A Cup of Coffee for A Sane Life

Spring talks

Vogue Italia March 2016, The Food Issue: Spring Talks
Model: Mojang and Mochan
Fotografer: Paminto Meisel
Makeup Artist: Estu McGrath
Hair: Guido Paminto
Set: Estu
Stylist: Franca Soestu
Cover story: A Cup of Coffee for A Sane Life

Ngopi sudah menjadi budaya bagi masyarakat di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia sebagai salah satu negara penghasil kopi. Jika di daerah-daerah banyak kedai kopi tradisional yang menyajikan kopi dan sebagai tempat berbincang-bincang serta main kartu, maka di kota-kota besar kedai ngopi sudah menjadi tempat yang menggabungkan semua hal dalam kedai kopi tradisional dan gaya hidup kekinian sambil misal online, rapat, melepaskan penat setelah ngantor, hingga mengerjakan tugas kuliah atau pun pekerjaan kantor. Dua wanita yang menjadi cover girl ini contohnya. Sebagai wanita karir, mereka terbiasa mampir salah satu kedai kopi setiap pagi untuk membeli satu, dua, atau tiga gelas kopi dan membawanya ke kantor. Di kantor, mereka juga sering meracik kopi atau memesan kopi melalui ojek online agar tetap fit dan cetar berkarya sepanjang hari. Sepulang kantor pun mereka juga sering menikmati kopi di berbagai gerai kopi.

1. Kedai Tjikini, Jalan Cikini Raya 17 Jakarta Pusat.
Kedai kopi ngehits di bilangan Cikini berada di jalur trotoar hall of fame yang bergambar aneka mural batik nan cantik yang membuat kita sudah gemets untuk foto-foto bahkan sebelum masuk ke kedai klasik ini. Semua menu di sini berbau zaman doeloe dengan variasi dari berbagai daerah di Indonesia. Mau pempek ada, mau pisang goreng ada, mau singkong ada, mau pancake juga ada. Kopinya enak. Tempatnya juga enak buat nongkrong.

Tjikini

2. Tanamera Coffee Roastery, Thamrin City Office Park Blok AA No. 7, Jl. Kb. Kacang Raya, Jakarta Pusat.

FoodliciousKopi di sini enak. Enak banget. Suka banget dengan apple crumbled pienya. Soal tempat sih tidak begitu luas di lantai 1 tetapi kita bisa mencoba di lantai 3. Berasa kayak mengunjungi gudang sekaligus pabrik kopi. Salah satu tempat ngopi paling enak.
Foodlicious3. Caribou Coffee, Jalan Senopati No. 52, Jakarta.
Dari luar saja tempatnya terlihat menarik, apalagi saat kita masuk. Ada perapian, sofa-sofa, hingga tangganya pun menarik untuk difoto. Blended caramel, mocha, dan vanila yang kami nikmati dalam ukuran large ini bikin puas banget. Creme brulee-nya enak dan gede. Dan karena di Senopati yang mana cukup dekat dari kantor, maka tempat ini cukup favorit bagi orang sekantor baik dari pagi hari saat menuju kantor hingga untuk berkumpul dan tsurhat setelah pulang kantor.
Foodlicious4. Brownstones Coffee, Jalan. Bintaro Utama 3A, Blok DD12 No. 41, Bintaro.
Tempat ngopi yang baru buka beberapa hari saat kami melakukan pemotretan cover ini dan saat itu masih banyak promo. Tempatnya lumayan luas dengan menyediakan teras hingga tempat bermain anak, jadi serasa nyaman kayak di rumah sendiri gitu. Kopi di sini juga lumayan enak dan dekat banget dari tempat aku tinggal.

Foodlicious

5. Filosofi Kopi Bintaro, Jl. Bintaro Utama 1, Blok F2 No. 6, Bintaro.
Tempat ngopi di jalur utama orang-orang Bintaro yang akan kembali ke Bintaro dari arah pusat kota Jakarta yang baru beberapa bulan dibuka dan merupakan kedai Filosofi Kopi kedua setelah di Melawai. Tempatnya tidak begitu luas seperti halnay yang di Melawai tetapi cukup nyaman untuk nongkrong-nongkrong syantiex dan manja bersama kawan-kawan. Akan lebih nikmat ngopi di sini jika sedang ada Chico Jericho dan Rio Dewanto yang mengunjungi kedai kopi mereka ini. Kopinya enak dan baristanya juga ramah-ramah.

Filosofi Kopi Bintaro6.  Anomali Coffee Senopati, Jl. Senopati No. 9, Jakarta.
Ini dia tempat dua wanita manja nan berkarya nyata merengkuh kopi setiap hari kerja. They do love the coffee in this place sampai berharap Anomali ada di Bintaro.
AnomaliKopi dan makanan di Anomali ini memang enak-enak dengan tempat yang luas dan nyaman. Ada yang indoor maupun outdoor baik di lantai 1 maupun 2. Ada smoking area serta parkir yang cukup tetapi selalu penuh karena memang pengunjungnya selalu banyak dari buka hingga tutup. Meja, kursi, hiasan, serta bangunan di sini kekinian dan instagram-able banget yang membuat suasanan nongkrong ngopi-ngopi cantik makin asyik.
Anomali

Loksado

Loksado

Vogue Italia February 2016: Happy on Top
Model: Rian and his girl friend, GGS, Jokosan, Zizou, and many more
Fotografer: Paminto Meisel
Makeup Artist: Estu McGrath
Hair: Guido Paminto
Set: Estu
Stylist: Franca Soestu
Cover story: You’d Rather Guide Me to Love You

Loksado

Berawal dari kemurahan saya (baca: mureee bin gampangan) diajak jalan, Mbak Zizou iseng mengajak saya jalan ke Banjarmasin pada saat tahun baru, walaupun belum tahu mau ke mana di sana. Bunda Hani yang juga muree memutuskan ikut bersama saya dan Mbak Zizou. Tak disangka ternyata Bu Joko juga berencana ke Banjarmasin, tepatnya mau ke Loksado bersama beberapa temannya. Akhirnya saya, Mbak Zizou, dan Bunda Hani bergabung dengan grup Bu Joko yang sudah diaturkan segela tetek bengeknya oleh Mbak Reni. Makasih banyak lho jeng-jeng.

