Anak Gunung Mantai di Belitung: Hari I

Hampir enam tahun lalu, aku sudah memegang tiket untuk jalan-jalan selama satu pekan di Bangka dan Belitung tetapi dibatalkan karena satu dan lain hal, dan akhirnya pada akhir pekan panjang 3 s.d. 5 April kemarin bisa terlaksana, walapun hanya ke Belitung. Untuk trip kali ini, aku iseng-iseng menawari beberapa teman untuk bergabung dan syukurlah mendapat enam teman, Cheva, Mbak Ratna, Denpe, Mas e-Pin, Mbak Nisa, dan GGS, untuk berbagi selama di sana, dan saya menjadi EO perjalanan kali ini. Enam dari tujuh peserta trip ini adalah teman-temanku naik gunung. Sekali-kali anak gunung main di pantai lah. Tiket pesawat kami berbeda-beda, ada tiga orang menggunakan Si Hijau, tiga orang menggunakan Si Merah, dan satu orang menggunakan Si Biru, dengan keberangkatan antara 5.55 s.d. 6.55 wib. Kebetulan pagi itu di Bandara H.A.S. Hanandjoeddin hujan lebat sehingga pesawat kami sempat berputar-putar cukup lama di atas Belitung tetapi waktu mendaratnya jadi lebih berdekatan. Di bandara, sudah ada Mas Riko (081929537131) dari Mitra Travel (082373502999) yang siap menemani kami selama 3 hari ke dapan. Harga sewa mobil di Belitung rata-rata Rp350.000,00 per hari termasuk supir di luar biaya bahan bakar. Dari bandara, kami langsung menuju Mie Atep khas Belitung yang ngeheits banget dan berlokasi di Jalan Sriwijaya Tanjung Pandan. Di sini, jangan berharap ada pramusaji yang melayani karena kita harus melayani diri kita sendiri, atau setidaknya ada anggota rombongan yang turun tangan mengambil mie dari Ibu-Ibu yang meracik mie untuk kita sajikan kepada diri kita sendiri. Begitu pun minuman berupa es jeruk kunci atau jeruk kunci hangat khas Belitung yang harus kita siapkan atau setidaknya ambil sendiri dari tempat penyajian. Seporsi Mie Atep dihargai Rp12.000, sedangkan segelas es jeruk kunci atau jeruk kunci hangat dihargai Rp4.000.

 Belitung- (64)

Sebelum berangkat ke Belitung, saya sudah memesan kamar di Hotel Surya (0719-21550) yang lokasinya strategis di pusat kota Tanjung Pandan dekat Tugu Satam. Tarif Hotel Surya cukup bervariasi dari Rp90.000 hingga Rp200.000. Kami sudah boleh check in walaupun saat itu masih pukul 10.000 wib. Kami memilih 3 kamar VIP yang harganya Rp200.000 yang menyediakan kamar mandi dalam, AC, dan sarapan dengan tarif Rp200.000/malam ditambah 1 kasur tambahan seharga Rp50.000. Di hotel ini tersedia sarapan berupa teh hangat manis dan nasi rames atau nasi kuning bungkus dan satu atau dua buah jajanan pasar sekitar pukul 5.30 wib yang diantar ke tiap-tiap kamar sehingga jika kita ingin berkelana dari pagi maka bisa sarapan dulu atau membawa nasi bungkus tersebut beserta meminjam sendok yang disediakan. Untuk kamar kelas lain, menu sarapannya seperti teh hangat manis dan telur rebus serta satu atau dua buah jajanan pasar.

Belitung- (189)

Setelah meletakkan barang di kamar hotel dan berganti pakaian, tujuan pertama kami adalah Pantai Tanjung Tinggi yang terkenal sebagai pantai untuk lokasi syuting film Laskar Pelangi. Bebatuan, pasir,  dan warna air laut di pantai ini sungguh indah, tetapi sayang saat itu sedang gerimis sehingga kami terpaksa sedikit bermandikan hujan demi foto-foto. Tidak dipungut biaya untuk masuk pantai ini.

Belitung- (54)

Tetap all out yes…

Belitung- (62)

Strike a pose.

Belitung- (57)

Thats why umbrella is one of my essential traveling mate.

Belitung- (43)

Karena hujan semakin deras, maka kami memutuskan untuk pergi makan siang di Pantai Tanjung Kalayang, dan akan kembali ke Pantai Tanjung Tinggi besok atau lusa. Di Pantai Tanjung Kelayang, kami makan di rumah makan pemilik kapal yang akan kami gunakan ke Pulau Lengkuas. Kami makan ikan bakar, cumi-cumi, telur dadar, tumis kangkung, nasi beberapa bakul, yang semuanya dikenai harga Rp350.000,00. Ikan bakar 1 kg dihargai Rp100.000, cumi Rp50.000 per porsi, tumis kangkung Rp20.000 per porsi, dan nasi Rp20.000 per bakul. Rumah Makan “Pak Anjang” dapat dihubungi di nomor telepon 081373169692 atau 081949427636.

