Palu dan Pusat Laut

Sabtu dini hari sekitar pukul 01.00 wita, 15 Mei 2015, saya dan Bu Joko tiba di Homestay Pondok Sekar, Palu. Kami baru tidur pulas ketika Bunda Hani yang baru datang dari Ampana setelah mengikuti Gema akhirnya tiba di homestay dengan mengetok-ngetok pintu kamar kami. Kata Bunda sih pintu kamar sempat diketok-ketok dengan batu dan sepatu biar kami bangun tetapi karena terlalu letih setelah perjalanan jauh maka butuh waktu cukup lama untuk membangunkan kami. Setelah itu Bunda ditinggal pergi Gema ke rumahnya dan saya antar Bunda menemui penjaga penginapan yang sedang tidur terlelap pula di ruangannya di pojokan penginapan untuk mengambil kunci kamar. Homestay Pondok Sekar ini berada di Jalan Maleo II nomor 2 Palu, 0451-425947 atau 081242376763 dan merupakan penginapan yang masih dikelola secara sederhana dengan jumlah kamar sekitar 5 atau 6 saja dan 1 penjaga di setiap shift-nya tetapi pelayanna bagus, kamar luas dan bagus, tersedia kopi, teh, gula, dispenser, AC, TV di setiap kamarnya. Harga kamar di sini mulai dari Rp165.000 untuk 2 orang dan termasuk sarapan yang berupa nasi bungkus yang lumayan enak. Sarapan pada Sabtu pagi kami waktu itu adalah nasi kuning yang pulen dengan lauk ikan suwir dan telur yang nikmat, sedangkan pada hari Minggu pagi berupa nasi putih, sayur, dan ayam bakar yang juga enak. Penginapan ini berlatar syariah sehingga jangan harap bisa tidur sekamar cowok-cewek yang bukan suami istri, walaupun teman ngebolang.

Palu (18)

Sekitar pukul 10.00 wita, Chua dkk menjemput kami untuk berkeliling sekitar Kota Palu. Melewati Jembatan Ponulele yang megah dan menghubungkan Palu Barat dan Palu Timur di atas Teluk Talise.

Palu (12)

Kami ternyata dibawa menuju ke arah Donggala. Dengan waktu perjalanan sekitar 1 jam, akhirnya kami tiba di Pusat Laut. Tiket masuk ke Pusat Laut hanya Rp2.500 per orang dan biaya parkir mobil Rp5.000. Pusat laut adalah sebuah lubang seperti sumur atau kolam dengan diamater sekitar 10 meter yang dipagari besi setinggi kurang lebih 75cm dan berada hanya beberap meter dari bibir pantai di deretan pantai Donggala

Palu (5)

Para pengunjung Pusat Laut bisa melompat setinggi 5 meter ke dalam kolam.

Pusat Laut (2)

Lalu berenang dan mengapung sambil menjadi tontonan pengunjung. Warga sekitar mempercayai bahwa dengan mandi di kolam ini bisa menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Sayang sekali, sarana untuk masuk atau ke luar kolam ini masih tergolong minim, hanya ada tangga besi semi permanen yang sudah rusak dan tali-temali sebagai media untuk kembali ke atas dari kolam.

Pusat Laut (3)

Tersedia penginapan, semacam aula yang mungkin bisa digunakan sebagai food court tetapi kondisinya tidak terawat dan bisa digunakan untuk berteduh jika kepanbasan atau saat hujan seperti yang kami alami waktu itu. Ada juga beberapa penjual minuman dan makanan tetapi tidak di lapak permanen. Chua for Hermes scarf campaign???

Palu (1)

Setelah puas berfoto-foto di Pusat laut, kami kembali ke arah pusat kota. Jalan dari dan menuju Pusat laut dari pinggir jalan raya sangatlah indah, seperti spot berikut di mana kami berhenti sejenak untuk melakukan pemotretan.

Pusat Laut (1)

Selain Pusat Laut, Donggala juga terkenanl dengan tenun ikatnya (di samping juga batu akik yang tidak akan saya bahas :D). Kami mampir di sebuah rumah yang menjual sarung Donggala di Jalan Malonda nomor 128, Palu. Tersedia berbagai corak warna dan harga di tempat ini. Untuk sarung tenun yang menggunakan benang emas/prada harganya bisa mencapai Rp1.000.000, tenun dengan benang biasa harganya sekitar Rp400.000, tenun yang berupa selendang harganya sekitar Rp200.000. Harga di sini jauh lebih murah dibandingkan dengan di toko pusat oleh-oleh di Kota Palu maupun di Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie Palu yang bisa 2 hingga 3 kali lipatnya. Sayang saat itu uang tunai saya sudah sangat menipis sehingga hanya membeli beberapa helai tenun dan menyesal mengapa tidak beli banyak saat mengetahui harga di Kota dan Bandara. Kalau beli 10 helai dan dijual untuk biasa Rp600.000 kan lumayan tuh untungnya. 😀

Tenun Donggala

Chua yang sudah mahir tentang seluk beluk Palu mengajak kami makan siang di Winner’s Sport Center. Walaupun harus menunggu makanan lama sekali, dan malah pengunjung yang sampai setelah kami sudah mendapatkan makanan dulu sehingga saya harus beradegan marah (lagi dan lagi) kepada Mbak-Mbak yang jaga.

