Bara Bere di Tanjung Bira

Trip ini saya lakukan di bulan April 2016, sekitar 8 bulan lalu yang awalnya hanya untuk ke acara nikahan teman kantor saat akhir pekan dan berubah menjadi trip dadakan ke Tanjung Bira. Saya sudah beli tiket PP ke Makassar berangkat Jumat malam sekitar pukul 22.00 wib dan kembali ke Jakarta dari Makassar hari Minggu malam pukul 20.00an dari bulan Februari dengan harga sekitar Rp1.000.000 lebih sedikit saja. Sudah googling sana-sini masih bingung amau ke mana dengan waktu yang sangat terbatas dan seorang diri tersebut. Kalau harus naik angkutan umum dan berpindah-pindah bakal membuang waktu di jalan, kalau menyewa kendaraan seorang diri bakal cukup mahal. Eh alhamdulillah, pada hari Rabu sebelum keberangkatan tiba-tiba ada 2 teman yang mau ikut, si GGS aka Mika dan Kak Ipin. Saya pun segera menetapkan tujuan utama jalan-jalan ke mana dan bagaimana ke sananya serta bagaimana bisa sampai di Makassar Minggu malam ke acara nikahan teman. Setelah mencoba menghubungi beberapa travel yang menyewakan mobil saya memilih untuk menyewa mobil Mas Ayit (087841486600) dari Bugis Makassar Trip dan disepakatilah harga sewa untuk 2 hari sebesar Rp1.300.000 all in. Dihitung 2 hari karena kami mendarat Sabtu dini hari pukul 01.00 dan kembali ke bandara pada Minggu malam.

Tanjung Bira

Saat kami mendarat di Makassar, kami langsung dijemput Pak Alman, supir yang akan membawa kami ke Tanjung Bira. Dengan masih memakai baju kantor kami langsung melaju manja ke Bulukumba di ujung paling bawah Sulawesi yang memerlukan waktu sekitar 4 jam dari Makassar. Saya yang sangat mengantuk (seperti biasa dikorbankan untuk) duduk di samping Pak Alman mencoba tetap terjaga dan berbincang dengan Pak Alman yang terlihat mengantuk juga apalagi kondisi jalan ternyata bagus, walau terkadang naik turun serta cukup jauh, sehingga tentunya membuat supir mudah terlena dan dikhawatirkan tertidur. Sekitar pukul 6.00 pagi kami tiba di Tanjung Bira dan langsung memilih penginapan yang akan kami tempati. Dari beberapa pilihan yang direkomendasikan Pak Alman, kami memilih penginapan yang meskipun tidak berada di bibir pantai tetapi masih dekat dengan pantai dan lumayan bagus serta murah serta hanya akan mengenakan biaya satu malam meskipun kami early check in.

Sekitar pukul 08.00 wita setelah sedikit beristirahat dan sarapan, kami langsung menuju Pulau Kambing. Kami menyewa kapal yang direkomendasikan pihak penginapan dengan harga Rp550.000 meliputi Pulau kambing, Pulau Liukang, dan Pantai Bara, dan sudah termasuk fin serta google untuk seharian. Pulau Kambing hanya berjarak sekitar 45 menit dari Tanjung Bira. Dinamakan Pulau Kambing konon karena pulau ini sempat menjadi perebutan sehingga untuk menandakan bahwa pulau ada penghuninya dan tidak bisa dikuasai pihak lain maka dipeliharalah beberapa kambing yang kemudian berkembang biak menjadi banyak yang hidup di pulau. Saya sih tidak melihat sendiri kambing-kambing itu karena kami snorkeling di bagian tebing yang tidak dapat digunakan kapal untuk berlabuh.

Tanjung Bira

Pemandangan di atas laut maupun di bawah laut di Pulau Kambing ini AMAZING. Bagussss bangeeeet. Saya sempat hampir satu jam hanya untuk foto-foto dan menyaksikan keindahan di sekitar pulau ini.

Tanjung Bira

Sebelum akhirnya ikut nyemplung kayak si GGS ini.

Tanjung Bira

Tapi tidak menyelam begini karena saya memang  tidak bisa dan tidak berani menyelam. -,-

Palembang

Sekitar pukul 11.00 wita, kami meninggalkan Pulau Kambing untuk menuju Pulau Liukang yang berjarak sekitar 30 menit dari  dari Pulau Kambing.

Tanjung BiraPemandangan di Pulau Liukang ini juga sungguh indah. Langit biru, pulau yang hijau, pantai turquoise, laut yang biru.
Tanjung Bira

Pada saat berlabuh, kami penasaran dengan tempat makan yang berada di atas keramba di tengah laut. Untuk menuju keramba tersebut (bangunan dengan atap orange di pojok kiri atas foto di bawah) tidak semudah yang terlihat dan cukup jauh dari tempat kami berlabuh serta terik matahari yang sangat menyengat saat itu. Menggunakan kapal sepertinya menjadi pilihan yang tepat untuk mencapainya. Makanan yang ditawarkan masih lebih bervariasi dan menarik di tempat makan tempat kami berlabuh. Di tempat ini hanya ada pisang goreng, kelapa muda, serta mie goreng dan menu ikan meskipun tempatnya cukup bagus.
Tanjung Bira

Saya memutuskan untuk pergi dulu dari keramba dan menjelajahi perkampungan di pulau ini. Saya kembali menyusuri kampung untuk menuju tempat makan di mana kapal berlabuh.

Tanjung Bira

Tidak disangka ternyata penduduk pulau ini adalah pengrajin tenun khas Bulukumba yang sangat indah. Saya cukup lama berbincang-bincang dengan seorang Ibu penenun yang sedang sibuk menenun sarung. Harga sarung tenun yang ditawarkan saat itu Rp500.000, Rp700.000, dan Rp900.000 tergantung motif dan bahan. Motif yang lebih rumit dan bahan yang mengandung benang emas/prada tentu harganya lebih mahal dibanding yang motif lebih sederhana dan benang perak. Dengan berat hati saya meninggalkan Ibu penenun tanpa hasil karena tidak bisa menawar lebih murah lagi dan kasihan kalau harus dihargai lebih murah. Hemat juga sih aslinya, -.-

Tanjung Bira

 Sembari menunggu pesanan makan datang, saya naik sedikit ke bukit. Suka banget gradasi warnanya.

Tanjung Bira

Walaupun aslinya panas gila. 😐

Tanjung Bira

Pesanan sop dan ikan bakar untuk makan siang yang rasanya enak dan porsinya banyak serta lumayan murah.

Tanjung Bira
Dari Pulau Liukang, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Bara yang sebenarnya sederetan dnegan Tanjung Bira tetapi letaknya agak masuk. Pantai ini terlihat panjang dan landai dengan butiran pasir yang putih dan halus. Ada beberapa penginapan yang terlihat sepi, damai, dan bagus yang sepertinya dikelola serta ditempati orang asing.

Tanjung Bira

Dan akhirnya kami kembali ke Tanjung Bira untuk menikmati sunset dengan sebotol minuman ringan di Hakuna Matata Resort. Resor ini berada di pinggir tebing dan langsung mengarah ke pantai. Selain Hakunan Matata juga ada Amatoa Resort di sebelahnya yang perlu mengeluarkan uang lebih dari Rp1 juta per malam untuk menginap.
Tanjung Bira

Kita cukup membeli minuman atau makan di restauran resor ini tanpa harus menginap dan bisa menikmati pemandangan matahari terbenam dari tempat terbaiknya di Tanjung Bira.
Tanjung BiraSetelah puas menikmati sunset, kami melanjutkan berkeliling untuk mencari makan malam. Awalnya sih mengincar mau makan malam di salah satu resto berbentuk kapal laut tetapi ternyata sudah dipesan untuk acara sehingga kami harus mencari tempat lain. Beberapa rumah makan di sekitar pantai ternyata juga sudah dipesan atau penuh sehingga kami berjalan ke arah jalan utama dan mencari tempat makan yang kira-kira tepat. Dan akhirnya kami makan ini. Di sekitar jalan utama menuju Tanjung Bira dipenuhi penjual oleh-oleh yang didominasi aneka emping dan kerupuk nasi dengan harga yang sangat terjangkau.
Tanjung BiraMalam minggu kami lanjutkan di kamar masing-masing sambil menikmati kebisingan dangdut, karaoke, ceramh, hingga doa bersama hingga tengah malam dari penginapan sebelah yang sedang dipakai untuk acara anak SMA yang akan lulus. Walaupun bising tapi kami tidur lumayan nyenyak kok wkwkkw.

Minggu pagi setelah sarapan kami langsung meninggalkan penginapan dan menuju Pantai Apparalang yang menurut google sedang heits. Biaya retribusi saat itu hanya Rp2.000 per orang dan fasilitas masih minim tetapi pemandangan yang menakjubkan. Ini adalah bagian pertama yang berada di dekat parkiran. Terdapat tangga yang baru dan sedang dibangun untuk menuruni tebing hingga mencapai air laut. Di bagian ini saja sudah terpukau lho.

Tanjung Bira

Beranjak ke bagian lain pantai, di sini terdapat bagian untuk nyemplung-nyemplung ke air dengan menuruni tangga yang yang cukup tinggi dan dibagi 2 tingkat. Agak seram juga tentunya tetapi banyak yang mau mencobanya. Cuaca di sekitar pantai ini cukup mudah berganti-ganti, seperti saat itu dari mendung tiba-tiba cerah lalu mendung lagi. Bagusnya sih saat matahari benar-benar bersinar terang sehingga langit biru dan airnya tampak cetar membahana nan indah.
Tanjung Bira

Dan saya benar-benar terpukau dengan  perpaduan langit, tebing, dan gradasi warna air laut yang cetar membahana di bagian lain pantai ini. Pantai seindah ini akan sangat ramai dan menjadi kotor dan penuh dengan perusakan yang dilakukan oleh pengunjung jika berada di tempat yang mudah dijangkau dan ramai, misal di Pulau Jawa -.-.

Tanjung Bira

Dari Apparalang, kami melanjutkan perjalanan ke Kampung Tana Beru yang merupakan kampung pembuat kapal pinisi yang berada di pesisir tidak begitu jauh dari Tanjung Bira. Saya terkagum-kagum dengan betapa banyak pembuat kapal pinisi serta betapa besar ukuran kapal yang dibuat. Katanya kapal-kapal yang dibuat itu sudah ada yang pesan karena biaya produksi yang sangat besar dan waktu pembuatan bisa setahun atau lebih serta harganya bisa mencapai miliaran rupiah. Dan saya melihat beberapa bule yang sedang melihat progres kapal yang sudah dia pesan. Ritual yang dilakukan juga cukup banyak mulai dari saat akan dimulai pengerjaan hingga saat selesai pengerjaan untuk mendorong kapal pelan-pelan masuk ke laut yang membutuhkan waktu hingga sebulan. Mahakarya anak negeri banget.

Tanjung Bira

Islamic Center Dato’ Tiro, Bulukumba yang megah dan indah.

Tanjung Bira

Beginilah pemandangan kanan kiri jalan yang begitu Indah di sekitar Jeneponto saat menuju Makassar

Tanjung Bira

Kami mampir untuk makan siang coto kuda di Coto Turatea Belokallong di Jeneponto. Awalnya sih agak-agak ngeri gitu mau makan daging kuda, tapi pas sudah mencicipi sih lumayan enak cuma agak bau besi gitu ternyata daging kuda itu. Ketupat 2 buah, semangkok coto yang penuh kolesterol dan lemak serta sebungkus emping pun ludes dalam sekejap. #crytapinikmat

Tanjung Bira

Kami juga sempat mencicipi kue putu cangkir yang banyak dijajakan di pinggir jalan di daerah Gowa.
Tanjung Bira

Di Gowa, saya menghubungi teman lama saya, Bu Uchi dan Pak Kasman, dan mengajak ketemuan makan saat nanti sudah tiba di Makassar. Dan kami pun mampir ke Museum Balla Lompoa yang cukup luas dan terletak di jalan utama sehingga cukup ramai.

Tanjung Bira

Sesampainya di Makassar, kami makan sore dan cemal-cemil cantik di RM Muda Mudi. Jalangkote, lumpia, kroket dan pisang ijo di sini enaaaakkkk… Udah gitu dibayarin pula, jadi makin enak… Makasih Bu Uchi dan Pak Kasman…
Tanjung Bira

Tidak lengkap ke satu kota tanpa belanja kain khasnya, apalagi setelah gagal mendapatkan tenun Bulukumba.  Sesuai rekomendasi Uchi, kami mengunjungi Toko Keradjinan untuk membeli oleh-oleh dan kain. Saya khilaf membeli aneka kain tenun khas Makassar sekalian untuk keluarga besar saat lebaran serta untuk kado nikahan teman.

Tanjung Bira

Pantai Losari letaknya tidak begitu jauh dari Toko Keradjinan dan kami menyempatkan diri untuk sekadar foto-foto serta menikmati pisang epe yang enaaaaakk dan murah tentunya. Seporsi sekitar Rp10.000. Jangan lupa minumnya saraba, semacam kopi susumahe khas Sulawesi.

Tanjung Bira

Hujan besar mengguyur Makassar saat kami selesai menikmati pisang epe dan akan meluncur ke tempat kondangan kawan yang merupakan bukan tujuan utama trip kali ini. Selamat untuk Arfah yang akhirnya mengakhiri masa lajangnya dengan mempersunting Mbak Cantik.

IMG-20160410-WA0011

Kami buru-buru foto dan meluncur ke bandara karena jadwal pesawat yang mepet dan ternyata tol menuju bandara sangat macet karena sedang ada pembuatan underpass di simpang lima dekat bandara. Tapi syukurlah kami masih bisa tiba di bandara di detik-detik terakhir diperbolehkan check in. Dan alhamdulillah saya boleh bawa tas keril saya yang sudah terisi penuh kain puluhan meter, walau sudah saya titipkan Kak Ipin dan GGS juga sebagian, boleh dibawa langsung ke pesawat tanpa harus dimasukkan bagasi.

\(*.*)/

Vogue Italia December 2015: Muse 2016

Cruise 2016 Seger Beach Lombok

Vogue Italia December 2015 second cover: Muse 2016
Model: Paminto, A native Lombok young boy, Dina, Widya, Anam, Avex
Fotografer: Paminto Meisel, Anam McDean
Makeup Artist: Estu McGrath
Hair: Guido Paminto
Set: Estu
Stylist: Franca Soestu
Cover story: Reunited Under Blue Sky

Cruise 2016 Seger Beach Lombok

Pashmina by Umama.

