Long Hot Summer

Banda Neira

Cover story: Wave to The Untouched Paradise
Photographer: E.A. Paminto
Stylist: E.A. Paminto
Models: E.A. Bunda Hunny Kloss, Ieda Kroess, Frisberbie Small, Agnova Ewers, Echa Delevingne
Make-Up: Natural
Hair: Natural
Location: Banda Neira
Dress: Models private collection

2016_0505_12015500-01

Social Climber: Hotpants is far too chic to visit chicken coop.

Banda Neira

Somewhere along the jungle in Chanel pantone-halterneck scarf top.

Banda Neira

Back for good in asymmetrical Marni bikini.

Banda Neira

Natural allure in Prada bikini and Bali beach sarong.

Banda Neira

Hammocking

Pulau Hatta Banda Neira

or sunbathing?

Banda Neira

Casual chic. This beauty deserves to be known by the world.

Banda Neira

Off shoulder scarf top
Banda Neira
Luxe life: Lets have some fun in Hermes
Banda Neira

Shadow play.
Banda Neira

Taking health and beauty inspiration from mother nature.

Banda Neira

 

Pulau Osi: Luxury of the Simple Life

Langit biru Pulau Seram pada siang itu, Sabtu 30 April 2016, menyambut saya, Bunda Hani, dan Farida menuju Pulau Osi. Pulau Osi baru saya tahu namanya beberapa hari sebelum keberangkatan trip yang utamanya akan menuju Banda Neira ini. Sama halnya dengan trip ini yang hanya saya susun beberapa hari yang lalu pada hari Sabtu tanggal 23 April 2016. Terima kasih Bebeb Dona yang memberitahu tentang Pulau Osi yang ia kunjungi tahun 2015 dengan menumpang rombongan keluarga dari Ambon PP Osi-Seram dalam satu hari sesaat sebelum ke Raja Ampat.

2016_0430_10353100-01

Dengan menggunakan maskapai burung merah, kami dari Jakarta pada pukul 01.30 WIB dan tiba di Ambon pada pukul 07.00 WIT. Sebenarnya masih cukup waktu misalkan kami terus menuju pelabuhan Tulehu dan langsung ikut kapal cepat ke Banda Neira, tetapi sengaja saya memutuskan untuk melewati Tulehu menuju Pelabuhan Liang untuk kemudian menyeberang ke Pulau Seram.  Kami menggunakan mobil sewaan yang banyak tersedia di bandara. Supir kami waktu itu Pak Miki 082199697722 memberikan harga Rp250.000 dari Bandara Internasional Pattimura Ambon ke Pelabuhan Liang. Pagi itu sedang ada lomba baris berbaris di sekitar Tulehu.

Pulau Osi, Seram

Deru suara kapal akan berangkat ke Waipirit terdengar di Pelabuhan Hunimua, Liang saat kami baru sampai di parkiran pelabuhan. kami segera berlari menuju loket, membayar tiket Rp16.500 per orang dan memasuki kapal. Dan benar sekali pintu palka ditutup setelah kami memasuki kapal.
Pulau Osi, SeramKapal pagi itu cukup ramai karena banyak warga Seram yang bekerja atau sekolah di Ambon akan mudik ke Seram. Kita akan banyak menjumpai penjual keripik singkong pedas ala keripik sanjai dari Sumatera Barat dijajakan di kapal. Keripiknya enak, apalagi saat lapar belum sarapan seperti saat itu.
Pulau Osi, Seram

Saat di kapal, saya duduk di samping seorang pekerja di Ambon dari Seram. Pria berusia 20 tahunan tersebut kemudian banyak bercerita, dengan sedikit banyak pertanyaan dari saya tentunya, tentang ada apa saja di Seram dan bagaimana kami menuju tempat wisata tersebut dalam penyeberangan selama sekitar 1,5 jam tersebut. Untuk menuju Pulau Osi, dari Pelabuhan Waipirit di Seram Bagian Barat kita bisa menggunakan angkutan umum ataupun mobil sewaan yang banyak mangkal di terminal depan pelabuhan. Jika menggunakan angkutan umum, biayanya sekitar Rp50.000 hingga Piru lalu harus naik ojek Rp40.000 menuju Pulau Osi. Saat itu setelah tawar menawar, kami memutuskan untuk menyewa mobil Pak Sammy 082239250990 menuju Pulau Osi dengan biaya Rp300.000.
Pulau Osi, Seram

Dengan menyewa mobil yang harganya juga tidak terlalu jauh dari naik angkutan umum ditambah naik ojek, maka kita bisa minta berhenti di spot-spot kece selama di perjalanan yang akan ditempuh sekitar 2 jam. Contohnya di Gapura “Selamat Datang di Kota Piru” ini. Gapura megah di tengah jalan berliku perbukitan tanpa perumahan dengan latar langit super kece dan pemandangan laut ini membuat saya takjub. Suka.
2016_0430_09584800-01