Palu (10)

Makanan di sini rasanya biasa, tidak maknyos tetapi juga tidak ala kadarnya. Minuman yang saya pilih di sini adalah saraba, yang terbuat dari jahe merah, gula merah, dan susu kental manis yang bisa membuat badan menjadi hangat.

Palu (8)

Terdapat kolam renang dengan pemandangan Teluk Palu yang membentang di depannya, inilah yang membuat tempat ini istimewa. Apalagi menurut Chua jika kita ke sini saat malam tahun baru, pasti sangat ramai dan indah.

Palu (9)

Di Winner’s ini, selain ada restauran, kolam renang, juga ada penginapan yang berada di kaki Gunung Gawalise.

Palu (7)

Kamar dengan dua kasur ukuran queen, AC, televisi, serta kamar mandi ini harganya hanya sekitar Rp300.000, sedangkan untuk bungalow harganya sekitar Rp500.000.

Palu (6)

Jika ingin menikmati Kota Palu dari atas bukit di penginapan yang lumayan bagus dan terjangkau dan bisa ramai-ramai, maka di Winner’s Sport Centre ini lah tempatnya. Anda bisa menghubungi nomor telepon 081341055599 jika ingin reservasi.

Palu (11)

Dari Palu sebelah barat, kami berpindah ke Palu sebelah timur ke Gong Perdamaian Nusantara di Bukit Jabal Nur, Palu. Konon di deretan bukit yang lumayan gersang dengan jalan yang belum begitu halus dan penuh debu dan kerikil ini terdapat sebuah bukit yang berbentuk seperti hati lope-lope gitu tapi entahlah bukit yang mana. Bukit ini lebih sering digunakan untuk arena motor cross.

Palu (3)

Here we come at Gong Perdamaian Nusantara yang sepertinya masih belum selesai pembangunannya.

Palu (13)

Bia, Yoseph, mas Irfan, dan Chua dengan Gong Perdamaian.

Palu (14)

Hills, sea, sunset, i wish you were here. #ahumasiholtuho
Palu (15)

Akhirnya malam tiba dan kami diantar kembali ke dekat penginapan oleh Chua dan Ucep setelah sempat menurunkan penumpang lain di kontrakan adiknya Chua. Chua dkk akan kembali ke Toli-Toli pada Minggu pagi dengan menggunakan kapal laut jurusan Surabaya-Balikpapan-Palu-Toli-Toli-Amurang-Bitung. Terima kasih Chua dkk atas jamuannya di Palu, semoga lain waktu kami bisa merepoti kalian di Toli-Toli, kampung halaman kalian.

Malam itu saya sedikit kalap pada saat saya, Bunda, dan Bu Joko makan malam di sebuah warung lalapan. Saya menghabiskan 1 porsi nasi, 2 ikan katombo goreng, sepiring tempe, terong goreng yang saya pesan, serta 1/2 porsi nasi dan ayam yang Bu Joko pesan karena dia sudah kekenyangan. Pfffttt mumpung sedang tidak di Jakarta, besok malam sudah kembali di Jakarta.

Palu (19)

Minggu pagi, 17 Mei 2015, hari kesebelas dan terakhir Trip Suluttenggomalut kami. Hanya gegoleran di kamar, menikmati sarapan, menonton tv, dan packing pakaian serta kain-kain yang telah kami beli. Baru pada pukul 11.00 wita kami check out dari Homestay Pondok Sekar untuk menunju Toko Oleh-Oleh Khas Palu “Diana” di Jalan Kartini Palu, telepon 081354230698. Di toko ini tersedia berbagai jenis oleh-oleh Palu dari bawang goreng, abon, madu, tenun, serta berbagai makanan khas Palu. Setelah membeli oleh-oleh kami langsung menuju Bandara Palu untuk mengantar Bunda Hani yang akan terbang kembali ke Jakarta dengan pesawat pukul 14.00 wita, sedang saya dan Bu Joko dengan pesawat pukul 16.00 wita.