Cruise 2016 Seger Beach Lombok

Vision of us and memories.

Cruise 2016 Seger Beach Lombok

Ulos for every moment. Friendship forever.

Cruise 2016 Seger Beach Lombok

The dark side of clear blue sky.

Cruise 2016 Seger Beach LombokFestive costume for native Lombok beauty.

Cruise 2016 Seger Beach LombokCruise 2016 Seger Beach Lombok

Blue on blue on blue on blue.

Cruise 2016 Seger Beach Lombok

Two straws for you and your besties.

Cruise 2016 Seger Beach LombokLive your life.

Cruise 2016 Seger Beach Lombok

Secuil Pulau Banyak

“Nad, ayo cuti 4 hari dari 21-25 September nanti..” begitu kira-kira WA saya ke Nadia di tanggal belasan September lalu. Nadia sejak trip saya ke Suluttenggomalut di Mei lalu ingin diajak jika saya trip lagi dan saya bilang bagaimana kalau di akhir September pas ada libur Idul Adha. Saya yang belum ke Sumatera Utara di tahun 2015 ini memang berencana ke sana di bulan September tetapi di luar dugaan karena di sana dan Sumatera pada umumnya yang sedang kabut asap jadi membuat agak was-was jika mau liburan ke Tao Batak. Kami sepakat untuk mengajukan cuti dulu sembari memikirkan mau ke mana kami nanti apakah tetap ke Sumatera Utara, Lombok, Sumbawa, Flores atau ke mana. Saya sih sebenarnya ingin road trip dari Labuan Bajo-Ende-Maumere lalu menyeberang keLembata dan ke Alor tetapi kok ya kayaknya mahal banget kalau berdua saja. Saya sempat berkonsultasi dengan Mbak Tesa di Medan kira-kira aman gak kalau kami ke Medan dan menurutnya Medan sudah lumayan sering hujan dan kabut asap tidak begitu terasa, dan kami disarankan ke Pulau Banyak yang mana telah ia kunjungi di awal bulan September. Pada 17 September 2015 akhirnya kami beli tiket ke Medan untuk penerbangan tanggal 19 September pagi. Kamis malam itu saya segera mencari informasi tentang penginapan dan kapal di Pulau Banyak yang akhirnya jatuh kepada Pak Erwin di nomor 085359831515 yang punya kapal, menjemput kami di Pelabuhan Pulau Balai, mencarikan kami penginapan, dan mengantar kami kembali ke kapal menuju Aceh Singkil.

19 September 2015 pukul 8.00 kami mendarat di Bandara Kuala Namu di Lubuk Pakam. Terlihat kaca pesawat agak basah yang mungkin terkena hujan atau embun dan terlihat kabut di sekitar bandara. Kabut karena cuaca dingin pada awalnya pikir saya tetapi ternyata aroma kabut asaplah yang tercium saat kami mulai ke luar bandara. Sudah jauh-jauh mau bagaimana lagi ya kan? Yuwk ah nikmati liburan.

Dalam perjalanan menggunakan Bus ALS tujuan Binjai saya memesan travel ke Aceh Singkil dari Medan untuk nanti malam pukul 21.00 wib. Saya mendapat nomor Banyak Island Travel dari internet dengan Mas Rega di 081290990804 atau jika mau memesan travel dari Aceh SIngkil ke Medan dengan Pak Mawan di 081360170808. Saya diberi nomor telepon Mas Ade, supir travel yang akan menjemput kami malam nanti. Jadi kalau kita mau ke Aceh Singkil, Subulussalam dan sekitarnya dari Medan kita bisa naik travel atau sewa mobil yang dikemudikan oleh Mas Ade yang bisa dihubungi di nomor 085262295483. Biaya per orangnya adalah Rp140.000 untuk tujuan Aceh Singkil dari Medan di mana 1 mobil travel biasa diisi dengan 6 orang, jadi jika kita rombongan berenam maka kita bisa langsung menyewa travel langsung ke Aceh Singkil jam berarpapu kita mendarat di Kuala Namu tanpa perlu menunggu travel yang pukul 21.00 wib.Saya dan Nadia dari turun bus ALS hingga dijemput travel pada hampir pukul 23.00 wib dijamu oleh Mbak Tesa, Mas Gandy, dan Kokoh. Diajak makan-makan, jalan-jalan dan menikmati Medan yang ramai sekali di malam Minggu walaupun kabut asap terasa cukup pekat saat itu. Terima kasih, Kakak-Kakak.

Travel Mas Ade yang datang lumayan telat membawa kami berdua di kursi tengah, seorang ibu dan balitanya di kursi belakang, serta seorang abang di kursi depan dengan kecepatan lumayan tinggi serta jendela di samping Mas Ade yang terbuka karena dia sambil merokok. Saya dan Nadia sudah menyiapkan masker untuk menjaga diri dari polusi, asap, debu, serta kecantikan saat tidur mangap dalam perjalanan. Penumpang yang menuju pool travel di dekat Pelabuhan Jembatan Tinggi, Aceh Singkil hanya kami berdua karena penumpang lain sudah turun dulu di rumah mereka di dekat kota. Saat itu sudah pukul 6.00 wib saat mobil sudah mendekati pool, ada kucing di tengah jalan sudah berusaha dihindari oleh mobil Mas Ade tetapi apa daya kucing malah ikut menghindar ke arah tengah jalan yang mana malah akhirnya tertabrak mobil. Mas Ade turun dan meminjam cangkul penduduk sekitar untuk mengebumikan kucing malang tersebut. Beberapa saat kemudian kami tiba di pool travel dan sarapan sambil menunggu agak siangan ke pelabuhan.

Kami tiba di Pelabuhan Jembatan Tinggi sekitar pukul 8.00 wib saat KM Putri Sulung yang akan tumpangi masih sepi. Kapal ke Pulau Banyak tersedia setiap hari dari pelabuhan ini dengan jadwal kapal motor maupun kapal feri yang beroperasi bergantian, kecuali pada hari jumat di mana konon tidak ada kapal beroperasi. Sambil menunggu proses menaikkan barang, kami duduk-duduk di warung lalu kenalan ke brondi-brondi yang sepertinya juga akan menyeberang. Mereka bernama Joko dan Fahmi, yang ternyata dari Pematang Siantar dan akan kemah di Pulau Banyak. Tak lama berselang, saya berkenalan dengan Pak darmawan, seorang agen travel yang sedang mengurusi beberap bule yang baru datang. Pak Darmawan ini ternyata yang punya travel yang kami tumpangi dari Medan semalam. Nomor hp Pak Darmawan 081377219667 barangkali ingin menggunakan travelnya yang melayani rute dari Aceh Singkil hingga ke Padang, Pekanbaru, Sibolga, Barus, Medan, Parapat, dan sekitarnya.

KM Putri Sulung pagi itu tampak penuh dengan barang mulai dari sayuran, ayam, mie, buah, sofa, kasur, hingga motor yang akan diangkut ke Pulau Banyak. Setelah barang sudah tertata akhirnya kamu diizinkan naik ke kapal dan kapal mulai bergerak pada pukul 10.00 wib. Saya duduk menyandar ke karung buah semangka dan kentang yang menggapit saya, Joko, dan Fahmi di bagian lantai belakang kapal. Kapal ternyata membawa kapal kecil yang diikatkan pada bagian kapal. Cuaca yang terlihat mendung, berombak besar, berkabut asap, dan langit yang bergemuruh ternyata membuat kapal kecil yang ditarik kapal kami menjadi kemasukan air lalu sempat terlepas talinya. Sang kapten kapal pun turun ke kapal kecil yang terlepas dan berusaha mengikatkan kapal kecil ke kapal induk. Setelah kapal kecil kembali terikat, drama selanjutnya adalah bagaimana cara menguras air yang tertampung di kapal.

Pulau Banyak

Dengan susah payah sang kapten berjuang di tengah badai seperti saat mengikatkan kapal dengan dibantu wakil kapten untuk mengemudikan kapal, beberapa orang ABK yang menyediakan ember dan membantu menerjemahkan instruksi sang kapten kepada wakil kapten, serta beberapa penumpang yang ikut heboh teriak-teriak seperti saya atau pun yang ikut memegangi tali kapal.

Pulau Banyak

Drama penyelamatan kapal kecil yang hampir 1,5 jam ini akhirnya berakhir dan saya terkagum-kagum dengan penampilan sang kapten yang WOW banget. And there will be a rainbow after the rain. I mean there will always be a SYR (Syahrini) moment in every drama, and i love this SYR-wannabe mom during the voyage. She wore glittered wedges, btw.
Pulau Banyak

Kami pun tiba di Pulau Balai, Kecamatan Pulau Banyak hampir pukul 16.30 padahal seharusnya biasa tiba sekitar pukul 14.00 wib. Kami pun bertemu dengan Pak Erwin yang akan mengantar kami ke penginapan.

Pulau Banyak

Setelah membeli nasi bungkus, kami pun berangkat ke Pulau Tailana yang mana ternyata Joko dan Fahmi juga akan camping di sana tetapi kami menggunakan kapal yang berbeda karena telah memesan masing-masing. Foto kami barengan saat baru naik kapal di Pelabuhan Pulau Balai yang jarang banget selama perjalanan dan diambil oleh Daria atau putrinya, dua orang pelancong dari Australia yang sudah sering menjelajah berbagai daerah di Indonesia untuk liburan.


Pulau Banyak

Daria dan putrinya menginap di pulau entahlah dan turun duluan. Pulau Tailana ternyata lokasinya cukup jauh dari Pulau Balai. Hampir 90 menit kami arungi laut yang sedang diselimuti awan tebal dan gerimis di sore itu. Saat tiba di Tailana, saya dan Nadia sebenarnya memesan 1 bungalo biar hemat tetapi karena masih ada bungalo yang kosong dan harga bungalo juga masih terjangkau maka kami memilih untuk menggunakan bungalo yang berbeda. Jika 1 bungalo ditempati 2 orang maka biaya per orang adalah Rp100.000, sedangkan jika 1 bungalo ditempati oleh 1 orang maka biayanya Rp125.000 per malam. Menu makan malam pertama kami saat itu.

Pulau Banyak

I woke up to this view. #nebengtendathebrondies

Pulau Banyak

Sarapan khas di Tailana adalah pancake dengan topping kelapa parut serta susu kental manis. Pengelola penginapan di Tailana ini adalah seorang bule cewek dari Austria bernama Reka yang bisa kita hubungi di nomor hp 085275313251.

Pulau Banyak

Pemandangan pantai di Pulau Tailana saat saya akan menaiki kapal sebelum island hopping.

Pulau Banyak

Tujuan pertama kami pagi itu adalah Pulau Pandan. Pulau kecil tak berpenghuni yang luasnya tidak sampai 100 meter persegi ini airnya sangat jernih dengan pasir putih dan dipenuhi semak-semak serta beberapa pohon.

Pulau Banyak

Nampang dikit. 😀

Pulau Banyak

Pulau tujuan kami selanjutnya adalah Pulau Subang yang letaknya tidak begitu jauh dari Pulau Pandan. Di pulau ini kita bisa berenang dan snorkeling.

Pulau Banyak

Kapal kami dan The Brondies beriringan sehingga kami tiba di pulau ini berdekatan dan cukup lama menikmati keindahan pulau ini.

Pulau Banyak

Perut yang sudah keroncongan menggiring kami ke Pulau Ujung Sialit untuk makan siang. Pulau Ujung Sialit merupakan pulau yang cukup ramai dengan penduduk yang lumayan banyak dan tersedia berbagai warung kelontong,  toko alat pancing, bahkan sekolah pun ada di sini. Menu pembuka makan siang kami di salah satu rumah penduduk keturunan Minang.

Pulau Banyak

Dan inilah makan siang kami. Mie instan terasa nikmat saat tidak ada warung yang menjual nasi rames gini.

Pulau Banyak

Setelah makan, saya kembali berurusan dengan yang namanya tuak Nias di salah satu toko. Pulau Nias memang letaknya agak berdekatan dengan Pulau Banyak sehingga banyak penduduk Nias yang menjadi transmigran di sini. Saya ditawari membeli tuak ini tetapi Pak Erwin lah yang akhirnya membeli. Masih terkenang aroma tuak Nias yang dioplos minuman energi pada tahun 2014 lalu di Nias Utara.

Pulau Banyak

Pelabuhan di Pulau Ujung Sialit yang dipenuhi adik-adik yang sedang bermain sepulang sekolah.  Pada saat kami kembali ke kapal yang berlabuh di samping rumah penduduk, bagian samping kapal #thebrondies yang digunakan untuk tempat duduk patah saat diinjak Nadia yang akan melangkah ke kapal kami. Walhasil kapal tetangga harus sedikit diperbaiki sedang kapal kami bisa berputar-putar untuk memancing ikan sembari menunggu kapal tetangga siap. -,-

Pulau Banyak

Selanjutnya kami pergi ke Pulau Tambego untuk melihat gua yang disarankan Pak Herman, kapten kapal #TheBrondies.

Pulau Banyak

Meskipun harus sedikit bersusah payah melewati semak belukar dengan pandan berduri di lereng pulau, kami bisa juga mencapai gua yang indah ini. Untung ada yang bawa headlamp dan hape yang ada senternya sehingga bisa masuk ke dalam gua.

Pulau Banyak

Stalakmit dan stalaktit di gua ini sangat indah.

Pulau Banyak

Pak Adin (supir kapal kami), Nadia, Pak Herman, Bu Joko, dan Fahmi. Dari Pulau Tambeggo kami menuju Pulau Tabala. Pantai di sini bagus banget. Pulaunya lebih besar dibanding pulau-pulau kecil yang kami seinggahi sebelumnya.    Selain kuburan kuno yang konon ada di pulau ini, kita juga bisa menemukan bintang laut di pantainya. Dalam perjalanan kembali ke Pulau Tailana, kami sempat snorkeling di salah satu titik yang dari saat kami berangkat sudah terlihat sangat menggoda karena terumbu karangnya tidak begitu dalam, ikan-ikan yang terlihat jelas, serta ekosistem bawah laut yang masih sangat bagus. Nadia bilang puas banget dibimbing snorkeling oleh Pak Herman di sini.

Pulau Banyak

Dan hari pun semakin petang saat kami tiba di Tailana dengan membawa beberapa ikan hasil memancing di kapal tadi.

