Kabur ke Nias

Nias aku segera datang…….

 Terngangah pada saat baru saja mendarat di Bandara Internasional Kuala Namu, Sabtu 26 April 2014 lalu. Inilah untuk pertama kali saya bisa melihat kemegahan bandara ini karena tahun lalu saat cuti dan kabur ke Medan, penerbangan masih di Bandara Polonia.

bandara-kualanamu-medan

Kenorakan saya selanjutnya adalah melihat stasiun kereta api bandara ARS (Airpport Railway Station) yang keren.

ARS-bandara-kualanamu-medan

Tempat pembelian tiket dan ruang tunggunya walaupun belum benar-benar selesai tetapi sudah membuatku terpesona seperti kamu memesonaku.

ARS-bandara-kualanamu-medan

*sangat tepat digunakan sebagai venue fashion show*

*calling Anthony Vaccarello, Alexander Wang, or even Miuccia Prada to hold their shows here* #halah

ARS-bandara-kualanamu-medan

Dengan harga tiket Rp65.000,00 (promo karena menggunakan AirAsia) untuk perjalanan yang ditempuh selama sekitar 37 menit dan kereta yang senyaman ini, maka sangat tidak rugi uang yang kita keluarkan.

ARS-bandara-kualanamu-medan

Sesampainya di Medan, saya disambut Dior, Mbak Tesa, dan Mas Gandy. Sesuai permintaanku, maka kita berkumpul di Martabak Gapa yang di dekat stasiun. Selain martabak, di sini yang terkenal adalah roti tisue (yang mirip rumah semut raksasa di Merauke yang pernah dikirimkan fotonya oleh teman saya yang sempat bertugas di sana) dan nasi gorengnya.

martabak-gapa

roti-tissue-martabak-gapa

martabak-gapa

Setelah berpisah dan ditraktir sebagian oleh Dior, maka saya, Mbak Tesa dan Mas Gandy menuju Ucok Durian. Banyak dan enak-enak kali durian di Ucok. Satu buah durian yang kami nikmati waktu itu seharga Rp30.000,0. Yeeeahh akhirnya saya tahan bau durian bahkan kuat makan setengah buah. (^.^)/

ucok-durian

Dan malam itu saya nebeng di rumah Mbak Tesa dan Mas Gandy. Lalu Minggu pagi pukul 5.50 WIB sudah diantar Mas Gandy menuju stasiun untuk segera terbang dengan pesawat Wings Air pukul 08.15 WIB ke Gunungsitoli di Nias. Selalu merepotkan pasangan ini deh setiap ke Medan.

bandara-kualanamu-medan

bandara-kualanamu-medan

Pukul 7 kurang saya sudah di Kuala Namu jadi bisa foto-foto bandara lagi. Raung tunggunya cukup luas dan bagus.

bandara-kualanamu-medan

Sekitar pukul 8.00 WIB para penumpang dipersilakan naik ke pesawat WingsAir  dan ternyata bagasi berada di bagian depan pesawat sedangkan penumpang masuk dari bagian belakang pesawat. Saya hanya tahu bahwa saya akan naik pesawat kecil dengan baling-baling.

wings-air-ke-nias

Saya semakin terkejut ketika mengetahui bahwa saya ternyata memilih tempat duduk tepat di samping baling-baling (bambu). Saya bisa dengan jelas melihat perputaran baling-baling yang bunyinya cukup berisik tersebut. *komat-kamit berdoa*

wings-air-ke-nias

Setelah melewati Samudra Hindia yang dirundung awan gelap dan hujan, alhamdulillah saya akhirnya bisa menginjakkan kaki di Bandara Binaka Nias.

bandara-binaka-nias

Pada saat mendarat ini saya masih belum tahu bagaimana cara ke Kota Gunungsitoli dari bandara ini. Setelah lirik sana-sini melihat profil orang-orang sekitar, saya memutuskan untuk bertanya pada salah satu penumpang yang juga baru turun dan sedang duduk. Soni, begitulah namanya yang merupakan penduduk asli Nias dan bekerja sebagai seorang PNS di salah satu Pemkab di sana yang ternyata juga akan ke Gunungsitoli. Saya dan Soni serta beberapa ibu menuju Gunungsitoli menggunakan angkot yang berupa mobil Avanza dengan tarif Rp35.000,00 per orang. Para supir angkot ini banyak di sekitaran pintu kedatangan Bandara Binaka tetapi kita harus cermat karena banyak supir yang menawarkan untuk menyewakan mobil dan mengantar kita dengan biaya sekitar Rp350.000,00 hingga Rp500.000 untuk tujuan Teluk Dalam. Info yang saya dapat di internet hanya menyebutkan bahwa jika tidak ingin menyewa mobil ke Teluk Dalam maka kita harus ke Gunungsitoli baru melanjutkan dengan angkot menuju Teluk Dalam maka dari itu saya memutuskan untuk bagaimana yang penting sampai Gunungsitoli saja dulu. Dalam perjalanan, saya mendapat masukan dari Soni, ibu-ibu serta supir angkot tersebut tentang di mana sebaiknya saya menginap di Gunungsitoli sebelum melanjutkan perjalanan ke Teluk Dalam yang merupakan tujuan utama saya. Supir angkotku bernama Pak Lian (081370466040), Bapaknya sangat ramah dan enak diajak ngobrol, musik di mobilnya pun juga lumayan oke; dari Bruno Mars, Natalie Imbruglia, Jose Mari Chan, hingga lagunya Keith Urban yang Making Memories of Us yang langsung membuat suasana hujan gerimis di pagi itu jadi lalalala

