Palu dan Pusat Laut

Sabtu dini hari sekitar pukul 01.00 wita, 15 Mei 2015, saya dan Bu Joko tiba di Homestay Pondok Sekar, Palu. Kami baru tidur pulas ketika Bunda Hani yang baru datang dari Ampana setelah mengikuti Gema akhirnya tiba di homestay dengan mengetok-ngetok pintu kamar kami. Kata Bunda sih pintu kamar sempat diketok-ketok dengan batu dan sepatu biar kami bangun tetapi karena terlalu letih setelah perjalanan jauh maka butuh waktu cukup lama untuk membangunkan kami. Setelah itu Bunda ditinggal pergi Gema ke rumahnya dan saya antar Bunda menemui penjaga penginapan yang sedang tidur terlelap pula di ruangannya di pojokan penginapan untuk mengambil kunci kamar. Homestay Pondok Sekar ini berada di Jalan Maleo II nomor 2 Palu, 0451-425947 atau 081242376763 dan merupakan penginapan yang masih dikelola secara sederhana dengan jumlah kamar sekitar 5 atau 6 saja dan 1 penjaga di setiap shift-nya tetapi pelayanna bagus, kamar luas dan bagus, tersedia kopi, teh, gula, dispenser, AC, TV di setiap kamarnya. Harga kamar di sini mulai dari Rp165.000 untuk 2 orang dan termasuk sarapan yang berupa nasi bungkus yang lumayan enak. Sarapan pada Sabtu pagi kami waktu itu adalah nasi kuning yang pulen dengan lauk ikan suwir dan telur yang nikmat, sedangkan pada hari Minggu pagi berupa nasi putih, sayur, dan ayam bakar yang juga enak. Penginapan ini berlatar syariah sehingga jangan harap bisa tidur sekamar cowok-cewek yang bukan suami istri, walaupun teman ngebolang.

Palu (18)

Sekitar pukul 10.00 wita, Chua dkk menjemput kami untuk berkeliling sekitar Kota Palu. Melewati Jembatan Ponulele yang megah dan menghubungkan Palu Barat dan Palu Timur di atas Teluk Talise.

Palu (12)

Kami ternyata dibawa menuju ke arah Donggala. Dengan waktu perjalanan sekitar 1 jam, akhirnya kami tiba di Pusat Laut. Tiket masuk ke Pusat Laut hanya Rp2.500 per orang dan biaya parkir mobil Rp5.000. Pusat laut adalah sebuah lubang seperti sumur atau kolam dengan diamater sekitar 10 meter yang dipagari besi setinggi kurang lebih 75cm dan berada hanya beberap meter dari bibir pantai di deretan pantai Donggala

Palu (5)

Para pengunjung Pusat Laut bisa melompat setinggi 5 meter ke dalam kolam.

Pusat Laut (2)

Lalu berenang dan mengapung sambil menjadi tontonan pengunjung. Warga sekitar mempercayai bahwa dengan mandi di kolam ini bisa menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Sayang sekali, sarana untuk masuk atau ke luar kolam ini masih tergolong minim, hanya ada tangga besi semi permanen yang sudah rusak dan tali-temali sebagai media untuk kembali ke atas dari kolam.

Pusat Laut (3)

Tersedia penginapan, semacam aula yang mungkin bisa digunakan sebagai food court tetapi kondisinya tidak terawat dan bisa digunakan untuk berteduh jika kepanbasan atau saat hujan seperti yang kami alami waktu itu. Ada juga beberapa penjual minuman dan makanan tetapi tidak di lapak permanen. Chua for Hermes scarf campaign???

Palu (1)

Setelah puas berfoto-foto di Pusat laut, kami kembali ke arah pusat kota. Jalan dari dan menuju Pusat laut dari pinggir jalan raya sangatlah indah, seperti spot berikut di mana kami berhenti sejenak untuk melakukan pemotretan.