Loksado berada di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, sekitar 4 jam perjalanan darat dari Bandara Syamsudin Noor. Sesampainya di Homestay Manguraksa Malaris, kami pergi ke Air Terjun Riam Hanai.

Loksado

Air terjun Riam Barajang yang letaknya lebih dekat ke perkampungan dibanding Air Terjun Riam Hanai.

Loksado

Homestay ini biayanya sukarela dan saat itu kami membayar Rp50.000 per orang. Homestay ini menjual madu hitan dan sirup kayu manis yang enaaak. Serta penjaga homestay yang imut-imut.

Loksado

Sebelum bermain rakit, kami sarapan dulu di warung hot ini. Ulala.

Loksado

Biaya bermain rakit ini Rp300.000 per rakit dan hanya bisa ditumpangi maksimal 3 orang dan 1 pendayung. Bapak tua ini lah yang dengan sabar tetapi penuh energi dan semangat menemani kami menyusuri sungai selama 3 jam dengan kondisi dari hujan, panas, gerimis, hingga terang.

Loksado

Setelah bermain air, kami berpindah ke Langara. Sebuah bukit karst yang sedang ngeheits karena baru saja masuk My Trip My Adventure. Kita harus mendaki bukit yang jalannya belum semua dipasangi tangga beton dan sangat licin saat itu karena baru saja turun hujan. Matur nuwun Mbak Zizou yang meminjamkan sandalnya sehingga saya bisa sampai di Puncak Langara.

Loksado

Bertemu Bang Rian dan ceweknya yang sedang asyik foto-foto. Dengan latar hutan dan sungai dari ketinggian serta bebatuan yang khas ini lah yang membuat Langara terasa istimewa.

Loksado

Jika Anda ke Langara, sebaiknya memakai sepatu karena bebatuan terjal yang harus kita terjang saat tiba di puncak.

Loksado

Pegangin aku, Bang… Pegangin…

Loksado

Saatnya berendam air panas di Wisata Air Panas Tanuhi yang letaknya di tengah-tengah antara Loksado dan Langara.

Loksado

Dan kami pun tiba di Banjarmasin.

Loksado

Menikmati kuliner dan pesona pasar terapung.

Loksado

Dieng Plateau

Dieng Plateau
Vogue Italia January 2016: Ancient Pieces
Model: Paminto, Zee
Fotografer: Paminto Meisel, Denpe Roversi
Makeup Artist: Estu McGrath
Hair: Guido Paminto
Set: Estu
Stylist: Franca Soestu
Cover story: Windy Road Memories

Dieng PlateauPosong berada di Kabupaten Temanggung hampir berbatasan dengan Wonosobo dan hanya ada gapura kecil yangmengantarkan kita seperti masuk ke jalan kampung yang hanya cukup dilewati 1 mobil. Jalanan menuju Posong masih berupa makadam dengan kondisi naik turun. Sayang sekali sore itu sedang mendung gelap sehingga pesona 7 puncak gunung yang berada di sekitarnya tidak begitu tampak.
Dieng Plateau
Zee is wearing tenun Lombok dress.
Dieng Plateau
Kemeja kain taplak yang agak keras dan seperti saringan yang saya dapat di Pasar Klewer, Solo dikombinasi dengan songket Palembang.
Dieng Plateau
On the day after, we went to Arjuna Temple in Dieng Plateau. Im wearing faux mink coat, deep v neck t shirt, and orange Ulos Sadum as scarf.
Dieng PlateauZee berbalut pashmina tenun Lombok.
Dieng

Pashmina tenun Lombok yang juga saya kenakan di Kawah Sikidang

Dieng

The Kondangan Team.
Dieng

Vogue Italia December 2015: Muse 2016

Cruise 2016 Seger Beach Lombok

Vogue Italia December 2015 second cover: Muse 2016
Model: Paminto, A native Lombok young boy, Dina, Widya, Anam, Avex
Fotografer: Paminto Meisel, Anam McDean
Makeup Artist: Estu McGrath
Hair: Guido Paminto
Set: Estu
Stylist: Franca Soestu
Cover story: Reunited Under Blue Sky

Cruise 2016 Seger Beach Lombok

Pashmina by Umama.

Cruise 2016 Seger Beach Lombok

Vision of us and memories.

Cruise 2016 Seger Beach Lombok

Ulos for every moment. Friendship forever.

Cruise 2016 Seger Beach Lombok

The dark side of clear blue sky.

Cruise 2016 Seger Beach LombokFestive costume for native Lombok beauty.

Cruise 2016 Seger Beach LombokCruise 2016 Seger Beach Lombok

Blue on blue on blue on blue.

Cruise 2016 Seger Beach Lombok

Two straws for you and your besties.

Cruise 2016 Seger Beach LombokLive your life.

Cruise 2016 Seger Beach Lombok

Vogue Italia December 2015: Cruise 2016

Cruise 2016 - Tenun Songket Lombok

Vogue Italia December 2015 first cover: Cruise 2016
Model: Jealeou, Mojang
Fotografer: Paminto Meisel
Makeup Artist: Estu McGrath
Hair: Guido Paminto
Set: Estu
Lighting: Mojang
Stylist: Franca Soestu
Cover story: The Story of Handwoven Pieces

Cruise 2016 - Tenun Songket Lombok

Mojang wore a golden-look handwoven pashmina and zebra pattern top.
Cruise 2016 - Tenun Songket Lombok

Handwoven pashmina as headpiece and handwoven cotton songket coat from Sukarara Village, Lombok.
Cruise 2016 - Tenun Songket Lombok

Same piecee different way to wear.

Cruise 2016 - Tenun Songket Lombok

Move baby move.

Cruise 2016 - Tenun Songket Lombok

A colorful flora songket coat fresh from the handwoving process.
Cruise 2016 - Tenun Songket Lombok

Tough and beautiful.

