Palu dan Pusat Laut

Sabtu dini hari sekitar pukul 01.00 wita, 15 Mei 2015, saya dan Bu Joko tiba di Homestay Pondok Sekar, Palu. Kami baru tidur pulas ketika Bunda Hani yang baru datang dari Ampana setelah mengikuti Gema akhirnya tiba di homestay dengan mengetok-ngetok pintu kamar kami. Kata Bunda sih pintu kamar sempat diketok-ketok dengan batu dan sepatu biar kami bangun tetapi karena terlalu letih setelah perjalanan jauh maka butuh waktu cukup lama untuk membangunkan kami. Setelah itu Bunda ditinggal pergi Gema ke rumahnya dan saya antar Bunda menemui penjaga penginapan yang sedang tidur terlelap pula di ruangannya di pojokan penginapan untuk mengambil kunci kamar. Homestay Pondok Sekar ini berada di Jalan Maleo II nomor 2 Palu, 0451-425947 atau 081242376763 dan merupakan penginapan yang masih dikelola secara sederhana dengan jumlah kamar sekitar 5 atau 6 saja dan 1 penjaga di setiap shift-nya tetapi pelayanna bagus, kamar luas dan bagus, tersedia kopi, teh, gula, dispenser, AC, TV di setiap kamarnya. Harga kamar di sini mulai dari Rp165.000 untuk 2 orang dan termasuk sarapan yang berupa nasi bungkus yang lumayan enak. Sarapan pada Sabtu pagi kami waktu itu adalah nasi kuning yang pulen dengan lauk ikan suwir dan telur yang nikmat, sedangkan pada hari Minggu pagi berupa nasi putih, sayur, dan ayam bakar yang juga enak. Penginapan ini berlatar syariah sehingga jangan harap bisa tidur sekamar cowok-cewek yang bukan suami istri, walaupun teman ngebolang.

Palu (18)

Sekitar pukul 10.00 wita, Chua dkk menjemput kami untuk berkeliling sekitar Kota Palu. Melewati Jembatan Ponulele yang megah dan menghubungkan Palu Barat dan Palu Timur di atas Teluk Talise.

Palu (12)

Kami ternyata dibawa menuju ke arah Donggala. Dengan waktu perjalanan sekitar 1 jam, akhirnya kami tiba di Pusat Laut. Tiket masuk ke Pusat Laut hanya Rp2.500 per orang dan biaya parkir mobil Rp5.000. Pusat laut adalah sebuah lubang seperti sumur atau kolam dengan diamater sekitar 10 meter yang dipagari besi setinggi kurang lebih 75cm dan berada hanya beberap meter dari bibir pantai di deretan pantai Donggala

Palu (5)

Para pengunjung Pusat Laut bisa melompat setinggi 5 meter ke dalam kolam.

Pusat Laut (2)

Lalu berenang dan mengapung sambil menjadi tontonan pengunjung. Warga sekitar mempercayai bahwa dengan mandi di kolam ini bisa menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Sayang sekali, sarana untuk masuk atau ke luar kolam ini masih tergolong minim, hanya ada tangga besi semi permanen yang sudah rusak dan tali-temali sebagai media untuk kembali ke atas dari kolam.

Pusat Laut (3)

Tersedia penginapan, semacam aula yang mungkin bisa digunakan sebagai food court tetapi kondisinya tidak terawat dan bisa digunakan untuk berteduh jika kepanbasan atau saat hujan seperti yang kami alami waktu itu. Ada juga beberapa penjual minuman dan makanan tetapi tidak di lapak permanen. Chua for Hermes scarf campaign???

Palu (1)

Setelah puas berfoto-foto di Pusat laut, kami kembali ke arah pusat kota. Jalan dari dan menuju Pusat laut dari pinggir jalan raya sangatlah indah, seperti spot berikut di mana kami berhenti sejenak untuk melakukan pemotretan.

Pusat Laut (1)

Selain Pusat Laut, Donggala juga terkenanl dengan tenun ikatnya (di samping juga batu akik yang tidak akan saya bahas :D). Kami mampir di sebuah rumah yang menjual sarung Donggala di Jalan Malonda nomor 128, Palu. Tersedia berbagai corak warna dan harga di tempat ini. Untuk sarung tenun yang menggunakan benang emas/prada harganya bisa mencapai Rp1.000.000, tenun dengan benang biasa harganya sekitar Rp400.000, tenun yang berupa selendang harganya sekitar Rp200.000. Harga di sini jauh lebih murah dibandingkan dengan di toko pusat oleh-oleh di Kota Palu maupun di Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie Palu yang bisa 2 hingga 3 kali lipatnya. Sayang saat itu uang tunai saya sudah sangat menipis sehingga hanya membeli beberapa helai tenun dan menyesal mengapa tidak beli banyak saat mengetahui harga di Kota dan Bandara. Kalau beli 10 helai dan dijual untuk biasa Rp600.000 kan lumayan tuh untungnya. ūüėÄ

Tenun Donggala

Chua yang sudah mahir tentang seluk beluk Palu mengajak kami makan siang di Winner’s Sport Center. Walaupun harus menunggu makanan lama sekali, dan malah pengunjung yang sampai setelah kami sudah mendapatkan makanan dulu sehingga saya harus beradegan marah (lagi dan lagi) kepada Mbak-Mbak yang jaga.

Palu (10)

Makanan di sini rasanya biasa, tidak maknyos tetapi juga tidak ala kadarnya. Minuman yang saya pilih di sini adalah saraba, yang terbuat dari jahe merah, gula merah, dan susu kental manis yang bisa membuat badan menjadi hangat.

Palu (8)

Terdapat kolam renang dengan pemandangan Teluk Palu yang membentang di depannya, inilah yang membuat tempat ini istimewa. Apalagi menurut Chua jika kita ke sini saat malam tahun baru, pasti sangat ramai dan indah.

Palu (9)

Di Winner’s ini, selain ada restauran, kolam renang, juga ada penginapan yang berada di kaki Gunung Gawalise.

Palu (7)

Kamar dengan dua kasur ukuran queen, AC, televisi, serta kamar mandi ini harganya hanya sekitar Rp300.000, sedangkan untuk bungalow harganya sekitar Rp500.000.

Palu (6)

Jika ingin menikmati Kota Palu dari atas bukit di penginapan yang lumayan bagus dan terjangkau dan bisa ramai-ramai, maka di Winner’s Sport Centre ini lah tempatnya. Anda bisa menghubungi nomor telepon 081341055599 jika ingin reservasi.

Palu (11)

Dari Palu sebelah barat, kami berpindah ke Palu sebelah timur ke Gong Perdamaian Nusantara di Bukit Jabal Nur, Palu. Konon di deretan bukit yang lumayan gersang dengan jalan yang belum begitu halus dan penuh debu dan kerikil ini terdapat sebuah bukit yang berbentuk seperti hati lope-lope gitu tapi entahlah bukit yang mana. Bukit ini lebih sering digunakan untuk arena motor cross.

Palu (3)

Here we come at Gong Perdamaian Nusantara yang sepertinya masih belum selesai pembangunannya.

Palu (13)

Bia, Yoseph, mas Irfan, dan Chua dengan Gong Perdamaian.

Palu (14)

Hills, sea, sunset, i wish you were here. #ahumasiholtuho
Palu (15)

Akhirnya malam tiba dan kami diantar kembali ke dekat penginapan oleh Chua dan Ucep setelah sempat menurunkan penumpang lain di kontrakan adiknya Chua. Chua dkk akan kembali ke Toli-Toli pada Minggu pagi dengan menggunakan kapal laut jurusan Surabaya-Balikpapan-Palu-Toli-Toli-Amurang-Bitung. Terima kasih Chua dkk atas jamuannya di Palu, semoga lain waktu kami bisa merepoti kalian di Toli-Toli, kampung halaman kalian.

Malam itu saya sedikit kalap pada saat saya, Bunda, dan Bu Joko makan malam di sebuah warung lalapan. Saya menghabiskan 1 porsi nasi, 2 ikan katombo goreng, sepiring tempe, terong goreng yang saya pesan, serta 1/2 porsi nasi dan ayam yang Bu Joko pesan karena dia sudah kekenyangan. Pfffttt mumpung sedang tidak di Jakarta, besok malam sudah kembali di Jakarta.

Palu (19)

Minggu pagi, 17 Mei 2015, hari kesebelas dan terakhir Trip Suluttenggomalut kami. Hanya gegoleran di kamar, menikmati sarapan, menonton tv, dan packing pakaian serta kain-kain yang telah kami beli. Baru pada pukul 11.00 wita kami check out dari Homestay Pondok Sekar untuk menunju Toko Oleh-Oleh Khas Palu “Diana” di Jalan Kartini Palu, telepon 081354230698. Di toko ini tersedia berbagai jenis oleh-oleh Palu dari bawang goreng, abon, madu, tenun, serta berbagai makanan khas Palu. Setelah membeli oleh-oleh kami langsung menuju Bandara Palu untuk mengantar Bunda Hani yang akan terbang kembali ke Jakarta dengan pesawat pukul 14.00 wita, sedang saya dan Bu Joko dengan pesawat pukul 16.00 wita.

Oleh-Oleh Palu

Jarak pusat kota ke bandara ternyata sangat dekat dan bebas macet sehingga setelah mengantar Bunda, saya dan Bu Joko memutuskan untuk kembali ke kota untuk mencari makan siang dulu. Sungguh di luar dugaan karena ternyata warung maupun restauran sangat jarang yang buka di hari Minggu. Kami awalnya ingin menikmati makanan khas Palu seperti kaledo tetapi ternyata warungnya hanya menjual nasi goreng di hari itu. Kami pindah mencari tempat makan lain, tidak perlu yang khas Palu asal bukan junk food, hingga sekitar 6 atau 7 tempat tetapi tidak ada yang buka. Akhirnya kami berhenti di Careto Resoran yang terlihat buka dan ramai. Careto ternyata merupakan restoran dengan beberapa stan makanan di dalamnya seperti food court di mana tersedia nasi padang Sederhana, menu Oriental, menu Eropa, kopi, dan kue-kue. Ruangan restoran ini cukup nyaman dan luas serta terlihat enak untuk nongkrong-nongkrong.

Palu (17)

Menu yang kami pesan di Careto Restoran.

Palu (21)

Untuk ke bandara serta berputar-putar di Kota Palu dari siang, kami menggunakan Taksi Utama Palu di nomor telepon 0451-456789. Walaupun armadanya cukup tua, tetapi supir yang mengantar kami waktu itu masih muda dan lagu-lagu yang diputar juga bervariasi dari lagu Ambon, Indonesia, hingga barat. Pukul 15 wita lebih sedikit kami akhirnya tiba di bandara dan harus bersiap menghadapi kenyataan di ibu kota lagi.

Palu (20)

Transit di Bandara Sultan Hasanudin Makassar.

Palu (16)Dan berakhir sudah Trip Suluttenggomalut ini. Terima kasih banyak Bu Joko dan Bunda Hani yang bersedia meramaikan trip ala-alaku ini. Sampai jumpa di trip selanjutnya. xoxo

*Rincian pengeluaran di Palu

15 Mei 2015
Pondok Sekar 2 kamar, 2 malam 790.000
Tiket Pusat Laut 25.000
Makan siang 297.000
Makan malam 45.000
16 Mei 2015
Taksi 100.000
Total 1.257.000
Biaya per orang 419.000

 Akhirnya catatan perjalanan saya ke Suluttenggo Malut selesai juga setelah 3 bulan.

Ikut Bule ke Tentena

Ada apa di Tentena? Saya belum begitu paham apa yang akan kami tuju nanti di Tentena, selain Danau Poso dan Lembah Bada (yang juga baru semalam kami dengar dari Ardi saat di Togean), malahan sepertinya bule-bule yang lebih banyak mengetahui tentang kota kecil di Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso ini. Tentena terletak di jalur yang menghubungkan Ampana (Togean) dan Rantepao (Tana Toraja) sehingga menjadi tempat stopover pilihan para turis asing. Waktu tempuh dari Ampana ke Tentena sekitar 7 jam sedangkan dari Tentena ke Rantepao sekitar 11 jam sehingga pantaslah para turis memilih untuk bermalam di Tentena sebelum melanjutkan perjalanan di antara 2 kota tersebut. Berada di ketinggian hampir 700m di atas permukaan air laut dengan daya tarik situs megalitikum Lembah Bada yang tidak populer untuk orang Indonesia tetapi sudah mendunia. Di situ terkadang saya merasa sedih.

Hampir pukul 15.00 wita kami yang kelaparan karena belum makan siang tiba di sebuah rumah makan di dekat jembatan Sungai Bongka di Desa Tampanombo, Kecamatan Ulu Bongka, Kabupaten Tojo Una-Una. Daripada makan di sekitar Pelabuhan Ampana yang masih dekat dengan sumber aura kegelapan Bu Ulfa dari Tourist Information Center Ampana yang bahkan mengingat namanya saja membuat saya ingin marah menjadikan tempat makan pilihan Pak Mito, supir kami ke Tentena, ini adalah pilihan yang tepat sembari menunggu jalan arah Poso dibuka karena adanya buku-tutup perbaikan jalan. Para bule memesan ikan bakar sedangkan saya dan Bu Joko lebih memilih telor dadar serta semua mau tumis sayur kangkung dan bunga pepaya yang rasanya enaaak. Para bule ini mau makan apa saja sih asal tidak begitu pedas, apalagi si Michal yang sejak saat kami mendarat di pelabuhan sudah berkali-kali bilang, “Estu, i’m starving. Can we eat now?”

Tojo Una-Una (3)Di rumah makan ini, semua menu mulai nasi, ikan, dan sayur baru akan dimasak pada saat kami memesan sehingga membuat saya turun tangan ke dapur untuk membantu agar makanan lebih cepat disajikan. Entah sudah berapa kali saya harus turun tangan sekaligus mensupervisi di dapur seperti ini. Teringat beberapa tahun lalu saat ke sebuah pantai di Yogyakarta, kami sempat menunggu hampir sejam tetapi makanan belum juga tersaji dan akhirnya saya mendatangi dapur dan bilang ke pemilik warung bahwa saya akan membawa ke luar menu apa pun yang sudah siap walaupun hanya nasi karena kami harus segera pergi. Seringkali pihak warung menyajikan makanan menunggu semua siap disajikan, tetapi saya lebih memilih bahwa yang sudah siap duluan agar disajikan duluan, tidak usah tunggu-tungguan, dan jika perlu bantuan memotong sayur, mengulek bumbu, atau sekedar menyajikan makanan saya bisa membantu, dan saat itu saya membantu menyipakan lalapan, sambal, menata ikan dan cumi, serta ikut menyajikan makanan dan minuman ke teman-teman saya yang sudah kelaparan. Kembali ke dapur di rumah makan di Tampanombo, Ibu pemilik warung ternyata jago membuat bolu dan kue-kue seperti yang saya lihat di dapur sesaat sebelum membantu menyajikan makanan. Kue-kue tersebut dijual di rumah makan ini atau kadang merupakan pesanan tetangga, yang mana saya tidak melihat adanya rumah atau bangunan lain di sekitar sini. Tetangga yang berjarak 1 km dari rumah makan mungkin. :O

Dua gadis cantik umur belasan tahun di rumah makan ini digoda Jan sebelum kami melanjutkan perjalanan ke Tentena pada pukul 16.30 wita. Mereka bernama Janna dan Desi. Dan mereka bukan cabe-cabean, tetapi mungkin calon berlian dari jantung Sulawesi.
Tojo Una-Una (4)

Pemandangan dari Ampana ke arah Poso di Kabupaten Tojo Una-Una benar-benar indah. Banyak ladang jagung di perbukitan yang nampak tertata rapi dengan gradasi warna dari pohon jagung yang sudah atau siap ditebang, ladang tembakau, hutan dengan perbukitan di sebelah kiri, serta laut dan matahari terbenam yang berada di sisi kanan sepenajang jalan. Perbaikan jalan yang saat itu sedang dilakukan pemerintah daerah terbentang di sepanjang jalur yang kami lewati. Sungai-sungai di Kabupaten Tojo Una-Una terlihat lebar-lebar dan dangkal sehingga komponen bebatuan di sekitarnya jelas nampak di antara arus yang mengalir dengan deras akibat hujan lebat yang baru saja terjadi. Bagi Anda pencinta batu akik(a), jalur Ampana-Poso menyediakan begitu banyak bebatuan serta penjual batu di pinggir jalan yang bahkan terkadang di tengah remang hutan tanpa ada orang lain selain si penjual batu, batu yang masih belum diasah tepatnya. Tapi maaf ya, saya bukan pencinta dan bukan orang yang mau dititipi bebatuan macam ini, kalau berlian sih boleh lah dikasih ke aku biar auraku jadi shine bright like a diamond. Selain penjual batu, ada juga ternak warga seperti sapi dan kambing yang sore itu banyak kami jumpai di sepanjang jalan. Ternak yang jumlahnya lebih banyak daripada kendaraan yang melintas yang bermain-main bebas di tengah dan pinggir jalan sebelum pulang ke kandang. Untuk musik pengiring perjalanan, Pak Mito mempunyai selera internasional yang saya kira lumayan cocok untuk turis asing seperti REM, Nirvana, Metallica, Steelheart, dan OASIS.

