Ikut Bule ke Tentena

Ada apa di Tentena? Saya belum begitu paham apa yang akan kami tuju nanti di Tentena, selain Danau Poso dan Lembah Bada (yang juga baru semalam kami dengar dari Ardi saat di Togean), malahan sepertinya bule-bule yang lebih banyak mengetahui tentang kota kecil di Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso ini. Tentena terletak di jalur yang menghubungkan Ampana (Togean) dan Rantepao (Tana Toraja) sehingga menjadi tempat stopover pilihan para turis asing. Waktu tempuh dari Ampana ke Tentena sekitar 7 jam sedangkan dari Tentena ke Rantepao sekitar 11 jam sehingga pantaslah para turis memilih untuk bermalam di Tentena sebelum melanjutkan perjalanan di antara 2 kota tersebut. Berada di ketinggian hampir 700m di atas permukaan air laut dengan daya tarik situs megalitikum Lembah Bada yang tidak populer untuk orang Indonesia tetapi sudah mendunia. Di situ terkadang saya merasa sedih.

Hampir pukul 15.00 wita kami yang kelaparan karena belum makan siang tiba di sebuah rumah makan di dekat jembatan Sungai Bongka di Desa Tampanombo, Kecamatan Ulu Bongka, Kabupaten Tojo Una-Una. Daripada makan di sekitar Pelabuhan Ampana yang masih dekat dengan sumber aura kegelapan Bu Ulfa dari Tourist Information Center Ampana yang bahkan mengingat namanya saja membuat saya ingin marah menjadikan tempat makan pilihan Pak Mito, supir kami ke Tentena, ini adalah pilihan yang tepat sembari menunggu jalan arah Poso dibuka karena adanya buku-tutup perbaikan jalan. Para bule memesan ikan bakar sedangkan saya dan Bu Joko lebih memilih telor dadar serta semua mau tumis sayur kangkung dan bunga pepaya yang rasanya enaaak. Para bule ini mau makan apa saja sih asal tidak begitu pedas, apalagi si Michal yang sejak saat kami mendarat di pelabuhan sudah berkali-kali bilang, “Estu, i’m starving. Can we eat now?”

Tojo Una-Una (3)Di rumah makan ini, semua menu mulai nasi, ikan, dan sayur baru akan dimasak pada saat kami memesan sehingga membuat saya turun tangan ke dapur untuk membantu agar makanan lebih cepat disajikan. Entah sudah berapa kali saya harus turun tangan sekaligus mensupervisi di dapur seperti ini. Teringat beberapa tahun lalu saat ke sebuah pantai di Yogyakarta, kami sempat menunggu hampir sejam tetapi makanan belum juga tersaji dan akhirnya saya mendatangi dapur dan bilang ke pemilik warung bahwa saya akan membawa ke luar menu apa pun yang sudah siap walaupun hanya nasi karena kami harus segera pergi. Seringkali pihak warung menyajikan makanan menunggu semua siap disajikan, tetapi saya lebih memilih bahwa yang sudah siap duluan agar disajikan duluan, tidak usah tunggu-tungguan, dan jika perlu bantuan memotong sayur, mengulek bumbu, atau sekedar menyajikan makanan saya bisa membantu, dan saat itu saya membantu menyipakan lalapan, sambal, menata ikan dan cumi, serta ikut menyajikan makanan dan minuman ke teman-teman saya yang sudah kelaparan. Kembali ke dapur di rumah makan di Tampanombo, Ibu pemilik warung ternyata jago membuat bolu dan kue-kue seperti yang saya lihat di dapur sesaat sebelum membantu menyajikan makanan. Kue-kue tersebut dijual di rumah makan ini atau kadang merupakan pesanan tetangga, yang mana saya tidak melihat adanya rumah atau bangunan lain di sekitar sini. Tetangga yang berjarak 1 km dari rumah makan mungkin. :O

Dua gadis cantik umur belasan tahun di rumah makan ini digoda Jan sebelum kami melanjutkan perjalanan ke Tentena pada pukul 16.30 wita. Mereka bernama Janna dan Desi. Dan mereka bukan cabe-cabean, tetapi mungkin calon berlian dari jantung Sulawesi.
Tojo Una-Una (4)

Pemandangan dari Ampana ke arah Poso di Kabupaten Tojo Una-Una benar-benar indah. Banyak ladang jagung di perbukitan yang nampak tertata rapi dengan gradasi warna dari pohon jagung yang sudah atau siap ditebang, ladang tembakau, hutan dengan perbukitan di sebelah kiri, serta laut dan matahari terbenam yang berada di sisi kanan sepenajang jalan. Perbaikan jalan yang saat itu sedang dilakukan pemerintah daerah terbentang di sepanjang jalur yang kami lewati. Sungai-sungai di Kabupaten Tojo Una-Una terlihat lebar-lebar dan dangkal sehingga komponen bebatuan di sekitarnya jelas nampak di antara arus yang mengalir dengan deras akibat hujan lebat yang baru saja terjadi. Bagi Anda pencinta batu akik(a), jalur Ampana-Poso menyediakan begitu banyak bebatuan serta penjual batu di pinggir jalan yang bahkan terkadang di tengah remang hutan tanpa ada orang lain selain si penjual batu, batu yang masih belum diasah tepatnya. Tapi maaf ya, saya bukan pencinta dan bukan orang yang mau dititipi bebatuan macam ini, kalau berlian sih boleh lah dikasih ke aku biar auraku jadi shine bright like a diamond. Selain penjual batu, ada juga ternak warga seperti sapi dan kambing yang sore itu banyak kami jumpai di sepanjang jalan. Ternak yang jumlahnya lebih banyak daripada kendaraan yang melintas yang bermain-main bebas di tengah dan pinggir jalan sebelum pulang ke kandang. Untuk musik pengiring perjalanan, Pak Mito mempunyai selera internasional yang saya kira lumayan cocok untuk turis asing seperti REM, Nirvana, Metallica, Steelheart, dan OASIS.