Oleh-Oleh Palu

Jarak pusat kota ke bandara ternyata sangat dekat dan bebas macet sehingga setelah mengantar Bunda, saya dan Bu Joko memutuskan untuk kembali ke kota untuk mencari makan siang dulu. Sungguh di luar dugaan karena ternyata warung maupun restauran sangat jarang yang buka di hari Minggu. Kami awalnya ingin menikmati makanan khas Palu seperti kaledo tetapi ternyata warungnya hanya menjual nasi goreng di hari itu. Kami pindah mencari tempat makan lain, tidak perlu yang khas Palu asal bukan junk food, hingga sekitar 6 atau 7 tempat tetapi tidak ada yang buka. Akhirnya kami berhenti di Careto Resoran yang terlihat buka dan ramai. Careto ternyata merupakan restoran dengan beberapa stan makanan di dalamnya seperti food court di mana tersedia nasi padang Sederhana, menu Oriental, menu Eropa, kopi, dan kue-kue. Ruangan restoran ini cukup nyaman dan luas serta terlihat enak untuk nongkrong-nongkrong.

Palu (17)

Menu yang kami pesan di Careto Restoran.

Palu (21)

Untuk ke bandara serta berputar-putar di Kota Palu dari siang, kami menggunakan Taksi Utama Palu di nomor telepon 0451-456789. Walaupun armadanya cukup tua, tetapi supir yang mengantar kami waktu itu masih muda dan lagu-lagu yang diputar juga bervariasi dari lagu Ambon, Indonesia, hingga barat. Pukul 15 wita lebih sedikit kami akhirnya tiba di bandara dan harus bersiap menghadapi kenyataan di ibu kota lagi.

Palu (20)

Transit di Bandara Sultan Hasanudin Makassar.

Palu (16)Dan berakhir sudah Trip Suluttenggomalut ini. Terima kasih banyak Bu Joko dan Bunda Hani yang bersedia meramaikan trip ala-alaku ini. Sampai jumpa di trip selanjutnya. xoxo

*Rincian pengeluaran di Palu

15 Mei 2015
Pondok Sekar 2 kamar, 2 malam 790.000
Tiket Pusat Laut 25.000
Makan siang 297.000
Makan malam 45.000
16 Mei 2015
Taksi 100.000
Total 1.257.000
Biaya per orang 419.000

 Akhirnya catatan perjalanan saya ke Suluttenggo Malut selesai juga setelah 3 bulan.

Ikut Bule ke Tentena

Ada apa di Tentena? Saya belum begitu paham apa yang akan kami tuju nanti di Tentena, selain Danau Poso dan Lembah Bada (yang juga baru semalam kami dengar dari Ardi saat di Togean), malahan sepertinya bule-bule yang lebih banyak mengetahui tentang kota kecil di Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso ini. Tentena terletak di jalur yang menghubungkan Ampana (Togean) dan Rantepao (Tana Toraja) sehingga menjadi tempat stopover pilihan para turis asing. Waktu tempuh dari Ampana ke Tentena sekitar 7 jam sedangkan dari Tentena ke Rantepao sekitar 11 jam sehingga pantaslah para turis memilih untuk bermalam di Tentena sebelum melanjutkan perjalanan di antara 2 kota tersebut. Berada di ketinggian hampir 700m di atas permukaan air laut dengan daya tarik situs megalitikum Lembah Bada yang tidak populer untuk orang Indonesia tetapi sudah mendunia. Di situ terkadang saya merasa sedih.

Hampir pukul 15.00 wita kami yang kelaparan karena belum makan siang tiba di sebuah rumah makan di dekat jembatan Sungai Bongka di Desa Tampanombo, Kecamatan Ulu Bongka, Kabupaten Tojo Una-Una. Daripada makan di sekitar Pelabuhan Ampana yang masih dekat dengan sumber aura kegelapan Bu Ulfa dari Tourist Information Center Ampana yang bahkan mengingat namanya saja membuat saya ingin marah menjadikan tempat makan pilihan Pak Mito, supir kami ke Tentena, ini adalah pilihan yang tepat sembari menunggu jalan arah Poso dibuka karena adanya buku-tutup perbaikan jalan. Para bule memesan ikan bakar sedangkan saya dan Bu Joko lebih memilih telor dadar serta semua mau tumis sayur kangkung dan bunga pepaya yang rasanya enaaak. Para bule ini mau makan apa saja sih asal tidak begitu pedas, apalagi si Michal yang sejak saat kami mendarat di pelabuhan sudah berkali-kali bilang, “Estu, i’m starving. Can we eat now?”

