Umi Vuitton Series 2

Umi Vuitton

Umi Vuitton Series 2: A Way to Blue Sky
Model: Hunny SeekR, Vitong Onopka, Tesa Verhoef, David Gandi, Paminto
Photographer: Paminto Meisel,
Makeup Artist: Estu McGrath
Hair: Guido Paminto
Set: Estu
Stylist: Marie Amelie Sautse
Umi VuittonHutan Mangrove Kota Langsa menjadi lokasi pemotretan iklan Umi Vuitton kali ini.
Umi Vuitton
Umi VuittonHutan Kota Langsa juga menjadi latar seri kedua ini.
Umi Vuitton
Umi VuittonKami pun melanjutkan perjalanan ke Bukit Lawang untuk mendapatkan gambar terbaik demi Umi Vuitton.
Umi VuittonUmi Vuitton menswear S/S 2016
Umi VuittonLangkat yang ceria.
Umi Vuitton

Mencari Batak Bagian I

Ini memang cerita lama tetapi masih saja saya simpan dalam hati dan jiwa ini. Rincian perjalanan ini tidak saya ingat dengan baik dan tidak pula saya catat. Jadi ya seadanya saja.

Untuk perjalanan yang merupakan pengalaman saya pertama ke Medan ini saya menggunakan cuti beberapa hari. Ngapain sih kok saya milih Medan buat jalan-jalan? Ehm… Bukan Medan-nya sih tetapi karena Batak-nya lah. Tepatnya seorang Batak, yang tidak tinggal di sana juga sih.

flight

Yeaayyy…. Welcome to North Sumatera.

polonia

Saya dijemput Kokoh ke Bandara Polonia dengan menggunakan bentor.

elizabeth (3)

Lalu kami sarapan di warung kopi sekitar Rumah Sakit Santa Elizabeth sambil menunggu Mbak Tesa dan Mas Gandy.

elizabeth (2)

Indomie goreng vs mie Aceh.

elizabeth

Akhirnya Mbak Tesa datang dan membawa kami ke tempat makan lagi yaitu Lontong Kak Lin.

kak lin (2)

Rumah makan di depan Smansa ini rame banget. Mbak Tesa dan Mas Gandy akhirnya memesan gado-gado dan saya hanya mencicipi.

kak lin

Saya yang tidak tahu mau ke mana di Sumatera Utara selain ke Danau Toba dan menemui teman-teman ini maka manut saja untuk diajak ke Bukit Lawang. Bunda Dip, suami, dan kedua anaknya juga turut dalam darma wisata dadakan ala-ala ke Bukit Lawang ini. A family trip that started at 11.

bukit lawang (3)

Pemandian alam Bukit Lawang ini berada di kawasan Taman Hutan Nasional Gunung Leuser, tepatnya di Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat. Bukit Lawang jaraknya 80 km di sebelah barat laut Kota Medan.

bukit lawang (4)

Mandi-mandi cantik kayak gini atau menggunakan perahu dari ban bekas yang banyak di sewakan di sini bisa menjadi pilihan bagi pengunjung,

bukti lawang

Kami sempat melakukan pemotretan di jembatan yang ada di Bukit Lawang dan beginilah hasilnya.

bukit lawang (2)

Di tempat iniAnda akan ditawari persewaan tikar sekaligus gubuk-gubuk untuk berteduh yang bisa digunakan untuk gegoleran manja menikmati pemandangan yang ada. Jangan lupa menawar dan melihat-lihat lokasi yang akan Anda sewa umtuk beristirahat. Tersedia juga wisma-wisma penginapan yang bisa disewa jika Anda ingin menginap. Di Bukit Lawang banyak bule-bule lho dan konon di sini banyak klub-klub gitu. Di sini alamnya masih asri sehingga di hutannya banyak satwa liar dan ada pusat rehabilitasi orangutan. Karena keterbatasan waktu maka saya tidak sempat trekking ke hutan ataupun berkunjung ke klub-klub itu. Cuma selalu sempat mikirin kamu yang mungkin tidak pernah mikirin aku. 🙁

bukit lawang

Sekitar pukul 15.30 sore kami kembali ke Medan dan menyempatkan diri untuk makan sejenak di Rumah Makan Mbak Moel.

mbak moel

Menu di sini menggiurkan dan enak. Kurang kerupuk doang sik.

mbak moel (2)

Matur nuwun Bunda untuk traktirannya.

mbak moel (3)

Dedek-dedek ini sudah segede ini lho sekarang. Dan aku masih sendiri. Dan aku masih tetap mikirin kamu.

DSCF0485

Kami tiba di Medan sekitar pukul 20.00 WIB dan saya langsung memesan travel Paradep dengan tujuan Danau Toba. Katanya sih bisa diantar sampai dengan Parapat walaupun entah Parapat itu di mana karena saya tidak mempersiapkan sama sekali perjalanan ini. Kata Mbak Tesa nanti dari Parapat masuk ke Pelabuhan Ajibata lalu menyeberang ke Tuk-Tuk baru mencari penginapan di sana.

