Trip di Ujung Rel

Seperti kisah cinta yang lama menggantung dan tak berujung tetapi masih terpendam dan tak terlupakan, mungkin inilah yang terjadi pada tulisan di blogku. Kapan kualami, entah kapan kutulis. Banyak yang lupa, tetapi masih juga banyak yang tersimpan di hati. Termasuk perjalananku ke Tangerang pada Natal tahun 2015 lalu. Erghhhh

Mas W saat itu datang untuk menikmati libur Natal di Jakarta dan ingin wisata kuliner saja sebenarnya. Sehari sebelumnya kami bertemu di Tebet untuk makan di Daeng Tata, lalu ke Kota Tua, dan terakhir ke GI. Saya tiba-tibat teringat Cina Benteng dan klenteng-klenteng tua yang berada di Tangerang yang sempat saya baca di blog, dan akhirnya saya mengajak Nadia untuk trip hemat dan dekat ini. Untuk menuju Tangerang cara hematnya dengan menggunakan KRL dari Bintaro-Tanah Abang-Suri-Tangerang. Pengalaman pertama transit di Stasiun Duri untuk menuju Stasiun Tangerang karena biasanya hanya sampai Tanah Abang saja. Dari Duri ke Tangerang ternyata cukup jauh dan keretanya tidak begitu banyak. Setelah hampir 2 jam akhirnya kami tiba di Stasiun Tangerang.

Stasiun Tangerang

Siang itu cukup panas dan macet sekali di depan Stasiun Tangerang. Kami berjalan menuju gedung yang terlihat seperti mal untuk mendinginkan diri dan mencari minuman. Di gedung yang agak sepi tersebut tidak begitu banyak toko dan tempat makan hanya Robinson yang terlihat paling besar. kami membeli beberapa botol minuman dingin lalu duduk-duduk mendinginkan diri sebentar sebelum pergi menuju Vihara Boen San Bio menggunakan taksi. Yayasan Vihara Nimmala Boen San Bio ini terletak tidak begitu jauh dari stasiun hanya sekitar 1,5 km dan berada di dekat Sungai Cisadane.

Bun San Bio

Kami yang belum pernah masuk ke vihara bertanya kepada penjaga apakah kami diizinkan untuk melihat-lihat ke dalam vihara dan syukurlah diizinkan. Lampion yang banyak dan indah ini menyambut kami memasuki vihara.
Chic in PIK

Di bagian dalam vihara ini sungguh sangat indah. Cukup rindang dan banyak tempat duduk. Terdapat ruangan serbaguna yang sedang digunakan untuk acara pernikahan.

Chic in PIK

Di selasar antara taman dan bagian depan vihara terdapat spot cantik yang bisa dipakai untuk foto-foto ini. Menurut Aroeng Binang, Kelenteng ini dibangun pada tahun 1689 berbentuk empat persegi panjang di atas tanah seluas 1.650 m2 oleh seorang pedagang dari Cina bernama Lim Tau Koen, dan ia menempatkan patung Kim Sing Kong-co Hok Tek Tjeng Sin yang dibawanya dari Banten. Kelenteng Boen San Bio mengalami beberapa kali renovasi, termasuk setelah terjadi kebakaran pada tahun 1998.

Chic in PIK

Dari Kelenteng Boen San Bio, kami kembali menggunakan taksi untuk menuju Kelenteng Boen Tek Bio dengan melewati depan Stasiun Tangerang lagi. Siang itu terdapat beberapa pengalihan jalur karena malamnya akan diadakan panggung hiburan rakyat di Pasar Lama sehingga kami harus memutara dan berjalan beberapa gang sebelum Pasar Lama untuk menuju Boen Tek Bio. Berbeda dengan Boen San Bio yang terletak di pinggir jalan besar, kelenteng ini berada di tengah pemukiman dan harus melewati Jalan Bakti Saham yang penuh dengan pedagang dan hanya bisa dilalui motor untuk mencapainya.

