Vogue Italia November 2015 Couture Supplement

Vogue Italia November 2015 Couture Supplement: Batik Cirebon
Model: Jealeou
Fotografer: Paminto Meisel
Makeup Artist: Estu McGrath
Hair: Guido Paminto
Set: Estu
Lighting: Obeit
Stylist: Franca Soestu and Obeitha Simons

Batik (1)

Jealeou memakai kerudung batik tulis.

Batik (9)

Left or right?
Batik (2)

Batik tulis ukuran 1,5m yang sering dipakai sebagai kerudung.

Batik (3)

Scarf batik.

Batik (4)

Aku bingung jika harus memilih. Batik viskos motif flora yang ceria.

batik

Batik katun tulis yang cetar-tar-tar. Harga langganan Rp1.000.000.

Batik (8)

Batik katun tulis seharga Rp750.000.

Batik (7)

Pashmina Umama di Pasar Tasik, Thamrin City.

Batik (5)

Harga satuan pashmina ini Rp30.000, tetapi jika grosir cukup dengan Rp22.500 per buah.

Batik (6)

Aku Malu…

Ceritanya tadi pagi saya ke Thamrin City untuk beli kado perpisahan teman-teman yang mutasi. Eh baru masuk Thamcit kok malah adem panas gara-gara baru ngeh ada yang tidak beres dengan pakaian saya.

Saya berencana ke Thamcit sebenarnya kemarin pagi, tetapi karena sedang berselera untuk mencuci dan menulis blog sambil gegoleran di kasur maka niat itu saya urungkan. Pagi tadi sekitar pukul 9.00 wib, setelah selesai menulis di blog tentang batik kotak-kotak, saya mulai mempersiapkan diri untuk ke Thamcit. Setelah mandi, saya buru-buru ganti pakaian, memakai celana pendek selutut yang memang sih sudah saya beli dan pakai sejak tahun 2008an. Celana pendek ini sudah pernah saya pakai dari ke Karimun Jawa hingga entah ke mana.

Celana ini sebenarnya sudah saya pakai dari kemarin sore sebelum Maghrib, saat akhirnya setelah mengurung diri di kamar seharian saya memutuskan untuk mencari makan di warung sebelah kos lalu membeli air galon isi ulang di dekat situ. Dari kemarin saat mengambil celana pendek ini di tumpukan celana, saya tidak mengecek detail celana, hanya ambil dan segera pakai. Tadi pagi, sebelum ke Thamcit, saya sempat mencari makan ke warung yang jaraknya sekitar 150 meter dari kos dengan suasana jalanan cukup ramai orang berlalu lalang, mengendarai motor, serta warung yang dipenuhi beberapa pelanggan. Setelah membungkus makan, balik ke kos, makan, maka saya segera bergegas berangkat ke Thamcit.

Walaupun cuma ke Blok A Tanah Abang atau Thamcit, biasanya saya masih memakai celana jeans pendek, jeans panjang, atau celana bahan pendek, jarang banget pakai celana kolor gini. Dengan berjalan ke luar kompleks, menyalip beberapa pejalan kaki yang jalannya agak pelan, lalu naik angkot, turun dari angkot, berjalan ke stasiun, menyalip beberapa pejalan kaki dekat stasiun, hingga akhirnya saya berdiri tertahan cukup lama menunggu melintas ke jalur 1 karena di jalur 2 masih ada kereta yang berhenti. Suasana libur anak sekolah membuat komuter lebih ramai daripada hari libur biasa.

Di dalam kereta, saya berdiri tidak di tempat favorit saya yaitu bersandar di pojokan dekat pintu yang tertutup karena sudah ada orang yang menempati. Saya berdiri di depan orang yang sedang duduk dengan menggelantungkan tangan dan membelakangi penumpang di deret kursi satunya. Walaupun cukup banyak penumpang, tidak ada penumpang yang berdiri di depan deret kursi belakang saya berdiri, sebagian besar penumpang mendekati pintu ke luar.