Para bule meminta Pak Mito untuk berhenti sejenak untuk beli camilan dan meregangkan badan di sebuah warung di Malei, yang juga masih di wilayah Kabupaten Tojo Una-Una. Sudah pukul 19.00 wita lebih dan kami masih saja di Tojo Una-Una menyadarkan saya betapa luasnya Indonesia. Ibu pemilik warung yang sepertinya sedang menonton sinetron agak terkejut melihat bule-bule yang berada di belakang saya yang sepertinya siap menyerbu warung.
Tojo Una-Una (5)

Selain membeli minuman segar dan permen, kami menemukan kue khas Malei yang terlihat biasa tetapi rasanya luar biasa yang namanya kue kambu. Kue kambu ini terbuat dari tepung terigu, kelapa parut, dan gula pasir yang dijual seharga Rp1.000,00 per buah. Entah berapa puluh kue kambu yang kami beli saat itu.
Tojo Una-Una (6)

Tidak begitu jauh dari Malei, kami pun tiba di Kabupaten Poso dan langsung mengambil jalur ke arah Tentena, bukan ke Palu. Perbaikan jalan ternyata benar-benar sedang dilakukan di seluruh penjuru Sulawesi Tengah. Saat itu pukul 20.30 wita saat mobil kami tiba-tiba terhenti karena terhadang lagi oleh penutupan jalan yang katanya sedang memasuki proses pengangkatan aspal atau apalah hingga 2 jam ke depan, dan penutupan baru berlangsung sekitar 5 menit sebelum kami datang. Pantas saja kami berada di antrean kendaraan nomor 3 di belakang portal. Kami turun mobil untuk melihat-lihat keadaan sekitar saat ada mobil, yang sepertinya milik raja kecil di sana, tiba-tiba berada di belakang portal jalur kendaraan ke arah Poso dan meminta dibukakan jalan kepada penjaga portal. Si Raja Kecil yang duduk di samping supir turun dan bilang kepada kami dengan nada tinggi bahwa harus segera ke daerah entah-apalah-namanya-sesuka-udhel-e-dewe untuk menyampaikan bantuan bagi para korban banjir dengan menggunakan kapal yang harus berangkat pada pukul 11.00 wita. Yaelah Pak, kalau mau nyerobot antrean ataupun memaksa melewati jalan mah lewat saja, gak perlu marah-marah sok ngejelasin tujuan muliamu itu kali. NEVER MIND. WE DON’T CARE. Malah mencurigakan bantuan macam apa sik yang dibawa hanya di satu mobil yang tidak terlihat membawa barang-barang bantuan. Lalu kami boo ramai-ramai deh si bapak gengges itu.
Tentena (4)

Kami menepi ke arah warung-warung yang banyak di dirikan di sekitar portal. Jan dan Michal mengajak Pak Mito, Catherine dan pasangannya untuk bermain kartu versi Ceko. Saya juga diajak tetapi saya bukan penggemar kartu sehingga saya diminta untuk mendampingi dan menjelaskan tata cara permainan kepada Pak Mito. Saya sih pernah suka main kartu sekitar 10 tahun lalu jadi walaupun lupa nama dan aturan permainan, masih ingat sedikit-sedikit lah tentang jenis permainan kartu yang mirip dengan seven sekop tetapi dibuat lebih mudah dengan beberapa aturan ala Ceko sana. Dan kami menjadi pusat perhatian orang-orang yang sedang menepi di sekitar warung.
Tentena (6)

Setelah permainan kartu berjalan dengan stabil sesuai aturan yang ditetapkan, saya memilih melipir ke warung sebelah dan menemukan minuman cap tikus yang merupakan tuak khas Sulawesi termasuk di Poso. Si Bapak penjual cap tikus menjelaskan beda cap tikus dengan saguer dari proses pembuatan, warna, dan harga. Saya sih tidak tertarik dengan cap tikus karena teringat adegan terpaksa mencicipi tuak khas Nias yang dioplos dengan minuman berenergi pada tahun 2014 silam karena takut kalau tidak mau mencicipi minuman yang ditawarkan penduduk lokal bakal tidak bisa ke luar dari Nias. ūüėÄ

Tentena (5)

Sekitar pukul 9.30 wita portal sempat dibuka untuk ambulans yang melintas dan langsung diikuti oleh beberapa mobil yang berada di belakang ambulans untuk turut melintas. Sayang kami gagal ikut melintas karena kurang gesit berkumpul dan menjalankan mobil. Akhirnya David dan Bu Joko kembali tidur di mobil, yang main kartu kembali bermain kartu, dan saya mengobrol dengan supir  pickup pengangkut ayam yang ternyata berasal dari Jawa Timur juga. Sesekali saya mencoba menghubungi Hotel Tropicana yang menjadi tempat yang diinginkan Catherine karena berdasar rekomendasi pada buku yang dia bawa, juga menghubungi Hotel Victory yang direkomendasikan Pak Mito. Di tengah alas ini koneksi data masih sangat sulit dan tetap hanya Whatsapp yang lumayan lancar. Saya teringat Yose, teman kantor yang pernah bertugas di Poso, yang saya pikir pasti tahu tentang Tentena. Yose melalui Whatsapp mengatakan bahwa hotel yang menurutnya bagus dan paling dekat dengan Danau Poso adalah Hotel Pamona Indah. Lalu saya hubungi Hotel Pamona Indah. Bingung-bingung belum bisa memutuskan mau menginap di hotel yang mana saat kami tiba di tentena yang kemungkinan akan lewat tengah malam.