“… and I’m gonna love you like nobody loves you,  and I’ll earn your trust making memories of us”

Saya diantar Pak Lian ke Hotel Nasional di Jalan Kelapa nomor 55 Gunungsitoli telp 0639-21018 dengan tarif kamar yang saya pilih tentunya yang paling murah yaitu Rp200.000,00 per malam. Saya memilih menginap di hotel ini karena letaknya cukup strategis dan banyak tempat makan yang halal di sekiatr hotel ini sesuai rekomendasi selama di angkot dari bandara. Selain Hotel Nasional, di sini juga terdapat beberapa hotel lain yaitu Hotel Mega Nasional di jalan arah bandara, Hotel Tinca di dekat pelabuhan, serta penginapan yang ada di komplek Museum Pusaka Nias. Hotel-hotel selama perjalanan saya nanti akan saya buat daftarnya tersendiri beserta foto dan tarifnya.
hotel-nasional-gunungsitoli

Di samping Hotel Nasional terdapat rumah makan padang yang enak dan murah banget. Seporsi gule kepala kakap, nasi putih 2 porsi, dan sepiring sayur dihargai Rp15.000,00 saja. Juara banget.

20140427_110120 20140427_111943

Setelah makan dan hujan gerimis sudah tiada, saya naik becak Rp10.000,00 dari hotel ke Museum Pusaka Nias. Becak di sini adalah becak bertenaga motor.

Museum Pusaka Nias terletak di jalan menuju pelabuhan jika kita dari pusat kota Gunungsitoli. Untuk memasuki kompleks museum ini, kita harus membayar Rp4.000,00.

Museum Pusaka Nias

Kita bisa menikmati pantai yang indah yang biasanya dipenuhi oleh muda-mudi di sana pada sore hari saat hari libur, kebun binatang mini, dan terdapat aula unutk kebaktian,serta melihat beberapa peninggalan bersejarah yang berada di luar gedung museum. 

Museum Pusaka Nias

Untuk memasuki gedung Museum Pusaka Nias kita harus membayar lagi Rp5.000,00 agar bisa menyaksikan ribuan benda peninggalan budaya yang disimpan dalam museum. Museum Pusaka Nias terdiri dari beberapa gedung yang terhubung dengan tema koleksi masing-masing gedung berbeda. Akan tetapi, kita tidak diperkenankan memotret koleksi museum dengan alasan bahwa agar menimbulkan ketertarikan bagi calon pengunjung. Ada berbagai perhiasan, adu (patung), peralatan rumah tangga, miniatur rumah adat, hingga koleksi foto-foto rumah adat khas Nias yang tersebar di seluruh penjuru pulau serta daftar NGO yang membantu merehabilitasi Nias setelah gempa dan tsunami hampir satu dekade yang lalu.

Museum Pusaka Nias

Di komplek Museum Pusaka Nias ternyata kita bisa menginap dengan membayar biaya sewa antara Rp50.000,00 hingga Rp150.000. Rumah adat seperti tergambar di bawah ini disewakan dengan harga Rp150.000 per malam. Jika tertarik untuk bermalam di rumah adat ini, silakan menghubungi Fili di 082361966991.

Museum Pusaka Nias

Museum Pusaka Nias

Sekitar pukul 15.00 WIB, kompleks museum mulai banyak didatangi warga yang akan nongkrong-nongkrong bercengkerama di pinggir pantai maupun jemaat yang akan kebaktian di salah satu hall yang tersedia di sini. Ada yang naik pick up, motor, bus kecil, mobil, dan naik becak motor seperti yang saya lakukan.

Museum Pusaka Nias

Setelah sekitar 4 jam berkeliling kompleks museum dan ngobrol ngalor ngidul dengan Fili dan temannya, saya melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Gunungsitoli yang hanya berjarak sekitar 400 meter dengan berjalan kaki.

KMP-tanjungburang

Pelabuhan ternyata sedang sepi karena setiap hari Minggu katanya tidak ada kapal yang berangkat ke Sibolga. Saya kemudian naik becak untuk berkeling kota ke Lapangan Merdeka yang katanya jika sedang musim durian di situ merupakan pusat jual beli durian tetapi sayang sedang tidak musim durian. Lalu ke kompleks pemerintahan dan beberapa pasar,

 KP2KP-gunungsitoli

KPPN-gunungsitoli

IMG_4070

Serta ke stadion “Lapangan Bola Kaki Pelita” untuk sejenak menyaksikan pertandingan sepak bola.

lapangan-bola-kaki-pelita-gunungsitoli

Muter-muter dengan becak ini cukup membayar Rp20.000,00 hingga saya diantar kembali ke hotel dan langsung makan nasi goreng. Nasi goreng pakai kuah. Dan aku coba. Lumayan.

