Papandayan Perjuangan

Papandayan Perjuangan ini merupakan kegiatan pendakian Gunung Papandayan yang sudah dari tahun 2014  saya rencanakan dan ingin lakukan. Sebenarnya saya sudah hampir berangkat ke Gunung Papandayan bersama teman-teman #PJ11AdventureClub untuk menyambut perayaan 17 Agustus 2014, tetapi apa daya beberapa jam sebelum keberangkatan sakit maag saya kambuh dan memaksa saya berangkat ke rumah sakit dan istirahat selama beberapa hari. Karena kegagalan mengikuti trip tersebut, maka saya bertekad untuk mengadakan Papandayan Perjuangan ini. Awalnya Papandayan Perjuangan ini saya rencanakan pada awal Februari kemarin, eh ternyata gunung-gunung pada banyak yang ditutup sampai dengan akhir Maret, jadinya diundur menjadi awal April deh. Pada awal April, beberapa orang yang sudah mendaftar untuk ikut ternyata berhalangan hanya beberapa hari sebelum tanggal yang sudah ditentukan sehingga lebih baik dibatalkan dan dijadwal ulang di akhir bulan Mei karena jadwal saya hanya kosong di tanggal tersebut. #pffttt #soksibuk #kibasrambut #memangsibuk

Perjalanan kali ini saya berhasil mengajak 7 teman dengan komposisi 1 cowok dan 6 cewek, 3 teman sekantor dan 4 temannya teman sekantor, 2 orang pernah naik gunung dan 5 orang newbies, 1 orang Sunda dan 6 orang Batak. Jadi perjalanan kali ini temanya horas mejuah-juah. Dengan kompisisi pemula yang banyak, selain ada yang membawa perlengkapan sendiri, saya juga meminjam beberapa perlengkapan naik gunung teman-teman #PJ11AdventureClub mulai dari matras, sleeping bag, tas, tongkat, tenda, dan syukurlah semua terpenuhi.

Papandayan (2)

Jumat malam, di mana kemacetan luar biasa selalu terjadi di Jakarta, sama seperti malam itu. Farida yang harus mengikuti rapat di Lapangan Banteng baru tiba di kantor pukul 18.00 wib, Kristine yang baru saja mengikuti kegiatan kantornya di Taman Buah Mekarsari terjebak macet dan baru tiba di kantor pukul 18.15 wib, teman-teman baru yang kantornya di Soedirman masih ada yang dikejar deadline, dan saya sendiri belum packing doang. Sekitar 20.15 wib kami semua berkumpul di pool bus Primajasa di dekat BKN, Cawang dan segera mengambil nomor antrean. Bus ke  Garut cukup banyak peminatnya sehingga jika kita ingin naik, maka kita harus mengambil nomor antrean dulu. Saat itu kami dapat nomor antrean 886 s.d. 893. Saat mendekati nomor antrean, kita harus mendekati bus agar tahu jika kita dipanggil karena jika kita tidak tahu maka nomor kita akan dilewati. Bus yang kami tumpangi berangkat tepat pukul 21.00 wib dengan tarif per penumpang Rp52.000. Bus dengan tempat duduk 2-3 dan ber-AC ini cukup nyaman walau agak sempit dan terkadang ngebut agak skeri di tol.
Papandayan (60)

Kami tiba di Terminal Guntur, Garut sekitar pukul 1.30 dini hari dan langsung melanjutkan perjalanan ke Pasar Cisurupan dengan menggunakan angkot yang banyak tersedia di depan terminal untuk membawa pendaki dengan tari Rp20.000 per orang. Dengan jarak tempuh yang lumayan jauh, kami harus berdesak-desakan karena mobil angkot dengan kursi berjajar ke depan ini harus diisi oleh 4 penumpang tiap baris dan supir baru akan memberangkatkan angkot jika sudah terpenuhi kapasitas 15 penumpang. Kami bergabung dengan rombongan Olan yang berjumlah 5 orang. Perjalanan dari Terminal Garut ke Pasar Cisurupan ditempuh dalam waktu kurang lebih 30 menit dalam keadaan jalan bebas macet. #emangJakarta? #hah?

