Pesona Museum Huta Bolon Simanindo

Untuk kali kedua saya berkunjung ke Museum Huta Bolon Simanindo setelah kunjungan 2,5 tahun lalu ada beberapa hal yang berubah dari museum ini. Sebut saja rumah yang digunakan untuk memamerkan kapal yang sekarang sudah roboh dan menimpa kapal, padahal kapal dan rumahnya bagus banget.

Huta adalah kampung tradisional orang Batak yang dikelilingi oleh benteng dan tanaman bambu untuk menghalangi musuh masuk ke dalam kampung tersebut. Huta hanya mempunyai satu pintu. Rumah di dalam huta berbaris di samping kiri dan kanan rumah raja. Rumah raja disebut Rumah Bolon di mana di hadapan rumah tersebut didirikan lumbung padi yang disebut Sopo. Halaman tengah di antara Rumah Bolon dan sopo dahulu dipergunakan sebagai tempat Mangalahat Horbo (acara adat memotong kerbau dan memukul gondang). Di tengah halaman didirikan sebuah Tonggak yang dihiasi dengan daun-daun yang melambangkan pohon suci (pohon beringin). Tonggak tersebut bernama Borotan. Kerbau yang digiring akan disembelih di Borotan tersebut.

Harga tiket untuk menonton pertunjukan di Museum Huta Bolon Simanindo masih sama seperti dulu yaitu Rp50.000/orang. Saya dan Nadia tiba di museum masih pukul 10.00 wib sehingga kami masih ada waktu sekitar 30 menit hingga pertunjukan dimulai. Para penari bahkan belum berganti pakaian dan dandan saat kami datang. Sekitar pukul 10.20 wib saat beberapa penari masuk ke dalam rumah adat yang mereka gunakan untuk mempersiapkan diri, saya tergoda untuk ikut nimbrung di rumah tersebut. Beberapa wajah penari di sini masih saya ingat. Wajah lugu nan bersahaja yang setia melestarikan kebudayaan Batak sembari mengais rezeki untuk keluarga. Bapak sesepuh yang sedang memakai ulos sedangkan beberapa inang sudah hampir siap tampil.

Manortor

Abang-abang yang tidak perlu fitnes di gym tapi perutnya bisa rata. Si Abang yang belum memakai atasan ulos ini sempat berganti bawahan ulos hingga 3 kali hingga kami tertawai bersama. Eitsss di dalam bawahan ulos mereka masih memakai celana jeans butut lho, jangan bayangin yang tidak-tidak, tapi ya gitu perutnya bisa bikin jantung yang lihat berdesir kencang.

Manortor

Inang yang sudah hampir siap tampil sedang bercermin untuk terakhir kalinya. 10 orang penari di ruangan ini telah siap untuk tampil dan para pemain musik yang berjumlah sekitar 6 orang juga sudah siap di rumah sebelah.

Ulos (9)

Pada saat saya menuju tempat untuk menonton di mana Nadia sudah menunggu, ada beberapa rombongan turis asing yang didampingi pemandu lokal sedang memasuki lokasi pertunjukan. Syukurlah ada sekitar 30an penonton siang itu, bukan hanya kami berdua seperti tadi. Dan pertunjukan pun dimulai. Berikut rangkaian pesta adat Mangalahat Horbo.

1. The ceremony dance/Gondang Lae-Lae. Merupakan doa kepada Dewata agar kerbau yang akan diikatkan tidak bertingkah yang jelek sewaktu digiring ke Borotan. Orang Batak zaman dahulu percaya bahwa setiap tingkah laku kerbau merupakan alamat sesuatu yang baik atau buruk terhadap yang berpesta.

Manortor

2. Prior Dance/Gondang Mula-Mula. Yaitu doa kepada pencipta bumi, langit, dan segala isinya agar Dia menganugerahkan putra dan putri, membawa kekayaan, menjauhkan bala dan menyembuhkan segala penyakit kepada yang mengadakan pesta.
3. Dance Addressed to God/Gondang Mula Jadi. Tari untuk mengatakan bahwa doa telah dikabulkan oleh Tuhan.
4. Group encircling dance/Gondang  Shata Mangaliat. Orang yang berpesta menari dengan mengelilingi tonggak atau Borotan penyembelihan kerbau, di mana diikatkan seekor kerbau pada pesta adat. Kerbau tersebut disembelih dan dagingnya dibagi-bagikan kepada yang berpesta dan kepada mereka yang berhak menerima sesuai dengan adat yang ditentukan.
5. Mutually cheering dance/Gondang Maralolop-olopan. Yakni orang yang berpesta saling memberi selamat sesamanya.

Simanindo
6.Youngsters dance/Gondang Siboru. Merupakan tarian untuk para pemuda sambil menari datanglah putri yang masing-masing dengan pengharapan agar datang untuk melamarnya.

7. Cleansing dance/Gondang Sidoli adalah tarian untuk pemudi di mana sambil menari datanglah seorang pemuda yang mendekati seorang putri yang dicintainya dan yang didambakan menjadi istrinya dan sebagai pertanda ia mencintai putri, dia akan memberi sejumlah uang.

