Vogue Italia December 2015: Muse 2016

Cruise 2016 Seger Beach Lombok

Vogue Italia December 2015 second cover: Muse 2016
Model: Paminto, A native Lombok young boy, Dina, Widya, Anam, Avex
Fotografer: Paminto Meisel, Anam McDean
Makeup Artist: Estu McGrath
Hair: Guido Paminto
Set: Estu
Stylist: Franca Soestu
Cover story: Reunited Under Blue Sky

Cruise 2016 Seger Beach Lombok

Pashmina by Umama.

Cruise 2016 Seger Beach Lombok

Vision of us and memories.

Cruise 2016 Seger Beach Lombok

Ulos for every moment. Friendship forever.

Cruise 2016 Seger Beach Lombok

The dark side of clear blue sky.

Cruise 2016 Seger Beach LombokFestive costume for native Lombok beauty.

Cruise 2016 Seger Beach LombokCruise 2016 Seger Beach Lombok

Blue on blue on blue on blue.

Cruise 2016 Seger Beach Lombok

Two straws for you and your besties.

Cruise 2016 Seger Beach LombokLive your life.

Cruise 2016 Seger Beach Lombok

A Sing Sing So

A Sing Sing So merupakan lagu rakyat dari Sumatera Utara yang diciptakan oleh S. Dis Sitompul dan dipopulerkan oleh Gordon Tobing. Berikut lirik dan arti lagu A Sing Sing So.

A sing sing so

Ue… (Ya…)
Lugahon au da parau (Lajulah perahu, bawalah aku)
Ullushon au da alogo (Tiupkanlah aku angin jauh)
Tu huta ni da tulang i (Ke kampung pamanku)

Ue… (Ya…)
Lugahon au da parau (Lajulah perahu, bawalah aku)
Ullushon au da alogo (Tiupkanlah aku angin)
Manang tu dia pe taho (Entah ayo ke mana pun)

Sotung manimbil roham da hasian (Janganlah berpaling perhatianmu, sayang)
Paima so ro sirongkap ni tondim (Menunggu datangnya jodohmu)
Tiur ma tongtong langkani baoadi (Terang dan selamat langkahku)

Tarsongon… (Seperti…)
Parbissar ni mata niari da (Terbitnya cahaya matahari)

Nasonang Do Hita Na Dua – Victor Hutabarat

Lirik lagu ciptaan Nahum Situmorang ini sangat dalam apalagi dengan suara Victor Hutabarat yang sangat menyayat. Jangan didengarkan kalau sedang tidak ada pasangan atau teringat tentang mantan, bisa nangis-nangis deh. Berikut lirik dan arti lagu Nasonang Do Hita Na Dua.

Nasonang di hita na dua (Senangnya kita berdua)
Saleleng au rap dohot ho (Selama aku bersamamu)

Nang ro dinasari mattua (Bahkan sampai tua)
Sai tong ingoton hu do ho (Akan selalu aku mengingatmu)

Hupeop sude denggan ni basam (Semua kebaikanmu kusimpan dalam hati)
Hu boto tu au do raham (Aku tahu hatimu untukku)

Nang ro dinasari mattua (Bahkan sampai tua)
Sai tong ingoton hu do ho (Akan selalu aku mengingatmu)

Nasonang di hita na dua (Senangnya kita berdua)
Saleleng au rap dohot ho (Selama aku bersamamu)

Nang ro dinasari mattua (Bahkan sampai tua)
Sai tong ingoton hu do ho (Akan selalu aku mengingatmu)

Hupeop sude denggan ni basam (Semua kebaikanmu kusimpan dalam hati)
Hu boto tu au do raham (Aku tahu hatimu untukku)

Nang ro dinasari mattua (Bahkan sampai tua)
Sai tong ingoton hu do ho (Akan selalu aku mengingatmu)

Sai tong ingoton hu do ho (Akan selalu aku mengingatmu)

Rani Simbolon – Lungun Ni Rohakki

Akhir-akhir ini saya semakin sering mendengarkan lagu-lagu Rani Simbolon terutama yang oplosan-oplosan biar semangat dan gak ngantuk saat di KRL pulang kantor. Walaupun banyak lagu yang oplosan, tetapi banyak lagu Kak Rani yang slow dan menyayat, seperti lagu yang berjudul Lungun Ni Rohakki ciptaan Jonar Situmorang ini. Jleb-jleb-jleb banget deh. Berikut lirik dan arti lagu Lungun Ni Rohakki.

Di tonga ni borngin i (Di tengah malam itu)
Di rondang ni bulan i (Di dalam terangnya bulan)
Hundul ahu martutukhian hasian (Aku duduk berangan-angan, sayang)
Sai hutatap bulan i ito (Kutatap bulan di malam hari itu, sayang)

Dungkon lao maho ito (Saat engkau pergi, sayang)
Borhat tu nadao (Pergi ke tempat jauh)
Sai hohom lungun-lungunan ahu ito (Tinggallah aku sendiri, sayang)
Holan paingot-ingot ho hasian (Cuma mengingat-ingatmu, sayang)

Ahut boi ma nian (Kalau bisa seumpamanya)
Tardungdung ahu bulan na diginjang i (Terjangkau olehku bulan yang di atas itu, sayang)
Suruonhu do ito (Aku akan mengambilnya, sayang)
Lao mandapothon ho diborngin i (Untuk mendapatkanmu)