Melanjutkan perjalanan dengan jalan yang semakin naik turun dan berliku tetapi semulus paha Gigi Hadid kami singgah sebentar di belantara pepohonan kayu putih.
Piru

Those cotton candy clouds look so gooood.
Pulau Osi, Seram

Dan akhirnya kami tiba di pintu gerbang Pulau Osi.
Pulau Osi, Seram

Pulau Osi merupakan kumpulan beberapa pulau seperti Pulau tatobalabunte, Pulau tatobalasungke, Pulau Tatobosurati, Pulau Tatobobensin, Pulau Osi,  dan beberapa pulau karang kecil . Dari pintu gerbang Pulau Osi, kita bisa menggunakan ojek dengan biaya Rp15.000,00 atau berjalan kaki.
Pulau Osi, Seram

Jembatan papan seperti ini yang menghubungkan di antara hutan bakau sepanjang kurang lebih 1,5 km ini yang mengubungkan pulau-pulau di sini.
2016_0502_10424000-01

Terdapat dua penginapan di Pulau Osi yang berupa resor di atas laut yang bisa kita pilih, di samping ada beberapa rumah penduduk juga yang biasa digunakan sebagai homestay.

Pulau Osi, Seram

Penginapan pertama yang saya survei sembari gadis-gadis menunggu di bawah rindang pohon dekat pangkalan ojek bernama My Moon Daud Resort (MD Resort) yang dikelola oleh Ibu Mila di nomor telepon 082198868000 / 081343259972 / 082197969172 dengan harga antara Rp350.000–Rp500.000 per malam per bungalo. Penginapan kedua yaitu Indigo Resort and Restaurant.

Pulau Osi, Seram

Saya memilih menginap di MD Resort yang memiliki fasilitas lebih bagus dan restorannya lebih ramai dibanding Indigo. Kami menginap 1 kamar seharga Rp400.000 per malam dengan kasur tambahan untuk saya dengan biaya Rp100.000 per malam.

Pulau Osi, Seram

Pemandangan balkon belakang kamar yang cihuiii abis. Buat gegoleran, merendam kaki, sempat senam, melihat bintang, atau mau berenang juga bisa.

Pulau Osi, Seram

Setelah puas beristirahat, kami berjalan-jalan di sekitar resor menjelang senja.

2016_0501_16174200-01

Matahari terbenam di sini benar-benar indah. Sunset Purefection.

Pulau Osi, Seram

Jarang sekali wisatawan yang menginap di sini, bahkan malam itu hanya ada kami bertiga serta sepasang kekasih di bungalo sebelah. Resor Indigo yang tidak begitu jauh juga terlihat sepi tanpa ada lampu menyala di bungalo-bungalonya hanya sura musik dangdut. Menu makan kami di restoran MD Resort, ikan bubara yang baru ditangkap di kolam di bawah restoran serta sambal segar ini benar-benar nikmat. harga ikan bubara bakar Rp50.000/ekor, nasi Rp5.000/porsi,  dan teh Rp25.000/teko.
Pulau Osi, Seram

Hari kedua kami di Pulau Osi sengaja bangun agak siang dan baru sarapan pukul 8.00 lebih sebelum berkeliling ke pulau-pulau di sekitar. Benar-benar menikmati kehidupan yang selow dan sepoi-sepoi manjah tanpa kebisingan.

Pulau Osi, Seram

Bunda Hani mencoba es campur ala Pulau Osi yang dijual di dekat lapangan SD Negeri Pulau Osi. Berbaur dengan penduduk lokal seperti ini sangat mengasyikan. Dan markombur setiap kali traveling menjadi ajang mengenal kearifan lokal tempat yang saya datangi.

Pulau Osi, Seram

Menyusuri kampung dengan langir biru dan matahari semakin memanas. Pulau utama yang terletak di ujung jembatan papan yang selalu ramai setiap jam makan siang karena biasanya warga ke Pulau Osi hanya untuk makan ikan dan berwisata yang bukan untuk menginap. Untuk wisata bawah laut, biasanya pengunjung akan menyeberang ke Pulau Marsegu yang terkenal kaya akan biota laut dan tidak jauh dari Pulau osi. Kami sempat nongkrong di salah satu warung di ujung Pulau Osi dengan menikmati semangka dan kelapa muda yang bikin segeer.

Pulau Osi, Seram

Setelah sesi pemotretan keliling pulau di siang yang terik dengan hasil di sini, kami boboci dengan angin semilir yang menghembus masuk ke kamar. Bangun-bangun dalam keadaan lapar sekitar pukul 15.00 dan menuju restauran untuk makan. Kami ditawari menu super bernama Sarimento ini. Mie instan diberi potongan cabai dan tomat segar lalu dicampurkan telur dan diaduk-aduk dan setelahnya ditambahkan telor rebus dan jeruk nipis serta bawang goreng dengan harga Rp20.000/porsi. Enak banget deh.

