Mengambil Haluan ke Kiluan

Do you know how it feels when you were invited to your bestie’s wedding in somewhere over the rainbow then you gotta do a business trip for weeks until the day before the wedding? Just go on and enjoy your random trip then.

I had just finished a business trip for a couple of weeks with GGS (Ganteng-Ganteng Situmorang, thats how i call my most silly hiking-friend and colleague) and Mr. A when we landed at 10 PM on Friday in the 13th busiest airport in the world and a heavy traffic jam was still going on. I and GGS  would go to attend our bestie’s wedding so we asked for Mr. A to bring our luggage to his boarding house. We dicided to go Cikupa (as we told by our friend) to get direct bus to Merak seaport. Damn, we forgot that M1 gate were already closed so our taxi had to detour to get there. We had waited an hour in Cikupa but there was no bus to Merak. We finally took a random “omprengan” car to bring us to Serang highway gate for Rp15.000 each, then we took a bus to Merak seaport for Rp10.000 each. It’s quarter after one i’m all alone and i need you now, ishh… i mean it’s a quater afterone and i was with GGS in this seaport and we never had never been here before. We dicided to follow other bus passangers who looked like would take a ferry trip. We finally sailed across Sunda strait for about 3 hours and landed in Sumatera. Yeahhh…

Lampung  (1)

Pukul 5.30 kami tiba di Bakauheni lalu dilanjutkan perjalanan dengan mobil travel berupa APV ke Bandar Lampung kemudian ganti bus ke Bandar Jaya. Kami tiba di Masjid Istiqlal Bandar Jaya pukul 10.00 wib dan menumpang mandi di sana. -,-

Lampung  (2)

Kami tidak sempat mengikuti akad tetapi tidak sampai ketinggalan acara resepsinya, kok 😀 . Selama acara, bukannya menikmati acara, aku malah sibuk bergerilya mencari kawan untuk diajak jalan-jalan antara ke Kiluan, Pahawang, atau Way Kambas juga boleh. Walaupun capai tetapi masak jauh-jauh ke Lampung lalu pulang sorenya? Hah! Saya berhasil membujuk GGS, Keron, Anggit, dan Princeless untuk jalan-jalan dan mereka setuju ke Kiluan. Sekitar pukul 12.00 kami menuju penginapan tempat kawan kami dari tadi pagi.

Lampung  (3)

Kami yang akan ke Kiluan diangkut ke Tanjung Karang dengan mobil pacar kawan yang orang Lampung asli sedangkan kawan lain akan naik bus Damri pada sore hari menuju Jakarta langsung. Tetapi kami pesta durian dulu. Terima kasih om dan tante yang baik hati banget menyediakan sekeranjang durian dan sepanci bakso yang enak banget.

Lampung  (4)

Duriannya sumpah enak banget.

Lampung  (5)

Saya pusing bau durian jika di Jakarta tetapi doyan banget jika di Sumatera. 😀

Lampung  (6)

Sekitar pukul 16.00 kami dijemput supir yang telah kami sewa untuk mengantar kami ke Kiluan dengan tarif Rp1,2 juta untuk 2 hari (mau menyewa dari Sabtu pagi atau Malam hingga Minggu pagi atau malam katanya dihitung tetap 2 hari). Jalan menuju Kiluan benar-benar parah, hanya bagus di awal-awal sekitar 1 jam pertama perjalanan, setelahnya hancur seperti sungai kering, daan kawan saya semua bisa tidur sedangkan saya diminta duduk di depan dan jagain supir biar tetap terbangun.

Kiluan  (1)

Sekitar pukul 20.30 kami tiba di Kiluan. Pak Supir tadi yang mencarikan kami penginapan karena penginapan yang di pulau sudah penuh.

Kiluan  (2)

Kawan-kawan agak ketakutan karena dalam gelap larut malam begini naik jukung. 😀

Kiluan  (3)

Dan kami akhirnya tiba di penginapan. Entah apa namanya, saya lupa -,-

Kiluan  (4)

Kami berlima menginap dalam 1 kamar yang cukup luas yang masih tersisa dengan tarif Rp300.000/malam. Tersedia kamar mandi dengan air yang sangat terbatas dan 2 kasur serta ada soket (colokan) listrik. Kami mengobrol dengan tetangga kamar sebelah yang serombongan 6 orang juga dari Jakarta. Mereka bilang tadi siang dari laguna yang ada di belakang bukit agak jauh dan terjal jalannya ke arah pemukiman penduduk. Pada saat itu kami baru ngeh kalau ternyata penginapan ini masih di Pulau Sumatera, bukan di pulau lain selain pulau yang penginapannya penuh yang sebelumnya saya telepon. Tadi itu hanya menyeberang menggunakan kapal karena penginapan kami jauh dari perkampungan tempat mobil diparkir sehingga paling cepat adalah menggunakan kapal. -_____-“

Kiluan  (5)

Gotcha!!!! Keron mengimami Anggit. Subhanalloh…

Kiluan  (6)

Untuk makan malam, menu yang tersedia hanyalah mie instan dan nasi, menu ikan bakarnya sudah habis karena kami yang merupakan tamu dadakan.