Asa diboto ho lungun ni rohakki (Biar kau tahu kangennya diriku kepadamu)
Tung so tartaon ahu (Tidak bisa kutahan lagi)
Nang sihol ni rohakki (Aku kangen kamu)
Molo dao ho lao sian lambungki (Jika kau jauh di hatiku ini)

Dungkon lao maho ito (Saat engkau pergi, sayang)
Borhat tu nadao (Pergi ke tempat jauh)
Sai hohom lungun-lungunan ahu ito (Tinggallah aku sendiri, sayang)
Holan paingot-ingot ho hasian (Cuma mengingat-ingatmu, sayang)

Ahut boi ma nian (Kalau bisa seumpamanya)
Tardungdung ahu bulan na diginjang i (Terjangkau olehku bulan yang di atas itu, sayang)
Suruonhu do ito (Aku akan mengambilnya, sayang)
Lao mandapothon ho diborngin i (Untuk mendapatkanmu)

Asa diboto ho lungun ni rohakki (Biar kau tahu kangennya diriku kepadamu)
Tung so tartaon ahu (Tidak bisa kutahan lagi)
Nang sihol ni rohakki (Aku kangen kamu)
Molo dao ho lao sian lambungki (Jika kau jauh di hatiku ini)

Asa diboto ho lungun ni rohakki (Biar kau tahu kangennya diriku kepadamu)
Tung so tartaon ahu (Tidak bisa kutahan lagi)
Nang sihol ni rohakki (Aku kangen kamu)
Molo dao ho lao sian lambungki (Jika kau jauh di hatiku ini)

Pesona Museum Huta Bolon Simanindo

Untuk kali kedua saya berkunjung ke Museum Huta Bolon Simanindo setelah kunjungan 2,5 tahun lalu ada beberapa hal yang berubah dari museum ini. Sebut saja rumah yang digunakan untuk memamerkan kapal yang sekarang sudah roboh dan menimpa kapal, padahal kapal dan rumahnya bagus banget.

Huta adalah kampung tradisional orang Batak yang dikelilingi oleh benteng dan tanaman bambu untuk menghalangi musuh masuk ke dalam kampung tersebut. Huta hanya mempunyai satu pintu. Rumah di dalam huta berbaris di samping kiri dan kanan rumah raja. Rumah raja disebut Rumah Bolon di mana di hadapan rumah tersebut didirikan lumbung padi yang disebut Sopo. Halaman tengah di antara Rumah Bolon dan sopo dahulu dipergunakan sebagai tempat Mangalahat Horbo (acara adat memotong kerbau dan memukul gondang). Di tengah halaman didirikan sebuah Tonggak yang dihiasi dengan daun-daun yang melambangkan pohon suci (pohon beringin). Tonggak tersebut bernama Borotan. Kerbau yang digiring akan disembelih di Borotan tersebut.

Harga tiket untuk menonton pertunjukan di Museum Huta Bolon Simanindo masih sama seperti dulu yaitu Rp50.000/orang. Saya dan Nadia tiba di museum masih pukul 10.00 wib sehingga kami masih ada waktu sekitar 30 menit hingga pertunjukan dimulai. Para penari bahkan belum berganti pakaian dan dandan saat kami datang. Sekitar pukul 10.20 wib saat beberapa penari masuk ke dalam rumah adat yang mereka gunakan untuk mempersiapkan diri, saya tergoda untuk ikut nimbrung di rumah tersebut. Beberapa wajah penari di sini masih saya ingat. Wajah lugu nan bersahaja yang setia melestarikan kebudayaan Batak sembari mengais rezeki untuk keluarga. Bapak sesepuh yang sedang memakai ulos sedangkan beberapa inang sudah hampir siap tampil.

Manortor

Abang-abang yang tidak perlu fitnes di gym tapi perutnya bisa rata. Si Abang yang belum memakai atasan ulos ini sempat berganti bawahan ulos hingga 3 kali hingga kami tertawai bersama. Eitsss di dalam bawahan ulos mereka masih memakai celana jeans butut lho, jangan bayangin yang tidak-tidak, tapi ya gitu perutnya bisa bikin jantung yang lihat berdesir kencang.

Manortor

Inang yang sudah hampir siap tampil sedang bercermin untuk terakhir kalinya. 10 orang penari di ruangan ini telah siap untuk tampil dan para pemain musik yang berjumlah sekitar 6 orang juga sudah siap di rumah sebelah.

Ulos (9)

Pada saat saya menuju tempat untuk menonton di mana Nadia sudah menunggu, ada beberapa rombongan turis asing yang didampingi pemandu lokal sedang memasuki lokasi pertunjukan. Syukurlah ada sekitar 30an penonton siang itu, bukan hanya kami berdua seperti tadi. Dan pertunjukan pun dimulai. Berikut rangkaian pesta adat Mangalahat Horbo.

1. The ceremony dance/Gondang Lae-Lae. Merupakan doa kepada Dewata agar kerbau yang akan diikatkan tidak bertingkah yang jelek sewaktu digiring ke Borotan. Orang Batak zaman dahulu percaya bahwa setiap tingkah laku kerbau merupakan alamat sesuatu yang baik atau buruk terhadap yang berpesta.

