R.i.n.j.a.n.i

@Instapendaki x @parapejalan ke Rinjani

Hai hai….

Demi banget ini aku kembali menulis untuk konten yang harus disubmit kurang dari dua jam lagi. Dan aku memutuskan untuk mendongeng tentang pengalamanku mendaki Gunung Rinjani dengan @instapendaki pada akhir April 2018 lalu. Pendakian ini semacam obsesiku yang telah lama terpendam dan aku bertekad mewujudkan di tahun 2018. Aku iseng mengajak Si Borjong, Eda, yang sudah dua tahun tidak jalan bersamaku dan ternyata dia mau. Si Eda mengajak Kakak Eva dan Vicky. Kakak Eva mengajak Nyol. Lengkap sudah Lima Pendekar Wanita akan mendaki Rinjani huhuhu.

Demi kelancara pendakian, aku mulai diet pada akhir Februari, terutama menghindari garam dan karbo. Mulai akhir Maret, aku mulai menggencarkan olah raga terutama naik turun tangga di kantor. Berat aku yang semula 72kg bisa berkurang menjadi 65kg dengan kondisi fisik yang lebih slim pula. Tak lupa para wanita itu aku ingatkan untuk turut berolah raga karena pendakian Rinjani bukan pendakian cantik ala Papandayan yang pernah kulakukan bersama Eda dan Vicky.

Singkat cerita, untuk trip ini kami menggunakan porter dengan biaya tambahan untuk membawakan tas gunung kami sehingga lebih ringan dan cukup membawa diri yang sudah keberatan dosa serta logistik pribadi selama pendakian.

Sabtu pagi, 28 April 2018 tim bertemu di Bandara Internasional Lombok. Dengan menggunakan elf kami dibawa ke Sembalun untuk briefing dan makan siang terlebih dahulu di salah satu rumah warga. Sekitar pukul 14.00 kami mulai berjalan dari Pos Sembalun menuju Pos 2 tempat kami akan menginap. Tersedia ojek dari Pos Sembalun hingga Pos 2 dengan biaya Rp150.000 dan bisa menghemat waktu sekitar 2 jam. Awalnya sih masih berjalan dalam jumlah besar tetapi dengan tanjakan dan jalur yang semakin terjal, rombongan mulai terpecah. Dari Pos 1 ke Pos 2 aku berjalan sendiri. Sempat berkenalan di jalan dengan Nugie dan Aris yang berasal dari Jakarta, duo yang mendaki hanya memang berdua dan mengunakan 1 porter. Setibanya di Pos 2, kami bisa mendirikan tenda dan beristirahat. Malam itu, angin di Pos 2 sangat kencang. Head lamp yang diantung di dalam tenda bahan bergoyang-goyang dengan tenda seperti akan terangkat. Belum lagi suhu udara yang sangat dingin. Ini salah satu angin di gunung paling mengerikan, mungkin karena Pos 2 berada di savana jadi angin dapat berhembus kencang.

Pada pagi harinya, porter mulai memasak, kami pun bisa mengambil air di sumber yang berada di dekat Pos 2 ini. Sama seperti malam tadi, aku masih menjaga makan dengan tidak makan nasi, mie instan dsb yang dimasak porter, hanya makan crackers dan kurma. Tetapi eh tetapi karena kemarin masih makan nasi dan sayur yang sedikit pedas saat di Bandara Lombok dan rumah warga di Sembalun, perutku mules dan terpaksa mencari semak-semak di perbukitan ilalang. Doh pengalaman pertama banget buang hajat di gunung saat mendaki bermodalkan air sebotol 600ml dan tissue basah. Biasanya sih bisa menahan diri kalau cuma 1 atau 2 malam di gunung. Hihihihi.

Puncak terlihat dekat, bukan? Bukaaaannnn… Masih jauh banget woy, masih juga Pos 2. 🙁

Dari Pos 2 Gunung Rinjani terlihat sangat cantik dan gagah. Tim pun masih penuh semangat karena telah beristirahat semalam. Dan aku masih terlihat bugar dan langsing.

Terlihat jenjang begini aku saat itu. Masih jalan bersama 2 Eda ini pula.

Setelah Pos 3 ini, semakin sedikit rombongan tim yang berjalan bersamaku dan porter awal-awal.

Sekitar & Bukit Penyesalan

Biasanya di tempat ini untuk memasak makan siang, tetapi karena rombongan masih pada jauh di belakang maka aku cuma istirahat sejenak dan melanjutkan perjalanan dengan porter tim kami yang juga tidak berhenti untuk makan siang.

Pos Pelawangan

Pos Pelawangan ini merupakan pos terakhir sebelum puncak. Para pendaki berkemah di sini untuk beristirahat sebelum summit maupun sebelum turun ke Segara Anak. Ada beberapa sumber mata air dan lokasinya luas dan enak untuk nge-camp.

Nyemil sumber energi utama

Alhamdulillah bisa sampai Pos Pelawangan duluan sekitar pukul 14.00, padahal yang lain baru datang mulai pukul 16.00. Berkat sumber energi utamaku, crackers dan kurma. Crackers sebagai pengganti karbo dan bisa dimakan di pos pemberhentian, kurma bisa dimakan sambil berjalan. Aku bisa mandi di sumber air dan tidur siang beratap langit menunggu kawan-kawan.

