Galau Menuju Ampana

Pagi akhirnya datang juga setelah semalaman saya galau ke mana saya akan pergi setelah di Ampana nanti. Suasana resor pagi itu terlihat ramai karena sebagian besar wisatawan akan pergi, seperti rombongan Manado yang 3 orang, rombongan Toli-Toli 5 orang, Czech Gang 3 orang, kami 3 orang, Gema, serta beberapa pasangan yang akan pindah ke pulau lain. Ada pasangan bule Belanda yang saya rekomendasikan untuk pindah menginap ke Waleakodi agar lebih dekat dengan Dolong dan bisa mendapatkan KM Cengkih Afo ke Bumbulan pada Sabtu sore. Pasangan Belanda ini sebelumnya bertanya tentang jadwal kapal ke Gorontalo atau Bumbulan kepada manajer resor tetapi ditawari untuk menyewa kapal saja agar cepat sampai karena memang pada bulan Mei ini hanya ada KM Cengkih Afo yang beroperasi. Dengan tarif sewa kapal yang bisa mencapai Rp3.000.000, bule-bule backpacker ini tentu lebih memilih untuk sedikit memperpanjang jadwal mereka di Togean daripada harus mengeluarkan uang sebanyak itu, demikian pun jika itu terjadi pada kami, toh mereka masih akan balik via Manado ke Jakarta semingguan lagi. Ada pasangan bule Belanda lain serta pasangan bule Italia yang sempat saya tunjukkan jadwal kapal terbaru yang saya dapatkan beberapa hari sebelum keberangkatan saya ke Togean yang dikirimi oleh Ales dari Walekodi Resort. Saya benar-benar masih merasa utang budi kepada Ales yang sudah saya repoti bertanya ini-itu sejak akhir bulan April tetapi malah ujung-ujungnya pada saat KM Cengkih Afo mulai berlayar saya malah pindah ke resor lain karena bujukan orang. Saya merasa blank saat itu ketika saya yang sudah menyiapkan banyak data tentang Togean bisa terbujuk untuk pindah resor. Mungkin saya lelah.

Togean (56)

Geng TKI yang sudah siap cabut dari resor setelah sarapan. Seperti yang terlihat, Bunda sudah siap cabut duluan dengan mengenakan pakain renang yang lebih paripurna dibanding kemarin saat kami island hopping. Padahal Bunda akan mengunjungi perkampungan Suku Bajo dan danau ubur-ubur lagi , tetapi dengan ditemani orang yang berbeda. #uhuk

Togean (57)

Kami, Czech Gang, dan rombongan Toli-Toli agak was-was dengan pihak resor yang tidak juga menyediakan kapal untuk mengantarkan kami ke Wakai karena menunggu manajer resor yang masih menjemput tamu baru, padahal  resor mempunyai banyak kapal lho. Bukannya berprasangka buruk, tetapi manajer resor ini sepertinya agak marah kepada saya yang beberapa kali memberikan informasi kepada bule-bule tentang jadwal kapal, pesawat, travel, serta penginapan-penginapan di Togean. Dengan mengikuti saran saya, para bule bisa menghemat beberapa ratus ribu hingga jutaan rupiah untuk biaya sewa mobil atau pun kapal daripada menyewa kapal resor atau rental mobil dari travel yang bekerja sama dengan resor. Bunda sempat mendengar manajer resor marah-marah karena banyak tamu yang akan pergi pada Kamis pagi dan sempat mengatakan kepada karyawan resor semacam “Itu rombongan tante-tante (julukan (((((TANTE))))) merujuk ke saya, red) itu jadi balik Kamis besok? Kenapa tidak Sabtu saja?”. Saya memang dari awal berencana untuk ke luar Togean pada hari Sabtu agar bisa gegoleran lebih lama di sini, tetapi karena banyak godaan lain serta perilaku manajer hotel yang gengges maka mari kita cabut pada hari Kamis saja.

Untuk menuju Ampana, kami berencana naik KM Kapia Touna yang menurut jadwal akan berangkat dari Wakai menuju Ampana pada pukul 11.00 wita tetapi menurut info yang saya dapatkan akan berangkat pukul 9.30 atau jika penumpang sudah penuh. Akhirnya pada pukul 8.50 wita kami diantarkan oleh pihak resor ke Pelabuhan Wakai dan tanpa didampingi manajer resor. Sekitar pukul 9.15 wita kami pun tiba di Wakai dan melihat KM Kapia Touna sudah penuh sesak penumpang dan sudah siap berangkat dan kami dipersilakan masuk ke kapal tidak melalui dermaga tetapi masuk langsung melalui pintu samping kapal dengan melompat dari kapal resor. Syukurlah kapal mulai bergerak menuju Ampana pada pukul 10.00 wita. Kami harus membayar Rp65.000 per orang untuk rute Wakai-Ampana yang akan ditempuh sekitar 4 jam. Beginilah posisi duduk melantai kami saat itu.

Togean (58)

Bule-bule yang membunuh waktu dengan membaca. Berbeda dengan kebiasaan saya. -,-

Togean (61)

Bu Joko juga sibuk membaca, sambil mendengarkan musik.

Togean (60)

Coba tebak siapa yang harus berjemur di bangku belakang kapal karena tidak mendapat jatah tempat duduk yang ada atapnya.

Togean (67)

Look like an editorial for Vogue Homme International.

Togean (65)

David yang masih harus berjemur.

