Vogue Italia October 2015

Vogue Italia October 2015: Perfect Stranger
Model: Nadia @mojang
Fotografer: Paminto Meisel
Makeup Artist: Estu McGrath
Hair: Guido Paminto
Stylist: Franca Soestu

Nadia (1)

Umi Vuitton

Nadia (13)

I could only reach your shadow.

Nadia (11)

Finding nemo.

Nadia (10)

Glam storm.
Nadia (9)

Go fishing.

Nadia (7)

Where’s the sun shine?
Nadia (6)

Siantar Boy undercover.

Nadia (5)

Go sees at Taman Wisata Iman Sitinjo, Sidikalang.
Nadia (4)

Welcome to Tuk-Tuk, Samosir Regency.

Nadia (8)

We stayed at Karolina Cottages, Tuk-Tuk.
Nadia (3)

Watching Batak dance at Batak Museum in Simanindo, Samosir Regency.

Nadia (2)

Horas… Horas… Horas…
Nadia (12)

Sai pajumpang muse…..

Sibolga, Balige, dan Siantar dalam 29 Jam

30 April 2014, 8.30 WIB, melanjutkan kisah saya di Nias, kapal mulai merapat ke pelabuhan Sibolga dan persiapan berlabuh. Saya dan Andik serta 1 orang rekannya yang naik di VIP segera turun kapal duluan. Sambil menunggu penumpang ekonomi yang masih antre turun kapal dan Andik yang sedang berkoordinasi dengan supir mobil yang telah dia sewa yang akan mengantar dia dan karyawan barunya ke perkebunan sawit, saya mulai bertanya kepada beberapa orang di pelabuhan tentang objek wisata di Sibolga. Saya memutuskan untuk menyewa becak motor yang dikendarai oleh seorang bapak yang cukup ramah dan enak diajak berkomunikasi yang ada di sekitar situ, namanya Pak Edi. Dan sekitar pukul 9.10 WIB ketika Andik dan kawan-kawan sudah berangkat dengan mobil sewaannya, maka saya juga berangkat menjelajah Sibolga Tapian Nauli dengan becak motor.

Dari pelabuhan, saya diajak berkeliling kota sejenak.

IMG_4445

Ada Sibolga Square lho.

sibolga-square

Sambil berkeling, saya yang sudah dempor banget sambil lirik-lirik hotel yang ada, itung-itung jika memang perlu untuk singgah semalam di Sibolga. Hotel Indah Sari ini disponsori Tancho dong 😀

tancho

Saya, yang sudah kelaparan banget, mampir makan di salah satu warung padang dengan menu nasi, ikan  asap dan terong, serta sebotol lemon water seharga Rp25.000,00. Ikannya enaaaakkkk.

IMG_4449

Setelah kenyang, saya diantar ke Jalan Pulo Rembang yang merupakan pemukiman nelayan untuk bertanya tentang kapal ke air terjun di Pulau Mursala.

IMG_4457

Singgahlah kami di salah satu rumah bapak pemilik kapal. Kata Beliau, harga persewaan kapal ke Pulau Mursala sekitar Rp1.500.000,00 untuk seharian PP. Pffffttt kalau patungan ramai-ramai sih enak, tapi untuk sendirian?? Mahal kali. #nangisguling-guling

Sebelum pergi dari Jalan Pulo Rembang, saya membeli bakwan (kotak kiri) dan telur ikan goreng (kotak kanan di atas tahu goreng) dulu daripada tidak membawa hasil apa-apa. Rasa bakwannya lumayan, rasa telur ikannya asin-asin entahlah. Telur ikan goreng ini sepertinya enak kalau dimakan dengan nasi panas dan sambal kecap.

IMG_4465

Gagal ke Pulau Mursala, membuat saya ingin istirahat saja. Saya mampir ke Hotel Wisata Indah yang kata Pak Edi di sana biasanya juga melayani kapal ke Pulau Poncan. Entahlah pulau apa itu tapi saya coba saja bertanya kepada satpam saat akan masuk hotel. Kata Pak Satpam, ada kapal ke Pulau Poncan dengan tarif Rp300.000,00 untuk PP tetapi tidak berangkat setiap hari dan kebetulan berangkatnya keesokan harinya yaitu Jumat. Yaksip gagal juga. Saya masuk dan bertanya tarif kamar Hotel Wisata Indah. Tarifnya paling murah Rp380.000,00. Mahal kali. Urung saja niat saya menginap di Sibolga atau ke pulau-pulau di sekitarnya.