Cruise 2016 - Tenun Songket Lombok

Seductive in elegant way.
Cruise 2016 - Tenun Songket Lombok

You can have those handwoven cotton Lombok songket pieces in size 2m x 1m from Rp750.000 and silk Lombok Songket from Rp3.000.000. Those headpices price starts from Rp100.000

Secuil Pulau Banyak

“Nad, ayo cuti 4 hari dari 21-25 September nanti..” begitu kira-kira WA saya ke Nadia di tanggal belasan September lalu. Nadia sejak trip saya ke Suluttenggomalut di Mei lalu ingin diajak jika saya trip lagi dan saya bilang bagaimana kalau di akhir September pas ada libur Idul Adha. Saya yang belum ke Sumatera Utara di tahun 2015 ini memang berencana ke sana di bulan September tetapi di luar dugaan karena di sana dan Sumatera pada umumnya yang sedang kabut asap jadi membuat agak was-was jika mau liburan ke Tao Batak. Kami sepakat untuk mengajukan cuti dulu sembari memikirkan mau ke mana kami nanti apakah tetap ke Sumatera Utara, Lombok, Sumbawa, Flores atau ke mana. Saya sih sebenarnya ingin road trip dari Labuan Bajo-Ende-Maumere lalu menyeberang keLembata dan ke Alor tetapi kok ya kayaknya mahal banget kalau berdua saja. Saya sempat berkonsultasi dengan Mbak Tesa di Medan kira-kira aman gak kalau kami ke Medan dan menurutnya Medan sudah lumayan sering hujan dan kabut asap tidak begitu terasa, dan kami disarankan ke Pulau Banyak yang mana telah ia kunjungi di awal bulan September. Pada 17 September 2015 akhirnya kami beli tiket ke Medan untuk penerbangan tanggal 19 September pagi. Kamis malam itu saya segera mencari informasi tentang penginapan dan kapal di Pulau Banyak yang akhirnya jatuh kepada Pak Erwin di nomor 085359831515 yang punya kapal, menjemput kami di Pelabuhan Pulau Balai, mencarikan kami penginapan, dan mengantar kami kembali ke kapal menuju Aceh Singkil.

19 September 2015 pukul 8.00 kami mendarat di Bandara Kuala Namu di Lubuk Pakam. Terlihat kaca pesawat agak basah yang mungkin terkena hujan atau embun dan terlihat kabut di sekitar bandara. Kabut karena cuaca dingin pada awalnya pikir saya tetapi ternyata aroma kabut asaplah yang tercium saat kami mulai ke luar bandara. Sudah jauh-jauh mau bagaimana lagi ya kan? Yuwk ah nikmati liburan.

Dalam perjalanan menggunakan Bus ALS tujuan Binjai saya memesan travel ke Aceh Singkil dari Medan untuk nanti malam pukul 21.00 wib. Saya mendapat nomor Banyak Island Travel dari internet dengan Mas Rega di 081290990804 atau jika mau memesan travel dari Aceh SIngkil ke Medan dengan Pak Mawan di 081360170808. Saya diberi nomor telepon Mas Ade, supir travel yang akan menjemput kami malam nanti. Jadi kalau kita mau ke Aceh Singkil, Subulussalam dan sekitarnya dari Medan kita bisa naik travel atau sewa mobil yang dikemudikan oleh Mas Ade yang bisa dihubungi di nomor 085262295483. Biaya per orangnya adalah Rp140.000 untuk tujuan Aceh Singkil dari Medan di mana 1 mobil travel biasa diisi dengan 6 orang, jadi jika kita rombongan berenam maka kita bisa langsung menyewa travel langsung ke Aceh Singkil jam berarpapu kita mendarat di Kuala Namu tanpa perlu menunggu travel yang pukul 21.00 wib.Saya dan Nadia dari turun bus ALS hingga dijemput travel pada hampir pukul 23.00 wib dijamu oleh Mbak Tesa, Mas Gandy, dan Kokoh. Diajak makan-makan, jalan-jalan dan menikmati Medan yang ramai sekali di malam Minggu walaupun kabut asap terasa cukup pekat saat itu. Terima kasih, Kakak-Kakak.

Travel Mas Ade yang datang lumayan telat membawa kami berdua di kursi tengah, seorang ibu dan balitanya di kursi belakang, serta seorang abang di kursi depan dengan kecepatan lumayan tinggi serta jendela di samping Mas Ade yang terbuka karena dia sambil merokok. Saya dan Nadia sudah menyiapkan masker untuk menjaga diri dari polusi, asap, debu, serta kecantikan saat tidur mangap dalam perjalanan. Penumpang yang menuju pool travel di dekat Pelabuhan Jembatan Tinggi, Aceh Singkil hanya kami berdua karena penumpang lain sudah turun dulu di rumah mereka di dekat kota. Saat itu sudah pukul 6.00 wib saat mobil sudah mendekati pool, ada kucing di tengah jalan sudah berusaha dihindari oleh mobil Mas Ade tetapi apa daya kucing malah ikut menghindar ke arah tengah jalan yang mana malah akhirnya tertabrak mobil. Mas Ade turun dan meminjam cangkul penduduk sekitar untuk mengebumikan kucing malang tersebut. Beberapa saat kemudian kami tiba di pool travel dan sarapan sambil menunggu agak siangan ke pelabuhan.

Kami tiba di Pelabuhan Jembatan Tinggi sekitar pukul 8.00 wib saat KM Putri Sulung yang akan tumpangi masih sepi. Kapal ke Pulau Banyak tersedia setiap hari dari pelabuhan ini dengan jadwal kapal motor maupun kapal feri yang beroperasi bergantian, kecuali pada hari jumat di mana konon tidak ada kapal beroperasi. Sambil menunggu proses menaikkan barang, kami duduk-duduk di warung lalu kenalan ke brondi-brondi yang sepertinya juga akan menyeberang. Mereka bernama Joko dan Fahmi, yang ternyata dari Pematang Siantar dan akan kemah di Pulau Banyak. Tak lama berselang, saya berkenalan dengan Pak darmawan, seorang agen travel yang sedang mengurusi beberap bule yang baru datang. Pak Darmawan ini ternyata yang punya travel yang kami tumpangi dari Medan semalam. Nomor hp Pak Darmawan 081377219667 barangkali ingin menggunakan travelnya yang melayani rute dari Aceh Singkil hingga ke Padang, Pekanbaru, Sibolga, Barus, Medan, Parapat, dan sekitarnya.