Akhirnya menjelang pukul 23.00 wita, portal benar-benar dibuka dan kami bergegas masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan ke Tentena melalui jalan yang memang benar-benar dalam keadaan berantakan, berlumpur, penuh material pembangunan jalan selama 1 jam. Beberapa menit lepas tengah malam kami pun tiba di Tentena dan memutuskan untuk melihat Hotel Victory. Catherine menanyakan ketersediaan kamar yang paling murah di hotel tersebut tetapi ternyata sudah penuh sehingga tinggal yang harganya Rp175.000 ke atas. Czech Gang yang sudah merasa kelelahan memutuskan untuk memilih melanjutkan perjalanan ke Rantepao saja jika memungkinkan daripada nanggung istirahat beberapa jam di Tentena. Kebetulan saat itu di Victory tersedia mobil jurusan Tentena-Rantepao yang batal disewa orang sehingga para turis Ceko dan Prancis ini bisa melanjutkan perjalanan langsung ke Rantepao. Mobil semua ditawarkan dengan tarif Rp1.250.000 tetapi saya tawar agar menjadi Rp1.000.000 karena tarif sewa mobil Ampana-Rantepao yang paling murah yang saya dapat adalah Rp1.800.000. Dihitung-hitung bisa pas kan akhirnya setelah tarif sewa mobil Ampana-Tentena Rp800.000 dan dilanjutkan Tentena-Rantepao Rp1.000.000. This was our farewell photo at Victory Hotel Tentena. ūüôĀ
Tentena

Saya lupa tentang konflik antarpemeluk agama yang menyebabkan kerusuhan pada tahun 2002 di Tentena jika tidak diingatkan Bu Joko pada saat kami bersiap untuk tidur. Then i got goosebumps and asked myself, “What i am doing here?”. Untungnya sih di sana cuma ada sinyal Telkomsel, yang untuk Whatssapp saja lemot dan susah untuk googling, jadi tidak semakin banyak informasi yang saya dapat yang akna membuat saya akan semakin merinding.

Saat pagi menjelang, saya pergi ke luar hotel untuk melihat Danau Poso dan ternyata tidak jauh dari Hotel Victory hanya dengan melewati 1 blok ke arah Hotel Pamona Indah. Walaupun tidak jauh, gelombang pasang Danau Poso sedang terjadi dan mengakibatkan jalan di sekitar danau menjadi tergenang setinggi 20 s.d. 30 cm dengan air being danau yang tidak membuat saya khawatir kaki akan gatal-gatal seperti terkena genangan air banjir di Jakarta yang keruh dan bau.

Tentena (8)

Sejauh mata memandang, sejauh itu pula luas danau terbesar nomor 3 di Indonesia ini. Keramba yang banyak dibuat di pinggir Danau Poso.
Tentena (7)

Rumah adat Poso yang sudah agak rusak di sekitar danau.

Tentena (9)

Rumah adat yang juga agak rusak padahal rumah model begini juga jarang kita temui di sini.
Tentena (10)

Setelah melihat-lihat Danau, saya kembali ke hotel untuk sarapan. Mbak Nony menyajikan 2 porsi nasi kuning, 2 gelas air mineral serta menawari saya mau teh atau kopi. Dan akhirnya saya menghabiskan 2 porsi nasi kuning yang seharusnya juga menjadi hak Bu Joko, yang masih terlelap, serta menyisakan air minaral dalam gelas dan secangkir teh manis hangat untuk Bu Joko. Saya sampaikan ke Bu Joko bahwa saya akan berkeliling mencari ojek atau travel yang bisa membawa kami ke Lembah Bada. Menurut Mbak Nony, untuk menuju Lembah Bada kami bisa menyewa hardtop seperti yang dilakukan penghuni kamar sebelah, menggunakan ojek motor jika ada yang mau, atau mobil travel umum yang biasanya kalau pagi begini berada di sekitar jembatan baru atau pasar lama. Ojek yang saya dapatkan bukannya mau mengantar saya ke Lembah Bada melainkan mau mengantarkan saya mencari ojek atau travel yang bisa mengantar saya ke Lembah Bada. Si Bapak Ojek ternyata ada acara di gereja pada siang nanti sehingga tidak bisa mengantar ke Lembah Bada. Saya mengambil gambar di bawah ini dari jembatan baru saat mencari ojek.

