Manado do fa mi re do

Saat mendarat di Manado, saya ke luar pesawat agak belakangan agar tidak bertemu dengan si mbak anonoh yang sudah saya nikmati ceritanya selama penerbangan Ternate-Manado. Setelah tengok kanan-kiri dan melihat kalau si mbak masih menunggu bagasi, maka saya segera mengajak Bu Joko dan Bunda Hani untuk segera ke parkiran mencari Ika, sahabat lamaku sekaligus teman sebangku waktu kuliah, yang akan mejemput kami di bandara bersama suami dan anaknya. Kami yang hanya sarapan bubur kacang hijau dan ketan hitam di pinggir Pantai Falajawa, Ternate dan makan roti yang diberikan pesawat merasakan kelaparan yang amat sangat sore itu. Ika berinisitif mengajak kami makan di suatu restoran yang ngeheits abis di perbukitan pinggiran Kota Manado eh tetapi pas mau parkir ada anjing sehingga Ika memutuskan untuk pergi saja ke tempat lain. Di tempat makan kedua yang seperti saung ini, ada anjing yang berjalan-jalan di dekat parkiran, tetapi kami memutuskan untuk masuk saja. Kami sudah duduk dan memegang daftar menu saat tiba-tiba Bu Joko yang baru datang ditanyai mau makan apa dan dia jawab selain ikan. Kami lupa bahwa dia tidak makan ikan dan ternyata di rumah makan ini hanya menyediakan ikan (atau daging sapi), tidak ada daging ayam atau pun telur ayam di sini.

Manado (1)

Akhirnya kami memutuskan untuk mencari tempat makan yang mengakomodasi keunikan kami di kota dan terpilihlah Warung Bebek Kang Narto di Jalan Martadinata, Manado ini. Nayla, anak Ika yang pertama yang lahir pada awal 2011 pada saat saya dan Ika masih kuliah bareng dulu, sekarang sudah besar. Ika juga sudah punya anak perempuan yang kedua yang berumur belum 2 tahun. Lalu aku?? Sama anak kucing saja tidak berani, apalagi mau melahirkan anak kucing.
Manado (3)

Saya memesan bebek goreng sambal rica-rica yang pedasnya bikin sakit atau patah hati mungkin menjadi sedikit terlupakan. Bibir langsung serasa jontor.
Manado (4)

Setelah makan, kami nongkrong-nongkrong cantik di pinggir pantai depan KFC dan McD untuk menyaksikan senja. Saya dan Bunda Hani beradegan banyak pose yang sepertinya kurang wajar bagi warga Manado. Saya naik ke atas bebatuan dengan membawa kerudung¬†sebagai properti untuk membuat efek-efek nan indah. Kami juga melakukan adegan-adegan terbang ataupun kejar-kejaran memakai kerudung. Capek bo’ dan takut terjungkal ke celah-celah bebatuan. Manadotua dan senja.
Manado (5)

Twilight will never be the same without you.
Manado

Setelah pemotretan senja, kami pulang ke rumah Ika. Sudah bau bingits nih badan karena saya mandi terakhir adalah hampir 22 jam yang lalu saat baru tiba setelah tour ke Jailolo. Di rumah Ika, kami disediakan makan malam yang endeeeuus deh. Ikan kecil-kecil entah apa namanya yang enak bangeet, gado-gado, sate, serta bakso. Sesaat sebelum kami bersiap tidur, mertua Ika datang. Saya merasa terharu karena beliau-beliau masih ingat saya yang tidak cantik nan rupa(pera)wan ini. Alhamdulillah ya… bisa dijemput, ditraktir makan, diajak jalan-jalan, numpang tidur gratis, makan malam gratis, nge-charge hape, power bank, dan kamera dengan keramahan yang luar biasa. #sesuestu ūüėÄ
Manado (6)

Setelah tidur nyenyak di rumah Ika yang nyaman, pagi itu kami  berencana menuju Bunaken. Tapi kami sarapan nasi kuning dan panada dulu. (*.*)/
Manado (7)