Kiluan  (7)

Daripada kelaparan ya makan saja. Mariiiii.

Kiluan  (8)

Suasana malam yang romantis dengan sepoi-sepoi angin laut dari depan kami.

Kiluan  (9)

Mas-mas rombongan lain yang sedang nongkrong.

Kiluan  (10)

Sudah pagi dan kami tidak sabar untuk melihat lumba-lumba dengan tarif Rp250.000/kapal untuk maksimal 3 orang/kapal. Sebelum berangkat melihat lumba-lumba, kami sarapan dengan nasi uduk, telur rebus yang dibumbu bali dan tempe.

Kiluan  (68)

Selfie dulu saat kapal mulai bergerak.

Kiluan  (11)

The boys were in another boot.

Kiluan  (12)

Ombaknya cukup tinggi jadi serasa naik rollercoaster.

Kiluan  (13)

Dan ternyata banyak kali pengunjung yang mau lihat lumba-lumba.

Kiluan  (14)

Tengok kanan-kiri-depan-belakang dan semakin banyak pengunjung tetapi lumba-lumba tak kunjung menampakkan diri.

Kiluan  (15)

Terdapat lebih dari 30 kapal jukung yang bergerilya untuk mencari lumba-lumba untuk ditunjukkan kepada para wasatawan. Saya merasa sedih saat mengetahui bahwa ternyata begitu banyak kapal dengan pergerakan ke sana-sini demi melihat lumba-lumba dan hasilnya lumba-luma hanya muncul sesekali. Saya sama sekali tidak menikmati perburuan lumba-lumba pagi itu karena kasihan kepada mereka. Minyak kapal yang tumpah serta beberapa sampah yang dibuang pengunjung juga membuat saya sedih. Mungkin ini sudah menjadi tradisi dan lumba-lumba juga sudah terbiasa dengan kegaduhan pengunjung tetapi tetap saja sedih hati ini.

Kiluan  (16)

Saya lebih menikmati debur ombak yang naik turun serta selfie bersama kawan daripada semakin mengganggu lumba-lumba.

Kiluan  (17)

Another selfie.

Kiluan  (18)

again….

Kiluan  (19)

again….

Kiluan  (20)

And again.

Kiluan  (22)

Rombongan keluarga bersama bayinya.

Kiluan  (21)

Siap berlabuh di hatinya.

Kiluan  (23)

Yeayy…

Kiluan  (24)

Kapal jukung yang mengantar kami.

Kiluan  (25)

Berlabuh.

Kiluan  (27)

The girls were looking for their soulmate. #ngok

Kiluan  (26)

Princeless played with sea creatures.

Kiluan  (28)

Native toddler.

Kiluan  (69)

Setelah bermain-main di pantai, kami memutuskan untuk ke laguna saja karena cukup ditempuh dengan berjalan kaki, berbeda dengan jika ke pulau harus bayar kapal dan tiket masuk pulau.

Kiluan  (29)

Ciee….. Princeless who almost got a prince…

Kiluan  (30)

Strike a pose.

Kiluan  (31)

Striked a pose with Sumatera island as backdrop, and we were still in Sumatera.

Kiluan  (32)

Serasa pemotretan untuk Rabbani dengan tema “Adventurous Solehah Girl”.

Kiluan  (33)

Be careful (with my heart).

Kiluan  (34)

We’re on the beautiful beach.

Kiluan  (35)

Way more beautiful than the rest of the beach in front of and near to our homestay.

Kiluan  (36)

Untuk menuju laguna, kami harus melewati bebatuan di tepi pantai…

Kiluan  (37)

dengan pemandangan seperti ini.

Kiluan  (38)

A big wave striking stone beach.

Kiluan  (39)

Yes… Beautiful…..

Kiluan  (40)

Then we had to pass this kinda way.

Kiluan  (41)

Ropes and Woods.

Kiluan  (42)

And we finally arrived in Kiluan Lagoon.

Kiluan  (43)

Keron was in action.

Kiluan  (44)

GGS was about to jumping to the lagoon.

Kiluan  (45)

I just jumped and swam in the lagoon when my driver and homestay worker came and told us that they thought we had lost somewhere. We didnt tell them that we would go here and i shut my phone off due to battery saving. Then we decided to go back to homestay that second.

