Bara Bere di Tanjung Bira

Trip ini saya lakukan di bulan April 2016, sekitar 8 bulan lalu yang awalnya hanya untuk ke acara nikahan teman kantor saat akhir pekan dan berubah menjadi trip dadakan ke Tanjung Bira. Saya sudah beli tiket PP ke Makassar berangkat Jumat malam sekitar pukul 22.00 wib dan kembali ke Jakarta dari Makassar hari Minggu malam pukul 20.00an dari bulan Februari dengan harga sekitar Rp1.000.000 lebih sedikit saja. Sudah googling sana-sini masih bingung amau ke mana dengan waktu yang sangat terbatas dan seorang diri tersebut. Kalau harus naik angkutan umum dan berpindah-pindah bakal membuang waktu di jalan, kalau menyewa kendaraan seorang diri bakal cukup mahal. Eh alhamdulillah, pada hari Rabu sebelum keberangkatan tiba-tiba ada 2 teman yang mau ikut, si GGS aka Mika dan Kak Ipin. Saya pun segera menetapkan tujuan utama jalan-jalan ke mana dan bagaimana ke sananya serta bagaimana bisa sampai di Makassar Minggu malam ke acara nikahan teman. Setelah mencoba menghubungi beberapa travel yang menyewakan mobil saya memilih untuk menyewa mobil Mas Ayit (087841486600) dari Bugis Makassar Trip dan disepakatilah harga sewa untuk 2 hari sebesar Rp1.300.000 all in. Dihitung 2 hari karena kami mendarat Sabtu dini hari pukul 01.00 dan kembali ke bandara pada Minggu malam.

Tanjung Bira

Saat kami mendarat di Makassar, kami langsung dijemput Pak Alman, supir yang akan membawa kami ke Tanjung Bira. Dengan masih memakai baju kantor kami langsung melaju manja ke Bulukumba di ujung paling bawah Sulawesi yang memerlukan waktu sekitar 4 jam dari Makassar. Saya yang sangat mengantuk (seperti biasa dikorbankan untuk) duduk di samping Pak Alman mencoba tetap terjaga dan berbincang dengan Pak Alman yang terlihat mengantuk juga apalagi kondisi jalan ternyata bagus, walau terkadang naik turun serta cukup jauh, sehingga tentunya membuat supir mudah terlena dan dikhawatirkan tertidur. Sekitar pukul 6.00 pagi kami tiba di Tanjung Bira dan langsung memilih penginapan yang akan kami tempati. Dari beberapa pilihan yang direkomendasikan Pak Alman, kami memilih penginapan yang meskipun tidak berada di bibir pantai tetapi masih dekat dengan pantai dan lumayan bagus serta murah serta hanya akan mengenakan biaya satu malam meskipun kami early check in.

Sekitar pukul 08.00 wita setelah sedikit beristirahat dan sarapan, kami langsung menuju Pulau Kambing. Kami menyewa kapal yang direkomendasikan pihak penginapan dengan harga Rp550.000 meliputi Pulau kambing, Pulau Liukang, dan Pantai Bara, dan sudah termasuk fin serta google untuk seharian. Pulau Kambing hanya berjarak sekitar 45 menit dari Tanjung Bira. Dinamakan Pulau Kambing konon karena pulau ini sempat menjadi perebutan sehingga untuk menandakan bahwa pulau ada penghuninya dan tidak bisa dikuasai pihak lain maka dipeliharalah beberapa kambing yang kemudian berkembang biak menjadi banyak yang hidup di pulau. Saya sih tidak melihat sendiri kambing-kambing itu karena kami snorkeling di bagian tebing yang tidak dapat digunakan kapal untuk berlabuh.

Tanjung Bira

Pemandangan di atas laut maupun di bawah laut di Pulau Kambing ini AMAZING. Bagussss bangeeeet. Saya sempat hampir satu jam hanya untuk foto-foto dan menyaksikan keindahan di sekitar pulau ini.

Tanjung Bira

Sebelum akhirnya ikut nyemplung kayak si GGS ini.

Tanjung Bira

Tapi tidak menyelam begini karena saya memang  tidak bisa dan tidak berani menyelam. -,-

Palembang

Sekitar pukul 11.00 wita, kami meninggalkan Pulau Kambing untuk menuju Pulau Liukang yang berjarak sekitar 30 menit dari  dari Pulau Kambing.