hotel-wisata-indah-sibolga

Saya meminta Pak Edi mengantar saya ke Pantai Pandan yang terkenal saja sambil memikirkan tujuan saya selanjutnya. Dalam perjalanan ke pantai di kecamatan Pandan, Pak Edi singgah di rumahnya sebentar untuk memberi uang belanja kepada istrinya. Dan ternyata rumah bapak ini di atas bukit sebelum sentiong/kuburan Cina Parombunan.

bukit-parombunan-sibolga

Pemandangan Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah dari atas Bukit Parombunan. Tapi sayang sekali, jalan di sini sangat rusak, padahal penuh tanjakan dan turunan tajam serta memakai bentor. -,-

bukita-parombunan

Kuburan Cina Sibolga.

kuburan-cina-sentiong-sibolga

Setelah melewati jalan rusak di Parombunan, saya meneruskan perjalanan ke Pantai Pandan. Karena saat itu hari sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB, pada saat kami sampai di deretan pantai di Pandan, yang juga ibukota Kabupaten Tapanuli Tengah, sudah sangat terik maka saya diajak ke Pantai Indah Kalangan. Jika kita lurus saja dari Pandan ke Kalangan ini, kita bisa sampai di Padang Sidempuan hingga Sumatra Barat karena inilah jalur utamanya.

 pantai-indah-kalangan

Tas kesayanganku dan bentor.

pantai-indah-kalangan

Saya sempat berenang di pantai ini selama 30 menit. Toilet sekaligus tempat ganti pakaian agak jauh di bangunan warna kuning dan jalan menuju sana penuh dengan rumput. Ada 3 bilik untuk toilet cowok dan 3 bilik untuk toilet cewek. Karena tidak ada pengunjung lain maka saya intip-intip bilik yang paling bagus. Saya memakai bilik cewek di mana ada airnya walau tidak mengalir, lampu menyala, dan pintu bisa ditutup.

IMG_4512

Pak Edi makan mie goreng dan kelapa muda, serta teh manis di warung yang teduh ini.

IMG_4514

 Makan siang nasi goreng dan kelapa muda di warung seorang Ibu yang berasal dari Cianjur.

20140430_114806

Pantainya yang jelas lebih sejuk dan sepi dibanding Pantai Pandan yang terdapat beberapa hotel dan penginapan di sekitarnya.

pantai-indah-kalangan

Kata Pak Edi, masuk ke Pantai Indah Kalangan kalau hari libur harus bayar karena ramai, tetapi karena saat itu sepi maka gratis. Di Pantai Indah Kalangan ini ada beberapa tempat live music tetapi sepertinya tidak ada penginapannya.

IMG_4519

Sekitar pukul 12.30 saya meninggalkan pantai ini untuk kembali ke Sibolga. Saya akan mencoba untuk ke Tarutung saja. Pemandangan laut di atas jembatan yang menghubungkan Pandan dan Kalangan dekat pantai Indah Kalangan.

IMG_4524

Sisi jembatan dengan pemandangan sungainya.

pantai-indah-kalangan

Hotel di sekitar Pandan.

pantai-pandan-sibolga

Saat melintasi Pandan, akan ada bau tidak enak yang menyangat hidung. Kata Pak Edi, bau itu dari pabrik pengolahan karet ini. Wajar sih bau kalau baunya nguing-nguing -,-

IMG_4529

KP2KP Pandan

kp2kp-pandan

Dari terminal Sibolga menuju Pandan ada juga angkot dan bus kecil yang bisa membawa kita ke berbagai daerah di sekitar.

IMG_4535

Terminal Sibolga.

terminal-sibolga

Aido Mini Plaza. Semacam swalayan yang menurutku paling ngehits di Sibolga. Letaknya strategis. Di segititiga emas, kalau kata Mbak Fenny Rose.

aido-mini-plaza-sibolga

Lalu saya ke Tangga Seratus. Sudah dempor banget pakai acara naik tangga segala. Untungnya tas kutitipin ke Pak Edi yang kuminta nunggu saja di pinggir jalan, tidak perlu mengantar saya untuk naik. Saya membutuhkan waktu sekitar 7 menit untuk naik.

tangga-seratus-sibolga

Tulisan Tangga Seratus.

IMG_4552

Pemandangan Kota Sibolga dari Tangga Seratus. Lebih bagus dilihat dari Bukit Parombunan ternyata.

IMG_4555

Meniti tangga turun serasa lebih mudah walau agak semriwing takut tergelincir -,-

IMG_4553

Rumah Sakit Daerah Ferdinand L. Tobing, Sibolga.

IMG_4567

KPP Pratama  Sibolga.

kpp-pratama-sibolga

Sisi lain KPP Pratama Sibolga.