Dari Pasar Cisurupan kita harus berganti mobil bak terbuka aka pick up untuk menuju Pos I dan parkiran Gunung Papandayan. Kapasitas pick up ini juga 15 penumpang dan tarif per orangnya juga Rp20.000 sama seperti angkot tadi hanya waktu tempuhnya lebih singkat walau jalan yang dilalui menanjak. Pemandangan langit yang bertabur bintang terhampar di atas kita jika tidak sedang mendung seperti malam itu. Kata teman-teman yang ke sini tahun lalu, jalan yang dilalui pick up sangat rusak dan hancur, tetapi saat kami melewati kemarin jalannya sudah halus. Wefie di atas pick up.
Papandayan (3)

Pada saat memasuki Pos I kita akan didata berapa jumlah anggota yang akan berkemah dan diharuskan membayar uang administrasi. Kami yang se-pick up berjumlah 15 orang sepakat bergabung menjadi 1 grup saja dan membayar administrasi Rp112.000 atau sekitar Rp7.500 per orang. Pick up menurunkan kami di dekat warung-warung sebelum parkiran di mana kita bisa ke toilet atau beli makanan, minuman, kaos tangan, atau printilan yang kurang.
Papandayan (4)

Memasuki parkiran, kami membayar biaya administrasi Rp30.000 sebelum memulai pendakian. And you know what? We could actually drive a car to get to this place. There were already some city cars and even an old sedan in car park. It’s even cheaper, more comfortable, and save. Kami mulai mendaki sekitar pukul 4.15 wib dengan berjalan cantik nan pelan. Sudah lama nggak olah raga sih jadi letoy gini. Ternyata cukup banyak pendaki yang mulai bergerak saat itu sehingga kami cukup membuntuti yang depan agar tidak tersesat.
Papandayan (6)

Setelah berjalan dan beristirahat lalu berjalan lagi sekitar 45 menit, kami tiba di dekat kawah.
Papandayan (5)

Di dekat kawah ini kami berfoto-foto dan berfoto-foto dan terus foto-foto hingga lebih dari pukul 6.00 wib.
Papandayan (7)

Kumpulan siluet 7 orang pendaki.

Guess who is this.
Papandayan (10)

Looks cherfull even only a silhoutte.
Papandayan (11)

Unang mandele, Eda.
Papandayan (12)

Fierce.
Papandayan (13)

Strong.
Papandayan (14)

Playful.
Papandayan (8)

Keep on walking.
Papandayan (9)

The pros.
Papandayan (16)

Syella and the sun.

Papandayan (18)

Smoking hot Nainggolan.

Papandayan (19)

Rombongan kami dan rombongan Olan berfoto bersama.
Papandayan (15)

Zie yang membawa tenda, 2 matras dan sleeping bag. Kuat bingits yes?

Papandayan (17)

Kami berhenti di dekat kawah untuk sarapan hingga pukul 7.15 wib. Kami sarapan mie rebus dan gorengan serta minum teh manis panas di sini. Harga seporsi mie Rp10.000, satu buah gorengan Rp1.000, dan air mineral ukuran 1,5l Rp10.000, sama seperti di warung dekat parkiran. Di sekitar kawah ini banyak tumbuh pohon cantigi yang buahnya bisa dimakan langsung seperti lalapan. Kakak beradik ini adalah anak pemilik warung yang sedang bermain. How cute they are.
Papandayan (20)

Songon parbinsar ni ari manogot ma nian las ni rohanta.
Papandayan (21)

Kami siap melanjutkan perjalanan.
Papandayan (22)

Molo loja mangulon.

Papandayan (24)

Walaupun kata orang ini cukup mudah dan bisa digunakan sebagai latihan untuk pemula, kenyataannya jalur pendakian Gunung Papandayan cukup berat dan curam di beberapa titik. bahkan ada lho teman cowok yang sampai muntah di sekitar tanjakan ini.

Papandayan (26)

What a gorgeous view.
Papandayan (27)

Kami tiba di Pos II sekitar pukul 9.00 wib kemudian melapor dan melanjutkan perjalanan ke Pondok Saladah.

Vicky…

Papandayan (30)

Lince…
Papandayan (31)

Farida….
Papandayan (33)

Dengan jalan-pelan-pelan, beberapa kali istirahat, dan banyak banget foto-foto hingga 1 baterai kamera saya sudah habis saat kami tiba di Pondok Saladah sekitar pukul 9.30 wib. Kami mendirikan tenda di bagian agak belakang di dekat pepohonan dan ternyata lumayan dekat dengan toilet umum. Kami membawa 2 tenda, 1 tenda yang cuma 1 lapisan yang sudah sering saya pakai yang dibawa Zie dan 1 tenda baru yang lebih besar karena 2 lapisan yang belum pernah saya buka dan coba pasang. Walaupun agak kesulitan awalnya, tapi kami berhasil memasang si tenda kuning baru dengan mengintip tenda tetangga yang sejenis dan gambar di bungkus tenda. Toilet baru di dekat kami selesai dibangun hari Kamis 2 hari lalu sehingga masih cukup bersih dan nyaman dipakai, apalagi masih belum begitu banyak pendaki yang tiba. Berbeda dengan saat sore hari di mana kami sempat mengantre hingga 1 jam untuk bisa memakai toilet. Biaya pemakain toilet Rp2.000 atau sesukarela kita. Si bapak penjaga toilet juga ramah dan enak diajak ngobrol. Si bapak bercerita kalau dia bersama 5 orang rekannya berinisitaif membuat toilet ini seminggu lalu karena kasihan melihat banyak pendaki yang harus antre toilet. Bahan baku pembuatan toilet ini diangkut dengan menggunakan motor dari bawah. Motor trail bisa sampai ke Pondok Saladah dengan jalur yang sangat menyeramkan dan berbahaya. Kami melihat beberapa kali motor mati mesin dan berhenti di tanjakan sehingga harus dipegangi oleh pendaki yang berada di sekitar atau ditahan sendiri oleh pengendaranya.
Papandayan (68)

