Pesona Museum Huta Bolon Simanindo

Untuk kali kedua saya berkunjung ke Museum Huta Bolon Simanindo setelah kunjungan 2,5 tahun lalu ada beberapa hal yang berubah dari museum ini. Sebut saja rumah yang digunakan untuk memamerkan kapal yang sekarang sudah roboh dan menimpa kapal, padahal kapal dan rumahnya bagus banget.

Huta adalah kampung tradisional orang Batak yang dikelilingi oleh benteng dan tanaman bambu untuk menghalangi musuh masuk ke dalam kampung tersebut. Huta hanya mempunyai satu pintu. Rumah di dalam huta berbaris di samping kiri dan kanan rumah raja. Rumah raja disebut Rumah Bolon di mana di hadapan rumah tersebut didirikan lumbung padi yang disebut Sopo. Halaman tengah di antara Rumah Bolon dan sopo dahulu dipergunakan sebagai tempat Mangalahat Horbo (acara adat memotong kerbau dan memukul gondang). Di tengah halaman didirikan sebuah Tonggak yang dihiasi dengan daun-daun yang melambangkan pohon suci (pohon beringin). Tonggak tersebut bernama Borotan. Kerbau yang digiring akan disembelih di Borotan tersebut.

Harga tiket untuk menonton pertunjukan di Museum Huta Bolon Simanindo masih sama seperti dulu yaitu Rp50.000/orang. Saya dan Nadia tiba di museum masih pukul 10.00 wib sehingga kami masih ada waktu sekitar 30 menit hingga pertunjukan dimulai. Para penari bahkan belum berganti pakaian dan dandan saat kami datang. Sekitar pukul 10.20 wib saat beberapa penari masuk ke dalam rumah adat yang mereka gunakan untuk mempersiapkan diri, saya tergoda untuk ikut nimbrung di rumah tersebut. Beberapa wajah penari di sini masih saya ingat. Wajah lugu nan bersahaja yang setia melestarikan kebudayaan Batak sembari mengais rezeki untuk keluarga. Bapak sesepuh yang sedang memakai ulos sedangkan beberapa inang sudah hampir siap tampil.

Manortor

Abang-abang yang tidak perlu fitnes di gym tapi perutnya bisa rata. Si Abang yang belum memakai atasan ulos ini sempat berganti bawahan ulos hingga 3 kali hingga kami tertawai bersama. Eitsss di dalam bawahan ulos mereka masih memakai celana jeans butut lho, jangan bayangin yang tidak-tidak, tapi ya gitu perutnya bisa bikin jantung yang lihat berdesir kencang.

Manortor

Inang yang sudah hampir siap tampil sedang bercermin untuk terakhir kalinya. 10 orang penari di ruangan ini telah siap untuk tampil dan para pemain musik yang berjumlah sekitar 6 orang juga sudah siap di rumah sebelah.

Ulos (9)

Pada saat saya menuju tempat untuk menonton di mana Nadia sudah menunggu, ada beberapa rombongan turis asing yang didampingi pemandu lokal sedang memasuki lokasi pertunjukan. Syukurlah ada sekitar 30an penonton siang itu, bukan hanya kami berdua seperti tadi. Dan pertunjukan pun dimulai. Berikut rangkaian pesta adat Mangalahat Horbo.

1. The ceremony dance/Gondang Lae-Lae. Merupakan doa kepada Dewata agar kerbau yang akan diikatkan tidak bertingkah yang jelek sewaktu digiring ke Borotan. Orang Batak zaman dahulu percaya bahwa setiap tingkah laku kerbau merupakan alamat sesuatu yang baik atau buruk terhadap yang berpesta.

Manortor

2. Prior Dance/Gondang Mula-Mula. Yaitu doa kepada pencipta bumi, langit, dan segala isinya agar Dia menganugerahkan putra dan putri, membawa kekayaan, menjauhkan bala dan menyembuhkan segala penyakit kepada yang mengadakan pesta.
3. Dance Addressed to God/Gondang Mula Jadi. Tari untuk mengatakan bahwa doa telah dikabulkan oleh Tuhan.
4. Group encircling dance/Gondang  Shata Mangaliat. Orang yang berpesta menari dengan mengelilingi tonggak atau Borotan penyembelihan kerbau, di mana diikatkan seekor kerbau pada pesta adat. Kerbau tersebut disembelih dan dagingnya dibagi-bagikan kepada yang berpesta dan kepada mereka yang berhak menerima sesuai dengan adat yang ditentukan.
5. Mutually cheering dance/Gondang Maralolop-olopan. Yakni orang yang berpesta saling memberi selamat sesamanya.