Para bule meminta Pak Mito untuk berhenti sejenak untuk beli camilan dan meregangkan badan di sebuah warung di Malei, yang juga masih di wilayah Kabupaten Tojo Una-Una. Sudah pukul 19.00 wita lebih dan kami masih saja di Tojo Una-Una menyadarkan saya betapa luasnya Indonesia. Ibu pemilik warung yang sepertinya sedang menonton sinetron agak terkejut melihat bule-bule yang berada di belakang saya yang sepertinya siap menyerbu warung.
Tojo Una-Una (5)

Selain membeli minuman segar dan permen, kami menemukan kue khas Malei yang terlihat biasa tetapi rasanya luar biasa yang namanya kue kambu. Kue kambu ini terbuat dari tepung terigu, kelapa parut, dan gula pasir yang dijual seharga Rp1.000,00 per buah. Entah berapa puluh kue kambu yang kami beli saat itu.
Tojo Una-Una (6)

Tidak begitu jauh dari Malei, kami pun tiba di Kabupaten Poso dan langsung mengambil jalur ke arah Tentena, bukan ke Palu. Perbaikan jalan ternyata benar-benar sedang dilakukan di seluruh penjuru Sulawesi Tengah. Saat itu pukul 20.30 wita saat mobil kami tiba-tiba terhenti karena terhadang lagi oleh penutupan jalan yang katanya sedang memasuki proses pengangkatan aspal atau apalah hingga 2 jam ke depan, dan penutupan baru berlangsung sekitar 5 menit sebelum kami datang. Pantas saja kami berada di antrean kendaraan nomor 3 di belakang portal. Kami turun mobil untuk melihat-lihat keadaan sekitar saat ada mobil, yang sepertinya milik raja kecil di sana, tiba-tiba berada di belakang portal jalur kendaraan ke arah Poso dan meminta dibukakan jalan kepada penjaga portal. Si Raja Kecil yang duduk di samping supir turun dan bilang kepada kami dengan nada tinggi bahwa harus segera ke daerah entah-apalah-namanya-sesuka-udhel-e-dewe untuk menyampaikan bantuan bagi para korban banjir dengan menggunakan kapal yang harus berangkat pada pukul 11.00 wita. Yaelah Pak, kalau mau nyerobot antrean ataupun memaksa melewati jalan mah lewat saja, gak perlu marah-marah sok ngejelasin tujuan muliamu itu kali. NEVER MIND. WE DON’T CARE. Malah mencurigakan bantuan macam apa sik yang dibawa hanya di satu mobil yang tidak terlihat membawa barang-barang bantuan. Lalu kami boo ramai-ramai deh si bapak gengges itu.
Tentena (4)

Kami menepi ke arah warung-warung yang banyak di dirikan di sekitar portal. Jan dan Michal mengajak Pak Mito, Catherine dan pasangannya untuk bermain kartu versi Ceko. Saya juga diajak tetapi saya bukan penggemar kartu sehingga saya diminta untuk mendampingi dan menjelaskan tata cara permainan kepada Pak Mito. Saya sih pernah suka main kartu sekitar 10 tahun lalu jadi walaupun lupa nama dan aturan permainan, masih ingat sedikit-sedikit lah tentang jenis permainan kartu yang mirip dengan seven sekop tetapi dibuat lebih mudah dengan beberapa aturan ala Ceko sana. Dan kami menjadi pusat perhatian orang-orang yang sedang menepi di sekitar warung.
Tentena (6)

Setelah permainan kartu berjalan dengan stabil sesuai aturan yang ditetapkan, saya memilih melipir ke warung sebelah dan menemukan minuman cap tikus yang merupakan tuak khas Sulawesi termasuk di Poso. Si Bapak penjual cap tikus menjelaskan beda cap tikus dengan saguer dari proses pembuatan, warna, dan harga. Saya sih tidak tertarik dengan cap tikus karena teringat adegan terpaksa mencicipi tuak khas Nias yang dioplos dengan minuman berenergi pada tahun 2014 silam karena takut kalau tidak mau mencicipi minuman yang ditawarkan penduduk lokal bakal tidak bisa ke luar dari Nias. ūüėÄ

Tentena (5)

Sekitar pukul 9.30 wita portal sempat dibuka untuk ambulans yang melintas dan langsung diikuti oleh beberapa mobil yang berada di belakang ambulans untuk turut melintas. Sayang kami gagal ikut melintas karena kurang gesit berkumpul dan menjalankan mobil. Akhirnya David dan Bu Joko kembali tidur di mobil, yang main kartu kembali bermain kartu, dan saya mengobrol dengan supir  pickup pengangkut ayam yang ternyata berasal dari Jawa Timur juga. Sesekali saya mencoba menghubungi Hotel Tropicana yang menjadi tempat yang diinginkan Catherine karena berdasar rekomendasi pada buku yang dia bawa, juga menghubungi Hotel Victory yang direkomendasikan Pak Mito. Di tengah alas ini koneksi data masih sangat sulit dan tetap hanya Whatsapp yang lumayan lancar. Saya teringat Yose, teman kantor yang pernah bertugas di Poso, yang saya pikir pasti tahu tentang Tentena. Yose melalui Whatsapp mengatakan bahwa hotel yang menurutnya bagus dan paling dekat dengan Danau Poso adalah Hotel Pamona Indah. Lalu saya hubungi Hotel Pamona Indah. Bingung-bingung belum bisa memutuskan mau menginap di hotel yang mana saat kami tiba di tentena yang kemungkinan akan lewat tengah malam.

Akhirnya menjelang pukul 23.00 wita, portal benar-benar dibuka dan kami bergegas masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan ke Tentena melalui jalan yang memang benar-benar dalam keadaan berantakan, berlumpur, penuh material pembangunan jalan selama 1 jam. Beberapa menit lepas tengah malam kami pun tiba di Tentena dan memutuskan untuk melihat Hotel Victory. Catherine menanyakan ketersediaan kamar yang paling murah di hotel tersebut tetapi ternyata sudah penuh sehingga tinggal yang harganya Rp175.000 ke atas. Czech Gang yang sudah merasa kelelahan memutuskan untuk memilih melanjutkan perjalanan ke Rantepao saja jika memungkinkan daripada nanggung istirahat beberapa jam di Tentena. Kebetulan saat itu di Victory tersedia mobil jurusan Tentena-Rantepao yang batal disewa orang sehingga para turis Ceko dan Prancis ini bisa melanjutkan perjalanan langsung ke Rantepao. Mobil semua ditawarkan dengan tarif Rp1.250.000 tetapi saya tawar agar menjadi Rp1.000.000 karena tarif sewa mobil Ampana-Rantepao yang paling murah yang saya dapat adalah Rp1.800.000. Dihitung-hitung bisa pas kan akhirnya setelah tarif sewa mobil Ampana-Tentena Rp800.000 dan dilanjutkan Tentena-Rantepao Rp1.000.000. This was our farewell photo at Victory Hotel Tentena. ūüôĀ
Tentena

Saya lupa tentang konflik antarpemeluk agama yang menyebabkan kerusuhan pada tahun 2002 di Tentena jika tidak diingatkan Bu Joko pada saat kami bersiap untuk tidur. Then i got goosebumps and asked myself, “What i am doing here?”. Untungnya sih di sana cuma ada sinyal Telkomsel, yang untuk Whatssapp saja lemot dan susah untuk googling, jadi tidak semakin banyak informasi yang saya dapat yang akna membuat saya akan semakin merinding.

Saat pagi menjelang, saya pergi ke luar hotel untuk melihat Danau Poso dan ternyata tidak jauh dari Hotel Victory hanya dengan melewati 1 blok ke arah Hotel Pamona Indah. Walaupun tidak jauh, gelombang pasang Danau Poso sedang terjadi dan mengakibatkan jalan di sekitar danau menjadi tergenang setinggi 20 s.d. 30 cm dengan air being danau yang tidak membuat saya khawatir kaki akan gatal-gatal seperti terkena genangan air banjir di Jakarta yang keruh dan bau.

Tentena (8)

Sejauh mata memandang, sejauh itu pula luas danau terbesar nomor 3 di Indonesia ini. Keramba yang banyak dibuat di pinggir Danau Poso.
Tentena (7)

Rumah adat Poso yang sudah agak rusak di sekitar danau.

Tentena (9)

Rumah adat yang juga agak rusak padahal rumah model begini juga jarang kita temui di sini.
Tentena (10)

Setelah melihat-lihat Danau, saya kembali ke hotel untuk sarapan. Mbak Nony menyajikan 2 porsi nasi kuning, 2 gelas air mineral serta menawari saya mau teh atau kopi. Dan akhirnya saya menghabiskan 2 porsi nasi kuning yang seharusnya juga menjadi hak Bu Joko, yang masih terlelap, serta menyisakan air minaral dalam gelas dan secangkir teh manis hangat untuk Bu Joko. Saya sampaikan ke Bu Joko bahwa saya akan berkeliling mencari ojek atau travel yang bisa membawa kami ke Lembah Bada. Menurut Mbak Nony, untuk menuju Lembah Bada kami bisa menyewa hardtop seperti yang dilakukan penghuni kamar sebelah, menggunakan ojek motor jika ada yang mau, atau mobil travel umum yang biasanya kalau pagi begini berada di sekitar jembatan baru atau pasar lama. Ojek yang saya dapatkan bukannya mau mengantar saya ke Lembah Bada melainkan mau mengantarkan saya mencari ojek atau travel yang bisa mengantar saya ke Lembah Bada. Si Bapak Ojek ternyata ada acara di gereja pada siang nanti sehingga tidak bisa mengantar ke Lembah Bada. Saya mengambil gambar di bawah ini dari jembatan baru saat mencari ojek.

Tentena (12)

Dengan diantar Pak Ojek, saya memintanya sekalian melihat-lihat ada apa saja di Tentena ini dan diajaklah saya ke tempat ini. The venue for Festival Danau Poso. Its actually a large, beautiful and useful place to promote the tourismbut the government did’nt take care of it until the festival is almost being held.
Tentena (13)

Akhirnya di sekitar pertigaan dekat Universitar Kristen Tentena Pak Ojek berhasil menghentikan seorang tukang ojek lain yang mau mengantar saya ke Lembah Bada. Saya pikir akan mudah mendapatkan 1 tukang ojek lagi, tetapi ternyata tidak. Saya yang sudah ditinggal Pak Ojek dan diserahterimakan ke Mas Ojek berpindah ke beberapa tempat hingga ke dekat Pasar Lama untuk mencari tukan ojek 1 lagi yang mau mengantarkan ke Lembah Bada sambil sesekali mampir ke agen travel yang barangkali menyediakan mobil umum ke sana. Si Mas Ojek ini mau dibayar Rp150.000 untuk menuju Lembah Bada di saat tukang ojek lain tidak ada yang mau ke sana karena katanya jalannya hancur dan jelek sekali penuh lumpur. Saya akhirnya kembali ke hotel untuk melapor perjalanan saya selama 1 jam mencari ojek yang hanya menghasilkan 1 tukang ojek kepada Bu Joko. Ternyata Bu Joko sudah ke luar hotel untuk mungkin sarapan dan jalan-jalan. Saya tidak bisa menghubungi ponsel dia karena dia menggunakan bukan nomor Telkomsel. Berputar-putarlah lagi saya dan Mas Ojek ke sekitar danau (lagi), ke lokasi Festival Danau Poso (lagi), ke sekitar pasar lama (lagi), tetapi tidak juga menemukan keberadaan Bu Joko. Saya menyerah dan memutuskan untuk menunggu Bu Joko di hotel saja.

Pasar Lama Tentena.

Tentena (14)

A vegetable seller in Tentena Old Market.

Tentena (16)

Sesampainya di hotel, saya menemui Mbak Nony untuk bertanya alternatif lain dari kenalan tukang ojek atau travel yang kira-kira bisa mengantar ke Lembah Bada pp hari ini. Tak lama kemudian Bu Joko tiba juga di hotel dan saya sampaikan betapa sulitnya mencari ojek ke Lembah Bada. Kemudian saya mulai menghubungi travel dan tukang ojek yang nomornya diberikan oleh Mbak Nony. Berikut ini beberapa nomor telepon tukang ojek dan travel di Tentena yang saya hubungi pagi itu: Travel Pak Cit di 085341024133, Travel lupa namanya di 081354599568, Pak Akim Ojek di 085342300833, Pak Jonli Ojek di 085341111730. Dua travel yang saya hubungi menyediakan travel mobil umum baik menuju Lembah Bada maupun ke Palu. Dengan perkiraan mobil travel berangkat dari Tentena pukul 12.00 siang maka akan tiba di Lembah Bada menjelang Maghrib dan kami baru akan bisa kembali ke Tentena KEMUNGKINAN pada sore keesokan hari dan itu pun mungkin hanya bisa melihat 1 atau 2 buah batu di situs megalitikum Lembah Bada yang jumlahnya sebelasan tetapi jaraknya sangat berjauhan satu sama lain.Kita bisa menginap di rumah penduduk di sana dan menyewa motor untuk berkeliling dari satu situs ke situs lain. Seperti ini bentuk situs megalitikum di Lembah Bada.

credit image to asrito.blogspot.com

Pak Jonli datang ke hotel dan bilang mau mengantar kami, melengkapi Mas Ojek yang bersedia, tetapi dengan harga yang sangat mahal yaitu Rp700.000 per orang. Saya pikir gilingan saja dengan biaya sebegitu besar saya lebih baik menyewa hardtop untuk menuju ke Lembah Bada. Jalan menuju Lembah Bada konon katanya rusak berat, menanjak, berlumpur, tidak ada penerangan kalau malam, serta tidak bisa dicapai PP dalam satu hari.

credit image to asrito.blogspot.com

After all, we decided to do city tour to some landmarks in Tentena with Pak Jonli and Mas Ojek with cost Rp150.000,00 per person.  Our first stop is Siuri Beach. Dari harus ke luar Kota tentena ke arah barat hingga menemukan pertigaan menuju Lore Lindu. Di pertigaan tersebut, jika belok ke kanan sejauh 72km akan menuju Taman Nasional Lore Lindu dengan lembah Badanya yang benar-benar ingin saya kunjungi, dan jika belok kiri sejauh 5km maka akan kita temukan Pantai Siuri ini dan jika terus lagi maka akan menemukan Taman Anggrek Bancea. Here we come at Siuri Cottage but the tidal wave also hit the cottage. If you want to stay here, you may contact +62 85241058225 or +62 81341167345.