Saya tiba di stasiun Palmerah dan langsung naik eskalator ke lantai 2 untuk kemudian ke luar ke arah Pasar Palmerah. Saya menunggu metromini menunju Thamcit di halte dekat pasar yang saat itu lalu lintasnya cukup macet. Ada metromini lewat yang terlihat penuh yang akhirnya aku dan beberapa ibu naiki untuk menuju Thamcit. Benar saja, di dalam metromini sudah penuh penumpang dan akhirnya saya dapat tempat berdiri di bagian belakg depan penumpang belakang duduk. Karena berdiri di atas bagian roda metromini yang mana membuat bagian saya berpijak lebih tinggi dari bagian lain, maka saya agak membungkukkan badan dan cenderung seperti posisi ruku’ saat salat dengan menyandarkan badan saya ke bangku penumpang di depan saya. Akhirnya saya memilih untuk jongkok daripada kepala dan badan pegal. Dengan keadaan yang macet karena ramainya pemakaman di Karet, maka saya yang mulai pegal karena jongkok memutuskan untuk berdiri dengan posisi seperti membungkuk lagi dengan membelakangi beberapa penumpang, kebetulan yang di belakang saya pas adalah seorang mbak. Setlah capek membungkuk, saya kembali jongkok tetapi metromini belum juga sampai di dekat Stasiun Karet. Di sekitar Stasiun Karet, beberapa penumpang belakang turun sehingga saya bisa duduk sejenak hingga tiba di Thamcit.

Sekitar pukul 11.45 wib saya tiba di Thamcit. Saya mulai berputar ke sana-ke mari mencari Batik. Baru sekitar 15 menit saya berkeliling, tanpa sengaja saya mau menaruh uang receh untuk jaga-jaga di saku belakang celana. Dan waleleh…. saya merasakan tangan saya masuk ke dalam celah di bagian belakang celana saya, bukan ke kantong belakang. Argghhhh, sobeknya terasa cukup besar. 🙁

Tas punggung yang dari awal berangkat dari kos hingga barusan saya taruh di dada, demi menjaga uang tunai yang cukup banyak untuk membeli hadiah 11 orang, segera saya pindahkan ke belakang dengan gaya diselampirkan di satu bahu saja biar lebih jatuh dan menutupi pantat. Saya segera mencari toko yang menjual celana, dan tiba-tiba terasa tidak ada toko yang menjual celana. Saya agak berjalan ke arah tepi di mana relatif sepi pengunjung untuk mencari celana, dan akhirnya membeli celana batik pendek. Setelah itu saya bergegas ke kamar mandi untuk berganti celana dengan masih menyelampirkan tas di belakang. Mungkin begitu ya rasanya cewek-cewek yang tahu nembus pas lagi dapat. Di cermin toilet lantai lowerground yang sepi, saya sempat mengecek seberapa besar sobek di celana saya. Saya terkaget-kaget karena lebarnya ada kali sejengkal telapk tangan saya. Huwaaaaaaaaaa…. Ini pasti sudah sobek lama pas di mana, bukan selama perjalanan ke Thmacit pas jongkok tadi atau apa. Iya sih saya sudah agak lama tidak memakai celana ini. Burburu lah saya ganti celana dan merasa semua orang dari kemarin melihat pantat saya. Mana lagi semok,  gak seksi, dan gosong hasil berjemur sebulan ini pula. Apalagi saya sedang tidak memakai celana dalam yang ngeheits, coba sedang mamakai yang warna dab bentuknya menarik pasti saya lebih pede.

Saya mereka ulang adegan dengan memakai celana dan kaos yang sama tetapi dengan celana dalam yang lebih ngeheits. Saat itu saya memakai brief yang sewarna dengan celana pendek saya, dan kali ini memakai trunk dengan warna hijau neon. Pakai trunk saja masih kelihatan kulit saya, apalagi pakai brief, berapa banyak aurat saya yang terlihat apalagi selama pose nungging di metromini. -_____-“

2015-06-20-20-22-31_deco

Mood belanja saya langsung drop dan saya memutuskan untuk konsentrasi berbelanja di 1 toko saja. Di toko batik lasem tersebut saya berhasil mendapatkan 11 helai batik. Setidaknya saya masih bisa engkel-engkelan harga dengan mas yang jual. I have told him that i’m not a reseller, i bought these as a gift to my colleague. Dia cuma senyum-senyum dan bilang “iya, gak papa toh untungnya lumayan” sambil tetap memaksa tidak mau menurunkan harga. Akhirnya saya berhasil membujuknya dan menurunkan harga beberapa ribu rupiah sehingga masuk budget hadiah. Saat saya membuka dompet, beneran dong, uangnya pas senilai harga semua batik ini, tinggal uang saya sendiri sekitar 20-30 ribu. Mungkin tampang saya memang penjual kain ya karena terlalu sering nongkrong di toko kain dan batik. Inilah hasil saya berbelanja batik hari ini. Semoga teman-teman yang mutasi dan menerima hadiah ini terpuaskan. Selamat bertugas di tempat baru, semoga semakin sukses dan lancar kariernya. xoxo

batik lasem

Checkered Batik

When we obsessed with designer collection and we dont have that stupid money to spend, we’ll find a way to remake it on our way. Do It Yourself aka DIY. Thats what i’ve done as a homage to their fabulous item.