Manortor

8. Dance of True Quality/Gondang Pangurason. yaitu datangnya roh nenek moyang dalam pesta dan menyusup pada salah seorang putri untuk memberkati mereka.

Manortor

9. Cooperative dance/Tari bersama di mana semua tamu diajak menari bersama dengan tuan rumah yang mengadakan pesta tersebut.

Manortor
10. Tor tor Tunggal Panuluan. Tari ini diperankan oleh seorang dukun untuk berkomunikasi dengan Dewata Natolu untuk meminta sesuatu seperti hujan, keturunan, atau kesuksesan dalam kehidupan.

Si abang akan menongkat telur yang ada di tanah. Tapi sayang saat itu tidak kena, atau sengaja tidak dikenakan.

Simanindo

11. Puppet dance/Gondang Sigale-gale. Yaitu tarian boneka sigale-gale yang terbuat dari kayu mirip manusia. Dikisahkan pada zaman dulu kala ada seorang raja yang mempunyai anak tunggal. Anak tersebut jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Raja sangat sedih menerima musibah tersebut sebab anak yang diharapkan untuk meneruskan cita-cita/kerajaannya sudah tiada. Untuk meringakan penderitaan raja sekaligus mengenang anaknya, raja tersebut memerintahkan rakyatnya untuk mengukir sebuah patung yang sangat mirip dengan anakanya sehingga di kala raja ingin melihat anaknya maka raja akan mengundang rakyatnya untuk membuat pesta Sigale-gale. Begitupun saudara perempuan Sigale-gale akan menari bersama Sigale-gale untuk melepaskan kerinduannya.

Simanindo

Akhirnya pertunjukan sesi pertama hari itu selesai sekitar pukul 11.15 wib dan para penari pun berganti pakaian sembari menunggu pertunjukan sesi kedua pada pukul 11.45 wib. Ini punggung Si Abang tokoh utama dalam pertunjukan sedangkan 4 orang yang di sana sedang menghitung uang pemberian penonton secara sukarela yang dilakukan menjelang berakhirnya pertunjukan. Ada turis yang saya lihat hanya memberi uang receh tetapi juga ada yang dengan senang hati memberi hingga Rp50.000. Semua diterima dengan senang hati oleh para pelestari adat batak ini dan saya pun turut senang melihat ekspresi mereka setelah menghitung uang tersebut. Siang itu mereka berhasil mengumpulkan uang sekitar Rp280.000.

Manortor

Saat semua penari telah selesai melepas ulos meninggalkan rumah, saya kembali menemui Nadia dan kami melakukan pemotretan dengan menggunakan ulos sebagai hijab ini.

Manortor

Tak lupa pemotretan menggunakan Novel Supernova-Gelombang karya Dewi Dee Lestari Simangunsong yang sudah saya bawa dari Jakarta ke Medan, Aceh Singkil, Sidikalang, hingga sampai di Samosir sini.

Supernova-GelombangSaya tidak akan bosan mengunjungi museum yang penuh pesona ini. Semua sudut museum ini sangat indah, begitupun pertunjukan tarian Batak dan belakang layar Mangalahat Horbo-nya sangat menarik. CETARTARTAR!!!

Ada Ulos di Antara Kita

Pagi itu, 9 Maret 2013, saya mengunjungi objek wisata Batu Kursi Raja Siallagan di Ambarita, Kabupaten Samosir. Setelah puas foto sana sini dan belum tahu mau ke mana lagi, saya mapir di salah satu toko yang dijaga oleh seorang Inang Batak setengah baya. Dari semua suvenir yang ditawarkan, saya tertarik dengan ulos-ulos yang digantung di tengah maupun berjajar di bagian belakang toko. Saya membayangkan dirinya yang akan terlihat sangat cakep mengenakan ulos manapun di dalam suatu acara adat Batak. Dirinya yang membuat saya akhirnya tiba di Danau Toba ini untuk mengenal lebih jauh tentang adat budaya leluhurnya.

UlosSetelah memilah-milih dan tawar-menawar saya mendapatkan 3 helai ulos barwarna dasar hitam dengan ukuran dan tingkat kerumitan pembuatan berbeda. Inang penjual suvenir menyarankan saya untuk ke Museum Batak  Simanindo dan ke air panas di Pangururan saat saya tidak tahu mau ke mana. Dengan menumpang kendaraan umum saya menuju Museum Batak di Simanindo. Sesampainya di museum, saya mengeluarkan salah satu kain ulos yang baru saya beli yang paling saya sukai dan memakainya dengan menyelempangkan di leher. Di museum ini kita bisa menonton pertunjukan tarian Batak dengan membayar tiket Rp50.000 per orang untuk turis lokal dengan mayoritas penonton adalah bule. Pada saat pertunjukan sudah mulai, ada 3 gadis yang terlihat merupakan turis lokal dan kami pun berkenalan. Salah satu dari 3 gadis tersebut adalah Suku Batak yang dengan sukarela membantu memfoto saya dan 2 temannya saat kami turut serta dalam pertunjukan.