Tentena (19)

Siuri Beach. A sparkling and serene beach in the far side of Lake Poso.
Tentena (20)

Dari Pantai Siuri, kami kembali ke arah pertigaan menuju Lore Lindu dan terus ke arah Air Terjun Saluopa. From the entry gate, we have to walk like 10 minutes in the middle of beautiful tropical forest to get this waterfal. Saluopa Waterfall has 12 level which is from one to another level can be reached by stepping on mossy-but-not-slippery-stone stairway.  You can see a very clear and clean water that came from the mountain. When i was there, a group of high school students were there to celebrate their graduation. It is a must place to visit in Tentena and Central Sulawesi.
Tentena (21)

Terdapat beberapa warung yang menjual makanan dan minuman di dekat parkiran air terjun. Saya yang tiba-tiba masuk angin karena terkena hembusan air yang begitu dingin terbawa angin di air terjun memutuskan untuk kembali saja ke kota dan mencari makanan yang lebih cocok untuk perut saya daripada hanya mie instan goreng atau rebus di sekitar air terjun yang hanya akan membuat saya semakin mual. Sedangkan Bu Joko memilih untuk makan mie instan di situ dan meneruskan perjalanan dengan tukang ojeknya ke Panorama, semacam bukit untuk melihat Danau Poso dari atas, serta ke Goa Latea.

Saya makan di sebuah warung di dekat pasar lama yang ternyata rasanya tidak begitu enak dibanding nasi kuning bungkus yang disajikan hotel tadi pagi dan malah membuat saya semakin mual. Setelah memaksakan diri menelan makan tersebut, saya duduk-duduk di jembatan sambil sesekali mencoba menghubungi tukang ojek Bu Joko karena saya yang ingin menyusulnya tetapi tidak telepon saya tidak diangkat juga sehingga tidak mengetahui lokasi mereka. Setelah itu saya memutuskan untuk mencari Losmen Tropicana yang katanya oke untuk melihat-lihat saja. Berbeda dengan Hotel Victory dan Hotel Pamona Indah, Losmen Tropicana ternyata agak sulit ditemukan bahkan oleh tukang ojek saya, atau mungkin karena dia memang tidak gaul(?), malahan tidak sengaja menemukan penginapan lain yaitu Eu Datu Cottages.
Tentena (15)

This is what i think about 4 hotels in Tentena,¬†Victory Hotel, Tropicana Losmen, Hotel Pamona Indah, and Eu de Cottages, that i’ve seen.

Lets start with Victory Hotel Tentena, located at Jalan Diponegoro No. 18, Tentena 94663. Phone +62 458 21392, +62 85241099876,¬† +62 81355118099. This young beautiful girl named Nony, the owner’s daughter and hotel receptionist. She’s so nice and helpful to visitors. She graduated from a university in Bandung and worked in Papua for a couple of months before going back to Tentena and helped her parents to manage this hotel.

Tentena (17)

It has good and clean rooms with prices start from Rp125.000 to Rp250.000 for low season, and Rp175.000 to Rp275.000 for high season, include breakfast. I met so many local and international guests here.

Tentena (18)

I ate this delicious yellow rice for breakfast and it was so good.

Tentena (11)

Hotel Pamona Indah Permai Tentena on Jalan Komodor Laut Yos Sudarso, Kasintuwu, Tentena, 94611, phone +62 458 21245. Located in the nearest area to Lake Poso. I found the tidal wave hit the street in front of the hotel but it didn’t affect the hotel building. It looks great in a higher price range than Victory Hotel. My friend said that this hotel was his favorite.

Tentena (3)

Ue datu Cottages at Lorong Ue Datu 92-93, Tentena РPoso, Sulawesi Tengah 94663, phone +62 458 21824,  +62 811 344 1597. Located in a not so strategic area on the hill and a bit far from the lake.

Tentena (26)

The prices starts from Rp200.000, Rp300.000, and higher depend on the season.

Tentena (25)

Once the staff told me that there was a staff room that i could rent in a more affordable price than the standard room which only Rp120.000.

Tentena (24)

This hotel has the largest area and more room preference. Log on to their website for further information.

Tentena (23)

Last but not least, Tropicana Losmen Tentena phone +62 458 21224 or +62 85298931719. Its a bit hard to find this hotel due to its location on the hill that far from lake and market but offers a very good scenery from the top.

Tentena (27)

The prices ranges start from Rp120.000 to Rp250.000, include breakfast. If you want to stay in a room with lake view, you need to book the most expensive ones.

Tentena (28)Segera setelah melihat-lihat hotel ini saya kembali ke Victory Hotel untuk menunggu Bu Joko yang masih entah di mana dan mengambil tas yang saya titipkan ke Mbak Nony dari pagi tadi. Suasana di Hotel Victory Tentena ini sangat kekeluargaan, nyaman, dan membantu para pengunjung. Sekitar pukul 16.30 wita Bu Joko tiba di hotel dan kami segera menuju Terminal Tentena untuk menunggu mobil travel kami ke Palu yang katanya akan siap pada pukul 17.00 wita. 17 jam terlalu singkat untuk dilalui di kota kecil yang ternyata tidak seseram yang saya bayangkan. Penduduk dan kehidupan di kota ini sudah seperti kota kecil lain yang damai dan tidak terlihat sisa-sisa kerusuhan yang sudah lebih dari satu dekade berlangsung. Suatu hari nanti saya akan kembali kota ini untuk menuju Lembah Bada di Taman Nasional Lore Lindu yang belum sempat tercapai.

*Rincian pengeluaran dari Ampana hingga menuju Palu:

Rincian  Biaya
Mobil 800.000 (7 orang)      114.286
Makan 265.000 (7 orang)       37.857
Camilan  50.000
Hotel Victory 175.000 (2 orang) 87.500
Ojek 1 20.000
Ojek 2 200.000
Makan 50.000
Travel ke Palu 150.000
Total 709.643

Galau Menuju Ampana

Pagi akhirnya datang juga setelah semalaman saya galau ke mana saya akan pergi setelah di Ampana nanti. Suasana resor pagi itu terlihat ramai karena sebagian besar wisatawan akan pergi, seperti rombongan Manado yang 3 orang, rombongan Toli-Toli 5 orang, Czech Gang 3 orang, kami 3 orang, Gema, serta beberapa pasangan yang akan pindah ke pulau lain. Ada pasangan bule Belanda yang saya rekomendasikan untuk pindah menginap ke Waleakodi agar lebih dekat dengan Dolong dan bisa mendapatkan KM Cengkih Afo ke Bumbulan pada Sabtu sore. Pasangan Belanda ini sebelumnya bertanya tentang jadwal kapal ke Gorontalo atau Bumbulan kepada manajer resor tetapi ditawari untuk menyewa kapal saja agar cepat sampai karena memang pada bulan Mei ini hanya ada KM Cengkih Afo yang beroperasi. Dengan tarif sewa kapal yang bisa mencapai Rp3.000.000, bule-bule backpacker ini tentu lebih memilih untuk sedikit memperpanjang jadwal mereka di Togean daripada harus mengeluarkan uang sebanyak itu, demikian pun jika itu terjadi pada kami, toh mereka masih akan balik via Manado ke Jakarta semingguan lagi. Ada pasangan bule Belanda lain serta pasangan bule Italia yang sempat saya tunjukkan jadwal kapal terbaru yang saya dapatkan beberapa hari sebelum keberangkatan saya ke Togean yang dikirimi oleh Ales dari Walekodi Resort. Saya benar-benar masih merasa utang budi kepada Ales yang sudah saya repoti bertanya ini-itu sejak akhir bulan April tetapi malah ujung-ujungnya pada saat KM Cengkih Afo mulai berlayar saya malah pindah ke resor lain karena bujukan orang. Saya merasa blank saat itu ketika saya yang sudah menyiapkan banyak data tentang Togean bisa terbujuk untuk pindah resor. Mungkin saya lelah.

Togean (56)

Geng TKI yang sudah siap cabut dari resor setelah sarapan. Seperti yang terlihat, Bunda sudah siap cabut duluan dengan mengenakan pakain renang yang lebih paripurna dibanding kemarin saat kami island hopping. Padahal Bunda akan mengunjungi perkampungan Suku Bajo dan danau ubur-ubur lagi , tetapi dengan ditemani orang yang berbeda. #uhuk

Togean (57)

Kami, Czech Gang, dan rombongan Toli-Toli agak was-was dengan pihak resor yang tidak juga menyediakan kapal untuk mengantarkan kami ke Wakai karena menunggu manajer resor yang masih menjemput tamu baru, padahal¬† resor mempunyai banyak kapal lho. Bukannya berprasangka buruk, tetapi manajer resor ini sepertinya agak marah kepada saya yang beberapa kali memberikan informasi kepada bule-bule tentang jadwal kapal, pesawat, travel, serta penginapan-penginapan di Togean. Dengan mengikuti saran saya, para bule bisa menghemat beberapa ratus ribu hingga jutaan rupiah untuk biaya sewa mobil atau pun kapal daripada menyewa kapal resor atau rental mobil dari travel yang bekerja sama dengan resor. Bunda sempat mendengar manajer resor marah-marah karena banyak tamu yang akan pergi pada Kamis pagi dan sempat mengatakan kepada karyawan resor semacam ‚ÄúItu rombongan tante-tante (julukan (((((TANTE))))) merujuk ke saya, red) itu jadi balik Kamis besok? Kenapa tidak Sabtu saja?‚ÄĚ. Saya memang dari awal berencana untuk ke luar Togean pada hari Sabtu agar bisa gegoleran lebih lama di sini, tetapi karena banyak godaan lain serta perilaku manajer hotel yang gengges maka mari kita cabut pada hari Kamis saja.

Untuk menuju Ampana, kami berencana naik KM Kapia Touna yang menurut jadwal akan berangkat dari Wakai menuju Ampana pada pukul 11.00 wita tetapi menurut info yang saya dapatkan akan berangkat pukul 9.30 atau jika penumpang sudah penuh. Akhirnya pada pukul 8.50 wita kami diantarkan oleh pihak resor ke Pelabuhan Wakai dan tanpa didampingi manajer resor. Sekitar pukul 9.15 wita kami pun tiba di Wakai dan melihat KM Kapia Touna sudah penuh sesak penumpang dan sudah siap berangkat dan kami dipersilakan masuk ke kapal tidak melalui dermaga tetapi masuk langsung melalui pintu samping kapal dengan melompat dari kapal resor. Syukurlah kapal mulai bergerak menuju Ampana pada pukul 10.00 wita. Kami harus membayar Rp65.000 per orang untuk rute Wakai-Ampana yang akan ditempuh sekitar 4 jam. Beginilah posisi duduk melantai kami saat itu.

Togean (58)

Bule-bule yang membunuh waktu dengan membaca. Berbeda dengan kebiasaan saya. -,-

Togean (61)

Bu Joko juga sibuk membaca, sambil mendengarkan musik.

Togean (60)

Coba tebak siapa yang harus berjemur di bangku belakang kapal karena tidak mendapat jatah tempat duduk yang ada atapnya.

Togean (67)

Look like an editorial for Vogue Homme International.

Togean (65)

David yang masih harus berjemur.

Togean (62)

Beberapa jam duduk umpel-umpelan membuat saya ingin jalan-jalan di kapal dan ternyata saya mendapati adik bayi lucu ini tidak jauh dari tempat saya duduk. Ibu bayi ini bercerita bahwa ia akan ke Ampana untuk mengambil uang. Sambil menggoda bayi lucu yang sedang makan jeli ini, saya bertanya mengapa Si Mmbak tidak bersama suaminya ke Ampana. Dan tiba-tiba dapatlah curhatan dari si Mbak yang mengatakan bahwa bapak bayi ini baru saja melintas dengan kapal lain ke arah Togean dari Ampana. Si Mbak ternyata sudah berpisah dengan bapak bayi ini saat bayi ini akan lahir karena sang mantan suami tergoda bule Prancis yang mengajak dia untuk bekerja sama membangun resor dan rumah tangga. Banyak pulau di Togean yang memang dikelola oleh pasangan di mana salah satunya adalah bule dan yang satu merupakan penduduk lokal. Mau nggak galau gimana coba kalau habis lihat sang mantan melintas dengan bahagia saat kita masih sendiri dan sedih begini. Tidak lama kemudian datang seorang laki-laki dan bergabung dalam obrolan kami. Lelaki tersebut ternyata adalah kakak Si Mbak. Mas ini juga tahu kalau mantan suami Si Mbak tadi sempat melintas dengan kapal dan pasti adiknya langsung jadi galau makanya dia becandain si adik. Si Mas bercerita kalau dia punya bisnis travel, rental mobil, dan penginapan di dekat Ampana. Dia menawari saya untuk menginap gratis di penginapannya dan megajak jalan-jalan ke Tanjung Api dengan cukup mengganti biaya bahan bakar kapal. Saya sebenarnya sangat ingin ke Tanjung Api dan masuk dalam daftar tujuan saya saat masih membuat itinerary tetapi karena letaknya yang hanya bisa ditempuh dengan kapal sewaan maka saya menghapusnya dari daftar tujuan saya. Kegalauan mau ke mana nanti setelah di Ampana sedikit menghilang saat mendapat tawaran dari Si Mas, di mana kira-kira kami hanya perlu mengganti biaya bahan bakar kapal ke Tanjung Api dan mobil ke Poso sebesar Rp500.000 dibagi dua (saya dan Bu Joko) untuk jalan-jalan bersamanya dan adik serta ponakannya hingga hari Sabtu. Bu Joko ternyata meminta saya untuk memikirkan lagi barangkali akan ada opsi yang lebih hemat dan lebih baik sebelum kami tiba di Ampana.

Michal yang sudah mendapatkan tempat duduk strategis dan bisa tidur pulas.

Togean (63)

Jarak tempuh ke Ampana semakin dekat tetapi saya kami masih belum menentukan tujuan. Saya mendengarkan obrolan Jan dan pasangan bule Prancis yang sedang berencana pergi ke Tentena. Saya jadi teringat kata Ardi, agen travel yang bersama Geng Toli-Toli, yang mengatakan bahwa di dekat Tentena ada Lembah Bada yang merupakan situs bebatuan megalitikum yang sangat unik. Kami tertarik dengan Lembah Bada tersebut, yang baru pertama kali kami dengar dari Ardi. Saya bertanya kepada Czech Gang apakah mereka mau singgah di Tentena dulu sebelum ke Tana Toraja yang masih memerlukan waktu perjalanan belasan jam dari Tentena, dan mereka ternyata setuju. Akhirnya saya, Bu Joko, 3 orang Czech gang, dan pasangan Bule Prancis sepakat untuk menuju Tentena saja dan meminta Ardi mencarikan kami mobil di Pelabuhan Ampana. Ardi mengatakan bahwa kami bisa menggunakan mobil dengan kapasitas 8 orang penumpang, termasuk 1 orang supir, yang telah dia hubungi dengan biaya sewa Rp850.000 yang akan ditempuh kurang lebih dalam waktu 8 jam perjalanan.