Tentena (12)

Dengan diantar Pak Ojek, saya memintanya sekalian melihat-lihat ada apa saja di Tentena ini dan diajaklah saya ke tempat ini. The venue for Festival Danau Poso. Its actually a large, beautiful and useful place to promote the tourismbut the government did’nt take care of it until the festival is almost being held.
Tentena (13)

Akhirnya di sekitar pertigaan dekat Universitar Kristen Tentena Pak Ojek berhasil menghentikan seorang tukang ojek lain yang mau mengantar saya ke Lembah Bada. Saya pikir akan mudah mendapatkan 1 tukang ojek lagi, tetapi ternyata tidak. Saya yang sudah ditinggal Pak Ojek dan diserahterimakan ke Mas Ojek berpindah ke beberapa tempat hingga ke dekat Pasar Lama untuk mencari tukan ojek 1 lagi yang mau mengantarkan ke Lembah Bada sambil sesekali mampir ke agen travel yang barangkali menyediakan mobil umum ke sana. Si Mas Ojek ini mau dibayar Rp150.000 untuk menuju Lembah Bada di saat tukang ojek lain tidak ada yang mau ke sana karena katanya jalannya hancur dan jelek sekali penuh lumpur. Saya akhirnya kembali ke hotel untuk melapor perjalanan saya selama 1 jam mencari ojek yang hanya menghasilkan 1 tukang ojek kepada Bu Joko. Ternyata Bu Joko sudah ke luar hotel untuk mungkin sarapan dan jalan-jalan. Saya tidak bisa menghubungi ponsel dia karena dia menggunakan bukan nomor Telkomsel. Berputar-putarlah lagi saya dan Mas Ojek ke sekitar danau (lagi), ke lokasi Festival Danau Poso (lagi), ke sekitar pasar lama (lagi), tetapi tidak juga menemukan keberadaan Bu Joko. Saya menyerah dan memutuskan untuk menunggu Bu Joko di hotel saja.

Pasar Lama Tentena.

Tentena (14)

A vegetable seller in Tentena Old Market.

Tentena (16)

Sesampainya di hotel, saya menemui Mbak Nony untuk bertanya alternatif lain dari kenalan tukang ojek atau travel yang kira-kira bisa mengantar ke Lembah Bada pp hari ini. Tak lama kemudian Bu Joko tiba juga di hotel dan saya sampaikan betapa sulitnya mencari ojek ke Lembah Bada. Kemudian saya mulai menghubungi travel dan tukang ojek yang nomornya diberikan oleh Mbak Nony. Berikut ini beberapa nomor telepon tukang ojek dan travel di Tentena yang saya hubungi pagi itu: Travel Pak Cit di 085341024133, Travel lupa namanya di 081354599568, Pak Akim Ojek di 085342300833, Pak Jonli Ojek di 085341111730. Dua travel yang saya hubungi menyediakan travel mobil umum baik menuju Lembah Bada maupun ke Palu. Dengan perkiraan mobil travel berangkat dari Tentena pukul 12.00 siang maka akan tiba di Lembah Bada menjelang Maghrib dan kami baru akan bisa kembali ke Tentena KEMUNGKINAN pada sore keesokan hari dan itu pun mungkin hanya bisa melihat 1 atau 2 buah batu di situs megalitikum Lembah Bada yang jumlahnya sebelasan tetapi jaraknya sangat berjauhan satu sama lain.Kita bisa menginap di rumah penduduk di sana dan menyewa motor untuk berkeliling dari satu situs ke situs lain. Seperti ini bentuk situs megalitikum di Lembah Bada.

credit image to asrito.blogspot.com

Pak Jonli datang ke hotel dan bilang mau mengantar kami, melengkapi Mas Ojek yang bersedia, tetapi dengan harga yang sangat mahal yaitu Rp700.000 per orang. Saya pikir gilingan saja dengan biaya sebegitu besar saya lebih baik menyewa hardtop untuk menuju ke Lembah Bada. Jalan menuju Lembah Bada konon katanya rusak berat, menanjak, berlumpur, tidak ada penerangan kalau malam, serta tidak bisa dicapai PP dalam satu hari.

credit image to asrito.blogspot.com

After all, we decided to do city tour to some landmarks in Tentena with Pak Jonli and Mas Ojek with cost Rp150.000,00 per person.  Our first stop is Siuri Beach. Dari harus ke luar Kota tentena ke arah barat hingga menemukan pertigaan menuju Lore Lindu. Di pertigaan tersebut, jika belok ke kanan sejauh 72km akan menuju Taman Nasional Lore Lindu dengan lembah Badanya yang benar-benar ingin saya kunjungi, dan jika belok kiri sejauh 5km maka akan kita temukan Pantai Siuri ini dan jika terus lagi maka akan menemukan Taman Anggrek Bancea. Here we come at Siuri Cottage but the tidal wave also hit the cottage. If you want to stay here, you may contact +62 85241058225 or +62 81341167345.

Tentena (19)

Siuri Beach. A sparkling and serene beach in the far side of Lake Poso.
Tentena (20)

Dari Pantai Siuri, kami kembali ke arah pertigaan menuju Lore Lindu dan terus ke arah Air Terjun Saluopa. From the entry gate, we have to walk like 10 minutes in the middle of beautiful tropical forest to get this waterfal. Saluopa Waterfall has 12 level which is from one to another level can be reached by stepping on mossy-but-not-slippery-stone stairway.  You can see a very clear and clean water that came from the mountain. When i was there, a group of high school students were there to celebrate their graduation. It is a must place to visit in Tentena and Central Sulawesi.
Tentena (21)

Terdapat beberapa warung yang menjual makanan dan minuman di dekat parkiran air terjun. Saya yang tiba-tiba masuk angin karena terkena hembusan air yang begitu dingin terbawa angin di air terjun memutuskan untuk kembali saja ke kota dan mencari makanan yang lebih cocok untuk perut saya daripada hanya mie instan goreng atau rebus di sekitar air terjun yang hanya akan membuat saya semakin mual. Sedangkan Bu Joko memilih untuk makan mie instan di situ dan meneruskan perjalanan dengan tukang ojeknya ke Panorama, semacam bukit untuk melihat Danau Poso dari atas, serta ke Goa Latea.

