Bara Bere di Tanjung Bira

Trip ini saya lakukan di bulan April 2016, sekitar 8 bulan lalu yang awalnya hanya untuk ke acara nikahan teman kantor saat akhir pekan dan berubah menjadi trip dadakan ke Tanjung Bira. Saya sudah beli tiket PP ke Makassar berangkat Jumat malam sekitar pukul 22.00 wib dan kembali ke Jakarta dari Makassar hari Minggu malam pukul 20.00an dari bulan Februari dengan harga sekitar Rp1.000.000 lebih sedikit saja. Sudah googling sana-sini masih bingung amau ke mana dengan waktu yang sangat terbatas dan seorang diri tersebut. Kalau harus naik angkutan umum dan berpindah-pindah bakal membuang waktu di jalan, kalau menyewa kendaraan seorang diri bakal cukup mahal. Eh alhamdulillah, pada hari Rabu sebelum keberangkatan tiba-tiba ada 2 teman yang mau ikut, si GGS aka Mika dan Kak Ipin. Saya pun segera menetapkan tujuan utama jalan-jalan ke mana dan bagaimana ke sananya serta bagaimana bisa sampai di Makassar Minggu malam ke acara nikahan teman. Setelah mencoba menghubungi beberapa travel yang menyewakan mobil saya memilih untuk menyewa mobil Mas Ayit (087841486600) dari Bugis Makassar Trip dan disepakatilah harga sewa untuk 2 hari sebesar Rp1.300.000 all in. Dihitung 2 hari karena kami mendarat Sabtu dini hari pukul 01.00 dan kembali ke bandara pada Minggu malam.

Tanjung Bira

Saat kami mendarat di Makassar, kami langsung dijemput Pak Alman, supir yang akan membawa kami ke Tanjung Bira. Dengan masih memakai baju kantor kami langsung melaju manja ke Bulukumba di ujung paling bawah Sulawesi yang memerlukan waktu sekitar 4 jam dari Makassar. Saya yang sangat mengantuk (seperti biasa dikorbankan untuk) duduk di samping Pak Alman mencoba tetap terjaga dan berbincang dengan Pak Alman yang terlihat mengantuk juga apalagi kondisi jalan ternyata bagus, walau terkadang naik turun serta cukup jauh, sehingga tentunya membuat supir mudah terlena dan dikhawatirkan tertidur. Sekitar pukul 6.00 pagi kami tiba di Tanjung Bira dan langsung memilih penginapan yang akan kami tempati. Dari beberapa pilihan yang direkomendasikan Pak Alman, kami memilih penginapan yang meskipun tidak berada di bibir pantai tetapi masih dekat dengan pantai dan lumayan bagus serta murah serta hanya akan mengenakan biaya satu malam meskipun kami early check in.

Sekitar pukul 08.00 wita setelah sedikit beristirahat dan sarapan, kami langsung menuju Pulau Kambing. Kami menyewa kapal yang direkomendasikan pihak penginapan dengan harga Rp550.000 meliputi Pulau kambing, Pulau Liukang, dan Pantai Bara, dan sudah termasuk fin serta google untuk seharian. Pulau Kambing hanya berjarak sekitar 45 menit dari Tanjung Bira. Dinamakan Pulau Kambing konon karena pulau ini sempat menjadi perebutan sehingga untuk menandakan bahwa pulau ada penghuninya dan tidak bisa dikuasai pihak lain maka dipeliharalah beberapa kambing yang kemudian berkembang biak menjadi banyak yang hidup di pulau. Saya sih tidak melihat sendiri kambing-kambing itu karena kami snorkeling di bagian tebing yang tidak dapat digunakan kapal untuk berlabuh.

Tanjung Bira

Pemandangan di atas laut maupun di bawah laut di Pulau Kambing ini AMAZING. Bagussss bangeeeet. Saya sempat hampir satu jam hanya untuk foto-foto dan menyaksikan keindahan di sekitar pulau ini.

Tanjung Bira

Sebelum akhirnya ikut nyemplung kayak si GGS ini.

Tanjung Bira

Tapi tidak menyelam begini karena saya memang  tidak bisa dan tidak berani menyelam. -,-

Palembang

Sekitar pukul 11.00 wita, kami meninggalkan Pulau Kambing untuk menuju Pulau Liukang yang berjarak sekitar 30 menit dari  dari Pulau Kambing.

Tanjung BiraPemandangan di Pulau Liukang ini juga sungguh indah. Langit biru, pulau yang hijau, pantai turquoise, laut yang biru.
Tanjung Bira

Pada saat berlabuh, kami penasaran dengan tempat makan yang berada di atas keramba di tengah laut. Untuk menuju keramba tersebut (bangunan dengan atap orange di pojok kiri atas foto di bawah) tidak semudah yang terlihat dan cukup jauh dari tempat kami berlabuh serta terik matahari yang sangat menyengat saat itu. Menggunakan kapal sepertinya menjadi pilihan yang tepat untuk mencapainya. Makanan yang ditawarkan masih lebih bervariasi dan menarik di tempat makan tempat kami berlabuh. Di tempat ini hanya ada pisang goreng, kelapa muda, serta mie goreng dan menu ikan meskipun tempatnya cukup bagus.
Tanjung Bira

Saya memutuskan untuk pergi dulu dari keramba dan menjelajahi perkampungan di pulau ini. Saya kembali menyusuri kampung untuk menuju tempat makan di mana kapal berlabuh.

Tanjung Bira

Tidak disangka ternyata penduduk pulau ini adalah pengrajin tenun khas Bulukumba yang sangat indah. Saya cukup lama berbincang-bincang dengan seorang Ibu penenun yang sedang sibuk menenun sarung. Harga sarung tenun yang ditawarkan saat itu Rp500.000, Rp700.000, dan Rp900.000 tergantung motif dan bahan. Motif yang lebih rumit dan bahan yang mengandung benang emas/prada tentu harganya lebih mahal dibanding yang motif lebih sederhana dan benang perak. Dengan berat hati saya meninggalkan Ibu penenun tanpa hasil karena tidak bisa menawar lebih murah lagi dan kasihan kalau harus dihargai lebih murah. Hemat juga sih aslinya, -.-

Tanjung Bira

 Sembari menunggu pesanan makan datang, saya naik sedikit ke bukit. Suka banget gradasi warnanya.