Simanindo
6.Youngsters dance/Gondang Siboru. Merupakan tarian untuk para pemuda sambil menari datanglah putri yang masing-masing dengan pengharapan agar datang untuk melamarnya.

7. Cleansing dance/Gondang Sidoli adalah tarian untuk pemudi di mana sambil menari datanglah seorang pemuda yang mendekati seorang putri yang dicintainya dan yang didambakan menjadi istrinya dan sebagai pertanda ia mencintai putri, dia akan memberi sejumlah uang.

Manortor

8. Dance of True Quality/Gondang Pangurason. yaitu datangnya roh nenek moyang dalam pesta dan menyusup pada salah seorang putri untuk memberkati mereka.

Manortor

9. Cooperative dance/Tari bersama di mana semua tamu diajak menari bersama dengan tuan rumah yang mengadakan pesta tersebut.

Manortor
10. Tor tor Tunggal Panuluan. Tari ini diperankan oleh seorang dukun untuk berkomunikasi dengan Dewata Natolu untuk meminta sesuatu seperti hujan, keturunan, atau kesuksesan dalam kehidupan.

Si abang akan menongkat telur yang ada di tanah. Tapi sayang saat itu tidak kena, atau sengaja tidak dikenakan.

Simanindo

11. Puppet dance/Gondang Sigale-gale. Yaitu tarian boneka sigale-gale yang terbuat dari kayu mirip manusia. Dikisahkan pada zaman dulu kala ada seorang raja yang mempunyai anak tunggal. Anak tersebut jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Raja sangat sedih menerima musibah tersebut sebab anak yang diharapkan untuk meneruskan cita-cita/kerajaannya sudah tiada. Untuk meringakan penderitaan raja sekaligus mengenang anaknya, raja tersebut memerintahkan rakyatnya untuk mengukir sebuah patung yang sangat mirip dengan anakanya sehingga di kala raja ingin melihat anaknya maka raja akan mengundang rakyatnya untuk membuat pesta Sigale-gale. Begitupun saudara perempuan Sigale-gale akan menari bersama Sigale-gale untuk melepaskan kerinduannya.

Simanindo

Akhirnya pertunjukan sesi pertama hari itu selesai sekitar pukul 11.15 wib dan para penari pun berganti pakaian sembari menunggu pertunjukan sesi kedua pada pukul 11.45 wib. Ini punggung Si Abang tokoh utama dalam pertunjukan sedangkan 4 orang yang di sana sedang menghitung uang pemberian penonton secara sukarela yang dilakukan menjelang berakhirnya pertunjukan. Ada turis yang saya lihat hanya memberi uang receh tetapi juga ada yang dengan senang hati memberi hingga Rp50.000. Semua diterima dengan senang hati oleh para pelestari adat batak ini dan saya pun turut senang melihat ekspresi mereka setelah menghitung uang tersebut. Siang itu mereka berhasil mengumpulkan uang sekitar Rp280.000.

Manortor

Saat semua penari telah selesai melepas ulos meninggalkan rumah, saya kembali menemui Nadia dan kami melakukan pemotretan dengan menggunakan ulos sebagai hijab ini.

Manortor

Tak lupa pemotretan menggunakan Novel Supernova-Gelombang karya Dewi Dee Lestari Simangunsong yang sudah saya bawa dari Jakarta ke Medan, Aceh Singkil, Sidikalang, hingga sampai di Samosir sini.

Supernova-GelombangSaya tidak akan bosan mengunjungi museum yang penuh pesona ini. Semua sudut museum ini sangat indah, begitupun pertunjukan tarian Batak dan belakang layar Mangalahat Horbo-nya sangat menarik. CETARTARTAR!!!

Ada Ulos di Antara Kita

Pagi itu, 9 Maret 2013, saya mengunjungi objek wisata Batu Kursi Raja Siallagan di Ambarita, Kabupaten Samosir. Setelah puas foto sana sini dan belum tahu mau ke mana lagi, saya mapir di salah satu toko yang dijaga oleh seorang Inang Batak setengah baya. Dari semua suvenir yang ditawarkan, saya tertarik dengan ulos-ulos yang digantung di tengah maupun berjajar di bagian belakang toko. Saya membayangkan dirinya yang akan terlihat sangat cakep mengenakan ulos manapun di dalam suatu acara adat Batak. Dirinya yang membuat saya akhirnya tiba di Danau Toba ini untuk mengenal lebih jauh tentang adat budaya leluhurnya.