Pulau Banyak

Ikan yang kemudian menjadi lauk makan malam kami semua dengan pendamping sayur labu yang saya kira kolak labu pada awalnya. Ikan yang digoreng tanpa bumbu ini rasanya luar biasa nikmat karena memang masih benar-benar segar hasil memancing. Dan sebagai penggemar kolak, saya rasa lodeh sayur labu ini beda tipis rasanya dengan kolak. #penghiburan

Pulau Banyak

Work art on the wall of the restaurant in Tailana Resort.

Pulau Banyak

Akhirnya kami harus meninggalkan Tailana pagi itu. Tailana yang resornya tidak langsung menghadap ke laut karena ada banyak lavender dan pohon-pohon kecil menutupi kencangnya angin laut. Tailana yang nyamuknya hampir tidak ada berbeda dengan pulau-pulau lain yang konon banyak sekali nyamuknya. Tailana yang kamar mandinya luas sekali  namun agak terbuka dengan pintu ditutupi plastik karena berfungsi sebagai tempat mencuci ikan dan piring-piring kotor juga. Tailana yang cuma ada listrik di restauran saja. Tailana yang hanya ada sinyal Telkomsel tanpa koneksi data. Ough… Tailana yang sungguh indah.

Pulau Tailana

Menara di tengah laut yang kami temui di perjalanan menuju Pulau Balai.

Pulau Banyak

Pulau Biawak yang juga kami lewati saat menuju Pulau Balai.

Pulau Banyak

Kami tiba di Pulau Balai sekitar pukul 12.30 wib dan langsung makan siang di salah satu warung di dekat pelabuhan sembari menunggu KM Putri Sulung berlayar pada pukul 14.00 wib. Naik kapal yang sama untuk berangkat dan kembali tetapi dengan kondisi kapal yang lebih sepi barang bawaan dibanding saat berangkat 2 hari sebelumnya. Biaya naik kapal dari Pelabuhan Jembatan Tinggi di Aceh Singkil ke pelabuhan di Pulau Balai, Pulau Banyak atau sebaliknya cukup terjangkau yaitu Rp30.000 per orang dengan waktu tempuh normal sekitar 3 jam. Dan kami pun tiba di Pelabuhan Jembatan Tinggi pada pukul 5.00 wib dengan dijemput langsung mobil travel Pak Darmawan yang sudah kami hubungi sebelumnya saat di Tailana. Terima kasih untuk semua keindahan dan pengalaman dalam secuil waktu dan bagian Pulau Banyak dalam 3 hari ini. Banyak Island is a must visit place. #WonderfulIndonesia #INAtopbucketlist

Tempat Makan di Sekitar Stasiun Kota Malang

Kota Malang sekarang sudah menjadi kota metropolitan di Jawa Timur selain Surabaya. Dengan pembangunan yang terus-menerus, kemacetan yang meningkat, kota pelajar, kota wisata, hingga kulinernya yang tersohor, serta biaya hidup yang lumayan terjangkau membuat kota ini menjadi kota favorit banyak orang untuk tinggal maupun berwisata. Begitu pun saya yang ingin kembali ke kota tempat saya lahir dan tumbuh dewasa ini. Malang menyimpan berbagai pesona kuliner yang menggugah selera. Dengan frekuensi mudik yang hanya sekali-dua kali setiap tahun, saya mempunyai beberapa tempat makan atau tempat nongkrong favorit yang rutin saya kunjungi di kota ini. Masih banyak tempat favorit saya tetapi karena keterbatasan waktu dan hari libur yang saya miliki maka biarkan saja perut saya membuncit maksimal dalam beberapa jam tersebut. Berikut  beberapa tempat makan di sekitar Stasiun Kota Malang yang saya kunjungi saat libur lebaran di bulan Juli 2015 kemarin.

    1. Depot Pangsit Mie Bromo Pojok.

Berlokasi di Jalan Pattimura No.53, Kota Malang, Jawa Timur 65119, Indonesia, telepon +62 341 327853 tidak jauh dari Stasiun Kota Malang. Ke luar stasiun, jalan ke arah kanan sampai bertemu perempatan Klojen, lalu belok ke kiri sekitar 100 meter dan sampai tempat ini deh. Saya tiba di tempat ini sekitar pukul 10.00 wib yang mana sambil membunuh waktu untuk menunggu Dince dan Ceu Jojo. Saya suka mie pangsit jamurnya. Es campur artistik warna-warninya juga enak dan cantik untuk difoto. Harga seporsi mie pangsit di sini sekitar Rp15.000-20.000. Di dekat mie pangsit ini ada Hotel Helios yang terkenal sebagai hotel backpacker bagi para bule yang singgah di Malang sebelum ke Bromo atau Bali.

Mie Bromo2. Es Campur Jl. Dr Sutomo

Lokasinya dari perempatan Klojen ke arah SMPN 3 Malang, setelah Surabi Imut di kiri jalan dekat pertigaan Jalan Sutomo. Es campur ini dijual oleh sepasang kakek-nenek yang dulunya bekerja sebagai tukang foto di sebuah studio foto di Kota Malang. Harga semangkok es campur ini hanya Rp4.000,00 padahal isinya lumayan lengkap dari cincau, blewah, dawet, tapai singkong, dan roti. Di Jakarta mah uang Rp4.000 cuma dapat es teh tawar. Di tempat ini kalau malam digunakan sebagai warung jagung dan roti bakar yang buka hingga dini hari yang mana juga enak dan murah meriah.

es campur

3. Bakso Bakar Pak Man.

Terletak di Jalan Diponegoro No. 19, Jawa Timur 65111, Indonesia telepon 0818-388-193, dekat SMPN 3 Malang. Pengunjung bakso bakar ini luar biasa banyak terutama pada saat jam makan siang, padahal tempatnya tidak begitu luas dan harus cepet-cepetan berburu tempat duduk seperti di Es Krim Ragusa, Jakarta. Bakso bakar ini bakal ludes sekitar pukul 15.00 wib jadi jangan terlalu sore jika ingin datang menikmatinya.

bakso Bakar pak Man (2)

Beberapa tahun yang lalu harga sebuah bakso bakar masih Rp1.000 tetapi sekarang sudah Rp3.000,00 per buah. Padahal ya bo’ sekali makan di sini saya saya bisa menghabiskan sekitar 15-20 buah bakso bakar. Gak nampol kalau di sini tidak makan bakso bakar pedasnya. 😀

bakso Bakar pak Man (1)

4. Restauran Melati Hotel Tugu.

Berlokasi di Hotel Tugu, ke luar stasiun langsung jalan lurus ke depan ke arah Balai Kota Malang dan Alun-Alun Tugu. Dengan tempat yang indah, romantis, dan cukup eksklusif menjadikan restauran ini patut dicoba sekali-kali. Deep fried banana with rum raisin ice cream yang saya pesan ini harganya untuk level Kota Malang cukup mencekik leher. Seporsinya hampir Rp50.000,00. Memang enak dan tampilan yang cantik pula.

Resto Melati Tugu (1)

Kalau Dina memesan orange delight yang juga cantik, enak, dan harganya sama dengan pisang goreng saya tadi.

Resto Melati Tugu (2)

Ceu Jojo memesan es cincau dengan harga hampir Rp30.000. Di Malang bisa dapat 8 gelas besar es cincau yang di pinggir jalan kali. Itungan banget ya. Bakmi goreng di sini kata Ceu Jojo rasanya endeus banget. gak heran sih saat melihat tante di meja sebelah menikmati dengan sangat bakmi tersebut.

Resto Melati Tugu (3)

5. Rawon Tessy

Berlokasi di Jalan Embong Brantas, ke luar stasiun langsung belok kiri ke arah penjual helm yang berjajar di samping stasiun. Saya sangat menyukai rawon ini walaupun menurut lidah saya rasanya sudah agak berubah dibanding dulu. Mungkin lidah saya saja yang sudah terkontaminasi dan jarang merasakan makanan Malang. jangan lupa menambahkan perkedel dan tempe goreng bugil tanpa tepung yang menjadi pelengkap rawon ini. Seporsinya Rp15.000. Jika ingin memesan bisa menghubungi Pak Ahmad di nomor 0838-34839-881. Buka dari pagi untuk sarapan hingga larut malam warung ini.
Rawon Tessy

Lima tempat makan di atas saya kunjungi dari pukul 10.00 wib hingga 16.30 wib dalam kondisi saya sudah sarapan sebelum berangkat. Mau gak buncit gimana lah.

6. Bakso Pak Dulmanan

Beberapa hari sebelum wisata kuliner di atas, saya juga sempat nongkrong di sekitar stasiun Kota Malang setelah rumpi-rumpi juga dengan Ceu Jojo dan Dina di Matos. Bakso ini berada sekitar 10 meter di dekat pintu keluar stasiun ke arah kiri.Yang enak dari depot ini adalah siomay alias sumehnya. Sayang malam itu siomaynya sudah habis.

Bakso P. Dulmanan (2)

Ceu Jojo dan BFF-nya.

Bakso P. Dulmanan (1)

7. Java Dancer Coffe

Berlokasi di Jl. Kahuripan No. 12, Klojen, Malang, Jawa Timur 65111, di seberang Hotel Tugu, telepon 0341-351688.

Java Dancer Coffee (3)

Daftar menu di Java Dancer Coffee.

Java Dancer Coffee (2)

Daftar menu di Java Dancer Coffee. (2)

Java Dancer Coffee (1)

Suasana di tempat ngopi dan nyemil yang ngeheits ini asyik, romantis, etnis, dan penuh dengan pengunjung. Tempatnya berada di pelataran Hotel Kartika Kusuma sehingga toilet pun juga numpang di hotel tersebut.

Java Dancer Coffee (7)

Ini entah kopi yang dipesan Dina atau Ceu Jojo dan apa namanya saya lupa. -,-
Java Dancer Coffee (5)

Ini juga entah kopi siapa. Jamur goreng tepung dan tahu goreng di sini endeus juga.

Java Dancer Coffee (4)

8. Depot Rujak Pojok

Dari pintu keluar staisun ke arah kiri sekitar 50 meter, berada di pojokan Jalan Pajajaran arah SMAN 3 Malang. Rujak dan gorengan di sini endeusss deh.

9. Bakso Priangan Mang Yayat

Berlokasi setelah Depot Rujak Pojok arah perempatan Klojen. Saya sering menikmati bakso ini sembari menunggu dijemput pulang atau menunggu angkot yang biasanya ngetem tidak jauh dari sini.

10. Warna-Warni

Tempat makan lain yang saya sukai di sekitar perempatan Klojen dan Stasiun Kota Malang adalah Warna-Warni. tempat gaul anak sekolahan dari zaman dulu kala saat warung ini masih berada di seberang stasiun sebelum akhirnya pindah ke dekat perempatan Klojen. Menu di Warna-Warni sih biasa saja cuma karena enak dipakai nongkrong dan harganya lumayan bersahabat terutama untuk pelajar maka tempat ini pernah menjadi tempat nongkrong ngeheits pada masa itu.

11. Restauran Inggil

Letaknya di Jalan Gadjah Mada Nomor 4, sekitar 100 meter dari pintu keluar stasiun ke arah kiri lalu belok kanan sedikit, telepon 0341-332110. Merupakan perpaduan museum dan restauran dengan suasana tempo dulu dan cukup magis. Makanan di sini juga enak-enak dengan harga tidak semahal Restauran Melati. Saya pernah ke sini untuk makan siang bersama beberapa orang yang mana ada yang bisa melihat hal-hal gaib. Setelah kami makan ada yang ke toilet bilang kalau ke kami saat kembali bahwa gamelan yang ada di panggung bergerak-gerak dan ada yang nungguin. Gleg dan kami yang orang biasa pada pandang-pandangan. Yang penting makanannya enak, terjangkau, dan kita bisa menikmati suasana tempo dulu dengan berbagai pernak-pernik kuno, foto Malang tempo dulu, hingga topeng khas Malang yang dipajang serta berbagai suvenir yang bisa kita beli.

 

Pesona Museum Huta Bolon Simanindo

Untuk kali kedua saya berkunjung ke Museum Huta Bolon Simanindo setelah kunjungan 2,5 tahun lalu ada beberapa hal yang berubah dari museum ini. Sebut saja rumah yang digunakan untuk memamerkan kapal yang sekarang sudah roboh dan menimpa kapal, padahal kapal dan rumahnya bagus banget.

Huta adalah kampung tradisional orang Batak yang dikelilingi oleh benteng dan tanaman bambu untuk menghalangi musuh masuk ke dalam kampung tersebut. Huta hanya mempunyai satu pintu. Rumah di dalam huta berbaris di samping kiri dan kanan rumah raja. Rumah raja disebut Rumah Bolon di mana di hadapan rumah tersebut didirikan lumbung padi yang disebut Sopo. Halaman tengah di antara Rumah Bolon dan sopo dahulu dipergunakan sebagai tempat Mangalahat Horbo (acara adat memotong kerbau dan memukul gondang). Di tengah halaman didirikan sebuah Tonggak yang dihiasi dengan daun-daun yang melambangkan pohon suci (pohon beringin). Tonggak tersebut bernama Borotan. Kerbau yang digiring akan disembelih di Borotan tersebut.

Harga tiket untuk menonton pertunjukan di Museum Huta Bolon Simanindo masih sama seperti dulu yaitu Rp50.000/orang. Saya dan Nadia tiba di museum masih pukul 10.00 wib sehingga kami masih ada waktu sekitar 30 menit hingga pertunjukan dimulai. Para penari bahkan belum berganti pakaian dan dandan saat kami datang. Sekitar pukul 10.20 wib saat beberapa penari masuk ke dalam rumah adat yang mereka gunakan untuk mempersiapkan diri, saya tergoda untuk ikut nimbrung di rumah tersebut. Beberapa wajah penari di sini masih saya ingat. Wajah lugu nan bersahaja yang setia melestarikan kebudayaan Batak sembari mengais rezeki untuk keluarga. Bapak sesepuh yang sedang memakai ulos sedangkan beberapa inang sudah hampir siap tampil.

Manortor

Abang-abang yang tidak perlu fitnes di gym tapi perutnya bisa rata. Si Abang yang belum memakai atasan ulos ini sempat berganti bawahan ulos hingga 3 kali hingga kami tertawai bersama. Eitsss di dalam bawahan ulos mereka masih memakai celana jeans butut lho, jangan bayangin yang tidak-tidak, tapi ya gitu perutnya bisa bikin jantung yang lihat berdesir kencang.

