Dieng Plateau

Dieng Plateau
Vogue Italia January 2016: Ancient Pieces
Model: Paminto, Zee
Fotografer: Paminto Meisel, Denpe Roversi
Makeup Artist: Estu McGrath
Hair: Guido Paminto
Set: Estu
Stylist: Franca Soestu
Cover story: Windy Road Memories

Dieng PlateauPosong berada di Kabupaten Temanggung hampir berbatasan dengan Wonosobo dan hanya ada gapura kecil yangmengantarkan kita seperti masuk ke jalan kampung yang hanya cukup dilewati 1 mobil. Jalanan menuju Posong masih berupa makadam dengan kondisi naik turun. Sayang sekali sore itu sedang mendung gelap sehingga pesona 7 puncak gunung yang berada di sekitarnya tidak begitu tampak.
Dieng Plateau
Zee is wearing tenun Lombok dress.
Dieng Plateau
Kemeja kain taplak yang agak keras dan seperti saringan yang saya dapat di Pasar Klewer, Solo dikombinasi dengan songket Palembang.
Dieng Plateau
On the day after, we went to Arjuna Temple in Dieng Plateau. Im wearing faux mink coat, deep v neck t shirt, and orange Ulos Sadum as scarf.
Dieng PlateauZee berbalut pashmina tenun Lombok.
Dieng

Pashmina tenun Lombok yang juga saya kenakan di Kawah Sikidang

Dieng

The Kondangan Team.
Dieng

Prau, Mudah, Meriah, dan Indah

Gunung Prau mungkin sedang ngeheits abis di kalangan pencinta gunung maupun para muda-mudi yang ingin merasakan indahnya di puncak gunung tetapi dengan perjuangan yang tidak terlalu berat. Tetapi, latar belakang saya ikut ekspedisi mendaki Gunung Prau ini bukan karena itu karena saya baru pertama kali mendengar namanya saat diajak Chevalier untuk bergabung ke rombongannya. Saat itu saya sih sedang mureee kali dan pelampiasan karena habis gagal ke Gunung Papandayan. Pendakian ke Papandayan adalah inisiatif saya. Saya yang memilih berangkat tanggal 15 Agustus 2014 agar bisa merasakan 17an di puncak gunung. Saya juga yang menyiapkan logistik untuk di sana. Akan tetapi, ndilalah sakit maag saya kumat sejak tanggal 12an dan tak tertahankan sakitnya setelah Jumatan, beberapa jam sebelum keberangkatan, sehingga saya terpaksa harus sowan ke UGD rumah sakit dan batal ikut mendaki Papandayan. Akhirnya rombongan teman kantor yang tergabung dalam  PJ11 Adventure Club berangkat berdelapan tanpaku. (salahe dewe ra njogo awak lan mangan) -____-‘

image

Cheva mengajakku ke Prau sekitar tanggal 20 dan saat itu juga aku langsung cari tiket kereta ke Purwokerto yang mendekati keberangkatan kereta rombongan Cheva yang berjumlah 7. Singkat cerita, aku naik kereta dengan keberangkatan pukul 18.50 pada hari Jumat, 5 September lalu dari Stasiun Pasàr Senen. Sekitar pukul 20.30, Cheva mengabari di Whatsapp kalau komuter dia dari Bogor masih tertahan di Stasiun Manggàrai di saat 6 orang anggota rombongan yang sudah di Senen sedang harap-harap cemas menunggu Cheva. Hingga saat keberangkatan kereta pukul 20.50, Cheva belum sampai juga di Senen dan ternyata dia yang pegang semua cetakan tiket rombongan. Walhasil saat tahu seluruh rombongan tertinggal kereta dan mereka memutuskan akan naik kereta pada Sabtu pagi, di saat saya sudah lewat Cirebon, saya bingung mau bagaimana nanti di Purwokerto. Daripada saya terlantar atau menginap di hotel à la-à la, maka saya memutuskan untuk bablas ke Kutoarjo saja, di mana kereta ini akan bermuara, yang saya pikir sudah dekat ke Yogyakarta jadi saya bisa jalan-jalan à la-à la saja di sana sambil menunggu rombongan. Menurut Mbah Google, cara menuju Yogyakarta pada pukul 03.00 dini hari dari Stasiun Kutoarjo adalah dengan ke luar stasiun ke arah jalan besar dan menunggu bus di depan kantor BRI yang lumayan nampak gedungnya dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Saya tidak memilih naik Prameks karena baru ada pukul 06.00 WIB.