Manortor

2. Prior Dance/Gondang Mula-Mula. Yaitu doa kepada pencipta bumi, langit, dan segala isinya agar Dia menganugerahkan putra dan putri, membawa kekayaan, menjauhkan bala dan menyembuhkan segala penyakit kepada yang mengadakan pesta.
3. Dance Addressed to God/Gondang Mula Jadi. Tari untuk mengatakan bahwa doa telah dikabulkan oleh Tuhan.
4. Group encircling dance/Gondang  Shata Mangaliat. Orang yang berpesta menari dengan mengelilingi tonggak atau Borotan penyembelihan kerbau, di mana diikatkan seekor kerbau pada pesta adat. Kerbau tersebut disembelih dan dagingnya dibagi-bagikan kepada yang berpesta dan kepada mereka yang berhak menerima sesuai dengan adat yang ditentukan.
5. Mutually cheering dance/Gondang Maralolop-olopan. Yakni orang yang berpesta saling memberi selamat sesamanya.

Simanindo
6.Youngsters dance/Gondang Siboru. Merupakan tarian untuk para pemuda sambil menari datanglah putri yang masing-masing dengan pengharapan agar datang untuk melamarnya.

7. Cleansing dance/Gondang Sidoli adalah tarian untuk pemudi di mana sambil menari datanglah seorang pemuda yang mendekati seorang putri yang dicintainya dan yang didambakan menjadi istrinya dan sebagai pertanda ia mencintai putri, dia akan memberi sejumlah uang.

Manortor

8. Dance of True Quality/Gondang Pangurason. yaitu datangnya roh nenek moyang dalam pesta dan menyusup pada salah seorang putri untuk memberkati mereka.

Manortor

9. Cooperative dance/Tari bersama di mana semua tamu diajak menari bersama dengan tuan rumah yang mengadakan pesta tersebut.

Manortor
10. Tor tor Tunggal Panuluan. Tari ini diperankan oleh seorang dukun untuk berkomunikasi dengan Dewata Natolu untuk meminta sesuatu seperti hujan, keturunan, atau kesuksesan dalam kehidupan.

Si abang akan menongkat telur yang ada di tanah. Tapi sayang saat itu tidak kena, atau sengaja tidak dikenakan.

Simanindo

11. Puppet dance/Gondang Sigale-gale. Yaitu tarian boneka sigale-gale yang terbuat dari kayu mirip manusia. Dikisahkan pada zaman dulu kala ada seorang raja yang mempunyai anak tunggal. Anak tersebut jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Raja sangat sedih menerima musibah tersebut sebab anak yang diharapkan untuk meneruskan cita-cita/kerajaannya sudah tiada. Untuk meringakan penderitaan raja sekaligus mengenang anaknya, raja tersebut memerintahkan rakyatnya untuk mengukir sebuah patung yang sangat mirip dengan anakanya sehingga di kala raja ingin melihat anaknya maka raja akan mengundang rakyatnya untuk membuat pesta Sigale-gale. Begitupun saudara perempuan Sigale-gale akan menari bersama Sigale-gale untuk melepaskan kerinduannya.

Simanindo

Akhirnya pertunjukan sesi pertama hari itu selesai sekitar pukul 11.15 wib dan para penari pun berganti pakaian sembari menunggu pertunjukan sesi kedua pada pukul 11.45 wib. Ini punggung Si Abang tokoh utama dalam pertunjukan sedangkan 4 orang yang di sana sedang menghitung uang pemberian penonton secara sukarela yang dilakukan menjelang berakhirnya pertunjukan. Ada turis yang saya lihat hanya memberi uang receh tetapi juga ada yang dengan senang hati memberi hingga Rp50.000. Semua diterima dengan senang hati oleh para pelestari adat batak ini dan saya pun turut senang melihat ekspresi mereka setelah menghitung uang tersebut. Siang itu mereka berhasil mengumpulkan uang sekitar Rp280.000.

Manortor

Saat semua penari telah selesai melepas ulos meninggalkan rumah, saya kembali menemui Nadia dan kami melakukan pemotretan dengan menggunakan ulos sebagai hijab ini.

Manortor

Tak lupa pemotretan menggunakan Novel Supernova-Gelombang karya Dewi Dee Lestari Simangunsong yang sudah saya bawa dari Jakarta ke Medan, Aceh Singkil, Sidikalang, hingga sampai di Samosir sini.

Supernova-GelombangSaya tidak akan bosan mengunjungi museum yang penuh pesona ini. Semua sudut museum ini sangat indah, begitupun pertunjukan tarian Batak dan belakang layar Mangalahat Horbo-nya sangat menarik. CETARTARTAR!!!

Vogue Italia November 2015

Vogue Italia November 2015: Perfect Stranger
Model: Jealeou, Utse Arganaraz
Fotografer: Paminto Meisel
Makeup Artist: Estu McGrath
Hair: Guido Paminto
Set: Estu
Lighting: Obeit
Stylist: Franca Soestu and Obeitha Simons

Ulos (1)

Cover story: Go glam in Ulos.

Jealeou memakai tutup kepala yang terbuat dari Ulos Sadum. Gaun terbuat dari Ulos Sadum dan Ulos Angkola.