Boen Tek Bio

Menurut Aroeng Binang, Komunitas Tionghoa di Petak Sembilan mendirikan kelenteng ini pada 1684 dalam bentuk yang sangat sederhana dan merupakan kelenteng tertua di Tangerang dan berpengaruh bersama dengan Kelenteng Boen Hay Bio (berdiri 1694) dan Kelenteng Boen San Bio (1689).

Chic in PIK

Pada tahun 1844 kelenteng ini mengalami renovasi dengan mendatangkan ahli bangunan dan kelengkapan kelenteng dari negeri Tiongkok.

Boen Tek Bio 4

Boen Tek Bio berarti tempat ibadah sastra kebajikan.
Boen Tek Bio 3

Keberadaan tempat ibadah ini tidak lepas dari sejarah kedatangan orang Tionghoa di Tangerang pada abad ke-15. Pada 1407, seperti dicatat dalam buku sejarah Sunda Tina Layang Parahyang (Catatan dari Parahyangan), rombongan Tjen Tjie Lung (Halung) dengan tujuh kepala keluarga dan sembilan orang gadis, terdampar di daerah yang sekarang dikenal sebagai Kampung Teluk Naga. Tujuan mereka semula adalah ke Jayakarta.

Pada waktu mereka meminta pertolongan kepada Sanghyang Anggalarang, yang ketika itu menjadi penguasa daerah di bawah Sanghyang Banyak Citra dari Parahyangan, konon para pegawai penguasa jatuh cinta pada gadis-gadis itu. Kesembilan gadis itu pun mereka kawini. Rombongan itu kemudian mendapat sebidang tanah di daerah Kampung Teluk Naga itu.

Boen Tek Bio 2

My partner in crime, Mojang <3

Chic in PIK

Dari Kelenteng kami menyusuri gang menuju Masjid Jami Kalipasir. Kami awalnya tidak menyangka jika masjid berwarna hijau adalah bangunan bersejarah dan termasuk cagar budaya karena nampak seperti masjid atau musala di tengah perkampungan pada umumnya.

Masjid Jami Kalipasir 2

Kami sempat Salat Asar di sini dan duduk-duduk sebentar.

Masjid Jami Kalipasir

Dari masjid, kami kembali menyusuri gang depan Kelenteng Boen Tek Bio menuju Pasar Lama Tangerang di Jalan Kisamaun. Di sepanjang Jalan Kisamaun ini kalau sore banyak sekali warung tenda yang menjajakan berbagai makanan. Kami sempat mencoba es buah dan somay sembari ngadem sejenak.

Pasar Lama 2

Gapura Pasar Lama Tangerang yang megah.

Pasar lama

Gedung Pendopo Kabupaten Tangerang yang indah dan megah di depan Stasiun Tangerang.

Pendopo Tangerang

Kami tiba kembali di Stasiun Tangerang untuk melanjutkan perjalanan ke Pantai Indah Kapuk aka PIK dengan menggunakan KRL hingga stasiun Rawa Buaya dilanjut dengan menggunakan taksi cukup jauh. wkwkkw

Stasiun Tangerang 2

PIK Avenue Mal yang saat itu masih belum selesai dibangun tetapi sudah terlihat akan megah.

Chic in PIK

Tujuan pertama kami ke Martabak Pecenongan 43 yang sudah saya idam-idamkan rasanya. Setelah itu kami berjalan menyusuri ruko-ruko sambil memikirkan tujuan selanjutnya. Ohka, yang sekarang sudah pindah ke Golden Truly, akhirnya menjadi tujuan kami. Ramen di sini enak dan cukup memuaskan bagi saya yang sebenarnya tidak suka ramen. Sayang sekali tempat ini sekarang tinggal menjadi kenangan.

Chic in PIK

Dari Ohka, kami bergeser sedikit ke Shirayuki yang ngehits banget dengan desert cantiknya. Shirayuki ini dulu adalah restauran Jepang bernama Kobacha lalu sekarang juga sudah berganti nama dan bergabung dengan Alu-Alu Seafood. Shirayuki ini selalu ramai dengan anak muda yang nongkrong-nongkrong cantik dengan desert yang harganya lumayan, rasa cukup ok, tetapi sangat instagramable.