Tanjung Bira

Walaupun aslinya panas gila. 😐

Tanjung Bira

Pesanan sop dan ikan bakar untuk makan siang yang rasanya enak dan porsinya banyak serta lumayan murah.

Tanjung Bira
Dari Pulau Liukang, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Bara yang sebenarnya sederetan dnegan Tanjung Bira tetapi letaknya agak masuk. Pantai ini terlihat panjang dan landai dengan butiran pasir yang putih dan halus. Ada beberapa penginapan yang terlihat sepi, damai, dan bagus yang sepertinya dikelola serta ditempati orang asing.

Tanjung Bira

Dan akhirnya kami kembali ke Tanjung Bira untuk menikmati sunset dengan sebotol minuman ringan di Hakuna Matata Resort. Resor ini berada di pinggir tebing dan langsung mengarah ke pantai. Selain Hakunan Matata juga ada Amatoa Resort di sebelahnya yang perlu mengeluarkan uang lebih dari Rp1 juta per malam untuk menginap.
Tanjung Bira

Kita cukup membeli minuman atau makan di restauran resor ini tanpa harus menginap dan bisa menikmati pemandangan matahari terbenam dari tempat terbaiknya di Tanjung Bira.
Tanjung BiraSetelah puas menikmati sunset, kami melanjutkan berkeliling untuk mencari makan malam. Awalnya sih mengincar mau makan malam di salah satu resto berbentuk kapal laut tetapi ternyata sudah dipesan untuk acara sehingga kami harus mencari tempat lain. Beberapa rumah makan di sekitar pantai ternyata juga sudah dipesan atau penuh sehingga kami berjalan ke arah jalan utama dan mencari tempat makan yang kira-kira tepat. Dan akhirnya kami makan ini. Di sekitar jalan utama menuju Tanjung Bira dipenuhi penjual oleh-oleh yang didominasi aneka emping dan kerupuk nasi dengan harga yang sangat terjangkau.
Tanjung BiraMalam minggu kami lanjutkan di kamar masing-masing sambil menikmati kebisingan dangdut, karaoke, ceramh, hingga doa bersama hingga tengah malam dari penginapan sebelah yang sedang dipakai untuk acara anak SMA yang akan lulus. Walaupun bising tapi kami tidur lumayan nyenyak kok wkwkkw.

Minggu pagi setelah sarapan kami langsung meninggalkan penginapan dan menuju Pantai Apparalang yang menurut google sedang heits. Biaya retribusi saat itu hanya Rp2.000 per orang dan fasilitas masih minim tetapi pemandangan yang menakjubkan. Ini adalah bagian pertama yang berada di dekat parkiran. Terdapat tangga yang baru dan sedang dibangun untuk menuruni tebing hingga mencapai air laut. Di bagian ini saja sudah terpukau lho.

Tanjung Bira

Beranjak ke bagian lain pantai, di sini terdapat bagian untuk nyemplung-nyemplung ke air dengan menuruni tangga yang yang cukup tinggi dan dibagi 2 tingkat. Agak seram juga tentunya tetapi banyak yang mau mencobanya. Cuaca di sekitar pantai ini cukup mudah berganti-ganti, seperti saat itu dari mendung tiba-tiba cerah lalu mendung lagi. Bagusnya sih saat matahari benar-benar bersinar terang sehingga langit biru dan airnya tampak cetar membahana nan indah.
Tanjung Bira

Dan saya benar-benar terpukau dengan  perpaduan langit, tebing, dan gradasi warna air laut yang cetar membahana di bagian lain pantai ini. Pantai seindah ini akan sangat ramai dan menjadi kotor dan penuh dengan perusakan yang dilakukan oleh pengunjung jika berada di tempat yang mudah dijangkau dan ramai, misal di Pulau Jawa -.-.

Tanjung Bira

Dari Apparalang, kami melanjutkan perjalanan ke Kampung Tana Beru yang merupakan kampung pembuat kapal pinisi yang berada di pesisir tidak begitu jauh dari Tanjung Bira. Saya terkagum-kagum dengan betapa banyak pembuat kapal pinisi serta betapa besar ukuran kapal yang dibuat. Katanya kapal-kapal yang dibuat itu sudah ada yang pesan karena biaya produksi yang sangat besar dan waktu pembuatan bisa setahun atau lebih serta harganya bisa mencapai miliaran rupiah. Dan saya melihat beberapa bule yang sedang melihat progres kapal yang sudah dia pesan. Ritual yang dilakukan juga cukup banyak mulai dari saat akan dimulai pengerjaan hingga saat selesai pengerjaan untuk mendorong kapal pelan-pelan masuk ke laut yang membutuhkan waktu hingga sebulan. Mahakarya anak negeri banget.

Tanjung Bira

Islamic Center Dato’ Tiro, Bulukumba yang megah dan indah.

Tanjung Bira

Beginilah pemandangan kanan kiri jalan yang begitu Indah di sekitar Jeneponto saat menuju Makassar

Tanjung Bira

Kami mampir untuk makan siang coto kuda di Coto Turatea Belokallong di Jeneponto. Awalnya sih agak-agak ngeri gitu mau makan daging kuda, tapi pas sudah mencicipi sih lumayan enak cuma agak bau besi gitu ternyata daging kuda itu. Ketupat 2 buah, semangkok coto yang penuh kolesterol dan lemak serta sebungkus emping pun ludes dalam sekejap. #crytapinikmat

Tanjung Bira

Kami juga sempat mencicipi kue putu cangkir yang banyak dijajakan di pinggir jalan di daerah Gowa.
Tanjung Bira

Di Gowa, saya menghubungi teman lama saya, Bu Uchi dan Pak Kasman, dan mengajak ketemuan makan saat nanti sudah tiba di Makassar. Dan kami pun mampir ke Museum Balla Lompoa yang cukup luas dan terletak di jalan utama sehingga cukup ramai.

Tanjung Bira

Sesampainya di Makassar, kami makan sore dan cemal-cemil cantik di RM Muda Mudi. Jalangkote, lumpia, kroket dan pisang ijo di sini enaaaakkkk… Udah gitu dibayarin pula, jadi makin enak… Makasih Bu Uchi dan Pak Kasman…
Tanjung Bira

Tidak lengkap ke satu kota tanpa belanja kain khasnya, apalagi setelah gagal mendapatkan tenun Bulukumba.  Sesuai rekomendasi Uchi, kami mengunjungi Toko Keradjinan untuk membeli oleh-oleh dan kain. Saya khilaf membeli aneka kain tenun khas Makassar sekalian untuk keluarga besar saat lebaran serta untuk kado nikahan teman.