Togean (62)

Beberapa jam duduk umpel-umpelan membuat saya ingin jalan-jalan di kapal dan ternyata saya mendapati adik bayi lucu ini tidak jauh dari tempat saya duduk. Ibu bayi ini bercerita bahwa ia akan ke Ampana untuk mengambil uang. Sambil menggoda bayi lucu yang sedang makan jeli ini, saya bertanya mengapa Si Mmbak tidak bersama suaminya ke Ampana. Dan tiba-tiba dapatlah curhatan dari si Mbak yang mengatakan bahwa bapak bayi ini baru saja melintas dengan kapal lain ke arah Togean dari Ampana. Si Mbak ternyata sudah berpisah dengan bapak bayi ini saat bayi ini akan lahir karena sang mantan suami tergoda bule Prancis yang mengajak dia untuk bekerja sama membangun resor dan rumah tangga. Banyak pulau di Togean yang memang dikelola oleh pasangan di mana salah satunya adalah bule dan yang satu merupakan penduduk lokal. Mau nggak galau gimana coba kalau habis lihat sang mantan melintas dengan bahagia saat kita masih sendiri dan sedih begini. Tidak lama kemudian datang seorang laki-laki dan bergabung dalam obrolan kami. Lelaki tersebut ternyata adalah kakak Si Mbak. Mas ini juga tahu kalau mantan suami Si Mbak tadi sempat melintas dengan kapal dan pasti adiknya langsung jadi galau makanya dia becandain si adik. Si Mas bercerita kalau dia punya bisnis travel, rental mobil, dan penginapan di dekat Ampana. Dia menawari saya untuk menginap gratis di penginapannya dan megajak jalan-jalan ke Tanjung Api dengan cukup mengganti biaya bahan bakar kapal. Saya sebenarnya sangat ingin ke Tanjung Api dan masuk dalam daftar tujuan saya saat masih membuat itinerary tetapi karena letaknya yang hanya bisa ditempuh dengan kapal sewaan maka saya menghapusnya dari daftar tujuan saya. Kegalauan mau ke mana nanti setelah di Ampana sedikit menghilang saat mendapat tawaran dari Si Mas, di mana kira-kira kami hanya perlu mengganti biaya bahan bakar kapal ke Tanjung Api dan mobil ke Poso sebesar Rp500.000 dibagi dua (saya dan Bu Joko) untuk jalan-jalan bersamanya dan adik serta ponakannya hingga hari Sabtu. Bu Joko ternyata meminta saya untuk memikirkan lagi barangkali akan ada opsi yang lebih hemat dan lebih baik sebelum kami tiba di Ampana.

Michal yang sudah mendapatkan tempat duduk strategis dan bisa tidur pulas.

Togean (63)

Jarak tempuh ke Ampana semakin dekat tetapi saya kami masih belum menentukan tujuan. Saya mendengarkan obrolan Jan dan pasangan bule Prancis yang sedang berencana pergi ke Tentena. Saya jadi teringat kata Ardi, agen travel yang bersama Geng Toli-Toli, yang mengatakan bahwa di dekat Tentena ada Lembah Bada yang merupakan situs bebatuan megalitikum yang sangat unik. Kami tertarik dengan Lembah Bada tersebut, yang baru pertama kali kami dengar dari Ardi. Saya bertanya kepada Czech Gang apakah mereka mau singgah di Tentena dulu sebelum ke Tana Toraja yang masih memerlukan waktu perjalanan belasan jam dari Tentena, dan mereka ternyata setuju. Akhirnya saya, Bu Joko, 3 orang Czech gang, dan pasangan Bule Prancis sepakat untuk menuju Tentena saja dan meminta Ardi mencarikan kami mobil di Pelabuhan Ampana. Ardi mengatakan bahwa kami bisa menggunakan mobil dengan kapasitas 8 orang penumpang, termasuk 1 orang supir, yang telah dia hubungi dengan biaya sewa Rp850.000 yang akan ditempuh kurang lebih dalam waktu 8 jam perjalanan.

Di sepanjang perjalanan dari Wakai ke Ampana akan banyak kita jumpai pulau-pulau koral kecil imut nan cantik seperti ini.

Togean (64)

Sekitar pukul 14.00 kapal mulai mendekati Pelabuhan Ampana dan terlihat banyak agen travel serta penduduk menunggu sejejar arah kedatangan kapal. Pelabuhan Ampana tidak sebesar dan semodern Pelabuhan Gorontalo, tetapi lebih besar dan lebih modern daripada Pelabuhan Wakai. Then i heard someone was yelling “ESTU… ESTU… I’ve been waiting for you and your bule friends” Oh my… I did’nt know that i had a fanatic fan there and did’nt expect this kinda welcome party. Ardi told me that our driver to Tentena was in the car and i had to follow him to find the car so i thought this crazy angry old guy was not our driver. I acted as someone else but that gray haired with bright green coloured jacket guy kept yelling my name “YOU MUST BE ESTU, ESTU… ESTU… YOU MUST BE ESTU… Lina has told me that you are wearing that colorful tshirt and accompanying 3 bules”. Pfffttttt. I could’nt act as someone else then. I put the blame on the one and only LINA, the manager of BM Resort in Togean. How could she gave my name to this crazy guy and made me feel ashamed in the middle of the crowd in a new place for me.