Ulos (2)

Jealeou memakai Ulos Bintang Maratur. Menurut Wikipedia, ulos ini merupakan Ulos yang paling banyak kegunaannya di dalam acara-acara adat Batak Toba, seperti untuk anak yang memasuki rumah baru dan secara khusus di daerah Toba Ulos ini diberikan waktu acara selamatan Hamil 7 Bulan yang diberikan oleh pihak hulahula kepada anaknya. Ulos ini juga di berikan kepada Pahompu (cucu) yang baru lahir sebagai Parompa (gendongan) yang memiliki arti dan makna agar anak yang baru lahir itu di iringi kelahiran anak yang selanjutnya, kemudian ulos ini juga diberikan untuk pahompu (cucu) yang baru mendapat babtisan di gereja dan juga bisa dipakai sebagai selendang.

Ulos (3)

Tutup kepala memakai Ulos Sadum, Ulos Angkola dimensi sebagai selendang, dan bawahan memakai Ulos Pucca Purada emas.

Ulos (4)

Kombinasi lain dari Ulos Angkola dimensi dan Ulos Pucca Purada emas.
Ulos (5)

Estu manortor di pertunjukan Sigale-gale di Tomok.

Ulos (6)

Shopping spree at Thursday Market at Margarita, Simanindo near to Stone Chair of King Siallagan, Ambarita where you can find ulos in lower price.
Ulos (7)

While waiting for Batak dance at Batak Museum Simanindo.

Ulos (8)

Batak dancer at at Batak Museum Simanindo.
Ulos (9)

Hijaber in ulos.

Ulos (10)

Can’t get enough of ulos.
Ulos (11)

Selai Srikaya: Ganda vs Sedap

For those who have ever visited Pematang Siantar in North Sumatera, they must know this heavenly taste coconut egg jam. Selai srikaya or selai sarikaya or kaya, literally meaning “rich jam” in Indonesian or Malay, can refer to a sweet creamy coconut spread made from coconut milk (also known as santan), duck or chicken eggs which are flavored by pandan leaf and sweetened with sugar. It has rich (srikaya or kaya in Indonesian or Malay) texture so it is called selai srikaya.
image
(left: a new jar of Selai Ganda, right: Selai Sedap)

There are two infamous selai srikaya store in Siantar, Toko Roti “Ganda” and Kedai Kopi “Sedap”. Toko Roti “Ganda” is a bakery located in Sutomo street number 89, Pematang Siantar while Kedai Kopi “Sedap” is a coffe shop located in Sutomo street number 97, Pematang Siantar, phone +62 622-24380.
image

Selai srikaya goes well with white bread, whole bread, cake, crackers, baguette, banana, or anything you like, plus a cup of hot tea or coffe. This yummy food reminds me of Nutella, but im still a #teamselaisrikaya
image

Which one is more famous? Ganda for sure.
image

What about the price? The price you should pay for a 250-gram-jar of Selai Sedap is about Rp50.000, while for Ganda is a half of what you should pay for Sedap.
image

I cant describe how good their taste. Its creamy, sweet, smell so good, delicious, maknyos, jos gandos, top markotop, yes taste like heaven.
image
(Dont you wanna take a bath with Selai Ganda this many)

Which one do i like more? I have compared both taste yesterday, but still its hard for me to choose. Oughhhh.. ok… I think i prefer Sedap.
image

Last christmas, my friend brought me 3 jars of Selai Sedap and i kept them in refrigerator. I and my colleague had eaten 2 jars in 2 weeks and i kept the last jar for myself only until 3 months, and it still tastes good. I have popularized selai srikaya in my office since 2013 so they are familiar with this foodgasm-made-food now. (*.*)/

image

Mencari Batak Bagian III

Pagi itu hari kelima saya berkelana di Tanah Batak, sesuai rencana maka saya yang sudah checkout berangkat menemui The Ladies yang menginap di Carolina.

CarolinaSambil menunggu The Ladies yang masih belum siap, maka saya foto-foto dulu di Carolina.

carolina (2)

Sekitar pukul 9.30 kami berangkat menuju Ajibata dengan kapal yang tadi berlabuh sejenak untuk menjemput penumpang di Carolina. Penumpangnya kebanyakan bule-bule.

toba

Sekitar pukul 10.00 kami tiba di Ajibata dan langsung mencari supir mobil yang telah kami hubungi untuk kami sewa ke Kisaran. Kami lewat Porsea untuk menuju Kisaran dengan bermodal pengetahuan supir yang katanya kurang tahu Kisaran dan kenekatan saja.

Mau ke mana sih kami? Kami sempat kesasar, beberapa kali berbalik arah karena kebablasan dan bertanya kepada penduduk setempat. Kami melewati pabrik Toba Pulp Lestari juga lho.

toba pulp

Dan akhirnya kami sampai di pintu gerbang tempat tujuan.

Sigura-gura 8

Yeayyy… Saya tiba di PT Indonesia Asahan Aluminium atau Inalum yang terkenal dengan PLTA Sigura-gura-nya. Entahlah ini di Kisaran atau Asahan. Eh ternyata Kisaran adalah ibu kota Kabupaten Asahan dinng. Dari pintu gerbang pertama tadi hingga mencapai tempat ini jaraknya puluhan kilometer dengan melewati beberapa gunung. Dari jalan Kisaran yang rusak hingga akhirnya melewati jalan kompleks yang halus mulus serta tersedia mesin ATM di tempat ini.

Sigura-gura 9

Kami dijemput Amang Tua untuk diajak ke kompleks PLTA.