Tanjung Bira

Pantai Losari letaknya tidak begitu jauh dari Toko Keradjinan dan kami menyempatkan diri untuk sekadar foto-foto serta menikmati pisang epe yang enaaaaakk dan murah tentunya. Seporsi sekitar Rp10.000. Jangan lupa minumnya saraba, semacam kopi susumahe khas Sulawesi.

Tanjung Bira

Hujan besar mengguyur Makassar saat kami selesai menikmati pisang epe dan akan meluncur ke tempat kondangan kawan yang merupakan bukan tujuan utama trip kali ini. Selamat untuk Arfah yang akhirnya mengakhiri masa lajangnya dengan mempersunting Mbak Cantik.

IMG-20160410-WA0011

Kami buru-buru foto dan meluncur ke bandara karena jadwal pesawat yang mepet dan ternyata tol menuju bandara sangat macet karena sedang ada pembuatan underpass di simpang lima dekat bandara. Tapi syukurlah kami masih bisa tiba di bandara di detik-detik terakhir diperbolehkan check in. Dan alhamdulillah saya boleh bawa tas keril saya yang sudah terisi penuh kain puluhan meter, walau sudah saya titipkan Kak Ipin dan GGS juga sebagian, boleh dibawa langsung ke pesawat tanpa harus dimasukkan bagasi.

\(*.*)/

Merana dan Gerhana

Gerhana Jembatan Ampera Palembang

Pengalaman yang sudah  berbulan-bulan lalu yang juga baru sempat saya tulis nih. Gak papa lah ya buat kenang-kenangan mumpung catatan singkatnya masih ada. Akhir bulan Januari 2016 saat mengetahui akan ada gerhana matahari total yang melintasi beberapa kota di Indonesia seperti Palu, Ternate, Palembang, langsung saya terfikir untuk ke Palembang saja. Kota yang tidak begitu jauh dari Jakarta dan sudah beberapa kali saya kunjungi ini merupakan salah satu tujuan kuliner (dan belaja kain) favorit saya. Saya mendapatkan tiket PP sekitar Rp600.000 dengan si singa merah viat tiket.com sekitar 1,5 bulan sebelum keberangkatan. Lumayan lah walaupun saya pernah mendapatkan tiket promo yang lebih murah dari Garuda Rp500.000 PP pada tahun 2012 lalu.

Bunda Hani dan Nadya tertarik untuk mengikuti trip kilat dan cuma semalam serta di tengah pekan kali ini. Bunda Hani mempunyai Paklik yang sedang bertugas di sana sehingga mau sekalian mengunjungi, sedangkan Nadya mempunyai masa lalu kuliah di Palembang sehingga ingin bernostalgia.

Palembang

Beberapa hari sebelum keberangkatan, kabar baik tiba dari Bunda Hani yang ternyata Pakliknya akan menjamu kami mulai dari menyediakan penginapan hingga mobil dan supirnya untuk kami. Alhamdu…lillah…

Bandara Soetta

Saat mendarat di Pelembang, supir Pakliknya Bunda Hani menyambut di parkiran bandara dan langsung membawa kami ke Martabak Har dekat Masjid Agung untuk makan malam. Suka banget Martabak Har dan selalu rela menampung seporsi martabak yang tebal nikmat dengan kuah yang pekat kental berrempah dan penuh lemak ini.

Gerhana Matahari Palembang

Tidak lupa kami foto-foto di sekitaran air mancur dan Masjid Agung.

Gerhana Matahari Palembang

Dulu air mancur ini warna-warni tapi sekarang (atau pada saat kami ke situ saja) warnanya tidak berganti-ganti?

Gerhana Matahari Palembang

Menikmati pemndangan Jembatan Ampera saat malam hari dari Benteng Kuto Besak adalah mandatori setiap orang yang berkunjung ke kota pempek ini. Bagitu pun saya yang untuk ke sekian kali menikmati pemandangan Jembatan Ampera ini. Malam itu begitu banyak warga yang memang sudah mengikuti rangkaian acara yang diadakan dari siang harinya dan puncaknya akan dilaksanakan dengan penutupan Jembatan Ampera untuk kegiatan nonton gerhana bareng.

Gerhana Matahari Palembang

Jembatan Ampera lebih dekat dari tempat kami memarkir mobil.

Gerhana Matahari Palembang

Hampir tengah malam kami menuju Hotel Classie yang sudah dipesankan oleh Pakliknya Bunda Hani. Saat kami mau check in, Bunda Hani baru menyadari bahwa dompetnya yang berisi uang dan beraneka kartu hilang entah di mana. Sudah mencari di semua bagian tas dan mobil tetapi tidak ada juga hingga kami menyusuri kembali ke Martabak Har, air mancur hingga pinggir Sungai Musi di depan Benteng Kuto Besak tetapi hasilnya nihil. Dan akhirnya Bunda Hani hanya bisa merelakan dompetnya hilang dan kami memutuskan untuk kembali saja ke hotel dan beristirahat.

Sudah hampir pukul 1 dini hari akhirnya saya bisa masuk ke dalam kamar Hotel Classie yang nyaman dan gratis ini, tetapi masih kepikiran dompet Bunda yang hilang. 🙁

Palembang

Pagi harinya sekitar pukul 6.00, dengan kondisi masih sangat mengantuk, kami sudah dijemput Pak Supir untuk berangkat ke sekitar Masjid Agung menunggu saat gerhana matahari total. Keadaan Palembang pagi itu sangat luar biasa macet karena semua orang menuju titik kumpul yang sama di sekitar Jembatan Ampera. Setelah mendapatkan tempat parkir yang tidak begitu jauh dari Martabak Har, kami kembali menikmati martabak itu lagi untuk sarapan dan kali ini sudah disambut oleh Paklik dan Buliknya Bunda Hani. Dua porsi martabak dalam waktu kurang dari delapan jam. #pffft

Palembang

Dan beginilah suasana gerhana total yang tertutup mendung sekitar pukul 07.15 pagi itu. Jujur saya agak takut dan merinding saat gelap total ini bukan karena gelapnya tetapi karena takjub dengan keadaan yang tiba-tiba gelap gulita serasa maghrib. Suara takbir orang-orang di sekitar saya juga membuat semakin merinding dan mengingatkan betapa besar kuasa-Nya. Beberapa menit yang tak akan terlupa.