Tanjung BiraPemandangan di Pulau Liukang ini juga sungguh indah. Langit biru, pulau yang hijau, pantai turquoise, laut yang biru.
Tanjung Bira

Pada saat berlabuh, kami penasaran dengan tempat makan yang berada di atas keramba di tengah laut. Untuk menuju keramba tersebut (bangunan dengan atap orange di pojok kiri atas foto di bawah) tidak semudah yang terlihat dan cukup jauh dari tempat kami berlabuh serta terik matahari yang sangat menyengat saat itu. Menggunakan kapal sepertinya menjadi pilihan yang tepat untuk mencapainya. Makanan yang ditawarkan masih lebih bervariasi dan menarik di tempat makan tempat kami berlabuh. Di tempat ini hanya ada pisang goreng, kelapa muda, serta mie goreng dan menu ikan meskipun tempatnya cukup bagus.
Tanjung Bira

Saya memutuskan untuk pergi dulu dari keramba dan menjelajahi perkampungan di pulau ini. Saya kembali menyusuri kampung untuk menuju tempat makan di mana kapal berlabuh.

Tanjung Bira

Tidak disangka ternyata penduduk pulau ini adalah pengrajin tenun khas Bulukumba yang sangat indah. Saya cukup lama berbincang-bincang dengan seorang Ibu penenun yang sedang sibuk menenun sarung. Harga sarung tenun yang ditawarkan saat itu Rp500.000, Rp700.000, dan Rp900.000 tergantung motif dan bahan. Motif yang lebih rumit dan bahan yang mengandung benang emas/prada tentu harganya lebih mahal dibanding yang motif lebih sederhana dan benang perak. Dengan berat hati saya meninggalkan Ibu penenun tanpa hasil karena tidak bisa menawar lebih murah lagi dan kasihan kalau harus dihargai lebih murah. Hemat juga sih aslinya, -.-

Tanjung Bira

 Sembari menunggu pesanan makan datang, saya naik sedikit ke bukit. Suka banget gradasi warnanya.

Tanjung Bira

Walaupun aslinya panas gila. 😐

Tanjung Bira

Pesanan sop dan ikan bakar untuk makan siang yang rasanya enak dan porsinya banyak serta lumayan murah.

Tanjung Bira
Dari Pulau Liukang, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Bara yang sebenarnya sederetan dnegan Tanjung Bira tetapi letaknya agak masuk. Pantai ini terlihat panjang dan landai dengan butiran pasir yang putih dan halus. Ada beberapa penginapan yang terlihat sepi, damai, dan bagus yang sepertinya dikelola serta ditempati orang asing.

Tanjung Bira

Dan akhirnya kami kembali ke Tanjung Bira untuk menikmati sunset dengan sebotol minuman ringan di Hakuna Matata Resort. Resor ini berada di pinggir tebing dan langsung mengarah ke pantai. Selain Hakunan Matata juga ada Amatoa Resort di sebelahnya yang perlu mengeluarkan uang lebih dari Rp1 juta per malam untuk menginap.
Tanjung Bira

Kita cukup membeli minuman atau makan di restauran resor ini tanpa harus menginap dan bisa menikmati pemandangan matahari terbenam dari tempat terbaiknya di Tanjung Bira.
Tanjung BiraSetelah puas menikmati sunset, kami melanjutkan berkeliling untuk mencari makan malam. Awalnya sih mengincar mau makan malam di salah satu resto berbentuk kapal laut tetapi ternyata sudah dipesan untuk acara sehingga kami harus mencari tempat lain. Beberapa rumah makan di sekitar pantai ternyata juga sudah dipesan atau penuh sehingga kami berjalan ke arah jalan utama dan mencari tempat makan yang kira-kira tepat. Dan akhirnya kami makan ini. Di sekitar jalan utama menuju Tanjung Bira dipenuhi penjual oleh-oleh yang didominasi aneka emping dan kerupuk nasi dengan harga yang sangat terjangkau.
Tanjung BiraMalam minggu kami lanjutkan di kamar masing-masing sambil menikmati kebisingan dangdut, karaoke, ceramh, hingga doa bersama hingga tengah malam dari penginapan sebelah yang sedang dipakai untuk acara anak SMA yang akan lulus. Walaupun bising tapi kami tidur lumayan nyenyak kok wkwkkw.

Minggu pagi setelah sarapan kami langsung meninggalkan penginapan dan menuju Pantai Apparalang yang menurut google sedang heits. Biaya retribusi saat itu hanya Rp2.000 per orang dan fasilitas masih minim tetapi pemandangan yang menakjubkan. Ini adalah bagian pertama yang berada di dekat parkiran. Terdapat tangga yang baru dan sedang dibangun untuk menuruni tebing hingga mencapai air laut. Di bagian ini saja sudah terpukau lho.