IMG_4576

Pukul 2.00  WIB, suasana jam pulang sekolah di salah satu SMA di Sibolga.

IMG_4579

Setelah saya diantar ke halte tempat menunggu elf menuju Tarutung dan Sidikalang, saya siap-siap berpisah dengan bapak pengendara bentor yang mengantarkan saya dari pagi. Berapa saya harus membayar perjalanan dari pukul 9.00 WIB hingga 14.15an WIB, dari berputar-putar Sibolga sisi pelabuhan, ke Bukit Parombunan, ke Pantai Indah Kalangan, hingga ubek-ubek Kota Sibolga lagi?? Bapaknya minta Rp100.000,00. Terima kasih, pak untuk jalan-jalan singkatnya yang luar biasa. Btw,  Pak Edi, biasa nongkrong di Pelabuhan Sibolga. Jika sedang ke Sibolga dan ingin naik becak motor bapak ini, bisa menghubungi 081269349768.

20140430_132527

Sekitar pukul 14.45, elf yang saya tumpangi menuju Tarutung mulai berjalan. Elf yang kulit kursinya mulai sobek-sobek, dengan kaca yang tidak bisa ditutup dengan sempurna, dan agak panas ini sebenarnya oke-oke saja buat saya. Yang tidak mengenakkan adalah adanya seorang ibu yang duduk di belakang saya yang merokok. Untungnya saya selalu memakai masker jika dalam perjalanan agar tidak mual dengan bau-bau aneh yang sering saya alami.

IMG_4584

Terowongan yang menghubungkan jalur Medan dan Sibolga. Sebenarnya ada 2 terowongan, tetapi yang satu lebih kecil dan pendek daripada yang ini. Setelah terowongan ini maka jalan menuju Tarutung akan sangat hancur, becek, berkelok-kelok, dan saat itu sedang hujan sehingga berkabut juga. Jalan ini padahal merupakan jalur utama dengan kendaraan yang melintasi dari bus, tronton, hingga elf dan mobil travel.

terowongan-sibolga

Sekitar pukul 17.00 WIB saya sampai di Tarutung yang merupakan ibukota Tapanuli Utara setelah perut diaduk-aduk dan badan makin hancur saja. Ternyata di Tarutung habis turun hujan dan masih gerimis dan mendung gelap. Tujuan saya yang semula ingin ke Pemandian Air Soda dan Salib Kasih di Tarutung saya batalkan dan saya pilih melanjutkan perjalanan saja ke Balige.

welcome-to-tarutung

Terminal Tarutung yang sepi banget.

terminal-tarutung

Sekitar pukul 17.40 WIB saya tiba di Siborongborong yang merupakan persimpangan untuk ke Sidikalang dan Balige atau Medan. Saya turun di sini dengan membayar Rp30.000,00 dan melanjutkan naik angkot semacam Carry atau Espass menuju Balige dengan tarif Rp10.000,00.

siborongborong

Sekitar pukul 18.00 WIB saya tiba di Balige. Balige merupakan ibukota Kabupaten Toba Samosir yang terletak di tepi Danau Toba.

IMG_4600

Saya memutuskan untuk menginap di Hotel Ompu Herti (0632) 21572 di Jalan Pemandian, Pantai Lumban Silintong, Balige. Untuk menuju hotel ini, harus berjalan sekitar 5 menit dari persimpangan jalan utama ke kompleks objek wisata Lumban Silintong.

lumban-silintong

Saya sebenarnya ingin menginap di Hotel Tiara Bunga yang katanya sangat indah, tapi apa daya tarif di situ cukup mahal untuk seorang solo backpacker seperti saya.  Saya mengambil kamar termurah di sini, yaitu standard room seharga Rp287.500,00 yang merupakan tarif hotel termahal saya untuk backpacking. Cukup bersih, kasur luas untuk masang geger dan meluruskan kaki, ber-AC, ada shower air hangat untuk menghilangkan pegal-pegal.

IMG_4615

Kafe Hotel Ompu Herti.

20140430_190031

Ompu Herti ini satu manajemen dengan Hotel Tiara Bunga dan kapal yang mengangkut tamu hotel Tiara Bunga berlabuhnya juga di dermaga dekat kafe milik Ompu Herti.

hotel-tiara-bunga

Makan malam menu nasi goreng dan ayam goreng dengan 2 buah bakwan jagung senilai Rp42.500,00. Nampol di perut untuk yang kelaparan dan badan remuk-redam.