Untuk soal makanan, bagi Anda yang tidak mau ribet membawa nesting, perbekalan, air, camilan, dsb, Anda bisa membeli makanan dan minuman di sini dengan harga masih cukup terjangkau dibanding dengan di Jakarta. Ada lontong kari, kupat tahu, mie rebus, mie goreng, nasi goreng yang rata-rata dijual seharga Rp10.000 per porsi. Gorengan seperti bakwan, pisang aroma, tempe juga cilok harganya Rp1.000 per buah. Harga air mineral 1,5l beda sedikit dengan di bawah atau di dekat kawah, di sini harganya Rp15.000 per botol. Ada juga es campur bagi Anda yang ingin lebih mendinginkan hati dan pikiran di sini. Sandal, obat-obatan, sikat gigi, sabun, pembalut, sampo, aneka minuman, ada juga di sini. Cuma yang jual jodoh saja sepertinya yang tidak ada, eh, barangkali bisa dapat jodoh di sini.
Papandayan (69)

Setelah bersitirahat, makan siang di warung, and the ladies sudah touch up, kami siap menuju hutan mati. Sayangnya ChanHut, Syella, dan Kristine tidak iku ke hutan mati karena kondisi badan mereka. Dari Pondok Saladah, kita bisa melintasi jalur di pinggir hutan atau melewati aliran air untuk menuju hutan mati. Karena ketidaktahuan, kami mengikuti beberapa orang yang akan ke hutan mati lewat aliran air yang licin, berlumpur, dan sering membuat jatuh pengunjung yang lewat. Melewati jalur di samping hutan merupakan pilihan yang lebih baik karena jalur aliran air sering antre menumpuk dan terkadang membuat kita harus melepas sepatu daripada terpeleset atau menunggu antrean terlalu lama.
Papandayan (70)

Hutan mati jaraknya hanya sekitar 15 menit, ditambah waktu antre di aliran air, dari Pondok Saladah. Kita akan melewati banyak bunga leontopodium alpinum atau yang lebih dikenal dengan bunga edelweiss untuk menuju hutan mati. Tetap kinclong ya bo’ di gunung karena berbekal makeup dari eyeliner, lipgloss, lipbalm, foundation, bedak, to name a few.

Papandayan (37)

Kawah yang pagi tadi kami lewati terlihat dekat dari hutan mati.

Papandayan (43)

Sekitar pukul 16.30 wib kami kembali ke tenda, mandi dan membersihkan diri, lalu memasak makan malam. Syella memimpin acara memasak mie instan dan menggoreng sosis saat itu. Kami juga membeli nasi putih, gorengan, dan cilok sebagai pelengkap makan malam. Untuk minuman, kami membawa bandrek, teh, dan kopi, tetapi bandrek menjadi yang paling laris. Setelah makan malam, ada yang langsung tidur karena capek, ada yang markombur dengan tetangga tenda sebelah yang ternyata adik kelas dan teman 1 instansi, dan ada yang memantau keadaan sekitar, itu saya. Saya malam itu tidur dengan ChanHut, sedangkan 6 cewek berkumpul dalam 1 tenda karena tidak mau mengganggu saya dengan Chanhut. #eh Tenda sebelah kami berisi 2 orang cowok yang merupakan pasangan di mana si cowok mudanya sepertinya sedang menulis puisi atau semacam diary. Si Zie yang tidur paling dekat dengan pasangan itu mau tak mau mendengar pembicaraan mereka semalaman yang membuat dia jadi iri karena tidak membawa pasangan ke tempat dingin seperti ini. 😀

Pagi-pagi sekitar pukul 5.30 saya sudah ke luar tenda untuk mencari titik memotret matahari terbit yang berada di tempat Vicky, Lince, dan Farida berpose menjelang Pondok Saladah. Ada juga pendaki yang memilih memotret matahari terbit dari hutan mati, dan itu terlihat lebih keren sepertinya.
Papandayan (45)