Pusat Laut (1)

Selain Pusat Laut, Donggala juga terkenanl dengan tenun ikatnya (di samping juga batu akik yang tidak akan saya bahas :D). Kami mampir di sebuah rumah yang menjual sarung Donggala di Jalan Malonda nomor 128, Palu. Tersedia berbagai corak warna dan harga di tempat ini. Untuk sarung tenun yang menggunakan benang emas/prada harganya bisa mencapai Rp1.000.000, tenun dengan benang biasa harganya sekitar Rp400.000, tenun yang berupa selendang harganya sekitar Rp200.000. Harga di sini jauh lebih murah dibandingkan dengan di toko pusat oleh-oleh di Kota Palu maupun di Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie Palu yang bisa 2 hingga 3 kali lipatnya. Sayang saat itu uang tunai saya sudah sangat menipis sehingga hanya membeli beberapa helai tenun dan menyesal mengapa tidak beli banyak saat mengetahui harga di Kota dan Bandara. Kalau beli 10 helai dan dijual untuk biasa Rp600.000 kan lumayan tuh untungnya. 😀

Tenun Donggala

Chua yang sudah mahir tentang seluk beluk Palu mengajak kami makan siang di Winner’s Sport Center. Walaupun harus menunggu makanan lama sekali, dan malah pengunjung yang sampai setelah kami sudah mendapatkan makanan dulu sehingga saya harus beradegan marah (lagi dan lagi) kepada Mbak-Mbak yang jaga.

Palu (10)

Makanan di sini rasanya biasa, tidak maknyos tetapi juga tidak ala kadarnya. Minuman yang saya pilih di sini adalah saraba, yang terbuat dari jahe merah, gula merah, dan susu kental manis yang bisa membuat badan menjadi hangat.

Palu (8)

Terdapat kolam renang dengan pemandangan Teluk Palu yang membentang di depannya, inilah yang membuat tempat ini istimewa. Apalagi menurut Chua jika kita ke sini saat malam tahun baru, pasti sangat ramai dan indah.

Palu (9)

Di Winner’s ini, selain ada restauran, kolam renang, juga ada penginapan yang berada di kaki Gunung Gawalise.

Palu (7)

Kamar dengan dua kasur ukuran queen, AC, televisi, serta kamar mandi ini harganya hanya sekitar Rp300.000, sedangkan untuk bungalow harganya sekitar Rp500.000.

Palu (6)

Jika ingin menikmati Kota Palu dari atas bukit di penginapan yang lumayan bagus dan terjangkau dan bisa ramai-ramai, maka di Winner’s Sport Centre ini lah tempatnya. Anda bisa menghubungi nomor telepon 081341055599 jika ingin reservasi.

Palu (11)

Dari Palu sebelah barat, kami berpindah ke Palu sebelah timur ke Gong Perdamaian Nusantara di Bukit Jabal Nur, Palu. Konon di deretan bukit yang lumayan gersang dengan jalan yang belum begitu halus dan penuh debu dan kerikil ini terdapat sebuah bukit yang berbentuk seperti hati lope-lope gitu tapi entahlah bukit yang mana. Bukit ini lebih sering digunakan untuk arena motor cross.

Palu (3)

Here we come at Gong Perdamaian Nusantara yang sepertinya masih belum selesai pembangunannya.

Palu (13)

Bia, Yoseph, mas Irfan, dan Chua dengan Gong Perdamaian.

Palu (14)

Hills, sea, sunset, i wish you were here. #ahumasiholtuho
Palu (15)

Akhirnya malam tiba dan kami diantar kembali ke dekat penginapan oleh Chua dan Ucep setelah sempat menurunkan penumpang lain di kontrakan adiknya Chua. Chua dkk akan kembali ke Toli-Toli pada Minggu pagi dengan menggunakan kapal laut jurusan Surabaya-Balikpapan-Palu-Toli-Toli-Amurang-Bitung. Terima kasih Chua dkk atas jamuannya di Palu, semoga lain waktu kami bisa merepoti kalian di Toli-Toli, kampung halaman kalian.