Di perjalanan menuju pelabuhan, kami mampir ke Rumah Makan Nasi Kuning Saroja yang konon paling ngeheits dan enak di Manado.  Nasi kuning ini dilengkapi topping suwiran ikan cakalang, daging, taburan bawang goreng serta yang spesial ditambah telur. Selain itu, kita bisa take away nasi kuning yang sudah dibungkus daun woka, yang bentuk dan warnanya mirip janur. Harga seporsi nasi kuning komplit di sini sekitar Rp15.000. Suami Ika membekali kami masing-masing 2 bungkus nasi kuning untuk dimakan di Bunaken dengan pertimbangan di sana agak susah mencari makanan, toh jika ada harganya mahal. Setelah itu kami diantar ke pelabuhan penyeberangan ke Bunaken di belakang Hotel Celebes.
Manado (8)

Kami diturunkan dari mobil di depan pintu pelabuhan, lalu kami pun masuk ke Dermaga Pelabuhan Kalimas. Loket informasi sekaligus pemesanan kapal ke Bunaken berada tepat di depan pintu masuk pelabuhan, di mana saat itu terdapat beberapa orang di luar loket. Pada saat saya ingin bertanya tentang kapal ke Bunaken ke Mbak petugas loket, terdapat beberapa orang yang sepertinya calo ikut “mengawal” saya. Mbak petugas bilang kalau harga sewa kapal Rp1,2 juta yang bisa berisi sekitar 10¬†orang. Karena tarif sewa yang cukup mahal, maka saya pun ke luar loket dan mau melihat-lihat sekitar pelabuhan saja dulu.

Saya melihat kapal-kapal yang ada di sekitar pelabuhan dambil bertanya kepada beberapa orang di sekitar kapal tentang ada tidaknya kapal umum ke Bunaken selain yang harus menyewa semahal itu dan tiidak ada seorang pun, termasuk tiba-tiba datang seorang bapak yang dari tadi saat saya masih di loket sudah mendekati saya, yang memberikan informasi selain semua mengarahkan saya untuk menyewa kapal di loket tadi. Saya kemudian menemui Bu Joko dan Bunda yang menunggu dengan duduk-duduk cemas di belakang loket dekat pasar dan bilang belum menemukan kapal umum. Pada saat itu kebetulan ada rombongan mas-mas yang mau ke Bunaken yang sedang bergerombol di dekat kami dan ada si bapak calo yang masih mengintai kami dengan berpura-pura mengamati pelabuhan sambil menguping pembicaraan kami. Mulailah saya tanya-tanya sambil kedip-kedip centil bagaimana mereka menyewa kapal dan berapa orang. Sekadar basa-basi standar biar lebih akrab dan diajakin naik kapal bareng gitu. Mereka bilang serombongan berdelapan, tanpa menawari kami untuk ikut bergabung. Kemudian pimpinan rombongan pergi ke loket dan menyewa kapal lalu mereka bilang sampai jumpa ke kami dan menuju kapal.

Saat sudah mau memasuki kapal, ada mas-mas yang berbalik ke arah kami dan menawari kami untuk bergabung karena kapal yang mereka sewa bisa menampung hingga 12 orang sehingga lumayan untuk patungan jika kami bergabung. Lha kok tiba-tiba si bapak calo yang setia mengamati datang dan marah-marah melarang kami bergabung dengan rombongan karena katanya kami sudah booking kapal dan berasal dari rombongan yang berbeda. Karena alasan kebijakan asosiasi lah, kebijakan kapal, kebijakan ini and whatsoever he said. Saya yang mulai memanass minta ditunjukin aturannya mana dan yang saya dapat malah semakin banyak calo yang datang dan menemani si bapak itu sehingga membuat saya agak takut diapa-apain. Melihat wajah mas-mas yang sudah berbaik hati menawari kami bergabung agak berubah muram dan khawatir juga. Akhirnya¬†daripada merusuhi liburan orang, saya memutuskan untuk tetap tinggal di pelabuhan saja, berterima kasih atas tawaran mereka, serta mempersilakan mereka berangkat. Pfffttt…