Dan harapanku untuk bisa bersamamu tidak akan hilang selama matahari masih menampakkan sinarnya dari ufuk timur.
Papandayan (46)

Tenda yang jumlahnya jauh lebih banyak dibanding saat kami datang atau makan siang kemarin. Entah kapan didirikannya.
Papandayan (47)

Syella lagi-lagi memasak untuk kami.
Papandayan (48)

Kristine dan Zie menunggu cantik Syella dan mie rebusnya.
Papandayan (49)

Dan akhirnya kami siap untuk kembali ke peradaban nyata dan meninggalkan indahnya Papandayan.
Papandayan (54)

Zie dan printilannya.
Papandayan (50)

Tempat saya tadi pagi memotret matahari terbit di mana saya dikira kabur ke tenda pasangan sebelah karena pada saat anak-anak bangun, saya sudah tidak ada di tenda. #ngok 😀
Papandayan (51)

Semangat!! Semangat!! Semangat!!! Semangat ya, Bang, ngumpulin sinamot demi adik. Kalau aku sih walau gak ada sinamot yang penting ada kasih sayang Abang saja sudah cukup kok. *_*
Papandayan (52)

Jalan yang kami lalui kemarin pagi, kembali kami lalui.
Papandayan (53)

Kawah Gunung Papandayan yang ramai dikunjungi warga.
Papandayan (56)

Zie kakinya keseleo di dekat kawah yang membuatnya harus saya bopong untuk turun ke parkiran dan barang-barangnya dibawakan Chanhut. Tapi syukurlah sudah di jalan balik dan tinggal sedikit lagi ya.

Papandayan (1)

Parkiran Gunung Papandayan yang penuh. Kami menikmati kelapa muda seharga Rp7.000 per buah di pojok parkiran ini.
Papandayan (57)

Berjalan ke depan pintu masuk untuk mendapatkan pick up yang akan membawa kami kembali ke Pasar Cisurupan.
Papandayan (58)

Dan akhirnya kami tiba di Terminal Guntur setelah desak-desakan naik angkot lagi. Di dekat terminal, kami makan siang, belanja oleh-oleh, serta mandi dulu sebelum balik ke Jakarta. Tim kami pecah jadi dua yaitu yang jurusan pool Primajasa BKN dan jurusan Lebak Bulus. Karena saya, Syella, dan Farida akan ke Lebak Bulus, maka barang-barang pinjaman seperti sleeping bag, tenda, dan matras saya wadahi dalam karung beras yang saya beli di warung dekat terminal. Dan sampai sekarang karung itu masih belum saya bongkar isinya.

Senang berjumpa dengan kalian yang naik gunung saja membawa makeup lengkap dan masih sempat dandan paripurna di gunung. See you next trip.
Papandayan (59)

The Unconventional Future of Us

VI-July-Papandayan

Cover girl: Vicky Aruan
Cover Story: The Unconventional Future of Us
Photographer: E.A. Paminto & Farida Nainggolan
Fashion Editor/Stylist: E.A. Paminto
Hair Stylist: E.A. Paminto
Makeup Artist: E.A. Paminto
Set Designer: E.A. Paminto
Models: Vicky Aruan, Herlince, Syella, Kristine, Farida Nainggolan, ChanHut, E.A. Paminto
Mount Papandayan, Garut, West Java, May 29-31, 2015

Papandayan (13)

I don’t look back, i look at our future.

Papandayan (67)

Fullfil your pack with beauty product.

Papandayan (23)

Laugh your life, not your neighbour life.
Papandayan (25)

There will always be a rock to climb.

Papandayan (28)

Cool down your head.

Papandayan (71)

You wo’nt be a heartless doll even in a dead forest.
Papandayan (34)

Ahu nungnga loja nian mangadapi ho.

Papandayan (63)

Hold on to deadwood.
Papandayan (35)

Paminto is wearing Salvatore Ferragamo S/S 2013 colorful coat.

Papandayan (38)

Lonely soul.
Papandayan (39)

Where you became so numb.
Papandayan (40)

You rule your game.
Papandayan (41)

Jump and smile.

Papandayan (55)

Dang olo mangorop hian tu hamu mabiar annon hansit ni roha.

Papandayan (64)

Throw your pain away.

Papandayan (36)

Your friends surround you.
Papandayan (42)

Don’t let the sun catch you crying.

Papandayan (65)

Fly high, never let your broken heart ruins your life.

Papandayan (44)

Très chic summit.

Papandayan (66)

Painful beauty.

Papandayan (1)