20140427_163504

Hotel Nasional ini mempunyai pemandangan pantai di belakang hotelnya. (minta difotoin mas-mas pegawai hotel)

pantai-hotel-nasional-gunungsitoli

Malam harinya sebelum tidur, saya makan lagi, kali ini gado-gado.

20140427_200358_night

Senin, 28 April 2014, sekitar pukul 05.30 WIB saya sudah duduk-duduk manis di pinggir pantai di belakang hotel menunggu saat matahari muncul.

sunrise-pantai-hotel-nasional-gunungsitoli

Acara menggalau di pantai pagi itu telah selesai dilanjutkan dengan sarapan sebungkus nasi goreng yang disediakan oleh hotel.

20140428_072039

Dan dapat gratisan godok tinta. Semacam jemblem atau comro(?) yg terbuat dari ubi dikukus, lalu ditumbuk, digoreng, dan diberi gula pasir.

godok-tinta-penuh-cinta

Di saat sarapan inilah saya bertemu dengan seorang tamu hotel. Tamu di hotel ini kebetulan cuma 5 atau 6 orang. Andik, seorang karyawan perusahaan kelapa sawit di daratan Sumatra yang sedang mencari karyawan di Nias untuk dibawa ke Sumatra. Saya katakan pada Andik bahwa pagi ini saya berencana pergi ke Teluk dalam menggunakan angkot yang saya pesan melalui Pak Lian. Andik ternyata berminat juga untuk ke Teluk Dalam karena pekerjaannya sudah hampir selesai sehingga dia bisa refreshing sejenak. Berangkatlah kami sekitar pukul 09.00 dengan menggunakan angkot berupa mobil APV di mana posisi dan komposisi penumpang adalah sebagai berikut: Supir, penumpang 1 dan Andik di bagian depan, 4 orang ibu di bagian tengah, aku duduk di bagian kiri belakang dengan seorang ibu dan 2 penumpang pria di sebelahku, serta seorang kenek angkot dudul nyempil di bagasi. Mobil APV ke Teluk Dalam diisi 12 orang penumpang dengan waktu tempuh sekitar 3 jam dan jarak sekitar 100km dari Gunungsitoli dan jalur yang berkelak-kelok dan lobang di sana sini. Biaya naik angkot ini Rp60.000,00/orang walaupun pada awalnya sih katanya Rp50.000,00 tapi tiba-tiba naik Rp10.000,00 gitu.

20140428_091527

*foto saat penumpang masih 7 orang

Pemandangan menuju Teluk Dalam sangatlah indah, walau kadang agak terganggu pemandangan penduduk yang menjemur pakaian dengan digeletakin sembarangan di pinggir jalan atau di halaman rumah di samping pinang yang juga mereka jemur. Musik juga bergema di sepanjang jalan. Dari lagu-lagu Batak, Nias, dangdut koplo, tembang kenangan, semua ada. Lagu yang membuatku terkenang di perjalanan itu liriknya begini:

Madu.. madu.. orangnya manis semanis madu, membuat hatiku jadi rindu….

20140428_112301

Sekitar pukul 12.00 WIB kami sampai di Simpang Lima, Teluk Dalam dan kami memutuskan untuk naik ojek untuk berkeliling dari satu objek ke objek wisata lainnya. Kami kontrak satu ojek seharga Rp100.000,00 dengan waktu sampai sekitar Maghrib.

20140428_115315

Kami diantar ke Lompat Batu atau Fahombe yang terkenal di Desa Bawomatauo. Karena sedang tidak ada perayaan, agar dapat menyaksikan lompat batu, kita bisa membayar Rp150.000,00  untuk satu lompatan pada batu setinggi kira-kira 2 meter. :O Sang pelompat hanya butuh waktu sekitar 10 menit untuk berganti baju dan stretching sebelum melakukan lompatan.

lompat-batu-fahombe-nias

Adik-adik yang baru pulang sekolah membantu mengambilkan foto-foto dengan kemampuan yang mumpuni. Para wisatawan tentunya tidak ingin kehilangan momen berfoto dengan adegan lompat batu seharga Rp150.000,00 sekali lompat ini dong. Dan berfoto memakai atribut pelompat batu langsung di Nias bukan hanya berfoto a la pelompat batu yang ternyata pernah kulakukan di TMII beberapa tahun yang lalu.

lompat-batu-nias-fahombeIMG_4049

Tidak lupa berfoto dengan sang pelompat (indah) batu.

lompat-batu-nias-fahombe

Di depan semacam balai pertemuan atau rumah utama di desa ini.

desa-Bawomatauo

Di dalam balai pertemuan yang berhiaskan tengkorak kerbau.