Gerombolan bapak calo sudah bubar, Bunda dan Bu Joko masih duduk di tempat yang sama, dan saya berjalan ke arah pintu ku luar pelabuhan untuk membeli air mineral. Dan dong… si bapak calo yang membuntuti saya dari dekat kapal hingga barusan saat saya mau diajak rombongan, tiba-tiba muncul di dekat penjual air dan berpura-pura entahlah ngapain. Dia semacam sengaja banget membuntuti saya yang memakai kaos gonjreng aneka warna ini ke mana pun saya pergi. Lalu saya berjalan-jalan memotret keramaian pasar hingga kembali lagi ke posko tempat teman-teman duduk. Setelah itu saya kembali ke loket dan kembali bertanya bagaimana cara menyewa kapal di sini, berapa harganya, dsb. Si mbak loket bilang kalau memesan kapal bisa via telepon atau on the spot di mana tarifnya sama saja. Dia bilang saya bisa saja bergabung dengan kelompok lain tapi ditunggu saja entah sampai kapan.

Setelah menunggu cukup lama di loket dan sepertinya tidak ada perubahan maka saya memutuskan untuk kembali ke posko Bunda dan Bu Joko untuk memikirkan langkah selanjutnya. Selama masa menanti tadi, Bu Joko dan Bunda sudah mencari di internet tentang alternatif menuju Bunaken selain melalui pelabuhan ini misal lewat Marina atau menghubungi kapal warga yang nomor teleponnya sudah tersebar dan sering dipakai rombongan. Pada saat kami melakukan pembahasan ini lah kami semakin curiga dengan kelakuan seorang cowok ABG dan seorang bapak yang kata Bunda dan Bu Joko tiba-tiba duduk di dekat mereka sesaat ketika mereka baru duduk.

Saya yang sudah dibuntutin si bapak dan ternyata saat duduk berkoordinasi di sini ternyata ada yang memata-matai menjadi semakin emosi. Saya berdiri lalu ngomel-ngomel dengan keras sambil melotot ke arah 2 orang yang pura-pura entahlah apa tetapi sedikit-sedikit memperhatikan ke arahku. Ngomelnya kira-kira seperti ini: “Jadi gini ya cara mendapatkan penumpang dengan dibuntutin, diikutin dan dikupingin sampai kayak diteror. ……….. Males banget deh. Ayo kita city tour saja daripada bayar mahal-mahal tapi dapat kapal sakit jiwa.” sambil melotot dan memegang pinggul tapi tidak yang berpose editorial.

Ngibritlah 2 orang tadi ke arah si bapak calo semacam laporan pandangan mata dengan keadaan yang semakin memanas. Then i walked out to the entrance gate (it felt¬†like Natasha Poly strut down the runway and slap another newbies model) and said¬†“We won’t go to¬†Bunaken, BYE.” Setelah itu saya dan Bunda sempat berpose melototin mereka yang masih memperhatikan kami dari pinggir pelabuhan sekitar 20 meter dari gerbang.

Mungkin kurang bijak juga kebanyakan drama dan membuat calo tidak mendapatkan upah dari jasanya mendapatkan pelanggan kepada pemilik kapal seperti itu tetapi apakah memang sistem di sana tidak mengakomodasi untuk memberikan pelayanan bagi wisatawan yang mungkin hanya seorang diri dan tidak mempunyai uang yang cukup untuk menyewa kapal? Mereka sih sempat bilang ada kapal umum sebelum pukul 7.00 tetapi akan kembali ke pelabuhan sini entah kalau sudah penuh atau esok harinya. Setidaknya tolong ya calo-calo kapal bisa lebih sopan dan beretika dalam menghadapi calon penumpang.