Sigura-gura 7

Kami memasuki gerbang yang bisa dimasuki kendaraan sebesar truk setelah melewati jalan dengan kelokan tajam berkali-kali.

Sigura-gura (5)

A bit afraid of this situation.

Sigura-gura (9)

We were going hundreds of meters down to the center of the earth under the reservoir, mountains, and everything. I kept praying that time.

Sigura-gura (6)

We stepped down from the cars and saw this huge plant. I just couldnt believe how could i go here.

Sigura-gura (8)

Sigura-gura hydroelectric power plant in Asahan.

Sigura-gura (7)

This side wall was the most eyecatching thing in this place.

Sigura-gura (2)

I didnt get what was this and how it worked to provide electric power. I was just scared that time. There were 4 turbines if im not mistaken. This is turbine generator, right??

Sigura-gura 4

Peralatan entahlah.

Sigura-gura (13)

Dangerously in love.

Sigura-gura (11)

Peralatan apa lagi ini.

Sigura-gura (12)

Di Sigura-gura ini ternyata ada beberapa bagian. Ini waduknya yang berasal dari aliran Sungai Asahan yang berasal dari Danau Toba.

Sigura-gura (3)

Strike a pose.

Sigura-gura (10)

Ini bagian yang katanya untuk mengalirkan air yang hanya malam saja atau apa gitu. I didnt pay attention that much cause i was still scared.

Sigura-gura 1

Bagian lain yang cantik banyak gunung-gunung terindah di dunia.

Sigura-gura 10

Itu Air Terjun Sigura-gura dan pintu gerbang menuju perut bumi tadi. Jalannya ternyata berkelok-kelok seperti itu.

Sigura-gura 2

Ini dia sistem PLTA monggo diartikan sendiri. 😀

Yang jelas ini outflow river-nya yang katanya juga bisa dibuka tutup di dalam gunung. Amazing banget deh. Sungai ini bisa dipakai untuk arung jeram lho.

Sigura-gura

Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 lebih sehingga kami harus segera keluar dari tempat ini dan selesai merepotkan Amang Tua. Pengalaman yang sangat menakjubkan dan mungkin hanya sekali-kalinya seumur hidup. Kami keluar kompleks Inalum, kembali menyusuri jalan yang halus hingga jalan yang terjal di Kisaran. Found this beautiful church near to Sigura-gura.

gereja

Kami melewati Porsea lalu Parapat lagi dan memutuskan untuk makan siang yang telat banget di rumah makan Padang di Parapat.

parapat (3)

Pukul 17.00 lebih kami meneruskan perjalanan dan kali ini menembus perkebunan kelapa sawit yang jalannya terjal, berkelok-kelok dan mulai gelap seiring hari yang beranjak malam menuju rumah Tulang ini di Tanah Jawa, Simalungun. Hanya sekitar 30 menit di sini dan kami melanjutkan perjalanan ke Medan.

kampung jawa

Tanah Jawa ternyata dekat ke Siantar dan sesuai saran Mbak Tesa maka kami mampir ke Roti Ganda. Yeayyy…

ganda

Kalau aku sih suka banget selai sarikayanya, sedangkan Mbak Tesa lebih suka roti dengan meses coklat ini.

ganda (2)

Selai sarikayanya enak bangeeett.

ganda

Kami meningggalkan Siantar hampir pukul 21.30 dan tiba di Medan sudah lewat tengah malam. The Ladies mengantarku ke rumah Mbak Tesa dan waktu itu aku sempat lupa di mana rumahnya jadi kami sempat berputar-putar tak tahu arah dengan kondisi yang sudah sangat lelah semuanya. Anyway, thanks a bunch Ladies for the great trip. Maaf kalau merepotkan kalian. xoxo

Hari terakhir di Medan, saya diajak berkeliling kota oleh Mbak Tesa. Kami naik bentor ke mana-mana. Tujuan pertama ke Istana Maimun.

maimun (2)

Istananya sangat indah.

maimun

Ada yang sedang memainkan musik di beranda istana.

maimun (3)

Setelah itu kami berpindah ke Masjid Raya Al Mashun atau yang lebih dikenal dengan Masjid Raya Medan.

masjid raya

Dan melanjutkan perjalanan ke Lapangan Merdeka. Berpose mencoba peralatan olah raga yang tersedia di pinggir lapangan ini sebelum cemal-cemil di Merdeka Walk.

merdeka

Menikmati dimsum di Nelayan, Merdeka Walk.

nelayan

Nyaaammm….

nelayan (4)

Slurrrpppp…

nelayan (2)

Tidak lupa mencicipi pancake durian yang endeuuus banget ini.

nelayan (3)

Lalu saya pun diajak ke pusat oleh-oleh untuk sedikit buah tangan ke Jakarta. Bika, pancake, manisan jambu.

zulaikha

Dan tak terasa perjalanan pencarian kali ini ini akan segera berakhir. Apakah ketemu dengan yang saya cari? Yang saya cari tidak ada di sana. Yang di sana adalah jejak-jejak leluhurnya yang masih terjaga dengan luhur. Holong na dirohangki tung so mose so muba tu ho. Beta hamu mulak.

flight (2)

Mencari Batak Bagian II

Pagi itu, hari ketiga berkelana di Tanah Batak, bangun dengan pemandangan di depan kamar seperti ini.