Chic in PIK

Kami nongkrong di Shirayuki cukup lama karena menunggu pesanan cukup lama dan lama foto-foto. Sekitar pukul 20.00 kami pun kembali ke Bintaro dengan menggunakan taksi daring. Perjalanan yang lumayan menyenangkan dan hemat tetapi agak boros di makan-makan. ūüėÄ

Piknik Asyik di PIK Bagian II

Saya cukup sering berwisata kuliner di PIK, hampir setiap bulan terkadang sebulan bisa dua kali. Pada saat libur Idul Adha di Bulan Oktober lalu, saya menyempatkan diri ke PIK untuk mengunjungi mal PIK Avenue yang baru dibuka. Mal yang baru beberap hari dibuka tersebut ternyata masih cukup berantakan dan belum lengkap selain jaringan toko pakaian dari Jepang dan Swedia yang sudah siap. Akhirnya saya dan teman-teman saya memilih untuk makan di kafe yang berada di ruko-ruko di sekitarnya.

1. Beatrice Quarters. Berlokasi di Ruko Crown Golf, Blok B No. 26, Bukit Golf Mediterania, Jalan Marina Indah Raya, Pantai Indah Kapuk, Jakarta. Telepon 021-29424926

Saat masuk ke sini terlihat interiornya bagus. Bagi yang tidak merokok, lebih baik memilih tempat duduk di dalam yang ber-AC dan pilih sofa yang dekat pintu ruang dalam karena lebih nyaman dan private.
Beatrice Quarters

Kami mencoba beberapa menu yaitu chicken carbonara rice pizza, fruits dazzling, dan home run. Rice pizzanya enak. Untuk ukuran small seharga 39k tidak terlalu kecil ukurannya dan cukup mengenyangkan dengan rasa keju yang gurih dan topping yang lezat.
Beatrice Quarters

Menu Home Run untuk champion breakfast terdiri salmon, home made protein loaf, 2 jenis jamur, telur, salad yang semuanya enak dan porsi besar. Gak rugi mengeluarkan 79k untuk menu ini.
Beatrice Quarters

Roti panggang yang renyah di luar tapi empuk dan enak dalamnya dengan toping eskrim stroberi, potongan buah stroberi, peach, dan kiwi segar serta macarons yang super manis menjadikan Dazzling fruits menu yang wajib kita coba. Penampilannya cantik dan porsinya juga luar biasa besar. Toilet di sini juga bersih dan bagus. Pelayannya juga ramah dan sangat membantu. Patut dikunjungi.

Beatrice Quarters

2. BC’s Cone. Dessert shop yang berlokasi di

Good place with good interior.

BC's Cone
The place is not too crowded and has a good restroom.
BC's Cone

Its artsy mango cone and black cheesecake ice cream with fresh strawberry, mango and nutella tasted a bit plain but sweet from nutella. Its thai tea ice cream tasted very thai tea and nice.
BC's Cone

  Rambut neneknya heboh dan seru buat foto-foto seperti di dessert shop lain.
BC's Cone

3. Warung Mevvah. Warung Indomie kekinian yang berlokasi di Ruko Crown Golf, Blok B No. 12, Bukit Golf Mediterania, Jl. Marina Indah Raya, Pantai Indah Kapuk, Jakarta ini baru buka beberpa bulan lalu. Ramai kalau sore dan akhir pekan seperti saat kami kunjungi saat itu.

Warung Mevvah

Tempatnya cukup ok dan cukup luas tetapi tidak begitu dingin apalagi yang bagian depan dekat atap kaca.Dengan beberpa interior yang lumayan oke juga buat difoto. Toiletnya standarlah.

Warung Mevvah

Indomie bumbu sate yang saya coba ok lah tetapi kurang greget bumbu satenya. Indomie ayam saos margarinenya lumayan. Sempat mencicipi tester susu mevvah rasa taro yang menurut saya mungkin bisa ditambahkan potongan buah agar agak asam dan lebih ringan rasanya.