Sampailah saya di Malioboro, 06 September 2014 pukul 06.30 WIB setelah naik bus jurusan Cirebon-Yogyakarta yang melintas di depan BRI dengan tarif Rp30.000, dilanjutkan naik TransJogja Rp3.000 dari Terminal Giwangan ke Halte Kridasono di Malioboro.

image

Makan pecel dulu lah kita.

image

Nyam….. makan pecel komplit nambah lauk beberapa kali seharga Rp28.0000,00. 😁

image

Setelah kenyang, muter-muter sebentar di Pasang Beringharjo tanpa tujuan, diteruskan membunuh waktu di Benteng Vredenburg. Masuk ke Benteng Vredenburg ini cukup membayar Rp2.000,00 untuk umum dan ada tarif khusus pelajar. Pada saat bergalau ria tidak jelas di benteng ini, aku iseng-iseng menghubungi temanku, Anggie, yang kantornya di Yogyakarta dan rumahnya di Magelang. Awalnya sih aku mau melanjutkan perjalanan ke Wonosobo via Magelang dengan numpang cemil-cemil sikit, eh ternyata alhamdulillah Mak Anggie, suami, anak, dan adiknya sedang di Yogyakarta dan tidak begitu jauh dari lokasiku. Lalala yeyeye. 😁

image

Akhirnya Mak Anggie dan keluarga menemaniku jalan-jalan di Kebung Binatang Gembira Loka dong. Tiket masuk kebung hinatang ini Rp25.000,00 per kepala. Lumayan banget muter-muter di sini hingga pukul 11.00 lebih.

image

Lalu kami pun uscita us us us sanah menuju homestay di mana mereka akan check out pindah ke hotel untuk malam nanti dan aku bisa numpang mandi juga. 😁

image

Dalam perjalanan ke homestay, aku berhasil menghubungi travel Sumber Alam yang kudapat dari internet.

Travel Sumber Alam, Yogyakarta 6: Terminal Jombor Pintu Keluar sebelah Utara (Kios A2) Telp. (0274) 7172017.

Dengan harga Rp45.000,00 dan keberangkatan pukul 13.30 WIB maka saya bisa santai sejenak di homestay sebelum diantar ke Terminal Jombor, bahkan sempat nongkrong nyemil es krim di salah satu kafe dulu karena kepanasan. 😄

Teman-teman yang naik kereta pagi dari Jakarta sudah tiba di Purwokerto dan sedang menuju Wonosobo menggunakan bus umum di saat saya sedang menunggu travel yang katanya berangkat pukul 13.00 tetapi belum tampak juga hingga hampir pukul 13.30 WIB. Kalau tarif bus dari Purwokerto-Wonosobo itu Rp20.000,00 dengan menggunakan bus 3/4 katanya. Tepat pukul 13.30 WIB travelnya datang yang ternyata berupa mobil minibus kapasitas 12an orang dan lumayan bagus dengan harga yang terjangkau tersebut. Perjalanan dari Yogyakarta ke Wonosobo diperkirakan akan ditempuh dalam 2,5-3 jam. Jalanan yang dilalui cukup menantang medannya karena berbelok-belok naik turun pegunungan dan terkadang agak rusak di beberapa titik. Sempat juga terjebak macet hampir 45 menit saat melewati lapangan tempat berlangsungnya acara dangdutan atau apalah yang menyebabkan warga dan kendaraan mereka tumpah ruah di jalan. Sekitar pukul 17.00 WIB saya tiba di Wonosobo, tepatnya di Taman Plaza, sebuah alun-alun yang indah dan bersih di pusat kota Wonosobo. Sambil menunggu teman-teman yang masih persiapan di rumah Cheva, saya menikmati semangkok mie ongklok sedap nan berlendir kenyal-kenyal nikmat beserta 5 tusuk sate ayam di dekat situ.