IMG_4154

Di tempat ini, adik-adik yang tadi membantu memotret kami di depan serta beberapa bapak yang mendampingi kami melihat-lihat bangunan ini memulai bergerilya menawarkan aneka suvenir seperti kalung, gantungan kunci, patung kayu, gelang. Akhirnya saya membeli beberapa kalung dan gantungan kunci yang harganya Rp25.000/buah (agak mahal tapi ya sekaligus sebagai ucapan terima kasih buat adik-adik tadi), serta sebuah patung kayu  berbentuk orang Nias yang membawa papan surfing dari seorang bapak yang awalnya ditawarkan Rp200.000 tetapi akhirnya dilepas seharga Rp50.000 pada saat saya mau meninggalkan tempat ini.

patung-nias-surfer

Desa Bawomatauo ini katanya sangat padat karena penduduknya hampir 6000 orang di sepanjang mata memandang depan, kanan dan kiri dari lokasi lompat batu. Kendaraan bermotor dilarang untuk dihidupkan jika sudah memasuki sekitar lokasi lompat batu.

landscape-Desa-Bawomatauo

Setalah selesai melihat Desa Bawomatauo, kami melanjutkan perjalanan ke Sorake. Di tengah perjalanan, kami mampir makan di sebuah warung yang terlihat lumayan oke dan bertuliskan Arek Suroboyo. Hore, menemukan tetangga dari Jawa Timur di daerah nan jauh seperti ini.

pecel-pecal-annisa-arek-suroboyo-teluk-dalam-nias

Saya memilih mencicipi pecal yang merupakan pecel dimodifikasi dengan selera Teluk Dalam.

20140428_131652

Bapak Tukang Ojek memilih menu ayam.

20140428_131658

Di warung Anisa ini tersedia juga beraneka kue seperti galametura (nagasari yang tanpa isi pisang, hanya tepung dan santan), lapek (sejenis bugis atau mendhut), donat, risoles, dan roti. Cukup kreatif dan lengkaplah makanan di warung ini.

20140428_131440

Galametura yang enak. (Kue-kue lainnya juga enak-enak)

galametura

Sebelum melanjutkan perjalanan ke pantai Sorake, saya berfoto terlebih dulu bersama Bu Tutik yang sudah sekitar 17 tahun tinggal di sini dan merintis warung yang kata Pak Ojek merupakan warung termasyur dan laris serta merupakan contoh transmigran sukses.

IMG_4171

Here we come. Sorake.

pantai-sorake-teluk-dalam-nias-surfing

Rencana awal sih kami mau muter-muter saja dan menginap di Teluk Dalam agar lebih mudah kembali ke Gunungsitoli, tetapi apa daya pemandangan di pantai ini sunnguh indah sehingga kami memutuskan untuk menginap saja di sini dan meminta ojek untuk menjemput kami keesokan hari pukul 06.00 WIB. Setelah melihat beberapa homestay, kami memutuskan untuk menginap di Homestay Crusoes yang tarifnya Rp200.000/malam dengan fasilitas AC dan kulkas serta view pantai Sorake dari balkon.

20140429_061253_night

IMG_4264

Setelah berganti pakaian, aku dan Andik siap mencoba menjelajah pantai. Tiba-tiba Andik mengajak bermain surfing. Dengan bermodal Rp50.000 kami sewa papan selancar dari warga sekitar homestay yang bisa dipakai seharian dan harganya tetap sama walau kami sewa pada pukul 15.00 WIB. Aku sih belum pernah surfing, sedangkan Andik katanya pernah beberapa kali surfing di daerahnya. Anak-anak pantai di situ bisa mendampingi kita belajar surfing dengan tarif sukarela dan tawar-menawar sambil menyewa papan dan akan mengejar-ngejar untuk mendampingi bermain surfing sepanjang kita tidak mengiyakan tawaran pendampingan mereka. Cuekin sajalah walau memang mengganggu.

pantai-sorake-teluk-dalam-nias-surfing

Pantai di Sorake ini penuh dengan karang yang tajam sejauh kira-kira 200 meter dari bibir pantai sebelum akhirnya bisa memulai berenang menuju tempat surfing yang jaraknya sekitar 200 meter juga. Dengan karang yang tajam ini, saya sarankan lebih baik memakai sepatu daripada kaki kesakitan duluan sebelum bermain surfing. Tapi dari beberapa bule yang saya lihat hanya ada dua orang yang memakai sepatu sedangkan sebagian besar berjalan pelan-pelan memilih-milih jalur dengan karang yang agak tidak tajam dan ini cukup membuang waktu.