Warung Mevvah

4. Do An. Berlokasi di

Karena sudah hampir malam, kami akhirnya pindah ke salah satu tempat favorit saya di PIK yaitu Do An. Hampir setiap ke PIK apalagi bersama teman muslim yang takut mencicipi makanan inti yang mungkin tidak halal maka saya mengajak mereka ke Do An. Pho dan makanan lain di Do An selalu cocok di lidah saya dan nikmat.

Toby’s Estate PIK Avenue

Toby's Estate PIK Avenue

Sebagai kelas bawah mencoba ikut gaya ala-ala menengah ke atas, pengalaman saya pada saat libur Maulid Nabi lalu cukup menyadarkan saya bahwa saya mungkin tidak ada bakat menjadi kelas menengah ngehe, apalagi kelas atas. Dengan berbekal tas punggung, kaos putih aku-kudu-piye, celana jeans, dan sepatu kets, saya bersama Mas W dari Stasiun Bogor menggunakan KRL menuju Stasiun Duri untuk selanjutnya pindah KRL menuju Stasiun Rawa Buaya dan dilanjutkan menggunakan jasa mobil Uber untuk menuju PIK Avenue. Berawal dari melihat foto makanan yang diunggah @eatandtreats di instagram pada Minggu pagi tentang kafe yang baru buka pada hari Sabtu dengan menu seperti foto di atas, saya tiba-tiba ingin meluncur ke PIK Avenue apalagi sudah 2 bulan tidak ke PIK setelah mencoba memasuki PIK Avenue beberapa hari setelah pembukaannya pada awal Oktober lalu. Dengan muka yang tidak begitu segar setelah menempuh perjalanan Bogor-PIK sembari harus berhujan-hujan ria di stasiun mungkin memang kami kurang cocok ngemal.

Toby's Estate PIK Avenue

Ini lah Toby’s Estate yang saya tuju. Mas W sebenarnya kurang sreg dengan kafe ini saat kami akan masuk karena kami sudah kelaparan belum makan siang sedangkan saat itu sekitar pukul 15.30 wib dan sepertinya ini adalah tipe warung kopi dengan makanan yang kurang nampol di perut. Kafe terlihat penuh yang meyakinkan saya kalau ini kafe yang menyajikan makanan dan minuman nikmat. Syukurlah pada saat kami masuk, ada bagian ujung sofa dengan meja bulat yang baru saja kosong sehingga kami tidak perlu mengantre.

Toby's Estate PIK Avenue

Sofa di sebelah kami yang kosong juga langsung diisi pengunjung lain yang sudah mengantre. Bahkan antrean di depan pintu masuk bagian dalam kafe tiba-tiba sudah mengular.
Toby's Estate PIK Avenue
Saya memesan menu sama dengan yang diunggah fotonya oleh @eatandtreats yaitu buttermilk chicken corn fritata dan cappuccino sedangkan Mas W memesan cokelat panas dan kentang goreng dengan keju parmesan dan jamur truffle.
Toby's Estate PIK Avenue
Cekrek-cekrek sana-sini tengok sana-sini tanpa beranjak dari sofa. Pengunjung kafe ini dari bule, om, tante, mbak, mas, dedek gemes, seru lah semua ada.
Toby's Estate PIK Avenue

Tiktok sampai kehabisan sudut yang mau difoto hingga memoto kaki Mbak pengarah layanan kafe yang sibuk mondar-mandir mengantar pengunjung yang baru datang ke kursi yang tersedia dan mengurusi permintaan pelanggan. Saya tengok ke pasangan tetangga sofa sebelah yang datang setelah kami tadi yang ternyata mereka sudah mendapatkan 2 cangkir kopi dan sudah hampir habis. Hmmm! Saya bertanya kepada seorang Mbak pelayan yang sedang menunggu barista meracik kopi yang letaknya di depan kami tentang pesanan kami dan dia bilang kami tunggu saja nanti pesanan kami diantarkan sehingga tidak perlu mengantre (seperti pembeli lain yang membeli untuk dibawa pulang serta banyak juga pengunjung yang berjajar di depan meja saji barista untuk melihat pertunjukan barista meracik kopi).