KM Putri Sulung pagi itu tampak penuh dengan barang mulai dari sayuran, ayam, mie, buah, sofa, kasur, hingga motor yang akan diangkut ke Pulau Banyak. Setelah barang sudah tertata akhirnya kamu diizinkan naik ke kapal dan kapal mulai bergerak pada pukul 10.00 wib. Saya duduk menyandar ke karung buah semangka dan kentang yang menggapit saya, Joko, dan Fahmi di bagian lantai belakang kapal. Kapal ternyata membawa kapal kecil yang diikatkan pada bagian kapal. Cuaca yang terlihat mendung, berombak besar, berkabut asap, dan langit yang bergemuruh ternyata membuat kapal kecil yang ditarik kapal kami menjadi kemasukan air lalu sempat terlepas talinya. Sang kapten kapal pun turun ke kapal kecil yang terlepas dan berusaha mengikatkan kapal kecil ke kapal induk. Setelah kapal kecil kembali terikat, drama selanjutnya adalah bagaimana cara menguras air yang tertampung di kapal.

Pulau Banyak

Dengan susah payah sang kapten berjuang di tengah badai seperti saat mengikatkan kapal dengan dibantu wakil kapten untuk mengemudikan kapal, beberapa orang ABK yang menyediakan ember dan membantu menerjemahkan instruksi sang kapten kepada wakil kapten, serta beberapa penumpang yang ikut heboh teriak-teriak seperti saya atau pun yang ikut memegangi tali kapal.

Pulau Banyak

Drama penyelamatan kapal kecil yang hampir 1,5 jam ini akhirnya berakhir dan saya terkagum-kagum dengan penampilan sang kapten yang WOW banget. And there will be a rainbow after the rain. I mean there will always be a SYR (Syahrini) moment in every drama, and i love this SYR-wannabe mom during the voyage. She wore glittered wedges, btw.
Pulau Banyak

Kami pun tiba di Pulau Balai, Kecamatan Pulau Banyak hampir pukul 16.30 padahal seharusnya biasa tiba sekitar pukul 14.00 wib. Kami pun bertemu dengan Pak Erwin yang akan mengantar kami ke penginapan.

Pulau Banyak

Setelah membeli nasi bungkus, kami pun berangkat ke Pulau Tailana yang mana ternyata Joko dan Fahmi juga akan camping di sana tetapi kami menggunakan kapal yang berbeda karena telah memesan masing-masing. Foto kami barengan saat baru naik kapal di Pelabuhan Pulau Balai yang jarang banget selama perjalanan dan diambil oleh Daria atau putrinya, dua orang pelancong dari Australia yang sudah sering menjelajah berbagai daerah di Indonesia untuk liburan.


Pulau Banyak

Daria dan putrinya menginap di pulau entahlah dan turun duluan. Pulau Tailana ternyata lokasinya cukup jauh dari Pulau Balai. Hampir 90 menit kami arungi laut yang sedang diselimuti awan tebal dan gerimis di sore itu. Saat tiba di Tailana, saya dan Nadia sebenarnya memesan 1 bungalo biar hemat tetapi karena masih ada bungalo yang kosong dan harga bungalo juga masih terjangkau maka kami memilih untuk menggunakan bungalo yang berbeda. Jika 1 bungalo ditempati 2 orang maka biaya per orang adalah Rp100.000, sedangkan jika 1 bungalo ditempati oleh 1 orang maka biayanya Rp125.000 per malam. Menu makan malam pertama kami saat itu.

Pulau Banyak

I woke up to this view. #nebengtendathebrondies

Pulau Banyak

Sarapan khas di Tailana adalah pancake dengan topping kelapa parut serta susu kental manis. Pengelola penginapan di Tailana ini adalah seorang bule cewek dari Austria bernama Reka yang bisa kita hubungi di nomor hp 085275313251.

Pulau Banyak

Pemandangan pantai di Pulau Tailana saat saya akan menaiki kapal sebelum island hopping.

Pulau Banyak

Tujuan pertama kami pagi itu adalah Pulau Pandan. Pulau kecil tak berpenghuni yang luasnya tidak sampai 100 meter persegi ini airnya sangat jernih dengan pasir putih dan dipenuhi semak-semak serta beberapa pohon.

Pulau Banyak

Nampang dikit. ūüėÄ

Pulau Banyak

Pulau tujuan kami selanjutnya adalah Pulau Subang yang letaknya tidak begitu jauh dari Pulau Pandan. Di pulau ini kita bisa berenang dan snorkeling.

Pulau Banyak

Kapal kami dan The Brondies beriringan sehingga kami tiba di pulau ini berdekatan dan cukup lama menikmati keindahan pulau ini.

Pulau Banyak

Perut yang sudah keroncongan menggiring kami ke Pulau Ujung Sialit untuk makan siang. Pulau Ujung Sialit merupakan pulau yang cukup ramai dengan penduduk yang lumayan banyak dan tersedia berbagai warung kelontong,  toko alat pancing, bahkan sekolah pun ada di sini. Menu pembuka makan siang kami di salah satu rumah penduduk keturunan Minang.

Pulau Banyak

Dan inilah makan siang kami. Mie instan terasa nikmat saat tidak ada warung yang menjual nasi rames gini.

Pulau Banyak

Setelah makan, saya kembali berurusan dengan yang namanya tuak Nias di salah satu toko. Pulau Nias memang letaknya agak berdekatan dengan Pulau Banyak sehingga banyak penduduk Nias yang menjadi transmigran di sini. Saya ditawari membeli tuak ini tetapi Pak Erwin lah yang akhirnya membeli. Masih terkenang aroma tuak Nias yang dioplos minuman energi pada tahun 2014 lalu di Nias Utara.

Pulau Banyak

Pelabuhan di Pulau Ujung Sialit yang dipenuhi adik-adik yang sedang bermain sepulang sekolah.  Pada saat kami kembali ke kapal yang berlabuh di samping rumah penduduk, bagian samping kapal #thebrondies yang digunakan untuk tempat duduk patah saat diinjak Nadia yang akan melangkah ke kapal kami. Walhasil kapal tetangga harus sedikit diperbaiki sedang kapal kami bisa berputar-putar untuk memancing ikan sembari menunggu kapal tetangga siap. -,-

Pulau Banyak

Selanjutnya kami pergi ke Pulau Tambego untuk melihat gua yang disarankan Pak Herman, kapten kapal #TheBrondies.