UlosSetelah memilah-milih dan tawar-menawar saya mendapatkan 3 helai ulos barwarna dasar hitam dengan ukuran dan tingkat kerumitan pembuatan berbeda. Inang penjual suvenir menyarankan saya untuk ke Museum Batak  Simanindo dan ke air panas di Pangururan saat saya tidak tahu mau ke mana. Dengan menumpang kendaraan umum saya menuju Museum Batak di Simanindo. Sesampainya di museum, saya mengeluarkan salah satu kain ulos yang baru saya beli yang paling saya sukai dan memakainya dengan menyelempangkan di leher. Di museum ini kita bisa menonton pertunjukan tarian Batak dengan membayar tiket Rp50.000 per orang untuk turis lokal dengan mayoritas penonton adalah bule. Pada saat pertunjukan sudah mulai, ada 3 gadis yang terlihat merupakan turis lokal dan kami pun berkenalan. Salah satu dari 3 gadis tersebut adalah Suku Batak yang dengan sukarela membantu memfoto saya dan 2 temannya saat kami turut serta dalam pertunjukan.

Ulos

Saya ditawari gadis-gadis itu untuk jalan bareng bersama mereka menggunakan mobil sewaan karena ternyata tempat menginap kami berdekatan di Tuk-Tuk. Dengan masih mengenakan ulos favorit yang bisa sekaligus melindungi tubuh dari terik mentari, saya menikmati indahnya kompleks air panas Pangururan.
Ulos

Dalam perjalanan kembali dari Pangururan menuju Tomok, saya meminta untuk berhenti sejenak di tugu leluhur dia-yang-membuat-saya-sampai-di-sini. Syahdu dan sendu yang saya rasakan saat itu. Andai saja saya bersamanya di tempat ini saat itu.

Ulos

Keesokan harinya saya dan 3 teman baru saya mendapatkan kesempatan emas untuk mengunjungi PLTA Sigura-gura. Di sepanjang perjalanan dari Samosir ke Asahan hingga saat masuk ke perut bumi untuk melihat langsung turbin PLTA saya mengenakan ulos yang membuat saya merasa “semakin Batak” perjalanan saya ini.

Ulos

Setelah perjalanan pertama saya ke Tanah Batak saat itu, saya membuat kemeja ulos dengan detail kancing di bagian atas sehingga tidak membuat tulisan “Dame ma di hita” pada ulos menjadi terpotong dan detail ulos bisa terpampang nyata. Kemeja ulos ini hanya saya pakai sesekali ke kantor dan untuk kondangan acara Batak. Teman-teman saya yang Batak pada suka kemeja ulos perdana saya ini dan mereka terinspirasi untuk membuat kemeja yang sama dengan menggunakan ulos yang mereka punya. Bahkan ada teman yang memberikan ulos kepada saya agar saya bisa membuat kreasi dari ulos.

Ulos

Di awal bulan April 2015, bos kami tercinta tiba-tiba dipindahtugaskan ke unit lain. Dalam acara perpisahan yang cukup dadakan tersebut, saya meminta beberapa teman kantor baik yang Batak maupun bukan untuk menyanyi lagu Batak “Sigulempong” bersama. Dengan berbekal kaos seragam dan ulos saya serta ulos pinjaman teman-teman Batak, jadilah kostum kami seperti ini. Kaos saya berbeda sendiri karena saya project manager acara perpisahan, penata gerak dan busana grup vokal ini, secara kalau saya ikut menyanyi maka akan rusaklah harmonisasi grup vokal ini.
Ulos

Pada saat libut lebaran di bulan Juli 2015, saya membuat kemeja ulos lagi. Masih dengan ulos yang saya dapat dari perjalanan saya di tahun 2013. Kali ini saya menggunakan detail 2 buah ritsleting sebagai hiasan sekaligus jalan keluar masuknya kepala, katun berwarna senada untuk lengan, serta aksen batik parang yang juga senada. Tak lupa juga fringe-nya tetap digunakan. Tapi sayang seribu sayang karena saya membuatnya pada saat ukuran badan sedang menjalankan puasa dan saat ini badan saya sedang melar dan jarang olah raga maka kemeja ini sangat ketat dan sulit untuk memakainya. #ayodietdanolahraga

Kemeja ulos

Di akhir bulan September kemarin, saya melakukan perjalanan ke Tao Batak untuk yang ke tiga kalinya setelah perjalanan saya di tahun 2013 yang saya ceritakan di atas serta perjalanan saya di tahun 2014 yang juga sendiri. Kali ini saya bersama teman kantor saya, Nadia. Di Museum Batak Simanindo, setelah menyaksikan pertunjukan tari, saya mendandani Nadia dengan ulos yang sudah saya bawa. Ulos sebagai hijab. Dan Nadia pun terlihat sangat cetar.