These Marc Jacobs’s Louis Vuitton spring/summer 2013 checkered dresses were so famous a couple of years ago.

style.com

Then Maria Grazia Chiuri & Pierpaolo Piccioli from Valentino delivered this harlequin dress for fall/winter 2014-2015.

style.com

In October 2014, when i went to Pasar Klewer  in Solo. Pasar Klewer known as one of the biggest textile market in Indonesia especially for batik. I felt like orgasm with all the batik and other traditional fabrics at Klewer. I found some classical batik pattern such as suri kencana, kawung, satria wibawa, semenromo, and bledak with affordable price. I wanted it all but i could only afford to buy some. 😀
klewer (2)

In a random batik merchant, i saw these unique batik pieces that reminded me of Vuitton and Valentino collection. I bought the black-red-white-yellow checkered stamp piece which costed under Rp100.000 per piece.

 klewer
Last Friday, i wore this colorful checkered batik shirt with zipper detail to the office and everyone just wondered was that a batik of a common checkered or flanel shirt. They said that it was’nt batik pattern, clown-dress-like, the color were too bright, eyecatching, and #whatsoever.
checkered batik (3)As far as i know, batik is not just about pattern but also technique. Based on Wikipedia, Batik  is a technique of wax-resist dyeing applied to whole cloth, or cloth made using this technique. Batik is made either by drawing dots and lines of the resist with a spouted tool called a canting, or by printing the resist with a copper stamp called a cap. The applied wax resists dyes and therefore allows the artisan to color selectively by soaking the cloth in one color, removing the wax with boiling water, and repeating if multiple colors are desired.

checkered batik (1)

When it comes to pattern, each region has its own traditional pattern such as megamendung motif from Cirebon, truntum and parang from Central Java, Dayak tribe motif, Papua tribe motif, Batak tribe motif, besurek motif from Bengkulu, etc.
checkered batik (4)

My harlequin batik shirt may looks like a flannel shirt, but when you see it closer and touch it, you’ll maybe find and know that it is stamped batik. Its not the finest batik which we usually call batik tulis (written batik), and doesnt show floral, tarditional, or another common motif, but you cant resist that it made by the stamp technique with simple pattern yet colorful and has a margin that people said it was the only batik part of my shirt.
checkered batik (5)

It’s fine if you are an inland batik (batik pedalaman) lover, with the taste of deep earthy colors with various indigenous patterns from Yogyakarta and Solo; an coastal batik lover, with vibrant colors and patterns inspired by a wide range of cultures as a consequence of maritime trading from Cirebon, Madura, Pekalongan, Lasem; Besurek lover, as they draw inspiration from Arabic calligraphy and it may looks more religious; or another tribe batik lover. I love batik, no matter where it comes from, whats the motif, dont care about the bright or dark color, hand written batik, stamped batik, or even just a printed pattern batik; is it silk, cotton, dobby; buttoned or zippered batik, and everything.

Today, the most common batik and relatively cheap is printed batik. Some traditional tribe motif are using print as their way to produce batik. I have some printed batik like my besurek from Bengkulu, and my pink and blue fish gills printed motif from Pontianak. Anik was wearing a hand written pink and white megamendung motif from Cirebon that we bought 5 or 6 years ago and it still looks great. And people also wondered about my batik.

IMG-20140709-WA0000

We can find so many made-in-China batik textiles which cost very cheap per meter. I try to avoid buying printed batik as long as there are another beautiful stamped or hand written batik with the affordable price. But yeah, sometimes we have no choices than buy the printed batik, right? I love batik and my closet is fulfilled with batik. The only rule in my office is we have to wear long sleeve batik shirt on Tuesday and short sleeve batik shirt on Friday. Cheersss… 😀
checkered batik (2)

Batik, Batik, dan Batik

Dulu sih gak suka batik, tapi sejak datang ke Trusmi, Pusat Batik Khas Cirebon, pada pertengahan tahun 2008 lha kok jadi tergila-gila batik. Sejak saat itu aku jadi suka berkunjung ke Trusmi buat hunting batik kalau kerja sedang libur dan gak kemana-mana. Tinggal cuuuss aja waktu itu dari kosanku di pinggiran kota Cirebon yang juga gak begitu jauh jaraknya dari Trusmi, sekitar 30 menit dengan motor.