Ulos

Saya ditawari gadis-gadis itu untuk jalan bareng bersama mereka menggunakan mobil sewaan karena ternyata tempat menginap kami berdekatan di Tuk-Tuk. Dengan masih mengenakan ulos favorit yang bisa sekaligus melindungi tubuh dari terik mentari, saya menikmati indahnya kompleks air panas Pangururan.
Ulos

Dalam perjalanan kembali dari Pangururan menuju Tomok, saya meminta untuk berhenti sejenak di tugu leluhur dia-yang-membuat-saya-sampai-di-sini. Syahdu dan sendu yang saya rasakan saat itu. Andai saja saya bersamanya di tempat ini saat itu.

Ulos

Keesokan harinya saya dan 3 teman baru saya mendapatkan kesempatan emas untuk mengunjungi PLTA Sigura-gura. Di sepanjang perjalanan dari Samosir ke Asahan hingga saat masuk ke perut bumi untuk melihat langsung turbin PLTA saya mengenakan ulos yang membuat saya merasa “semakin Batak” perjalanan saya ini.

Ulos

Setelah perjalanan pertama saya ke Tanah Batak saat itu, saya membuat kemeja ulos dengan detail kancing di bagian atas sehingga tidak membuat tulisan “Dame ma di hita” pada ulos menjadi terpotong dan detail ulos bisa terpampang nyata. Kemeja ulos ini hanya saya pakai sesekali ke kantor dan untuk kondangan acara Batak. Teman-teman saya yang Batak pada suka kemeja ulos perdana saya ini dan mereka terinspirasi untuk membuat kemeja yang sama dengan menggunakan ulos yang mereka punya. Bahkan ada teman yang memberikan ulos kepada saya agar saya bisa membuat kreasi dari ulos.

Ulos

Di awal bulan April 2015, bos kami tercinta tiba-tiba dipindahtugaskan ke unit lain. Dalam acara perpisahan yang cukup dadakan tersebut, saya meminta beberapa teman kantor baik yang Batak maupun bukan untuk menyanyi lagu Batak “Sigulempong” bersama. Dengan berbekal kaos seragam dan ulos saya serta ulos pinjaman teman-teman Batak, jadilah kostum kami seperti ini. Kaos saya berbeda sendiri karena saya project manager acara perpisahan, penata gerak dan busana grup vokal ini, secara kalau saya ikut menyanyi maka akan rusaklah harmonisasi grup vokal ini.
Ulos

Pada saat libut lebaran di bulan Juli 2015, saya membuat kemeja ulos lagi. Masih dengan ulos yang saya dapat dari perjalanan saya di tahun 2013. Kali ini saya menggunakan detail 2 buah ritsleting sebagai hiasan sekaligus jalan keluar masuknya kepala, katun berwarna senada untuk lengan, serta aksen batik parang yang juga senada. Tak lupa juga fringe-nya tetap digunakan. Tapi sayang seribu sayang karena saya membuatnya pada saat ukuran badan sedang menjalankan puasa dan saat ini badan saya sedang melar dan jarang olah raga maka kemeja ini sangat ketat dan sulit untuk memakainya. #ayodietdanolahraga

Kemeja ulos

Di akhir bulan September kemarin, saya melakukan perjalanan ke Tao Batak untuk yang ke tiga kalinya setelah perjalanan saya di tahun 2013 yang saya ceritakan di atas serta perjalanan saya di tahun 2014 yang juga sendiri. Kali ini saya bersama teman kantor saya, Nadia. Di Museum Batak Simanindo, setelah menyaksikan pertunjukan tari, saya mendandani Nadia dengan ulos yang sudah saya bawa. Ulos sebagai hijab. Dan Nadia pun terlihat sangat cetar.

Manortor

Setelah dari Simanindo, kami mampir ke Pasar Tradisional Ambarita yang buka di hari Kamis. Setelah berkeliling ke beberapa bagian pasar, kami berhenti di salah satu lapak penjual ulos. Inang yang berjualan bilang kalau ulos-ulos yang dia jual langsung dari pembuat sehingga harganya jauh lebih murah daripada di toko suvenir bahkan banyak toko suvenir yang mengambil dari sini. Dan benar saja, selain koleksi ulosnya cantik-cantik dan beragam, harganya memang sangat miring dibanding beberapa tempat yang pernah saya kunjungi. Walhasil saya membeli 21 helai ulos berbagai jenis, warna, ukuran, dan harga.
Mangulosi

Ini Jealeou, teman saya yang selalu nitip kain setiap saya jalan-jalan. Dia percaya selera saya terhadap segala jenis kain tradisional sehingga dia cukup bilang mau berapa buah dan budget berapa. Beberapa bulan lalu saat saya tur ke Maluku Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, hingga Sulawesi Tengah, dia juga nitip berbagai kain yang saya sukai dari kain krawang Gorontalo warna kuning terang sepanjang 6 meter hingga tenun Donggala. Dan sebelum memanfaatkan kain-kain tersebut lebih lanjut, kami selalu suka menggunakannya untuk pemotretan ala-ala adibusana di Vogue Italia atau Vogue Paris. Jealeou menggunakan ulos sadum sebagai penutup kepala, ulos Angkola dimensi sebagai selendang, serta ulos pucca dengan benang prada sebagai bawahan.
Mangulosi

Jealeou menggunakan ulos sadum beraneka warna sebagai penutup kepala dan gaun, serta ulos Angkola warna ungu untuk layering gaun.