Gerhana Matahari Palembang

Setelah matahari kembali terlihat, tampaklah puluhan ribu warga yang mulai berjalan meninggalkan Jembatan Ampera menuju arah air mancur. (((ITU ORANG SEMUA)))

Palembang

Terlihat banyak pejabat, artis, sosialita, dan wartawan yang juga berada di jembatan ini entah dari jam berapa dan mulai meninggalkan jembatan. Dan beginilah saat Ampera sudah mulai sepi.

Gerhana Matahari Palembang

Saat kembali ke sekitar air mancur, ada si bapak polisi ganteng ini yang sedang bertugas.

Palembang

Pfffttt sedang mereviu foto-foto bapak polisi ganteng.

Palembang

Dan ada polisi ganteng lain yang terlihat masih muda. Fokus. Fokus. LOL.

Palembang

Kami pun mengakhiri foto-foto Pak polisi dan memutuskan kembali ke parkiran. Di sinilah di antara ruko-ruko tua kami memarkir mobil yang pada pagi hari tadi sangat penuh sesak kendaraan.

Palembang

Selanjutnya kami menuju tempat favorit saya di Palembang, Pasar Kito yang berada di kompleks Ramayana di dekat Palembang Indah Mal. Saya mempunyai beberapa langganan untuk mencari jumputan maupun songket dan selalu khilaf pada saat ke pasar ini.

Palembang

Songket warna-warni yang sangat indah ini harganya kurang dari Rp2.000.000 dan masih bisa ditawar. Haute Couture.

Gerhana Matahari Palembang

#NoCaptionNeeded

Gerhana Matahari Palembang

When you are feeling hot outside but you need to show the world your fabulous fabric.

Palembang

Setelah kalap membeli puluhan helai jumputan yang harganya murah meriah dari Rp50.000 per lembar (2 meter) hingga titipan songket, kami menuju Pempek Vico dengan berjalan kaki. Sayang sungguh sayang, Vico baru buka dan masih banyak menu yang yang belum tersedia seperti pistel, otak-otak, es kacang merah bahkan mie ayam favorit saya pun belum ada. Akhirnya kami pun hanya menikmati beberapa buah pempek adaan lalu kembali ke hotel untuk berkemas karena sudah hampir jam 11.30. Setibanya di hotel, kami segera beberes dan mandi tetapi ujung-ujungnya check out sudah hampir pukul 13.00 tetapi untuk tidak didenda. 😀

Karena belum membeli pempek untuk oleh-oleh, kami mampir ke Pempek Beringin yang letaknya di dekat hotel.

Gerhana Matahari Palembang

Tempatnya terlihat nyaman pada saat kami masuk. Kami pun langsung memilih-milih pempek maupun makanna lain untuk kami santap. Tak lupa memesan es kacang merah yang belum terpenuhi di Vico. Ada 1 rombongan lain sepertinya orang dari Jawa Timur yang sedang berada di sini dan datangnya hampir bersamaan dengan kami. Sembari menunggu pempek digoreng, kami menuju tempat pemesanan pempek untuk oleh-oleh yang berada di dekat pintu masuk. Kami memesan beberapa kotak pempek untuk menjadi buah tangan dan saat itu sudah dicatat untuk segera dibungkus.

Kembali ke meja dan pempek baru saja datang, kami pun segera menikmati pempek dengan cuko dan otak-otak yang rasanya enaaak. Saya kemudian menuju tempat pengambilan pempek dan menanyakan di mana minuman kami kok belum datang karena ada teman yang mulai makan pempek dan kepedasan. Katanya sih sebentar lagi siap dan saya pun diminta kembali ke meja. Sudah beberapa menit tetapi minuman kami pun belum jadi dan saya pun kembali ke depan untuk menanyakan. Eh bukannya sudah jadi, malah dibilang kalau ternyata kacang merah maupun kelapa muda yang kami pesan sedang tidak ada. Lah… bukannya ngomong dari tadi malah baru ngomong sekarang setelah 2 kali ditanya. Akhirnya saya mengambil langsung air putih dalam kemasan botol dan membanwanya ke meja sambil menggerutu dan menyampaikan kepada Bunda dan Nadya serta Pak Supir. Kami segera menyelesaikan makan pempek yang sebenarnya enak tetapi layanannya yang kurang memuaskan ini dan menuju ke tempat pengemasan pempek untuk dibawa ke Jakarta sekaligus membayar. Saat menyampaikan kepada kasir yang sekaligus sepertinya pemilik, bahwa kami sudah selesai makan dan akan membayar termasuk pempek yang tadi sudah dipesan untuk dikemas dalam kotak eh kok ternyata pesanan kami belum ada dan mas yang menulis pesanan tadi sudah tidak di tempat dan mas yang sekarang bertugas mengemas di situ tidak tahu apa-apa. D’oh… akhirnya memuncaklah kemarahan saya yang sudah 2 kali kecewa dengan pelayanan tempat ini. Saya bilang bahwa kami kecewa dengan pelayanan di sini dan sudah tidak perlu dibungkuskan karena kami buru-buru mau ke bandara dan tidak ada waktu menunggu dibungkuskan lagi. Saya segera membayar dan kami pun pergi dari sini. I don’t like drama but drama loves me wherever i go.

Gerhana Matahari Palembang

Kami selanjutnya menuju kantor polisi yang letaknya juga tidak begitu jauh dari hotel untuk membuat surat  keterangan kehilangan dompet dan kartu-kartu Bunda. Di kantor, yang sebenarnya lebih tepat disebut pos polisi tersebut, hanya ada seorang Bapak Polisi sudah tua dan mungkin hampir pensiun yang berjaga. Kami menyampaikan maksud kami dan tak disangka layanannya sungguh luar biasa. Dengan diselingi sedikit guyonan dan tanya mengenai asal kami dan kronologis kehilangan, surat keterangan pun sudah diterbitkan dan ditandatangani. Terima kasih, Pak.