Pulau Banyak

Meskipun harus sedikit bersusah payah melewati semak belukar dengan pandan berduri di lereng pulau, kami bisa juga mencapai gua yang indah ini. Untung ada yang bawa headlamp dan hape yang ada senternya sehingga bisa masuk ke dalam gua.

Pulau Banyak

Stalakmit dan stalaktit di gua ini sangat indah.

Pulau Banyak

Pak Adin (supir kapal kami), Nadia, Pak Herman, Bu Joko, dan Fahmi. Dari Pulau Tambeggo kami menuju Pulau Tabala. Pantai di sini bagus banget. Pulaunya lebih besar dibanding pulau-pulau kecil yang kami seinggahi sebelumnya.    Selain kuburan kuno yang konon ada di pulau ini, kita juga bisa menemukan bintang laut di pantainya. Dalam perjalanan kembali ke Pulau Tailana, kami sempat snorkeling di salah satu titik yang dari saat kami berangkat sudah terlihat sangat menggoda karena terumbu karangnya tidak begitu dalam, ikan-ikan yang terlihat jelas, serta ekosistem bawah laut yang masih sangat bagus. Nadia bilang puas banget dibimbing snorkeling oleh Pak Herman di sini.

Pulau Banyak

Dan hari pun semakin petang saat kami tiba di Tailana dengan membawa beberapa ikan hasil memancing di kapal tadi.

Pulau Banyak

Ikan yang kemudian menjadi lauk makan malam kami semua dengan pendamping sayur labu yang saya kira kolak labu pada awalnya. Ikan yang digoreng tanpa bumbu ini rasanya luar biasa nikmat karena memang masih benar-benar segar hasil memancing. Dan sebagai penggemar kolak, saya rasa lodeh sayur labu ini beda tipis rasanya dengan kolak. #penghiburan

Pulau Banyak

Work art on the wall of the restaurant in Tailana Resort.

Pulau Banyak

Akhirnya kami harus meninggalkan Tailana pagi itu. Tailana yang resornya tidak langsung menghadap ke laut karena ada banyak lavender dan pohon-pohon kecil menutupi kencangnya angin laut. Tailana yang nyamuknya hampir tidak ada berbeda dengan pulau-pulau lain yang konon banyak sekali nyamuknya. Tailana yang kamar mandinya¬†luas sekali¬† namun agak terbuka dengan pintu ditutupi plastik karena berfungsi sebagai tempat mencuci ikan dan piring-piring kotor juga. Tailana yang cuma ada listrik di restauran saja. Tailana yang hanya ada sinyal Telkomsel tanpa koneksi data. Ough… Tailana yang sungguh indah.

Pulau Tailana

Menara di tengah laut yang kami temui di perjalanan menuju Pulau Balai.

Pulau Banyak

Pulau Biawak yang juga kami lewati saat menuju Pulau Balai.

Pulau Banyak

Kami tiba di Pulau Balai sekitar pukul 12.30 wib dan langsung makan siang di salah satu warung di dekat pelabuhan sembari menunggu KM Putri Sulung berlayar pada pukul 14.00 wib. Naik kapal yang sama untuk berangkat dan kembali tetapi dengan kondisi kapal yang lebih sepi barang bawaan dibanding saat berangkat 2 hari sebelumnya. Biaya naik kapal dari Pelabuhan Jembatan Tinggi di Aceh Singkil ke pelabuhan di Pulau Balai, Pulau Banyak atau sebaliknya cukup terjangkau yaitu Rp30.000 per orang dengan waktu tempuh normal sekitar 3 jam. Dan kami pun tiba di Pelabuhan Jembatan Tinggi pada pukul 5.00 wib dengan dijemput langsung mobil travel Pak Darmawan yang sudah kami hubungi sebelumnya saat di Tailana. Terima kasih untuk semua keindahan dan pengalaman dalam secuil waktu dan bagian Pulau Banyak dalam 3 hari ini. Banyak Island is a must visit place. #WonderfulIndonesia #INAtopbucketlist

Tempat Makan di Sekitar Stasiun Kota Malang

Kota Malang sekarang sudah menjadi kota metropolitan di Jawa Timur selain Surabaya. Dengan pembangunan yang terus-menerus, kemacetan yang meningkat, kota pelajar, kota wisata, hingga kulinernya yang tersohor, serta biaya hidup yang lumayan terjangkau membuat kota ini menjadi kota favorit banyak orang untuk tinggal maupun berwisata. Begitu pun saya yang ingin kembali ke kota tempat saya lahir dan tumbuh dewasa ini. Malang menyimpan berbagai pesona kuliner yang menggugah selera. Dengan frekuensi mudik yang hanya sekali-dua kali setiap tahun, saya mempunyai beberapa tempat makan atau tempat nongkrong favorit yang rutin saya kunjungi di kota ini. Masih banyak tempat favorit saya tetapi karena keterbatasan waktu dan hari libur yang saya miliki maka biarkan saja perut saya membuncit maksimal dalam beberapa jam tersebut. Berikut  beberapa tempat makan di sekitar Stasiun Kota Malang yang saya kunjungi saat libur lebaran di bulan Juli 2015 kemarin.

    1. Depot Pangsit Mie Bromo Pojok.

Berlokasi di Jalan Pattimura No.53, Kota Malang, Jawa Timur 65119, Indonesia, telepon +62 341 327853 tidak jauh dari Stasiun Kota Malang. Ke luar stasiun, jalan ke arah kanan sampai bertemu perempatan Klojen, lalu belok ke kiri sekitar 100 meter dan sampai tempat ini deh. Saya tiba di tempat ini sekitar pukul 10.00 wib yang mana sambil membunuh waktu untuk menunggu Dince dan Ceu Jojo. Saya suka mie pangsit jamurnya. Es campur artistik warna-warninya juga enak dan cantik untuk difoto. Harga seporsi mie pangsit di sini sekitar Rp15.000-20.000. Di dekat mie pangsit ini ada Hotel Helios yang terkenal sebagai hotel backpacker bagi para bule yang singgah di Malang sebelum ke Bromo atau Bali.