Ulos (2)

Jealeou memakai ulos bintang maratur yang merupakan ulos yang paling banyak kegunaannya di dalam acara-acara adat Batak Toba.

Ulos (3)

Dari semua perjalanan saya di Indonesia, memang hanya di Indonesia, dan perburuan kain-kain yang saya lakukan, hanya perjalanan ke Tanah Batak dan dengan uloslah saya merasakan ikatan yang sangat mendalam. Seorang suku Jawa yang sangat suka semua yang berbau Batak karena seorang Batak yang selalu dinanti walaupun telah lama mematahkan hati. #curcolabis

Postingan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog #KainDanPerjalanan yang diselenggarakan Wego. http://www.wego.co.id/berita/kompetisi-blog-perjalanan-dan-kain-tradisional/

Vogue Italia November 2015

Vogue Italia November 2015: Perfect Stranger
Model: Jealeou, Utse Arganaraz
Fotografer: Paminto Meisel
Makeup Artist: Estu McGrath
Hair: Guido Paminto
Set: Estu
Lighting: Obeit
Stylist: Franca Soestu and Obeitha Simons

Ulos (1)

Cover story: Go glam in Ulos.

Jealeou memakai tutup kepala yang terbuat dari Ulos Sadum. Gaun terbuat dari Ulos Sadum dan Ulos Angkola.

Ulos (2)

Jealeou memakai Ulos Bintang Maratur. Menurut Wikipedia, ulos ini merupakan Ulos yang paling banyak kegunaannya di dalam acara-acara adat Batak Toba, seperti untuk anak yang memasuki rumah baru dan secara khusus di daerah Toba Ulos ini diberikan waktu acara selamatan Hamil 7 Bulan yang diberikan oleh pihak hulahula kepada anaknya. Ulos ini juga di berikan kepada Pahompu (cucu) yang baru lahir sebagai Parompa (gendongan) yang memiliki arti dan makna agar anak yang baru lahir itu di iringi kelahiran anak yang selanjutnya, kemudian ulos ini juga diberikan untuk pahompu (cucu) yang baru mendapat babtisan di gereja dan juga bisa dipakai sebagai selendang.

Ulos (3)

Tutup kepala memakai Ulos Sadum, Ulos Angkola dimensi sebagai selendang, dan bawahan memakai Ulos Pucca Purada emas.

Ulos (4)

Kombinasi lain dari Ulos Angkola dimensi dan Ulos Pucca Purada emas.
Ulos (5)

Estu manortor di pertunjukan Sigale-gale di Tomok.

Ulos (6)

Shopping spree at Thursday Market at Margarita, Simanindo near to Stone Chair of King Siallagan, Ambarita where you can find ulos in lower price.
Ulos (7)

While waiting for Batak dance at Batak Museum Simanindo.

Ulos (8)

Batak dancer at at Batak Museum Simanindo.
Ulos (9)

Hijaber in ulos.

Ulos (10)

Can’t get enough of ulos.
Ulos (11)

Vogue Italia October 2015

Vogue Italia October 2015: Perfect Stranger
Model: Nadia @mojang
Fotografer: Paminto Meisel
Makeup Artist: Estu McGrath
Hair: Guido Paminto
Stylist: Franca Soestu

Nadia (1)

Umi Vuitton

Nadia (13)

I could only reach your shadow.

Nadia (11)

Finding nemo.

Nadia (10)

Glam storm.
Nadia (9)

Go fishing.

Nadia (7)

Where’s the sun shine?
Nadia (6)

Siantar Boy undercover.

Nadia (5)

Go sees at Taman Wisata Iman Sitinjo, Sidikalang.
Nadia (4)

Welcome to Tuk-Tuk, Samosir Regency.

Nadia (8)

We stayed at Karolina Cottages, Tuk-Tuk.
Nadia (3)

Watching Batak dance at Batak Museum in Simanindo, Samosir Regency.

Nadia (2)

Horas… Horas… Horas…
Nadia (12)

Sai pajumpang muse…..

Sibolga, Balige, dan Siantar dalam 29 Jam

30 April 2014, 8.30 WIB, melanjutkan kisah saya di Nias, kapal mulai merapat ke pelabuhan Sibolga dan persiapan berlabuh. Saya dan Andik serta 1 orang rekannya yang naik di VIP segera turun kapal duluan. Sambil menunggu penumpang ekonomi yang masih antre turun kapal dan Andik yang sedang berkoordinasi dengan supir mobil yang telah dia sewa yang akan mengantar dia dan karyawan barunya ke perkebunan sawit, saya mulai bertanya kepada beberapa orang di pelabuhan tentang objek wisata di Sibolga. Saya memutuskan untuk menyewa becak motor yang dikendarai oleh seorang bapak yang cukup ramah dan enak diajak berkomunikasi yang ada di sekitar situ, namanya Pak Edi. Dan sekitar pukul 9.10 WIB ketika Andik dan kawan-kawan sudah berangkat dengan mobil sewaannya, maka saya juga berangkat menjelajah Sibolga Tapian Nauli dengan becak motor.

Dari pelabuhan, saya diajak berkeliling kota sejenak.