Karena layanan yang singkat cepat dan memuaskan dari pak Polisi, maka kami masih ada waktu untuk mampir mencari pempek di Jalan Mujahidin Pasar 26 Ilir di belakang Mie Celor 26 HM Syafei. Di sepanjang jalan ini banyak pempek dengan cuko yang murah dan enak yang harganya hanya Rp1000 per buah. Favorit saya sih Pempek Hesty. Biasanya saya beli pempek Hesty dan dibungkus plastik dengan cukonya lalu disobek bagian bawah plastik dan memakan pempek dari sobekan tersebut seperti makan cilok di Jawa. Sayang sore itu karena Pempek Hasty terlihat lumayan penuh dengan mobil yang berderet di depannya, maka kami mencari pempek lain yang lebih sepi biar bisa segera membungkus untuk dibawa ke Jakarta. Kami pun mampir di salah satu warung pempek dan membeli pempek hanya dengan harga Rp100.000 mendapat 100 buah pempek sekaligus cuko yang enak. Kami juga sempat menikmati pempek dan es kacang merah di situ. Mungkin ini hikmah gagal memesan pempek tadi karena kalau di toko pempek yang sudah punya nama, pempek 1 buah harganya sekitar Rp4.000 padahal kalau oleh-oleh kantor sih dibawakan saja sudah bagus, apalagi ini bukan perjalanan dinas yang lebih agak wajib membawa oleh-oleh. Dan saya juga bukan tipe yang suka membawakan oleh-oleh atau pun meminta oleh-oleh. Kalau nitip sih kadang-kadang asal tidak merepotkan.

Palembang

Dari Pasar 26 Ilir, kami melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi rumah dinas Pakliknya Bunda di pinggiran kota Palembang sekaligus menyerahkan talas yang semalam sempat dipertanyakan pihak keamanan bandara karena saat dipindai di dalam tas saya terlihat aneh. Hohoho iyalah, 4 buah talas bogor dengan batang kira-kira 30cm masuk ke dalam tas keril saya yang hanya berisi sedikit pakaian karena mau saya isi kain yang saya beli di Pasar Kito. 😀

Setelah duduk-duduk bercengkerama dengan Paklik dan Bulik Bunda serta menikmati pempek enak banget yang disajikan dan enath merek apa, kami pun pamit dan segera bergegas ke bandara. Tak disangka di bandara bertemu Jeng Ria, teman yang sudah beberapa tahun tak jumpa, yang berangkat pagi dan sore sudah balik serta tidak kebagian gerhana dan malah ke Pulau Kemarau. Ternyata lebih singkat kunjungannya di palembang daripada kami.

Gerhana Jembatan Ampera Palembang

Terima kasih untuk Pakliknya Bunda, yang sekarang sudah pindah ke Jakarta, yang sudah menjamu kami. Dan sampai jumpa lagi Palembang tahun depan.

Lapar di Bogor

Postingan ini sudah lama saya buat draftnya tetapi lupa belum diposting ternyata. #ngok #alaala

Berawal dari keinginan untuk menengok Bu Joko yang sedang sakit, saya dan Bunda Hani janjian untuk jalan-jalan dan makan-makan di sekitar Kota Bogor. Dengan menggunakan KRL, saya mendatangi Bogor yang kemudian dijemput Bunda di stasiun.

Foodlicious

Tujuan pertama kami adalah ke RM Kebuli di Jl. Jenderal Sudirman No. 14A, Bogor. Porsi nasi kebuli dan nasi goreng yang kami pesan lumayan banyak dan rasanya juga lumayan enak.

Foodlicious

Lidah saya sih lebih suka dengan Nasi Kebuli bang Moch di Arinda, Tangerang Selatan. Bumbu di bang Moch lebih ciamiiiik. Apalagi nasi goreng rempahnya… nyaaammm…  Ini penampakan di Bang Moch.

Foodlicious

Cukup jauh berpindah dari nasi kebuli, kami sebenarnya ingin mencicipi makanan di salah satu kafe, tetapi kafe tersebut sedang tutup. Mampirlah kami ke Two Stories di Jalan Pajajaran Indah V No. 7, Cilendek Timur, Bogor yang ramai sekali siang itu. Konsep bangunan beberapa lantai ada yang indoor, outdoor dan rooftopnya sangat menarik. Variasi makanan dan minuman yang disajikan membuat tempat ini ngeheits di Bogor. Mau nongkrong sama abang gebetan di sini juga bisa. Ada live music juga jika kita sedang beruntung.

Foodlicious

Selanjutnya kami menuju kedai pojok entahlah di dekat Sop Duren Lodaya yang kata Bunda enak dan ada yang jual klapertart. rencananya sih mau bawain Bu Joko klapertart tetapi ternyata tidak ada yang jual klapertaart dan malah beli kwetiau dan eskrim matcha low cost yang lumayan ini.

Foodlicious

Tidak jauh dari kedai pojok, kami ke Sop Duren Lodaya. Sop duren inisempat ngeheits beberapa saat lalu saat berkolaborasi dengan Tante Farah Quinn. Rasa sop durennya lumayan, walaupun es batunya agak mengganggu bagi saya dan mungkin lebih baik diganti es serut atau es batu yang lebih kecil. Rasa keju malah terlalu dominan dan menutupi durian yang porsinya tidak lebih banyak daripada keju dan es batu.

Foodlicious

Perjalanan ke Bogor kali ini tumben banget tidak mampir ke Kedai Kita yang biasanya selalu menjadi tempat favorit jika ke Bogor. Akhirnya kami baru meluncur ke kediaman Bu Joko menjelang maghrib untuk menjenguknya. Sehat selalu Bu Joko dan kita semua…

Piknik Asyik di PIK

1. Mottomoo, Ruko Garden House, Blok B No. 21, Pantai Indah Kapuk, Jakarta
Tempatnya lucu walaupun tidak begitu luas. Meja dan kursinya cukup nyaman buat nongkrong lama. Penerangannya juga oke buat foto-foto.

Chic in PIKHamburg Gratinnya lumayan enak, mungkin kalau pakai pork sauce jadi enak banget. Ini menu favorit di sini lho.
Chic in PIK

Menu pastanya, shoyu cream spaghetti with truffle oil ini adalah pasta paling enak di Jakarta. Porsinya pas dan rasanya luar biasa. Harganya juga standar. Kudu dicobain kalau ke sini.