Kiluan  (46)

Keron asked me to take his picture here.

Kiluan  (47)

Boom……

Kiluan  (48)

On our way back to homestay.

Kiluan  (49)

Ngedumel sambil foto-foto karena si bapak penginapan yang heboh mengomeli kami sehingga dia, saudaranya, dan supir kami mencari kami ke laguna. Bukannya apa-apa sih, cuma kami sudah beberapa kali ke gunung yang jalurnya lebih berat dari ini dan kami alhamdulillah dan insyaallah baik-baik saja, toh pak supir selama di perjalanan juga sudah kami beritahu kalau kami suka naik gunung dan lagian kami gak bakal kabur toh barang-barang masih di kamar. Ya mungkin itu bentuk perhatian dan tanggung jawab pemilik penginapan sih ya, terima kasih ya….

Kiluan  (50)

Climbed the hill.

Kiluan  (51)

Ada petunjuk arahnya kok ke laguna jadi jangan takut tersesat. banyak pengunjung yang ke laguna tanpa guide kok. Ikutin saja orang-orang yang mau ke sana juga bisa.

Kiluan  (52)

Dan akhirnya kami dijemput naik kapal untuk kembali ke penginapan karena laguna itu letaknya dekat mobil kami parkir.

Kiluan  (53)

GGS saat sampai di penginapan sudah ngomel-ngomel saja seperti saya. Kami buru-buru mandi dengan air yang tersisa di 3 kamar yang bersebelahan yang sudah ditinggal penghuninya. Airnya hanya tinggal beberapa gayung dan tidak ada air tambahan lagi. Yang penting segera dibilas dan pergi dari tempat ini. Biaya yang kami keluarkan di penginapan ini adalah:

  • Penginapan Rp300.000/kamar/malam
  • Menonton lumba-luma Rp500.000,00 (2 kapal)
  • Pelampung untuk menonton lumba-lumba Rp75.000 (Rp15.000/orang)
  • Guide (yang ujug-ujug di laguna) Rp50.000,00 (see… it turned to be another cost)
  • Kapal yang mengantar kami dari laguna ke penginapan Rp50.000
  • Makan malam dan rapan Rp 175.000
  • Kapal menuju dan dari penginapan Rp100.000.

Kiluan  (54)

Walaupun banyak drama selama di sini, tetapi untunglah lautnya indah jadi bikin adem kepala di tengah teriknya Kiluan siang itu.

Kiluan  (55)

Doing selfie for Vogue Italia cover on the boot.

Kiluan  (56)

Tiba kembali di tempat kami semalam.

Kiluan  (57)

Sambil menunggu mobil dipanaskan, saya beli minuman dan es ala-ala dulu.

Kiluan  (59)

Jalan yang masih bagus di Kiluan.

Kiluan  (60)

Es ala-ala aneka rasa dari kola ala-ala, minuman rasa buah-ala-ala. Biarin batuk yang penting adem. 😀

Kiluan  (61)

Sepertinya jalan baru.

Kiluan  (63)

Jalan yang hancur banget dan sedang dibangun.

Kiluan  (64)

Jalan untuk menuju Kiluan di kawasan Kabupaten Pesawaran yang seperti sungai yang mengering.

Kiluan  (65)

Sisa air sungai yang megering. -,-

Kiluan  (66)

Alhamdulillah sekitar pukul 16.00 wib kami tiba di Tanjung Karang dan bisa salat Ashar di sebuah masjid.

Lampung  (7)

Lalu mengisi perut di Bakso Sonhaji Sony yang terkenal.

Bakso Sony

Cieee lagi…

Lampung  (8)

Dan mengunjungi toko batik Lampung di sebelah Bakso Sony. Kebaya-kebaya yang cantik.

Batik Lampung (1)

Kain tapis Lampung yang mahal dan indah.

Batik Lampung (2)

Batik Lampung dengan warna yang berani dan bermotifkan gajah, burung walet, menara Siger.

Batik Lampung (3)

We were here. 😀

Batik Lampung (4)

Lalu kami ke Toko oleh-oleh Yen-Yen yang ngehits.

Lampung  (10)

Membeli sedikit buah tangan untuk kawan dan keluarga.

Toko Ten Yen

Lalu kami segera meluncur ke Bakauheni untuk kembali ke Jakarta. Berhenti di SPBU untuk beli makanan ringan dan es krim lalu selfie.

Lampung  (9)

Dan kami tiba di Bakauheni sekitar pukul 22.00 WIB. Berakhir sudah liburan ala-ala kali ini dan siap ngantor lagi besok pagi.

Lampung  (11)