Mie Bromo2. Es Campur Jl. Dr Sutomo

Lokasinya dari perempatan Klojen ke arah SMPN 3 Malang, setelah Surabi Imut di kiri jalan dekat pertigaan Jalan Sutomo. Es campur ini dijual oleh sepasang kakek-nenek yang dulunya bekerja sebagai tukang foto di sebuah studio foto di Kota Malang. Harga semangkok es campur ini hanya Rp4.000,00 padahal isinya lumayan lengkap dari cincau, blewah, dawet, tapai singkong, dan roti. Di Jakarta mah uang Rp4.000 cuma dapat es teh tawar. Di tempat ini kalau malam digunakan sebagai warung jagung dan roti bakar yang buka hingga dini hari yang mana juga enak dan murah meriah.

es campur

3. Bakso Bakar Pak Man.

Terletak di Jalan Diponegoro No. 19, Jawa Timur 65111, Indonesia telepon 0818-388-193, dekat SMPN 3 Malang. Pengunjung bakso bakar ini luar biasa banyak terutama pada saat jam makan siang, padahal tempatnya tidak begitu luas dan harus cepet-cepetan berburu tempat duduk seperti di Es Krim Ragusa, Jakarta. Bakso bakar ini bakal ludes sekitar pukul 15.00 wib jadi jangan terlalu sore jika ingin datang menikmatinya.

bakso Bakar pak Man (2)

Beberapa tahun yang lalu harga sebuah bakso bakar masih Rp1.000 tetapi sekarang sudah Rp3.000,00 per buah. Padahal ya bo’ sekali makan di sini saya saya bisa menghabiskan sekitar 15-20 buah bakso bakar. Gak nampol kalau di sini tidak makan bakso bakar pedasnya. ūüėÄ

bakso Bakar pak Man (1)

4. Restauran Melati Hotel Tugu.

Berlokasi di Hotel Tugu, ke luar stasiun langsung jalan lurus ke depan ke arah Balai Kota Malang dan Alun-Alun Tugu. Dengan tempat yang indah, romantis, dan cukup eksklusif menjadikan restauran ini patut dicoba sekali-kali. Deep fried banana with rum raisin ice cream yang saya pesan ini harganya untuk level Kota Malang cukup mencekik leher. Seporsinya hampir Rp50.000,00. Memang enak dan tampilan yang cantik pula.

Resto Melati Tugu (1)

Kalau Dina memesan orange delight yang juga cantik, enak, dan harganya sama dengan pisang goreng saya tadi.

Resto Melati Tugu (2)

Ceu Jojo memesan es cincau dengan harga hampir Rp30.000. Di Malang bisa dapat 8 gelas besar es cincau yang di pinggir jalan kali. Itungan banget ya. Bakmi goreng di sini kata Ceu Jojo rasanya endeus banget. gak heran sih saat melihat tante di meja sebelah menikmati dengan sangat bakmi tersebut.

Resto Melati Tugu (3)

5. Rawon Tessy

Berlokasi di Jalan Embong Brantas, ke luar stasiun langsung belok kiri ke arah penjual helm yang berjajar di samping stasiun. Saya sangat menyukai rawon ini walaupun menurut lidah saya rasanya sudah agak berubah dibanding dulu. Mungkin lidah saya saja yang sudah terkontaminasi dan jarang merasakan makanan Malang. jangan lupa menambahkan perkedel dan tempe goreng bugil tanpa tepung yang menjadi pelengkap rawon ini. Seporsinya Rp15.000. Jika ingin memesan bisa menghubungi Pak Ahmad di nomor 0838-34839-881. Buka dari pagi untuk sarapan hingga larut malam warung ini.
Rawon Tessy

Lima tempat makan di atas saya kunjungi dari pukul 10.00 wib hingga 16.30 wib dalam kondisi saya sudah sarapan sebelum berangkat. Mau gak buncit gimana lah.

6. Bakso Pak Dulmanan

Beberapa hari sebelum wisata kuliner di atas, saya juga sempat nongkrong di sekitar stasiun Kota Malang setelah rumpi-rumpi juga dengan Ceu Jojo dan Dina di Matos. Bakso ini berada sekitar 10 meter di dekat pintu keluar stasiun ke arah kiri.Yang enak dari depot ini adalah siomay alias sumehnya. Sayang malam itu siomaynya sudah habis.

Bakso P. Dulmanan (2)

Ceu Jojo dan BFF-nya.

Bakso P. Dulmanan (1)

7. Java Dancer Coffe

Berlokasi di Jl. Kahuripan No. 12, Klojen, Malang, Jawa Timur 65111, di seberang Hotel Tugu, telepon 0341-351688.

Java Dancer Coffee (3)

Daftar menu di Java Dancer Coffee.

Java Dancer Coffee (2)

Daftar menu di Java Dancer Coffee. (2)

Java Dancer Coffee (1)

Suasana di tempat ngopi dan nyemil yang ngeheits ini asyik, romantis, etnis, dan penuh dengan pengunjung. Tempatnya berada di pelataran Hotel Kartika Kusuma sehingga toilet pun juga numpang di hotel tersebut.

Java Dancer Coffee (7)

Ini entah kopi yang dipesan Dina atau Ceu Jojo dan apa namanya saya lupa. -,-
Java Dancer Coffee (5)

Ini juga entah kopi siapa. Jamur goreng tepung dan tahu goreng di sini endeus juga.

Java Dancer Coffee (4)

8. Depot Rujak Pojok

Dari pintu keluar staisun ke arah kiri sekitar 50 meter, berada di pojokan Jalan Pajajaran arah SMAN 3 Malang. Rujak dan gorengan di sini endeusss deh.

9. Bakso Priangan Mang Yayat

Berlokasi setelah Depot Rujak Pojok arah perempatan Klojen. Saya sering menikmati bakso ini sembari menunggu dijemput pulang atau menunggu angkot yang biasanya ngetem tidak jauh dari sini.

10. Warna-Warni

Tempat makan lain yang saya sukai di sekitar perempatan Klojen dan Stasiun Kota Malang adalah Warna-Warni. tempat gaul anak sekolahan dari zaman dulu kala saat warung ini masih berada di seberang stasiun sebelum akhirnya pindah ke dekat perempatan Klojen. Menu di Warna-Warni sih biasa saja cuma karena enak dipakai nongkrong dan harganya lumayan bersahabat terutama untuk pelajar maka tempat ini pernah menjadi tempat nongkrong ngeheits pada masa itu.