tuk-tuk (11)

Sekitar pukul 06.30 wib saya menuju Batu Kursi di Ambarita sesuai anjuran Mr. Bule kemarin. Saya sudah berjalan sekitar 1 km saat ada bukit indah ini tapi belum ada tanda-tanda keramaian. Untungnya ada ojek yang lewat dan bersedia mengantar saya ke Ambarita, yang ternyata masih berjarak sekitar 3 km, dengan biaya Rp10.000,00.

samosir (3)

Pak Ojek mengantar saya hanya sampai di jalan utama Simanindo yang membuat saya harus berjalan melewati perkampungan dan persawahan menuju Batu Kursi.

batu kursi (4)

Saat sudah mendekati kompleks Batu Raja, saya menyempatkan diri untuk sarapan di sebuah warung. Warung itu ternyata hanya menjual mie gomak sebagai menu sarapan yang akhirnya saya pesan dengan ditemani teh manis panas dan bapak-bapak yang sedang markombur di meja sebelah.

mie gomak

Here i come in Chair Stone of King Siallagan at 8.

batu kursi

A quiet early visit while no other visitors were here.

batu kursi (5)

Batu Kursi dan rumah tradisional Batak dengan tempat pemasungan di depannya.

batu kursi (6)

Semacam tempat pertunjukan dengan properti yang sudah tersedia.

batu kursi (3)

Saya sibuk foto-foto dan memperhatikan detail tempat ini selama sekitar 1 jam hingga akhirnya saya ke luar dan berbelanja bahan (baca: segala jenis bahan yang bisa digunakan untuk membuat pakaian). Saya mampir di sebuah lapak seorang Inang yang ramah. Dan saya mendapatkan 2 buah ulos.

batu kursi (2)

Saya kembali menuju jalan raya utama dengan jalan kaki untuk menuju tempat selanjutnya yang direkomendasikan oleh Inang pemilik lapak. Objek Wisata Budaya Museum Hutabolon Simanindo. Pemandangan Samosir yang sangat indah dari dalam elf yang saya sewa (penumpangnya hanya saya seorang dengan tarif kurang dari Rp5.000,00)

samosir

Tepat pukul 10.00 wib saya tiba di Museum Hutabolon.

simanindo (5)

Apa saja yang ada di Museum Hutabolon Simanindo.

Simanindo 5

Saya ditawari untuk menyaksikan tarian tradisional Batak dengan harga tiket masuk Rp50.000 untuk turis lokal yang akan dimulai pukul 10.30 wib.

Simanindo 6

Manortor-nya dimulai.

simanindo

Pada saat inilah datang 3 mbak-mbak serta beberapa saat kemudian ada segerombolan cowok untuk menyaksikan tarian. Padahal tadi saya merasa sedih dan kasihan karena masak penontonnya cuma saya dan sepasang kakek-nenek bule saja yang datang terlebih dahulu.

Simanindo 4

Saya, yang seorang diri, kenalan dengan mbak-mbak itu dan akhirnya difotoin oleh salah satunya yang tidak ikut manortor karena dia adalah seorang Batak dan masa kecilnya pernah tinggal di Samosir jadi rela berkorban untuk motretin teman-temannya, dan saya. 🙂 We’re posing with the dancers.

Simanindo 8

The guys are Malaysian tourist, btw.

Simanindo 2

The cemetery in front of the dancing area, near to the main gate of the museum.

Simanindo 7

Royal boat house.

simanindo (4)

The rice punding house.

simanindo (2)

Setelah menonton tarian, saya memotret-motret beberapa bagian museum hingga sekitar pantai (baca: Danau Toba). Pada saat inilah saya ngobrol-ngobrol lagi dengan mbak-mbak itu dan ternyata kami sama-sama dari Jakarta dengan lokasi kantor yang berdekatan.

simanindo (3)

Diajaklah saya ikut bergabung ke rombongan 3 gadis itu yang sudah menyewa mobil untuk jalan-jalan. Rezeki tampang ngenes seorang diri. 😉

samosir (5)

Ikutlah saya ke tujuan mereka selanjutnya, yaitu Pangururan Hotspring.

Pangururan 1

Panas terik tengah hari di tengah kompleks air panas.

Pangururan 4

A multigirls photoshoot on the white hills against the clear blue sky and greenish hill.

Pangururan 8

Ulos yang kubeli di Batu Raja berguna untuk properti foto. Werk it, girl.

Pangururan 6

You wanna be on top? Smize… fierce… *Tyra Banks mode on*

Pangururan 7

Then we moved 100 m down the hill to Aek Rengat harbour and  a made some pose.

Pangururan 2

It’s a heaven on earth, isnt it?