Toby's Estate PIK Avenue

Yak sip. Tengak-tengok kanan kiri dan instagram lagi.
Toby's Estate PIK Avenue

Belum ada perkembangan setelah hampir 15 menit setelah saya tanyakan nasib pesanan kami ke Mbak pelayanan tadi yang sepertinya semua pelayan memang sedang sibuk banget mengurusi pengunjung yang terus berdatangan. Saya mendatangi Mbak yang tidak memakai seragam pelayan , yang sepertinya manajemen kafe ini meskipun ikut menyajikan dan mondar-mandir seperti pelayan juga. Mbak Sarah namanya. Saya menyampaikan kepada Mbak Sarah kira-kira bagaimana pesanan saya, apa yang harus saya lakukan agar bisa segera mendapat pesanan saya karena saya sudah menunggu lama bahkan pasangan sebelah sudah selesai foto-foto dan hampir selesai menikmati kopi mereka sedangkan kami belum sama sekali mendapatkan pesanan kami. Dengan muka yang masih ceria tetapi mungkin was-was akan diomeli pelanggan kucel dari desa dengan membawa tas punggung besar Mbak Sarah memohon maaf dan menanyakan ulang pesanan kami.

Saya bilang kalau saya memesan menu lupa namanya apa tetapi yang diunggah @eatandtreats di instagram kemarin, kentang goreng dengan keju dan jamur truffle, cappuccino, serta cokelat panas. Mbak Sarah mencatat ulang pesanan kami dan mengatakan sebentar akan dicek.

Saya segera duduk kembali dan menunggu kabar dari Mbak Sarah yang langsung bergerilya. Tak lama berselang Mbak Sarah menghampiri kami dan meminta maaf karena ternyata pesanan kami belum diinput dan minta waktu 15 menit untuk menyelesaikan pesanan kami. Dan saya pun yang sudah kelaparan tetapi sedang tidak selera untuk marah-marah benar-benar hanya senyum-senyum kecut dengan muka pengharapan agar segera saja diolah pesanan kami. Setelah itu Mbak Sarah terlihat langsung menghampiri seorang barista. Mbak Sarah adalah wanita berkacamata berambut pendek yang mengenakan kemeja putih dan celana garis belang-belang hitam putih di foto di bawah ini.

Toby's Estate PIK Avenue

 Saya, yang sudah memantau gerak-gerik setiap orang yang berada di depan kami, melihat seorang Mbak pelayan membawa secangkir kopi ke sofa deretan kami dekat pintu masuk tetapi sepertinya ditolak pengunjung di sofa tersebut karena bukan pesanannya. Sang pelayan kemudian menuju meja kami dan menanyakan apakah kami memesan cappuccino dan segera saja saya iyakan sambil tersenyum kecut.

Toby's Estate PIK Avenue

Beberapa menit kemudian menu @eatandtreats yang saya pesan menghampiri kami. Begitu pun kentang goreng dengan aroma jamur truffle menyerbak akhirnya datang.

Toby's Estate PIK Avenue

Ini dia tampilan lengkap menu pesanan kami sebelum kami memulai makan. Dengan meja yang kecil dan posisi sofa hanya di salah satu bagian meja yang menghadap meja barista, maka saya putuskan untuk memangku makanan pesanan saya saat memakannya. Buttermilk chicken corn fritata ternyata merupakan dadar jagung dengan selada dan 2 potong ayam goreng tepung yang diberi saos keju dan beberapa lembar dadih. Ayam goreng tepungnya rasanya biasa saja karena bumbunya tidak begitu terasa dan tepungnya yang berwarna kecokelatan entahlah tepung apa dan dibumbui. Saladnya enak. Untuk dadar jagungnya menurut saya terlalu asin dan tepungnya terlalu lembek. Untuk versi murah dan lebih cocok dengan lidah saya, mungkin membeli bakwan jagung di warteg lalu diletakkan di dasar piring, ditambah potongan sayur segar dengan 2 potong ayam goreng tepung ala KFC pinggir jalan serta disiram saos mayones akan lebih sesuai ke lidah saya. Kentang gorengnya juga biasa saja sih. Bahkan kalau soal jamur truffle saya langsung ingat pasta krim kedelai dengan minyak jamur truffle di Mottomoo yang berlokasi tidak jauh dari situ yang rasanya cocok banget dengan lidah saya. Saya makan ayam gorengnya dengan mencomot, baru untuk selada dan dadar saya menggunakan sendok. Sing penting wareg, ra urus wong ndelok comot kabeh nganggo tangan lan mangku piring. Bhay.