Tojo Una-Una (3)Di rumah makan ini, semua menu mulai nasi, ikan, dan sayur baru akan dimasak pada saat kami memesan sehingga membuat saya turun tangan ke dapur untuk membantu agar makanan lebih cepat disajikan. Entah sudah berapa kali saya harus turun tangan sekaligus mensupervisi di dapur seperti ini. Teringat beberapa tahun lalu saat ke sebuah pantai di Yogyakarta, kami sempat menunggu hampir sejam tetapi makanan belum juga tersaji dan akhirnya saya mendatangi dapur dan bilang ke pemilik warung bahwa saya akan membawa ke luar menu apa pun yang sudah siap walaupun hanya nasi karena kami harus segera pergi. Seringkali pihak warung menyajikan makanan menunggu semua siap disajikan, tetapi saya lebih memilih bahwa yang sudah siap duluan agar disajikan duluan, tidak usah tunggu-tungguan, dan jika perlu bantuan memotong sayur, mengulek bumbu, atau sekedar menyajikan makanan saya bisa membantu, dan saat itu saya membantu menyipakan lalapan, sambal, menata ikan dan cumi, serta ikut menyajikan makanan dan minuman ke teman-teman saya yang sudah kelaparan. Kembali ke dapur di rumah makan di Tampanombo, Ibu pemilik warung ternyata jago membuat bolu dan kue-kue seperti yang saya lihat di dapur sesaat sebelum membantu menyajikan makanan. Kue-kue tersebut dijual di rumah makan ini atau kadang merupakan pesanan tetangga, yang mana saya tidak melihat adanya rumah atau bangunan lain di sekitar sini. Tetangga yang berjarak 1 km dari rumah makan mungkin. :O

Dua gadis cantik umur belasan tahun di rumah makan ini digoda Jan sebelum kami melanjutkan perjalanan ke Tentena pada pukul 16.30 wita. Mereka bernama Janna dan Desi. Dan mereka bukan cabe-cabean, tetapi mungkin calon berlian dari jantung Sulawesi.
Tojo Una-Una (4)

Pemandangan dari Ampana ke arah Poso di Kabupaten Tojo Una-Una benar-benar indah. Banyak ladang jagung di perbukitan yang nampak tertata rapi dengan gradasi warna dari pohon jagung yang sudah atau siap ditebang, ladang tembakau, hutan dengan perbukitan di sebelah kiri, serta laut dan matahari terbenam yang berada di sisi kanan sepenajang jalan. Perbaikan jalan yang saat itu sedang dilakukan pemerintah daerah terbentang di sepanjang jalur yang kami lewati. Sungai-sungai di Kabupaten Tojo Una-Una terlihat lebar-lebar dan dangkal sehingga komponen bebatuan di sekitarnya jelas nampak di antara arus yang mengalir dengan deras akibat hujan lebat yang baru saja terjadi. Bagi Anda pencinta batu akik(a), jalur Ampana-Poso menyediakan begitu banyak bebatuan serta penjual batu di pinggir jalan yang bahkan terkadang di tengah remang hutan tanpa ada orang lain selain si penjual batu, batu yang masih belum diasah tepatnya. Tapi maaf ya, saya bukan pencinta dan bukan orang yang mau dititipi bebatuan macam ini, kalau berlian sih boleh lah dikasih ke aku biar auraku jadi shine bright like a diamond. Selain penjual batu, ada juga ternak warga seperti sapi dan kambing yang sore itu banyak kami jumpai di sepanjang jalan. Ternak yang jumlahnya lebih banyak daripada kendaraan yang melintas yang bermain-main bebas di tengah dan pinggir jalan sebelum pulang ke kandang. Untuk musik pengiring perjalanan, Pak Mito mempunyai selera internasional yang saya kira lumayan cocok untuk turis asing seperti REM, Nirvana, Metallica, Steelheart, dan OASIS.

Para bule meminta Pak Mito untuk berhenti sejenak untuk beli camilan dan meregangkan badan di sebuah warung di Malei, yang juga masih di wilayah Kabupaten Tojo Una-Una. Sudah pukul 19.00 wita lebih dan kami masih saja di Tojo Una-Una menyadarkan saya betapa luasnya Indonesia. Ibu pemilik warung yang sepertinya sedang menonton sinetron agak terkejut melihat bule-bule yang berada di belakang saya yang sepertinya siap menyerbu warung.
Tojo Una-Una (5)

Selain membeli minuman segar dan permen, kami menemukan kue khas Malei yang terlihat biasa tetapi rasanya luar biasa yang namanya kue kambu. Kue kambu ini terbuat dari tepung terigu, kelapa parut, dan gula pasir yang dijual seharga Rp1.000,00 per buah. Entah berapa puluh kue kambu yang kami beli saat itu.
Tojo Una-Una (6)