Pangururan 5

Pose… pose… and pose…

Pangururan 3

Pose…

pangururan

Lalu kami kembali ke arah Simanindo dan berhenti di kamu. Berhenti di tugu yang indah ini.
simarmata

Karena The Ladies belum ke Batu Kursi, maka kami ke tempat itu. Setelah tadi pagi, eh, aku kembali ke sini lagi.

batu kursi (7)

Walhasil aku dapat sejenis songket untuk ibu dan ulos lagi di toko sebelah Inang tadi pagi setelah kelamaan menawar hingga aku yang akhirnya ditunggu The Ladies. 😉

batu kursi (6)

Setelah itu kami ke Tomok untuk melihat beberapa objek wisata di sana

tomok (2)

Traditional Batak’s house

tomok

Kuburan Tua Raja Sidabutar. Saat masuk ke tempat ini, kita harus memakai ulos. *keluarin ulos*

 tomok (3)

Kuburan batu (sarkofagus) Raja Sidabutar ini sudah berumur lebih dari 4 abad dan terbuat dari batu utuh tanpa sambungan yang dipahat sebagai tempat peristirahatan Raja Tomok kala itu.

tomok (5)

Sisi lain kuburan tua ini.

tomok (4)

Kami kemudian ke rumah tante kenalan The Ladies saat di travel dari Medan menuju Samosir. Tante ini jago banget buat roti. Roti abonnya endeeeusss bingit.

samosir (4)

Rumah Tante luas dan indah. Seperti resor di luar negeri gitu. *padahal belum pernah ke luar negeri juga* 😀

samosir (2)

The girls dropped me from the car when I arrived in front of my homestay and we made an appointment to go to Kisaran together on the next day. Yeay…. finally, i enjoyed a glass of hot tea on the rainy evening.

tuk-tuk (4)

Mencari Batak Bagian I

Ini memang cerita lama tetapi masih saja saya simpan dalam hati dan jiwa ini. Rincian perjalanan ini tidak saya ingat dengan baik dan tidak pula saya catat. Jadi ya seadanya saja.

Untuk perjalanan yang merupakan pengalaman saya pertama ke Medan ini saya menggunakan cuti beberapa hari. Ngapain sih kok saya milih Medan buat jalan-jalan? Ehm… Bukan Medan-nya sih tetapi karena Batak-nya lah. Tepatnya seorang Batak, yang tidak tinggal di sana juga sih.

flight

Yeaayyy…. Welcome to North Sumatera.

polonia

Saya dijemput Kokoh ke Bandara Polonia dengan menggunakan bentor.

elizabeth (3)

Lalu kami sarapan di warung kopi sekitar Rumah Sakit Santa Elizabeth sambil menunggu Mbak Tesa dan Mas Gandy.

elizabeth (2)

Indomie goreng vs mie Aceh.

elizabeth

Akhirnya Mbak Tesa datang dan membawa kami ke tempat makan lagi yaitu Lontong Kak Lin.

kak lin (2)

Rumah makan di depan Smansa ini rame banget. Mbak Tesa dan Mas Gandy akhirnya memesan gado-gado dan saya hanya mencicipi.

kak lin

Saya yang tidak tahu mau ke mana di Sumatera Utara selain ke Danau Toba dan menemui teman-teman ini maka manut saja untuk diajak ke Bukit Lawang. Bunda Dip, suami, dan kedua anaknya juga turut dalam darma wisata dadakan ala-ala ke Bukit Lawang ini. A family trip that started at 11.

bukit lawang (3)

Pemandian alam Bukit Lawang ini berada di kawasan Taman Hutan Nasional Gunung Leuser, tepatnya di Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat. Bukit Lawang jaraknya 80 km di sebelah barat laut Kota Medan.

bukit lawang (4)

Mandi-mandi cantik kayak gini atau menggunakan perahu dari ban bekas yang banyak di sewakan di sini bisa menjadi pilihan bagi pengunjung,

bukti lawang

Kami sempat melakukan pemotretan di jembatan yang ada di Bukit Lawang dan beginilah hasilnya.

bukit lawang (2)

Di tempat iniAnda akan ditawari persewaan tikar sekaligus gubuk-gubuk untuk berteduh yang bisa digunakan untuk gegoleran manja menikmati pemandangan yang ada. Jangan lupa menawar dan melihat-lihat lokasi yang akan Anda sewa umtuk beristirahat. Tersedia juga wisma-wisma penginapan yang bisa disewa jika Anda ingin menginap. Di Bukit Lawang banyak bule-bule lho dan konon di sini banyak klub-klub gitu. Di sini alamnya masih asri sehingga di hutannya banyak satwa liar dan ada pusat rehabilitasi orangutan. Karena keterbatasan waktu maka saya tidak sempat trekking ke hutan ataupun berkunjung ke klub-klub itu. Cuma selalu sempat mikirin kamu yang mungkin tidak pernah mikirin aku. 🙁

bukit lawang

Sekitar pukul 15.30 sore kami kembali ke Medan dan menyempatkan diri untuk makan sejenak di Rumah Makan Mbak Moel.

mbak moel

Menu di sini menggiurkan dan enak. Kurang kerupuk doang sik.

mbak moel (2)

Matur nuwun Bunda untuk traktirannya.

mbak moel (3)

Dedek-dedek ini sudah segede ini lho sekarang. Dan aku masih sendiri. Dan aku masih tetap mikirin kamu.

DSCF0485

Kami tiba di Medan sekitar pukul 20.00 WIB dan saya langsung memesan travel Paradep dengan tujuan Danau Toba. Katanya sih bisa diantar sampai dengan Parapat walaupun entah Parapat itu di mana karena saya tidak mempersiapkan sama sekali perjalanan ini. Kata Mbak Tesa nanti dari Parapat masuk ke Pelabuhan Ajibata lalu menyeberang ke Tuk-Tuk baru mencari penginapan di sana.