Saya makan di sebuah warung di dekat pasar lama yang ternyata rasanya tidak begitu enak dibanding nasi kuning bungkus yang disajikan hotel tadi pagi dan malah membuat saya semakin mual. Setelah memaksakan diri menelan makan tersebut, saya duduk-duduk di jembatan sambil sesekali mencoba menghubungi tukang ojek Bu Joko karena saya yang ingin menyusulnya tetapi tidak telepon saya tidak diangkat juga sehingga tidak mengetahui lokasi mereka. Setelah itu saya memutuskan untuk mencari Losmen Tropicana yang katanya oke untuk melihat-lihat saja. Berbeda dengan Hotel Victory dan Hotel Pamona Indah, Losmen Tropicana ternyata agak sulit ditemukan bahkan oleh tukang ojek saya, atau mungkin karena dia memang tidak gaul(?), malahan tidak sengaja menemukan penginapan lain yaitu Eu Datu Cottages.
Tentena (15)

This is what i think about 4 hotels in Tentena,¬†Victory Hotel, Tropicana Losmen, Hotel Pamona Indah, and Eu de Cottages, that i’ve seen.

Lets start with Victory Hotel Tentena, located at Jalan Diponegoro No. 18, Tentena 94663. Phone +62 458 21392, +62 85241099876,¬† +62 81355118099. This young beautiful girl named Nony, the owner’s daughter and hotel receptionist. She’s so nice and helpful to visitors. She graduated from a university in Bandung and worked in Papua for a couple of months before going back to Tentena and helped her parents to manage this hotel.

Tentena (17)

It has good and clean rooms with prices start from Rp125.000 to Rp250.000 for low season, and Rp175.000 to Rp275.000 for high season, include breakfast. I met so many local and international guests here.

Tentena (18)

I ate this delicious yellow rice for breakfast and it was so good.

Tentena (11)

Hotel Pamona Indah Permai Tentena on Jalan Komodor Laut Yos Sudarso, Kasintuwu, Tentena, 94611, phone +62 458 21245. Located in the nearest area to Lake Poso. I found the tidal wave hit the street in front of the hotel but it didn’t affect the hotel building. It looks great in a higher price range than Victory Hotel. My friend said that this hotel was his favorite.

Tentena (3)

Ue datu Cottages at Lorong Ue Datu 92-93, Tentena РPoso, Sulawesi Tengah 94663, phone +62 458 21824,  +62 811 344 1597. Located in a not so strategic area on the hill and a bit far from the lake.

Tentena (26)

The prices starts from Rp200.000, Rp300.000, and higher depend on the season.

Tentena (25)

Once the staff told me that there was a staff room that i could rent in a more affordable price than the standard room which only Rp120.000.

Tentena (24)

This hotel has the largest area and more room preference. Log on to their website for further information.

Tentena (23)

Last but not least, Tropicana Losmen Tentena phone +62 458 21224 or +62 85298931719. Its a bit hard to find this hotel due to its location on the hill that far from lake and market but offers a very good scenery from the top.

Tentena (27)

The prices ranges start from Rp120.000 to Rp250.000, include breakfast. If you want to stay in a room with lake view, you need to book the most expensive ones.

Tentena (28)Segera setelah melihat-lihat hotel ini saya kembali ke Victory Hotel untuk menunggu Bu Joko yang masih entah di mana dan mengambil tas yang saya titipkan ke Mbak Nony dari pagi tadi. Suasana di Hotel Victory Tentena ini sangat kekeluargaan, nyaman, dan membantu para pengunjung. Sekitar pukul 16.30 wita Bu Joko tiba di hotel dan kami segera menuju Terminal Tentena untuk menunggu mobil travel kami ke Palu yang katanya akan siap pada pukul 17.00 wita. 17 jam terlalu singkat untuk dilalui di kota kecil yang ternyata tidak seseram yang saya bayangkan. Penduduk dan kehidupan di kota ini sudah seperti kota kecil lain yang damai dan tidak terlihat sisa-sisa kerusuhan yang sudah lebih dari satu dekade berlangsung. Suatu hari nanti saya akan kembali kota ini untuk menuju Lembah Bada di Taman Nasional Lore Lindu yang belum sempat tercapai.

*Rincian pengeluaran dari Ampana hingga menuju Palu:

Rincian  Biaya
Mobil 800.000 (7 orang)      114.286
Makan 265.000 (7 orang)       37.857
Camilan  50.000
Hotel Victory 175.000 (2 orang) 87.500
Ojek 1 20.000
Ojek 2 200.000
Makan 50.000
Travel ke Palu 150.000
Total 709.643