Tidak begitu jauh dari Malei, kami pun tiba di Kabupaten Poso dan langsung mengambil jalur ke arah Tentena, bukan ke Palu. Perbaikan jalan ternyata benar-benar sedang dilakukan di seluruh penjuru Sulawesi Tengah. Saat itu pukul 20.30 wita saat mobil kami tiba-tiba terhenti karena terhadang lagi oleh penutupan jalan yang katanya sedang memasuki proses pengangkatan aspal atau apalah hingga 2 jam ke depan, dan penutupan baru berlangsung sekitar 5 menit sebelum kami datang. Pantas saja kami berada di antrean kendaraan nomor 3 di belakang portal. Kami turun mobil untuk melihat-lihat keadaan sekitar saat ada mobil, yang sepertinya milik raja kecil di sana, tiba-tiba berada di belakang portal jalur kendaraan ke arah Poso dan meminta dibukakan jalan kepada penjaga portal. Si Raja Kecil yang duduk di samping supir turun dan bilang kepada kami dengan nada tinggi bahwa harus segera ke daerah entah-apalah-namanya-sesuka-udhel-e-dewe untuk menyampaikan bantuan bagi para korban banjir dengan menggunakan kapal yang harus berangkat pada pukul 11.00 wita. Yaelah Pak, kalau mau nyerobot antrean ataupun memaksa melewati jalan mah lewat saja, gak perlu marah-marah sok ngejelasin tujuan muliamu itu kali. NEVER MIND. WE DON’T CARE. Malah mencurigakan bantuan macam apa sik yang dibawa hanya di satu mobil yang tidak terlihat membawa barang-barang bantuan. Lalu kami boo ramai-ramai deh si bapak gengges itu.
Tentena (4)

Kami menepi ke arah warung-warung yang banyak di dirikan di sekitar portal. Jan dan Michal mengajak Pak Mito, Catherine dan pasangannya untuk bermain kartu versi Ceko. Saya juga diajak tetapi saya bukan penggemar kartu sehingga saya diminta untuk mendampingi dan menjelaskan tata cara permainan kepada Pak Mito. Saya sih pernah suka main kartu sekitar 10 tahun lalu jadi walaupun lupa nama dan aturan permainan, masih ingat sedikit-sedikit lah tentang jenis permainan kartu yang mirip dengan seven sekop tetapi dibuat lebih mudah dengan beberapa aturan ala Ceko sana. Dan kami menjadi pusat perhatian orang-orang yang sedang menepi di sekitar warung.
Tentena (6)

Setelah permainan kartu berjalan dengan stabil sesuai aturan yang ditetapkan, saya memilih melipir ke warung sebelah dan menemukan minuman cap tikus yang merupakan tuak khas Sulawesi termasuk di Poso. Si Bapak penjual cap tikus menjelaskan beda cap tikus dengan saguer dari proses pembuatan, warna, dan harga. Saya sih tidak tertarik dengan cap tikus karena teringat adegan terpaksa mencicipi tuak khas Nias yang dioplos dengan minuman berenergi pada tahun 2014 silam karena takut kalau tidak mau mencicipi minuman yang ditawarkan penduduk lokal bakal tidak bisa ke luar dari Nias. 😀

Tentena (5)

Sekitar pukul 9.30 wita portal sempat dibuka untuk ambulans yang melintas dan langsung diikuti oleh beberapa mobil yang berada di belakang ambulans untuk turut melintas. Sayang kami gagal ikut melintas karena kurang gesit berkumpul dan menjalankan mobil. Akhirnya David dan Bu Joko kembali tidur di mobil, yang main kartu kembali bermain kartu, dan saya mengobrol dengan supir  pickup pengangkut ayam yang ternyata berasal dari Jawa Timur juga. Sesekali saya mencoba menghubungi Hotel Tropicana yang menjadi tempat yang diinginkan Catherine karena berdasar rekomendasi pada buku yang dia bawa, juga menghubungi Hotel Victory yang direkomendasikan Pak Mito. Di tengah alas ini koneksi data masih sangat sulit dan tetap hanya Whatsapp yang lumayan lancar. Saya teringat Yose, teman kantor yang pernah bertugas di Poso, yang saya pikir pasti tahu tentang Tentena. Yose melalui Whatsapp mengatakan bahwa hotel yang menurutnya bagus dan paling dekat dengan Danau Poso adalah Hotel Pamona Indah. Lalu saya hubungi Hotel Pamona Indah. Bingung-bingung belum bisa memutuskan mau menginap di hotel yang mana saat kami tiba di tentena yang kemungkinan akan lewat tengah malam.

Akhirnya menjelang pukul 23.00 wita, portal benar-benar dibuka dan kami bergegas masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan ke Tentena melalui jalan yang memang benar-benar dalam keadaan berantakan, berlumpur, penuh material pembangunan jalan selama 1 jam. Beberapa menit lepas tengah malam kami pun tiba di Tentena dan memutuskan untuk melihat Hotel Victory. Catherine menanyakan ketersediaan kamar yang paling murah di hotel tersebut tetapi ternyata sudah penuh sehingga tinggal yang harganya Rp175.000 ke atas. Czech Gang yang sudah merasa kelelahan memutuskan untuk memilih melanjutkan perjalanan ke Rantepao saja jika memungkinkan daripada nanggung istirahat beberapa jam di Tentena. Kebetulan saat itu di Victory tersedia mobil jurusan Tentena-Rantepao yang batal disewa orang sehingga para turis Ceko dan Prancis ini bisa melanjutkan perjalanan langsung ke Rantepao. Mobil semua ditawarkan dengan tarif Rp1.250.000 tetapi saya tawar agar menjadi Rp1.000.000 karena tarif sewa mobil Ampana-Rantepao yang paling murah yang saya dapat adalah Rp1.800.000. Dihitung-hitung bisa pas kan akhirnya setelah tarif sewa mobil Ampana-Tentena Rp800.000 dan dilanjutkan Tentena-Rantepao Rp1.000.000. This was our farewell photo at Victory Hotel Tentena. 🙁
Tentena