Di sepanjang perjalanan dari Wakai ke Ampana akan banyak kita jumpai pulau-pulau koral kecil imut nan cantik seperti ini.

Togean (64)

Sekitar pukul 14.00 kapal mulai mendekati Pelabuhan Ampana dan terlihat banyak agen travel serta penduduk menunggu sejejar arah kedatangan kapal. Pelabuhan Ampana tidak sebesar dan semodern Pelabuhan Gorontalo, tetapi lebih besar dan lebih modern daripada Pelabuhan Wakai. Then i heard someone was yelling “ESTU… ESTU… I’ve been waiting for you and your bule friends” Oh my… I did’nt know that i had a fanatic fan there and did’nt expect this kinda welcome party. Ardi told me that our driver to Tentena was in the car and i had to follow him to find the car so i thought this crazy angry old guy was not our driver. I acted as someone else but that gray haired with bright green coloured jacket guy kept yelling my name “YOU MUST BE ESTU, ESTU… ESTU… YOU MUST BE ESTU… Lina has told me that you are wearing that colorful tshirt and accompanying 3 bules”. Pfffttttt. I could’nt act as someone else then. I put the blame on the one and only LINA, the manager of BM Resort in Togean. How could she gave my name to this crazy guy and made me feel ashamed in the middle of the crowd in a new place for me.

Saya menemui orang tersebut, yang ternyata dalah seorang ibu paruh baya, dan menanyakan apa maksudnya teriak-teriak memanggil nama saya. Dia mengatakan bahwa dirinya dihubungi Lina bahwa akan ada Estu yang memakai kaos warna-warni bersama 3 orang bule yang akan menyewa mobil ke Tana Toraja. Laknat banget ini si LINA pakai adegan sok baik mencarikan kami mobil ke Tana Toraja padahal itu cuma rencana kami pada saat masih galau di Togean. Saya jelaskan kepada Si Ibu itu bahwa itu hanya skenario sekilas yang ditanyakan Czech Gang ke Lina semalam sebelum kami memutuskan benar-benar mau ke mana. Tidak tahu dia kalau kami pada saat di kapal tadi memutuskan akan ke Tentena dulu. Saya benar-benar masih jengkel dengan Si Ibu yang meneriaki “ESTU… ESTU… KAMU PASTI ESTU” tadi dan tidak terima dengan kelakuan Lina. Akhirnya Si Ibu menelepon Lina untuk mendapatkan kepastian tentang calon korbannya ini dan meminta saya untuk berbicara langsung dengan Lina. Dalam obrolan di telepon beberapa detik tersebut, saya marahi Lina yang berani-beraninya berbuat sok baik mencarikan kami mobil dengan mengumpankan kami kepada mamak macan berambut silver ini. Setelah itu, bukannya melepaskan kami, Si Ibu malah tetap memaksa saya harus memakai mobilnya karena sudah dipesan oleh Lina. Dengan sama-sama bernada tinggi, saya menolak permintaan dia untuk memakai jasa sewa mobilnya walau dia bilang dia bisa mengantar kami ke Tentena saja, yang penting pakai mobil yang dia sediakan dan tidak peduli dengan Ardi siapalah itu yang telah kami pesan. LHO!!! Sak enake gundule dhewe ngono. Saya, yang benar-benar menjadi pusat perhatian seluruh penumpang kapal yang baru saja turun karena kelakuan ibu ini, kemudian mencari Ardi untuk bertanya bagaimana ini karena saya dipaksa menggunakan kendaraan yg diobjekkan ibu itu. Ardi mengatakan terserah saya saja kalau membatalkan mobil darinya. Bule-bule juga mnegatakan sudah apa saja lah yang penting sampai Tentena. Akhirnya saya kembali menemui ibu itu dan diminta melapor ke Tourist Information Center yang berwarna biru. Di depan tempat yang ditunjukkan Si Ibu, supir yang dipesan Ardi ternyata menemui saya dan bilang siap mengantar kami dan saya bilang ke dia kalau saya harus menyelesaikan urusan di kantor informasi dulu. Di tempat yang dibilang sebagai pusat informasi ini saya mendapati wanita lain yang sedang duduk bersila menaikkan satu kakinya ke atas kursi sambil merokor dan tidak memperhatikan kehadiran saya. WTH. Bagaimana pariwisata Indonesia mau bagus kalau sumber daya manuasianya tidak sopan dan sak enake udhele gini. Kemudian datanglah Si Ibu beruban yang mulai melepas jaket hijaunya sambil menanyakan kami mau ke mana. Saya bilang kami mau ke Tentena bertujuh, bukan langsung ke Tana Toraja seperti yang dibilang Lina, dan berangkat sekarang juga. Si Ibu dengan mudahnya bilang dia siap menyediakan mobil untuk kami sekarang juga. Saat saya menanyakan biaya sewa mobil ke Tentena, Si Ibu yang duduk di kursi bilang Rp1 juta dan saya bilang enak saja segitu, wong saya bisa mendapatkan mobil dengan harga Rp800.000 dari Ardi (padahal tadi deal-nya Rp850.000), dan ternyata mereka mau dengan tarif Rp800.000 tersebut. Iyalah yang penting tidak kehilangan mangsa kan?? HUH.

Tojo Una-Una (1)Segera saya ke luar kantor dan melihat mobil yang disediakan Si Ibu yang ternyata menggunakan mobil dan supir yang sama dengan yang ditawarkan oleh Ardi. Jadi ceritanya ibu ini mengakuisisi mobil dan supir yang tersedia untuk kepentingannya bisnisnya sesuka hati gitu kali ya. Tetapi saya pikir lumayan lah akhirnya dapat mobil yang lebih murah Rp50.000 dari hasil marah-marah dan tipu-tipuan dengan duo racun berkedok tourist information center ini.

Saya memanggil Bu Joko, Czech Gang, dan pasangan bule Prancis untuk segera masuk ke mobil dan cus ke Tentena. Dan dong, duo racun masih berupaya menjerumuskan agar kami harus makan saja dulu di warung dekat lokasi mereka. Saya kekeuh tidak mau makan di sini dan lebih memilih di warung agak jauh dari pelabuhan walaupun kata mereka bakal terkena penutupan jalan menuju Poso sehingga susah mencari warung yang buka. Akhirnya berangkatlah kami menuju tentena dengan disupiri Pak Mito yang juga jadi korban keganasan duo racun. Maaf ya Pak karena duo racun akhirnya pemasukan Bapak pasti berkurang karena seharusnya kami langsung membayar Bapak Rp850.000 tetapi jadinya hanya Rp800.000 dan itu pun melalui duo racun.

Ini dia Si Ibu “ESTU… KAMU PASTI ESTU”.

Tojo Una-Una (2)

Rincian pengeluaran dari Gorontalo, selama di Togean, hingga sampai di Ampana.

11 Mei 2015
Kapal Cengkih Afo ke Wakai @89.000      267.000
12 Mei 2015
Penginapan 2x3x200.000    1.200.000
Kelapa          30.000
Lobster      200.000
Alat snorkeling      180.000
13 Mei 2015
Kapal      850.000
Air 6×15.000 ¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† 90.000
Alat snorkeling      150.000
Share cost dari bule    (500.000)
Total    2.467.000
Per orang      822.333
14 Mei 2015
Kapal Kapia Touna ke Ampana          65.000
 Total pengeluaran 887.333

Island Hopping in Togean

It was 4 in the morning when Bunda Hani woke me up to borrow my flashlight as she would have a pee in the middle of darkness. The electricity¬†turn on at 5 pm and off at¬†10 pm with exception for charging that always on in most of time, btw. What i got when i reached my flashlight was so many ants surrounding Bu Joko’s and my leg on white covered bed then I and Bunda screamed. We found Bu Joko was still sleeping in peace like we had him last night without any distraction from all the crowd¬†we made and ant-attack.

I went out from our room at a quarter past five and walked around nearby the beach. I saw none there but me and beautiful sunrise. As i tried to reach the bridge in front of Kadidiri Paradise, i found that the connection door between Black Marlin and Kadidiri Paradise was still locked.

Togean (39)

The breakfast was ready at 7.

Togean (40)

While the Czech Gang were discussing to decide what they would do wether diving or island hopping with us, i went to the resort kitchen to find out what would be our lunch menu. I was just shocked with a flying ready-to-eat-breakfast plate, fork, and knife when i entered the kitchen. Lina, the resort manager, was upset to i did’nt know what and threw that things to the floor as she walked out from the kitchen to her room. Then i saw a young waitress was crying and some old women were in afraid while they still set the food onto the plate. Some employee said that angry Lina was their daily show and it was only a matter of time to get their turn. I went back to the restaurant and sat down with the Czech Gang again and they decided to join with me to do island hopping and snorkeling.

Togean (41)

We had to rent float, fin, and snorkel for Rp50.000 per person and buy a big size mineral water for Rp15.000 per bottle as provision beside the lunchboxes. When the boat was ready at a half past eight, we started our voyage to the first destination, California Reef. It took about 80 minutes by regular boat to reach the reef from BM.

Togean (72)

Dive Michal dive.

Togean (44)

David and Michal did enjoy their diving moment.

Togean (43)

As Michal knew that i could’nt dive, he took my picture from deep down the sea.

Togean (45)

Had a selfie moment with David.

Togean (46)

Bu Joko made a homage to the infamous national TV campaign in 90’s.

Togean (47)

Under the sea…. Under the sea… Why there was no mermaid??

Togean (37)

Bunda only did a little sight seeing nearby the boat because she could’t swim and afraid to go a bit far even the boat driver and float helped her. And Jan, as he finished to look around the site in 15 to 20 minutes, he went back to the boat and enjoyed the turquoise, blue, green seascape.

Togean (38)

Ough :O

Togean (68)

With the Czech Gang.

Togean (76)

Don’t you think that i had a sun-kissed and glowing face like Farah Quinn? Well, I only need a bule boyfriend with heavy chest hair then. #ngok

Togean (42)

And these are our favorite essential beauty products for summer trip.

Togean (69)

We moved to the next destination, Bajo Village where you could find a very long bridge connecting one island to another. It took about an hour boat trip from California Reef.

Togean (75)

We climbed the hill to get this view when it was about to rain. That far behind was the bridge. Togean (77)

A colorful laundry.

Togean (48)

Yes, im still looking for my partner in love and life. And i keep hoping its you. Togean (50)

There is a free hut to sit, relax, and enjoy our food where some local children will come to accompany us and you can share your food, stoyy, and laugh with them. We shared our lunch which contained a-too-many-rice, omelette, and fried noodle with them.

Togean (71)

When David showed them a magical trick with his yummy and cute face, they did like it and even tried to do it.

Togean (70)

You can give them candies, chocolate, noodle, toys, or whatever and they will be very happy to accept your gift.

Togean (79)

Im afraid with this scene. -.-

Togean (2)

Then we moved to jellyfish lake that took about 100 minutes by boat from Bajo Village. Togean (1)

It was a bit hard to get down to the water except by jumping and also to get out of it because there was no stair in the side of the lake. You didn’t have to wear a fin, just float and snorkel to keep the jellyfish from your fin movement. A a side-lake-house nearby the bridge was built to be a jellyfish shelter but had been floated by the stream to another side of lake. There were two kind of jellyfish here, the transparent and the yellow one. I was once being followed by the yellow jellyfish that made me scream and swam back to the side of the lake while it still followed me.

Togean (78)
Bunda said that the jellyfish lake in Kakaban has many more jellyfishes than here and easier to find.

Togean (73)

For me, this lake was a bit scary due to its atmosphere, water color, and depth. I imagined there would be a giant monster turned up from the water.

Togean (54)

Our next destination was a very serene and beautiful Karina Beach which took only 10 minutes boat trip from jellyfish lake. It felt like having and enjoying a private beach.

Togean (74)

That was our last destination from the island hopping that day then we went back to the resort at 4 pm and arrived 40 minutes later. When we arrived at our room and prepared to have a shower, i led my gang to the disunity when i told them what if i join the Czech Gang to Toraja by Thursday. Bu Joko said thats Ok and he might go to Luwuk before going back to Jakarta on Sunday. And Bunda, she surprised us by saying that she would go with Gema and follow him until Palu. I called the airline officer to find out is it okay to catch my flight from Palu to Jakarta in Makassar because i knew that it would be stop for a while in Makassar but the airline officer told me that i couldn’t do that. If i would reroute my flight, I had to pay like 4 millions for business class that still available from Makassar to Jakarta due to the end of public holiday on. I would’t spent that much money for a new ticket. I asked my friend i Jakarta to check another flight from Makassar to Jakarta that day but i still could’nt get the reasonable price one. #mateklahawak #forgetit

I, the Toli-Toli Gang, Bunda, Bu Joko, and Gema (the exotic lonely traveler boy and also Bunda muse) enjoyed our last dinner in Togean. We felt like a group of Indonesian migrant in Hongkong gossiping in the Victoria Park and surrounded by quiet foreigners. #HaveNeverBeenToHongkongBtw

Togean (55)

After having the dinner, i sat down with the Czech Gang again and made sure their schedule to Toraja. They asked Lina about public rent car to Togean and she said it could be Rp2.000.000. Then i called a travel agent in Ampana and he said Rp1.800.000. The Czech Gang did’nt deal with Lina and decided to meet the travel agent i called or another. Bunda was a bit confused with her decision to follow Gema, because she would be with him without me and Bu Joko. Bu Joko was the coolest one when he kept reading his book where there was a story about a very beautiful sunset at Luwuk that led him to visit it. Then everyone slept with their own planning and uncertainty for tomorrow.

Togean oh Togean

Pagi itu sekitar pukul 07.45 wita kami akhirnya menginjakkan kaki di Pelabuhan Wakai di Kepulauan Togean yang termasuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Tojo Una-Una, Provinsi Sulawesi Tengah. Di sekitar Pelabuhan Wakai ini kita ternyata bisa mendapatkan sinyal telepon untuk Indosat dan Telkomsel, tetapi tidak ada koneksi data di sini. Saat baru turun dari kapal, para wisatawan diminta menuliskan identitas masing-masing di sebuah buku semacam buku tamu yang mencantumkan nama, nomor paspor, masa berlaku paspor, negara asal, dan berapa lama akan tinggal di Togean. Di buku tamu yang dalam 1 halaman bisa memuat sekitar 30 nama hanya ada sedikit wisatawan lokal (kami bertiga), selebihnya wisatawan dari Eropa semua. Setelah mengisi buku tamu, kami menaiki kapal cepat milik Black Marlin (BM) yang sudah bersiap membawa kami bertiga, 3 orang wisatawan bule, 2 orang bule pelatih menyelam di BM, manajer BM, dan seorang adik pekerja BM yang mengemudikan kapal.

Togean (9)

Perkampungan penduduk di sekitar Pelabuhan Wakai.

Togean (10)

Hanya dalam waktu tempuh sekitar 15 menit, kami akhirnya tiba di Pulau Kadidiri¬†yang mempunyai¬†3 resor yang cukup ternama di Togean, yaitu Lestari Kadidiri (LK), Black Marlin (BM), dan Kadidiri Paradise (KP). Lautnya bening dan biru bingiiitsss…

Togean (14)

Tempat leyeh-leyeh manja sambil berjemur di BM.