IMG_4445

Ada Sibolga Square lho.

sibolga-square

Sambil berkeling, saya yang sudah dempor banget sambil lirik-lirik hotel yang ada, itung-itung jika memang perlu untuk singgah semalam di Sibolga. Hotel Indah Sari ini disponsori Tancho dong 😀

tancho

Saya, yang sudah kelaparan banget, mampir makan di salah satu warung padang dengan menu nasi, ikan  asap dan terong, serta sebotol lemon water seharga Rp25.000,00. Ikannya enaaaakkkk.

IMG_4449

Setelah kenyang, saya diantar ke Jalan Pulo Rembang yang merupakan pemukiman nelayan untuk bertanya tentang kapal ke air terjun di Pulau Mursala.

IMG_4457

Singgahlah kami di salah satu rumah bapak pemilik kapal. Kata Beliau, harga persewaan kapal ke Pulau Mursala sekitar Rp1.500.000,00 untuk seharian PP. Pffffttt kalau patungan ramai-ramai sih enak, tapi untuk sendirian?? Mahal kali. #nangisguling-guling

Sebelum pergi dari Jalan Pulo Rembang, saya membeli bakwan (kotak kiri) dan telur ikan goreng (kotak kanan di atas tahu goreng) dulu daripada tidak membawa hasil apa-apa. Rasa bakwannya lumayan, rasa telur ikannya asin-asin entahlah. Telur ikan goreng ini sepertinya enak kalau dimakan dengan nasi panas dan sambal kecap.

IMG_4465

Gagal ke Pulau Mursala, membuat saya ingin istirahat saja. Saya mampir ke Hotel Wisata Indah yang kata Pak Edi di sana biasanya juga melayani kapal ke Pulau Poncan. Entahlah pulau apa itu tapi saya coba saja bertanya kepada satpam saat akan masuk hotel. Kata Pak Satpam, ada kapal ke Pulau Poncan dengan tarif Rp300.000,00 untuk PP tetapi tidak berangkat setiap hari dan kebetulan berangkatnya keesokan harinya yaitu Jumat. Yaksip gagal juga. Saya masuk dan bertanya tarif kamar Hotel Wisata Indah. Tarifnya paling murah Rp380.000,00. Mahal kali. Urung saja niat saya menginap di Sibolga atau ke pulau-pulau di sekitarnya.

hotel-wisata-indah-sibolga

Saya meminta Pak Edi mengantar saya ke Pantai Pandan yang terkenal saja sambil memikirkan tujuan saya selanjutnya. Dalam perjalanan ke pantai di kecamatan Pandan, Pak Edi singgah di rumahnya sebentar untuk memberi uang belanja kepada istrinya. Dan ternyata rumah bapak ini di atas bukit sebelum sentiong/kuburan Cina Parombunan.

bukit-parombunan-sibolga

Pemandangan Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah dari atas Bukit Parombunan. Tapi sayang sekali, jalan di sini sangat rusak, padahal penuh tanjakan dan turunan tajam serta memakai bentor. -,-

bukita-parombunan

Kuburan Cina Sibolga.

kuburan-cina-sentiong-sibolga

Setelah melewati jalan rusak di Parombunan, saya meneruskan perjalanan ke Pantai Pandan. Karena saat itu hari sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB, pada saat kami sampai di deretan pantai di Pandan, yang juga ibukota Kabupaten Tapanuli Tengah, sudah sangat terik maka saya diajak ke Pantai Indah Kalangan. Jika kita lurus saja dari Pandan ke Kalangan ini, kita bisa sampai di Padang Sidempuan hingga Sumatra Barat karena inilah jalur utamanya.

 pantai-indah-kalangan

Tas kesayanganku dan bentor.

pantai-indah-kalangan

Saya sempat berenang di pantai ini selama 30 menit. Toilet sekaligus tempat ganti pakaian agak jauh di bangunan warna kuning dan jalan menuju sana penuh dengan rumput. Ada 3 bilik untuk toilet cowok dan 3 bilik untuk toilet cewek. Karena tidak ada pengunjung lain maka saya intip-intip bilik yang paling bagus. Saya memakai bilik cewek di mana ada airnya walau tidak mengalir, lampu menyala, dan pintu bisa ditutup.

IMG_4512

Pak Edi makan mie goreng dan kelapa muda, serta teh manis di warung yang teduh ini.

IMG_4514

 Makan siang nasi goreng dan kelapa muda di warung seorang Ibu yang berasal dari Cianjur.

20140430_114806

Pantainya yang jelas lebih sejuk dan sepi dibanding Pantai Pandan yang terdapat beberapa hotel dan penginapan di sekitarnya.

pantai-indah-kalangan

Kata Pak Edi, masuk ke Pantai Indah Kalangan kalau hari libur harus bayar karena ramai, tetapi karena saat itu sepi maka gratis. Di Pantai Indah Kalangan ini ada beberapa tempat live music tetapi sepertinya tidak ada penginapannya.

IMG_4519

Sekitar pukul 12.30 saya meninggalkan pantai ini untuk kembali ke Sibolga. Saya akan mencoba untuk ke Tarutung saja. Pemandangan laut di atas jembatan yang menghubungkan Pandan dan Kalangan dekat pantai Indah Kalangan.