pantai-sorake-teluk-dalam-nias-surfing

Kata Andik, aku tinggal nyemplung dan berenang saja dengan menunggangi papan hingga tempat berkumpul dan bermain surfing. Dan dengan modal nekat maka mulailah aku menaiki papan dan nyemplung air. Apa daya untuk menyeimbangkan badan saja susah hingga leher serasa tengleran dan tangan pegel banget. Andik sih sudah jauh di depan meninggalkanku yang masih terombang-ambing sambil komat-kamit berdoa agar bisa segera kembali ke tepi pantai saja. Akhirnya setelah dengan perjuangan setengah mati, aku bisa sampai di tempat berkumpul dan bersiap menerima serbuan ombak yang saat itu tingginya sekitar 5-6 meter katanya. Tiba-tiba ombak besar sudah membawaku dan terasa sangat nikmat berada di puncak ombak untuk sejenak, lalu terbawa ombak lagi beberapa kali dan masih nikmat hingga akhirnya aku tersiram ombak dan tenggelam. “Harus muncul di permukaan. HARUS.” gitu doang pikiranku sambil buru-buru menarik foot string yang mengikat kakiku dengan papan. Alhamdulillah berhasil. Baru berhasil kembali menunggangi papan dan sudah guyur ombak lagi. Tenggelam lagi. OK, I’m done deh surfingnya sambil meripit menunggu kesempatan ombak tidak terlalu besar untuk menepi ke kiri tempat surfing yang dipenuhi karang. Walala walau ecek-ecek yang penting foto dengan papan surfing.

pantai-sorake-teluk-dalam-nias-surfing

Secara awalnya hanya akan bermain-main di pantai, aku salah kostum dengan memakai celana boxer ungu polka dot ini padahal aku membawa celana renang. Walhasil saat terombang-ambing ombak tiba-tiba celana ini sobek di bagian selangkangan. -__-”

pantai-sorake-teluk-dalam-nias-surfing

Setelah surfing sekitar sejam, kami jalan-jalan menyusuri pantai Sorake hingga ke Barriga Surf Camp. Barriga ini menurut saya homestay yang paling oke di Sorake, ratenya Rp250.000 hingga Rp350.000 per malam dan ada restorannya yang terlihat oke.

pantai-sorake-teluk-dalam-nias-surfing

Serasa sedang napak tilas…

pantai-sorake-teluk-dalam-nias-surfing

Kate Moss dan Gisele Bundchen pemotretan Versace Spring/Summer 2009.

 

Duduk-duduk di atas batang pohon yang terdampar di atas karang sambil foto-foto.

pantai-sorake-teluk-dalam-nias-surfing

Bule dan anak-anak lokal yang sedang menikmati pemandangan pantai dan para surfer yang beraksi.

pantai-sorake-teluk-dalam-nias-surfing

Ternyata ada tempat nongkrong dengan pemandangan paling dekat ke tempat surfing yaitu Hash & Family Surf Camp. Tempatnya cozy dan bersih. Ratenya juga Rp200.000/malam dengan fasilitas AC juga. Bisa pijat ibu-ibu ini juga, tarifnya Rp100.000/jam. Bukan pijat plus-plus dan tarif sama baik bule maupun orang lokal (tapi bisa ditawar dengan alot hingga jadi Rp80.000/jam seperti yang Andik lakukan).

pijat-pantai-sorake-teluk-dalam-nias-surfing

Pine apple and avocado juice. @Rp15.000,00

20140428_181521

Sunset view from our room.

pantai-sorake-teluk-dalam-nias-surfing

Untuk makan malam, kami berjalan ke ujung lagi, yaitu ke Barriga yang restorannya saya bilang cukup OK tadi.

Ikan smedang yang dibakar tanpa bumbu, tumis sayuran, sambal potongan cabe+kecap asin, sambal kecap, 2 porsi nasi, dan 2 gelas air putih untuk dinner di Barriga seharga Rp105.000. Harga ikan di Teluk Dalam sini memang mahal. Beda dengan di Gunungsitoli yang harga ikannya murah-murah karena konon jumlah ikan lebih banyak daripada jumlah orangnya. -___-”

20140428_210232_night

Ikan smeda ini enak banget, durinya jarang

ikan-smedang-pantai-sorake-teluk-dalam-nias-surfing

Kami berangkat makan malam sekitar pukul 20.00 di mana saat itu sudah sangat sepi bahkan tidak ada orang mondar-mandir atau terlihat, apalagi saat kami selesai makan pukul 21.00 WIB. Bule-bule mungkin pada lelah setelah surfing seharian.

29 April 2014, pukul 06.30 WIB bapak-bapak ojek datang dan kami langsung berangkat menuju Teluk Dalam yang berjarak sekitar 17 KM dari Sorake.

sunrise-pantai-sorake-teluk-dalam-nias-surfing

Anak sekolah berangkat menggunakan odong-odong hingga bergelantungan.

IMG_4289

Singgah sejenak ke rumah salah satu tukang ojeg untuk melihat peternakan babinya.