image

Sekitar pukul 18.00 WIB, Cheva dan rombongan datang menghampiri saya dengan menggunakan angkot sewaan unutuk menuju Dieng. Dalam remang-remang angkot, berkenalanlah saya dengan anggota rombongan yang lain. Saya hanya mengenal Cheva dan Tepoy sebelumnya, sedangkan dengan Jingga, Rere, Mbak Hani, dan Ihwan baru berkenalan dalam remang angkot tersebut. Biaya sewa angkot dari Wonosobo ke Dieng Rp125.000,00 sekali jalan, sebelum kenaikan BBM kemarin lho ya. Tersedia juga elf dan bus 3/4 dari Wonosobo ke terminal Dieng PP tetapi saya kurang tahu tarifnya.

Sekitar pukul 19.00 WIB kami tiba di Desa Patak Banteng, base camp tempat pendaftaran bagi para pendaki Gunung Prau. Biaya pendaftaran sebesar Rp5.000,00 per kepala harus dibayar ke petugas di base camp yang letaknya di belakang salah satu rumah penduduk. Kita harus melewati sisi samping rumah dan mripit-mripit untuk sampai ke base camp yang ternyata penuh dengan orang yang akan mendaftarkan diri untuk mendaki. Setelah mendaftar, ke toilet dan beres-beres maka kami mulai mendaki sekitar pukul 19.30 WIB. Janganlah terkejut ketika melihat parkiran motor dan pendaki yang jumlahnya tidak kalah dengan pengunjung mal pada akhir pekan. Ini gunung atau mal, gumamku.

Ada dua jalur mendaki Gunung Prau, yaitu melalui Bukit Teletubbies yang memerlukan waktu sekitar 4 jam dengan jalur yang cocok untuk pemula, atau melalui jalur Patak Banteng yang jalurnya agak curam tetapi waktu tempuh hanya sekitar 3 jam.

Dari base camp ke pos 1, kami melewati perkampungan rumah penduduk dan jalananya masih mudah dilalui bahkan motor pun bisa melaluinya dan belum diperlukan lampu senter karena pencahayaan dari sekitar masih mencukupi. Tiket masuk kita akan diperiksa saat kita berada di Pos 1. Kemudian barulah kita mulai melewati jalur menanjak nan curam. Saat itu aku, Tepoy, dan Ihwan sebagai tim pembuka lahan. Aku membawa tenda dan nesting. Ihwan juga membawa tenda satu lagi. Jalur Patak Banteng ini ternyata rusak dan penuh debu. Aku pikir ini karena pekan yang lalu pada akhir bulan Agustus diadakan Dieng Culture Festival, tetapi kata Mas-Mas yang asli situ yang sedang mengantdr tsmu untu mendaki yang sedang duduk beristirahat sejenak di tengah hiruk pikuk pendaki, katanya di sini memang semakin hari jalur dan alamnya semakin rusak bahkan dibanding beberapa pekan yang lalu saat dia naik. Mungkin juga karena tidak ada waktu larangan mendaki dan cukup mudahnya pendakian di situ. Ada rombongan yang menyalakan petasan berkali-kali sepanjang jalan dan kami hampir selalu berdekatan dengan mereka. Di tanjakan lain yang tidak ada pohon-pohon sama sekali, ada beberapa utas tali yang sepertinya terbuat dari kain dengan posisi saling menyilang digunakan sebagai pegangan pendaki pada bagian paling rusak dan curam di jalur Patàk Banteng ini. Setelah melewati bagian yang menurut saya paling berbahaya ini, kami duduk-duduk di rumput di lereng gunung dan memandangi langit yang penuh bintang.