Belitung- (65)

Saat selesai makan dan hujan agak reda kami langsung menyeberang ke Pulau Lengkuas dengan menggunakan perahu Pak Anjang yang telah kami hubungi sebelumnya. Tarif sewa kapal adalah Rp500.000, pelampurng Rp20.000 per orang, dan snorkel Rp20.000 per orang untuk satu hari. Sebaiknya kita menawar pada saat memesan kapal sehingga paket Rp500.000 sudah termasuk pelampung dsn snorkel. Kami agak rugi karena baru memakai kapal sekitar pukul 13.00 wib. Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, kami tiba di Pulau Lengkuas dan langsung menuju mercusuar. Saat itu masih saja sedikit gerimis, dan baru berhenti hujan saat kami sudah selesai dari mercusuar.

Belitung- (185)

Karya Tuhan yang sungguh indah.

Belitung- (6)

Pulau Lengkuas ini sangatlah indah apalagi ada mercusuar 18 lantai buatan Belanda pada tahun 1882 yang masih terjaga apik hingga sekarang.

Belitung- (180)

Biaya untuk masuk mercusuar ini adalah Rp5.000 per orang dan harus melepas alas kaki.

Belitung- (179)

Lorong di tengah mercusuar yang kemungkinan digunakan sebagai lift.

Belitung- (181)

Lalu kami foto-foto di sekitar pulau.

Belitung- (184)

Pose…

Belitung- (178)

Oughlala….

Belitung- (182)

My homage to Queen Natasha Poly.

Belitung- (188)

Begitu kokoh mercusuar menaungi pulau ini.

Belitung- (186)

Setelah puas pemotretan di Pulau Lengkuas, kami melanjutkan perjalanan ke perairan di sekitarnya untuk snorkeling. Ikan (loreng-loreng seperti) zebra di sini sangatlah banyak dan mendekati kita walau tanpa diberi makan biskuit, sampai membuat saya menjadi heri alias heboh sendiri.

Belitung- (187)

Para gadis yang tidak ikut snorkeling agak mengalami mabuk karena terguncang-guncang ombak. Para lelaki yang sudah cukup puas snorkeling juga mengalami kelelahan.

Belitung- (177)

Berpindahlah kami ke Pulau Kepayang. Di pulau ini tersedia resor dan restauran. Karena mual-mual terhempas ombak maka kami memutuskan untuk ngopi-ngeteh cantik dulu di sini. Dengan membayar Rp10.000 per orang maka kita bisa mengambil kopi atau teh sepuas kita sekaligus salat atau ke toiletnya. Jika kita tidak menginap atau membeli makanan atau minuman, kita hanya boleh berkeliling di sekitar pulau saja tanpa menikmati fasilitas yang disediakan pengelola resor dan restauran.

Belitung- (183)

Setelah puas ngopi-ngeteh, kami menuju Pulau Pasir atau Pulau Gosong untuk mengejar senja. Pulau ini panjangnya hanya belasan meter dengan lebar sekitar empat atau lima meter dan hanya ada gundukan pasir untuk pijakan. Senja di pulau ini sungguh indah dan serasa berada di atas air laut.

Belitung- (68)

Feels like Baywatch girl. 😀

Belitung- (67)

Selesai berburu senja dan kembali berlabuh di Pantai Tanjung Kepayang dengan masih mengenakan pakaian agak basah kami langsung kembali ke hotel di Kota Tanjung Pandan yang berjarak sekitar 30 menit dari pantai ini. Mobil di Belitung sepertinya dirancang untuk siap kotor dengan pasir dan lengketnya air laut penumpang yang habis berenang. Setelah mandi dan berganti pakaian, kami menuju Rumah Makan Belitong Timpu Duluk yang sudah kami pesan dari siang dan kami dapat jatah pukul 20.00 wib.

Belitung- (170)

Suasana temaram dengan ornamen tempo dulu yang lucu nan cantik.

Belitung- (172)

Semua sudut di rumah makan ini sangat genit minta difoto.

Belitung- (168)

Makanannya juga lumayan enak dengan harga yang terjangkau. Karena kami sudah agak kemalaman dan sedang musim liburan, maka kami kehabisan banyak menu di sini seperti gangan, pindang Belitong, utak-utak, juhi bakar, dan cumi ketumbar. Kami bertujuh merogoh kocek Rp250.000,00 untuk menu yang cukup banyak dari tahu/timpe sambal lumpang, ikan/ayam/tahu bungkus simpor, sayur asam baguk, dan lakse, serta minum jerok Belitong yang khas. Harga per porsi makanan di sini antara Rp5.000,00 s.d Rp30.000,00, sedangkan harga minuman dari Rp5.000,00 s.d. Rp18.000,00.

Belitung- (169)

Lakse, seperti kue lapis dengan kuah santan yang agak manis. Makanan di sini nuansanya manis seperti makanan Jawa Tengah atau Yogyakarta dengan perpaduan citarasa Palembang.

Belitung- (167)

Dan sebelum kembali ke hotel saya tidak lupa berfoto dengan foto Om Ahok idola saya….. (*.*)/

Belitung- (171)