Saya lupa tentang konflik antarpemeluk agama yang menyebabkan kerusuhan pada tahun 2002 di Tentena jika tidak diingatkan Bu Joko pada saat kami bersiap untuk tidur. Then i got goosebumps and asked myself, “What i am doing here?”. Untungnya sih di sana cuma ada sinyal Telkomsel, yang untuk Whatssapp saja lemot dan susah untuk googling, jadi tidak semakin banyak informasi yang saya dapat yang akna membuat saya akan semakin merinding.

Saat pagi menjelang, saya pergi ke luar hotel untuk melihat Danau Poso dan ternyata tidak jauh dari Hotel Victory hanya dengan melewati 1 blok ke arah Hotel Pamona Indah. Walaupun tidak jauh, gelombang pasang Danau Poso sedang terjadi dan mengakibatkan jalan di sekitar danau menjadi tergenang setinggi 20 s.d. 30 cm dengan air being danau yang tidak membuat saya khawatir kaki akan gatal-gatal seperti terkena genangan air banjir di Jakarta yang keruh dan bau.

Tentena (8)

Sejauh mata memandang, sejauh itu pula luas danau terbesar nomor 3 di Indonesia ini. Keramba yang banyak dibuat di pinggir Danau Poso.
Tentena (7)

Rumah adat Poso yang sudah agak rusak di sekitar danau.

Tentena (9)

Rumah adat yang juga agak rusak padahal rumah model begini juga jarang kita temui di sini.
Tentena (10)

Setelah melihat-lihat Danau, saya kembali ke hotel untuk sarapan. Mbak Nony menyajikan 2 porsi nasi kuning, 2 gelas air mineral serta menawari saya mau teh atau kopi. Dan akhirnya saya menghabiskan 2 porsi nasi kuning yang seharusnya juga menjadi hak Bu Joko, yang masih terlelap, serta menyisakan air minaral dalam gelas dan secangkir teh manis hangat untuk Bu Joko. Saya sampaikan ke Bu Joko bahwa saya akan berkeliling mencari ojek atau travel yang bisa membawa kami ke Lembah Bada. Menurut Mbak Nony, untuk menuju Lembah Bada kami bisa menyewa hardtop seperti yang dilakukan penghuni kamar sebelah, menggunakan ojek motor jika ada yang mau, atau mobil travel umum yang biasanya kalau pagi begini berada di sekitar jembatan baru atau pasar lama. Ojek yang saya dapatkan bukannya mau mengantar saya ke Lembah Bada melainkan mau mengantarkan saya mencari ojek atau travel yang bisa mengantar saya ke Lembah Bada. Si Bapak Ojek ternyata ada acara di gereja pada siang nanti sehingga tidak bisa mengantar ke Lembah Bada. Saya mengambil gambar di bawah ini dari jembatan baru saat mencari ojek.

Tentena (12)

Dengan diantar Pak Ojek, saya memintanya sekalian melihat-lihat ada apa saja di Tentena ini dan diajaklah saya ke tempat ini. The venue for Festival Danau Poso. Its actually a large, beautiful and useful place to promote the tourismbut the government did’nt take care of it until the festival is almost being held.
Tentena (13)

Akhirnya di sekitar pertigaan dekat Universitar Kristen Tentena Pak Ojek berhasil menghentikan seorang tukang ojek lain yang mau mengantar saya ke Lembah Bada. Saya pikir akan mudah mendapatkan 1 tukang ojek lagi, tetapi ternyata tidak. Saya yang sudah ditinggal Pak Ojek dan diserahterimakan ke Mas Ojek berpindah ke beberapa tempat hingga ke dekat Pasar Lama untuk mencari tukan ojek 1 lagi yang mau mengantarkan ke Lembah Bada sambil sesekali mampir ke agen travel yang barangkali menyediakan mobil umum ke sana. Si Mas Ojek ini mau dibayar Rp150.000 untuk menuju Lembah Bada di saat tukang ojek lain tidak ada yang mau ke sana karena katanya jalannya hancur dan jelek sekali penuh lumpur. Saya akhirnya kembali ke hotel untuk melapor perjalanan saya selama 1 jam mencari ojek yang hanya menghasilkan 1 tukang ojek kepada Bu Joko. Ternyata Bu Joko sudah ke luar hotel untuk mungkin sarapan dan jalan-jalan. Saya tidak bisa menghubungi ponsel dia karena dia menggunakan bukan nomor Telkomsel. Berputar-putarlah lagi saya dan Mas Ojek ke sekitar danau (lagi), ke lokasi Festival Danau Poso (lagi), ke sekitar pasar lama (lagi), tetapi tidak juga menemukan keberadaan Bu Joko. Saya menyerah dan memutuskan untuk menunggu Bu Joko di hotel saja.