Saya menemui orang tersebut, yang ternyata dalah seorang ibu paruh baya, dan menanyakan apa maksudnya teriak-teriak memanggil nama saya. Dia mengatakan bahwa dirinya dihubungi Lina bahwa akan ada Estu yang memakai kaos warna-warni bersama 3 orang bule yang akan menyewa mobil ke Tana Toraja. Laknat banget ini si LINA pakai adegan sok baik mencarikan kami mobil ke Tana Toraja padahal itu cuma rencana kami pada saat masih galau di Togean. Saya jelaskan kepada Si Ibu itu bahwa itu hanya skenario sekilas yang ditanyakan Czech Gang ke Lina semalam sebelum kami memutuskan benar-benar mau ke mana. Tidak tahu dia kalau kami pada saat di kapal tadi memutuskan akan ke Tentena dulu. Saya benar-benar masih jengkel dengan Si Ibu yang meneriaki “ESTU… ESTU… KAMU PASTI ESTU” tadi dan tidak terima dengan kelakuan Lina. Akhirnya Si Ibu menelepon Lina untuk mendapatkan kepastian tentang calon korbannya ini dan meminta saya untuk berbicara langsung dengan Lina. Dalam obrolan di telepon beberapa detik tersebut, saya marahi Lina yang berani-beraninya berbuat sok baik mencarikan kami mobil dengan mengumpankan kami kepada mamak macan berambut silver ini. Setelah itu, bukannya melepaskan kami, Si Ibu malah tetap memaksa saya harus memakai mobilnya karena sudah dipesan oleh Lina. Dengan sama-sama bernada tinggi, saya menolak permintaan dia untuk memakai jasa sewa mobilnya walau dia bilang dia bisa mengantar kami ke Tentena saja, yang penting pakai mobil yang dia sediakan dan tidak peduli dengan Ardi siapalah itu yang telah kami pesan. LHO!!! Sak enake gundule dhewe ngono. Saya, yang benar-benar menjadi pusat perhatian seluruh penumpang kapal yang baru saja turun karena kelakuan ibu ini, kemudian mencari Ardi untuk bertanya bagaimana ini karena saya dipaksa menggunakan kendaraan yg diobjekkan ibu itu. Ardi mengatakan terserah saya saja kalau membatalkan mobil darinya. Bule-bule juga mnegatakan sudah apa saja lah yang penting sampai Tentena. Akhirnya saya kembali menemui ibu itu dan diminta melapor ke Tourist Information Center yang berwarna biru. Di depan tempat yang ditunjukkan Si Ibu, supir yang dipesan Ardi ternyata menemui saya dan bilang siap mengantar kami dan saya bilang ke dia kalau saya harus menyelesaikan urusan di kantor informasi dulu. Di tempat yang dibilang sebagai pusat informasi ini saya mendapati wanita lain yang sedang duduk bersila menaikkan satu kakinya ke atas kursi sambil merokor dan tidak memperhatikan kehadiran saya. WTH. Bagaimana pariwisata Indonesia mau bagus kalau sumber daya manuasianya tidak sopan dan sak enake udhele gini. Kemudian datanglah Si Ibu beruban yang mulai melepas jaket hijaunya sambil menanyakan kami mau ke mana. Saya bilang kami mau ke Tentena bertujuh, bukan langsung ke Tana Toraja seperti yang dibilang Lina, dan berangkat sekarang juga. Si Ibu dengan mudahnya bilang dia siap menyediakan mobil untuk kami sekarang juga. Saat saya menanyakan biaya sewa mobil ke Tentena, Si Ibu yang duduk di kursi bilang Rp1 juta dan saya bilang enak saja segitu, wong saya bisa mendapatkan mobil dengan harga Rp800.000 dari Ardi (padahal tadi deal-nya Rp850.000), dan ternyata mereka mau dengan tarif Rp800.000 tersebut. Iyalah yang penting tidak kehilangan mangsa kan?? HUH.

Tojo Una-Una (1)Segera saya ke luar kantor dan melihat mobil yang disediakan Si Ibu yang ternyata menggunakan mobil dan supir yang sama dengan yang ditawarkan oleh Ardi. Jadi ceritanya ibu ini mengakuisisi mobil dan supir yang tersedia untuk kepentingannya bisnisnya sesuka hati gitu kali ya. Tetapi saya pikir lumayan lah akhirnya dapat mobil yang lebih murah Rp50.000 dari hasil marah-marah dan tipu-tipuan dengan duo racun berkedok tourist information center ini.

Saya memanggil Bu Joko, Czech Gang, dan pasangan bule Prancis untuk segera masuk ke mobil dan cus ke Tentena. Dan dong, duo racun masih berupaya menjerumuskan agar kami harus makan saja dulu di warung dekat lokasi mereka. Saya kekeuh tidak mau makan di sini dan lebih memilih di warung agak jauh dari pelabuhan walaupun kata mereka bakal terkena penutupan jalan menuju Poso sehingga susah mencari warung yang buka. Akhirnya berangkatlah kami menuju tentena dengan disupiri Pak Mito yang juga jadi korban keganasan duo racun. Maaf ya Pak karena duo racun akhirnya pemasukan Bapak pasti berkurang karena seharusnya kami langsung membayar Bapak Rp850.000 tetapi jadinya hanya Rp800.000 dan itu pun melalui duo racun.

Ini dia Si Ibu “ESTU… KAMU PASTI ESTU”.

Tojo Una-Una (2)

Rincian pengeluaran dari Gorontalo, selama di Togean, hingga sampai di Ampana.

11 Mei 2015
Kapal Cengkih Afo ke Wakai @89.000      267.000
12 Mei 2015
Penginapan 2x3x200.000    1.200.000
Kelapa          30.000
Lobster      200.000
Alat snorkeling      180.000
13 Mei 2015
Kapal      850.000
Air 6×15.000          90.000
Alat snorkeling      150.000
Share cost dari bule    (500.000)
Total    2.467.000
Per orang      822.333
14 Mei 2015
Kapal Kapia Touna ke Ampana          65.000
 Total pengeluaran 887.333

Island Hopping in Togean

It was 4 in the morning when Bunda Hani woke me up to borrow my flashlight as she would have a pee in the middle of darkness. The electricity turn on at 5 pm and off at 10 pm with exception for charging that always on in most of time, btw. What i got when i reached my flashlight was so many ants surrounding Bu Joko’s and my leg on white covered bed then I and Bunda screamed. We found Bu Joko was still sleeping in peace like we had him last night without any distraction from all the crowd we made and ant-attack.

I went out from our room at a quarter past five and walked around nearby the beach. I saw none there but me and beautiful sunrise. As i tried to reach the bridge in front of Kadidiri Paradise, i found that the connection door between Black Marlin and Kadidiri Paradise was still locked.

Togean (39)

The breakfast was ready at 7.