DSC05764Di Trusmi banyak banget toko-toko dan pembuat batik khas Cirebon. Ada Batik EB (Edi Baredi) yang terkenal karena batik-batiknya dipakai oleh Pak SBY yang menyediakan tempat yang nyaman untuk belanja batik, parkir yang luas, juga pusat kuliner, ATM, dan bisa melihat langsung pembuatan batik di Kampung Batik EB tersebut. Ada Batik Nofa yang mempunyai beberapa cabang di sepanjang Trusmi dengan kualitas dan harga yang lebih miring juga bisa ditawar apalagi kalau sudah sering kesitu. Ada Batik Annur yang terletak agak jauh di pojok Trusmi dengan harga yang sangattttt miring dan bersahabat dan motif batik yang beraneka, apalagi kalau ada Bu Haji pemiliknya kita bisa menawar langsung ke Ibu nya, aku sendiri sih paling sering beli disini. Ada Masinah, batiknya buaguuussss-baguuusss tapi lebih mahal dari toko-toko lain, batik disini mega mendhung nya lucuk-lucuk dan beda dengan tempat lain, motif pesisirannya juga top dan keren-keren. Ke Masinah ini bakal ngiler-ngiler deh kalau aku dan jadi tempat batik berkualitas favoritku. Ada banyak lagi toko-toko batik tapi yang paling sering ku kunjungi dulu ya cuma empat toko itu.
Lilin
Batik mega mendung seperti gambar di bawah sudah sangat terkenal sekarang sebagai batik Cirebon. Warnanya yang sebagian besar ngejreng dengan perpaduan motif tambahan dari bunga, kupu-kupu, naga, orang, guci piring dan barang pecah belah lain membuat batik mega mendung makin menarik dan diminati. Harga batik mega mendung tergantung jenis dan teknik pengerjaannya apa tulis, cetak atau cap juga toko yang menjual. Kalau yang bahannya agak kasar dan cap bisa saja Rp.20.000-40.000 per lembar. Untuk mega mendung yang katun dan tulis yang biasa dan paling umum dibeli adalah yang harganya sekitar Rp.60.000-100.000. Kalau untuk mega mendhung batik katun tulis seperti gambar di bawah, harganya mulai sekitar Rp.250.000. Untuk mega mendung yang sperti gambar di bawah, motifnya kecil-kecil dengan pengerjaan lebih halus dan rapi dengan warna yang lebih cantik dibanding yang biasa. Kalau untuk kado yang umum sih aku suka beliin yang mega mendung katun yang umum itu saja, toh sudah bagus apalagi kalau kita pinter milih warna dan bahannya.
Mega Mendhung
Untuk motif di bawah yang sebelah kiri konon bercerita tentang putri dari Cina yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Batik yang kanan atas juga batik katun tulis dengan motif bunga-bungan yang menarik dan cantik. Kedua batik ini dijual dengan harga di atas Rp.500.000 di Masinah yang mana aku pengen banget tapi waktu kesana dulu lagi bangkrut. Nah kalau batik yang kanan bawah itu motif orang, banyak sekali motif-motif orang di batik Cirebon, biasanya bercerita tentang kegiatan seharai-hari nelayan, petani atau perang melawan kompeni, VOC atau penjajah.
motif 3
Batik motif di bawah aku dapat kemarin bulan Oktober 2011 pas ke Cirebon. Suka deh motifnya yang penuh di seluruh kain tapi gak menutupi denggan motif plek padet gitu. Bukan batik tulis sih, tapi batik katun cap ini bagus dan bisa jadi pilihan saat belanja batik. Kelihatannya sih sama tapi sebenarnya beda lho detil 3 batik tersebut. Soal harga, juga sangat terjangkau karena bisa ditawar dan dapat di bawah Rp.50.000 per lembarnya.

motif 1Batik di bawah adalah batik Papua yang aku titip pada Banu di awal tahun 2009 dulu. Motif batik Papua yang khas banget dari burung cendrawasih, tifa, patung khas suku-suku di Papua dan sebagainya dengan warna-warna cerah dan tekstur nemplok-nemplok sangat ku sukai. Batiknya sih bukan batik tulis, tapi katun yang enak kok dipakainya juga.