Tanjung Bira

Beranjak ke bagian lain pantai, di sini terdapat bagian untuk nyemplung-nyemplung ke air dengan menuruni tangga yang yang cukup tinggi dan dibagi 2 tingkat. Agak seram juga tentunya tetapi banyak yang mau mencobanya. Cuaca di sekitar pantai ini cukup mudah berganti-ganti, seperti saat itu dari mendung tiba-tiba cerah lalu mendung lagi. Bagusnya sih saat matahari benar-benar bersinar terang sehingga langit biru dan airnya tampak cetar membahana nan indah.
Tanjung Bira

Dan saya benar-benar terpukau dengan  perpaduan langit, tebing, dan gradasi warna air laut yang cetar membahana di bagian lain pantai ini. Pantai seindah ini akan sangat ramai dan menjadi kotor dan penuh dengan perusakan yang dilakukan oleh pengunjung jika berada di tempat yang mudah dijangkau dan ramai, misal di Pulau Jawa -.-.

Tanjung Bira

Dari Apparalang, kami melanjutkan perjalanan ke Kampung Tana Beru yang merupakan kampung pembuat kapal pinisi yang berada di pesisir tidak begitu jauh dari Tanjung Bira. Saya terkagum-kagum dengan betapa banyak pembuat kapal pinisi serta betapa besar ukuran kapal yang dibuat. Katanya kapal-kapal yang dibuat itu sudah ada yang pesan karena biaya produksi yang sangat besar dan waktu pembuatan bisa setahun atau lebih serta harganya bisa mencapai miliaran rupiah. Dan saya melihat beberapa bule yang sedang melihat progres kapal yang sudah dia pesan. Ritual yang dilakukan juga cukup banyak mulai dari saat akan dimulai pengerjaan hingga saat selesai pengerjaan untuk mendorong kapal pelan-pelan masuk ke laut yang membutuhkan waktu hingga sebulan. Mahakarya anak negeri banget.

Tanjung Bira

Islamic Center Dato’ Tiro, Bulukumba yang megah dan indah.

Tanjung Bira

Beginilah pemandangan kanan kiri jalan yang begitu Indah di sekitar Jeneponto saat menuju Makassar

Tanjung Bira

Kami mampir untuk makan siang coto kuda di Coto Turatea Belokallong di Jeneponto. Awalnya sih agak-agak ngeri gitu mau makan daging kuda, tapi pas sudah mencicipi sih lumayan enak cuma agak bau besi gitu ternyata daging kuda itu. Ketupat 2 buah, semangkok coto yang penuh kolesterol dan lemak serta sebungkus emping pun ludes dalam sekejap. #crytapinikmat

Tanjung Bira

Kami juga sempat mencicipi kue putu cangkir yang banyak dijajakan di pinggir jalan di daerah Gowa.
Tanjung Bira

Di Gowa, saya menghubungi teman lama saya, Bu Uchi dan Pak Kasman, dan mengajak ketemuan makan saat nanti sudah tiba di Makassar. Dan kami pun mampir ke Museum Balla Lompoa yang cukup luas dan terletak di jalan utama sehingga cukup ramai.

Tanjung Bira

Sesampainya di Makassar, kami makan sore dan cemal-cemil cantik di RM Muda Mudi. Jalangkote, lumpia, kroket dan pisang ijo di sini enaaaakkkk… Udah gitu dibayarin pula, jadi makin enak… Makasih Bu Uchi dan Pak Kasman…
Tanjung Bira

Tidak lengkap ke satu kota tanpa belanja kain khasnya, apalagi setelah gagal mendapatkan tenun Bulukumba.  Sesuai rekomendasi Uchi, kami mengunjungi Toko Keradjinan untuk membeli oleh-oleh dan kain. Saya khilaf membeli aneka kain tenun khas Makassar sekalian untuk keluarga besar saat lebaran serta untuk kado nikahan teman.

Tanjung Bira

Pantai Losari letaknya tidak begitu jauh dari Toko Keradjinan dan kami menyempatkan diri untuk sekadar foto-foto serta menikmati pisang epe yang enaaaaakk dan murah tentunya. Seporsi sekitar Rp10.000. Jangan lupa minumnya saraba, semacam kopi susumahe khas Sulawesi.

Tanjung Bira

Hujan besar mengguyur Makassar saat kami selesai menikmati pisang epe dan akan meluncur ke tempat kondangan kawan yang merupakan bukan tujuan utama trip kali ini. Selamat untuk Arfah yang akhirnya mengakhiri masa lajangnya dengan mempersunting Mbak Cantik.

IMG-20160410-WA0011

Kami buru-buru foto dan meluncur ke bandara karena jadwal pesawat yang mepet dan ternyata tol menuju bandara sangat macet karena sedang ada pembuatan underpass di simpang lima dekat bandara. Tapi syukurlah kami masih bisa tiba di bandara di detik-detik terakhir diperbolehkan check in. Dan alhamdulillah saya boleh bawa tas keril saya yang sudah terisi penuh kain puluhan meter, walau sudah saya titipkan Kak Ipin dan GGS juga sebagian, boleh dibawa langsung ke pesawat tanpa harus dimasukkan bagasi.

\(*.*)/