Togean (15)

Manajer BM, yang bernama Lina, menyuruh si adik pengemudi kapal untuk membawa kami ke sebuah kamar yang katanya masih tersedia. Kami dibawa untuk melihat kamar yang letaknya agak jauh dari restauran BM dan malah mendekati KP. The rate of this deluxe bungalow was Rp300.000 per person per night which included 3 times meal. The room was beautiful and  the bed has a full mosquito net. You could add an extra bed but the rate was still Rp300.000 per person per night. It was a good offering but a bit pricey for our pocket then we looked around another room.

Togean (11)

The all standard rooms which rates Rp250.000 per person per night were full. And we stopped in this kinda economy room which rates Rp200.000 per person per night and have 2 double beds per room with the bathroom outside. There are only 2 economy room in BM.

Togean (12)

We dropped our belongings on the floor, and had a bit touch up before having our very first breakfast in Togean. The omelette and papaya were not my kinda breakfast. ūüėÄ

Togean (13)

Setelah sarapan, kami berencana untuk langsung island hopping bersama 3 bule Ceko yang bareng dari Gorontalo serta Wakai akan tetapi tidak ada kapal yang tersedia sehingga kami urungkan niat itu dan hanya snorkeling di pantai depan resor. The Czech Gang yang bersama kami namanya Jan, Michal, dan David. Mereka sudah hampir 2 pekan di Indonesia dan sudah lebih dari 1 bulan pergi dari negaranya. Jan dan David sedang berada di Nepal saat negara itu diguncang gempa. Setelah dari Nepal, mereka dan Michal bertemu di Jakarta sebelum berkeliling Indonesia. Mereka bertiga sempat beberapa hari di Jakarta, meskipun hanya sempat mengunjungi Monas dan menginap di homestay di pinggiran Jakarta, sebelum melanjutkan perjalanan ke Gorontalo. Selama seminggu tinggal di Gorontalo, 3 bule ini menginap di rumah salah satu anggota coachsurfing yang mau menjamu mereka berkeliling Gorontalo. I met them on the boat from Gorontalo to Wakai.

Pada waktu makan siang. dengan menu nasi putih dengan terong goreng tepung dan telur balado dan para turis lokal dikumpulkan dalam 1 meja makan besar, kami bertemu 2 wisatawan dari Manado yang sedang mengajak teman mereka dari Hongkong untuk menikmati Togean. Mbak Manado dkk ini sudah beberapa hari tinggal di BM dan mereka ternyata baru saja trekking ke sebuah pantai di bagian lain Pulau Kadidiri dari belakang resor. Objek yang tepat bagi kami dan Czech Gang untuk siang nanti.

Bunda Hani leyeh-leyeh cantik.

Togean (20)

Setelah matahari agak turun, kami dan Czech Gang mulai jalan-jalan ke sekitar BM. Pertama ke sisi kanan yaitu ke Kadidiri Paradise.

Togean (19)

Kadidiri Paradise ini punya tempat leyeh-leyeh yang khas berupa gazibu dengan jembatan panjang di depan resornya.

0Togean (17)

BM dan Kadidiri Paradise dipisahkan oleh pintu dan bungalo di dekat pantai yang membuat kita harus masuk ke dalam air laut setinggi paha atau lutut tergantung ketinggian air laut jika ingin melintas secara ilegal pada saat pintu ditutup. Beruntunglah kami karena siang itu ada beberapa bule yang baru saja melihat Kadidiri Paradise, lalu ke BM dan balik lagi ke Kadidiri Paradise sebelum memutuskan mau menginap di mana sehingga pintu penghubung masih dibuka. Bungalo di Kadidiri Paradise.

Togean (18)

Dari sisi kanan BM, kami berpindah ke bagian kiri ke Lestari Kadidiri. Lestari ini penginapan yang terlihat kering dan panas tanpa tempat leyeh-leyeh manja di bawah pohon atau gazibu seperti 2 tetangganya.

Togean (21)

Bagi bacpacker, Lestari Kadidiri ini sangat cocok tarifnya karena per orang per malam hanya sekitar Rp150.000 untuk kamar seperti di bawah ini dan hanya tersedia beberapa kamar saja di sini yang mana saya tidak melihat bule-bule menginap di sini.

Togean (22)

Kalau soal keramahan, Lestari Kadidiri ini mempunyai karyawan yang ramah-ramah dan lucu. Seperti Mas-Mas yang sedang bermain musik ini. Mas pemain gitar adalah warga asli Togean, sedang yang duduk merokok merupakan orang Bajo. Kami kemudian menanyakan jalan menuju pantai di belakang dan malah dipinjami si Udin, anjing resor Lestari Kadidiri, untuk menjadi pemandu jalan kami.

Togean (23)

Under coconut trees.

Togean (25)

David captured moment a minute away before the beach.

Togean (24)

Dan ternyata ya, untuk menuju pantai di balik bukit di belakang resor, kami hanya perlu berjalan sekitar 30 menit dengan santai dan masih bisa foto-foto, dan sedikit meraba-raba jalan karena terkadang agak membingungkan walau sudah dibimbing Udin. Pantai ini terletak di arah jalur kedatangan kapal dari Gorontalo ke Wakai sehingga tadi pagi saat KM Cengkih Afo akan berlabuh di Wakai, kami sudah melihat pantai ini dari kapal. Kami sempat minta diambilkan kelapa oleh mas-mas yang bekerja mencari kelapa untuk dijadikan kopra dan tinggal di gubuk sementara di tepi pantai. Mas-mas ini sudah sebulan tinggal di Pulau Kadidiri yang tidak begitu luas ini untuk memetik buah kelapa sebelum berpindah ke pulau lain yang kelapanya masih banyak dan akan mereka petik.

Togean (26)

Sekitar 45 menit kami bermain-main dan menikmati kelapa di pantai ini sebelum akhirnya kembali ke resor. Di perjalanan menuju BM, kami sempat hampir salah jalan menuju Baracuda Resort, resor baru yang masih dalam pembangunan, yang berada sederet dengan pantai di saat ada jalan bercabang dan Udin sedang entah lari ke mana. Untungnya ya mas pemetik kelapa sedang berjalan tidak terlalu jauh di belakang kami untuk menemui temannya yang sedang membersihkan semak-semak untuk menandai bahwa daerah tersebut telah mereka panen kelapanya.

Sekitar pukul 16.00 wita kami tiba kembali di BM dan disambut nelayan yang sedang menawarkan lobster hasil tangkapannya kepada para bule.

Togean (4)

Awalnya sih lobster ini ditawarkan dengan harga Rp200.000 per kg dengan isi antara 3-5 ekor tetapi setelah dirayu-rayu dan saya tinggal untuk gegoleran bentar menikmati sinar matahari sore, eh si pak nelayan menghampiriku dan menawarkan harga Rp150.000 tetapi langsung saya minta Rp100.000 saja. Dan syukurlah bapaknya mau dengan harga tersebut dan saya boleh memilih 5 buah lobster. Ukuran 1 kg lobster ternyata hanya perkiraan bapaknya saja jadi suka-suka dia menentukan kalau agak besar dapat 4 ekor, kalau agak kecil dapat 5 ekor. Tidak kecil juga kan lobster yang saya dapat? Cantik-cantik pula hanya dengan Rp100.000.

Togean (27)

Gegoleran dengan (David dan) Udin yang masih mengikuti kami walau sudah kembali ke BM.

Togean (28)

Pada saat hari hampir senja, kami baru menyadari ternyata ada rombongan wisatawan lokal yang sedang mandi-mandi cantik di dekat gazibu tempat pemberhentian kapal. Mereka ternyata 5 anak muda dari Toli-Toli yang juga baru pertama kali ke Togean dan menggunakan jasa agen travel untuk mengurusi perjalanan mereka ke sini.

Togean (29)

Andai saja aku bisa menikmati senja di sini bersamamu.

Togean (31)

Kami menikmati makan malam dengan menu ikan goreng, sambal dabu-dabu yang tak pedas sesuai selera bule, dan lodeh terong. Walaupun terong lagi terong lagi tetapi enak kok. #TimTerong

Togean (32)

Pada saat makan malam, ada seorang bule dari Belanda yang merayakan ulang tahun dan diberi kejutan oleh si cowoknya. Si cewek meniup lilin yang ditancapkan dalam puding coklat yang dipesan khusus kepada pihak resor sebagai pengganti kue.

Togean (33)

Setelah makan malam, saya menemui Lina selaku manajer resor untuk memastikan rencana island hopping kami besok. Harga sewa per kapal adalah Rp850.000 termasuk bbm dan pengemudi untuk seharian dari pukul 08.00 sd 17.00. Czech Gang sih masih galau apakah mau bergabung dengan kami atau mau menyelam. Mereka masih memikirkan apakah jika mereka menyelam akan mendapatkan titik-titik penyelaman yang bagus atau hanya celup-celup sikit dan rugi membayar mahal.

Kita tinggalkan para bule galau untuk menikmati menu lobster yang saya minta tolong kepada ibu koki di resor untuk dimasak dan dia rekomendasikan dimasak saus padang. Dari 5 ekor lobster yang saya beli, hanya jadi 4 ekor karena yang 1 gosong pada saat dimasak. Untuk acara makan lobster ini, saya mengundang Czech Gang dan teman baru Bunda Hani, seorang wisatawan lokal yang sedang menunggu sidang skripsi di Surabaya. Lobster saus padang dan kacang Sihobuk yang sudah saya bawa.

Togean (34)

Walaupun awalnya merasa kepedesan, akan tetapi Czech Gang merasa puas dengan enaknya lobster saus padang yang ditutup dengan makan kacang Sihobuk agar tidak terlalu kepedesan. ūüėÄ

Togean (35)

Perut kenyang, badan pegal, maka saatnya untuk pijat. Michal dan David menikmati pijat yang dilakukan oleh para juru masak resor yang telah selesai menjalankan tugas di dapur. Untuk pemijatan selama 1 jam yang dilakukan oleh 2 ibu dengan bantuan 2 mas-mas ini, tarifnya adalah Rp100.000. Jadi upah pijat Rp200.000 dari Michal dan David dibayarkan kepada pengelola resor Rp100.000, dan kepada masing-masing pemijat Rp25.000.

Togean (36)

Saat pijat-pijat ini, saya juga turut serta dalam proses pemijatan Michal dan David. Badan bule-bule ini kalau kata Ibu pemijat¬†tidak begitu keras dibanding badang orang Indonesia dan memijatnya pun cukup di-emek-emek¬†tanpa memerlukan teknik pemijatan yang biasa diinginkan orang kita. Selain itu, saya juga baru tahu kalaurumah para pekerja ini di pulau-pulau sekitar Kadidiri tetapi mereka jarang pulang apalagi kalau sedang banyak tamu karena mereka harus sudah mulai siap-siap memasak dari pukul 5.00 wita dan baru selesai setelah makan malam yaitu pukul 20.00 wita, belum lagi jika ada permintaan khusus dari para wisatawan seperti memasak ini itu atau memijat maka bisa-bisa mereka baru selesai bekerja pukul 21.00 atau 22.00 wita. Dengan bayaran tetap yang tidak begitu tinggi tetapi harus melayani wisatawan yang cukup banyak dari pagi sampai malam, saya merasa iba dengan kondisi pegawai di resor ini. Menurut mereka, KP dan BM merupakan resor yang banyak wisatawannya tetapi memberikan upah kepada karyawannya tidak lebih baik daripada resor biasa yang hanya mempunyai beberapa tamu. Setelah adegan pijat-pijat ini, saya kembali menemui Bunda Hani yang masih asyik mengobrol dengan “teman” barunya di tempat makan lobster tadi dan akhirnya sekitar pukul 22.00 wib kami bubarkan acara karena lampu-lampu sudah mulai dipadamkan oleh pihak resor. Pada saat masuk kamar, kami mendapati Bu Joko ¬†sudah tertidur pulas dalam gelap dan¬†ternyata kami bisa memandangi bintang-bintang yang terlihat sangat banyak, indah, dan bertaburan di langit. Bunda dan saya sempat berebut lokasi kasur yang berada di dekat jendela yang menghadap ke pantai agar bisa menyaksikan indahnya bintang-bintang saat itusambil rebahan galau sebelum tidur tetapi akhirnya Bunda-lah yang menguasai singgasana tersebut.

Semalam di KM Cengkih Afo

 Setelah memegang tiket kelas bisnis KM Cengkih Afo, kami masuk kapal yang saat itu masih sepi. Akan tetapi, karena AC belum dihidupkan dan kapal yang agak bergoyang-goyang maka kami kemudian turun lagi untuk ngeteh di sebuah warung yang banyak digunakan oleh para pekerja dan ABK di Pelabuhan Penyeberangan Gorontalo.

Cengkih Afo (1)

Saat waktu menunjukkan pukul 17 wita, kami kembali mendekati kapal untuk duduk-duduk saja di depan pintu masuk kapal. Dan baru sekitar pukul 18.00 wita kami kembali masuk ke kapal dan duduk di kursi tempat kami meletakkan tas. Baru duduk sebentar, saya memutuskan untuk naik ke buritan kapal melalui ruang ABK dan mengambil foto senja. Cantik kali ternyata pelabuhan yang sangat panas di siang hari.

Gorontalo (23)

Dari sisi buritan sebelah yang menghadap lautan nampak kapal-kapal nelayan dengan lampu warna-warninya yang sepertinya akan berangkat melaut.
Gorontalo (24)

Sekitar pukul 18.30 wita di saat kami sudah berkumpul dan duduk ayem di kursi dan saya bersiap makan malam, tiba-tiba Bu Joko diajak ngobrol seorang bapak yang duduk di belakang kami. Dia bertanya kami akan ke mana, apakah pertama kali datang ke Togean, mau menginap di mana, kapan balik, dsb. Enak sih si sepertinya cara berkomunikasi bapak ini. Akhirnya setelah selesai makan, saya nimbrung obrolan mereka dan baru mengetahui kalau si bapak ini seorang free lance yang baru saja mengantar bule pelatih menyelam di salah satu resor untuk mengurus perpanjangan izin tinggal atau apa gitu di Kantor Imigrasi Gorontalo. Si Bapak kemudian bilang kalau Togean itu semuanya indah, jadi mau menginap di mana saja semuanya indah. Dan terkait jadwal kepulangan yang kami rencanakan di hari Sabtu, si bapak bilang bahwa kapal tidak ada di hari Sabtu sehingga kemungkinan kami harus menyewa kapal ke Pelabuhan Ampana di hari itu.

Saya sebelumnya telah menyusun rencana perjalanan ke Togean dari membuat daftar perbandingan harga, fasilitas, dan komentar pengunjung resor, serta mencari informasi tentang jadwal kapal, pesawat, dan ada apa saja di Togean. Setelah melalui perang batin yang cukup panjang, saya akhirnya melakukan komunikasi melalui surel aka email secara intensif dengan Ales, bule pengelola Waleakodi Sifa Resort, yang menurut hasil riset saya di internet merupakan pilihan yang paling sesuai dengan keinginan dan bujet kami. Menurut revisi rencana perjalanan yang saya rencanakan terkait perubahan jadwal kapal karena perbaikan Kapal Tuna Tomini, jika kami tiba di Wakai hari Selasa pagi maka kami akan melanjutkan dengan menggunakan kapal umum menuju Pelabuhan Malenge sebelum dijemput kapal resor menuju Sifa Cottage. Saya rencanakan untuk tinggal di Sifa hingga hari Kamis lalu pindah ke Poya Lisa lalu pada Sabtu pagi baru menuju Ampana. Saya juga sempat menghubungi Pak Edi dari Ampana Travel yang berkedudukan di Pelabuhan Ampana di nomor 082349951833, yang merupakan penghubung jika kita ingin menginap di Poya Lisa, Marina, serta Lestari Resort karena keterbatasan sinyal telepon di Togean. Pak Edi menawari saya sewa kapal selama 4 hari selama dari saat tiba di Togean, ke Sifa Cottage, island hopping, pindah ke Poya Lisa, mengantar kami ke Tanjung Api hingga ke Pelabuhan Ampana. Paket yang ditawarkan Pak Edi sebenarnya sangat terjangkau asalkan kami berjumlah sekitar 10 orang, akan tetapi kami hanya bertiga, bagaimana dong. Saya sempat membuka open trip di kaskus, twitter, dan coachsurfing tetapi cukup mendadak hanya dalam kurun waktu seminggu sebelum keberangkatan sehingga tidak mendapat tambahan teman untuk berbagi biaya. Walhasil, saya, Bu Joko dan Bunda Hani memutuskan untuk tidak menerima tawaran Pak Edi dan memilih akan ngeteng dengan kapal umum saja.