11. Restauran Inggil

Letaknya di Jalan Gadjah Mada Nomor 4, sekitar 100 meter dari pintu keluar stasiun ke arah kiri lalu belok kanan sedikit, telepon 0341-332110. Merupakan perpaduan museum dan restauran dengan suasana tempo dulu dan cukup magis. Makanan di sini juga enak-enak dengan harga tidak semahal Restauran Melati. Saya pernah ke sini untuk makan siang bersama beberapa orang yang mana ada yang bisa melihat hal-hal gaib. Setelah kami makan ada yang ke toilet bilang kalau ke kami saat kembali bahwa gamelan yang ada di panggung bergerak-gerak dan ada yang nungguin. Gleg dan kami yang orang biasa pada pandang-pandangan. Yang penting makanannya enak, terjangkau, dan kita bisa menikmati suasana tempo dulu dengan berbagai pernak-pernik kuno, foto Malang tempo dulu, hingga topeng khas Malang yang dipajang serta berbagai suvenir yang bisa kita beli.

 

Pesona Museum Huta Bolon Simanindo

Untuk kali kedua saya berkunjung ke Museum Huta Bolon Simanindo setelah kunjungan 2,5 tahun lalu ada beberapa hal yang berubah dari museum ini. Sebut saja rumah yang digunakan untuk memamerkan kapal yang sekarang sudah roboh dan menimpa kapal, padahal kapal dan rumahnya bagus banget.

Huta adalah kampung tradisional orang Batak yang dikelilingi oleh benteng dan tanaman bambu untuk menghalangi musuh masuk ke dalam kampung tersebut. Huta hanya mempunyai satu pintu. Rumah di dalam huta berbaris di samping kiri dan kanan rumah raja. Rumah raja disebut Rumah Bolon di mana di hadapan rumah tersebut didirikan lumbung padi yang disebut Sopo. Halaman tengah di antara Rumah Bolon dan sopo dahulu dipergunakan sebagai tempat Mangalahat Horbo (acara adat memotong kerbau dan memukul gondang). Di tengah halaman didirikan sebuah Tonggak yang dihiasi dengan daun-daun yang melambangkan pohon suci (pohon beringin). Tonggak tersebut bernama Borotan. Kerbau yang digiring akan disembelih di Borotan tersebut.

Harga tiket untuk menonton pertunjukan di Museum Huta Bolon Simanindo masih sama seperti dulu yaitu Rp50.000/orang. Saya dan Nadia tiba di museum masih pukul 10.00 wib sehingga kami masih ada waktu sekitar 30 menit hingga pertunjukan dimulai. Para penari bahkan belum berganti pakaian dan dandan saat kami datang. Sekitar pukul 10.20 wib saat beberapa penari masuk ke dalam rumah adat yang mereka gunakan untuk mempersiapkan diri, saya tergoda untuk ikut nimbrung di rumah tersebut. Beberapa wajah penari di sini masih saya ingat. Wajah lugu nan bersahaja yang setia melestarikan kebudayaan Batak sembari mengais rezeki untuk keluarga. Bapak sesepuh yang sedang memakai ulos sedangkan beberapa inang sudah hampir siap tampil.

Manortor

Abang-abang yang tidak perlu fitnes di gym tapi perutnya bisa rata. Si Abang yang belum memakai atasan ulos ini sempat berganti bawahan ulos hingga 3 kali hingga kami tertawai bersama. Eitsss di dalam bawahan ulos mereka masih memakai celana jeans butut lho, jangan bayangin yang tidak-tidak, tapi ya gitu perutnya bisa bikin jantung yang lihat berdesir kencang.

Manortor

Inang yang sudah hampir siap tampil sedang bercermin untuk terakhir kalinya. 10 orang penari di ruangan ini telah siap untuk tampil dan para pemain musik yang berjumlah sekitar 6 orang juga sudah siap di rumah sebelah.

Ulos (9)

Pada saat saya menuju tempat untuk menonton di mana Nadia sudah menunggu, ada beberapa rombongan turis asing yang didampingi pemandu lokal sedang memasuki lokasi pertunjukan. Syukurlah ada sekitar 30an penonton siang itu, bukan hanya kami berdua seperti tadi. Dan pertunjukan pun dimulai. Berikut rangkaian pesta adat Mangalahat Horbo.

1. The ceremony dance/Gondang Lae-Lae. Merupakan doa kepada Dewata agar kerbau yang akan diikatkan tidak bertingkah yang jelek sewaktu digiring ke Borotan. Orang Batak zaman dahulu percaya bahwa setiap tingkah laku kerbau merupakan alamat sesuatu yang baik atau buruk terhadap yang berpesta.

Manortor

2. Prior Dance/Gondang Mula-Mula. Yaitu doa kepada pencipta bumi, langit, dan segala isinya agar Dia menganugerahkan putra dan putri, membawa kekayaan, menjauhkan bala dan menyembuhkan segala penyakit kepada yang mengadakan pesta.
3. Dance Addressed to God/Gondang Mula Jadi. Tari untuk mengatakan bahwa doa telah dikabulkan oleh Tuhan.
4. Group encircling dance/Gondang  Shata Mangaliat. Orang yang berpesta menari dengan mengelilingi tonggak atau Borotan penyembelihan kerbau, di mana diikatkan seekor kerbau pada pesta adat. Kerbau tersebut disembelih dan dagingnya dibagi-bagikan kepada yang berpesta dan kepada mereka yang berhak menerima sesuai dengan adat yang ditentukan.
5. Mutually cheering dance/Gondang Maralolop-olopan. Yakni orang yang berpesta saling memberi selamat sesamanya.

Simanindo
6.Youngsters dance/Gondang Siboru. Merupakan tarian untuk para pemuda sambil menari datanglah putri yang masing-masing dengan pengharapan agar datang untuk melamarnya.

7. Cleansing dance/Gondang Sidoli adalah tarian untuk pemudi di mana sambil menari datanglah seorang pemuda yang mendekati seorang putri yang dicintainya dan yang didambakan menjadi istrinya dan sebagai pertanda ia mencintai putri, dia akan memberi sejumlah uang.