Manado (9)

Kami akhirnya memutuskan masuk ke palabuhan kapal feri yang pagi itu terlihat sudah sepi karena biasanya kapal tiba masih pagi-pagi sekali. Bu Joko langsung jalan-jalan ke arah dalam pelabuhan untuk foto-foto sedangkan saya dan Bunda Hani hanya duduk-duduk. Bunda tiba-tiba merasa sakit perut dan harus ke toilet sehingga dia masuk ke ruangan petugas pelabuhan di dekat kami duduk. Tak disangka ternyata toiletnya mampet. Bapak-bapak di situ menyarankan Bunda untuk menumpang toilet di kapal yang berlabuh paling dekat dengan kami saat itu. Kami akhirnya masuk ke kapal Marin Teratai yang menghubungkan Manado dan Ternate. Kami menuju bagian paling belakang kapal di dekat dapur untuk menumpang toilet. Para ABK yang sedang sibuk membersihkan kapal pada bertanya mau ngapain kami di kapal tetapi mereka baik sekali dan mengizinkan Bunda untuk memakai toilet. Ada seorang bapak yang mengambil dan mencucikan ember toilet yang saat itu sedang dipakai untuk membersihkan kapal kemudian menyerahkannya kepada Princess Bunda yang akan memakai toilet. Setelah puas di toilet, kami mohon pamit dan berterima kasih kepada para ABK. Terharu banget deh.

Manado (10)

Kami kembali nongkrong di depan kantor pelabuhan sambil memandang kapal dan menuggu Bu Joko kembali. Saat Bu Joko sudah kembali, ada seorang mbak yang ke luar dari kapal dengan membawa karung berisi entahlah apa dan akan mengikat karung tersebut di boncengan motornya yang diparkir di dekat kami. Kami membantu mbak itu sambil mengorek-ngorek informasi tentang apa yang ada di karung itu. Si mbak bercerita kalau karung ini berisi paket udang kering atau semacam ebi yang dikirim kakaknya dari Falabisahaya di Maluku Utara. Dari daerah entah di mana yang baru pertama kali kami dengar itu juga dia berasal. Mbak itu ternyata pekerjaannya menjual ebi kiriman tersebut di Manado. Mungkin karena udang di Falabisahaya berlimpah dan di Manado membutuhkan banyak udang kering.
Manado (11)

KM Marin Teratai, yang selain digunakan untuk mengangkut penumpang juga bisa menerima paket kiriman antarpulau yang dilewati, dan Jembatan Soekarno yang masih dalam proses pekerjaan.
Manado (12)

Di sini lah posisi pewe kami nongkrong-nongkrong cantik dan manja, sambil sesekali masih menacri kapal ke Bunaken yang lebih murah. Kami sempat menghubungi pemilik kapal yang nomor hapenya ada di internet yang menawari kami dengan harga Rp600.000 tetapi hanya penyeberangan ke Bunaken dan snorkeling di sekitar Bunaken, tidak termasuk alat snorkeling dan biaya masuk Bunaken. Jika kita ingin ke Siladen atau Manadotua maka harus menambah biaya kapal menjadi 1 juta rupiah. mahal Cyiiinn. Akhirnya kami memutuskan untuk city tour saja lah melihat Patung Yesus dan makan-makan saja gitu.

Manado (13)

Sambil mencari informasi tentang city tour di Manado, kami memakan nasi kuning yang sudah dibawakan Ika. Nasi kuning, suwiran daging, ikan, dan bawang goreng ditambah telur yang dibungkus dalam daun woka menjadikan Nasi Kuning Saroja benar-benar top-markotop. Nyammmy.