Cengkih Afo (2)

Kembali tentang saran si bapak di kapal, saya yang pusing pala barbie tentang jadwal kami di Togean jika tidak ada kapal di hari Sabtu selama Tuna Tomini perbaikan dan tidak ada kapal umum ke Ampana pada hari Jumat memutuskan untuk mencari second opinion dari ABK yang sudah beberapa kali saya ajak ngobrol sejak pagi tadi pertama ke kapal. Dari hasil diskusi tersebut ternyata rencana perjalanan yang saya buat ada yang melenceng di mana untuk keberangkatan ke Togean saya menggunakan jadwal kapal terbaru yang dikirimi Ales beberapa hari sebelum keberangkatan, sedang untuk jadwal ke Ampana saya masih memakai jadwal kapal lama. Dengan kondisi tersebut memang kami akan tiba lebih cepat di Wakai, Togean pada hari Selasa pagi dengan KM Cengkih Afo, berbeda dengan jadwal KM Tuna Tomini yang akan berlabuh di Wakai pada Rabu pagi, akan tetapi kapan dan bagaimana cara kami ke luar Togean menuju Ampana dengan hemat jika tidak ada kapal umum pada hari Sabtu.

Cengkih Afo (3)

Saya kembali ke kursi dan kembali mengikuti pembicaraan Bu Joko dan si bapak. I told him that i realized my mistake about the old and new ferry schedule. Then i, Bu Joko, and Bunda Hani reached a decision to move to Black Marlin Resort (BM) which is close enough to Wakai harbour. Si Bapak yang sejak mengetahui kami mau ke Sifa sudah bilang kalau Sifa itu jauh sehingga membuang-buang waktu kami untuk berpindah-pindah pulau dan kapal, berbeda dengan Black Marlin yang letaknya lebih strategis tersenyum menyeringai. Walaupun si bapak habis mengantar 2 bule pelatih selam di BM untuk mengurus dokumen di Imigrasi Gorontalo, dia bilang bukan agen BM dan free lance membantu turis-turis, dan dia akan melanjutkan perjalanan ke Ampana di mana dia sekarang mengurus bisnis tournya. Dia bertanya kepada 2 bule dari BM tentang ketersediaan kamar di sana dan mereka bilang ada sehingga kami bisa menginap di sana. Sehubungan perubahan tempat menginap dadakan tersebut dan mumpung masih ada koneksi data, maka saya segera mengirim surel ke Ales untuk memberitahunya bahwa kami tidak jadi menginap di Sifa karena alasan ketersediaan kapal sehubungan dengan perbaikan KM Tuna Tomini. Surel terkirim sesaat sebelum kapal mulai meninggalkan pelabuhan pada pukul 20.15 wita di mana saat itu ada mas ABK yang menunjukkan cara pemakaian pelampung layaknya pramugari pesawat. Pertama kali melihat adegan seperti ini karena pada saat naik kapal dari Gunung Sitoli ke Sibolga atau dari Merak ke Lampung saya tidak mendapati adegan seperti ini.
Gorontalo (25)

Bunda dan Bu Joko yang sudah terlelap walaupun belum menyantap makan malam yang sudah kami beli di Gorontalo. Si Bunda takut mabok seperti di travel dari Manado ke Gotontalo. Kebetulan keadaan penumpang kapal malam itu tidak terlalu penuh yang mungkin disebabkan banyaknya calon penumpang yang tidak mengetahui perubahan jadwal kapal. Kami bisa selonjoran tidur.
Gorontalo (22)

Keesokan harinya saya sudah bangun sekitar pukul 5.30 dan langsung ke buritan kapal lewat ruang ABK lagi. Sebenarnya ada tangga ke buritan dan ruang penumpang ekonomi di belakang ruang penumpang bisnis akan tetapi pintunya agak rusak sehingga dikunci.
Togean (6)

I wish you were here and we made a homage to the infamous Titanic’s scene. You know, what i mean is neither the drawing nor the in the car scene, but the Im-flying scene when Leo hugged Kate from behind. ūüėÄ
Togean (5)

When i was so mandele, this beautiful German lady who just visited Bawean Island for about 10 days. I have never been to the island and that was her second visit after last year.

Cengkih Afo (5)

Colorful boat.

Cengkih Afo (6)
Naik-naik sampai ke bagian atap kapal segala.
Togean (8)
Dan akhirnya kami melihat pulau-pulau kecil di Togean kemudian kapal cepat BM melintas untuk menjemput kami dari pelabuhan Wakai menuju resor bersama 2 bule pelatih selamnya serta David, Jan, Michael.
Togean (7)

Go Go Let’s Go to Gorontalo

Minggu sore menjelang Maghrib itu,  dengan menggunakan Travel Garuda (081340041128) yang telah kami hubungi pada Sabtu malam saat berada di rumah Ika, kami menuju Gorontalo dari Manado.. Travel Garuda banyak jenisnya di Manado tinggal pilih saja mau dan dapat yang mana. Jenis mobil sih beda-beda tipis antara Xenia, Avanza, gitu-gitu lah. Tersedia jadwal keberangkatan dari Manado pukul 8.00, 10.00, dan 14.00 untuk hari Senin-Sabtu, dan jadwal tambahan pada pukul 16.00 dan 18.00 khusus hari Minggu atau setelah libur panjang. Biaya travel Manado ke Gorontalo dibedakan dari posisi kursi kita, untuk posisi duduk di samping kursi harganya Rp200.000, untuk kursi di deret tengah, seperti kami saat itu, seharga Rp175.000, dan kursi di deret belakang Rp150.000.

Awalnya kami ingin langsung diantar ke pelabuhan saat tiba di Gorontalo, tetapi apa daya karena perjalanan yang berkelak-kelok walaupun jalannya halus dan mulus, ditambah Bunda yang mabok maka kami memutuskan untuk menginap di Hotel New Melati, Gorontalo. Tarif hotel ini sangat bersahabat bagi backpacker, seperti kamar kami yang tarifnya Rp130.000 per malam dengan 2 kasur, kamar mandi dalam, kipas angin, dan ruangan yang bersih. Kami tiba di hotel ini sekitar pukul 2 dini hari setelah sebelumnya mengantar Clay dan Ibunya dulu ke dekat Limboto baru meluncur ke kota. Ada beberapa hotel juga di Jalan Ahmad Yani, Gorontalo, tetapi terlihat tarifnya pasti di atas Hotel New Melati  sehingga kami memutuskan untuk menginap di hotel yang terletak di Jalan Walter Monginsidi, dekat Kantor Walikota dan Lapangan Nani Wartabone ini.

Gorontalo (4)

Sekitar pukul 6.30 saya jalan-jalan ke Lapangan Nani Wartabone yang berada di seberang hotel. Lapangannya cukup bersih walaupun ada beberapa pedagang yang menjual air minum di situ yang justru ikut membantu menyapu sebagian lapangan di sekitar lokasi dia berjualan.

Gorontalo (26)

Setelah duduk-duduk di lapangan dan mengobrol dengan seorang ibu penjual minuman, saya menuju Warung Nasi Kuning Gorontalo “Sukarame” yang berada di belakang Kantor Wali¬†Kota Gorontalo. Warung ini walaupun sepertinya hanya terletak di samping rumah tetapi ramai pembeli. Anda bisa memesan makanan di warung ini dengan menghubungi 085298153451. Nasi kuning komplit dengan rempeyek dan kuah serta telur rebus ini seharga kurang dari Rp30.000. Rasanya endeeuuusss… muachhh.
Gorontalo (5)

Setelah kenyang sarapan, saya jalan-jalan di sekitar Jalan Ahmad Yani. Foto sana-sini lalu melaksanakan misi utama untuk pergi ke Pelabuhan Gorontalo untuk membeli tiket kapal ke Togean. Saya bertemu dengan seorang pengemudi bentor, Pak Ryan (082346837054), yang saya minta untuk mengantar saya ke pelabuhan dan sekalian berkeliling hari itu. Gorontalo adalah kota bentor, barangkali ada ribuan bentor tersebar di seluruh penjuru kota ini. Patokan tarif bentor di sini juga murah meriah dan bisa ditawar. Oughh… my¬†face. ūüėÄ
Gorontalo (8)

Melewati Jembatan Talumolo yang merupakan penghubung 2 bagian Gorontalo yang dipisahkan Sungai Bone.
Gorontalo (6)

Waktu tempuh dengan bentor dari kota ke pelabuhan sekitar 30 menit dengan pemandangan yang luar biasa indah melewati pinggir laut di Jalan Trans Sulawesi. Saat tiba di Pelabuhan Penyeberangan Gorontalo, saya disambut baliho penyambutan Ignasius Jonan yang sepertinya beberapa saat yang lalu datang ke tempat yang sedang dalam pembangunan ini. Kemudian saya ke loket tiket, tetapi ternyata loket masih tutup. Usut punya usut dengan bertanya kepada bapak-bapak pejabat pelabuhan di salah satu ruang kantor, ternyata loket tiket baru akan dibuka pukul 15.00 wita. Yaksip.

Agar tidak kembali dengan tangan kosong, saya akhirnya melihat-lihat Kapal Cengkih Afo dari dekat lalu minta izin kepada ABK atau semacam manajer kapal untuk masuk dan foto-foto di kapal yang sedang membongkar muatan yang dibawa dari Ampana. Pagi itu ternyata merupakan kali pertama kapal ini berlabuh di Gorontalo untuk menggantikan Kapal Touna Tomini yang merupakan kapal utama yang menyeberangkan penumpang dari Gorontalo, Wakai di Togean, hingga Ampana dan sebaliknya, yang sedang diperbaiki hingga sekitar awal Juni. KM Cengkih Afo ini biasanya melayani rute dari pelabuhan Bumbulan di Paguat menuju Dolong lalu Ampana dan sebaliknya. Muatan utama Kapal Cengkih Afo ternyata adalah jagung pipil kering dari Ampana. Konon jagung Gorontalo yang terkenal juga ternyata banyak yang disuplai dari daerah sekitar Ampana yang dikirim dengan memakai kapal seperti yang saya lihat pagi itu.

Saya puas mengelilingi kapal pagi itu karena bisa melihat kapal yang sedang dibersihkan, jadi teringat kapal Teratai Marin di Manado, dari bagian geladak, buritan, anjungan, kursi penumpang bisnis dan penumpang ekonomi, hingga tempat ABK. Saya juga sempat bertanya kepada ABK dan bapak manajer tentang harga sewa kamar, yang biasanya merupakan kamar ABK, tetapi mereka tidak ada yang tahu karena biasanya ditentukan oleh agen perjalanan yang membawa bule. Karena saya pikir sudah cukup, maka saya mengajak Pak Ryan untuk kembali ke kota saja.
Gorontalo (11)

Beginilah pemandangan di jalan dari arah Pelabuhan ke Kota Gorontalo atau sebaliknya.
Gorontalo (12)

Pelabuhan bongkar muat peti kemas yang berada beberapa ratus meter sebelum pelabuhan penyeberangan.
Gorontalo (13)

Dari pelabuhan, saya sempat mampir ke Jalan Arif Rahman Hakim untuk selfie di depan KPP Pratama Gorontalo. ūüėÄ

Gorontalo

Dan akhirnya saya sampai lagi di hotel.

Gorontalo (14)

Dengan tarif kamar Rp130.000, hotel macam ini yang kami dapatkan dan ternyata banyak bule yang menginap di sini. Bule juga hemat, cyyyyn.
Gorontalo (15)

Saya sempat tidur-tidur ayam selagi menunggu Bu Joko yang sedang berkeliling ke Danau Limboto. Saya yang semalaman di travel tidak tidur karena siaga demi yang Bunda mabok dan setelah di hotel cuma tidur sekitar 1 jam memutuskan untuk tetap di hotel saja, padahal pengen banget ke Danau Limboto dan Benteng Otanaha di dekatnya.
Gorontalo (17)

Setelah Bu Joko tiba di hotel, kami mengemasi barang-barang, checkout, menitipkan tas di lobi, lalu naik bentor Pak Ryan bertiga ke Rumah Makan Nur Alam khas Gorontalo yang berada di Jalan Nani Wartabone, Gorontalo. Menu di rumah makan ini beraneka ragam dari ikan, daging ayam, gorengan, sayur.

Gorontalo (19)

Selain makan di tempat, kami juga membungkus untuk makan malam di kapal. Konon nasi dan masakan orang Gorontalo bisa bertahan lebih lama daripada masakan umumnya kerna teknis memasak yang lebih ulet dan sabar. Porsi makanku siang itu yang terdiri dari nasi seabreg, sayur terong, bakwan, tempe goreng, cumi-cumi, dan sayur pisang. Sayur pisangnya endeuuuss. Bukan karena aku penggemar pisang ya, apalagi pisang lokal yang segar, besar, dan panjang, tetapi karena pisang muda yang dimasak kuah santan di sini memang enak. Makan 3 porsi di tempat dan 3 bungkus untuk di kapal harganya Rp110.000.
Gorontalo (16)

Setelah makan siang yang hampir pukul 14.00 wita tersebut, kami meluncur ke toko kain krawang (atau karawang atau karawo) dan peci rotan Gorontalo yang sebenarnya sudah dikunjungi Bu Joko setelah dari Danau Limboto. Nama tokonya adalah Toko Cahaya Krawang di Jalan Jenderal Katamso nomor 3, Gorontalo 9616 telp. 0435 821464 atau 824310. In this store, i did’nt care about that rattan head cap, i just focused on every single piece of krawang fabric. I was amazed by the colorful¬†hand-crafted embroidery on the fabrics. Their magic led me to buy about 7¬†pieces of krawang veil and 7 pieces of krawang clothing¬†fabric.

Based on www.indonesia.travel krawang embroidery now adorns not only women’s clothing, but men’s as well. Krawang motifs are also used on tablecloths, ties, wallets, caps, handkerchiefs, scarves, ties, fans and a variety of other accessories. Making a piece of krawang fabric can take anywhere from one week to one month. How long it takes is determined by several factors such as the type of fabric, the type of yarn used for embroidery and the intricacy of the designs. Obviously, a more intricate pattern would take much longer than a simple one. The quality of fabric, level of workmanship, complexity of patterns and the color combinations will ultimately determine the selling price.

Price range of krawang clothing fabrics are about Rp120.000 to 200.000 for a piece of top with standard embroidery detail meanwhile for the full embroidery fabrics like the three red krawang below are listed above Rp350.000 to a million. A piece of krawang veil is about Rp50.000.