Sekitar pukul 22.30 WIB, rombongan pembuka lahan tiba di puncak Gunung Prau dan kami langsung mendirikan tenda. Kami dapat lahan yang agak miring karena sebagian besar lahan ternyata sudah dipakai oleh rombongan lain. Saya tercengang melihat begitu banyak tenda yang didirikan di sini. Hampir pukul 24.00 saat tenda sudah siap, rombongan Cheva dan cewek-cewek tiba dan kami langsung menyantap makan malam yang telah dibawa dari Wonosobo. Menu makan malam kami dari sambal goreng ati, telur dadar, ikan goreng, ayam goreng, capcay, tempe mendoan, enaaaaakkkk.. 😀

Minggu, 7 September 2014 pukul 4.30 WIB. Dalam suhu udara yang cukup dingin, saya mulai bangkit dari tenda dan bergegas mèngejar matahari terbit dari lapangan. Saya ditemani Ikhwan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan teman-teman yang masih belum beranjak dari tidur mereka. Kami memiljh untuk pergi ke bukit agak jauh di depan lapangan tempat kami mendirikan tenda di mana terlihat beberapa orang sudah ada di sana.

Pemandangan matahari terbit yang begitu indah.

image

Bisa mendapatkan bonus pemandangan Gunung Sumbing dan Sindoro dari dekat dan Gunung Merapi dan Merbabu di kejauhan. Sungguh indah negeriku Indonesia tercinta ini.

image

Nampang sikit lah awak di puncak gunung-gunung terindah di dunia.

image

Oh indahnya….. 😍

image

Jika melihat ke depan akan mendapatkan pemandangan matahari terbit dan gunung-gunung yang indah, maka saat kita menghadap ke belakang akan mendapatkan lautan manusia yang seperti antre mau nonton film yang paling ngeheits saat ini di bioskop.

image

Gunung Prau 2565 mdpl.

image

Selain keindahan gunung-gunung di sekitarnya, Gunung Prau juga terkenal akan keindahan bungan daisinya yang menyebar di segala penjuru gunung. Terpampang nyata keindahan bunga ini.

image

Lautan tenda di puncak Gunung Prau. Tidak heran begitu banyak orang yang datang ke sini karena jalurnya yang bisa dibilang mudah dan jarak tempuh yang tidak lama serta pemandangan luar biasa yang didapat, maka banyak ABG hingga orang tua yang mendaki ke sini. Biarlah para pendaki memakai hot pants, wedges, leather bikers jacket atau pakaian apapun yang mereka inginkan, ASAL tolong jangan merusak alam di sini. Banyak para pendaki yang menuliskan nama mereka pada pohon dengan menggunakan cat atau pun guratan pisau layaknya itu adalah hall of fame atas kehadiran mereka. Ada juga yang membakar kayu atau membuat perapian di sekitar pohon-pohon yang rawan kebakaran, belum lagi sampah yang ditinggalkan tanpa dipedulikan. Pengelola Gunung Prau mungkin perlu mengatur jadwal tutup dari pendakian layaknya Gunung Gede/Pangrango atau gunung-gunung lain demi keberlangsungan ekosistem dan hayati di gunung ini. Atau penutupan selama 1 tahun agar gunung ini bisa istirahat sejenak dari kebisingan strangers yang selama ini mengusik dan merusanya.

image

Sekitar pukul 08.00 WIB kami telah selesai membereskan tenda dan siap untuk kembali ke Dieng melalui jalur Bukit Teletubbies. Pemandangan Telaga Warna dari Puncak Prau.

image

Tepoy dengan bunga-bunga daisi.