20140430_191035_night

Jumat, 1 Mei 2014 pukul 07.30 WIB setelah mandi dan merapikan isi tas, saya berjalan-jalan melihat sekitar hotel.

hotel-ompu-herti

Lalu sarapan lontong sayur dengan kupon pertama, dan tambah roti dengan kupon kedua. #KALAP

IMG_4626

Kafe Bunga Toba, Hotel Ompu Herti.

IMG_4631

Pemandangan Danau Toba dari kafe.

IMG_4638

Setelah sarapan, sekitar pukul 08.30 WIB saya berangkat ke Makam Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII dengan menggunakan becak vespa. Itulah Bapak Beves (becak vespa) yang mengantarku.

makam-sisingamangaraja

Masuk ke kompleks pemakaman ini gratis, dan saat itu juga sepi. Iya sih masih pagi, tapi kan hari libur nasional.

makam-sisingamangaraja

Hanya terlihat 3 pengunjung yang sedang berkeliling dan masuk ke sekitar tugu di mana harus melepas alas kaki.

makam-sisingamangaraja

IMG_4660

Setelah singgah sejenak di Makam Sisingamangaraja XII, saya diantar ke tujuan saya selanjutnya yaitu TB. Silalahi Center. (^.^)/

tb-silalahi-center

Saya kebetulan jadi tamu pertama di situ pagi itu.

IMG_4663

Jika kita menginap di Hotel Ompu Herti dan Tiara Bunga maka kita mendapat freepass masuk TB Silalahi Center.

tb-silalahi-center

Koleksi benda-benda bersejarah dalam hidup TB Silalahi di sini banyak sekali dan very well organized.

 tb-silalahi-center

Kompleks Hura Batak.

hura-batak-tb-silalahi-center

Museum Batak di TB Silalahi Center.

museum-batak-tb-silalahi-center

Di dalam Museum Batak.

museum-batak-tb-silalahi-center

Dan akhirnya setelah sekitar 1 jam berkeliling TB Silalahi Center, saya memutuskan untuk kembali ke hotel dengan menggunakan Beves yang masih menunggu saya. Beves ini sangat kecil dan pendek. Saya yang tidak begitu tinggi saja merasa kesulitas masuk dan duduk di dalamnya. Bukan bermaksud mau pamer aurat lho ya -,-

becak-vespa-balige

Saat turun dari beves, aku diminta bayar Rp50.000,00 dong untuk perjalanan singkat selama 90 menit dengan jarak PP tidak sampai 5km. Mungkin lain kali jika ke sini lagi, tidak perlu meminta beves menunggu. Biarkan saja dia pergi toh beves lain juga banyak. #masihnyesek

Sekitar pukul 10.45 WIB saat saya checkout dari hotel, saya bertanya kepada mbak receptionist tentang angkutan ke Ajibata di Parapat, dia bilang naik saja angkot TTI atau KBT warna putih yang melintas. Dari sekian banyak angkot yang melintas, aku tiba-tiba memberhentikan angkot warna putih tanpa memperhatikan label angkotnya apa. Penumpang angkot tersebut ternyata juga cuma aku. Biarin saja tidak ada penumpang lain, aku bisa duduk di depan dan tasku yang berat bisa kuletakkan tanpa perlu kupangku. Usut punya usut ternyata aku tidak naik angkot, melainkan naik mobil elf punya seorang Pak Guru dari Siborangborang yang kana belanja peralatan elektronik di Siantar :O

20140501_110302

Pas di jalan menuju Parapat melihat angkot KBT yang sebenarnya.

IMG_4807

Sepanjang perjalanan, Pak Guru ini cerita tentang keluarga, pekerjaan, dan perjuangan dia yang sampai sekarang masih jadi CPNS guru olahraga. Saya juga cerita soal perjalanan saya ke Nias kemarin dan mau ke mana saya nanti di Samosir. Saat ngobrol-ngobrol inilah tiba-tiba Pak Guru cerita tentang Aceh yang mana belum sempat saya kunjungi. Kalau Samosir sih dari Tuktuk, Tomok, Simanindo, Simarmata, hingga menyeberang lagi ke Pangururan sudah pernah saya kunjungi tahun 2013 lalu saat saya sedang merantau galau tidak jelas. Saat kami sedang melintas di Porsea, di mana tahun lalu saat dari Ajibata saya dan teman-teman baru saya waktu itu menuju ke PLAT Asahan, saya memutuskan untuk lanjut saja perjalanan ke Aceh.

IMG_4798

What did i do that time? I called Mbak Tesa. I asked her and her husband to help me to buy a bus ticket to Aceh. Aku minta bus yang paling malam saja agar bisa lebih leluasa dan santai di jalan menuju medan daripada buru-buru atau ketinggalan.