Gorontalo (10)

There is also a six meters krawang fabric for a floor length dress for woman which costs about Rp300.000. By the way, i didn’t own it all, a half of those pieces was requested by my buddy, Jealeou. And i brought it all to Togean for the shake of photoshot that i intended to do in the island. For those interested in krawang fabric, there are several centers of the art in Gorontalo like Menara Ilmu or Tower of Science, is one of the most well-known krawang centers, and Pondok Karawo, both are located in Bulota Village, Limboto, Gorontalo.

krawangSetelah berbelanja, kami buru-buru ke hotel untuk mengambil tas, memanggil bentor 1 lagi, dan segera menuju Pelabuhan Penyeberangan Gorontalo karena saat itu sudah sekitar pukul 14.40 wita.
Gorontalo (18)

Loket tiket di Pelabuhan Gorontalo pada saat kami datang ternyata belum buka dan masih sepi juga walaupun sudah pukul 15.15 wita. ternyata selain ke Ampana, ada juga kapal ke arah Pagimana di dekat Luwuk. Terlihat mbak dan mas yang jaga loket sedang sibuk mempersiapkan aneka kelas tiket dan printilan sebelum membuka loket. Mereka ramah-ramah dan cukup informatif lho ditanya-tanya walaupun masih sibuk persiapan membuka loket.

Gorontalo (20)

Sambil menunggu loket buka, kami juga sempat mengorbol dengan Bu Haria Kuke yang berasal dari wilayah dekat Ampana dan baru saja mengunjungi anaknya yang telah menetap di Gorontalo bersama suaminya. Ibu ini aslinya bernama Haria Pancaroga di mana Parancoga merupakan marga Bu Haria yang diwarisi dari bapaknya sejak dia lahir akan tetapi karena Bu Haria menikah dengan Pak Abdul Latif Kuke maka namanya berubah jadi haria Pancaroga. Akan tetapi Pak Abdul telah meninggal dunia sehingga Bu Haria kini kembali memakai nama Hria Pancaroga yang diberikan oleh orang tuanya. Belum terlalu banyak bertanya juga sih tentang tata cara pemargaan di daerah Bu Haria.Akhirnya sekitar pukul 15.45 wita, mas dan mbak penjaga loketnya mempersilakan kami membeli tiket. Harga tiket kapal kelas binis dari Gorontalo ke Wakai adalah Rp89.000, sedangkan yang ekonomi Rp64.000, sedangkan jika sampai Ampana maka harganya Rp147.000 untuk yang bisnis dan Rp122.000 untuk yang ekonomi.

Berikut ini daftar tarif kapal dari Pelabuhan Penyeberangan Gorontalo.

1. Daftar tarif kapal dari Gorontalo-Wakai

Jadwal kapal (3)

2. Daftar tarif kapal dari Gorontalo-Wakai-Ampana.

Jadwal kapal (2)

3. Daftar tarif kapal Gorontalo ke Pagimana.

Jadwal kapal (1)

Berpose dengan tiket yang sudah di tangan. ūüėÄ

 

Gorontalo (21)

Saatnya kami memasuki kapal dan bersiap-siap menuju surga dunia di Togean.

*Rincian pengeluaran bersama di Gorontalo:

Travel @175.000      525.000
Camilan          42.000
Makan          91.000
Hotel New Melati      260.000
Makan di Nur Alam      110.000
Bentor          80.000
TOTAL    1.108.000
Pengeluaran per orang      369.333

Baby Clay

Gorontalo (3)

Oh gosh…. we met this very good loking, adorable, and cute toddler when we were on our way from Manado to Gorontalo. His name is Clay, a son of a court secretary in Boalemo Regency, Gorontalo Province. Her mother origin is Manado, but she has to work in Boalemo Regency. On Friday evening she takes a public travel ride from Boalemo to Manado and has to go back to Boalemo on Sunday evening, with her baby ¬†boy since he was like 3 months. Her husband is a worker in Manado city and the whole family are also there. He loves dancing while listening to dangdut music. We played him some dangdut music like goyang dumang, sakitnya tuh di sini, etc from Bunda’s mobile phone when he was wide awake.¬†The cover photo was taken near to Limboto city, a¬†regency seat of Gorontalo Regency at 2 am when they were dropped from public travel before continuing their trip by taking another public travel to Boalemo for about 2 hours, and the photo below was taken in a food stall i-didn’t-know-where¬†in between Manado and Gorontalo at 10 pm.

Gorontalo (1)

Manado do fa mi re do

Saat mendarat di Manado, saya ke luar pesawat agak belakangan agar tidak bertemu dengan si mbak anonoh yang sudah saya nikmati ceritanya selama penerbangan Ternate-Manado. Setelah tengok kanan-kiri dan melihat kalau si mbak masih menunggu bagasi, maka saya segera mengajak Bu Joko dan Bunda Hani untuk segera ke parkiran mencari Ika, sahabat lamaku sekaligus teman sebangku waktu kuliah, yang akan mejemput kami di bandara bersama suami dan anaknya. Kami yang hanya sarapan bubur kacang hijau dan ketan hitam di pinggir Pantai Falajawa, Ternate dan makan roti yang diberikan pesawat merasakan kelaparan yang amat sangat sore itu. Ika berinisitif mengajak kami makan di suatu restoran yang ngeheits abis di perbukitan pinggiran Kota Manado eh tetapi pas mau parkir ada anjing sehingga Ika memutuskan untuk pergi saja ke tempat lain. Di tempat makan kedua yang seperti saung ini, ada anjing yang berjalan-jalan di dekat parkiran, tetapi kami memutuskan untuk masuk saja. Kami sudah duduk dan memegang daftar menu saat tiba-tiba Bu Joko yang baru datang ditanyai mau makan apa dan dia jawab selain ikan. Kami lupa bahwa dia tidak makan ikan dan ternyata di rumah makan ini hanya menyediakan ikan (atau daging sapi), tidak ada daging ayam atau pun telur ayam di sini.

Manado (1)

Akhirnya kami memutuskan untuk mencari tempat makan yang mengakomodasi keunikan kami di kota dan terpilihlah Warung Bebek Kang Narto di Jalan Martadinata, Manado ini. Nayla, anak Ika yang pertama yang lahir pada awal 2011 pada saat saya dan Ika masih kuliah bareng dulu, sekarang sudah besar. Ika juga sudah punya anak perempuan yang kedua yang berumur belum 2 tahun. Lalu aku?? Sama anak kucing saja tidak berani, apalagi mau melahirkan anak kucing.
Manado (3)

Saya memesan bebek goreng sambal rica-rica yang pedasnya bikin sakit atau patah hati mungkin menjadi sedikit terlupakan. Bibir langsung serasa jontor.
Manado (4)

Setelah makan, kami nongkrong-nongkrong cantik di pinggir pantai depan KFC dan McD untuk menyaksikan senja. Saya dan Bunda Hani beradegan banyak pose yang sepertinya kurang wajar bagi warga Manado. Saya naik ke atas bebatuan dengan membawa kerudung¬†sebagai properti untuk membuat efek-efek nan indah. Kami juga melakukan adegan-adegan terbang ataupun kejar-kejaran memakai kerudung. Capek bo’ dan takut terjungkal ke celah-celah bebatuan. Manadotua dan senja.
Manado (5)

Twilight will never be the same without you.
Manado

Setelah pemotretan senja, kami pulang ke rumah Ika. Sudah bau bingits nih badan karena saya mandi terakhir adalah hampir 22 jam yang lalu saat baru tiba setelah tour ke Jailolo. Di rumah Ika, kami disediakan makan malam yang endeeeuus deh. Ikan kecil-kecil entah apa namanya yang enak bangeet, gado-gado, sate, serta bakso. Sesaat sebelum kami bersiap tidur, mertua Ika datang. Saya merasa terharu karena beliau-beliau masih ingat saya yang tidak cantik nan rupa(pera)wan ini. Alhamdulillah ya… bisa dijemput, ditraktir makan, diajak jalan-jalan, numpang tidur gratis, makan malam gratis, nge-charge hape, power bank, dan kamera dengan keramahan yang luar biasa. #sesuestu ūüėÄ
Manado (6)

Setelah tidur nyenyak di rumah Ika yang nyaman, pagi itu kami  berencana menuju Bunaken. Tapi kami sarapan nasi kuning dan panada dulu. (*.*)/
Manado (7)

Di perjalanan menuju pelabuhan, kami mampir ke Rumah Makan Nasi Kuning Saroja yang konon paling ngeheits dan enak di Manado.  Nasi kuning ini dilengkapi topping suwiran ikan cakalang, daging, taburan bawang goreng serta yang spesial ditambah telur. Selain itu, kita bisa take away nasi kuning yang sudah dibungkus daun woka, yang bentuk dan warnanya mirip janur. Harga seporsi nasi kuning komplit di sini sekitar Rp15.000. Suami Ika membekali kami masing-masing 2 bungkus nasi kuning untuk dimakan di Bunaken dengan pertimbangan di sana agak susah mencari makanan, toh jika ada harganya mahal. Setelah itu kami diantar ke pelabuhan penyeberangan ke Bunaken di belakang Hotel Celebes.
Manado (8)

Kami diturunkan dari mobil di depan pintu pelabuhan, lalu kami pun masuk ke Dermaga Pelabuhan Kalimas. Loket informasi sekaligus pemesanan kapal ke Bunaken berada tepat di depan pintu masuk pelabuhan, di mana saat itu terdapat beberapa orang di luar loket. Pada saat saya ingin bertanya tentang kapal ke Bunaken ke Mbak petugas loket, terdapat beberapa orang yang sepertinya calo ikut “mengawal” saya. Mbak petugas bilang kalau harga sewa kapal Rp1,2 juta yang bisa berisi sekitar 10¬†orang. Karena tarif sewa yang cukup mahal, maka saya pun ke luar loket dan mau melihat-lihat sekitar pelabuhan saja dulu.

Saya melihat kapal-kapal yang ada di sekitar pelabuhan dambil bertanya kepada beberapa orang di sekitar kapal tentang ada tidaknya kapal umum ke Bunaken selain yang harus menyewa semahal itu dan tiidak ada seorang pun, termasuk tiba-tiba datang seorang bapak yang dari tadi saat saya masih di loket sudah mendekati saya, yang memberikan informasi selain semua mengarahkan saya untuk menyewa kapal di loket tadi. Saya kemudian menemui Bu Joko dan Bunda yang menunggu dengan duduk-duduk cemas di belakang loket dekat pasar dan bilang belum menemukan kapal umum. Pada saat itu kebetulan ada rombongan mas-mas yang mau ke Bunaken yang sedang bergerombol di dekat kami dan ada si bapak calo yang masih mengintai kami dengan berpura-pura mengamati pelabuhan sambil menguping pembicaraan kami. Mulailah saya tanya-tanya sambil kedip-kedip centil bagaimana mereka menyewa kapal dan berapa orang. Sekadar basa-basi standar biar lebih akrab dan diajakin naik kapal bareng gitu. Mereka bilang serombongan berdelapan, tanpa menawari kami untuk ikut bergabung. Kemudian pimpinan rombongan pergi ke loket dan menyewa kapal lalu mereka bilang sampai jumpa ke kami dan menuju kapal.

Saat sudah mau memasuki kapal, ada mas-mas yang berbalik ke arah kami dan menawari kami untuk bergabung karena kapal yang mereka sewa bisa menampung hingga 12 orang sehingga lumayan untuk patungan jika kami bergabung. Lha kok tiba-tiba si bapak calo yang setia mengamati datang dan marah-marah melarang kami bergabung dengan rombongan karena katanya kami sudah booking kapal dan berasal dari rombongan yang berbeda. Karena alasan kebijakan asosiasi lah, kebijakan kapal, kebijakan ini and whatsoever he said. Saya yang mulai memanass minta ditunjukin aturannya mana dan yang saya dapat malah semakin banyak calo yang datang dan menemani si bapak itu sehingga membuat saya agak takut diapa-apain. Melihat wajah mas-mas yang sudah berbaik hati menawari kami bergabung agak berubah muram dan khawatir juga. Akhirnya¬†daripada merusuhi liburan orang, saya memutuskan untuk tetap tinggal di pelabuhan saja, berterima kasih atas tawaran mereka, serta mempersilakan mereka berangkat. Pfffttt…

Gerombolan bapak calo sudah bubar, Bunda dan Bu Joko masih duduk di tempat yang sama, dan saya berjalan ke arah pintu ku luar pelabuhan untuk membeli air mineral. Dan dong… si bapak calo yang membuntuti saya dari dekat kapal hingga barusan saat saya mau diajak rombongan, tiba-tiba muncul di dekat penjual air dan berpura-pura entahlah ngapain. Dia semacam sengaja banget membuntuti saya yang memakai kaos gonjreng aneka warna ini ke mana pun saya pergi. Lalu saya berjalan-jalan memotret keramaian pasar hingga kembali lagi ke posko tempat teman-teman duduk. Setelah itu saya kembali ke loket dan kembali bertanya bagaimana cara menyewa kapal di sini, berapa harganya, dsb. Si mbak loket bilang kalau memesan kapal bisa via telepon atau on the spot di mana tarifnya sama saja. Dia bilang saya bisa saja bergabung dengan kelompok lain tapi ditunggu saja entah sampai kapan.

Setelah menunggu cukup lama di loket dan sepertinya tidak ada perubahan maka saya memutuskan untuk kembali ke posko Bunda dan Bu Joko untuk memikirkan langkah selanjutnya. Selama masa menanti tadi, Bu Joko dan Bunda sudah mencari di internet tentang alternatif menuju Bunaken selain melalui pelabuhan ini misal lewat Marina atau menghubungi kapal warga yang nomor teleponnya sudah tersebar dan sering dipakai rombongan. Pada saat kami melakukan pembahasan ini lah kami semakin curiga dengan kelakuan seorang cowok ABG dan seorang bapak yang kata Bunda dan Bu Joko tiba-tiba duduk di dekat mereka sesaat ketika mereka baru duduk.

Saya yang sudah dibuntutin si bapak dan ternyata saat duduk berkoordinasi di sini ternyata ada yang memata-matai menjadi semakin emosi. Saya berdiri lalu ngomel-ngomel dengan keras sambil melotot ke arah 2 orang yang pura-pura entahlah apa tetapi sedikit-sedikit memperhatikan ke arahku. Ngomelnya kira-kira seperti ini: “Jadi gini ya cara mendapatkan penumpang dengan dibuntutin, diikutin dan dikupingin sampai kayak diteror. ……….. Males banget deh. Ayo kita city tour saja daripada bayar mahal-mahal tapi dapat kapal sakit jiwa.” sambil melotot dan memegang pinggul tapi tidak yang berpose editorial.

Ngibritlah 2 orang tadi ke arah si bapak calo semacam laporan pandangan mata dengan keadaan yang semakin memanas. Then i walked out to the entrance gate (it felt¬†like Natasha Poly strut down the runway and slap another newbies model) and said¬†“We won’t go to¬†Bunaken, BYE.” Setelah itu saya dan Bunda sempat berpose melototin mereka yang masih memperhatikan kami dari pinggir pelabuhan sekitar 20 meter dari gerbang.

Mungkin kurang bijak juga kebanyakan drama dan membuat calo tidak mendapatkan upah dari jasanya mendapatkan pelanggan kepada pemilik kapal seperti itu tetapi apakah memang sistem di sana tidak mengakomodasi untuk memberikan pelayanan bagi wisatawan yang mungkin hanya seorang diri dan tidak mempunyai uang yang cukup untuk menyewa kapal? Mereka sih sempat bilang ada kapal umum sebelum pukul 7.00 tetapi akan kembali ke pelabuhan sini entah kalau sudah penuh atau esok harinya. Setidaknya tolong ya calo-calo kapal bisa lebih sopan dan beretika dalam menghadapi calon penumpang.