Kak Yanur salat Asar saat hampir senja

Syahdu sekali rekan setendaku ini salat Asar. Agak mepet Maghrib karena dari awal pendakian dia sakit perut sehingga terpaksa pelan-pelan jalannya, dan kamu berhasil. Proud.

Menunggu matahari terbenam di Pos Pelawangan
Dari dalam dapur porter yang sedang memasak

Meskipun aku menghindari makanan pedas, mie, dan berbagai makanan yang disiapkan porter demi kesehatan perut dan kelincahan, aku suka nongkrong dan membantu para porter yang memasak entah itu mengiris dan menggoreng tempe, atau cuma ikut berkomen haha hihi. Seperti saat mereka memasak kari sayur dengan penyedap rasa yang melimpah ini. 😀

Setelah makan malam, kami diminta lekas beristirahat karena summit akan dimulai sekitar pukul 01.00 dini hari. Akan tetapi kami masih pada berisik dan tidak tidur-tidur apalagi tenda para borjong yang perang kentut dan ngobrol ngakak tiada henti.

Pukul 01.00 kami mulai dibangunkan untuk summit, pada bersiap memakai pakaian untuk mendaki, jaket, dekker, sarung tangan, kupluk, head lamp, trekking pole, masker. Ternyata Mbokde Kakak Eva sakit sehingga tidak bisa ikut naik dan tetap di tenda saja. Kami pun memulai pendakian bersama-sama dengan suhu udara yang sangat dingin dan gelap. Aku dan beberapa rekan yang berjalan dulu telah tiba di jalur kerikil bebatuan sekitar pukul 03.30 dan aku optimis 1 jam lagi akan tiba di puncak yang sepertinya sudah kelihatan. Sudah berjalan dengan tertatih, membungkuk untuk istirahat, duduk di tepi jurang tetapi puncak tidak juga dapat diraih dan terasa semakin menjauh. Sudah pukul 05.00, matahari mulai terlihat tetapi aku masih di tengah padang kerikil yang membuat sangat frustasi dan letih. Hawa dingin sangat menusuk persendian karena pergerakan yang lambat dan orang yang semakin sedikit dengan tingkat kemiringan yang semakin tajam ditambah ngantuk yang menyerang. Debu dari kerikil dan bebatuan juga cukup menggangu pernafasanku meskipun memakai masker.

Puncak Rinjani

Akhirnya setelah hampir 4 jam berada di padang kerikil, tibalah aku di puncak Rinjani. Berat banget cyyynnnn. Alhamdulillah banget. Ramainya kayak pasar dengan luas puncak yang tidak begitu besar dan harus mengantre bergantian dengan pendaki lain yang terkadang langsung menyerobot di spot ini.

Rizal, Nugie, Aris, dan yours truly

Bertemu Nugie dan Aris yang tiba paling pagi di puncak. Duo pendaki ini berani dan lincah banget.

Jalur bebatuan menuju puncak

Pada saat turun, ternyata begini penampakan lautan batu tak berujung yang kulewati tadi Subuh. Pantesan tidak sampai-sampai ke puncak -,-

Jalan turun dengan kemiringan yang sangat tajam, kerikil, pasir sepanjang jalan ditambah aku ingin segera sampai di Pelawangan, membuatku sedikit berlari menukik yang menyebabkan jari kelingking kakiku perih banget yang sepertinya lecet. Untung pakai dekker jadi pasir, kerikil tidak masuk ke dalam sepatu yang akan menyebabkan kaki semakin dalam terluka.

Pose ala-ala dengan latar Danau Segara Anak setelah berhasil turun melewati padang kerikil yang curam.

Pose-pose kemenangan sebelum turun kembali ke Sembalun.

Werk it gurl 😀
Berkibarlan bendera negeriku. Buat stok foto 17-an.
Serasa Dewi Anjani dengan selendang sutranya.
Bubarkan tenda, Jenderal
Bertemu porter yang baru melewati pos 2. Berat banget lihatnya. 🙁

Akuberjalan turun duluan seorang diri meskipun kaki kiriku semakin terasa perih. Lebih baik terus berjalan mumpung masih kuat daripada berhenti-berhenti dan semakin sakit.

Para pendaki yang sedang makan siang di sekitar Pos 2

Langit biru menaungi perjalananku turun kembali ke Pos Sembalun, aku sempat bertemu dan mengobrol dengan beberapa rombongan lain, seperti rombongan adik-adik dari Dampit (tetangga kecamatan di Malang, sesama Arema) juga rombongan dedek-dedek koko-cici dari Jakarta Utara yang lincah sekali jalannya.

Nyol dan Eda

My gurl finally came to Sembalun Camp around 4.30pm. Puji syukur kami semua telah tiba di pos ini lagi. Bisa makan, minum es teh, dan ke toilet yang sudah beberapan hari kami rindukan.

Terluka hatiku

Oh bukan, ternyata kakiku yang lecet saat turun dari puncak pada hari sebelumnya. Kenang-kenangan yang akan kubawa ke trip selanjutnya, live on board ke Labuan Bajo esok hari.