Togean (40)

While the Czech Gang were discussing to decide what they would do wether diving or island hopping with us, i went to the resort kitchen to find out what would be our lunch menu. I was just shocked with a flying ready-to-eat-breakfast plate, fork, and knife when i entered the kitchen. Lina, the resort manager, was upset to i did’nt know what and threw that things to the floor as she walked out from the kitchen to her room. Then i saw a young waitress was crying and some old women were in afraid while they still set the food onto the plate. Some employee said that angry Lina was their daily show and it was only a matter of time to get their turn. I went back to the restaurant and sat down with the Czech Gang again and they decided to join with me to do island hopping and snorkeling.

Togean (41)

We had to rent float, fin, and snorkel for Rp50.000 per person and buy a big size mineral water for Rp15.000 per bottle as provision beside the lunchboxes. When the boat was ready at a half past eight, we started our voyage to the first destination, California Reef. It took about 80 minutes by regular boat to reach the reef from BM.

Togean (72)

Dive Michal dive.

Togean (44)

David and Michal did enjoy their diving moment.

Togean (43)

As Michal knew that i could’nt dive, he took my picture from deep down the sea.

Togean (45)

Had a selfie moment with David.

Togean (46)

Bu Joko made a homage to the infamous national TV campaign in 90’s.

Togean (47)

Under the sea…. Under the sea… Why there was no mermaid??

Togean (37)

Bunda only did a little sight seeing nearby the boat because she could’t swim and afraid to go a bit far even the boat driver and float helped her. And Jan, as he finished to look around the site in 15 to 20 minutes, he went back to the boat and enjoyed the turquoise, blue, green seascape.

Togean (38)

Ough :O

Togean (68)

With the Czech Gang.

Togean (76)

Don’t you think that i had a sun-kissed and glowing face like Farah Quinn? Well, I only need a bule boyfriend with heavy chest hair then. #ngok

Togean (42)

And these are our favorite essential beauty products for summer trip.

Togean (69)

We moved to the next destination, Bajo Village where you could find a very long bridge connecting one island to another. It took about an hour boat trip from California Reef.

Togean (75)

We climbed the hill to get this view when it was about to rain. That far behind was the bridge. Togean (77)

A colorful laundry.

Togean (48)

Yes, im still looking for my partner in love and life. And i keep hoping its you. Togean (50)

There is a free hut to sit, relax, and enjoy our food where some local children will come to accompany us and you can share your food, stoyy, and laugh with them. We shared our lunch which contained a-too-many-rice, omelette, and fried noodle with them.

Togean (71)

When David showed them a magical trick with his yummy and cute face, they did like it and even tried to do it.

Togean (70)

You can give them candies, chocolate, noodle, toys, or whatever and they will be very happy to accept your gift.

Togean (79)

Im afraid with this scene. -.-

Togean (2)

Then we moved to jellyfish lake that took about 100 minutes by boat from Bajo Village. Togean (1)

It was a bit hard to get down to the water except by jumping and also to get out of it because there was no stair in the side of the lake. You didn’t have to wear a fin, just float and snorkel to keep the jellyfish from your fin movement. A a side-lake-house nearby the bridge was built to be a jellyfish shelter but had been floated by the stream to another side of lake. There were two kind of jellyfish here, the transparent and the yellow one. I was once being followed by the yellow jellyfish that made me scream and swam back to the side of the lake while it still followed me.

Togean (78)
Bunda said that the jellyfish lake in Kakaban has many more jellyfishes than here and easier to find.

Togean (73)

For me, this lake was a bit scary due to its atmosphere, water color, and depth. I imagined there would be a giant monster turned up from the water.

Togean (54)

Our next destination was a very serene and beautiful Karina Beach which took only 10 minutes boat trip from jellyfish lake. It felt like having and enjoying a private beach.

Togean (74)

That was our last destination from the island hopping that day then we went back to the resort at 4 pm and arrived 40 minutes later. When we arrived at our room and prepared to have a shower, i led my gang to the disunity when i told them what if i join the Czech Gang to Toraja by Thursday. Bu Joko said thats Ok and he might go to Luwuk before going back to Jakarta on Sunday. And Bunda, she surprised us by saying that she would go with Gema and follow him until Palu. I called the airline officer to find out is it okay to catch my flight from Palu to Jakarta in Makassar because i knew that it would be stop for a while in Makassar but the airline officer told me that i couldn’t do that. If i would reroute my flight, I had to pay like 4 millions for business class that still available from Makassar to Jakarta due to the end of public holiday on. I would’t spent that much money for a new ticket. I asked my friend i Jakarta to check another flight from Makassar to Jakarta that day but i still could’nt get the reasonable price one. #mateklahawak #forgetit

I, the Toli-Toli Gang, Bunda, Bu Joko, and Gema (the exotic lonely traveler boy and also Bunda muse) enjoyed our last dinner in Togean. We felt like a group of Indonesian migrant in Hongkong gossiping in the Victoria Park and surrounded by quiet foreigners. #HaveNeverBeenToHongkongBtw

Togean (55)

After having the dinner, i sat down with the Czech Gang again and made sure their schedule to Toraja. They asked Lina about public rent car to Togean and she said it could be Rp2.000.000. Then i called a travel agent in Ampana and he said Rp1.800.000. The Czech Gang did’nt deal with Lina and decided to meet the travel agent i called or another. Bunda was a bit confused with her decision to follow Gema, because she would be with him without me and Bu Joko. Bu Joko was the coolest one when he kept reading his book where there was a story about a very beautiful sunset at Luwuk that led him to visit it. Then everyone slept with their own planning and uncertainty for tomorrow.