Pasar Lama Tentena.

Tentena (14)

A vegetable seller in Tentena Old Market.

Tentena (16)

Sesampainya di hotel, saya menemui Mbak Nony untuk bertanya alternatif lain dari kenalan tukang ojek atau travel yang kira-kira bisa mengantar ke Lembah Bada pp hari ini. Tak lama kemudian Bu Joko tiba juga di hotel dan saya sampaikan betapa sulitnya mencari ojek ke Lembah Bada. Kemudian saya mulai menghubungi travel dan tukang ojek yang nomornya diberikan oleh Mbak Nony. Berikut ini beberapa nomor telepon tukang ojek dan travel di Tentena yang saya hubungi pagi itu: Travel Pak Cit di 085341024133, Travel lupa namanya di 081354599568, Pak Akim Ojek di 085342300833, Pak Jonli Ojek di 085341111730. Dua travel yang saya hubungi menyediakan travel mobil umum baik menuju Lembah Bada maupun ke Palu. Dengan perkiraan mobil travel berangkat dari Tentena pukul 12.00 siang maka akan tiba di Lembah Bada menjelang Maghrib dan kami baru akan bisa kembali ke Tentena KEMUNGKINAN pada sore keesokan hari dan itu pun mungkin hanya bisa melihat 1 atau 2 buah batu di situs megalitikum Lembah Bada yang jumlahnya sebelasan tetapi jaraknya sangat berjauhan satu sama lain.Kita bisa menginap di rumah penduduk di sana dan menyewa motor untuk berkeliling dari satu situs ke situs lain. Seperti ini bentuk situs megalitikum di Lembah Bada.

credit image to asrito.blogspot.com

Pak Jonli datang ke hotel dan bilang mau mengantar kami, melengkapi Mas Ojek yang bersedia, tetapi dengan harga yang sangat mahal yaitu Rp700.000 per orang. Saya pikir gilingan saja dengan biaya sebegitu besar saya lebih baik menyewa hardtop untuk menuju ke Lembah Bada. Jalan menuju Lembah Bada konon katanya rusak berat, menanjak, berlumpur, tidak ada penerangan kalau malam, serta tidak bisa dicapai PP dalam satu hari.

credit image to asrito.blogspot.com

After all, we decided to do city tour to some landmarks in Tentena with Pak Jonli and Mas Ojek with cost Rp150.000,00 per person.  Our first stop is Siuri Beach. Dari harus ke luar Kota tentena ke arah barat hingga menemukan pertigaan menuju Lore Lindu. Di pertigaan tersebut, jika belok ke kanan sejauh 72km akan menuju Taman Nasional Lore Lindu dengan lembah Badanya yang benar-benar ingin saya kunjungi, dan jika belok kiri sejauh 5km maka akan kita temukan Pantai Siuri ini dan jika terus lagi maka akan menemukan Taman Anggrek Bancea. Here we come at Siuri Cottage but the tidal wave also hit the cottage. If you want to stay here, you may contact +62 85241058225 or +62 81341167345.

Tentena (19)

Siuri Beach. A sparkling and serene beach in the far side of Lake Poso.
Tentena (20)

Dari Pantai Siuri, kami kembali ke arah pertigaan menuju Lore Lindu dan terus ke arah Air Terjun Saluopa. From the entry gate, we have to walk like 10 minutes in the middle of beautiful tropical forest to get this waterfal. Saluopa Waterfall has 12 level which is from one to another level can be reached by stepping on mossy-but-not-slippery-stone stairway.  You can see a very clear and clean water that came from the mountain. When i was there, a group of high school students were there to celebrate their graduation. It is a must place to visit in Tentena and Central Sulawesi.
Tentena (21)

Terdapat beberapa warung yang menjual makanan dan minuman di dekat parkiran air terjun. Saya yang tiba-tiba masuk angin karena terkena hembusan air yang begitu dingin terbawa angin di air terjun memutuskan untuk kembali saja ke kota dan mencari makanan yang lebih cocok untuk perut saya daripada hanya mie instan goreng atau rebus di sekitar air terjun yang hanya akan membuat saya semakin mual. Sedangkan Bu Joko memilih untuk makan mie instan di situ dan meneruskan perjalanan dengan tukang ojeknya ke Panorama, semacam bukit untuk melihat Danau Poso dari atas, serta ke Goa Latea.