Hari kedua saya di Sumatera Utara dimulai dengan travel yang menjemput saya pukul 04.30. Di Medan pukul segitu masih gelap banget ya. Jemput sana, jemput sini, berhenti di kamu, eh, berhenti di pool lalu cus deh berangkat menuju tujuan. Supir travelnya ngeri kali cara bawa mobilnya.

paradep

Sekitar pukul 8.30 saya tiba di Pematang Siantar, emmmmm… Di sini ada… emm.. Oke…. Siantar oh Siantar. Ternyata sebagian besar penumpang turun di kota ini sehingga saya dioper ke travel lain untuk menuju Parapat karena penumpang tinggal saya seorang. Di travel kedua ini jalurnya mulai berkelok-kelok dengan pemandangan yang rindang di kanan kiri dan teknik mengemudi supir yang juga ngeri-ngeri sedap. Ada rombongan keluarga sekitar 5 orang yang akan menghadiri kondangan di Parapat yang ikut menumpang. Inang-inangnya sudah memakai kebaya, konde, dan full makeup. Musik di travel ini adalah lagu-lagu Batak yang di-remix yang belum pernah saya dengar, serasa dangdut Pantura Jawa gitu. Setelah mengantar rombongan keluarga itu, sang supir bersedia mengantar saya ke Ajibata dengan menambah ongkos 10 atau 20 ribu. Ya daripada harus berganti angkot atau jalan ke pelabuhan yang mengkin akan menyebabkan saya diculik orang asing ya mending minta diantar saja.

Di Ajibata, sambil menunggu kapal yang baru akan berangkat 30 menit lagi, saya mengisi perut dulu.

parapat

Motor yang akan diseberangkan ke Pulau Samosir.

parapat (2)

Kapal yang akan membawa saya ke Tuk-Tuk di Pulau Samosir.

kapal toba

Saya hampir sampai di Samosir.

tuk-tuk (3)

Kapal yang ke Tuk-Tuk ternyata berhenti di Carolina Cottages sehingga jika ingin menginap di sini bisa langsung saja reservasi. Carolina ini sebenarnya harganya juga cukup terjangkau dan fasilitasnya bagus, tetapi saya memilih untuk mencari wisma atau homestay yang yang lebih terjangkau tarifnya sehingga saya ke luar dari kompleks Carolina dan menyusuri jalan di Tuk-Tuk.

tuk-tuk (5)

Di Tuk-Tuk banyak terdapat penginapan, mau yang menghadap danau langsung atau yang harus jalan dan menggelundung sedikit, mau yang ber-AC, kipas angin, atau tanpa keduanya, mau yang mahal atau murah banget juga ada di sini.

tuk-tuk (6)

Vandus’s View Guesthouse and Rest ini tarifnya tidak semahal Carolina dengan pemandangan dan fasilitasnya oke tetapi sayang saat itu sudah penuh.

tuk-tuk

Setelah melihat beberapa penginapan, di siang yang terik banget, maka saya memutuskan untuk menginap di penginapan yang saya lupa namanya ini. Tarifnya Rp75.000,00 per malam dengan fasilitas kamar mandi dalam, kipas angin, tetapi tidak termasuk sarapan.

tuk-tuk (10)

Kamar saya adalah yang tengah dan terletak di bagian penginapan yang bawah. memang kalau mau ke restauran atau ke jalan utama harus sedikit naik, tetapi jika mau ke danau tinggal turun sedikit.

tuk-tuk (2)

My private pool with the best view on earth. Maka nikmat Batak mana lagi yang kamu dustakan.

tuk-tuk (7)

Penghuni kamar di samping kanan saya adalah seorang bule Australia yang sangat tergila-gila durian Sumatera Utara sedangkan kamar samping kiri saya adalah bule Jepang yang saya hanya bertemu sekali saja.

 tuk-tuk (9)

Malam itu saya makan di restauran penginapan ini dan hanya ada saya dan bule Australia saja tamunya. Kami akhirnya berbincang-bincang. Dia bercerita kalau tadi siang dari Batu Raja di Ambarita dengan menyewa motor, yang membuat saya punya ide untuk ke Ambarita saja besok pagi, toh, kata dia kan dekat paling 1 km lebih dikit jadi bisa jalan kaki. Dia juga bercerita tentang istrinya yang merupakan orang Batak dan sekarang sedang di rumah orang tuanya di Medan, sedangkan si Bule lebih memilih menikmati liburannya di Indonesia kali ini dengan berkeliling Sumatera Utara. Bule ini agak skeri deh karena dia terobsesi tentang alien di mana dia baru saja mendapatkan buku tentang alien yang telah lama dia cari di sebuah perpustakaan di Samosir dan akhirnya buku tersebut dibelinya dari perpustakaan. Dia bercerita tentang alien-alien di dunia ini dan bagaimana dia pernah merasakan tidak sadarkan diri lalu jiwanya seperti dibawa alien. Membunuh waktu sih membunuh waktu tapi kalau ceritanya serem gini bagaimana dong. Saya agak sungkan untuk meninggalkan bule yang masih semangat bercerita tentang alien ini tetapi syukur setelah hujan agak reda dan kami telah mengobrol sekitar 2 jam, maka saya pura-pura mengantuk dan segera kembali ke kamar dan meninggalkan si bule dengan bukunya di reastauran. Tidak sabar menanti perjalanan esok hari ke Ambarita dan entahlah ke mana.

tuk-tuk (8)