Chic in PIK2. Martabak Pecenongan 43, berada di Ruko Crown Golf, Blok A No. 30, Bukit Golf Mediterania, PIK.
Tempat yang selalu kukunjungi setiap kali ke PIK. Martabak manisnya enaaaak. Mengembangnya wokeh, manisnya pas, topping coklat kacang keju yang standar saja enak banget. Mahal dikit tetapi bikin nagih lagi dan lagi.
Chic in PIK

3. Shirokuma, letaknya dekat Martabak Pecenongan 43, tepatnya di Ruko Crown Golf Blok A No. 32, Pantai Indah Kapuk, RW.2, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14460. Sempat nyobain parfait matcha, anmitsu, kuro japadog, dan kentang goreng yang semuanya enak dan penyajiannya juga cantik. Tempatnya lumayan ramai dengan anak-anak muda yang nongkrong.

Chic in PIK

4. Shirayuki, di Jl. Pantai Indah Barat, Pantai Indah Kapuk, Penjaringan, Kamal Muara, Penjaringan, Kota Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Shirayuki ini juga dessert shop yang selalu ramai dan penuh dengan anak muda. Dessert cantik-cantik utuk difoto dan diunggah di sosial media dengan harga lumayan terjangkau membuat tempat ini populer. Sayang tempatnya agak sempit dan saat itu pelayanannya lambat banget.

Chic in PIK

5. Ohka, Letaknya berdekatan dengan Shirayuki. Sempat nyobain karaage miso ramen dan tonkotsu ramen yang enaaaaak dan ngehits di sini.
Chic in PIKSayang mulai Oktober kemarin Ohka sudah tutup dan sedang persiapan pindah ke lokasi baru di Golden Truly di daerah Gunung Sahari.

Sampai jumpa di Piknik Asyik di PIK selanjutnya.

Menikmati Alam Sekaligus Wisata Kuliner di Sekitar Taman Safari Bogor

 tsb

Sumber: flickr.com

Siapa yang tidak tahu Taman Safari yang terletak di Cisarua Bogor? Pasti Sebagian besar penduduk Bogor dan sekitarnya sudah tahu tempat yang satu ini. Obyek wisata ini merupakan salah satu pilihan favorit sehingga banyak fasilitas penunjang seperti hotel yang memudahkan dan membuat Anda sangat nyaman saat menikmati indahnya kota Bogor.

Anda tidak perlu khawatir soal ketersediaan hotel di sekitar Taman Safari Bogor, Anda bisa cek langsung di website traveloka.com. Terdapat banyak hotel dengan harga beserta fasilitasnya yang ditawarkan di website, sehingga Anda memiliki banyak pilihan sesuai kebutuhan Anda. Terutama bagi Anda yang berencana menginap, menikmati indahnya Kota Bogor dan mengisi waktu libur yang istimewa dengan keluarga atau pun orang-orang tercinta.

Kembali lagi ke pembahasan Taman Safari, taman ini terletak di Desa Cibeureum, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dari segi sejarahnya, Taman Safari Bogor dibangun di atas tanah bekas perkebunan teh yang sebelumnya sudah tidak lagi produktif. Lalu barulah pada tahun 1980 mulai dibangun Taman Safari Indonesia Bogor yang dijadikan sebagai obyek wisata Nasional dan pusat penangkaran beberapa satwa Langka yang ada di Indonesia pada tahun 1990.

Taman Safari berada di kawasan puncak Bogor, tepatnya di ketinggian sekitar 900 sampai 1800 mdpl. Suhu udara di kawasan puncak terbilang cukup dingin, yakni sekitar 16o – 24o Celcius karena memang datarannya yang tinggi. Sebenarnya banyak sekali kebun binatang yang terdapat di Indonesia tetapi di Taman Safari memiliki cara yang berbeda untuk mengenalkan alam secara langsung kepada pengunjung.

Para pengunjung dapat berkeliling kebun binatang Taman Safari dengan menggunakan kendaraan bus yang telah disediakan oleh pihak Taman Safari. Anda juga dapat menggunakan kendaraan pribadi menuju lokasi. Sangat seru bukan? Anda dan keluarga akan merasakan pengalaman baru karena bisa melihat aktifitas satwa di alam liar secara langsung. Bahkan Anda juga bisa bermain dan memberi makan satwa-satwa yang berada di Taman Safari tersebut.

Di Taman Safari Bogor terdapat kurang lebih 2500 spesies yang merupakan koleksi satwa yang berasal dari seluruh dunia. Dan jika beruntung, Anda juga bisa menemukan beberapa satwa langka yang terdapat di kebun binatang Taman Safari ini. Beberapa diantaranya Singa, Orangutan, Gajah, Komodo, dan beberapa satwa langka lainnya. Dan selain berkunjung ke kebun binatang, Anda juga bisa menikmati Safari Trek/trekking, outbound, cowboy show, dolpin show, Waterpark, dan wahana bermain seru lainnya.

Setelah Anda puas berkeliling di Taman Safari, bisa menuju ke lokasi lain untuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Tenang saja, di sekitar Taman Safari selain terdapat banyak hotel, juga terdapat banyak tempat wisata kuliner. Mulai dari kaki lima hingga kelas bintang lima.

Masing-masing tempat menyediakan menu kuliner andalan sekaligus landscape dari desain rumah makan dan alam sekitar yang bisa menjadi pengalaman menarik. Menikmati pemandangan sambil menyantap kulinernya yang lezat adalah salah satunya kenyamanan dan kepuasan yang ditawarkan oleh Rumah Makan Bumi Nini.

rm-bumi-nini

Sumber: muradmaulana.com

Rumah Makan Bumi Nini beralamat di Jl. Raya Puncak Cisarua No 18, KM 81, Puncak – Bogor, Jawa Barat. Rumah makan Bumi Nini adalah cabang dari rumah makan Bumi Aki yang sudah cukup terkenal karena cita rasanya yang lezat di kawasan Puncak Bogor. Jarak menuju rumah makan Bumi Nini hanya sekitar 5,4km dari Taman Safari Indonesia.