Manado (9)

Kami akhirnya memutuskan masuk ke palabuhan kapal feri yang pagi itu terlihat sudah sepi karena biasanya kapal tiba masih pagi-pagi sekali. Bu Joko langsung jalan-jalan ke arah dalam pelabuhan untuk foto-foto sedangkan saya dan Bunda Hani hanya duduk-duduk. Bunda tiba-tiba merasa sakit perut dan harus ke toilet sehingga dia masuk ke ruangan petugas pelabuhan di dekat kami duduk. Tak disangka ternyata toiletnya mampet. Bapak-bapak di situ menyarankan Bunda untuk menumpang toilet di kapal yang berlabuh paling dekat dengan kami saat itu. Kami akhirnya masuk ke kapal Marin Teratai yang menghubungkan Manado dan Ternate. Kami menuju bagian paling belakang kapal di dekat dapur untuk menumpang toilet. Para ABK yang sedang sibuk membersihkan kapal pada bertanya mau ngapain kami di kapal tetapi mereka baik sekali dan mengizinkan Bunda untuk memakai toilet. Ada seorang bapak yang mengambil dan mencucikan ember toilet yang saat itu sedang dipakai untuk membersihkan kapal kemudian menyerahkannya kepada Princess Bunda yang akan memakai toilet. Setelah puas di toilet, kami mohon pamit dan berterima kasih kepada para ABK. Terharu banget deh.

Manado (10)

Kami kembali nongkrong di depan kantor pelabuhan sambil memandang kapal dan menuggu Bu Joko kembali. Saat Bu Joko sudah kembali, ada seorang mbak yang ke luar dari kapal dengan membawa karung berisi entahlah apa dan akan mengikat karung tersebut di boncengan motornya yang diparkir di dekat kami. Kami membantu mbak itu sambil mengorek-ngorek informasi tentang apa yang ada di karung itu. Si mbak bercerita kalau karung ini berisi paket udang kering atau semacam ebi yang dikirim kakaknya dari Falabisahaya di Maluku Utara. Dari daerah entah di mana yang baru pertama kali kami dengar itu juga dia berasal. Mbak itu ternyata pekerjaannya menjual ebi kiriman tersebut di Manado. Mungkin karena udang di Falabisahaya berlimpah dan di Manado membutuhkan banyak udang kering.
Manado (11)

KM Marin Teratai, yang selain digunakan untuk mengangkut penumpang juga bisa menerima paket kiriman antarpulau yang dilewati, dan Jembatan Soekarno yang masih dalam proses pekerjaan.
Manado (12)

Di sini lah posisi pewe kami nongkrong-nongkrong cantik dan manja, sambil sesekali masih menacri kapal ke Bunaken yang lebih murah. Kami sempat menghubungi pemilik kapal yang nomor hapenya ada di internet yang menawari kami dengan harga Rp600.000 tetapi hanya penyeberangan ke Bunaken dan snorkeling di sekitar Bunaken, tidak termasuk alat snorkeling dan biaya masuk Bunaken. Jika kita ingin ke Siladen atau Manadotua maka harus menambah biaya kapal menjadi 1 juta rupiah. mahal Cyiiinn. Akhirnya kami memutuskan untuk city tour saja lah melihat Patung Yesus dan makan-makan saja gitu.

Manado (13)

Sambil mencari informasi tentang city tour di Manado, kami memakan nasi kuning yang sudah dibawakan Ika. Nasi kuning, suwiran daging, ikan, dan bawang goreng ditambah telur yang dibungkus dalam daun woka menjadikan Nasi Kuning Saroja benar-benar top-markotop. Nyammmy.

Manado (15)

Setelah kenyang makan, kami melajutkan perjalanan ke arah Hotel dan Dermaga Marina dengan jalan kaki. Kami berhenti di bawah terowongan Jembatan Soekarno yang masih dalam pembangunan dan beberapa kali menanyai angkot tentang tarif sewa angkot ke Patung Yesus tetapi semua di atas Rp100.000 untuk sekali jalan sehingga kami urungkan niat sewa angkot. Lalu kami berjalan tanpa tujuan ke arah pantai di belakang Marina dan melintasi Tugu Lilin. Tugu Lilin ini nampak indah dari kejauhan akan tetapi terlihat kumuh dan rusak dari dekat. Banyak sampah berserakan dan kompleks tugu yang rusak sana-sini. Sayang sekali sudah dibangun dengan biaya yang sepertinya tidak sedikit tetapi terlantar seperti ini.

Tugu Lilin

Dari Tugu Lilin, kami melipir ke arah pantai dan menyusuri ruko-ruko demi menghindari sengatan terik matahari pagi itu hingga akhirnya menemukan Multi Mart di Jalan Tendean, sebuah mal dan supermarket yang cukup besar. Di situ kami berbelanja semangka dan jus untuk mendinginkan hati, pikiran, dan badan kami yang panas. Tersedia tempat duduk-duduk di bagian kanan dan kiri dekat kasir lantai dasar dari pintu masuk Jalan Sam Ratulangi. Dan kami membunuh waktu sejenak di situ.
Manado (16)

Setelah puas ngadem dan markombur serta menentukan sasaran strategis, kami melanjutkan perjalanan ke arah Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Manado. Bangunan gereja yang terletak di jalan protokol ini memiliki kaca mosaik yang indah, serta kubah megah yang menjadi ciri utama gereja ini dan menjadikannya salah satu gereja paling ngeheits di Manado.
Manado (2)

Dari GPdI, kami memasuki Jalan Korengkeng untuk menuju Kios Pelangi, sebuaha rumah makan khas Manado yang berada di pojokan Jalan Wakeke dari arah Jalan Korengkeng. Kami mencoba menu es brenebon durian advokat, es kacang tanah susu, bubur Manado alias tinutuan,

Manado (17)

juga nasi goreng roa yang kami pesan belakangan karena melihat fotonya di dinding yang menggoda. Semuanya endeeeuuusss.

Nasgor Roa

Colorful sibling.
Manado (18)

Karena kegiatan membunuh waktu kami sudah cukup, kami akhirnya menghubungi Ika dan meminta dijemput di Pelangi. Ika dan suami tertawa mendengar kisah kegagalan kami ke Bunaken yang akhirnya berakhir di Kios Pelangi. Mereka menyayangkan kenapa kami tidak menghubungi mereka sehingga mereka bisa mengajak kami jalan-jalan daripada terkatung-katung tidak jelas dari pagi hingga saat itu sekitar pukul 13.00. Saya sih menikmati sekali ke-random-an dan drama pagi hingga siang itu. Kami kemudian diajak ke Makam Tuanku Imam Bonjol.
Manado (19)

Di kompleks makam, kita bisa melihat batu yang digunakan Imam Bonjol untuk salat. Batu ini terletak di pinggir sungai yang bisa kita tempuh dengan berjalan kaki menuruni anak tangga di samping makam.
Manado (20)

kami akhirnya sampai di Patung Yesus yang terletak di Citraland. Agar bisa mendapatkan foto patung dengan indah, kita harus memasuki kompleks Citraland yang berada di seberang jalan kompleks Citraland tempat patung berada. Dua kompleks Citraland ini dipisahkan oleh ringroad. Patung Yesus ini konon merupakan patung Yesus tertinggi kedua di dunia setelah patung di Rio de Janeiro, Brazil. Di sekitar patung utama terdapat patung-patung kecil yang mengitari.
Manado (21)

Ika dan si bungsu yang sedang menikmati es krim berwarna pink. Kedua anak Ika menyukai semua-mua yang berwarna pink, dan Frozen.
Manado (22)

Dan akhirnya kami segera kembali ke rumah Ika karena travel ke Gorontalo akan menjemput kami sekitar pukul 17.00. Setelah mandi dan packing, kami siap untuk melanjutkan ke tujuan utama trip kali ini, yaitu Togean via Gorontalo. Terima kasih banyak Ikadan keluarga atas segala jamuan dan keramahannya selama 2 hari ini. Semoga saya bisa segera kembali ke Manado dan mencoba makanan serta tempat wisata yang kali ini belum sempat dinikmati. xoxo
Manado (23)

*Sesuatu yang ada di mana-mana di Manado adalah poster kampanye H*anny J*oost P*ajaouw. Posternya menghantui di setiap penjuru kota. -____-‘

 ** Biaya yang saya keluarkan selama di Manado adalah sebagai berikut:
Belanja buah dan jus = 28.300
Makan siang di Kios Pelangi
Sumbangan di Kompleks Makam Tuanku Imam Bonjol = 20.000
Selebihnya gratis dibayari Ika dan suami. Mauliate godang, Ka.

Permisi, Itu Kursi Saya

 Manado (24)

Kisah ini terjadi saat saya akan terbang ke Manado dari Ternate. Saya dan dua teman saya, yang menjadi penumpang terakhir naik ke pesawat setelah drama ke Danau Ngade, mendapati penumpang sudah duduk di kursi masing-masing. Eh… lha.. kok…¬† mengapa kursiku diduduki seorang perempuan? Berujarlah saya kepada perempuan itu, “Permisi, Itu Kursi Saya”, lalu dia berkata, “Bukannya sama saja di pinggir jalan dengan di dekat jendela?”. Oughh oke, mbak ini ngajak ribut. Saya jawab, “Tentu beda, itulah mengapa saya bela-belain web check in (dini hari demi dapat sinyal internet yang mumpuni) sehingga bisa memilih posisi dekat jendela dan bisa melihat pemandangan. Boleh saya menempati kursi saya?” dan akhirnya dia berpindah dari kursi yang memang menjadi hak saya.

Selang beberapa menit setelah duduk dan memakan permen yang disajikan pramugari, si mbak tiba-tiba bertanya “Mas dari Jawa Timur, ya?”, saya jawab, “Iya. Kenapa, Mbak?”, lalu dia jawab, “Aku juga orang Jawa Timur, dari xxx”. Maka mulai nyambunglah pembicaraan kami karena berasal dari satu provinsi yang sama. Saya yang awalnya jaim mulailah bocor seperti si mbak.

Dia bercerita akan liburan ke Bali sekaligus menyelesaikan suatu urusan di sana. Menyenangkan sekali berlibur di Bali pikirku, akan tetapi kemudian dia tiba-tiba berujar kalau urusan utamanya adalah menyelesaikan sengketa perebutan anak dengan mantan suaminya yang merupakan warga negara asing. Ewww… Cucoklah mbak ini memang kulitnya eksotis, cantik khas Indonesia, pasti idabul aka idaman bule.

Dia menunjukkan foto anak laki-lakinya yang berumur sekitar 8 tahun yang sangat lucu, tampan, dan menawan. Pasti seperti bapaknya, ya? Dia mengatakan kalau sudah lama cerai dari si bule itu. Mereka sempat tinggal terpisah lalu si mbak menyusul ke negara bule. Karena rutinitas pekerjaan si bule yang sangat sibuk dari pagi sampai malam dan dia merasa kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian maka dia memutuskan untuk kembali ke Indonesia beserta anak semata wayangnya.

Setelah kembali di Indonesia dan si bule masih sibuk dengan pekerjaannya, serta adanya masalah dalam hubungan mereka, maka bercerailah mereka. Saat perceraian, si anak dibawa oleh si mbak tetapi si bule juga ingin mengasuhnya. Si mbak tidak ingin si anak diambil oleh si bule dan dibawa ke negaranya. Maka kaburlah si mbak ke suatu daerah yang tidak begitu dekat dari Ternate. Saya penasaran mengapa ke sini bukan daerah lain misal Kalimantan atau Sumatera, dan dia bilang hanya ingin saja ke daerah yang jauh dan sulit terdeteksi. Yeahhh… That was also my random trip about.

Si bule dan si mbak akan memutuskan tentang bagaimana masa depan anak mereka apakah akan tetap di Indonesia atau kah akan di Jepang dan semacamnya lah. Si mbak sebenarnya agak takut bertemu sang mantan suami di Bali karena si bule, yang masih belum mempunyai pengganti si mbak, katanya masih ingin rujuk dengan si mbak.

Tiba-tiba si mbak bilang kalau dia ke Bali dibiayai oleh si bapak. Saposek bapak itu? Mulailah semakin random ngobrol kami. Menurut si mbak, dia sekarang tinggal di sebuah rumah sederhana bersama anak dan seorang pembantu. Rumahnya tidak luas, masih plesteran semen, belum berkeramik, dengan kamar yang belum disekat. Suatu hari si mbak berkenalan dengan seorang bapak pejabat tajir melintir yang menguasai proyek pembangunan ini itu sehingga banyak mendapatkan uang dari kontraktor. Pfiiiuuuhhh.

Si pejabat rajin menyambangi si mbak dan membelikan ini itu untuk si mbak serta ikut membangun rumah si mbak. But there is no free lunch, right?? Walaupun si mbak tahu kalau si pejabat STW aka setengah tua, atau malah sudah tua, itu mempunyai anak istri, tetap saja si mbak getol mendekati si pejabat. Si mbak bilang kalau dia dibelikan motor cowok seharga 30 juta lebih. Tiap bulan diberi nafkah jutaan rupiah. Rumahnya sekarang sudah jauh lebih bagus daripada 1 tahun lalu sebelum berhubungan dengan si bapak.

Saya bertanya apakah dia tidak takut dilabrak istri si bapak itu. Dia bilang mereka sering menghabiskan waktu di Ternate, jauh dari rumahnya dan keluarga bapak itu, dan kota yang paling lengkap untuk belanja sehingga dia bisa minta dibelikan ini itu oleh si bapak. Yak sip. Pfffttt.

Si mbak bercerita lagi. Dia pernah mengunggah foto dirinya bermandikan uang seratusan dan lima puluh ribuan dengan mamakai bikini di Facebook. Then she showed me that picture and i was just like WHAAATTTTHEHECK. Setelah mengunggah foto mandi uang, beberapa lelaki mengajak dia chatting dan minta dibeliin ini itu dan ditransfer sejumlah rupiah. Jauh sebelum mengunggah foto mandi uang, si mbak mengatakan bahwa dia memang nakal di facebook. She loves chatting in Facebook and it will always end up as a private adult messaging. Arggghhhh.

She showed me some BBM messages with her boy-toys from all over Indonesia. The boys sent their d*ick or naked pricture to her. GLEG. Jika si mbak memutuskan akan bertemu dengan si cowok yang biasanya berada di sekitar Ternate, dia akan mengamati si cowok apakah sesuai dengan fotonya atau tidak. Pernah suatu hari katanya si cowok berbeda dengan di foto, setelah mengamati si cowok maka si mbak akan melipir kabur. jadi ingat iklan jadul yang “aku pakai baju merah” atau apalah itu. When the boy was cute or hot, they would have se*x. Apadeh apadeh ini. #_#

Kembali soal liburan di ke Bali kali ini, dia bilang dibiayai oleh si bapak pejabat. Dia mengaku sedang hamil dan akan aborsi di Bali kepada si Bapak. Untuk biaya aborsi saja, si bapak memberinya Rp25.000.000, lalu tiket pesawat, hotel, uang belanja, uang saku, deelel. Thank god, the flight only took 45 minutes and we already arrived in Manado. She gave me her BBM contact and i wrote it down on a piece of paper. I told her that my phonecell was off and i would add her BBM sooner. I dont know where i placed that paper since i had so many ticket and bills i kept from my 11 days trip. What kinda horror story i had on the plane that day.