IMG_4284

Sampai di Simpang Lima, Teluk Dalam dan melanjutkan perjalanan dengan angkot yang sudah nangkring di situ.

teluk-dalam-nias-surfing

Untuk tarif pagi cukup mahal yaitu Rp100.000,00 per orang karena biasanya agak buru-buru karena harus mengantar calon penumpang pesawat. Seperti yang kami alami waktu itu, HANYA 2 JAM saja perjalanan Teluk Dalam hingga Bandara Binuka padahal normalnya sekitar 3 jam. Ugal-ugalan pol-polan dengan jaminan tidak akan ketinggalan pesawat. -_____-”

pantai-sorake-teluk-dalam-nias-surfing

Sekitar pukul 9.30 WIB kami tiba di Hotel Nasional karena saya harus mengambil colokan listrik T saya yang ketinggalan lalu kami sarapan di rumah makan padang murah meriah dan enak banget di dekat hotel. Saya kembali memesan gule kepala kakap yang enakkkkk.

20140429_094506

Sesuai rencana, bahwa Andik akan mengambil para calon kayawannya di Nias Utara dan malam ini akan menyeberang ke Sibolga dengan kapal laut. Tetapi karena belum mendapat kiriman uang untuk membeli tiket kapal dan akomodasi para calon karyawan, saya mengantar Andik ke salah satu bank untuk mengambil uang.

20140429_105754

Setelah uang di tangan, Andik mengajak saya ke tempat pembelian tiket kapal di depan Pelabuhan Gunungsitoli. Di pelabuhan ini jika kita ingin membeli tiket kapal hanya bisa dilakukan di agen-agen di sekitar depan pelabuhan karena tidak ada loket penjualan di pelabuhannya. Harga tiket untuk kelas ekonomi Rp80.000, kelas VIP 120.000, dan kamar Rp200.000,00.

loket-tiket-kapal-pelabuhan-gungsitoli

Di agen tiket kapal di Pelabuhan Gunungsitoli ini juga tersedia warung untuk makan dan menunggu bagi calon penumpang kapal.

IMG_4302

Setelah tiket siap, saya ikut Andik menjemput para calon karyawan ke Nias Utara dengan menggunakan mobil carry yang dia sewa. Iya yang ini nebeng gratisan emang dan menambah penuh sesak mobil yang kecil ini untuk calon penumpang yang sekitar 10 orang kata dia.

nias-utara

Lokasi penjemputan ternyata cukup terpencil dengan melewati perbukitan dan tanjakan serta turunan yang bisa mencapai sekitar 45 derajat dengan pemandangan kanan kiri jurang.

nias-utara

Penjemputan juga tidak mudah karena harus negosiasi lagi dengan keluarga dan calon karyawan yang akan diajak merantau. Saya sampai trenyuh melihat salah satu calon karyawan yang membawa serta istri dan 2 anaknya yg masih balita. Calon karyawan satunya membawa istrinya yang baru dinikahi 2 bulan. Dari adegan pamit yang mengharukan hingga negosiasi dengan kunjungan tetangga sekitar yang ikut nimbrung sambil minum tuak dicampur oplosan minuman energi. Biaya perjamuan seperti ini yang cukup melelahkan dan membutuhkan uang yang lumayan, apalagi kata Andik sempat mengadakan makan malam  sambil minum-minum bagi calon para karyawan.

nias-utara

Sambil menunggu calon karwayan berkumpul di pemberhentian kedua, saya main-mainlah ke pantai Fufula Indah bersama adik-adik driver dan kenek.

pantai-fufula-indah-pantai-nias-utara

pantai-fufula-indah-pantai-nias-utara

Sambil gantian difotoin sama mereka.

pantai-fufula-indah-pantai-nias-utara

pantai-fufula-indah-pantai-nias-utara

pantai-fufula-indah-pantai-nias-utara

Dan setelah semua calon karyawan siap, mobil carry berangkat menuju pelabuhan Gunungsitoli lagi dengan 1 driver, 2 ibu muda dan 1 balitanya di depan, saya, 1 calon karyawan dan 1 balitanya serta Andik di bagian tengah, 2 calon karyawan, 2 penumpang naikin di jalan dan setumpuk barang bawaan di bagian belakang berhadap-hadapan, kenek bergantungan, serta 3 calon karyawan dan seorang rekan Andik yang meupakan warga lokal yang ikut mencari karwayan menggunakan motor ke pelabuhan.

KMP-Belanak-Gungsitoli-Sibolga

KMP Belanak berangkat dari pelabuhan Gungsitoli menuju Sibolga sekitar pukul 20.00 WIB tetapi penumpang sudah mulai naik ke kapal sejak pukul 17.00 WIB.

KMP-Belanak-Gungsitoli-Sibolga

Suasana di dalam kapal untuk penumpang kelas ekonomi. Riuh, panas, penuh penumpang. Banyak anak kecil yang menangis, ada musik dangdut bergema, ada tayangan televisi di bagian tempat penjualan makanan.

KMP-Belanak-Gungsitoli-Sibolga

Suasana di bagian VIP. Kursinya cukup nyaman, tetapi terkadang ada sejenis anak kecoak yang muncul dari sela-sela kursi.