Rumah Makan Bumi Nini selalu ramai pengunjung. Bahkan jika Anda menggunakan kendaraan pribadi dan ingin makan di jam makan siang atau jam makan malam, Anda harus bersabar antri parkiran. Ada banyak antrian kendaraan yang memanjang menuju pintu masuk rumah makan legendaris yang satu ini. Walaupun banyak yang merasa kesulitan untuk parkir, tetap saja banyak pengunjung yang datang untuk menikmati wisata kuliner di Bumi Nini.

rm-bumi-nini-food

Sumber: happyuniii.blogspot.co.id

Di rumah makan ini terdapat menu kuliner andalan yakni gurame cobek goreng. Yang membedakan dari rumah makan lain, saat sebelum di goreng, gurame diberi bumbu sampai meresap. Untuk melengkapi rasanya, gurame tersebut di siram dengan sambal khas dari rumah makan Bumi Nini. Sehingga membuat gurame cobek goreng memiliki cita rasa yang tiada duanya. Selain gurame cobek goreng, juga terdapat beberapa menu diantaranya: gurame bakar, tempe mendoan, sayur asem, karedok, kopi hitam, juice strawberry, teh manis.

Nikmati liburan Anda di Kota Bogor dengan berbagai tempat wisata alam, wisata kuliner dan wisata menarik lainnya. Happy holiday!

A Cup of Coffee for A Sane Life

Spring talks

Vogue Italia March 2016, The Food Issue: Spring Talks
Model: Mojang and Mochan
Fotografer: Paminto Meisel
Makeup Artist: Estu McGrath
Hair: Guido Paminto
Set: Estu
Stylist: Franca Soestu
Cover story: A Cup of Coffee for A Sane Life

Ngopi sudah menjadi budaya bagi masyarakat di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia sebagai salah satu negara penghasil kopi. Jika di daerah-daerah banyak kedai kopi tradisional yang menyajikan kopi dan sebagai tempat berbincang-bincang serta main kartu, maka di kota-kota besar kedai ngopi sudah menjadi tempat yang menggabungkan semua hal dalam kedai kopi tradisional dan gaya hidup kekinian sambil misal online, rapat, melepaskan penat setelah ngantor, hingga mengerjakan tugas kuliah atau pun pekerjaan kantor. Dua wanita yang menjadi cover girl ini contohnya. Sebagai wanita karir, mereka terbiasa mampir salah satu kedai kopi setiap pagi untuk membeli satu, dua, atau tiga gelas kopi dan membawanya ke kantor. Di kantor, mereka juga sering meracik kopi atau memesan kopi melalui ojek online agar tetap fit dan cetar berkarya sepanjang hari. Sepulang kantor pun mereka juga sering menikmati kopi di berbagai gerai kopi.

1. Kedai Tjikini, Jalan Cikini Raya 17 Jakarta Pusat.
Kedai kopi ngehits di bilangan Cikini berada di jalur trotoar hall of fame yang bergambar aneka mural batik nan cantik yang membuat kita sudah gemets untuk foto-foto bahkan sebelum masuk ke kedai klasik ini. Semua menu di sini berbau zaman doeloe dengan variasi dari berbagai daerah di Indonesia. Mau pempek ada, mau pisang goreng ada, mau singkong ada, mau pancake juga ada. Kopinya enak. Tempatnya juga enak buat nongkrong.

Tjikini

2. Tanamera Coffee Roastery, Thamrin City Office Park Blok AA No. 7, Jl. Kb. Kacang Raya, Jakarta Pusat.

FoodliciousKopi di sini enak. Enak banget. Suka banget dengan apple crumbled pienya. Soal tempat sih tidak begitu luas di lantai 1 tetapi kita bisa mencoba di lantai 3. Berasa kayak mengunjungi gudang sekaligus pabrik kopi. Salah satu tempat ngopi paling enak.
Foodlicious3. Caribou Coffee, Jalan Senopati No. 52, Jakarta.
Dari luar saja tempatnya terlihat menarik, apalagi saat kita masuk. Ada perapian, sofa-sofa, hingga tangganya pun menarik untuk difoto. Blended caramel, mocha, dan vanila yang kami nikmati dalam ukuran large ini bikin puas banget. Creme brulee-nya enak dan gede. Dan karena di Senopati yang mana cukup dekat dari kantor, maka tempat ini cukup favorit bagi orang sekantor baik dari pagi hari saat menuju kantor hingga untuk berkumpul dan tsurhat setelah pulang kantor.
Foodlicious4. Brownstones Coffee, Jalan. Bintaro Utama 3A, Blok DD12 No. 41, Bintaro.
Tempat ngopi yang baru buka beberapa hari saat kami melakukan pemotretan cover ini dan saat itu masih banyak promo. Tempatnya lumayan luas dengan menyediakan teras hingga tempat bermain anak, jadi serasa nyaman kayak di rumah sendiri gitu. Kopi di sini juga lumayan enak dan dekat banget dari tempat aku tinggal.

Foodlicious

5. Filosofi Kopi Bintaro, Jl. Bintaro Utama 1, Blok F2 No. 6, Bintaro.
Tempat ngopi di jalur utama orang-orang Bintaro yang akan kembali ke Bintaro dari arah pusat kota Jakarta yang baru beberapa bulan dibuka dan merupakan kedai Filosofi Kopi kedua setelah di Melawai. Tempatnya tidak begitu luas seperti halnay yang di Melawai tetapi cukup nyaman untuk nongkrong-nongkrong syantiex dan manja bersama kawan-kawan. Akan lebih nikmat ngopi di sini jika sedang ada Chico Jericho dan Rio Dewanto yang mengunjungi kedai kopi mereka ini. Kopinya enak dan baristanya juga ramah-ramah.

Filosofi Kopi Bintaro6.  Anomali Coffee Senopati, Jl. Senopati No. 9, Jakarta.
Ini dia tempat dua wanita manja nan berkarya nyata merengkuh kopi setiap hari kerja. They do love the coffee in this place sampai berharap Anomali ada di Bintaro.
AnomaliKopi dan makanan di Anomali ini memang enak-enak dengan tempat yang luas dan nyaman. Ada yang indoor maupun outdoor baik di lantai 1 maupun 2. Ada smoking area serta parkir yang cukup tetapi selalu penuh karena memang pengunjungnya selalu banyak dari buka hingga tutup. Meja, kursi, hiasan, serta bangunan di sini kekinian dan instagram-able banget yang membuat suasanan nongkrong ngopi-ngopi cantik makin asyik.
Anomali

Pelangi Restauran Bintaro

Foodlicious

Berada di Bintaro Sektor 5 dekat Cheese Cake Factory. Merupakan restauran yang menyajikan makanan khas Makassar, seafood, dan Chinese food. Suka banget nasi goreng merahnya yang enaaak dan banyak. Mie hokkian, iga bakar, mie titinya juga enaaak. Sambal dan kue-kue di sini juga cocok dengan lidahku. Aku sih doyan banget makan di sini dan jadi salah satu tempat makan favoritku di Bintaro. Kalau bingung mau ngajak kawan yang lagi berkunjung, maka ke Pelangi ini aku kan datang.