Hari kedua saya di Sumatera Utara dimulai dengan travel yang menjemput saya pukul 04.30. Di Medan pukul segitu masih gelap banget ya. Jemput sana, jemput sini, berhenti di kamu, eh, berhenti di pool lalu cus deh berangkat menuju tujuan. Supir travelnya ngeri kali cara bawa mobilnya.

paradep

Sekitar pukul 8.30 saya tiba di Pematang Siantar, emmmmm… Di sini ada… emm.. Oke…. Siantar oh Siantar. Ternyata sebagian besar penumpang turun di kota ini sehingga saya dioper ke travel lain untuk menuju Parapat karena penumpang tinggal saya seorang. Di travel kedua ini jalurnya mulai berkelok-kelok dengan pemandangan yang rindang di kanan kiri dan teknik mengemudi supir yang juga ngeri-ngeri sedap. Ada rombongan keluarga sekitar 5 orang yang akan menghadiri kondangan di Parapat yang ikut menumpang. Inang-inangnya sudah memakai kebaya, konde, dan full makeup. Musik di travel ini adalah lagu-lagu Batak yang di-remix yang belum pernah saya dengar, serasa dangdut Pantura Jawa gitu. Setelah mengantar rombongan keluarga itu, sang supir bersedia mengantar saya ke Ajibata dengan menambah ongkos 10 atau 20 ribu. Ya daripada harus berganti angkot atau jalan ke pelabuhan yang mengkin akan menyebabkan saya diculik orang asing ya mending minta diantar saja.

Di Ajibata, sambil menunggu kapal yang baru akan berangkat 30 menit lagi, saya mengisi perut dulu.

parapat

Motor yang akan diseberangkan ke Pulau Samosir.

parapat (2)

Kapal yang akan membawa saya ke Tuk-Tuk di Pulau Samosir.

kapal toba

Saya hampir sampai di Samosir.

tuk-tuk (3)

Kapal yang ke Tuk-Tuk ternyata berhenti di Carolina Cottages sehingga jika ingin menginap di sini bisa langsung saja reservasi. Carolina ini sebenarnya harganya juga cukup terjangkau dan fasilitasnya bagus, tetapi saya memilih untuk mencari wisma atau homestay yang yang lebih terjangkau tarifnya sehingga saya ke luar dari kompleks Carolina dan menyusuri jalan di Tuk-Tuk.

tuk-tuk (5)

Di Tuk-Tuk banyak terdapat penginapan, mau yang menghadap danau langsung atau yang harus jalan dan menggelundung sedikit, mau yang ber-AC, kipas angin, atau tanpa keduanya, mau yang mahal atau murah banget juga ada di sini.

tuk-tuk (6)

Vandus’s View Guesthouse and Rest ini tarifnya tidak semahal Carolina dengan pemandangan dan fasilitasnya oke tetapi sayang saat itu sudah penuh.

tuk-tuk

Setelah melihat beberapa penginapan, di siang yang terik banget, maka saya memutuskan untuk menginap di penginapan yang saya lupa namanya ini. Tarifnya Rp75.000,00 per malam dengan fasilitas kamar mandi dalam, kipas angin, tetapi tidak termasuk sarapan.

tuk-tuk (10)

Kamar saya adalah yang tengah dan terletak di bagian penginapan yang bawah. memang kalau mau ke restauran atau ke jalan utama harus sedikit naik, tetapi jika mau ke danau tinggal turun sedikit.

tuk-tuk (2)

My private pool with the best view on earth. Maka nikmat Batak mana lagi yang kamu dustakan.

tuk-tuk (7)

Penghuni kamar di samping kanan saya adalah seorang bule Australia yang sangat tergila-gila durian Sumatera Utara sedangkan kamar samping kiri saya adalah bule Jepang yang saya hanya bertemu sekali saja.

 tuk-tuk (9)

Malam itu saya makan di restauran penginapan ini dan hanya ada saya dan bule Australia saja tamunya. Kami akhirnya berbincang-bincang. Dia bercerita kalau tadi siang dari Batu Raja di Ambarita dengan menyewa motor, yang membuat saya punya ide untuk ke Ambarita saja besok pagi, toh, kata dia kan dekat paling 1 km lebih dikit jadi bisa jalan kaki. Dia juga bercerita tentang istrinya yang merupakan orang Batak dan sekarang sedang di rumah orang tuanya di Medan, sedangkan si Bule lebih memilih menikmati liburannya di Indonesia kali ini dengan berkeliling Sumatera Utara. Bule ini agak skeri deh karena dia terobsesi tentang alien di mana dia baru saja mendapatkan buku tentang alien yang telah lama dia cari di sebuah perpustakaan di Samosir dan akhirnya buku tersebut dibelinya dari perpustakaan. Dia bercerita tentang alien-alien di dunia ini dan bagaimana dia pernah merasakan tidak sadarkan diri lalu jiwanya seperti dibawa alien. Membunuh waktu sih membunuh waktu tapi kalau ceritanya serem gini bagaimana dong. Saya agak sungkan untuk meninggalkan bule yang masih semangat bercerita tentang alien ini tetapi syukur setelah hujan agak reda dan kami telah mengobrol sekitar 2 jam, maka saya pura-pura mengantuk dan segera kembali ke kamar dan meninggalkan si bule dengan bukunya di reastauran. Tidak sabar menanti perjalanan esok hari ke Ambarita dan entahlah ke mana.

tuk-tuk (8)