IMG_4524

Sisi jembatan dengan pemandangan sungainya.

pantai-indah-kalangan

Hotel di sekitar Pandan.

pantai-pandan-sibolga

Saat melintasi Pandan, akan ada bau tidak enak yang menyangat hidung. Kata Pak Edi, bau itu dari pabrik pengolahan karet ini. Wajar sih bau kalau baunya nguing-nguing -,-

IMG_4529

KP2KP Pandan

kp2kp-pandan

Dari terminal Sibolga menuju Pandan ada juga angkot dan bus kecil yang bisa membawa kita ke berbagai daerah di sekitar.

IMG_4535

Terminal Sibolga.

terminal-sibolga

Aido Mini Plaza. Semacam swalayan yang menurutku paling ngehits di Sibolga. Letaknya strategis. Di segititiga emas, kalau kata Mbak Fenny Rose.

aido-mini-plaza-sibolga

Lalu saya ke Tangga Seratus. Sudah dempor banget pakai acara naik tangga segala. Untungnya tas kutitipin ke Pak Edi yang kuminta nunggu saja di pinggir jalan, tidak perlu mengantar saya untuk naik. Saya membutuhkan waktu sekitar 7 menit untuk naik.

tangga-seratus-sibolga

Tulisan Tangga Seratus.

IMG_4552

Pemandangan Kota Sibolga dari Tangga Seratus. Lebih bagus dilihat dari Bukit Parombunan ternyata.

IMG_4555

Meniti tangga turun serasa lebih mudah walau agak semriwing takut tergelincir -,-

IMG_4553

Rumah Sakit Daerah Ferdinand L. Tobing, Sibolga.

IMG_4567

KPP Pratama  Sibolga.

kpp-pratama-sibolga

Sisi lain KPP Pratama Sibolga.

IMG_4576

Pukul 2.00  WIB, suasana jam pulang sekolah di salah satu SMA di Sibolga.

IMG_4579

Setelah saya diantar ke halte tempat menunggu elf menuju Tarutung dan Sidikalang, saya siap-siap berpisah dengan bapak pengendara bentor yang mengantarkan saya dari pagi. Berapa saya harus membayar perjalanan dari pukul 9.00 WIB hingga 14.15an WIB, dari berputar-putar Sibolga sisi pelabuhan, ke Bukit Parombunan, ke Pantai Indah Kalangan, hingga ubek-ubek Kota Sibolga lagi?? Bapaknya minta Rp100.000,00. Terima kasih, pak untuk jalan-jalan singkatnya yang luar biasa. Btw,  Pak Edi, biasa nongkrong di Pelabuhan Sibolga. Jika sedang ke Sibolga dan ingin naik becak motor bapak ini, bisa menghubungi 081269349768.

20140430_132527

Sekitar pukul 14.45, elf yang saya tumpangi menuju Tarutung mulai berjalan. Elf yang kulit kursinya mulai sobek-sobek, dengan kaca yang tidak bisa ditutup dengan sempurna, dan agak panas ini sebenarnya oke-oke saja buat saya. Yang tidak mengenakkan adalah adanya seorang ibu yang duduk di belakang saya yang merokok. Untungnya saya selalu memakai masker jika dalam perjalanan agar tidak mual dengan bau-bau aneh yang sering saya alami.

IMG_4584

Terowongan yang menghubungkan jalur Medan dan Sibolga. Sebenarnya ada 2 terowongan, tetapi yang satu lebih kecil dan pendek daripada yang ini. Setelah terowongan ini maka jalan menuju Tarutung akan sangat hancur, becek, berkelok-kelok, dan saat itu sedang hujan sehingga berkabut juga. Jalan ini padahal merupakan jalur utama dengan kendaraan yang melintasi dari bus, tronton, hingga elf dan mobil travel.

terowongan-sibolga

Sekitar pukul 17.00 WIB saya sampai di Tarutung yang merupakan ibukota Tapanuli Utara setelah perut diaduk-aduk dan badan makin hancur saja. Ternyata di Tarutung habis turun hujan dan masih gerimis dan mendung gelap. Tujuan saya yang semula ingin ke Pemandian Air Soda dan Salib Kasih di Tarutung saya batalkan dan saya pilih melanjutkan perjalanan saja ke Balige.

welcome-to-tarutung

Terminal Tarutung yang sepi banget.

terminal-tarutung

Sekitar pukul 17.40 WIB saya tiba di Siborongborong yang merupakan persimpangan untuk ke Sidikalang dan Balige atau Medan. Saya turun di sini dengan membayar Rp30.000,00 dan melanjutkan naik angkot semacam Carry atau Espass menuju Balige dengan tarif Rp10.000,00.

siborongborong

Sekitar pukul 18.00 WIB saya tiba di Balige. Balige merupakan ibukota Kabupaten Toba Samosir yang terletak di tepi Danau Toba.