Manortor

Inang yang sudah hampir siap tampil sedang bercermin untuk terakhir kalinya. 10 orang penari di ruangan ini telah siap untuk tampil dan para pemain musik yang berjumlah sekitar 6 orang juga sudah siap di rumah sebelah.

Ulos (9)

Pada saat saya menuju tempat untuk menonton di mana Nadia sudah menunggu, ada beberapa rombongan turis asing yang didampingi pemandu lokal sedang memasuki lokasi pertunjukan. Syukurlah ada sekitar 30an penonton siang itu, bukan hanya kami berdua seperti tadi. Dan pertunjukan pun dimulai. Berikut rangkaian pesta adat Mangalahat Horbo.

1. The ceremony dance/Gondang Lae-Lae. Merupakan doa kepada Dewata agar kerbau yang akan diikatkan tidak bertingkah yang jelek sewaktu digiring ke Borotan. Orang Batak zaman dahulu percaya bahwa setiap tingkah laku kerbau merupakan alamat sesuatu yang baik atau buruk terhadap yang berpesta.

Manortor

2. Prior Dance/Gondang Mula-Mula. Yaitu doa kepada pencipta bumi, langit, dan segala isinya agar Dia menganugerahkan putra dan putri, membawa kekayaan, menjauhkan bala dan menyembuhkan segala penyakit kepada yang mengadakan pesta.
3. Dance Addressed to God/Gondang Mula Jadi. Tari untuk mengatakan bahwa doa telah dikabulkan oleh Tuhan.
4. Group encircling dance/Gondang  Shata Mangaliat. Orang yang berpesta menari dengan mengelilingi tonggak atau Borotan penyembelihan kerbau, di mana diikatkan seekor kerbau pada pesta adat. Kerbau tersebut disembelih dan dagingnya dibagi-bagikan kepada yang berpesta dan kepada mereka yang berhak menerima sesuai dengan adat yang ditentukan.
5. Mutually cheering dance/Gondang Maralolop-olopan. Yakni orang yang berpesta saling memberi selamat sesamanya.

Simanindo
6.Youngsters dance/Gondang Siboru. Merupakan tarian untuk para pemuda sambil menari datanglah putri yang masing-masing dengan pengharapan agar datang untuk melamarnya.

7. Cleansing dance/Gondang Sidoli adalah tarian untuk pemudi di mana sambil menari datanglah seorang pemuda yang mendekati seorang putri yang dicintainya dan yang didambakan menjadi istrinya dan sebagai pertanda ia mencintai putri, dia akan memberi sejumlah uang.

Manortor

8. Dance of True Quality/Gondang Pangurason. yaitu datangnya roh nenek moyang dalam pesta dan menyusup pada salah seorang putri untuk memberkati mereka.

Manortor

9. Cooperative dance/Tari bersama di mana semua tamu diajak menari bersama dengan tuan rumah yang mengadakan pesta tersebut.

Manortor
10. Tor tor Tunggal Panuluan. Tari ini diperankan oleh seorang dukun untuk berkomunikasi dengan Dewata Natolu untuk meminta sesuatu seperti hujan, keturunan, atau kesuksesan dalam kehidupan.

Si abang akan menongkat telur yang ada di tanah. Tapi sayang saat itu tidak kena, atau sengaja tidak dikenakan.

Simanindo

11. Puppet dance/Gondang Sigale-gale. Yaitu tarian boneka sigale-gale yang terbuat dari kayu mirip manusia. Dikisahkan pada zaman dulu kala ada seorang raja yang mempunyai anak tunggal. Anak tersebut jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Raja sangat sedih menerima musibah tersebut sebab anak yang diharapkan untuk meneruskan cita-cita/kerajaannya sudah tiada. Untuk meringakan penderitaan raja sekaligus mengenang anaknya, raja tersebut memerintahkan rakyatnya untuk mengukir sebuah patung yang sangat mirip dengan anakanya sehingga di kala raja ingin melihat anaknya maka raja akan mengundang rakyatnya untuk membuat pesta Sigale-gale. Begitupun saudara perempuan Sigale-gale akan menari bersama Sigale-gale untuk melepaskan kerinduannya.

Simanindo

Akhirnya pertunjukan sesi pertama hari itu selesai sekitar pukul 11.15 wib dan para penari pun berganti pakaian sembari menunggu pertunjukan sesi kedua pada pukul 11.45 wib. Ini punggung Si Abang tokoh utama dalam pertunjukan sedangkan 4 orang yang di sana sedang menghitung uang pemberian penonton secara sukarela yang dilakukan menjelang berakhirnya pertunjukan. Ada turis yang saya lihat hanya memberi uang receh tetapi juga ada yang dengan senang hati memberi hingga Rp50.000. Semua diterima dengan senang hati oleh para pelestari adat batak ini dan saya pun turut senang melihat ekspresi mereka setelah menghitung uang tersebut. Siang itu mereka berhasil mengumpulkan uang sekitar Rp280.000.

Manortor

Saat semua penari telah selesai melepas ulos meninggalkan rumah, saya kembali menemui Nadia dan kami melakukan pemotretan dengan menggunakan ulos sebagai hijab ini.

Manortor

Tak lupa pemotretan menggunakan Novel Supernova-Gelombang karya Dewi Dee Lestari Simangunsong yang sudah saya bawa dari Jakarta ke Medan, Aceh Singkil, Sidikalang, hingga sampai di Samosir sini.

Supernova-GelombangSaya tidak akan bosan mengunjungi museum yang penuh pesona ini. Semua sudut museum ini sangat indah, begitupun pertunjukan tarian Batak dan belakang layar Mangalahat Horbo-nya sangat menarik. CETARTARTAR!!!

Visit Kuningan dan Cirebon 2015

Denpe sudah hampir 4 jam berada di Cirebon menunggu saya dari Purwokerto. Dia sudah ke masjid di Keraton Kasepuhan dan muter-muter Cirebon dengan becak sebelum akhirnya berhenti di Masjid Attaqwa untuk menunggu saya.

Cirebon (1)Kami dijemput Pak Pres, Bu Pres, dan Riri untuk berkeliling Kota Cirebon, kota yang telah saya tinggalkan 5,5 tahun setelah sempat tinggal di sana 2,5 tahun sejak pertengahan 2007. Saya usul kepada Pak Pres agar kami ke Kuningan saja, makan malam di Rumah Makan Laksana, di dekat Pemndian Sangkanurip. RM Laksana ini merupakan favorit Pak Bos saya dulu dan memang enak makanannya walaupun cukup mahal memang untuk ukuran di Kuningan. Menu favorit saya di sini adalah nasi merah dengan lauk apa pun dari capcay goreng, ikan bakar, atau tempe dan tahu goreng.

Cirebon (3)

Daftar menu dan harga makanan di Rumah Makan Laksana, Kuningan.

Cirebon (2)

Setelah makan, saya mengajak Denpe untuk mandi-mandi cantik di Taman Rekreasi Sangkanurip Alami sementara Pak Pres, Bu Pres, dan Riri tetap menunggu saja di Laksana. Denpe yang hanya membawa 1 celana pendek harus membeli celana pendek dulu di toko sekitar pintu masuk pemandian.

Cirebon (4)

Kami kemudian membeli tiket dan saya memutuskan untuk membeli yang paling mahal dari daftar harga yang ada yaitu ruang eksekutif dengan harga Rp30.000 per orang.

Cirebon (5)

Pintu masuk menuju kolam renang.

Cirebon (6)

Petugas yang mengantar kami ke ruang eksekutif menanyai kami apakah mau sendiri-sendiri atau satu ruangan saja dan kami bilang satu ruangan saja. Dan ternyata, ruang eksekutif adalah sebuah ruangan yang menyediakan 1 bathtub untuk mandi air panas. Saya dan Denpe tatap-tatapan ya masak kami harus mandi bersama menggunakan 1 bathtub ukuran 1 orang begitu. Kalau saja saat itu denganmu sih mungkin saya mau banget, tetapi ini saya dengan Denpe? Denpe dengan saya? No Thanks. 😀

Lalu saya bertanya kepada petugas tentang mandi air panas di kolam kecil dalam kamar yang bisa beberapa orang yang dulu sering saya lakukan bersama teman-teman di Cirebon jika akhir pekan. Ternyata itu namanya bukan ruang eksekutif tetapi ruang utama yang mana harganya hanya Rp10.000 per orang dan bisa digunakan hingga 3 atau 4 orang. Malas bertanya sesat di jalan nih namanya. Inilah ruangan yang saya maksud. Dengan membayar Rp10.000 per orang, kita bisa menikmati mandi air panas alami di ruangan ini selama 45 menit dihitung dari masuk ruangan hingga dibunyikan bel tanda harus ke luar ruangan oleh petugas.

Cirebon (7)

Setelah mandi-mandi cantik dengan Denpe, saya mengintip-intip kolam renang yang tiket masuknya Rp8.000 per orang. Sebenarnya terdapat beberapa kolam renang dengan kedalaman dan ukuran yang berbeda-beda, beberapa kamar ganti dan bangku untuk menunggu dan menaruh barang bawaan tetapi selalu ramai dan kolam renangnya jika sudah malam begini pasti keruh agak kecoklatan karena banyak daki pengunjung yang sudah menyatu dengan air kolam. Saat kami kembali ke Laksana, rumah makan tersebut sudah tutup dan mobil Pak Pres sudah tidak di situ. Pak Pres ternyata telah mengirim pesan kepada saya bahwa karena rumah makan mau ditutup, dia dan keluarga pindah ke parkiran pemandian yang berada sekitar 100 meter dari pemandian. Jadi enak gak enak deh sudah harus menunggu kami mandi, makan dibayarin lalu pindah ke parkiran segala.

Cirebon (8)

Pagi pun tiba setelah semalam yang melelahkan karena perjalanan dari Jakarta/Purwokerto-Cirebon-Kuningan-Cirebon. Kami pergi ke Nasi Jamblang Pelabuhan. Salah satu tempat sarapan favoritku yang menyediakan nasi jamblang paling enak di Kota Cirebon. Nasi Jamblang Pelabuhan ini buka pagi-pagi hingga pukul 10 atau 11 pagi saja tergantung masih ada atau tidaknya maakanan. Di sini makanannya prasmanan jadi kita ambil-ambil sendiri sesuka kita baru kita tunjukkan ke kasir dan akan dicatat dalam secarik kertas berapa harga makanan kita. Dulu, seorang nenek bertugas sebagai kasir di sini dengan kecepatan menghitung dan menentukan makanan apa yang kita ambil, berapa porsi, harga, dan totalnya dengan luar biasa cepat. Nenek yang sudah sangat sepuh itu sudah tidak ada lagi di sini.

2 bungkus nasi jamblang, 1 semur tahu, satu sambal jamblang, 1 telur dadar, 1 perkedel kentang, sepotong ikan, dan satu tusuk sate kentang yang saya makan ini harganya sekitar Rp14.000 dan rasanya luar biasa enak.

Cirebon (9)

Denpe yang baru kali pertama mencicipi nasi jamblang.

Cirebon (10)

Dari Nasi Jamblang Pelabuhan, kami diantar Pak Pres ke Kawasan Batik Trusmi lalu diumbar di situ sedangkan Pak Pres dan keluarga kembali ke rumahnya.

Cirebon (20)

Trusmi dari arah perempatan pasar.

Cirebon (19)

Tujuan pertama saya pagi itu adalah Batik Annur di Jalan Trusmi Kulon, No. 435 telp 0231-321762. Saya selalu mengunjungi toko batik milik Bu Haji entah siapa namanya ini setiap kali ke Cirebon.

Cirebon (13)

Dulu saya sering menghabiskan waktu seharian pada saat akhir pekan di sini jika tidak bepergian ke mana-mana sehingga saya sudah hafal seluk beluk toko ini dan sudah entah berapa kali ganti penjaga toko.

Cirebon (12)

Saya membeli beberapa batik di bawah ini dengan harga yang cukup murah dan masih bisa ditawar apalagi jika sedang ada Bu Haji maka langsung saya geboy Ibunya untuk memberi diskon tambahan.

Cirebon (11)

Dari Batik Annur, kami berpindah ke toko batik di depan Annur. terlihat beberapa batik dengan gradasi warna yang sangat banyak dan cantik ini tetapi harganya lumayan sehingga saya tidak jadi membelinya. 😀

Cirebon (15)

Lalu kami meluncur ke arah pasar lagi ke Batik Asofa di Jalan Trusmi Kulon, No. 200, Plered, 45154 telp 0231-325219. Kebetulan si Jelo saat itu memesan batik mega mendhung warna oranye di mana di Asofa ini kebetulan stok mega mendhungnya sedang lengkap sehingga saya membelikannya di sini.

Cirebon (16)

Dan malah kalap membeli belasan pasang kain batik dan selendang yang sedang didiskon untuk hadiah lebaran nenek, bulik, budhe, serta keluarga saya di Malang. Di Asofa ini kita bisa membeli es durian, bubur sumsum, empal, dan beberapa camilan lain di depan toko, jadi sambil jangan khawatir haus atau lapar. Batik yang siap saya bawa dan es durian untuk mendinginkan kepala agar tidak semakin kalap belanja.

Cirebon (17)

Untung punya porter jadi tidak perlu repot bawa belanjaan. 😀

Cirebon (18)

Setelah dari Trusmi, kami kembali ke rumah Pak Pres dan segera bersiap kembali ke Jakarta. Kami mampir makan siang yang telat banget sekitar pukul 14.30 di Nasi Lengko H. Barno di Jalan Pagongan, Cirebon. Sebenarnya ada Nasi Lengko Pagongan Ibu Sukinah yang menurut banyak orang lebih enak dari Nasi Lengko H. Barno yaitu  yang letaknya di Gang Bie Liong sekitar 20 meter di deretan Nasi Lengko H. Barno arah Jalan Parujakan, namun nasi lengko ini cepat sekali habis dan tutup sehingga jika ingin mencicipinya harus datang di waktu yang tepat antara pukul 10 hingga 12.00 wib.

Cirebon (21)

Saat itu saya menghabiskan 2 porsi nasi lengko dengan sate beberapa kambing tusuk. Harga seporsi sate kambing isi 10 tusuk Rp30.000, sedangkan seporsi nasi lengko harganya Rp9.000. Ada es durian juga di sini jika kita ingin lebih fly setelah makan sate kambing.