Manortor

Setelah dari Simanindo, kami mampir ke Pasar Tradisional Ambarita yang buka di hari Kamis. Setelah berkeliling ke beberapa bagian pasar, kami berhenti di salah satu lapak penjual ulos. Inang yang berjualan bilang kalau ulos-ulos yang dia jual langsung dari pembuat sehingga harganya jauh lebih murah daripada di toko suvenir bahkan banyak toko suvenir yang mengambil dari sini. Dan benar saja, selain koleksi ulosnya cantik-cantik dan beragam, harganya memang sangat miring dibanding beberapa tempat yang pernah saya kunjungi. Walhasil saya membeli 21 helai ulos berbagai jenis, warna, ukuran, dan harga.
Mangulosi

Ini Jealeou, teman saya yang selalu nitip kain setiap saya jalan-jalan. Dia percaya selera saya terhadap segala jenis kain tradisional sehingga dia cukup bilang mau berapa buah dan budget berapa. Beberapa bulan lalu saat saya tur ke Maluku Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, hingga Sulawesi Tengah, dia juga nitip berbagai kain yang saya sukai dari kain krawang Gorontalo warna kuning terang sepanjang 6 meter hingga tenun Donggala. Dan sebelum memanfaatkan kain-kain tersebut lebih lanjut, kami selalu suka menggunakannya untuk pemotretan ala-ala adibusana di Vogue Italia atau Vogue Paris. Jealeou menggunakan ulos sadum sebagai penutup kepala, ulos Angkola dimensi sebagai selendang, serta ulos pucca dengan benang prada sebagai bawahan.
Mangulosi

Jealeou menggunakan ulos sadum beraneka warna sebagai penutup kepala dan gaun, serta ulos Angkola warna ungu untuk layering gaun.

Ulos (2)

Jealeou memakai ulos bintang maratur yang merupakan ulos yang paling banyak kegunaannya di dalam acara-acara adat Batak Toba.

Ulos (3)

Dari semua perjalanan saya di Indonesia, memang hanya di Indonesia, dan perburuan kain-kain yang saya lakukan, hanya perjalanan ke Tanah Batak dan dengan uloslah saya merasakan ikatan yang sangat mendalam. Seorang suku Jawa yang sangat suka semua yang berbau Batak karena seorang Batak yang selalu dinanti walaupun telah lama mematahkan hati. #curcolabis

Postingan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog #KainDanPerjalanan yang diselenggarakan Wego. http://www.wego.co.id/berita/kompetisi-blog-perjalanan-dan-kain-tradisional/

Selai Srikaya: Ganda vs Sedap

For those who have ever visited Pematang Siantar in North Sumatera, they must know this heavenly taste coconut egg jam. Selai srikaya or selai sarikaya or kaya, literally meaning “rich jam” in Indonesian or Malay, can refer to a sweet creamy coconut spread made from coconut milk (also known as santan), duck or chicken eggs which are flavored by pandan leaf and sweetened with sugar. It has rich (srikaya or kaya in Indonesian or Malay) texture so it is called selai srikaya.
image
(left: a new jar of Selai Ganda, right: Selai Sedap)

There are two infamous selai srikaya store in Siantar, Toko Roti “Ganda” and Kedai Kopi “Sedap”. Toko Roti “Ganda” is a bakery located in Sutomo street number 89, Pematang Siantar while Kedai Kopi “Sedap” is a coffe shop located in Sutomo street number 97, Pematang Siantar, phone +62 622-24380.
image

Selai srikaya goes well with white bread, whole bread, cake, crackers, baguette, banana, or anything you like, plus a cup of hot tea or coffe. This yummy food reminds me of Nutella, but im still a #teamselaisrikaya
image

Which one is more famous? Ganda for sure.
image

What about the price? The price you should pay for a 250-gram-jar of Selai Sedap is about Rp50.000, while for Ganda is a half of what you should pay for Sedap.
image

I cant describe how good their taste. Its creamy, sweet, smell so good, delicious, maknyos, jos gandos, top markotop, yes taste like heaven.
image
(Dont you wanna take a bath with Selai Ganda this many)

Which one do i like more? I have compared both taste yesterday, but still its hard for me to choose. Oughhhh.. ok… I think i prefer Sedap.
image

Last christmas, my friend brought me 3 jars of Selai Sedap and i kept them in refrigerator. I and my colleague had eaten 2 jars in 2 weeks and i kept the last jar for myself only until 3 months, and it still tastes good. I have popularized selai srikaya in my office since 2013 so they are familiar with this foodgasm-made-food now. (*.*)/

image