Galau Menuju Ampana

Pagi akhirnya datang juga setelah semalaman saya galau ke mana saya akan pergi setelah di Ampana nanti. Suasana resor pagi itu terlihat ramai karena sebagian besar wisatawan akan pergi, seperti rombongan Manado yang 3 orang, rombongan Toli-Toli 5 orang, Czech Gang 3 orang, kami 3 orang, Gema, serta beberapa pasangan yang akan pindah ke pulau lain. Ada pasangan bule Belanda yang saya rekomendasikan untuk pindah menginap ke Waleakodi agar lebih dekat dengan Dolong dan bisa mendapatkan KM Cengkih Afo ke Bumbulan pada Sabtu sore. Pasangan Belanda ini sebelumnya bertanya tentang jadwal kapal ke Gorontalo atau Bumbulan kepada manajer resor tetapi ditawari untuk menyewa kapal saja agar cepat sampai karena memang pada bulan Mei ini hanya ada KM Cengkih Afo yang beroperasi. Dengan tarif sewa kapal yang bisa mencapai Rp3.000.000, bule-bule backpacker ini tentu lebih memilih untuk sedikit memperpanjang jadwal mereka di Togean daripada harus mengeluarkan uang sebanyak itu, demikian pun jika itu terjadi pada kami, toh mereka masih akan balik via Manado ke Jakarta semingguan lagi. Ada pasangan bule Belanda lain serta pasangan bule Italia yang sempat saya tunjukkan jadwal kapal terbaru yang saya dapatkan beberapa hari sebelum keberangkatan saya ke Togean yang dikirimi oleh Ales dari Walekodi Resort. Saya benar-benar masih merasa utang budi kepada Ales yang sudah saya repoti bertanya ini-itu sejak akhir bulan April tetapi malah ujung-ujungnya pada saat KM Cengkih Afo mulai berlayar saya malah pindah ke resor lain karena bujukan orang. Saya merasa blank saat itu ketika saya yang sudah menyiapkan banyak data tentang Togean bisa terbujuk untuk pindah resor. Mungkin saya lelah.

Togean (56)

Geng TKI yang sudah siap cabut dari resor setelah sarapan. Seperti yang terlihat, Bunda sudah siap cabut duluan dengan mengenakan pakain renang yang lebih paripurna dibanding kemarin saat kami island hopping. Padahal Bunda akan mengunjungi perkampungan Suku Bajo dan danau ubur-ubur lagi , tetapi dengan ditemani orang yang berbeda. #uhuk

Togean (57)

Kami, Czech Gang, dan rombongan Toli-Toli agak was-was dengan pihak resor yang tidak juga menyediakan kapal untuk mengantarkan kami ke Wakai karena menunggu manajer resor yang masih menjemput tamu baru, padahal¬† resor mempunyai banyak kapal lho. Bukannya berprasangka buruk, tetapi manajer resor ini sepertinya agak marah kepada saya yang beberapa kali memberikan informasi kepada bule-bule tentang jadwal kapal, pesawat, travel, serta penginapan-penginapan di Togean. Dengan mengikuti saran saya, para bule bisa menghemat beberapa ratus ribu hingga jutaan rupiah untuk biaya sewa mobil atau pun kapal daripada menyewa kapal resor atau rental mobil dari travel yang bekerja sama dengan resor. Bunda sempat mendengar manajer resor marah-marah karena banyak tamu yang akan pergi pada Kamis pagi dan sempat mengatakan kepada karyawan resor semacam ‚ÄúItu rombongan tante-tante (julukan (((((TANTE))))) merujuk ke saya, red) itu jadi balik Kamis besok? Kenapa tidak Sabtu saja?‚ÄĚ. Saya memang dari awal berencana untuk ke luar Togean pada hari Sabtu agar bisa gegoleran lebih lama di sini, tetapi karena banyak godaan lain serta perilaku manajer hotel yang gengges maka mari kita cabut pada hari Kamis saja.

Untuk menuju Ampana, kami berencana naik KM Kapia Touna yang menurut jadwal akan berangkat dari Wakai menuju Ampana pada pukul 11.00 wita tetapi menurut info yang saya dapatkan akan berangkat pukul 9.30 atau jika penumpang sudah penuh. Akhirnya pada pukul 8.50 wita kami diantarkan oleh pihak resor ke Pelabuhan Wakai dan tanpa didampingi manajer resor. Sekitar pukul 9.15 wita kami pun tiba di Wakai dan melihat KM Kapia Touna sudah penuh sesak penumpang dan sudah siap berangkat dan kami dipersilakan masuk ke kapal tidak melalui dermaga tetapi masuk langsung melalui pintu samping kapal dengan melompat dari kapal resor. Syukurlah kapal mulai bergerak menuju Ampana pada pukul 10.00 wita. Kami harus membayar Rp65.000 per orang untuk rute Wakai-Ampana yang akan ditempuh sekitar 4 jam. Beginilah posisi duduk melantai kami saat itu.

Togean (58)

Bule-bule yang membunuh waktu dengan membaca. Berbeda dengan kebiasaan saya. -,-

Togean (61)

Bu Joko juga sibuk membaca, sambil mendengarkan musik.

Togean (60)

Coba tebak siapa yang harus berjemur di bangku belakang kapal karena tidak mendapat jatah tempat duduk yang ada atapnya.

Togean (67)

Look like an editorial for Vogue Homme International.

Togean (65)

David yang masih harus berjemur.

Togean (62)