Cirebon (22)

Dari Nasi Lengko H. Barno, kami menuju ke Pangestu, toko oleh-oleh khas Cirebon, yang juga favorit bos saya dulu dan memang menyajikan oleh-oleh khas Cirebon dengan kualitas terbaik dan harga yang bersaing. Favorit saya yang juga favorit bos saya adalah teri kacang. Dengan harga sekitar Rp35.000 untuk toples kecil ukuran 200g, kita bisa menikmati teri kacang yang benar-benar nikmat. Saya sering makan oatmeal, nasi merah, atau nasi putih hanya dengan teri kacang ini. Enak banget. Beneran. Oleh-oleh wajib dari Cirebon deh.

Cirebon (23)

Toko Oleh-Oleh Pangestu berada di jalan Sukalila Selatan Nomor 49 Cirebon, telp 0231-204073. Sekarang Pangestu membuka Pangestu Point di Jalan Siliwangi 165, dekat Super Indo Siliwangi arah PGC, Cirebon telep 0231-243456.

Cirebon (24)

hampir pukul 16.00 wib kami tiba di Stasiun Cirebon dan harus bersiap mengakhiri petualangan akhir pekan di Purwokerto dan Cirebon.

Cirebon (25)

Inside Cirebon Kejaksan Railway Station.

Cirebon (26)

This station is getting better and bigger since i left this  city.

Cirebon (27)

Bye Cirebon.

Cirebon (14)

Selfie 😀

Cirebon (28)

Senja tanpamu. Memang pernah senja bersamamu?
Cirebon (29)

Another sunset view on our way from Cirebon to Pasar Senen Sailway Station in Jakarta.

Cirebon (30)

Ala-Ala di Puerto Rico

Ini adalah kali ke sekian saya tahun ini ke Kota Ngapak, Purwokerto aka Puerto Rico. Saya ke sini lagi untuk mencoba ikut bea siswa dan ternyata tidak berhasil lagi. Kegagalan saya mungkin karena faktor strategi, kekurangseriusan, serta keberuntungan. But that’s ok cause i still had time to please myself in the city.

Purwokerto (2)

If you want to stay in a budget hotel, you can choose Hotel Pandawa Syariah. It is a good hotel with affordable price and frindly staff near to Purwokerto Railway Station. Hotel Pandawa Syariah is located at Jl. Gatot Subroto No. 8, Purwokerto phone 0281-636092.

Had a fabulous chitchat and dinner with my friends at Umaeh Inyong.

Purwokerto (1)

Yes, i already had a member card of this restaurant and always be here everytime i go to Puerto Rico.

Umaeh Inyong (3)I went to Umaeh Inyong again on the day after having dinner with my frineds for a big lunch after having test for scholarship.

Umaeh Inyong

Ukiran sebagai pembatas dengan taman.

Umaeh Inyong (6)

Bistiknya agak asin sih untuk selera saya tetapi lumayan lah untuk harga segitu.

Umaeh Inyong (5)Tempe mendoan sepiring dengan sambal kecap dan es durian. Slurrp.

Umaeh Inyong (4)

Sebelum kembali ke Jakarta setelah kondangan di Purbalingga pada awal tahun 2015 ini.

Umaeh Inyong (1)

Umaeh Inyong is located at JL Jenderal Ahmad Yani, No. 147, Purwokerto phone 0281-5759000. Umaeh Inyong (2)Setelah kekenyangan makan dan waktu keberangkatan kereta masih  lama, saya memilih ke stasiun dengan jalan kaki menelusuri Jalan Ahmad Yani dan Jalan Gatot Subroto.

Purwokerto (3)

Semakin mendekati Stasiun Purwokerto saat melintasi jembatan dengan sungai yang masih bersih ini. Andai saja sungai di Jakarta bisa seperti ini.

Purwokerto (4)

Stasiun terlihat dari bawah jalan layang di mana terdapat banyak warung dengan makanan yang nikmat.

Purwokerto (5)

Siap meninggalkan kota ini lagi untuk menuju Cirebon. Yay…..

Purwokerto (6)

Palu dan Pusat Laut

Sabtu dini hari sekitar pukul 01.00 wita, 15 Mei 2015, saya dan Bu Joko tiba di Homestay Pondok Sekar, Palu. Kami baru tidur pulas ketika Bunda Hani yang baru datang dari Ampana setelah mengikuti Gema akhirnya tiba di homestay dengan mengetok-ngetok pintu kamar kami. Kata Bunda sih pintu kamar sempat diketok-ketok dengan batu dan sepatu biar kami bangun tetapi karena terlalu letih setelah perjalanan jauh maka butuh waktu cukup lama untuk membangunkan kami. Setelah itu Bunda ditinggal pergi Gema ke rumahnya dan saya antar Bunda menemui penjaga penginapan yang sedang tidur terlelap pula di ruangannya di pojokan penginapan untuk mengambil kunci kamar. Homestay Pondok Sekar ini berada di Jalan Maleo II nomor 2 Palu, 0451-425947 atau 081242376763 dan merupakan penginapan yang masih dikelola secara sederhana dengan jumlah kamar sekitar 5 atau 6 saja dan 1 penjaga di setiap shift-nya tetapi pelayanna bagus, kamar luas dan bagus, tersedia kopi, teh, gula, dispenser, AC, TV di setiap kamarnya. Harga kamar di sini mulai dari Rp165.000 untuk 2 orang dan termasuk sarapan yang berupa nasi bungkus yang lumayan enak. Sarapan pada Sabtu pagi kami waktu itu adalah nasi kuning yang pulen dengan lauk ikan suwir dan telur yang nikmat, sedangkan pada hari Minggu pagi berupa nasi putih, sayur, dan ayam bakar yang juga enak. Penginapan ini berlatar syariah sehingga jangan harap bisa tidur sekamar cowok-cewek yang bukan suami istri, walaupun teman ngebolang.

Palu (18)

Sekitar pukul 10.00 wita, Chua dkk menjemput kami untuk berkeliling sekitar Kota Palu. Melewati Jembatan Ponulele yang megah dan menghubungkan Palu Barat dan Palu Timur di atas Teluk Talise.

Palu (12)

Kami ternyata dibawa menuju ke arah Donggala. Dengan waktu perjalanan sekitar 1 jam, akhirnya kami tiba di Pusat Laut. Tiket masuk ke Pusat Laut hanya Rp2.500 per orang dan biaya parkir mobil Rp5.000. Pusat laut adalah sebuah lubang seperti sumur atau kolam dengan diamater sekitar 10 meter yang dipagari besi setinggi kurang lebih 75cm dan berada hanya beberap meter dari bibir pantai di deretan pantai Donggala

Palu (5)

Para pengunjung Pusat Laut bisa melompat setinggi 5 meter ke dalam kolam.

Pusat Laut (2)

Lalu berenang dan mengapung sambil menjadi tontonan pengunjung. Warga sekitar mempercayai bahwa dengan mandi di kolam ini bisa menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Sayang sekali, sarana untuk masuk atau ke luar kolam ini masih tergolong minim, hanya ada tangga besi semi permanen yang sudah rusak dan tali-temali sebagai media untuk kembali ke atas dari kolam.

Pusat Laut (3)

Tersedia penginapan, semacam aula yang mungkin bisa digunakan sebagai food court tetapi kondisinya tidak terawat dan bisa digunakan untuk berteduh jika kepanbasan atau saat hujan seperti yang kami alami waktu itu. Ada juga beberapa penjual minuman dan makanan tetapi tidak di lapak permanen. Chua for Hermes scarf campaign???

Palu (1)

Setelah puas berfoto-foto di Pusat laut, kami kembali ke arah pusat kota. Jalan dari dan menuju Pusat laut dari pinggir jalan raya sangatlah indah, seperti spot berikut di mana kami berhenti sejenak untuk melakukan pemotretan.

Pusat Laut (1)

Selain Pusat Laut, Donggala juga terkenanl dengan tenun ikatnya (di samping juga batu akik yang tidak akan saya bahas :D). Kami mampir di sebuah rumah yang menjual sarung Donggala di Jalan Malonda nomor 128, Palu. Tersedia berbagai corak warna dan harga di tempat ini. Untuk sarung tenun yang menggunakan benang emas/prada harganya bisa mencapai Rp1.000.000, tenun dengan benang biasa harganya sekitar Rp400.000, tenun yang berupa selendang harganya sekitar Rp200.000. Harga di sini jauh lebih murah dibandingkan dengan di toko pusat oleh-oleh di Kota Palu maupun di Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie Palu yang bisa 2 hingga 3 kali lipatnya. Sayang saat itu uang tunai saya sudah sangat menipis sehingga hanya membeli beberapa helai tenun dan menyesal mengapa tidak beli banyak saat mengetahui harga di Kota dan Bandara. Kalau beli 10 helai dan dijual untuk biasa Rp600.000 kan lumayan tuh untungnya. 😀

Tenun Donggala

Chua yang sudah mahir tentang seluk beluk Palu mengajak kami makan siang di Winner’s Sport Center. Walaupun harus menunggu makanan lama sekali, dan malah pengunjung yang sampai setelah kami sudah mendapatkan makanan dulu sehingga saya harus beradegan marah (lagi dan lagi) kepada Mbak-Mbak yang jaga.

Palu (10)

Makanan di sini rasanya biasa, tidak maknyos tetapi juga tidak ala kadarnya. Minuman yang saya pilih di sini adalah saraba, yang terbuat dari jahe merah, gula merah, dan susu kental manis yang bisa membuat badan menjadi hangat.

Palu (8)

Terdapat kolam renang dengan pemandangan Teluk Palu yang membentang di depannya, inilah yang membuat tempat ini istimewa. Apalagi menurut Chua jika kita ke sini saat malam tahun baru, pasti sangat ramai dan indah.

Palu (9)

Di Winner’s ini, selain ada restauran, kolam renang, juga ada penginapan yang berada di kaki Gunung Gawalise.

Palu (7)

Kamar dengan dua kasur ukuran queen, AC, televisi, serta kamar mandi ini harganya hanya sekitar Rp300.000, sedangkan untuk bungalow harganya sekitar Rp500.000.

Palu (6)

Jika ingin menikmati Kota Palu dari atas bukit di penginapan yang lumayan bagus dan terjangkau dan bisa ramai-ramai, maka di Winner’s Sport Centre ini lah tempatnya. Anda bisa menghubungi nomor telepon 081341055599 jika ingin reservasi.

Palu (11)

Dari Palu sebelah barat, kami berpindah ke Palu sebelah timur ke Gong Perdamaian Nusantara di Bukit Jabal Nur, Palu. Konon di deretan bukit yang lumayan gersang dengan jalan yang belum begitu halus dan penuh debu dan kerikil ini terdapat sebuah bukit yang berbentuk seperti hati lope-lope gitu tapi entahlah bukit yang mana. Bukit ini lebih sering digunakan untuk arena motor cross.

Palu (3)

Here we come at Gong Perdamaian Nusantara yang sepertinya masih belum selesai pembangunannya.

Palu (13)

Bia, Yoseph, mas Irfan, dan Chua dengan Gong Perdamaian.

Palu (14)

Hills, sea, sunset, i wish you were here. #ahumasiholtuho
Palu (15)

Akhirnya malam tiba dan kami diantar kembali ke dekat penginapan oleh Chua dan Ucep setelah sempat menurunkan penumpang lain di kontrakan adiknya Chua. Chua dkk akan kembali ke Toli-Toli pada Minggu pagi dengan menggunakan kapal laut jurusan Surabaya-Balikpapan-Palu-Toli-Toli-Amurang-Bitung. Terima kasih Chua dkk atas jamuannya di Palu, semoga lain waktu kami bisa merepoti kalian di Toli-Toli, kampung halaman kalian.

Malam itu saya sedikit kalap pada saat saya, Bunda, dan Bu Joko makan malam di sebuah warung lalapan. Saya menghabiskan 1 porsi nasi, 2 ikan katombo goreng, sepiring tempe, terong goreng yang saya pesan, serta 1/2 porsi nasi dan ayam yang Bu Joko pesan karena dia sudah kekenyangan. Pfffttt mumpung sedang tidak di Jakarta, besok malam sudah kembali di Jakarta.

Palu (19)

Minggu pagi, 17 Mei 2015, hari kesebelas dan terakhir Trip Suluttenggomalut kami. Hanya gegoleran di kamar, menikmati sarapan, menonton tv, dan packing pakaian serta kain-kain yang telah kami beli. Baru pada pukul 11.00 wita kami check out dari Homestay Pondok Sekar untuk menunju Toko Oleh-Oleh Khas Palu “Diana” di Jalan Kartini Palu, telepon 081354230698. Di toko ini tersedia berbagai jenis oleh-oleh Palu dari bawang goreng, abon, madu, tenun, serta berbagai makanan khas Palu. Setelah membeli oleh-oleh kami langsung menuju Bandara Palu untuk mengantar Bunda Hani yang akan terbang kembali ke Jakarta dengan pesawat pukul 14.00 wita, sedang saya dan Bu Joko dengan pesawat pukul 16.00 wita.

Oleh-Oleh Palu

Jarak pusat kota ke bandara ternyata sangat dekat dan bebas macet sehingga setelah mengantar Bunda, saya dan Bu Joko memutuskan untuk kembali ke kota untuk mencari makan siang dulu. Sungguh di luar dugaan karena ternyata warung maupun restauran sangat jarang yang buka di hari Minggu. Kami awalnya ingin menikmati makanan khas Palu seperti kaledo tetapi ternyata warungnya hanya menjual nasi goreng di hari itu. Kami pindah mencari tempat makan lain, tidak perlu yang khas Palu asal bukan junk food, hingga sekitar 6 atau 7 tempat tetapi tidak ada yang buka. Akhirnya kami berhenti di Careto Resoran yang terlihat buka dan ramai. Careto ternyata merupakan restoran dengan beberapa stan makanan di dalamnya seperti food court di mana tersedia nasi padang Sederhana, menu Oriental, menu Eropa, kopi, dan kue-kue. Ruangan restoran ini cukup nyaman dan luas serta terlihat enak untuk nongkrong-nongkrong.

Palu (17)

Menu yang kami pesan di Careto Restoran.

Palu (21)

Untuk ke bandara serta berputar-putar di Kota Palu dari siang, kami menggunakan Taksi Utama Palu di nomor telepon 0451-456789. Walaupun armadanya cukup tua, tetapi supir yang mengantar kami waktu itu masih muda dan lagu-lagu yang diputar juga bervariasi dari lagu Ambon, Indonesia, hingga barat. Pukul 15 wita lebih sedikit kami akhirnya tiba di bandara dan harus bersiap menghadapi kenyataan di ibu kota lagi.