DSC00948Kalau yang di bawah adalah motif batik Papua yang beberapa waktu lalu aku nitip ke Mas Grandis langsung dari Papua dan dibawakan pas dia tugas ke ibu kota. Harga per meternya dari sekitar Rp.50.000 dan kita bisa memakai batik cantik dari Indonesia Timur ini.
Papua

Kalau batik kuning di bawah, adalah batik Bali yang nitip pada May beberapa bulan lalu. Motifnya yang cantik, ada akses keemasan dan bahannya juga enak. Tapi sampai sekarang belum sempat ku jahitin deh, nunggu nanti aja kalau sudah ngantor lagi.

DSC05682

Batik di bawah ku dapat di Mirota, Malioboro Jogja pada akhir 2009. Bukan batik tulis ya bok, secara kalau batik tulis pasti mahal banget yang motifnya begonoan tapi suka deh dengan warna dasarnya yang putih dan motifnya warna coklat yang terlihat klasik.

DSC05683

Batik di bawah dapat pas lagi ke Solo di akhir 2009 juga. Yang hijau dan merah dapat di Kampung Batik Laweyan Solo. Katun cap dengan harga di bawah Rp100.000 tapi suka deh motif dan warnanya. Kalau yang kupu-kupu hitam putih dan coklat sebelahnya dapat di batik Danarhadi Solo, sambil belanja batik bisa sekalian mengunjungi museum batiknya disitu lho.

MotifBatik di bawah adalah besurek, batik khas Bengkulu. Belinya dulu juga nitip temen yang asal Bengkulu. Dengan motif bunga semacam kaligrafi tulisan arab dan aksen bunga bangkai khas bengkulu dan warna-warna cerah membuat batik ini sangat menarik. bahannya sih bukan katun dan bukan batik tulis juga tapi dengan memakai furing saat menjahitkannya, maka batik ini bisa dipakai dengan nyaman dan pasti eksis kalau dibuat foto-foto image
IMG_9295
Batik kuning dan merah di bawah motifnya kupu-kupu, capung dan bunga yang juga lucu. Batik ini ku dapat di Cirebon juga pas kunjungan Oktober lalu. Warnanya yang segar pasti membuat pemakainya jadi lebih terlihat muda dan semangat. Batik katun bukan tulis ini harganya hampir sama dengan mega mendung katun yang biasa.

DSC05743

Batik warna pastel seperti di bawah terlihat nyaman dipakai dan dipandang semua kalangan. Motif bunga dan tumbuhannya juga tidak penuh tetapi memberi kesan yang elegan dan cantik. Cocok buat cewek maupun cowok. bahannya katun dan tulis dengan harga sekitar Rp100.000 ke atas.

DSC05730Batik motif penyu di bawah konon disebut motif reformasi, gak tau sih maksudnya apa tapi batik katun tulis ini sangat menarik dan unik. Warnanya yang kalem walau dengan motif yang penuh tapi akan sangat bagus jika sudah menjadi baju.

DSC05734

Batik hitam dengan motif bebek, ayam, pohon dan bunga warna-warni ini adalah batik kesukaanku yang ku dapat di Masinah beberapa tahun lalu dan belum ku jahitkan sampai sekarang. Batik tulis katun dengan pinggiran yang tanpa jahitan dan memang gak perlu dijahit pinggirannya kalau nanti dijahitkan. Perpaduan warna dan motifnya sangat ku suka dan jadi hiasan dinding aja kayaknya lebih bagus.

DSC05738

Dulu di Cirebon punya penjahit langganan yang pas banget dan bagus mengatur motif batik yang bermacam-macam, namanya Pak Sam yang tempatnya ada di belakang RS Muhammadiyah di Jl. Dr Wahidin Cirebon, semoga ntar pas kerja lagi dapat penjahit yang pas kayak Pak Sam itu lagi. Dan mulai 2012 katanya setiap rabu dan jumat pakai batik di kantor jadi bisa lebih ada alasan untuk beli-beli batik lagi, barang kali ada yang berminat membelikanku batik?? Lembaran kain aja dan katun yang penting ntar biar ku jahitkan dan lebih sesuai dengan tubuhku….