Beberapa jam duduk umpel-umpelan membuat saya ingin jalan-jalan di kapal dan ternyata saya mendapati adik bayi lucu ini tidak jauh dari tempat saya duduk. Ibu bayi ini bercerita bahwa ia akan ke Ampana untuk mengambil uang. Sambil menggoda bayi lucu yang sedang makan jeli ini, saya bertanya mengapa Si Mmbak tidak bersama suaminya ke Ampana. Dan tiba-tiba dapatlah curhatan dari si Mbak yang mengatakan bahwa bapak bayi ini baru saja melintas dengan kapal lain ke arah Togean dari Ampana. Si Mbak ternyata sudah berpisah dengan bapak bayi ini saat bayi ini akan lahir karena sang mantan suami tergoda bule Prancis yang mengajak dia untuk bekerja sama membangun resor dan rumah tangga. Banyak pulau di Togean yang memang dikelola oleh pasangan di mana salah satunya adalah bule dan yang satu merupakan penduduk lokal. Mau nggak galau gimana coba kalau habis lihat sang mantan melintas dengan bahagia saat kita masih sendiri dan sedih begini. Tidak lama kemudian datang seorang laki-laki dan bergabung dalam obrolan kami. Lelaki tersebut ternyata adalah kakak Si Mbak. Mas ini juga tahu kalau mantan suami Si Mbak tadi sempat melintas dengan kapal dan pasti adiknya langsung jadi galau makanya dia becandain si adik. Si Mas bercerita kalau dia punya bisnis travel, rental mobil, dan penginapan di dekat Ampana. Dia menawari saya untuk menginap gratis di penginapannya dan megajak jalan-jalan ke Tanjung Api dengan cukup mengganti biaya bahan bakar kapal. Saya sebenarnya sangat ingin ke Tanjung Api dan masuk dalam daftar tujuan saya saat masih membuat itinerary tetapi karena letaknya yang hanya bisa ditempuh dengan kapal sewaan maka saya menghapusnya dari daftar tujuan saya. Kegalauan mau ke mana nanti setelah di Ampana sedikit menghilang saat mendapat tawaran dari Si Mas, di mana kira-kira kami hanya perlu mengganti biaya bahan bakar kapal ke Tanjung Api dan mobil ke Poso sebesar Rp500.000 dibagi dua (saya dan Bu Joko) untuk jalan-jalan bersamanya dan adik serta ponakannya hingga hari Sabtu. Bu Joko ternyata meminta saya untuk memikirkan lagi barangkali akan ada opsi yang lebih hemat dan lebih baik sebelum kami tiba di Ampana.

Michal yang sudah mendapatkan tempat duduk strategis dan bisa tidur pulas.

Togean (63)

Jarak tempuh ke Ampana semakin dekat tetapi saya kami masih belum menentukan tujuan. Saya mendengarkan obrolan Jan dan pasangan bule Prancis yang sedang berencana pergi ke Tentena. Saya jadi teringat kata Ardi, agen travel yang bersama Geng Toli-Toli, yang mengatakan bahwa di dekat Tentena ada Lembah Bada yang merupakan situs bebatuan megalitikum yang sangat unik. Kami tertarik dengan Lembah Bada tersebut, yang baru pertama kali kami dengar dari Ardi. Saya bertanya kepada Czech Gang apakah mereka mau singgah di Tentena dulu sebelum ke Tana Toraja yang masih memerlukan waktu perjalanan belasan jam dari Tentena, dan mereka ternyata setuju. Akhirnya saya, Bu Joko, 3 orang Czech gang, dan pasangan Bule Prancis sepakat untuk menuju Tentena saja dan meminta Ardi mencarikan kami mobil di Pelabuhan Ampana. Ardi mengatakan bahwa kami bisa menggunakan mobil dengan kapasitas 8 orang penumpang, termasuk 1 orang supir, yang telah dia hubungi dengan biaya sewa Rp850.000 yang akan ditempuh kurang lebih dalam waktu 8 jam perjalanan.

Di sepanjang perjalanan dari Wakai ke Ampana akan banyak kita jumpai pulau-pulau koral kecil imut nan cantik seperti ini.

Togean (64)

Sekitar pukul 14.00 kapal mulai mendekati Pelabuhan Ampana dan terlihat banyak agen travel serta penduduk menunggu sejejar arah kedatangan kapal. Pelabuhan Ampana tidak sebesar dan semodern Pelabuhan Gorontalo, tetapi lebih besar dan lebih modern daripada Pelabuhan Wakai. Then i heard someone was yelling “ESTU… ESTU… I’ve been waiting for you and your bule friends” Oh my… I did’nt know that i had a fanatic fan there and did’nt expect this kinda welcome party. Ardi told me that our driver to Tentena was in the car and i had to follow him to find the car so i thought this crazy angry old guy was not our driver. I acted as someone else but that gray haired with bright green coloured jacket guy kept yelling my name “YOU MUST BE ESTU, ESTU… ESTU… YOU MUST BE ESTU… Lina has told me that you are wearing that colorful tshirt and accompanying 3 bules”. Pfffttttt. I could’nt act as someone else then. I put the blame on the one and only LINA, the manager of BM Resort in Togean. How could she gave my name to this crazy guy and made me feel ashamed in the middle of the crowd in a new place for me.