Toby's Estate PIK Avenue

Tetangga sebelah sofa saja sudah berganti. Mungkin pengunjung sebelah yang sebelumnya kalau meminum kopi seperti saya, glakglek seperti minum air putih jadi cepat habis. Atau memang sudah terlalu lamaaaaaa kami menunggu jadi kopi tetangga sebelah yang sudah difoto dan dinikmati dengan perlahan dan cantik sembari bermesraan sudah habis?

Toby's Estate PIK Avenue

Kopi yang mungkin adalah andalan Toby’s juga baru saya nikmati setelah saya selesai makan sehingga sudah dingin. Rasa kopinya sebenarnya enak tetapi karena saya sudah kesal, maka saat itu saya minta gula cair ke barista agar kopi saya menjadi manis dan lidah saya tidak semakin pahit untuk mengomeli orang. Saya dan Mas W bukan tipe yang akan menyisakan makanan yang kami pesan atau kami dapat, tetapi mungkin karena sudah empet menunggu dan laparnya sudah hilang maka kentang goreng yang katanya favorit dan enak ini menjadi hambar dan kami biarkan tidak habis. Saya sudah tidak berselera.
Toby's Estate PIK Avenue
Sejenak setelah memutuskan untuk tidak menghabiskan kentang goreng, saya masih melihat sekitar. Kali ini saya menghitung ada sekitar 8 gelas kertas kopi yang sepertinya salah pesan atau apa yang menyebabkan kopi-kopi tersebut tidak diambil dan dibiarkan di meja barista sebelum akhirnya digabung dalam 1 nampan untuk ddipisahkan di pinggir meja. Setelah itu saya meminta tagihan kepada pelayanan tetapi sudah bermenit-menit tidak kami dapatkan juga tagihannya. Walhasil, saya yang melihat Mbak Sarah sedang menjaga kasir untuk pembayaran take away memutuskan untuk menyamperinya. Ada seorang pengunjung wanita yang entah memesan kopi apa tetapi mendapatkan kopi yang lain sehingga dia menanyakan nasib kopi itu kepada Mbak Sarah dan Mbak Sarah bilang kalau kopi yang dipegang si Mbak pengunjung tadi¬†for free.¬†Setelah Mbak Sarah beres melayani pengunjung barusan, saya menyakan bisakah saya membayar langsung di sini tanpa harus menunggu tagihan yang sudah saya tunggu tetapi tidak datang-datang juga. Mbak Sarah meminta maaf lagi karena lamanya tagihan. Mungkin Mbak Sarah juga tidak enak karena dari mau memesan sampai bayar saja kok saya jadi ribet gini. Akhirnya dengan tagihan bertuliskan Toby’s Estate 11/12/2016 16.50 T001 A000501 saya bayar tagihan Rp294.525. Terima kasih banyak Mbak Sarah. Pada akhirnya saya hanya bisa menyalahkan diri saya mengapa saya tergoda mengikuti keramaian kafe yang baru buka ini dan begitu mudah terbujuk di sosial media.

Berikut beberapa saran saya untuk Toby’s Estate yang sebentar lagi juga akan buka di sekitar Gunawarman, yang mana mungkin saya akn mencoba mampir pada saat berangkat atau pulang kantor. Mungkin iya mungkin tidak. Karena saya benar-benar masih mendongkol dengan layanan yang saya dapat pekan lalu.