IMG_4600

Saya memutuskan untuk menginap di Hotel Ompu Herti (0632) 21572 di Jalan Pemandian, Pantai Lumban Silintong, Balige. Untuk menuju hotel ini, harus berjalan sekitar 5 menit dari persimpangan jalan utama ke kompleks objek wisata Lumban Silintong.

lumban-silintong

Saya sebenarnya ingin menginap di Hotel Tiara Bunga yang katanya sangat indah, tapi apa daya tarif di situ cukup mahal untuk seorang solo backpacker seperti saya.  Saya mengambil kamar termurah di sini, yaitu standard room seharga Rp287.500,00 yang merupakan tarif hotel termahal saya untuk backpacking. Cukup bersih, kasur luas untuk masang geger dan meluruskan kaki, ber-AC, ada shower air hangat untuk menghilangkan pegal-pegal.

IMG_4615

Kafe Hotel Ompu Herti.

20140430_190031

Ompu Herti ini satu manajemen dengan Hotel Tiara Bunga dan kapal yang mengangkut tamu hotel Tiara Bunga berlabuhnya juga di dermaga dekat kafe milik Ompu Herti.

hotel-tiara-bunga

Makan malam menu nasi goreng dan ayam goreng dengan 2 buah bakwan jagung senilai Rp42.500,00. Nampol di perut untuk yang kelaparan dan badan remuk-redam.

20140430_191035_night

Jumat, 1 Mei 2014 pukul 07.30 WIB setelah mandi dan merapikan isi tas, saya berjalan-jalan melihat sekitar hotel.

hotel-ompu-herti

Lalu sarapan lontong sayur dengan kupon pertama, dan tambah roti dengan kupon kedua. #KALAP

IMG_4626

Kafe Bunga Toba, Hotel Ompu Herti.

IMG_4631

Pemandangan Danau Toba dari kafe.

IMG_4638

Setelah sarapan, sekitar pukul 08.30 WIB saya berangkat ke Makam Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII dengan menggunakan becak vespa. Itulah Bapak Beves (becak vespa) yang mengantarku.

makam-sisingamangaraja

Masuk ke kompleks pemakaman ini gratis, dan saat itu juga sepi. Iya sih masih pagi, tapi kan hari libur nasional.

makam-sisingamangaraja

Hanya terlihat 3 pengunjung yang sedang berkeliling dan masuk ke sekitar tugu di mana harus melepas alas kaki.

makam-sisingamangaraja

IMG_4660

Setelah singgah sejenak di Makam Sisingamangaraja XII, saya diantar ke tujuan saya selanjutnya yaitu TB. Silalahi Center. (^.^)/

tb-silalahi-center

Saya kebetulan jadi tamu pertama di situ pagi itu.

IMG_4663

Jika kita menginap di Hotel Ompu Herti dan Tiara Bunga maka kita mendapat freepass masuk TB Silalahi Center.

tb-silalahi-center

Koleksi benda-benda bersejarah dalam hidup TB Silalahi di sini banyak sekali dan very well organized.

 tb-silalahi-center

Kompleks Hura Batak.

hura-batak-tb-silalahi-center

Museum Batak di TB Silalahi Center.

museum-batak-tb-silalahi-center

Di dalam Museum Batak.

museum-batak-tb-silalahi-center

Dan akhirnya setelah sekitar 1 jam berkeliling TB Silalahi Center, saya memutuskan untuk kembali ke hotel dengan menggunakan Beves yang masih menunggu saya. Beves ini sangat kecil dan pendek. Saya yang tidak begitu tinggi saja merasa kesulitas masuk dan duduk di dalamnya. Bukan bermaksud mau pamer aurat lho ya -,-

becak-vespa-balige

Saat turun dari beves, aku diminta bayar Rp50.000,00 dong untuk perjalanan singkat selama 90 menit dengan jarak PP tidak sampai 5km. Mungkin lain kali jika ke sini lagi, tidak perlu meminta beves menunggu. Biarkan saja dia pergi toh beves lain juga banyak. #masihnyesek

Sekitar pukul 10.45 WIB saat saya checkout dari hotel, saya bertanya kepada mbak receptionist tentang angkutan ke Ajibata di Parapat, dia bilang naik saja angkot TTI atau KBT warna putih yang melintas. Dari sekian banyak angkot yang melintas, aku tiba-tiba memberhentikan angkot warna putih tanpa memperhatikan label angkotnya apa. Penumpang angkot tersebut ternyata juga cuma aku. Biarin saja tidak ada penumpang lain, aku bisa duduk di depan dan tasku yang berat bisa kuletakkan tanpa perlu kupangku. Usut punya usut ternyata aku tidak naik angkot, melainkan naik mobil elf punya seorang Pak Guru dari Siborangborang yang kana belanja peralatan elektronik di Siantar :O

20140501_110302

Pas di jalan menuju Parapat melihat angkot KBT yang sebenarnya.

IMG_4807

Sepanjang perjalanan, Pak Guru ini cerita tentang keluarga, pekerjaan, dan perjuangan dia yang sampai sekarang masih jadi CPNS guru olahraga. Saya juga cerita soal perjalanan saya ke Nias kemarin dan mau ke mana saya nanti di Samosir. Saat ngobrol-ngobrol inilah tiba-tiba Pak Guru cerita tentang Aceh yang mana belum sempat saya kunjungi. Kalau Samosir sih dari Tuktuk, Tomok, Simanindo, Simarmata, hingga menyeberang lagi ke Pangururan sudah pernah saya kunjungi tahun 2013 lalu saat saya sedang merantau galau tidak jelas. Saat kami sedang melintas di Porsea, di mana tahun lalu saat dari Ajibata saya dan teman-teman baru saya waktu itu menuju ke PLAT Asahan, saya memutuskan untuk lanjut saja perjalanan ke Aceh.