Manado (15)

Setelah kenyang makan, kami melajutkan perjalanan ke arah Hotel dan Dermaga Marina dengan jalan kaki. Kami berhenti di bawah terowongan Jembatan Soekarno yang masih dalam pembangunan dan beberapa kali menanyai angkot tentang tarif sewa angkot ke Patung Yesus tetapi semua di atas Rp100.000 untuk sekali jalan sehingga kami urungkan niat sewa angkot. Lalu kami berjalan tanpa tujuan ke arah pantai di belakang Marina dan melintasi Tugu Lilin. Tugu Lilin ini nampak indah dari kejauhan akan tetapi terlihat kumuh dan rusak dari dekat. Banyak sampah berserakan dan kompleks tugu yang rusak sana-sini. Sayang sekali sudah dibangun dengan biaya yang sepertinya tidak sedikit tetapi terlantar seperti ini.

Tugu Lilin

Dari Tugu Lilin, kami melipir ke arah pantai dan menyusuri ruko-ruko demi menghindari sengatan terik matahari pagi itu hingga akhirnya menemukan Multi Mart di Jalan Tendean, sebuah mal dan supermarket yang cukup besar. Di situ kami berbelanja semangka dan jus untuk mendinginkan hati, pikiran, dan badan kami yang panas. Tersedia tempat duduk-duduk di bagian kanan dan kiri dekat kasir lantai dasar dari pintu masuk Jalan Sam Ratulangi. Dan kami membunuh waktu sejenak di situ.
Manado (16)

Setelah puas ngadem dan markombur serta menentukan sasaran strategis, kami melanjutkan perjalanan ke arah Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Manado. Bangunan gereja yang terletak di jalan protokol ini memiliki kaca mosaik yang indah, serta kubah megah yang menjadi ciri utama gereja ini dan menjadikannya salah satu gereja paling ngeheits di Manado.
Manado (2)

Dari GPdI, kami memasuki Jalan Korengkeng untuk menuju Kios Pelangi, sebuaha rumah makan khas Manado yang berada di pojokan Jalan Wakeke dari arah Jalan Korengkeng. Kami mencoba menu es brenebon durian advokat, es kacang tanah susu, bubur Manado alias tinutuan,

Manado (17)

juga nasi goreng roa yang kami pesan belakangan karena melihat fotonya di dinding yang menggoda. Semuanya endeeeuuusss.

Nasgor Roa

Colorful sibling.
Manado (18)

Karena kegiatan membunuh waktu kami sudah cukup, kami akhirnya menghubungi Ika dan meminta dijemput di Pelangi. Ika dan suami tertawa mendengar kisah kegagalan kami ke Bunaken yang akhirnya berakhir di Kios Pelangi. Mereka menyayangkan kenapa kami tidak menghubungi mereka sehingga mereka bisa mengajak kami jalan-jalan daripada terkatung-katung tidak jelas dari pagi hingga saat itu sekitar pukul 13.00. Saya sih menikmati sekali ke-random-an dan drama pagi hingga siang itu. Kami kemudian diajak ke Makam Tuanku Imam Bonjol.
Manado (19)

Di kompleks makam, kita bisa melihat batu yang digunakan Imam Bonjol untuk salat. Batu ini terletak di pinggir sungai yang bisa kita tempuh dengan berjalan kaki menuruni anak tangga di samping makam.
Manado (20)

kami akhirnya sampai di Patung Yesus yang terletak di Citraland. Agar bisa mendapatkan foto patung dengan indah, kita harus memasuki kompleks Citraland yang berada di seberang jalan kompleks Citraland tempat patung berada. Dua kompleks Citraland ini dipisahkan oleh ringroad. Patung Yesus ini konon merupakan patung Yesus tertinggi kedua di dunia setelah patung di Rio de Janeiro, Brazil. Di sekitar patung utama terdapat patung-patung kecil yang mengitari.
Manado (21)

Ika dan si bungsu yang sedang menikmati es krim berwarna pink. Kedua anak Ika menyukai semua-mua yang berwarna pink, dan Frozen.
Manado (22)