Palu (20)

Transit di Bandara Sultan Hasanudin Makassar.

Palu (16)Dan berakhir sudah Trip Suluttenggomalut ini. Terima kasih banyak Bu Joko dan Bunda Hani yang bersedia meramaikan trip ala-alaku ini. Sampai jumpa di trip selanjutnya. xoxo

*Rincian pengeluaran di Palu

15 Mei 2015
Pondok Sekar 2 kamar, 2 malam 790.000
Tiket Pusat Laut 25.000
Makan siang 297.000
Makan malam 45.000
16 Mei 2015
Taksi 100.000
Total 1.257.000
Biaya per orang 419.000

 Akhirnya catatan perjalanan saya ke Suluttenggo Malut selesai juga setelah 3 bulan.

Ikut Bule ke Tentena

Ada apa di Tentena? Saya belum begitu paham apa yang akan kami tuju nanti di Tentena, selain Danau Poso dan Lembah Bada (yang juga baru semalam kami dengar dari Ardi saat di Togean), malahan sepertinya bule-bule yang lebih banyak mengetahui tentang kota kecil di Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso ini. Tentena terletak di jalur yang menghubungkan Ampana (Togean) dan Rantepao (Tana Toraja) sehingga menjadi tempat stopover pilihan para turis asing. Waktu tempuh dari Ampana ke Tentena sekitar 7 jam sedangkan dari Tentena ke Rantepao sekitar 11 jam sehingga pantaslah para turis memilih untuk bermalam di Tentena sebelum melanjutkan perjalanan di antara 2 kota tersebut. Berada di ketinggian hampir 700m di atas permukaan air laut dengan daya tarik situs megalitikum Lembah Bada yang tidak populer untuk orang Indonesia tetapi sudah mendunia. Di situ terkadang saya merasa sedih.

Hampir pukul 15.00 wita kami yang kelaparan karena belum makan siang tiba di sebuah rumah makan di dekat jembatan Sungai Bongka di Desa Tampanombo, Kecamatan Ulu Bongka, Kabupaten Tojo Una-Una. Daripada makan di sekitar Pelabuhan Ampana yang masih dekat dengan sumber aura kegelapan Bu Ulfa dari Tourist Information Center Ampana yang bahkan mengingat namanya saja membuat saya ingin marah menjadikan tempat makan pilihan Pak Mito, supir kami ke Tentena, ini adalah pilihan yang tepat sembari menunggu jalan arah Poso dibuka karena adanya buku-tutup perbaikan jalan. Para bule memesan ikan bakar sedangkan saya dan Bu Joko lebih memilih telor dadar serta semua mau tumis sayur kangkung dan bunga pepaya yang rasanya enaaak. Para bule ini mau makan apa saja sih asal tidak begitu pedas, apalagi si Michal yang sejak saat kami mendarat di pelabuhan sudah berkali-kali bilang, “Estu, i’m starving. Can we eat now?”

Tojo Una-Una (3)Di rumah makan ini, semua menu mulai nasi, ikan, dan sayur baru akan dimasak pada saat kami memesan sehingga membuat saya turun tangan ke dapur untuk membantu agar makanan lebih cepat disajikan. Entah sudah berapa kali saya harus turun tangan sekaligus mensupervisi di dapur seperti ini. Teringat beberapa tahun lalu saat ke sebuah pantai di Yogyakarta, kami sempat menunggu hampir sejam tetapi makanan belum juga tersaji dan akhirnya saya mendatangi dapur dan bilang ke pemilik warung bahwa saya akan membawa ke luar menu apa pun yang sudah siap walaupun hanya nasi karena kami harus segera pergi. Seringkali pihak warung menyajikan makanan menunggu semua siap disajikan, tetapi saya lebih memilih bahwa yang sudah siap duluan agar disajikan duluan, tidak usah tunggu-tungguan, dan jika perlu bantuan memotong sayur, mengulek bumbu, atau sekedar menyajikan makanan saya bisa membantu, dan saat itu saya membantu menyipakan lalapan, sambal, menata ikan dan cumi, serta ikut menyajikan makanan dan minuman ke teman-teman saya yang sudah kelaparan. Kembali ke dapur di rumah makan di Tampanombo, Ibu pemilik warung ternyata jago membuat bolu dan kue-kue seperti yang saya lihat di dapur sesaat sebelum membantu menyajikan makanan. Kue-kue tersebut dijual di rumah makan ini atau kadang merupakan pesanan tetangga, yang mana saya tidak melihat adanya rumah atau bangunan lain di sekitar sini. Tetangga yang berjarak 1 km dari rumah makan mungkin. :O

Dua gadis cantik umur belasan tahun di rumah makan ini digoda Jan sebelum kami melanjutkan perjalanan ke Tentena pada pukul 16.30 wita. Mereka bernama Janna dan Desi. Dan mereka bukan cabe-cabean, tetapi mungkin calon berlian dari jantung Sulawesi.
Tojo Una-Una (4)

Pemandangan dari Ampana ke arah Poso di Kabupaten Tojo Una-Una benar-benar indah. Banyak ladang jagung di perbukitan yang nampak tertata rapi dengan gradasi warna dari pohon jagung yang sudah atau siap ditebang, ladang tembakau, hutan dengan perbukitan di sebelah kiri, serta laut dan matahari terbenam yang berada di sisi kanan sepenajang jalan. Perbaikan jalan yang saat itu sedang dilakukan pemerintah daerah terbentang di sepanjang jalur yang kami lewati. Sungai-sungai di Kabupaten Tojo Una-Una terlihat lebar-lebar dan dangkal sehingga komponen bebatuan di sekitarnya jelas nampak di antara arus yang mengalir dengan deras akibat hujan lebat yang baru saja terjadi. Bagi Anda pencinta batu akik(a), jalur Ampana-Poso menyediakan begitu banyak bebatuan serta penjual batu di pinggir jalan yang bahkan terkadang di tengah remang hutan tanpa ada orang lain selain si penjual batu, batu yang masih belum diasah tepatnya. Tapi maaf ya, saya bukan pencinta dan bukan orang yang mau dititipi bebatuan macam ini, kalau berlian sih boleh lah dikasih ke aku biar auraku jadi shine bright like a diamond. Selain penjual batu, ada juga ternak warga seperti sapi dan kambing yang sore itu banyak kami jumpai di sepanjang jalan. Ternak yang jumlahnya lebih banyak daripada kendaraan yang melintas yang bermain-main bebas di tengah dan pinggir jalan sebelum pulang ke kandang. Untuk musik pengiring perjalanan, Pak Mito mempunyai selera internasional yang saya kira lumayan cocok untuk turis asing seperti REM, Nirvana, Metallica, Steelheart, dan OASIS.

Para bule meminta Pak Mito untuk berhenti sejenak untuk beli camilan dan meregangkan badan di sebuah warung di Malei, yang juga masih di wilayah Kabupaten Tojo Una-Una. Sudah pukul 19.00 wita lebih dan kami masih saja di Tojo Una-Una menyadarkan saya betapa luasnya Indonesia. Ibu pemilik warung yang sepertinya sedang menonton sinetron agak terkejut melihat bule-bule yang berada di belakang saya yang sepertinya siap menyerbu warung.
Tojo Una-Una (5)

Selain membeli minuman segar dan permen, kami menemukan kue khas Malei yang terlihat biasa tetapi rasanya luar biasa yang namanya kue kambu. Kue kambu ini terbuat dari tepung terigu, kelapa parut, dan gula pasir yang dijual seharga Rp1.000,00 per buah. Entah berapa puluh kue kambu yang kami beli saat itu.
Tojo Una-Una (6)

Tidak begitu jauh dari Malei, kami pun tiba di Kabupaten Poso dan langsung mengambil jalur ke arah Tentena, bukan ke Palu. Perbaikan jalan ternyata benar-benar sedang dilakukan di seluruh penjuru Sulawesi Tengah. Saat itu pukul 20.30 wita saat mobil kami tiba-tiba terhenti karena terhadang lagi oleh penutupan jalan yang katanya sedang memasuki proses pengangkatan aspal atau apalah hingga 2 jam ke depan, dan penutupan baru berlangsung sekitar 5 menit sebelum kami datang. Pantas saja kami berada di antrean kendaraan nomor 3 di belakang portal. Kami turun mobil untuk melihat-lihat keadaan sekitar saat ada mobil, yang sepertinya milik raja kecil di sana, tiba-tiba berada di belakang portal jalur kendaraan ke arah Poso dan meminta dibukakan jalan kepada penjaga portal. Si Raja Kecil yang duduk di samping supir turun dan bilang kepada kami dengan nada tinggi bahwa harus segera ke daerah entah-apalah-namanya-sesuka-udhel-e-dewe untuk menyampaikan bantuan bagi para korban banjir dengan menggunakan kapal yang harus berangkat pada pukul 11.00 wita. Yaelah Pak, kalau mau nyerobot antrean ataupun memaksa melewati jalan mah lewat saja, gak perlu marah-marah sok ngejelasin tujuan muliamu itu kali. NEVER MIND. WE DON’T CARE. Malah mencurigakan bantuan macam apa sik yang dibawa hanya di satu mobil yang tidak terlihat membawa barang-barang bantuan. Lalu kami boo ramai-ramai deh si bapak gengges itu.
Tentena (4)

Kami menepi ke arah warung-warung yang banyak di dirikan di sekitar portal. Jan dan Michal mengajak Pak Mito, Catherine dan pasangannya untuk bermain kartu versi Ceko. Saya juga diajak tetapi saya bukan penggemar kartu sehingga saya diminta untuk mendampingi dan menjelaskan tata cara permainan kepada Pak Mito. Saya sih pernah suka main kartu sekitar 10 tahun lalu jadi walaupun lupa nama dan aturan permainan, masih ingat sedikit-sedikit lah tentang jenis permainan kartu yang mirip dengan seven sekop tetapi dibuat lebih mudah dengan beberapa aturan ala Ceko sana. Dan kami menjadi pusat perhatian orang-orang yang sedang menepi di sekitar warung.
Tentena (6)

Setelah permainan kartu berjalan dengan stabil sesuai aturan yang ditetapkan, saya memilih melipir ke warung sebelah dan menemukan minuman cap tikus yang merupakan tuak khas Sulawesi termasuk di Poso. Si Bapak penjual cap tikus menjelaskan beda cap tikus dengan saguer dari proses pembuatan, warna, dan harga. Saya sih tidak tertarik dengan cap tikus karena teringat adegan terpaksa mencicipi tuak khas Nias yang dioplos dengan minuman berenergi pada tahun 2014 silam karena takut kalau tidak mau mencicipi minuman yang ditawarkan penduduk lokal bakal tidak bisa ke luar dari Nias. 😀

Tentena (5)

Sekitar pukul 9.30 wita portal sempat dibuka untuk ambulans yang melintas dan langsung diikuti oleh beberapa mobil yang berada di belakang ambulans untuk turut melintas. Sayang kami gagal ikut melintas karena kurang gesit berkumpul dan menjalankan mobil. Akhirnya David dan Bu Joko kembali tidur di mobil, yang main kartu kembali bermain kartu, dan saya mengobrol dengan supir  pickup pengangkut ayam yang ternyata berasal dari Jawa Timur juga. Sesekali saya mencoba menghubungi Hotel Tropicana yang menjadi tempat yang diinginkan Catherine karena berdasar rekomendasi pada buku yang dia bawa, juga menghubungi Hotel Victory yang direkomendasikan Pak Mito. Di tengah alas ini koneksi data masih sangat sulit dan tetap hanya Whatsapp yang lumayan lancar. Saya teringat Yose, teman kantor yang pernah bertugas di Poso, yang saya pikir pasti tahu tentang Tentena. Yose melalui Whatsapp mengatakan bahwa hotel yang menurutnya bagus dan paling dekat dengan Danau Poso adalah Hotel Pamona Indah. Lalu saya hubungi Hotel Pamona Indah. Bingung-bingung belum bisa memutuskan mau menginap di hotel yang mana saat kami tiba di tentena yang kemungkinan akan lewat tengah malam.

Akhirnya menjelang pukul 23.00 wita, portal benar-benar dibuka dan kami bergegas masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan ke Tentena melalui jalan yang memang benar-benar dalam keadaan berantakan, berlumpur, penuh material pembangunan jalan selama 1 jam. Beberapa menit lepas tengah malam kami pun tiba di Tentena dan memutuskan untuk melihat Hotel Victory. Catherine menanyakan ketersediaan kamar yang paling murah di hotel tersebut tetapi ternyata sudah penuh sehingga tinggal yang harganya Rp175.000 ke atas. Czech Gang yang sudah merasa kelelahan memutuskan untuk memilih melanjutkan perjalanan ke Rantepao saja jika memungkinkan daripada nanggung istirahat beberapa jam di Tentena. Kebetulan saat itu di Victory tersedia mobil jurusan Tentena-Rantepao yang batal disewa orang sehingga para turis Ceko dan Prancis ini bisa melanjutkan perjalanan langsung ke Rantepao. Mobil semua ditawarkan dengan tarif Rp1.250.000 tetapi saya tawar agar menjadi Rp1.000.000 karena tarif sewa mobil Ampana-Rantepao yang paling murah yang saya dapat adalah Rp1.800.000. Dihitung-hitung bisa pas kan akhirnya setelah tarif sewa mobil Ampana-Tentena Rp800.000 dan dilanjutkan Tentena-Rantepao Rp1.000.000. This was our farewell photo at Victory Hotel Tentena. 🙁
Tentena

Saya lupa tentang konflik antarpemeluk agama yang menyebabkan kerusuhan pada tahun 2002 di Tentena jika tidak diingatkan Bu Joko pada saat kami bersiap untuk tidur. Then i got goosebumps and asked myself, “What i am doing here?”. Untungnya sih di sana cuma ada sinyal Telkomsel, yang untuk Whatssapp saja lemot dan susah untuk googling, jadi tidak semakin banyak informasi yang saya dapat yang akna membuat saya akan semakin merinding.

Saat pagi menjelang, saya pergi ke luar hotel untuk melihat Danau Poso dan ternyata tidak jauh dari Hotel Victory hanya dengan melewati 1 blok ke arah Hotel Pamona Indah. Walaupun tidak jauh, gelombang pasang Danau Poso sedang terjadi dan mengakibatkan jalan di sekitar danau menjadi tergenang setinggi 20 s.d. 30 cm dengan air being danau yang tidak membuat saya khawatir kaki akan gatal-gatal seperti terkena genangan air banjir di Jakarta yang keruh dan bau.