Togean oh Togean

Pagi itu sekitar pukul 07.45 wita kami akhirnya menginjakkan kaki di Pelabuhan Wakai di Kepulauan Togean yang termasuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Tojo Una-Una, Provinsi Sulawesi Tengah. Di sekitar Pelabuhan Wakai ini kita ternyata bisa mendapatkan sinyal telepon untuk Indosat dan Telkomsel, tetapi tidak ada koneksi data di sini. Saat baru turun dari kapal, para wisatawan diminta menuliskan identitas masing-masing di sebuah buku semacam buku tamu yang mencantumkan nama, nomor paspor, masa berlaku paspor, negara asal, dan berapa lama akan tinggal di Togean. Di buku tamu yang dalam 1 halaman bisa memuat sekitar 30 nama hanya ada sedikit wisatawan lokal (kami bertiga), selebihnya wisatawan dari Eropa semua. Setelah mengisi buku tamu, kami menaiki kapal cepat milik Black Marlin (BM) yang sudah bersiap membawa kami bertiga, 3 orang wisatawan bule, 2 orang bule pelatih menyelam di BM, manajer BM, dan seorang adik pekerja BM yang mengemudikan kapal.

Togean (9)

Perkampungan penduduk di sekitar Pelabuhan Wakai.

Togean (10)

Hanya dalam waktu tempuh sekitar 15 menit, kami akhirnya tiba di Pulau Kadidiri yang mempunyai 3 resor yang cukup ternama di Togean, yaitu Lestari Kadidiri (LK), Black Marlin (BM), dan Kadidiri Paradise (KP). Lautnya bening dan biru bingiiitsss…

Togean (14)

Tempat leyeh-leyeh manja sambil berjemur di BM.

Togean (15)

Manajer BM, yang bernama Lina, menyuruh si adik pengemudi kapal untuk membawa kami ke sebuah kamar yang katanya masih tersedia. Kami dibawa untuk melihat kamar yang letaknya agak jauh dari restauran BM dan malah mendekati KP. The rate of this deluxe bungalow was Rp300.000 per person per night which included 3 times meal. The room was beautiful and  the bed has a full mosquito net. You could add an extra bed but the rate was still Rp300.000 per person per night. It was a good offering but a bit pricey for our pocket then we looked around another room.

Togean (11)

The all standard rooms which rates Rp250.000 per person per night were full. And we stopped in this kinda economy room which rates Rp200.000 per person per night and have 2 double beds per room with the bathroom outside. There are only 2 economy room in BM.

Togean (12)

We dropped our belongings on the floor, and had a bit touch up before having our very first breakfast in Togean. The omelette and papaya were not my kinda breakfast. 😀

Togean (13)

Setelah sarapan, kami berencana untuk langsung island hopping bersama 3 bule Ceko yang bareng dari Gorontalo serta Wakai akan tetapi tidak ada kapal yang tersedia sehingga kami urungkan niat itu dan hanya snorkeling di pantai depan resor. The Czech Gang yang bersama kami namanya Jan, Michal, dan David. Mereka sudah hampir 2 pekan di Indonesia dan sudah lebih dari 1 bulan pergi dari negaranya. Jan dan David sedang berada di Nepal saat negara itu diguncang gempa. Setelah dari Nepal, mereka dan Michal bertemu di Jakarta sebelum berkeliling Indonesia. Mereka bertiga sempat beberapa hari di Jakarta, meskipun hanya sempat mengunjungi Monas dan menginap di homestay di pinggiran Jakarta, sebelum melanjutkan perjalanan ke Gorontalo. Selama seminggu tinggal di Gorontalo, 3 bule ini menginap di rumah salah satu anggota coachsurfing yang mau menjamu mereka berkeliling Gorontalo. I met them on the boat from Gorontalo to Wakai.

Pada waktu makan siang. dengan menu nasi putih dengan terong goreng tepung dan telur balado dan para turis lokal dikumpulkan dalam 1 meja makan besar, kami bertemu 2 wisatawan dari Manado yang sedang mengajak teman mereka dari Hongkong untuk menikmati Togean. Mbak Manado dkk ini sudah beberapa hari tinggal di BM dan mereka ternyata baru saja trekking ke sebuah pantai di bagian lain Pulau Kadidiri dari belakang resor. Objek yang tepat bagi kami dan Czech Gang untuk siang nanti.

Bunda Hani leyeh-leyeh cantik.

Togean (20)

Setelah matahari agak turun, kami dan Czech Gang mulai jalan-jalan ke sekitar BM. Pertama ke sisi kanan yaitu ke Kadidiri Paradise.

Togean (19)

Kadidiri Paradise ini punya tempat leyeh-leyeh yang khas berupa gazibu dengan jembatan panjang di depan resornya.

0Togean (17)

BM dan Kadidiri Paradise dipisahkan oleh pintu dan bungalo di dekat pantai yang membuat kita harus masuk ke dalam air laut setinggi paha atau lutut tergantung ketinggian air laut jika ingin melintas secara ilegal pada saat pintu ditutup. Beruntunglah kami karena siang itu ada beberapa bule yang baru saja melihat Kadidiri Paradise, lalu ke BM dan balik lagi ke Kadidiri Paradise sebelum memutuskan mau menginap di mana sehingga pintu penghubung masih dibuka. Bungalo di Kadidiri Paradise.

Togean (18)

Dari sisi kanan BM, kami berpindah ke bagian kiri ke Lestari Kadidiri. Lestari ini penginapan yang terlihat kering dan panas tanpa tempat leyeh-leyeh manja di bawah pohon atau gazibu seperti 2 tetangganya.

Togean (21)

Bagi bacpacker, Lestari Kadidiri ini sangat cocok tarifnya karena per orang per malam hanya sekitar Rp150.000 untuk kamar seperti di bawah ini dan hanya tersedia beberapa kamar saja di sini yang mana saya tidak melihat bule-bule menginap di sini.

Togean (22)

Kalau soal keramahan, Lestari Kadidiri ini mempunyai karyawan yang ramah-ramah dan lucu. Seperti Mas-Mas yang sedang bermain musik ini. Mas pemain gitar adalah warga asli Togean, sedang yang duduk merokok merupakan orang Bajo. Kami kemudian menanyakan jalan menuju pantai di belakang dan malah dipinjami si Udin, anjing resor Lestari Kadidiri, untuk menjadi pemandu jalan kami.