Dan akhirnya kami segera kembali ke rumah Ika karena travel ke Gorontalo akan menjemput kami sekitar pukul 17.00. Setelah mandi dan packing, kami siap untuk melanjutkan ke tujuan utama trip kali ini, yaitu Togean via Gorontalo. Terima kasih banyak Ikadan keluarga atas segala jamuan dan keramahannya selama 2 hari ini. Semoga saya bisa segera kembali ke Manado dan mencoba makanan serta tempat wisata yang kali ini belum sempat dinikmati. xoxo
Manado (23)

*Sesuatu yang ada di mana-mana di Manado adalah poster kampanye H*anny J*oost P*ajaouw. Posternya menghantui di setiap penjuru kota. -____-‘

 ** Biaya yang saya keluarkan selama di Manado adalah sebagai berikut:
Belanja buah dan jus = 28.300
Makan siang di Kios Pelangi
Sumbangan di Kompleks Makam Tuanku Imam Bonjol = 20.000
Selebihnya gratis dibayari Ika dan suami. Mauliate godang, Ka.

Permisi, Itu Kursi Saya

 Manado (24)

Kisah ini terjadi saat saya akan terbang ke Manado dari Ternate. Saya dan dua teman saya, yang menjadi penumpang terakhir naik ke pesawat setelah drama ke Danau Ngade, mendapati penumpang sudah duduk di kursi masing-masing. Eh… lha.. kok…¬† mengapa kursiku diduduki seorang perempuan? Berujarlah saya kepada perempuan itu, “Permisi, Itu Kursi Saya”, lalu dia berkata, “Bukannya sama saja di pinggir jalan dengan di dekat jendela?”. Oughh oke, mbak ini ngajak ribut. Saya jawab, “Tentu beda, itulah mengapa saya bela-belain web check in (dini hari demi dapat sinyal internet yang mumpuni) sehingga bisa memilih posisi dekat jendela dan bisa melihat pemandangan. Boleh saya menempati kursi saya?” dan akhirnya dia berpindah dari kursi yang memang menjadi hak saya.

Selang beberapa menit setelah duduk dan memakan permen yang disajikan pramugari, si mbak tiba-tiba bertanya “Mas dari Jawa Timur, ya?”, saya jawab, “Iya. Kenapa, Mbak?”, lalu dia jawab, “Aku juga orang Jawa Timur, dari xxx”. Maka mulai nyambunglah pembicaraan kami karena berasal dari satu provinsi yang sama. Saya yang awalnya jaim mulailah bocor seperti si mbak.

Dia bercerita akan liburan ke Bali sekaligus menyelesaikan suatu urusan di sana. Menyenangkan sekali berlibur di Bali pikirku, akan tetapi kemudian dia tiba-tiba berujar kalau urusan utamanya adalah menyelesaikan sengketa perebutan anak dengan mantan suaminya yang merupakan warga negara asing. Ewww… Cucoklah mbak ini memang kulitnya eksotis, cantik khas Indonesia, pasti idabul aka idaman bule.

Dia menunjukkan foto anak laki-lakinya yang berumur sekitar 8 tahun yang sangat lucu, tampan, dan menawan. Pasti seperti bapaknya, ya? Dia mengatakan kalau sudah lama cerai dari si bule itu. Mereka sempat tinggal terpisah lalu si mbak menyusul ke negara bule. Karena rutinitas pekerjaan si bule yang sangat sibuk dari pagi sampai malam dan dia merasa kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian maka dia memutuskan untuk kembali ke Indonesia beserta anak semata wayangnya.

Setelah kembali di Indonesia dan si bule masih sibuk dengan pekerjaannya, serta adanya masalah dalam hubungan mereka, maka bercerailah mereka. Saat perceraian, si anak dibawa oleh si mbak tetapi si bule juga ingin mengasuhnya. Si mbak tidak ingin si anak diambil oleh si bule dan dibawa ke negaranya. Maka kaburlah si mbak ke suatu daerah yang tidak begitu dekat dari Ternate. Saya penasaran mengapa ke sini bukan daerah lain misal Kalimantan atau Sumatera, dan dia bilang hanya ingin saja ke daerah yang jauh dan sulit terdeteksi. Yeahhh… That was also my random trip about.