Tentena (8)

Sejauh mata memandang, sejauh itu pula luas danau terbesar nomor 3 di Indonesia ini. Keramba yang banyak dibuat di pinggir Danau Poso.
Tentena (7)

Rumah adat Poso yang sudah agak rusak di sekitar danau.

Tentena (9)

Rumah adat yang juga agak rusak padahal rumah model begini juga jarang kita temui di sini.
Tentena (10)

Setelah melihat-lihat Danau, saya kembali ke hotel untuk sarapan. Mbak Nony menyajikan 2 porsi nasi kuning, 2 gelas air mineral serta menawari saya mau teh atau kopi. Dan akhirnya saya menghabiskan 2 porsi nasi kuning yang seharusnya juga menjadi hak Bu Joko, yang masih terlelap, serta menyisakan air minaral dalam gelas dan secangkir teh manis hangat untuk Bu Joko. Saya sampaikan ke Bu Joko bahwa saya akan berkeliling mencari ojek atau travel yang bisa membawa kami ke Lembah Bada. Menurut Mbak Nony, untuk menuju Lembah Bada kami bisa menyewa hardtop seperti yang dilakukan penghuni kamar sebelah, menggunakan ojek motor jika ada yang mau, atau mobil travel umum yang biasanya kalau pagi begini berada di sekitar jembatan baru atau pasar lama. Ojek yang saya dapatkan bukannya mau mengantar saya ke Lembah Bada melainkan mau mengantarkan saya mencari ojek atau travel yang bisa mengantar saya ke Lembah Bada. Si Bapak Ojek ternyata ada acara di gereja pada siang nanti sehingga tidak bisa mengantar ke Lembah Bada. Saya mengambil gambar di bawah ini dari jembatan baru saat mencari ojek.

Tentena (12)

Dengan diantar Pak Ojek, saya memintanya sekalian melihat-lihat ada apa saja di Tentena ini dan diajaklah saya ke tempat ini. The venue for Festival Danau Poso. Its actually a large, beautiful and useful place to promote the tourismbut the government did’nt take care of it until the festival is almost being held.
Tentena (13)

Akhirnya di sekitar pertigaan dekat Universitar Kristen Tentena Pak Ojek berhasil menghentikan seorang tukang ojek lain yang mau mengantar saya ke Lembah Bada. Saya pikir akan mudah mendapatkan 1 tukang ojek lagi, tetapi ternyata tidak. Saya yang sudah ditinggal Pak Ojek dan diserahterimakan ke Mas Ojek berpindah ke beberapa tempat hingga ke dekat Pasar Lama untuk mencari tukan ojek 1 lagi yang mau mengantarkan ke Lembah Bada sambil sesekali mampir ke agen travel yang barangkali menyediakan mobil umum ke sana. Si Mas Ojek ini mau dibayar Rp150.000 untuk menuju Lembah Bada di saat tukang ojek lain tidak ada yang mau ke sana karena katanya jalannya hancur dan jelek sekali penuh lumpur. Saya akhirnya kembali ke hotel untuk melapor perjalanan saya selama 1 jam mencari ojek yang hanya menghasilkan 1 tukang ojek kepada Bu Joko. Ternyata Bu Joko sudah ke luar hotel untuk mungkin sarapan dan jalan-jalan. Saya tidak bisa menghubungi ponsel dia karena dia menggunakan bukan nomor Telkomsel. Berputar-putarlah lagi saya dan Mas Ojek ke sekitar danau (lagi), ke lokasi Festival Danau Poso (lagi), ke sekitar pasar lama (lagi), tetapi tidak juga menemukan keberadaan Bu Joko. Saya menyerah dan memutuskan untuk menunggu Bu Joko di hotel saja.

Pasar Lama Tentena.

Tentena (14)

A vegetable seller in Tentena Old Market.

Tentena (16)

Sesampainya di hotel, saya menemui Mbak Nony untuk bertanya alternatif lain dari kenalan tukang ojek atau travel yang kira-kira bisa mengantar ke Lembah Bada pp hari ini. Tak lama kemudian Bu Joko tiba juga di hotel dan saya sampaikan betapa sulitnya mencari ojek ke Lembah Bada. Kemudian saya mulai menghubungi travel dan tukang ojek yang nomornya diberikan oleh Mbak Nony. Berikut ini beberapa nomor telepon tukang ojek dan travel di Tentena yang saya hubungi pagi itu: Travel Pak Cit di 085341024133, Travel lupa namanya di 081354599568, Pak Akim Ojek di 085342300833, Pak Jonli Ojek di 085341111730. Dua travel yang saya hubungi menyediakan travel mobil umum baik menuju Lembah Bada maupun ke Palu. Dengan perkiraan mobil travel berangkat dari Tentena pukul 12.00 siang maka akan tiba di Lembah Bada menjelang Maghrib dan kami baru akan bisa kembali ke Tentena KEMUNGKINAN pada sore keesokan hari dan itu pun mungkin hanya bisa melihat 1 atau 2 buah batu di situs megalitikum Lembah Bada yang jumlahnya sebelasan tetapi jaraknya sangat berjauhan satu sama lain.Kita bisa menginap di rumah penduduk di sana dan menyewa motor untuk berkeliling dari satu situs ke situs lain. Seperti ini bentuk situs megalitikum di Lembah Bada.

credit image to asrito.blogspot.com

Pak Jonli datang ke hotel dan bilang mau mengantar kami, melengkapi Mas Ojek yang bersedia, tetapi dengan harga yang sangat mahal yaitu Rp700.000 per orang. Saya pikir gilingan saja dengan biaya sebegitu besar saya lebih baik menyewa hardtop untuk menuju ke Lembah Bada. Jalan menuju Lembah Bada konon katanya rusak berat, menanjak, berlumpur, tidak ada penerangan kalau malam, serta tidak bisa dicapai PP dalam satu hari.

credit image to asrito.blogspot.com

After all, we decided to do city tour to some landmarks in Tentena with Pak Jonli and Mas Ojek with cost Rp150.000,00 per person.  Our first stop is Siuri Beach. Dari harus ke luar Kota tentena ke arah barat hingga menemukan pertigaan menuju Lore Lindu. Di pertigaan tersebut, jika belok ke kanan sejauh 72km akan menuju Taman Nasional Lore Lindu dengan lembah Badanya yang benar-benar ingin saya kunjungi, dan jika belok kiri sejauh 5km maka akan kita temukan Pantai Siuri ini dan jika terus lagi maka akan menemukan Taman Anggrek Bancea. Here we come at Siuri Cottage but the tidal wave also hit the cottage. If you want to stay here, you may contact +62 85241058225 or +62 81341167345.

Tentena (19)

Siuri Beach. A sparkling and serene beach in the far side of Lake Poso.
Tentena (20)

Dari Pantai Siuri, kami kembali ke arah pertigaan menuju Lore Lindu dan terus ke arah Air Terjun Saluopa. From the entry gate, we have to walk like 10 minutes in the middle of beautiful tropical forest to get this waterfal. Saluopa Waterfall has 12 level which is from one to another level can be reached by stepping on mossy-but-not-slippery-stone stairway.  You can see a very clear and clean water that came from the mountain. When i was there, a group of high school students were there to celebrate their graduation. It is a must place to visit in Tentena and Central Sulawesi.
Tentena (21)

Terdapat beberapa warung yang menjual makanan dan minuman di dekat parkiran air terjun. Saya yang tiba-tiba masuk angin karena terkena hembusan air yang begitu dingin terbawa angin di air terjun memutuskan untuk kembali saja ke kota dan mencari makanan yang lebih cocok untuk perut saya daripada hanya mie instan goreng atau rebus di sekitar air terjun yang hanya akan membuat saya semakin mual. Sedangkan Bu Joko memilih untuk makan mie instan di situ dan meneruskan perjalanan dengan tukang ojeknya ke Panorama, semacam bukit untuk melihat Danau Poso dari atas, serta ke Goa Latea.

Saya makan di sebuah warung di dekat pasar lama yang ternyata rasanya tidak begitu enak dibanding nasi kuning bungkus yang disajikan hotel tadi pagi dan malah membuat saya semakin mual. Setelah memaksakan diri menelan makan tersebut, saya duduk-duduk di jembatan sambil sesekali mencoba menghubungi tukang ojek Bu Joko karena saya yang ingin menyusulnya tetapi tidak telepon saya tidak diangkat juga sehingga tidak mengetahui lokasi mereka. Setelah itu saya memutuskan untuk mencari Losmen Tropicana yang katanya oke untuk melihat-lihat saja. Berbeda dengan Hotel Victory dan Hotel Pamona Indah, Losmen Tropicana ternyata agak sulit ditemukan bahkan oleh tukang ojek saya, atau mungkin karena dia memang tidak gaul(?), malahan tidak sengaja menemukan penginapan lain yaitu Eu Datu Cottages.
Tentena (15)

This is what i think about 4 hotels in Tentena, Victory Hotel, Tropicana Losmen, Hotel Pamona Indah, and Eu de Cottages, that i’ve seen.

Lets start with Victory Hotel Tentena, located at Jalan Diponegoro No. 18, Tentena 94663. Phone +62 458 21392, +62 85241099876,  +62 81355118099. This young beautiful girl named Nony, the owner’s daughter and hotel receptionist. She’s so nice and helpful to visitors. She graduated from a university in Bandung and worked in Papua for a couple of months before going back to Tentena and helped her parents to manage this hotel.

Tentena (17)

It has good and clean rooms with prices start from Rp125.000 to Rp250.000 for low season, and Rp175.000 to Rp275.000 for high season, include breakfast. I met so many local and international guests here.

Tentena (18)

I ate this delicious yellow rice for breakfast and it was so good.

Tentena (11)

Hotel Pamona Indah Permai Tentena on Jalan Komodor Laut Yos Sudarso, Kasintuwu, Tentena, 94611, phone +62 458 21245. Located in the nearest area to Lake Poso. I found the tidal wave hit the street in front of the hotel but it didn’t affect the hotel building. It looks great in a higher price range than Victory Hotel. My friend said that this hotel was his favorite.

Tentena (3)

Ue datu Cottages at Lorong Ue Datu 92-93, Tentena – Poso, Sulawesi Tengah 94663, phone +62 458 21824,  +62 811 344 1597. Located in a not so strategic area on the hill and a bit far from the lake.

Tentena (26)

The prices starts from Rp200.000, Rp300.000, and higher depend on the season.

Tentena (25)

Once the staff told me that there was a staff room that i could rent in a more affordable price than the standard room which only Rp120.000.

Tentena (24)

This hotel has the largest area and more room preference. Log on to their website for further information.

Tentena (23)

Last but not least, Tropicana Losmen Tentena phone +62 458 21224 or +62 85298931719. Its a bit hard to find this hotel due to its location on the hill that far from lake and market but offers a very good scenery from the top.

Tentena (27)

The prices ranges start from Rp120.000 to Rp250.000, include breakfast. If you want to stay in a room with lake view, you need to book the most expensive ones.

Tentena (28)Segera setelah melihat-lihat hotel ini saya kembali ke Victory Hotel untuk menunggu Bu Joko yang masih entah di mana dan mengambil tas yang saya titipkan ke Mbak Nony dari pagi tadi. Suasana di Hotel Victory Tentena ini sangat kekeluargaan, nyaman, dan membantu para pengunjung. Sekitar pukul 16.30 wita Bu Joko tiba di hotel dan kami segera menuju Terminal Tentena untuk menunggu mobil travel kami ke Palu yang katanya akan siap pada pukul 17.00 wita. 17 jam terlalu singkat untuk dilalui di kota kecil yang ternyata tidak seseram yang saya bayangkan. Penduduk dan kehidupan di kota ini sudah seperti kota kecil lain yang damai dan tidak terlihat sisa-sisa kerusuhan yang sudah lebih dari satu dekade berlangsung. Suatu hari nanti saya akan kembali kota ini untuk menuju Lembah Bada di Taman Nasional Lore Lindu yang belum sempat tercapai.

*Rincian pengeluaran dari Ampana hingga menuju Palu:

Rincian  Biaya
Mobil 800.000 (7 orang)      114.286
Makan 265.000 (7 orang)       37.857
Camilan  50.000
Hotel Victory 175.000 (2 orang) 87.500
Ojek 1 20.000
Ojek 2 200.000
Makan 50.000
Travel ke Palu 150.000
Total 709.643

Galau Menuju Ampana

Pagi akhirnya datang juga setelah semalaman saya galau ke mana saya akan pergi setelah di Ampana nanti. Suasana resor pagi itu terlihat ramai karena sebagian besar wisatawan akan pergi, seperti rombongan Manado yang 3 orang, rombongan Toli-Toli 5 orang, Czech Gang 3 orang, kami 3 orang, Gema, serta beberapa pasangan yang akan pindah ke pulau lain. Ada pasangan bule Belanda yang saya rekomendasikan untuk pindah menginap ke Waleakodi agar lebih dekat dengan Dolong dan bisa mendapatkan KM Cengkih Afo ke Bumbulan pada Sabtu sore. Pasangan Belanda ini sebelumnya bertanya tentang jadwal kapal ke Gorontalo atau Bumbulan kepada manajer resor tetapi ditawari untuk menyewa kapal saja agar cepat sampai karena memang pada bulan Mei ini hanya ada KM Cengkih Afo yang beroperasi. Dengan tarif sewa kapal yang bisa mencapai Rp3.000.000, bule-bule backpacker ini tentu lebih memilih untuk sedikit memperpanjang jadwal mereka di Togean daripada harus mengeluarkan uang sebanyak itu, demikian pun jika itu terjadi pada kami, toh mereka masih akan balik via Manado ke Jakarta semingguan lagi. Ada pasangan bule Belanda lain serta pasangan bule Italia yang sempat saya tunjukkan jadwal kapal terbaru yang saya dapatkan beberapa hari sebelum keberangkatan saya ke Togean yang dikirimi oleh Ales dari Walekodi Resort. Saya benar-benar masih merasa utang budi kepada Ales yang sudah saya repoti bertanya ini-itu sejak akhir bulan April tetapi malah ujung-ujungnya pada saat KM Cengkih Afo mulai berlayar saya malah pindah ke resor lain karena bujukan orang. Saya merasa blank saat itu ketika saya yang sudah menyiapkan banyak data tentang Togean bisa terbujuk untuk pindah resor. Mungkin saya lelah.