Togean (23)

Under coconut trees.

Togean (25)

David captured moment a minute away before the beach.

Togean (24)

Dan ternyata ya, untuk menuju pantai di balik bukit di belakang resor, kami hanya perlu berjalan sekitar 30 menit dengan santai dan masih bisa foto-foto, dan sedikit meraba-raba jalan karena terkadang agak membingungkan walau sudah dibimbing Udin. Pantai ini terletak di arah jalur kedatangan kapal dari Gorontalo ke Wakai sehingga tadi pagi saat KM Cengkih Afo akan berlabuh di Wakai, kami sudah melihat pantai ini dari kapal. Kami sempat minta diambilkan kelapa oleh mas-mas yang bekerja mencari kelapa untuk dijadikan kopra dan tinggal di gubuk sementara di tepi pantai. Mas-mas ini sudah sebulan tinggal di Pulau Kadidiri yang tidak begitu luas ini untuk memetik buah kelapa sebelum berpindah ke pulau lain yang kelapanya masih banyak dan akan mereka petik.

Togean (26)

Sekitar 45 menit kami bermain-main dan menikmati kelapa di pantai ini sebelum akhirnya kembali ke resor. Di perjalanan menuju BM, kami sempat hampir salah jalan menuju Baracuda Resort, resor baru yang masih dalam pembangunan, yang berada sederet dengan pantai di saat ada jalan bercabang dan Udin sedang entah lari ke mana. Untungnya ya mas pemetik kelapa sedang berjalan tidak terlalu jauh di belakang kami untuk menemui temannya yang sedang membersihkan semak-semak untuk menandai bahwa daerah tersebut telah mereka panen kelapanya.

Sekitar pukul 16.00 wita kami tiba kembali di BM dan disambut nelayan yang sedang menawarkan lobster hasil tangkapannya kepada para bule.

Togean (4)

Awalnya sih lobster ini ditawarkan dengan harga Rp200.000 per kg dengan isi antara 3-5 ekor tetapi setelah dirayu-rayu dan saya tinggal untuk gegoleran bentar menikmati sinar matahari sore, eh si pak nelayan menghampiriku dan menawarkan harga Rp150.000 tetapi langsung saya minta Rp100.000 saja. Dan syukurlah bapaknya mau dengan harga tersebut dan saya boleh memilih 5 buah lobster. Ukuran 1 kg lobster ternyata hanya perkiraan bapaknya saja jadi suka-suka dia menentukan kalau agak besar dapat 4 ekor, kalau agak kecil dapat 5 ekor. Tidak kecil juga kan lobster yang saya dapat? Cantik-cantik pula hanya dengan Rp100.000.

Togean (27)

Gegoleran dengan (David dan) Udin yang masih mengikuti kami walau sudah kembali ke BM.

Togean (28)

Pada saat hari hampir senja, kami baru menyadari ternyata ada rombongan wisatawan lokal yang sedang mandi-mandi cantik di dekat gazibu tempat pemberhentian kapal. Mereka ternyata 5 anak muda dari Toli-Toli yang juga baru pertama kali ke Togean dan menggunakan jasa agen travel untuk mengurusi perjalanan mereka ke sini.

Togean (29)

Andai saja aku bisa menikmati senja di sini bersamamu.

Togean (31)

Kami menikmati makan malam dengan menu ikan goreng, sambal dabu-dabu yang tak pedas sesuai selera bule, dan lodeh terong. Walaupun terong lagi terong lagi tetapi enak kok. #TimTerong

Togean (32)

Pada saat makan malam, ada seorang bule dari Belanda yang merayakan ulang tahun dan diberi kejutan oleh si cowoknya. Si cewek meniup lilin yang ditancapkan dalam puding coklat yang dipesan khusus kepada pihak resor sebagai pengganti kue.

Togean (33)

Setelah makan malam, saya menemui Lina selaku manajer resor untuk memastikan rencana island hopping kami besok. Harga sewa per kapal adalah Rp850.000 termasuk bbm dan pengemudi untuk seharian dari pukul 08.00 sd 17.00. Czech Gang sih masih galau apakah mau bergabung dengan kami atau mau menyelam. Mereka masih memikirkan apakah jika mereka menyelam akan mendapatkan titik-titik penyelaman yang bagus atau hanya celup-celup sikit dan rugi membayar mahal.

Kita tinggalkan para bule galau untuk menikmati menu lobster yang saya minta tolong kepada ibu koki di resor untuk dimasak dan dia rekomendasikan dimasak saus padang. Dari 5 ekor lobster yang saya beli, hanya jadi 4 ekor karena yang 1 gosong pada saat dimasak. Untuk acara makan lobster ini, saya mengundang Czech Gang dan teman baru Bunda Hani, seorang wisatawan lokal yang sedang menunggu sidang skripsi di Surabaya. Lobster saus padang dan kacang Sihobuk yang sudah saya bawa.

Togean (34)

Walaupun awalnya merasa kepedesan, akan tetapi Czech Gang merasa puas dengan enaknya lobster saus padang yang ditutup dengan makan kacang Sihobuk agar tidak terlalu kepedesan. 😀

Togean (35)

Perut kenyang, badan pegal, maka saatnya untuk pijat. Michal dan David menikmati pijat yang dilakukan oleh para juru masak resor yang telah selesai menjalankan tugas di dapur. Untuk pemijatan selama 1 jam yang dilakukan oleh 2 ibu dengan bantuan 2 mas-mas ini, tarifnya adalah Rp100.000. Jadi upah pijat Rp200.000 dari Michal dan David dibayarkan kepada pengelola resor Rp100.000, dan kepada masing-masing pemijat Rp25.000.