IMG_7690

Melewati Bukit Teletubbies. Andaikan kau ada di sini, mungkin kita akan berpelukan seperti Teletubbies….. 😣

image

Pagi itu saya dan Tepoy sebagai tim pembuka lahan dan tiba di terminal Dieng sekitar pukul 11.00 WIB sehingga kami bisa makan-makan dulu sambil menunggu yang lain tiba.

image

Saya memilih makan sop jamur di warung Mbak Mien dan teh manis panas. Di Dieng sini tidak ada minuman es teh atau es-es lainnya lho.

image

Sekitar pukul 12.00 WIB saat semua rombongan telah tiba, saya ditugasi menghubungi supir angkot yang mengantar kami dari Wonosobo untuk menjemput dan membawa kami kembali ke sana. Tik tok tik tok hingga pukul 13.30 supir tersebut belum datang juga. Akhirnya kami berpindahke masjid dari warung Mbak Mien. Sudah pukul 14.00 WIB dan supir belum datang jugà. Saat ditelepon selalu saja dia bilang sudah dekat lah, ini lah, itu lah tetapi kami tetap menunggu sambil membeli cilok di depan masjid, bahkan beli oleh-oleh khas Dieng seperti Purwaceng yang saya beli ini. 😆

image

Sudah lewat pukul 14.30 WIB dan supir angkot tersebut belum juga datang. Mau ditinggal kasihan, mau ditunggu kok belum datang juga. Akhirnya kami menunggu di depan pertigaan utama di Dieng karena sudah geregetan menunggu.

image

Pukul 15.05 pak supir datang denganangkotnya dan langsung membawa kami ke Wonosobo. Cheva kuminta menghubungi travel Sumber Alam untuk membawa kami dari Wonosobo ke Purwokerto.

Travel Sumber Alam, Wonosobo: JL. S Parman No. 32 (0286) 321 589, 0853 2666 0688

Pada saat memesan travel ini, kami sampaikan bahwa kami berdelapan dan akan ke Purwokerto untuk naik kereta pukul 19.50 WIB sehinngga kami meminta diutamakan dan dimohon pengertiannya. Akhirnya pihak travel bersedia akan memberangkatkan pada pukul 16.30 WIB dengan tarif per kepala Rp45.000,00 asal kami harus sudah tiba di lokasi travel pada waktu tersebut. Pukul 16.10an kami telah tiba di kantor travel yang letaknya dekat Taman Plaza tersebut dan langsung turun dari angkot dengan membayar tarif sewa seperti saat berangkat, yakni Rp125.000,00. Sambil menunggu kedatangan mobil travel, kami menikmati mie ongklok di seberang jalan kantor Sumber Alam tersebut. Mobil travel baru datang hampir pukul 17.00 WIB dan kami semakin deg-degan jangan sampai tertinggal kereta untuk yang kedua kalinya. Tetapi, walau deg-degan kami masih bisa tertidur pulas di sepanjang perjalanan karena sudah pada letih. Apalagi aku, yang sangat capek dan sedih menjalani hari-hari tanpamu.

image

Sekitar pukul 19.40 kami tiba di kota Purwokerto, tetapi kami harus menambah biaya Rp10.000,00 per kepala agar diantar sampai ke stasiun. Awalnya sih kami berencana mandi-mandi cantik dan gegoleran manja serta makan kenyang di rumah Mbak Hani jika sampai Purwokerto masih sore. Apa daya karena sampainya sudah mepet, maka Bapak Mbak Hani datangbke stasiun dan membawakan kami tempe mendoan seabreg buat dicemil di kereta. Dan ternyata……, keretanya telat. Kereta yang mengangkut rombongan Cheva diperkirakan akan tiba pukul 21.00 WIB, apa kabar keretaku yang harusnya berangkat pukul 21.00 WIB? :'(

IMG_7731

Kami memilih untuk duduk selonjoran di lantai stasiun saja sambil menunggu kereta. Kereta Cheva dkk datang pukul 21.00 WIB dan keretaku ternyata tidak begitu jauh jaraknya, yakni datang pada pukul 21.15 WIB. Dengan aroma keringat pada kaos, jaket, training dan tubuh ini yang tidak mandi 2 hari, mohon maaf untuk siapa pun di sekitar kursiku duduk di kereta malam itu.