Saya makan di sebuah warung di dekat pasar lama yang ternyata rasanya tidak begitu enak dibanding nasi kuning bungkus yang disajikan hotel tadi pagi dan malah membuat saya semakin mual. Setelah memaksakan diri menelan makan tersebut, saya duduk-duduk di jembatan sambil sesekali mencoba menghubungi tukang ojek Bu Joko karena saya yang ingin menyusulnya tetapi tidak telepon saya tidak diangkat juga sehingga tidak mengetahui lokasi mereka. Setelah itu saya memutuskan untuk mencari Losmen Tropicana yang katanya oke untuk melihat-lihat saja. Berbeda dengan Hotel Victory dan Hotel Pamona Indah, Losmen Tropicana ternyata agak sulit ditemukan bahkan oleh tukang ojek saya, atau mungkin karena dia memang tidak gaul(?), malahan tidak sengaja menemukan penginapan lain yaitu Eu Datu Cottages.
Tentena (15)

This is what i think about 4 hotels in Tentena, Victory Hotel, Tropicana Losmen, Hotel Pamona Indah, and Eu de Cottages, that i’ve seen.

Lets start with Victory Hotel Tentena, located at Jalan Diponegoro No. 18, Tentena 94663. Phone +62 458 21392, +62 85241099876,  +62 81355118099. This young beautiful girl named Nony, the owner’s daughter and hotel receptionist. She’s so nice and helpful to visitors. She graduated from a university in Bandung and worked in Papua for a couple of months before going back to Tentena and helped her parents to manage this hotel.

Tentena (17)

It has good and clean rooms with prices start from Rp125.000 to Rp250.000 for low season, and Rp175.000 to Rp275.000 for high season, include breakfast. I met so many local and international guests here.

Tentena (18)

I ate this delicious yellow rice for breakfast and it was so good.

Tentena (11)

Hotel Pamona Indah Permai Tentena on Jalan Komodor Laut Yos Sudarso, Kasintuwu, Tentena, 94611, phone +62 458 21245. Located in the nearest area to Lake Poso. I found the tidal wave hit the street in front of the hotel but it didn’t affect the hotel building. It looks great in a higher price range than Victory Hotel. My friend said that this hotel was his favorite.

Tentena (3)

Ue datu Cottages at Lorong Ue Datu 92-93, Tentena – Poso, Sulawesi Tengah 94663, phone +62 458 21824,  +62 811 344 1597. Located in a not so strategic area on the hill and a bit far from the lake.

Tentena (26)

The prices starts from Rp200.000, Rp300.000, and higher depend on the season.

Tentena (25)

Once the staff told me that there was a staff room that i could rent in a more affordable price than the standard room which only Rp120.000.

Tentena (24)

This hotel has the largest area and more room preference. Log on to their website for further information.

Tentena (23)

Last but not least, Tropicana Losmen Tentena phone +62 458 21224 or +62 85298931719. Its a bit hard to find this hotel due to its location on the hill that far from lake and market but offers a very good scenery from the top.

Tentena (27)

The prices ranges start from Rp120.000 to Rp250.000, include breakfast. If you want to stay in a room with lake view, you need to book the most expensive ones.

Tentena (28)Segera setelah melihat-lihat hotel ini saya kembali ke Victory Hotel untuk menunggu Bu Joko yang masih entah di mana dan mengambil tas yang saya titipkan ke Mbak Nony dari pagi tadi. Suasana di Hotel Victory Tentena ini sangat kekeluargaan, nyaman, dan membantu para pengunjung. Sekitar pukul 16.30 wita Bu Joko tiba di hotel dan kami segera menuju Terminal Tentena untuk menunggu mobil travel kami ke Palu yang katanya akan siap pada pukul 17.00 wita. 17 jam terlalu singkat untuk dilalui di kota kecil yang ternyata tidak seseram yang saya bayangkan. Penduduk dan kehidupan di kota ini sudah seperti kota kecil lain yang damai dan tidak terlihat sisa-sisa kerusuhan yang sudah lebih dari satu dekade berlangsung. Suatu hari nanti saya akan kembali kota ini untuk menuju Lembah Bada di Taman Nasional Lore Lindu yang belum sempat tercapai.

*Rincian pengeluaran dari Ampana hingga menuju Palu:

Rincian  Biaya
Mobil 800.000 (7 orang)      114.286
Makan 265.000 (7 orang)       37.857
Camilan  50.000
Hotel Victory 175.000 (2 orang) 87.500
Ojek 1 20.000
Ojek 2 200.000
Makan 50.000
Travel ke Palu 150.000
Total 709.643