Togean (36)

Saat pijat-pijat ini, saya juga turut serta dalam proses pemijatan Michal dan David. Badan bule-bule ini kalau kata Ibu pemijat tidak begitu keras dibanding badang orang Indonesia dan memijatnya pun cukup di-emek-emek tanpa memerlukan teknik pemijatan yang biasa diinginkan orang kita. Selain itu, saya juga baru tahu kalaurumah para pekerja ini di pulau-pulau sekitar Kadidiri tetapi mereka jarang pulang apalagi kalau sedang banyak tamu karena mereka harus sudah mulai siap-siap memasak dari pukul 5.00 wita dan baru selesai setelah makan malam yaitu pukul 20.00 wita, belum lagi jika ada permintaan khusus dari para wisatawan seperti memasak ini itu atau memijat maka bisa-bisa mereka baru selesai bekerja pukul 21.00 atau 22.00 wita. Dengan bayaran tetap yang tidak begitu tinggi tetapi harus melayani wisatawan yang cukup banyak dari pagi sampai malam, saya merasa iba dengan kondisi pegawai di resor ini. Menurut mereka, KP dan BM merupakan resor yang banyak wisatawannya tetapi memberikan upah kepada karyawannya tidak lebih baik daripada resor biasa yang hanya mempunyai beberapa tamu. Setelah adegan pijat-pijat ini, saya kembali menemui Bunda Hani yang masih asyik mengobrol dengan “teman” barunya di tempat makan lobster tadi dan akhirnya sekitar pukul 22.00 wib kami bubarkan acara karena lampu-lampu sudah mulai dipadamkan oleh pihak resor. Pada saat masuk kamar, kami mendapati Bu Joko  sudah tertidur pulas dalam gelap dan ternyata kami bisa memandangi bintang-bintang yang terlihat sangat banyak, indah, dan bertaburan di langit. Bunda dan saya sempat berebut lokasi kasur yang berada di dekat jendela yang menghadap ke pantai agar bisa menyaksikan indahnya bintang-bintang saat itusambil rebahan galau sebelum tidur tetapi akhirnya Bunda-lah yang menguasai singgasana tersebut.

Semalam di KM Cengkih Afo

 Setelah memegang tiket kelas bisnis KM Cengkih Afo, kami masuk kapal yang saat itu masih sepi. Akan tetapi, karena AC belum dihidupkan dan kapal yang agak bergoyang-goyang maka kami kemudian turun lagi untuk ngeteh di sebuah warung yang banyak digunakan oleh para pekerja dan ABK di Pelabuhan Penyeberangan Gorontalo.

Cengkih Afo (1)

Saat waktu menunjukkan pukul 17 wita, kami kembali mendekati kapal untuk duduk-duduk saja di depan pintu masuk kapal. Dan baru sekitar pukul 18.00 wita kami kembali masuk ke kapal dan duduk di kursi tempat kami meletakkan tas. Baru duduk sebentar, saya memutuskan untuk naik ke buritan kapal melalui ruang ABK dan mengambil foto senja. Cantik kali ternyata pelabuhan yang sangat panas di siang hari.

Gorontalo (23)

Dari sisi buritan sebelah yang menghadap lautan nampak kapal-kapal nelayan dengan lampu warna-warninya yang sepertinya akan berangkat melaut.
Gorontalo (24)

Sekitar pukul 18.30 wita di saat kami sudah berkumpul dan duduk ayem di kursi dan saya bersiap makan malam, tiba-tiba Bu Joko diajak ngobrol seorang bapak yang duduk di belakang kami. Dia bertanya kami akan ke mana, apakah pertama kali datang ke Togean, mau menginap di mana, kapan balik, dsb. Enak sih si sepertinya cara berkomunikasi bapak ini. Akhirnya setelah selesai makan, saya nimbrung obrolan mereka dan baru mengetahui kalau si bapak ini seorang free lance yang baru saja mengantar bule pelatih menyelam di salah satu resor untuk mengurus perpanjangan izin tinggal atau apa gitu di Kantor Imigrasi Gorontalo. Si Bapak kemudian bilang kalau Togean itu semuanya indah, jadi mau menginap di mana saja semuanya indah. Dan terkait jadwal kepulangan yang kami rencanakan di hari Sabtu, si bapak bilang bahwa kapal tidak ada di hari Sabtu sehingga kemungkinan kami harus menyewa kapal ke Pelabuhan Ampana di hari itu.

Saya sebelumnya telah menyusun rencana perjalanan ke Togean dari membuat daftar perbandingan harga, fasilitas, dan komentar pengunjung resor, serta mencari informasi tentang jadwal kapal, pesawat, dan ada apa saja di Togean. Setelah melalui perang batin yang cukup panjang, saya akhirnya melakukan komunikasi melalui surel aka email secara intensif dengan Ales, bule pengelola Waleakodi Sifa Resort, yang menurut hasil riset saya di internet merupakan pilihan yang paling sesuai dengan keinginan dan bujet kami. Menurut revisi rencana perjalanan yang saya rencanakan terkait perubahan jadwal kapal karena perbaikan Kapal Tuna Tomini, jika kami tiba di Wakai hari Selasa pagi maka kami akan melanjutkan dengan menggunakan kapal umum menuju Pelabuhan Malenge sebelum dijemput kapal resor menuju Sifa Cottage. Saya rencanakan untuk tinggal di Sifa hingga hari Kamis lalu pindah ke Poya Lisa lalu pada Sabtu pagi baru menuju Ampana. Saya juga sempat menghubungi Pak Edi dari Ampana Travel yang berkedudukan di Pelabuhan Ampana di nomor 082349951833, yang merupakan penghubung jika kita ingin menginap di Poya Lisa, Marina, serta Lestari Resort karena keterbatasan sinyal telepon di Togean. Pak Edi menawari saya sewa kapal selama 4 hari selama dari saat tiba di Togean, ke Sifa Cottage, island hopping, pindah ke Poya Lisa, mengantar kami ke Tanjung Api hingga ke Pelabuhan Ampana. Paket yang ditawarkan Pak Edi sebenarnya sangat terjangkau asalkan kami berjumlah sekitar 10 orang, akan tetapi kami hanya bertiga, bagaimana dong. Saya sempat membuka open trip di kaskus, twitter, dan coachsurfing tetapi cukup mendadak hanya dalam kurun waktu seminggu sebelum keberangkatan sehingga tidak mendapat tambahan teman untuk berbagi biaya. Walhasil, saya, Bu Joko dan Bunda Hani memutuskan untuk tidak menerima tawaran Pak Edi dan memilih akan ngeteng dengan kapal umum saja.