Loksado

Loksado

Vogue Italia February 2016: Happy on Top
Model: Rian and his girl friend, GGS, Jokosan, Zizou, and many more
Fotografer: Paminto Meisel
Makeup Artist: Estu McGrath
Hair: Guido Paminto
Set: Estu
Stylist: Franca Soestu
Cover story: You’d Rather Guide Me to Love You

Loksado

Berawal dari kemurahan saya (baca: mureee bin gampangan) diajak jalan, Mbak Zizou iseng mengajak saya jalan ke Banjarmasin pada saat tahun baru, walaupun belum tahu mau ke mana di sana. Bunda Hani yang juga muree memutuskan ikut bersama saya dan Mbak Zizou. Tak disangka ternyata Bu Joko juga berencana ke Banjarmasin, tepatnya mau ke Loksado bersama beberapa temannya. Akhirnya saya, Mbak Zizou, dan Bunda Hani bergabung dengan grup Bu Joko yang sudah diaturkan segela tetek bengeknya oleh Mbak Reni. Makasih banyak lho jeng-jeng.

Loksado berada di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, sekitar 4 jam perjalanan darat dari Bandara Syamsudin Noor. Sesampainya di Homestay Manguraksa Malaris, kami pergi ke Air Terjun Riam Hanai.

Loksado

Air terjun Riam Barajang yang letaknya lebih dekat ke perkampungan dibanding Air Terjun Riam Hanai.

Loksado

Homestay ini biayanya sukarela dan saat itu kami membayar Rp50.000 per orang. Homestay ini menjual madu hitan dan sirup kayu manis yang enaaak. Serta penjaga homestay yang imut-imut.

Loksado

Sebelum bermain rakit, kami sarapan dulu di warung hot ini. Ulala.

Loksado

Biaya bermain rakit ini Rp300.000 per rakit dan hanya bisa ditumpangi maksimal 3 orang dan 1 pendayung. Bapak tua ini lah yang dengan sabar tetapi penuh energi dan semangat menemani kami menyusuri sungai selama 3 jam dengan kondisi dari hujan, panas, gerimis, hingga terang.

Loksado

Setelah bermain air, kami berpindah ke Langara. Sebuah bukit karst yang sedang ngeheits karena baru saja masuk My Trip My Adventure. Kita harus mendaki bukit yang jalannya belum semua dipasangi tangga beton dan sangat licin saat itu karena baru saja turun hujan. Matur nuwun Mbak Zizou yang meminjamkan sandalnya sehingga saya bisa sampai di Puncak Langara.

Loksado

Bertemu Bang Rian dan ceweknya yang sedang asyik foto-foto. Dengan latar hutan dan sungai dari ketinggian serta bebatuan yang khas ini lah yang membuat Langara terasa istimewa.

Loksado

Jika Anda ke Langara, sebaiknya memakai sepatu karena bebatuan terjal yang harus kita terjang saat tiba di puncak.

Loksado

Pegangin aku, Bang… Pegangin…

Loksado

Saatnya berendam air panas di Wisata Air Panas Tanuhi yang letaknya di tengah-tengah antara Loksado dan Langara.

Loksado

Dan kami pun tiba di Banjarmasin.

Loksado

Menikmati kuliner dan pesona pasar terapung.

Loksado

Umi Vuitton Series 2

Umi Vuitton

Umi Vuitton Series 2: A Way to Blue Sky
Model: Hunny SeekR, Vitong Onopka, Tesa Verhoef, David Gandi, Paminto
Photographer: Paminto Meisel,
Makeup Artist: Estu McGrath
Hair: Guido Paminto
Set: Estu
Stylist: Marie Amelie Sautse
Umi VuittonHutan Mangrove Kota Langsa menjadi lokasi pemotretan iklan Umi Vuitton kali ini.
Umi Vuitton
Umi VuittonHutan Kota Langsa juga menjadi latar seri kedua ini.
Umi Vuitton
Umi VuittonKami pun melanjutkan perjalanan ke Bukit Lawang untuk mendapatkan gambar terbaik demi Umi Vuitton.
Umi VuittonUmi Vuitton menswear S/S 2016
Umi VuittonLangkat yang ceria.
Umi Vuitton

Dieng Plateau

Dieng Plateau
Vogue Italia January 2016: Ancient Pieces
Model: Paminto, Zee
Fotografer: Paminto Meisel, Denpe Roversi
Makeup Artist: Estu McGrath
Hair: Guido Paminto
Set: Estu
Stylist: Franca Soestu
Cover story: Windy Road Memories

Dieng PlateauPosong berada di Kabupaten Temanggung hampir berbatasan dengan Wonosobo dan hanya ada gapura kecil yangmengantarkan kita seperti masuk ke jalan kampung yang hanya cukup dilewati 1 mobil. Jalanan menuju Posong masih berupa makadam dengan kondisi naik turun. Sayang sekali sore itu sedang mendung gelap sehingga pesona 7 puncak gunung yang berada di sekitarnya tidak begitu tampak.
Dieng Plateau
Zee is wearing tenun Lombok dress.
Dieng Plateau
Kemeja kain taplak yang agak keras dan seperti saringan yang saya dapat di Pasar Klewer, Solo dikombinasi dengan songket Palembang.
Dieng Plateau
On the day after, we went to Arjuna Temple in Dieng Plateau. Im wearing faux mink coat, deep v neck t shirt, and orange Ulos Sadum as scarf.
Dieng PlateauZee berbalut pashmina tenun Lombok.
Dieng

Pashmina tenun Lombok yang juga saya kenakan di Kawah Sikidang

Dieng

The Kondangan Team.
Dieng