KMP-Belanak-Gungsitoli-Sibolga

Penumpang VIP bisa menyewa matras untuk tidur di sela-sela ruang VIP yang kosong.

kapal-KMP-Belanak-Gungsitoli-Sibolga

Ruang nahkoda dan awak kapal.

kapal-KMP-Belanak-Gungsitoli-Sibolga

Foto-foto di geladak kapal dulu 😀

kapal-KMP-Belanak-Gungsitoli-Sibolga

Suasana persiapan memasuki pelabuhan Sibolga. Ada ibu-ibu yang masih mengisi ulang baterai ponselnya dari colokan listrik yang tersedia di ruang VIP.

kapal-KMP-Belanak-Gungsitoli-Sibolga

Penumpang mulai turun kapal sekitar pukul 08.30 WIB.

kapal-KMP-Belanak-Gungsitoli-Sibolga

Si Yogi digendong ibunya.

IMG_4437

Foto dengan adik baru saya yang nempel terus sejak mulai masuk mobil saat di Nias Utara.

20140430_075104

Dan mereka semua pergi menuju lokasi merantau di perkebunan kelapa sawit. It’s my pleasure to meet you all.

IMG_4441

Saatnya melanjutkan petualangan…

Dag Dig Dug Akan (Singgah) ke Medan (Lanjut ke Nias)

Perjalanan kali ini sebenarnya sudah lama saya rencanakan, dari pertengahan Oktober 2013 saat mengetahui akan ada promo salah satu maskapai penerbangan, sebut saja Citilink. Malam itu saya berburu tiket ke Medan dengan perkiraan waktu sekitar Maret (seperti perjalanan (galau) saya tahun lalu di awal Maret L ) s.d. Mei 2014 di mana di bulan-bulan itu ada beberapa hari libur nasional sehingga saat yang tepat untuk liburan dengan mengambil sedikit cuti. Dapatlah saya tiket Jakarta-Medan PP untuk tanggal 28 April 2014 ke Medan dan 3 Mei 2014 balik ke Jakarta. Sampailah pada awal Desember dan saya sama sekali belum menyusun itinerary sama sekali untuk perjalanan yang saya perkirakan ke Medan dan sekitar Danau Toba itu lagi dan tiba-tiba ingat perkataan seorang teman di Medan, Mbak Tesa, yang dulu saat saya ke Medan yang bilang ingin jalan-jalan ke Pulau Nias.

Langsung googling tentang Nias dapatlah info sekelebatan tentang Sorake, Teluk Dalam yang pantainya indah, ombaknya tinggi sehingga banyak bule surfing, serta ada lompat batu yang terkenal dan jadi gambar di lembaran uang seribu rupiah di tahun 90-an dulu. Saya memutuskan harus ke Nias di perjalanan kali ini. Kalau daratan Sumatra kan masih mudah dijangkau jika ada promo-promo selanjutnya, tapi jika Nias mungkin di saat itu saya sudah tidak semenggebu-gebu saat ini mengunjunginya dan tantangannya juga beda -,-. Dengan tujuan ke Nias maka saya rasa waktu dari Senin s.d. Sabtu kurang untuk menjelajah sehingga saya intip-intip AirAsia dan Alhamdulillah mendapat tiket yang cukup murah ke Medan untuk tanggal 26 April 2014. Saya juga memutuskan untuk langsung booking tiket Wings Air yang mana jadwalnya cukup banyak dan setiap hari dari Medan ke Gunung Sitoli di Pulau Nias untuk penerbangan Minggu pagi 27 April 2014. Ya, saya hanya pesan tiket berangkat ke Nias, tidak sekalian Nias ke Medan karena saya ingin merasakan perjalanan laut serta darat dari Nias ke Medan yang katanya perlu 24 jam. @_@

*http://uangindo.com/wp-content/uploads/2013/02/1992_03B.jpg

Teng tong teng… sudah akhir Maret, dan saya masih belum menyusun itinerary bahkan belum googling lagi soal Nias setelah googling singkat sebelum booking tiket saat itu. Tiba-tiba ada pengumuman untuk seleksi kuliah lagi, dan saya juga belum siap, belum belajar, belum persiapan sama sekali untuk ujian ini. Karena ini demi masa depan, maka saya sedikit mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian yang akan diadakan pada 22-23 April, beberapa hari sebelum saya ngabur ke Nias itu. Dan akhirnya ujian pada 22 dan 23 April telah selesai, saatnya ngebut gawean kantor yang terbengkalai selama 2 hari dalam 2 hari biar liburan 7 hari minim “gangguan” kerjaan. Jadi apa kabar itinerary ke Nias??? Terlupakan. Toh juga bakal liburan SENDIRI jadi ya berdoa saja semoga nanti bisa kembali dari Nias dengan selamat dan terpuaskan dengan keindahan alamnya. Ngomong-ngomong, saya sudah mengajukan cuti 4 hari pada pertengahan Maret dengan mencantumkan alamat cuti saya di Indonesia yang kemudian diminta mengganti dengan nama kota di mana saya berada oleh atasan saya dan saya tulis Jakarta -,- Saya tidak ingin teman-teman, atasan, bahkan keluarga saya tahu bahwa saya akan jalan-jalan ke Nias seorang diri. Saya tidak mau mereka khawatir. #drama

Jumat malam menjelang Isya’, 25 April 2014, saya masih kejar tayang kerjaan, dan Bu Bos sebelum pulang dan mau pamitan kepada Pak-Pak Bos yang kubikelnya di depanku tiba-tiba bertanya.