Cengkih Afo (2)

Kembali tentang saran si bapak di kapal, saya yang pusing pala barbie tentang jadwal kami di Togean jika tidak ada kapal di hari Sabtu selama Tuna Tomini perbaikan dan tidak ada kapal umum ke Ampana pada hari Jumat memutuskan untuk mencari second opinion dari ABK yang sudah beberapa kali saya ajak ngobrol sejak pagi tadi pertama ke kapal. Dari hasil diskusi tersebut ternyata rencana perjalanan yang saya buat ada yang melenceng di mana untuk keberangkatan ke Togean saya menggunakan jadwal kapal terbaru yang dikirimi Ales beberapa hari sebelum keberangkatan, sedang untuk jadwal ke Ampana saya masih memakai jadwal kapal lama. Dengan kondisi tersebut memang kami akan tiba lebih cepat di Wakai, Togean pada hari Selasa pagi dengan KM Cengkih Afo, berbeda dengan jadwal KM Tuna Tomini yang akan berlabuh di Wakai pada Rabu pagi, akan tetapi kapan dan bagaimana cara kami ke luar Togean menuju Ampana dengan hemat jika tidak ada kapal umum pada hari Sabtu.

Cengkih Afo (3)

Saya kembali ke kursi dan kembali mengikuti pembicaraan Bu Joko dan si bapak. I told him that i realized my mistake about the old and new ferry schedule. Then i, Bu Joko, and Bunda Hani reached a decision to move to Black Marlin Resort (BM) which is close enough to Wakai harbour. Si Bapak yang sejak mengetahui kami mau ke Sifa sudah bilang kalau Sifa itu jauh sehingga membuang-buang waktu kami untuk berpindah-pindah pulau dan kapal, berbeda dengan Black Marlin yang letaknya lebih strategis tersenyum menyeringai. Walaupun si bapak habis mengantar 2 bule pelatih selam di BM untuk mengurus dokumen di Imigrasi Gorontalo, dia bilang bukan agen BM dan free lance membantu turis-turis, dan dia akan melanjutkan perjalanan ke Ampana di mana dia sekarang mengurus bisnis tournya. Dia bertanya kepada 2 bule dari BM tentang ketersediaan kamar di sana dan mereka bilang ada sehingga kami bisa menginap di sana. Sehubungan perubahan tempat menginap dadakan tersebut dan mumpung masih ada koneksi data, maka saya segera mengirim surel ke Ales untuk memberitahunya bahwa kami tidak jadi menginap di Sifa karena alasan ketersediaan kapal sehubungan dengan perbaikan KM Tuna Tomini. Surel terkirim sesaat sebelum kapal mulai meninggalkan pelabuhan pada pukul 20.15 wita di mana saat itu ada mas ABK yang menunjukkan cara pemakaian pelampung layaknya pramugari pesawat. Pertama kali melihat adegan seperti ini karena pada saat naik kapal dari Gunung Sitoli ke Sibolga atau dari Merak ke Lampung saya tidak mendapati adegan seperti ini.
Gorontalo (25)

Bunda dan Bu Joko yang sudah terlelap walaupun belum menyantap makan malam yang sudah kami beli di Gorontalo. Si Bunda takut mabok seperti di travel dari Manado ke Gotontalo. Kebetulan keadaan penumpang kapal malam itu tidak terlalu penuh yang mungkin disebabkan banyaknya calon penumpang yang tidak mengetahui perubahan jadwal kapal. Kami bisa selonjoran tidur.
Gorontalo (22)

Keesokan harinya saya sudah bangun sekitar pukul 5.30 dan langsung ke buritan kapal lewat ruang ABK lagi. Sebenarnya ada tangga ke buritan dan ruang penumpang ekonomi di belakang ruang penumpang bisnis akan tetapi pintunya agak rusak sehingga dikunci.
Togean (6)

I wish you were here and we made a homage to the infamous Titanic’s scene. You know, what i mean is neither the drawing nor the in the car scene, but the Im-flying scene when Leo hugged Kate from behind. 😀
Togean (5)

When i was so mandele, this beautiful German lady who just visited Bawean Island for about 10 days. I have never been to the island and that was her second visit after last year.

Cengkih Afo (5)

Colorful boat.

Cengkih Afo (6)
Naik-naik sampai ke bagian atap kapal segala.
Togean (8)
Dan akhirnya kami melihat pulau-pulau kecil di Togean kemudian kapal cepat BM melintas untuk menjemput kami dari pelabuhan Wakai menuju resor bersama 2 bule pelatih selamnya serta David, Jan, Michael.
Togean (7)

Jadwal Penyeberangan Feri Gorontalo-Wakai-Ampana Mei 2015

image

Ini jadwal penyeberangan menuju Togean dari Ampana, Togean dari Gorontalo, juga Togean dari Bumbulan untuk bulan Mei 2015 selama Kapal Tuna Tomini masuk dok.

Ayo segera susun jadwalmu ke Togean bulan Mei ini.

Jadwal kapal di atas aku dapat dari Ales, Waleakodi Sifa Cottage. We’re about to have a Cengkih Afo ferry ride from Gorontalo to Wakai in less than 3 hours. Tonight is gonna be the first time Cengkih Afo Ferry operates to substitute Tuna Tomini Ferry.

We’re ready to sail Tomini Gulf for 12 hours. Wish us luck. Xoxo