Si bule dan si mbak akan memutuskan tentang bagaimana masa depan anak mereka apakah akan tetap di Indonesia atau kah akan di Jepang dan semacamnya lah. Si mbak sebenarnya agak takut bertemu sang mantan suami di Bali karena si bule, yang masih belum mempunyai pengganti si mbak, katanya masih ingin rujuk dengan si mbak.

Tiba-tiba si mbak bilang kalau dia ke Bali dibiayai oleh si bapak. Saposek bapak itu? Mulailah semakin random ngobrol kami. Menurut si mbak, dia sekarang tinggal di sebuah rumah sederhana bersama anak dan seorang pembantu. Rumahnya tidak luas, masih plesteran semen, belum berkeramik, dengan kamar yang belum disekat. Suatu hari si mbak berkenalan dengan seorang bapak pejabat tajir melintir yang menguasai proyek pembangunan ini itu sehingga banyak mendapatkan uang dari kontraktor. Pfiiiuuuhhh.

Si pejabat rajin menyambangi si mbak dan membelikan ini itu untuk si mbak serta ikut membangun rumah si mbak. But there is no free lunch, right?? Walaupun si mbak tahu kalau si pejabat STW aka setengah tua, atau malah sudah tua, itu mempunyai anak istri, tetap saja si mbak getol mendekati si pejabat. Si mbak bilang kalau dia dibelikan motor cowok seharga 30 juta lebih. Tiap bulan diberi nafkah jutaan rupiah. Rumahnya sekarang sudah jauh lebih bagus daripada 1 tahun lalu sebelum berhubungan dengan si bapak.

Saya bertanya apakah dia tidak takut dilabrak istri si bapak itu. Dia bilang mereka sering menghabiskan waktu di Ternate, jauh dari rumahnya dan keluarga bapak itu, dan kota yang paling lengkap untuk belanja sehingga dia bisa minta dibelikan ini itu oleh si bapak. Yak sip. Pfffttt.

Si mbak bercerita lagi. Dia pernah mengunggah foto dirinya bermandikan uang seratusan dan lima puluh ribuan dengan mamakai bikini di Facebook. Then she showed me that picture and i was just like WHAAATTTTHEHECK. Setelah mengunggah foto mandi uang, beberapa lelaki mengajak dia chatting dan minta dibeliin ini itu dan ditransfer sejumlah rupiah. Jauh sebelum mengunggah foto mandi uang, si mbak mengatakan bahwa dia memang nakal di facebook. She loves chatting in Facebook and it will always end up as a private adult messaging. Arggghhhh.

She showed me some BBM messages with her boy-toys from all over Indonesia. The boys sent their d*ick or naked pricture to her. GLEG. Jika si mbak memutuskan akan bertemu dengan si cowok yang biasanya berada di sekitar Ternate, dia akan mengamati si cowok apakah sesuai dengan fotonya atau tidak. Pernah suatu hari katanya si cowok berbeda dengan di foto, setelah mengamati si cowok maka si mbak akan melipir kabur. jadi ingat iklan jadul yang “aku pakai baju merah” atau apalah itu. When the boy was cute or hot, they would have se*x. Apadeh apadeh ini. #_#

Kembali soal liburan di ke Bali kali ini, dia bilang dibiayai oleh si bapak pejabat. Dia mengaku sedang hamil dan akan aborsi di Bali kepada si Bapak. Untuk biaya aborsi saja, si bapak memberinya Rp25.000.000, lalu tiket pesawat, hotel, uang belanja, uang saku, deelel. Thank god, the flight only took 45 minutes and we already arrived in Manado. She gave me her BBM contact and i wrote it down on a piece of paper. I told her that my phonecell was off and i would add her BBM sooner. I dont know where i placed that paper since i had so many ticket and bills i kept from my 11 days trip. What kinda horror story i had on the plane that day.