  1. Gunakan sistem antrean misal dengan kertas bernomor atau dicatat rombongan siapa sehingga pada saat penuh dengan pelanggan bisa diketahui pelanggan yang datang dulu yang mana, bukan hanya dengan dijajar berdiri karena tidak mungkin dibuat berbaris lurus tetapi bergerombol.
  2. Penulisan meja dengan jelas sehingga dapat diketahui pengunjung di suatu meja memesan apa bukan hanya berdasar hafalan pelayan dan manajemen yang pada akhirnya memudahkan pelanggan untuk menyebutkan meja tempat dia memesan.
  3. Untuk pengunjung yang membeli untuk dibawa pulang, sebaiknya diatur lebih rapi karena luas antara meja tempat pemesanan, tempat pengunjung berdiri memesan, dengan meja bulat di depan sofa tempat pengunjung yang makan di tempat cukup terbatas, belum lagi untuk lalu lintas pelayan mengantar pesanan.
  4. Jika memang pengunjung berlebih, mungkin lebih baik dibatasi pengunjung yang masuk ke area kafe karena akan semakin membuat semrawut dan pelayanan tidak maksimal. Terlihat beberapa pelayan kebingungan dengan banyaknya pesanan yang akhirnya kesalahan dalam penyajian pesanan.
  5. Manajer harian atau pelayanan khusus untuk mengarahkan layanan harus lebih tanggap terhadap kebutuhan pengunjung. Perhatikan jika ada pengunjung yang belum juga mendapat pesanan setelah sekian lama atau hanya berdiam saja tanpa ada pesanan. Bisa saja belum terlayani atau masih bingung dengan menu yang ada.
  6. Perbanyak senyum dan lebih ramah kepada pengunjung.

Terima kasih.

Piknik Asyik di PIK

1. Mottomoo, Ruko Garden House, Blok B No. 21, Pantai Indah Kapuk, Jakarta
Tempatnya lucu walaupun tidak begitu luas. Meja dan kursinya cukup nyaman buat nongkrong lama. Penerangannya juga oke buat foto-foto.

Chic in PIKHamburg Gratinnya lumayan enak, mungkin kalau pakai pork sauce jadi enak banget. Ini menu favorit di sini lho.
Chic in PIK

Menu pastanya, shoyu cream spaghetti with truffle oil ini adalah pasta paling enak di Jakarta. Porsinya pas dan rasanya luar biasa. Harganya juga standar. Kudu dicobain kalau ke sini.

Chic in PIK2. Martabak Pecenongan 43, berada di Ruko Crown Golf, Blok A No. 30, Bukit Golf Mediterania, PIK.
Tempat yang selalu kukunjungi setiap kali ke PIK. Martabak manisnya enaaaak. Mengembangnya wokeh, manisnya pas, topping coklat kacang keju yang standar saja enak banget. Mahal dikit tetapi bikin nagih lagi dan lagi.
Chic in PIK

3. Shirokuma, letaknya dekat Martabak Pecenongan 43, tepatnya di Ruko Crown Golf Blok A No. 32, Pantai Indah Kapuk, RW.2, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14460. Sempat nyobain parfait matcha, anmitsu, kuro japadog, dan kentang goreng yang semuanya enak dan penyajiannya juga cantik. Tempatnya lumayan ramai dengan anak-anak muda yang nongkrong.

Chic in PIK

4. Shirayuki, di Jl. Pantai Indah Barat, Pantai Indah Kapuk, Penjaringan, Kamal Muara, Penjaringan, Kota Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Shirayuki ini juga dessert shop yang selalu ramai dan penuh dengan anak muda. Dessert cantik-cantik utuk difoto dan diunggah di sosial media dengan harga lumayan terjangkau membuat tempat ini populer. Sayang tempatnya agak sempit dan saat itu pelayanannya lambat banget.

Chic in PIK

5. Ohka, Letaknya berdekatan dengan Shirayuki. Sempat nyobain karaage miso ramen dan tonkotsu ramen yang enaaaaak dan ngehits di sini.
Chic in PIKSayang mulai Oktober kemarin Ohka sudah tutup dan sedang persiapan pindah ke lokasi baru di Golden Truly di daerah Gunung Sahari.

Sampai jumpa di Piknik Asyik di PIK selanjutnya.