Togean (56)

Geng TKI yang sudah siap cabut dari resor setelah sarapan. Seperti yang terlihat, Bunda sudah siap cabut duluan dengan mengenakan pakain renang yang lebih paripurna dibanding kemarin saat kami island hopping. Padahal Bunda akan mengunjungi perkampungan Suku Bajo dan danau ubur-ubur lagi , tetapi dengan ditemani orang yang berbeda. #uhuk

Togean (57)

Kami, Czech Gang, dan rombongan Toli-Toli agak was-was dengan pihak resor yang tidak juga menyediakan kapal untuk mengantarkan kami ke Wakai karena menunggu manajer resor yang masih menjemput tamu baru, padahal  resor mempunyai banyak kapal lho. Bukannya berprasangka buruk, tetapi manajer resor ini sepertinya agak marah kepada saya yang beberapa kali memberikan informasi kepada bule-bule tentang jadwal kapal, pesawat, travel, serta penginapan-penginapan di Togean. Dengan mengikuti saran saya, para bule bisa menghemat beberapa ratus ribu hingga jutaan rupiah untuk biaya sewa mobil atau pun kapal daripada menyewa kapal resor atau rental mobil dari travel yang bekerja sama dengan resor. Bunda sempat mendengar manajer resor marah-marah karena banyak tamu yang akan pergi pada Kamis pagi dan sempat mengatakan kepada karyawan resor semacam “Itu rombongan tante-tante (julukan (((((TANTE))))) merujuk ke saya, red) itu jadi balik Kamis besok? Kenapa tidak Sabtu saja?”. Saya memang dari awal berencana untuk ke luar Togean pada hari Sabtu agar bisa gegoleran lebih lama di sini, tetapi karena banyak godaan lain serta perilaku manajer hotel yang gengges maka mari kita cabut pada hari Kamis saja.

Untuk menuju Ampana, kami berencana naik KM Kapia Touna yang menurut jadwal akan berangkat dari Wakai menuju Ampana pada pukul 11.00 wita tetapi menurut info yang saya dapatkan akan berangkat pukul 9.30 atau jika penumpang sudah penuh. Akhirnya pada pukul 8.50 wita kami diantarkan oleh pihak resor ke Pelabuhan Wakai dan tanpa didampingi manajer resor. Sekitar pukul 9.15 wita kami pun tiba di Wakai dan melihat KM Kapia Touna sudah penuh sesak penumpang dan sudah siap berangkat dan kami dipersilakan masuk ke kapal tidak melalui dermaga tetapi masuk langsung melalui pintu samping kapal dengan melompat dari kapal resor. Syukurlah kapal mulai bergerak menuju Ampana pada pukul 10.00 wita. Kami harus membayar Rp65.000 per orang untuk rute Wakai-Ampana yang akan ditempuh sekitar 4 jam. Beginilah posisi duduk melantai kami saat itu.

Togean (58)

Bule-bule yang membunuh waktu dengan membaca. Berbeda dengan kebiasaan saya. -,-

Togean (61)

Bu Joko juga sibuk membaca, sambil mendengarkan musik.

Togean (60)

Coba tebak siapa yang harus berjemur di bangku belakang kapal karena tidak mendapat jatah tempat duduk yang ada atapnya.

Togean (67)

Look like an editorial for Vogue Homme International.

Togean (65)

David yang masih harus berjemur.

Togean (62)

Beberapa jam duduk umpel-umpelan membuat saya ingin jalan-jalan di kapal dan ternyata saya mendapati adik bayi lucu ini tidak jauh dari tempat saya duduk. Ibu bayi ini bercerita bahwa ia akan ke Ampana untuk mengambil uang. Sambil menggoda bayi lucu yang sedang makan jeli ini, saya bertanya mengapa Si Mmbak tidak bersama suaminya ke Ampana. Dan tiba-tiba dapatlah curhatan dari si Mbak yang mengatakan bahwa bapak bayi ini baru saja melintas dengan kapal lain ke arah Togean dari Ampana. Si Mbak ternyata sudah berpisah dengan bapak bayi ini saat bayi ini akan lahir karena sang mantan suami tergoda bule Prancis yang mengajak dia untuk bekerja sama membangun resor dan rumah tangga. Banyak pulau di Togean yang memang dikelola oleh pasangan di mana salah satunya adalah bule dan yang satu merupakan penduduk lokal. Mau nggak galau gimana coba kalau habis lihat sang mantan melintas dengan bahagia saat kita masih sendiri dan sedih begini. Tidak lama kemudian datang seorang laki-laki dan bergabung dalam obrolan kami. Lelaki tersebut ternyata adalah kakak Si Mbak. Mas ini juga tahu kalau mantan suami Si Mbak tadi sempat melintas dengan kapal dan pasti adiknya langsung jadi galau makanya dia becandain si adik. Si Mas bercerita kalau dia punya bisnis travel, rental mobil, dan penginapan di dekat Ampana. Dia menawari saya untuk menginap gratis di penginapannya dan megajak jalan-jalan ke Tanjung Api dengan cukup mengganti biaya bahan bakar kapal. Saya sebenarnya sangat ingin ke Tanjung Api dan masuk dalam daftar tujuan saya saat masih membuat itinerary tetapi karena letaknya yang hanya bisa ditempuh dengan kapal sewaan maka saya menghapusnya dari daftar tujuan saya. Kegalauan mau ke mana nanti setelah di Ampana sedikit menghilang saat mendapat tawaran dari Si Mas, di mana kira-kira kami hanya perlu mengganti biaya bahan bakar kapal ke Tanjung Api dan mobil ke Poso sebesar Rp500.000 dibagi dua (saya dan Bu Joko) untuk jalan-jalan bersamanya dan adik serta ponakannya hingga hari Sabtu. Bu Joko ternyata meminta saya untuk memikirkan lagi barangkali akan ada opsi yang lebih hemat dan lebih baik sebelum kami tiba di Ampana.

Michal yang sudah mendapatkan tempat duduk strategis dan bisa tidur pulas.

Togean (63)

Jarak tempuh ke Ampana semakin dekat tetapi saya kami masih belum menentukan tujuan. Saya mendengarkan obrolan Jan dan pasangan bule Prancis yang sedang berencana pergi ke Tentena. Saya jadi teringat kata Ardi, agen travel yang bersama Geng Toli-Toli, yang mengatakan bahwa di dekat Tentena ada Lembah Bada yang merupakan situs bebatuan megalitikum yang sangat unik. Kami tertarik dengan Lembah Bada tersebut, yang baru pertama kali kami dengar dari Ardi. Saya bertanya kepada Czech Gang apakah mereka mau singgah di Tentena dulu sebelum ke Tana Toraja yang masih memerlukan waktu perjalanan belasan jam dari Tentena, dan mereka ternyata setuju. Akhirnya saya, Bu Joko, 3 orang Czech gang, dan pasangan Bule Prancis sepakat untuk menuju Tentena saja dan meminta Ardi mencarikan kami mobil di Pelabuhan Ampana. Ardi mengatakan bahwa kami bisa menggunakan mobil dengan kapasitas 8 orang penumpang, termasuk 1 orang supir, yang telah dia hubungi dengan biaya sewa Rp850.000 yang akan ditempuh kurang lebih dalam waktu 8 jam perjalanan.

Di sepanjang perjalanan dari Wakai ke Ampana akan banyak kita jumpai pulau-pulau koral kecil imut nan cantik seperti ini.

Togean (64)

Sekitar pukul 14.00 kapal mulai mendekati Pelabuhan Ampana dan terlihat banyak agen travel serta penduduk menunggu sejejar arah kedatangan kapal. Pelabuhan Ampana tidak sebesar dan semodern Pelabuhan Gorontalo, tetapi lebih besar dan lebih modern daripada Pelabuhan Wakai. Then i heard someone was yelling “ESTU… ESTU… I’ve been waiting for you and your bule friends” Oh my… I did’nt know that i had a fanatic fan there and did’nt expect this kinda welcome party. Ardi told me that our driver to Tentena was in the car and i had to follow him to find the car so i thought this crazy angry old guy was not our driver. I acted as someone else but that gray haired with bright green coloured jacket guy kept yelling my name “YOU MUST BE ESTU, ESTU… ESTU… YOU MUST BE ESTU… Lina has told me that you are wearing that colorful tshirt and accompanying 3 bules”. Pfffttttt. I could’nt act as someone else then. I put the blame on the one and only LINA, the manager of BM Resort in Togean. How could she gave my name to this crazy guy and made me feel ashamed in the middle of the crowd in a new place for me.

Saya menemui orang tersebut, yang ternyata dalah seorang ibu paruh baya, dan menanyakan apa maksudnya teriak-teriak memanggil nama saya. Dia mengatakan bahwa dirinya dihubungi Lina bahwa akan ada Estu yang memakai kaos warna-warni bersama 3 orang bule yang akan menyewa mobil ke Tana Toraja. Laknat banget ini si LINA pakai adegan sok baik mencarikan kami mobil ke Tana Toraja padahal itu cuma rencana kami pada saat masih galau di Togean. Saya jelaskan kepada Si Ibu itu bahwa itu hanya skenario sekilas yang ditanyakan Czech Gang ke Lina semalam sebelum kami memutuskan benar-benar mau ke mana. Tidak tahu dia kalau kami pada saat di kapal tadi memutuskan akan ke Tentena dulu. Saya benar-benar masih jengkel dengan Si Ibu yang meneriaki “ESTU… ESTU… KAMU PASTI ESTU” tadi dan tidak terima dengan kelakuan Lina. Akhirnya Si Ibu menelepon Lina untuk mendapatkan kepastian tentang calon korbannya ini dan meminta saya untuk berbicara langsung dengan Lina. Dalam obrolan di telepon beberapa detik tersebut, saya marahi Lina yang berani-beraninya berbuat sok baik mencarikan kami mobil dengan mengumpankan kami kepada mamak macan berambut silver ini. Setelah itu, bukannya melepaskan kami, Si Ibu malah tetap memaksa saya harus memakai mobilnya karena sudah dipesan oleh Lina. Dengan sama-sama bernada tinggi, saya menolak permintaan dia untuk memakai jasa sewa mobilnya walau dia bilang dia bisa mengantar kami ke Tentena saja, yang penting pakai mobil yang dia sediakan dan tidak peduli dengan Ardi siapalah itu yang telah kami pesan. LHO!!! Sak enake gundule dhewe ngono. Saya, yang benar-benar menjadi pusat perhatian seluruh penumpang kapal yang baru saja turun karena kelakuan ibu ini, kemudian mencari Ardi untuk bertanya bagaimana ini karena saya dipaksa menggunakan kendaraan yg diobjekkan ibu itu. Ardi mengatakan terserah saya saja kalau membatalkan mobil darinya. Bule-bule juga mnegatakan sudah apa saja lah yang penting sampai Tentena. Akhirnya saya kembali menemui ibu itu dan diminta melapor ke Tourist Information Center yang berwarna biru. Di depan tempat yang ditunjukkan Si Ibu, supir yang dipesan Ardi ternyata menemui saya dan bilang siap mengantar kami dan saya bilang ke dia kalau saya harus menyelesaikan urusan di kantor informasi dulu. Di tempat yang dibilang sebagai pusat informasi ini saya mendapati wanita lain yang sedang duduk bersila menaikkan satu kakinya ke atas kursi sambil merokor dan tidak memperhatikan kehadiran saya. WTH. Bagaimana pariwisata Indonesia mau bagus kalau sumber daya manuasianya tidak sopan dan sak enake udhele gini. Kemudian datanglah Si Ibu beruban yang mulai melepas jaket hijaunya sambil menanyakan kami mau ke mana. Saya bilang kami mau ke Tentena bertujuh, bukan langsung ke Tana Toraja seperti yang dibilang Lina, dan berangkat sekarang juga. Si Ibu dengan mudahnya bilang dia siap menyediakan mobil untuk kami sekarang juga. Saat saya menanyakan biaya sewa mobil ke Tentena, Si Ibu yang duduk di kursi bilang Rp1 juta dan saya bilang enak saja segitu, wong saya bisa mendapatkan mobil dengan harga Rp800.000 dari Ardi (padahal tadi deal-nya Rp850.000), dan ternyata mereka mau dengan tarif Rp800.000 tersebut. Iyalah yang penting tidak kehilangan mangsa kan?? HUH.

Tojo Una-Una (1)Segera saya ke luar kantor dan melihat mobil yang disediakan Si Ibu yang ternyata menggunakan mobil dan supir yang sama dengan yang ditawarkan oleh Ardi. Jadi ceritanya ibu ini mengakuisisi mobil dan supir yang tersedia untuk kepentingannya bisnisnya sesuka hati gitu kali ya. Tetapi saya pikir lumayan lah akhirnya dapat mobil yang lebih murah Rp50.000 dari hasil marah-marah dan tipu-tipuan dengan duo racun berkedok tourist information center ini.

Saya memanggil Bu Joko, Czech Gang, dan pasangan bule Prancis untuk segera masuk ke mobil dan cus ke Tentena. Dan dong, duo racun masih berupaya menjerumuskan agar kami harus makan saja dulu di warung dekat lokasi mereka. Saya kekeuh tidak mau makan di sini dan lebih memilih di warung agak jauh dari pelabuhan walaupun kata mereka bakal terkena penutupan jalan menuju Poso sehingga susah mencari warung yang buka. Akhirnya berangkatlah kami menuju tentena dengan disupiri Pak Mito yang juga jadi korban keganasan duo racun. Maaf ya Pak karena duo racun akhirnya pemasukan Bapak pasti berkurang karena seharusnya kami langsung membayar Bapak Rp850.000 tetapi jadinya hanya Rp800.000 dan itu pun melalui duo racun.

Ini dia Si Ibu “ESTU… KAMU PASTI ESTU”.

Tojo Una-Una (2)

Rincian pengeluaran dari Gorontalo, selama di Togean, hingga sampai di Ampana.

11 Mei 2015
Kapal Cengkih Afo ke Wakai @89.000      267.000
12 Mei 2015
Penginapan 2x3x200.000    1.200.000
Kelapa          30.000
Lobster      200.000
Alat snorkeling      180.000
13 Mei 2015
Kapal      850.000
Air 6×15.000          90.000
Alat snorkeling      150.000
Share cost dari bule    (500.000)
Total    2.467.000
Per orang      822.333
14 Mei 2015
Kapal Kapia Touna ke Ampana          65.000
 Total pengeluaran 887.333