Bu Bos: Mau liburan ke mana Mas memang??

Me: Ke suatu pulau, Bu.

Pak Bos1: Paling ke Medan lagi….

Me: -_____-“

Bu Bos: Emang sama siapa Mas jalan-jalannya?

Me: Sendiri, Bu… Agak takut sih apalagi ini lumayan terpencil daerahnya… (mulai deg deg ser karena minim informasi banget). Saya mau ke Nias, Bu…. (akhirnya ngaku)

*Bu Bos, Pak Bos1 dan Pak Bos2 agak kaget sambil tertawa dengan kelakuan anak buahnya 1 ini*

Pak Bos2: Kamu yakin sendirian?? Di sana beda dengan Batak karakter masyarakatnya. (Bos ini Batak jadi sedikit banyak tahu tentang cerita Nias)

Me: hihihi…

Bu Bos: Ya wes, hati-hati saja di Nias… jangan lupa update status biar kalau ada apa-apa terlacak keberadaannya…

Me: Iya Ibu… (sambil mikir iya kalau di sana ada sinyal telepon dan koneksi data)

*Bu Bos pamitan sambil tersenyum-senyum*

Pak Bos1: memang mau nyari apa Mas di sana? *sambil geleng-geleng*

Me: *senyum bingung juga* *mau jawab cari jodoh, bukan karena jodoh yang kuinginkan tidak jauh di sana; cari ketenangan? Bukan juga* Cari pengalaman, Pak. 😀

*Pak Bos1 dan Pak Bos2 tertawa bersama dan makin geleng-geleng*

Malam itu saya sampai kos sekitar pukul 23.00 WIB dan belum ada itinerary sama sekali. Mulailah googling dan berburu informasi sebanyak-banyaknya tentang Nias. Copy-paste blog sana sini hingga hamper jam 1 dan sudah bangun sesuai alarm alami tubuh saya adalah sekitar jam 4.15 pagi. Setelah subuh lanjut googling tentang Nias lagi dan jam 7 lebih baru mulai packing. Dengan tema pantai dan danau yang saya pikir akan mendominasi perjalan kali ini, maka saya memutuskan untuk tidak membawa celana panjang dan jeans melainkan pakaian yang beachy dan summery saja. Satu-persatu saya masukkan ke tas carrier ukuran 48 liter saya yang tidak terisi penuh biar bisa diisi kain-kain atau ulos yang biasanya saya beli kalau sedang jalan-jalan. Setelah packing, mulai membaca file hasil googling mau ke Nias bagian mana, tempat apa, di sana naik apa dan makin bingung @_@

Pukul 09.30 sebelum mandi dan mengecek printilan, baru sadar kalau salah cetak tiket. Bukannya mencetak tiket AirAsia yng tujuan Medan sore ini, saya malah cetak tiket AirAsia dari Surabaya ke Jakarta yang saya gunakan mudik Januari lalu -____-“ Walhasil, setalah mandi langsung ke rental komputer dulu untuk mencetak tiket sebelum membeli sarapan. Tiket Citilink yang berangkatnya batal saya gunakan tetapi pulangnya tetap (akan) saya pakai sudah saya cetak dari jauh-jauh hari.

Pukul 11.00, setelah siap semua perbekalan selama seminggu ke dapan, saya berangkat ke travel yang akna mengantar saya ke bandara Soekarno Hatta pada pukul 11.30. Saya sampai di terminal 3 pada pukul 13.00 WIB. Lumayan lah harus menunggu hingga pukul 14.50 hingga pesawat AirAsia ke Medan akan terbang. Di saat menunggu inilah saya baru mengabari keluarga di Jawa Timur bahwa saya akan jalan-jalan ke Medan dan cuti seminggu ke depan dan itu pun cuma via SMS. I didn’t even tell them that I would go to Nias. Pffttttt. Bukannya apa ya, tetapi agar mereka tidak khawatir akan perjalanan sendiriku ini. Cukup aku yang khawatir akan nasibku di sana. Setelah SMS mengabari bahwa saya akan ke Medan. Setelah itu, saya mengirimi adik saya SMS yang berisi nama dan nomor polis asuransi yang saya ikuti dan saat dia bertanya tentang maksud SMS saya tadi. Saya balas SMS tersebut saat saya sampai di Medan bahwa saya salah kirim SMS. Pffftttt. Perjalanan ke Nias ini membuatku ketar-ketir, pakai banget. Tapi waktu itu sudahlah bismillah saja semoga semua lancer. Amiiiiiiinnn…

*terbang ke Medan, meninggalkan (sejenak kegalauan dan kegundahan di) Jakarta*