Manortor

8. Dance of True Quality/Gondang Pangurason. yaitu datangnya roh nenek moyang dalam pesta dan menyusup pada salah seorang putri untuk memberkati mereka.

Manortor

9. Cooperative dance/Tari bersama di mana semua tamu diajak menari bersama dengan tuan rumah yang mengadakan pesta tersebut.

Manortor
10. Tor tor Tunggal Panuluan. Tari ini diperankan oleh seorang dukun untuk berkomunikasi dengan Dewata Natolu untuk meminta sesuatu seperti hujan, keturunan, atau kesuksesan dalam kehidupan.

Si abang akan menongkat telur yang ada di tanah. Tapi sayang saat itu tidak kena, atau sengaja tidak dikenakan.

Simanindo

11. Puppet dance/Gondang Sigale-gale. Yaitu tarian boneka sigale-gale yang terbuat dari kayu mirip manusia. Dikisahkan pada zaman dulu kala ada seorang raja yang mempunyai anak tunggal. Anak tersebut jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Raja sangat sedih menerima musibah tersebut sebab anak yang diharapkan untuk meneruskan cita-cita/kerajaannya sudah tiada. Untuk meringakan penderitaan raja sekaligus mengenang anaknya, raja tersebut memerintahkan rakyatnya untuk mengukir sebuah patung yang sangat mirip dengan anakanya sehingga di kala raja ingin melihat anaknya maka raja akan mengundang rakyatnya untuk membuat pesta Sigale-gale. Begitupun saudara perempuan Sigale-gale akan menari bersama Sigale-gale untuk melepaskan kerinduannya.

Simanindo

Akhirnya pertunjukan sesi pertama hari itu selesai sekitar pukul 11.15 wib dan para penari pun berganti pakaian sembari menunggu pertunjukan sesi kedua pada pukul 11.45 wib. Ini punggung Si Abang tokoh utama dalam pertunjukan sedangkan 4 orang yang di sana sedang menghitung uang pemberian penonton secara sukarela yang dilakukan menjelang berakhirnya pertunjukan. Ada turis yang saya lihat hanya memberi uang receh tetapi juga ada yang dengan senang hati memberi hingga Rp50.000. Semua diterima dengan senang hati oleh para pelestari adat batak ini dan saya pun turut senang melihat ekspresi mereka setelah menghitung uang tersebut. Siang itu mereka berhasil mengumpulkan uang sekitar Rp280.000.

Manortor

Saat semua penari telah selesai melepas ulos meninggalkan rumah, saya kembali menemui Nadia dan kami melakukan pemotretan dengan menggunakan ulos sebagai hijab ini.

Manortor

Tak lupa pemotretan menggunakan Novel Supernova-Gelombang karya Dewi Dee Lestari Simangunsong yang sudah saya bawa dari Jakarta ke Medan, Aceh Singkil, Sidikalang, hingga sampai di Samosir sini.

Supernova-GelombangSaya tidak akan bosan mengunjungi museum yang penuh pesona ini. Semua sudut museum ini sangat indah, begitupun pertunjukan tarian Batak dan belakang layar Mangalahat Horbo-nya sangat menarik. CETARTARTAR!!!

Vogue Italia November 2015

Vogue Italia November 2015: Perfect Stranger
Model: Jealeou, Utse Arganaraz
Fotografer: Paminto Meisel
Makeup Artist: Estu McGrath
Hair: Guido Paminto
Set: Estu
Lighting: Obeit
Stylist: Franca Soestu and Obeitha Simons

Ulos (1)

Cover story: Go glam in Ulos.

Jealeou memakai tutup kepala yang terbuat dari Ulos Sadum. Gaun terbuat dari Ulos Sadum dan Ulos Angkola.

Ulos (2)

Jealeou memakai Ulos Bintang Maratur. Menurut Wikipedia, ulos ini merupakan Ulos yang paling banyak kegunaannya di dalam acara-acara adat Batak Toba, seperti untuk anak yang memasuki rumah baru dan secara khusus di daerah Toba Ulos ini diberikan waktu acara selamatan Hamil 7 Bulan yang diberikan oleh pihak hulahula kepada anaknya. Ulos ini juga di berikan kepada Pahompu (cucu) yang baru lahir sebagai Parompa (gendongan) yang memiliki arti dan makna agar anak yang baru lahir itu di iringi kelahiran anak yang selanjutnya, kemudian ulos ini juga diberikan untuk pahompu (cucu) yang baru mendapat babtisan di gereja dan juga bisa dipakai sebagai selendang.

Ulos (3)

Tutup kepala memakai Ulos Sadum, Ulos Angkola dimensi sebagai selendang, dan bawahan memakai Ulos Pucca Purada emas.

Ulos (4)

Kombinasi lain dari Ulos Angkola dimensi dan Ulos Pucca Purada emas.
Ulos (5)

Estu manortor di pertunjukan Sigale-gale di Tomok.

Ulos (6)

Shopping spree at Thursday Market at Margarita, Simanindo near to Stone Chair of King Siallagan, Ambarita where you can find ulos in lower price.
Ulos (7)

While waiting for Batak dance at Batak Museum Simanindo.

Ulos (8)

Batak dancer at at Batak Museum Simanindo.
Ulos (9)

Hijaber in ulos.

Ulos (10)

Can’t get enough of ulos.
Ulos (11)

Vogue Italia October 2015

Vogue Italia October 2015: Perfect Stranger
Model: Nadia @mojang
Fotografer: Paminto Meisel
Makeup Artist: Estu McGrath
Hair: Guido Paminto
Stylist: Franca Soestu

Nadia (1)

Umi Vuitton

Nadia (13)

I could only reach your shadow.

Nadia (11)

Finding nemo.

Nadia (10)

Glam storm.
Nadia (9)

Go fishing.

Nadia (7)

Where’s the sun shine?
Nadia (6)

Siantar Boy undercover.

Nadia (5)

Go sees at Taman Wisata Iman Sitinjo, Sidikalang.
Nadia (4)

Welcome to Tuk-Tuk, Samosir Regency.

Nadia (8)

We stayed at Karolina Cottages, Tuk-Tuk.
Nadia (3)

Watching Batak dance at Batak Museum in Simanindo, Samosir Regency.

Nadia (2)

Horas… Horas… Horas…
Nadia (12)

Sai pajumpang muse…..