Saya menemui orang tersebut, yang ternyata dalah seorang ibu paruh baya, dan menanyakan apa maksudnya teriak-teriak memanggil nama saya. Dia mengatakan bahwa dirinya dihubungi Lina bahwa akan ada Estu yang memakai kaos warna-warni bersama 3 orang bule yang akan menyewa mobil ke Tana Toraja. Laknat banget ini si LINA pakai adegan sok baik mencarikan kami mobil ke Tana Toraja padahal itu cuma rencana kami pada saat masih galau di Togean. Saya jelaskan kepada Si Ibu itu bahwa itu hanya skenario sekilas yang ditanyakan Czech Gang ke Lina semalam sebelum kami memutuskan benar-benar mau ke mana. Tidak tahu dia kalau kami pada saat di kapal tadi memutuskan akan ke Tentena dulu. Saya benar-benar masih jengkel dengan Si Ibu yang meneriaki “ESTU… ESTU… KAMU PASTI ESTU” tadi dan tidak terima dengan kelakuan Lina. Akhirnya Si Ibu menelepon Lina untuk mendapatkan kepastian tentang calon korbannya ini dan meminta saya untuk berbicara langsung dengan Lina. Dalam obrolan di telepon beberapa detik tersebut, saya marahi Lina yang berani-beraninya berbuat sok baik mencarikan kami mobil dengan mengumpankan kami kepada mamak macan berambut silver ini. Setelah itu, bukannya melepaskan kami, Si Ibu malah tetap memaksa saya harus memakai mobilnya karena sudah dipesan oleh Lina. Dengan sama-sama bernada tinggi, saya menolak permintaan dia untuk memakai jasa sewa mobilnya walau dia bilang dia bisa mengantar kami ke Tentena saja, yang penting pakai mobil yang dia sediakan dan tidak peduli dengan Ardi siapalah itu yang telah kami pesan. LHO!!! Sak enake gundule dhewe ngono. Saya, yang benar-benar menjadi pusat perhatian seluruh penumpang kapal yang baru saja turun karena kelakuan ibu ini, kemudian mencari Ardi untuk bertanya bagaimana ini karena saya dipaksa menggunakan kendaraan yg diobjekkan ibu itu. Ardi mengatakan terserah saya saja kalau membatalkan mobil darinya. Bule-bule juga mnegatakan sudah apa saja lah yang penting sampai Tentena. Akhirnya saya kembali menemui ibu itu dan diminta melapor ke Tourist Information Center yang berwarna biru. Di depan tempat yang ditunjukkan Si Ibu, supir yang dipesan Ardi ternyata menemui saya dan bilang siap mengantar kami dan saya bilang ke dia kalau saya harus menyelesaikan urusan di kantor informasi dulu. Di tempat yang dibilang sebagai pusat informasi ini saya mendapati wanita lain yang sedang duduk bersila menaikkan satu kakinya ke atas kursi sambil merokor dan tidak memperhatikan kehadiran saya. WTH. Bagaimana pariwisata Indonesia mau bagus kalau sumber daya manuasianya tidak sopan dan sak enake udhele gini. Kemudian datanglah Si Ibu beruban yang mulai melepas jaket hijaunya sambil menanyakan kami mau ke mana. Saya bilang kami mau ke Tentena bertujuh, bukan langsung ke Tana Toraja seperti yang dibilang Lina, dan berangkat sekarang juga. Si Ibu dengan mudahnya bilang dia siap menyediakan mobil untuk kami sekarang juga. Saat saya menanyakan biaya sewa mobil ke Tentena, Si Ibu yang duduk di kursi bilang Rp1 juta dan saya bilang enak saja segitu, wong saya bisa mendapatkan mobil dengan harga Rp800.000 dari Ardi (padahal tadi deal-nya Rp850.000), dan ternyata mereka mau dengan tarif Rp800.000 tersebut. Iyalah yang penting tidak kehilangan mangsa kan?? HUH.

Tojo Una-Una (1)Segera saya ke luar kantor dan melihat mobil yang disediakan Si Ibu yang ternyata menggunakan mobil dan supir yang sama dengan yang ditawarkan oleh Ardi. Jadi ceritanya ibu ini mengakuisisi mobil dan supir yang tersedia untuk kepentingannya bisnisnya sesuka hati gitu kali ya. Tetapi saya pikir lumayan lah akhirnya dapat mobil yang lebih murah Rp50.000 dari hasil marah-marah dan tipu-tipuan dengan duo racun berkedok tourist information center ini.

Saya memanggil Bu Joko, Czech Gang, dan pasangan bule Prancis untuk segera masuk ke mobil dan cus ke Tentena. Dan dong, duo racun masih berupaya menjerumuskan agar kami harus makan saja dulu di warung dekat lokasi mereka. Saya kekeuh tidak mau makan di sini dan lebih memilih di warung agak jauh dari pelabuhan walaupun kata mereka bakal terkena penutupan jalan menuju Poso sehingga susah mencari warung yang buka. Akhirnya berangkatlah kami menuju tentena dengan disupiri Pak Mito yang juga jadi korban keganasan duo racun. Maaf ya Pak karena duo racun akhirnya pemasukan Bapak pasti berkurang karena seharusnya kami langsung membayar Bapak Rp850.000 tetapi jadinya hanya Rp800.000 dan itu pun melalui duo racun.

Ini dia Si Ibu “ESTU… KAMU PASTI ESTU”.

Tojo Una-Una (2)

Rincian pengeluaran dari Gorontalo, selama di Togean, hingga sampai di Ampana.

11 Mei 2015
Kapal Cengkih Afo ke Wakai @89.000      267.000
12 Mei 2015
Penginapan 2x3x200.000    1.200.000
Kelapa          30.000
Lobster      200.000
Alat snorkeling      180.000
13 Mei 2015
Kapal      850.000
Air 6×15.000 ¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† 90.000
Alat snorkeling      150.000
Share cost dari bule    (500.000)
Total    2.467.000
Per orang      822.333
14 Mei 2015
Kapal Kapia Touna ke Ampana          65.000
 Total pengeluaran 887.333

Jadwal Penyeberangan Feri Gorontalo-Wakai-Ampana Mei 2015

image

Ini jadwal penyeberangan menuju Togean dari Ampana, Togean dari Gorontalo, juga Togean dari Bumbulan untuk bulan Mei 2015 selama Kapal Tuna Tomini masuk dok.

Ayo segera susun jadwalmu ke Togean bulan Mei ini.

Jadwal kapal di atas aku dapat dari Ales, Waleakodi Sifa Cottage. We’re about to have a Cengkih Afo ferry ride from Gorontalo to Wakai in less than 3 hours. Tonight is gonna be the first time Cengkih Afo Ferry operates to substitute Tuna Tomini Ferry.

We’re ready to sail Tomini Gulf for 12 hours. Wish us luck. Xoxo