan kecepatan yang waz wuz agak seremonial.

Jam 9.30an travel sudah memasuki Purwokerto dan aku sudah bisa sedikit bernafas lega karena ya sudahlah gitu ya yang penting sampai dan bisa mengikuti resepsi nenek. Aku mulai sms mak Dada, mbak Lela dan adiknya nenek si Dimas. Gak ada yng balas sms dong dank u telepon juga gak bisa. For your information sik kalau aku dan sebagian besar mak-mak pakai nomor telkomsel yang mana di rumah nenek yang katanya di remote area itu sinyal yang paling bagus adalah XL. Sebenarnya tujuan utamaku menghubungi mereka agar ada yang menyambutku dan membawaku ke tempat dimana aku bisa cus mandi dang anti pakaian karena belum mandi sejak pulang kantor kemarin ditambah makin kucel di travel belasan jam itu.

Penumpang pertama akan diantarkan menuju rumahnya di kecamatan yang sepertinya arah Baturraden tp masuk Purbalingga dan pelosok gitu. Gemes banget dong tahu tujuan nganternya jauh bener gitu. Di tengah kegusaran bakal berpenampilan kucel itu aku segera mengeluarkan peralatanku.  Tisu basah, tisu kering, parfum, sisir, deodorant spray menjadi tumpuan make overku dalam travel. Dengan posisi duduk di deret belakang supir, di tengah diantara 2 penumpang dan di belakangku ada seorang ibu dengan 2 anak balitanya, mulailah aku mengusap-usap muka dengan tisu basah, lanjut ke leher, lengan lalu ulangi muka, leher dan lengan. Dan aku tanpa malu mengusap-usap tisu basah masuk ke dalam kaosku di sekitar dada, ketiak, punggung, dan diulang beberapa kali biar badan terasa lebih segar. Au ah kata penumpang lain dan supirnya 😀

Setelah muter-muter nganterin mas pertama itu, kata supirnya tujuan kedua adalah mengantarku ke Bedagas, rumah nenek. Oke aku masih mencoba menghubungi mak-mak dan Dimas yakale aku bisa disambut di dianterin mandi di sungai kek yang penting cucok murokocodot pas masuk ke acara dan tetap gak ada hasil menghubungi mereka dan sinyalku pun ikut-ikutan hilang L

Dan aku melanjutkan dengan menyemprot deodorant ke ketiak dengan memasukkannya ke dalam kaosku juga. Cus cus semprot ketiak kanan kiri. Lalu semprot parfum ke seluruh penjuru kaos biar gak bau kecut dan nanti bisa langsung didobelin kemeja gitu. Lanjut dong usap-usap tisu basah ke rambut biar lebih segar baru ku basahi dengan air mineral lalu ku sisirin rambut yang sudah bad hair day banget. Semakin dekatlah menuju rumah nenek, sudah melalui kota dan kira-kira 5km lagi rumahnya kata supir travel.

Saat mulai menuju rumah nenek tersebut aku bertanya kepada supir dan mas sebelah kira-kira bisa gak ngedrop aku di pom bensin yang di dekatnya ada tukang ojek jadi ntar biar aku mandi aja di situ lalu tinggalin deh biar aku nanti lanjut dengan tukang ojek. Eh gak ada tukang ojek dong katanya dan gak perlu juga mandi di pom bensin karena mending mandi di tetangga-tetangga nenek -____-“ Baiklah… Lalu aku melihat ada salon di sisi jalan dan aku berpikir bagaimana kalau aku mampir saja ke salon untuk krimbat atau cuci rambut bentar tapi sebelumnya numpang mandi dulu dan setelah cucok sekalian minta dianterin ke rumah nenek. Berharapnya sik yang punya salon baik gitu dan mau menolongku 😀 dan tiba-tiba setelah melewati salon itu beloklah travel ke pom bensin. Aku langsung minta ijin kalau boleh numpang mandi sebentar aja gitu tapi kata mas travelnya gak boleh dan langsung aja menuju rumah nenek. OKESIP!!

Dan…. Sekitar jam 10.30an pas akan keluar pom bensin, supir travel melihat teman atau tetangga atau siapanyalah yang sedang memperbaiki mobil di dekat jalan keluar pom bensin dan dia malah berhenti dan menawarkan bantuan untuk memperbaiki. HUWAAAAAAAA WTH banget pikirku mas-mas ini apadeh. Dan mas supir dan kenek turun dan kita ditinggal di mobil dong. Tapi aku segera mendapat ide untuk segera kabur mandi dan bilang ke mas sebelahku kalau aku dicari tolong bilangin aku ke toilet bentar. Cusss deh aku bawa kemeja dan peralatan mandi dan ngibrit ke toilet. Sekitar 10 menitan aku mandi dan mempercantik diri dan segera kembali ke mobil dan ternyata belum selesai juga membantu  mobil temannya yang rusak dong. Sambil cengengesan sendiri aku bersyukur banget walau datang telat dan masnya pakai membantu temannya tetapi aku bisa mandi dan dandan dikit 😀 Pas travel sudah mulai jalan mereka menyadari kalau aku sudah mandi dang anti baju dan aku diketawain dong mbuh gak jelas. Beberapa kilometer setelah pom bensin itu akhirnya sampailah aku di rumah nenek yang sudah ramai tamu-tamu. Okedeh makasih mas-mas travel dan penumpang-penumpang yang udah bersamaku semalaman sampai siang ini selamat melanjutkan perjalan mengantar penumpang-penumpang lain. That’s all. 😀