IMG_4798

What did i do that time? I called Mbak Tesa. I asked her and her husband to help me to buy a bus ticket to Aceh. Aku minta bus yang paling malam saja agar bisa lebih leluasa dan santai di jalan menuju medan daripada buru-buru atau ketinggalan.

IMG_4810

Tidak jadi gegoleran galau di tepi Danau Toba deh. Tapi harus mampir ke Roti Ganda di Siantar. HARUS!

IMG_4811

Lanjut ke Siantar.

himmmmmmmm

Melihat angkot berikut yang aku ingat banget ini gaya rambut penyanyi favoritku di zaman muda dulu.

IMG_4813

Sampailah saya di Kota Pematang Siantar sekitar pukul 12.45 WIB. Saya meminta diantarkan ke Roti Ganda sekalian. Dan saat melintasi Jalan Merdeka, saya langsung ingat bahwa Roti Ganda letaknya adalah di jalan sebelah Jalan Merdeka ini. Sudah semakin dekat. Yeeee….

jalan-merdeka-siantar

Sampailah saya di depan Roti Ganda yang selalu saya mimpi-mimpikan selai srikayanya. Saya bayar ke Pak Guru tersebut Rp50.000,00 walau kata beliau tarif normal elf/travel dari Balige ke Siantar Rp30.000,00. Terima kasih banyak, Pak.

roti-ganda

Saya segera memasan 4 tangkup roti isi meises coklat yang akan saya bawakan untuk Mbak Tesa dan merupakan favoritnya.

selai-srikaya-roti-ganda

8 tangkup roti isi selai srikaya untuk makan siang dan bekal ke Aceh. Serta 4 toples selai srikaya dengan berat masing-masing 250 gram untuk dibawa ke Jakarta. Selai srikaya di sini rasanya surga banget. Enak bangetnget. Nget… (^.^)/

selai-srikaya-roti-ganda

Toko roti kecil bisa seramai ini, padahal di sekitarnya banyak banget toko roti dan sejenisnya gitu. Harga setangkup roti isi meises/srikaya di sini Rp4.000,00 dan harga selai srikaya 250gram setoplesnya Rp25.000,00. Andaikan waktu itu aku langsung balik ke Jakarta, bisa-bisa aku beli 2 atau 3 kg selai untuk koleksi beberapa bulan ke depan kali 😀

roti-ganda

Setelah cukup terlena di Roti Ganda, saya segera bergegas menuju ke Travel Paradep yang sebenarnya sejalan dengan Roti Ganda tapi lumayan jauh dan jalannya searah. Jadilah saya naik bentor dengan membayar Rp10.000,00.

IMG_4832

Bentor harus memutar lewat Jalan Surabaya yang kalau malam ramai sekalai untuk makan-makan, lalu lewat Jalan Merdeka lagi dan belok kanan di jalan kecil dan sampailah di depan Paradep.

paradep-siantar

Tarif travel ke Medan adalah Rp50.000 dan kebetulan saya dapat travel yang pukul 13.30 WIB.

Pesan travel via telepon (hp) agak susah dan saya sudah mencoba berkali-kali sejak saya masih dekat Parapat tapi tidak juga diangkat hingga saya memutuskan untuk datang langsung saja.

Dan berangkatlah saya menuju Medan. Sampai jumpa kapan-kapan lagi Siantar. Im gonna miss this city.

telepon-paradep-siantar

The cut version:

Perjalanan dari Siantar ke Medan ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam dan berhenti sebentar untuk makan di Perbaungan sekitar pukul 15.00 WIB. Walaupun saya sudah makan 2 tangkup roti selai srikaya selama di perjalanan, saya tetap turun untuk makan di rumah makan ini. Nasi rames, teh manis, dan 2 tusuk sate kerang seharga Rp20.000,00. Rasanya lumayan lah.

IMG_4844

Sekitar pukul 15.30 WIB kami melanjutkan perjalanan ke Medan dengan lalu lintas yang cukup lancar.

Dan sekitar pukul 16.10 WIB saya sudah sampai di depan Masjid Raya Medan di mana saya janjian dengan Kokoh, yang sedang nongkrong di McD di seberang masjid, yang akan membawa saya ke Sun Plaza untuk bertemu dengan Mbak Tesa. Sambil nunggu Kokoh nyebrang, saya yang dalam perjalanan kali ini hanya membawa celana pendek dan sarung, langsung masuk kompleks masjid dengan memakai celana pendek hijau seperti yang saya pakai saat naik beves di Balige. Dan hasilnya? Saya sedang memotret masjid, tiba-tiba paha saya dipegang seseorang. Saya langsung kaget dan lompat. Lalu Sang Bapak yang memegang paha saya tersebut menunjuk-nunjuk paha saya yang terekspos oleh celana pendek. Dan saya pun langsung meminta maaf lalu lari ke luar kompleks masjid. Pfffftttttttt -,-

IMG_4851