2016_0501_13450300-01

Menikmati senja di hari kedua karena besok siang harus kembali ke Ambon.
Pulau Osi

Laut dan jembatan papan di sini akan cukup ramai jika senja karena warga yang bekerja akan kembali pulang. Setelah itu kami makan malam ikan bakar lagi seperti malam sebelumnya.
Pulau Osi

Hari terakhir di Pulau Osi sebelum kembali ke Ambon. Bangun agak siang lagi dan langsung menenggak sebotol air putih biar tetap waras dan sehat. Setiap kali traveling, saya selalu membawa botol ini untuk menyimpan air putih. Bunda Hani juga demikian. Kami biasanya membeli air mineral ukuran 1,5 liter kemudian menuangkan dalam botol dan sisanya kami minum dan botol kami buang kalau habis. Setidaknya tidak semakin banyak botol plastik yang kami buang dengan membeli air mineral ukuran kecil atau sedang. Lebih hemat pula kalau makan sudah bawa minum jadi tidak perlu memesan minuman.

Pulau Osi, SeramSetelah sarapan, saya berkeliling di sekitar resor saja dan mengobrol dengan pengelola. Resor ini dimiliki oleh orang asli Pulau Osi yang sudah sukses berkarir di Jakarta sehingga ikut membangun kampung halaman dengan mendirikan resor yang cukup banyak menampung tenaga kerja. Adik imut berbaju jingga ini adalah ponakan pengelola resor yang sedang pulang kampung dari Ambon ke Pulau Osi bersama bapakya.
Pulau Osi, Seram

Saya memutuskan untuk pergi dari resor duluan dan meninggalkan Bunda dan Ida yang masih gegoleran di kamar karena akan foto-foto di sekitar dan mungkin akan jalan kaki menuju gerbang masuk Pulau Osi sembari menunggu Pak Sammy, supir mobil dari Waipirit yang sudah kami minta untuk menjemput kami pada siang nanti. Saya punya ratusan foto jembatan ini dari berbagai sudut. Rasanya ini merupakan tempat paling khas dan heits di Pulau Osi.
Pulau Osi, SeramIndigo Resort dan MD resort di kejauhan.
2016_0502_09560500-01

Beginilah kalau basi banget kapan jalan kapan nulisnya jadi lupa nama-nama tokoh yang saya temui saat perjalanan hampir setahun yang lalu karena catatannya enath di mana. Termasuk sosok Bapak Tua yang penuh pengabdian dan keikhlasan untuk memperbaiki jembatan papan yang lubang, rusak, atau patah ini dengan imbalan hanya Tuhan yang tahu.
2016_0502_11011600-01

Dalam cuaca yang sangat panas tengah hari dan membawa tas punggung yang cukup berat saya berhasil menempuh perjalanan menyusuri jembatan papan hingga sampai gerbang Pulau Osi untuk menunggu Pak Sammy. Sekitar pukul 13.30 Bunda Hani dan Ida sampai juga di gerbang Pulau Osi dan Pak Sammy kemudian juga tiba dengan mobilnya yang katanya sempat mengalami bocor ban. Kami singgah di Kota Piru sejenak untuk makan siang di sebuah RM Padang dengan harga Rp20.000/porsi . Makanan mendunia di seluruh penjuru nusantara. wkwkkwwk
Pulau Osi, Seram

Sekitar pukul 15.15 kami tiba di Pelabuhan Waipirit. Setelah membayar mobil Rp300.00 kami langsung menuju KMP Terubuk yang tak lama lagi akan berangkat.
Pulau Osi, Seram

Laut di sekitar Pelabuhan Waipirit, Seram Bagian Barat.
Pulau Osi, Seram

Dan 1,5 jam kemudian kami akhirnya berlabuh lagi di Liang kermudian meneruskan perjalanan ke Kota Ambon dengan menggunakan bus 3/4 dengan biaya Rp18.000/orang.
Pulau Osi, Seram

Saat melewati Pelabuhan Tulehu, saya sebenarnya ingin menginap di sekitar situ saja karena esok pagi-pagi juga harus kembali ke Tulehu untuk menuju Banda Neira tetapi sepertinya jarang peninapan dan daerahnya juga jarang terdapat tempat makan. Hampir pukul 19.00 kami tiba di sekitar Pasar Batumerah lalu melanjutkan perjalanan menuju penginapan di sekitar Tugu Perdamaian sesuai saran Bebeb Dona dengan menggunakan becak. Yah, banyak sekali penginapan murah meriah di sepanjang Jalan Sam Ratulangi. Kami memilih Penginapan Rejeki. Lumayan lah dekat ke tempat ngopi-ngopi dan banyak tempat makan  di sekitar sini. Mari istirahat untuk menuju Banda Neira esok pagi. xoxo