IMG_4810

Tidak jadi gegoleran galau di tepi Danau Toba deh. Tapi harus mampir ke Roti Ganda di Siantar. HARUS!

IMG_4811

Lanjut ke Siantar.

himmmmmmmm

Melihat angkot berikut yang aku ingat banget ini gaya rambut penyanyi favoritku di zaman muda dulu.

IMG_4813

Sampailah saya di Kota Pematang Siantar sekitar pukul 12.45 WIB. Saya meminta diantarkan ke Roti Ganda sekalian. Dan saat melintasi Jalan Merdeka, saya langsung ingat bahwa Roti Ganda letaknya adalah di jalan sebelah Jalan Merdeka ini. Sudah semakin dekat. Yeeee….

jalan-merdeka-siantar

Sampailah saya di depan Roti Ganda yang selalu saya mimpi-mimpikan selai srikayanya. Saya bayar ke Pak Guru tersebut Rp50.000,00 walau kata beliau tarif normal elf/travel dari Balige ke Siantar Rp30.000,00. Terima kasih banyak, Pak.

roti-ganda

Saya segera memasan 4 tangkup roti isi meises coklat yang akan saya bawakan untuk Mbak Tesa dan merupakan favoritnya.

selai-srikaya-roti-ganda

8 tangkup roti isi selai srikaya untuk makan siang dan bekal ke Aceh. Serta 4 toples selai srikaya dengan berat masing-masing 250 gram untuk dibawa ke Jakarta. Selai srikaya di sini rasanya surga banget. Enak bangetnget. Nget… (^.^)/

selai-srikaya-roti-ganda

Toko roti kecil bisa seramai ini, padahal di sekitarnya banyak banget toko roti dan sejenisnya gitu. Harga setangkup roti isi meises/srikaya di sini Rp4.000,00 dan harga selai srikaya 250gram setoplesnya Rp25.000,00. Andaikan waktu itu aku langsung balik ke Jakarta, bisa-bisa aku beli 2 atau 3 kg selai untuk koleksi beberapa bulan ke depan kali 😀

roti-ganda

Setelah cukup terlena di Roti Ganda, saya segera bergegas menuju ke Travel Paradep yang sebenarnya sejalan dengan Roti Ganda tapi lumayan jauh dan jalannya searah. Jadilah saya naik bentor dengan membayar Rp10.000,00.

IMG_4832

Bentor harus memutar lewat Jalan Surabaya yang kalau malam ramai sekalai untuk makan-makan, lalu lewat Jalan Merdeka lagi dan belok kanan di jalan kecil dan sampailah di depan Paradep.

paradep-siantar

Tarif travel ke Medan adalah Rp50.000 dan kebetulan saya dapat travel yang pukul 13.30 WIB.

Pesan travel via telepon (hp) agak susah dan saya sudah mencoba berkali-kali sejak saya masih dekat Parapat tapi tidak juga diangkat hingga saya memutuskan untuk datang langsung saja.

Dan berangkatlah saya menuju Medan. Sampai jumpa kapan-kapan lagi Siantar. Im gonna miss this city.

telepon-paradep-siantar

The cut version:

Perjalanan dari Siantar ke Medan ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam dan berhenti sebentar untuk makan di Perbaungan sekitar pukul 15.00 WIB. Walaupun saya sudah makan 2 tangkup roti selai srikaya selama di perjalanan, saya tetap turun untuk makan di rumah makan ini. Nasi rames, teh manis, dan 2 tusuk sate kerang seharga Rp20.000,00. Rasanya lumayan lah.

IMG_4844

Sekitar pukul 15.30 WIB kami melanjutkan perjalanan ke Medan dengan lalu lintas yang cukup lancar.

Dan sekitar pukul 16.10 WIB saya sudah sampai di depan Masjid Raya Medan di mana saya janjian dengan Kokoh, yang sedang nongkrong di McD di seberang masjid, yang akan membawa saya ke Sun Plaza untuk bertemu dengan Mbak Tesa. Sambil nunggu Kokoh nyebrang, saya yang dalam perjalanan kali ini hanya membawa celana pendek dan sarung, langsung masuk kompleks masjid dengan memakai celana pendek hijau seperti yang saya pakai saat naik beves di Balige. Dan hasilnya? Saya sedang memotret masjid, tiba-tiba paha saya dipegang seseorang. Saya langsung kaget dan lompat. Lalu Sang Bapak yang memegang paha saya tersebut menunjuk-nunjuk paha saya yang terekspos oleh celana pendek. Dan saya pun langsung meminta maaf lalu lari ke luar kompleks masjid. Pfffftttttttt -,-

IMG_4851