Malam itu saya sedikit kalap pada saat saya, Bunda, dan Bu Joko makan malam di sebuah warung lalapan. Saya menghabiskan 1 porsi nasi, 2 ikan katombo goreng, sepiring tempe, terong goreng yang saya pesan, serta 1/2 porsi nasi dan ayam yang Bu Joko pesan karena dia sudah kekenyangan. Pfffttt mumpung sedang tidak di Jakarta, besok malam sudah kembali di Jakarta.

Palu (19)

Minggu pagi, 17 Mei 2015, hari kesebelas dan terakhir Trip Suluttenggomalut kami. Hanya gegoleran di kamar, menikmati sarapan, menonton tv, dan packing pakaian serta kain-kain yang telah kami beli. Baru pada pukul 11.00 wita kami check out dari Homestay Pondok Sekar untuk menunju Toko Oleh-Oleh Khas Palu “Diana” di Jalan Kartini Palu, telepon 081354230698. Di toko ini tersedia berbagai jenis oleh-oleh Palu dari bawang goreng, abon, madu, tenun, serta berbagai makanan khas Palu. Setelah membeli oleh-oleh kami langsung menuju Bandara Palu untuk mengantar Bunda Hani yang akan terbang kembali ke Jakarta dengan pesawat pukul 14.00 wita, sedang saya dan Bu Joko dengan pesawat pukul 16.00 wita.

Oleh-Oleh Palu

Jarak pusat kota ke bandara ternyata sangat dekat dan bebas macet sehingga setelah mengantar Bunda, saya dan Bu Joko memutuskan untuk kembali ke kota untuk mencari makan siang dulu. Sungguh di luar dugaan karena ternyata warung maupun restauran sangat jarang yang buka di hari Minggu. Kami awalnya ingin menikmati makanan khas Palu seperti kaledo tetapi ternyata warungnya hanya menjual nasi goreng di hari itu. Kami pindah mencari tempat makan lain, tidak perlu yang khas Palu asal bukan junk food, hingga sekitar 6 atau 7 tempat tetapi tidak ada yang buka. Akhirnya kami berhenti di Careto Resoran yang terlihat buka dan ramai. Careto ternyata merupakan restoran dengan beberapa stan makanan di dalamnya seperti food court di mana tersedia nasi padang Sederhana, menu Oriental, menu Eropa, kopi, dan kue-kue. Ruangan restoran ini cukup nyaman dan luas serta terlihat enak untuk nongkrong-nongkrong.

Palu (17)

Menu yang kami pesan di Careto Restoran.

Palu (21)

Untuk ke bandara serta berputar-putar di Kota Palu dari siang, kami menggunakan Taksi Utama Palu di nomor telepon 0451-456789. Walaupun armadanya cukup tua, tetapi supir yang mengantar kami waktu itu masih muda dan lagu-lagu yang diputar juga bervariasi dari lagu Ambon, Indonesia, hingga barat. Pukul 15 wita lebih sedikit kami akhirnya tiba di bandara dan harus bersiap menghadapi kenyataan di ibu kota lagi.

Palu (20)

Transit di Bandara Sultan Hasanudin Makassar.

Palu (16)Dan berakhir sudah Trip Suluttenggomalut ini. Terima kasih banyak Bu Joko dan Bunda Hani yang bersedia meramaikan trip ala-alaku ini. Sampai jumpa di trip selanjutnya. xoxo

*Rincian pengeluaran di Palu

15 Mei 2015
Pondok Sekar 2 kamar, 2 malam 790.000
Tiket Pusat Laut 25.000
Makan siang 297.000
Makan malam 45.000
16 Mei 2015
Taksi 100.000
Total 1.257.000
Biaya per orang 419.000

 Akhirnya catatan perjalanan saya ke Suluttenggo Malut selesai juga setelah 3 bulan.