Selamat Datang di Bumi Cengkih, Ternate

 Perjalanan akbar saya tahun ini sudah saya rencanakan dari sekitar awal bulan November 2014 di mana saat itu saya memulai riset tentang daerah mana di Indonesia yang akan kutuju di tahun 2015 dan terpilihlan wilayah Indonesia timur yang akan  saya kunjungi (bukan Tao Batak lagi dan lagi). Saat itu saya tiba-tiba kepikiran beberapa teman saya saat masih SD yang bekerja sebagai kontraktor di sana dan yah saya memutuskan tujuan pertama saya adalah Ternate, sebuah pulau yang terkenal sebagai penghasil rempah-rempah yang diperebutkan saudagar dari berbagai negara beberapa abad yang lalu. Saya juga teringat tentang perjalanan Mbak @DianOnno ke Morotai dan Togean pada tahun 2012 lalu. Jika di tahun 2014 saya mengunjungi Nias yang digambarkan dalam uang 1000 rupiah keluaran tahun 1992 dengan pelompat batunya,


Rp1000 tahun1992

maka di Ternate saya akan bisa melihat Pulau Maitana dan Tidore yang ada di uang 1000 rupiah yang saat ini masih kita pakai.

Ada dua teman yang berminat untuk menemani saya dalam perjalanan kali ini yaitu Cheva dan Mbak Hance. Sebenarnya saya sudah membuka open trip via Kaskus, Coachsurfing, dan Twitter akan tetapi itu baru saya lakukan dalam kurun 1 minggu sebelum perjalanan dan ternyata tidak mendapat tambahan teman perjalanan untuk berbagi. Saya berangkat menggunakan Si Singa pada tanggal 7 Mei 2015 pukul 5.00 wib, sedangkan Cheva dan Mbak Hance sudah berangkat duluan dengan menggunakan Si Plat Merah pada pada pukul 2 dini hari.

Ternate (12)Pemandangan sebelum singgah di Manado.

Ternate (30)

Pada saat saya transit di Manado, Cheva dan Mbak Hance sudah berkeliling sebagian Kota Ternate.
Ternate (29)

Sekitar pukul 11.30 WIT akhirnya saya tiba di Bandara Sultan Babullah, Ternate. Sesuai saran Cheva dan Mbak Hance, maka saya berjalan sekitar 1 km ke arah pintu masuk bandara untuk mendapatkan angkot menuju kota yang ngetem di sana. Tarif angkot dari bandara ke kota hanya Rp5.000 sedangkan tarif ojek, yang tersedia dari dekat parkiran bandara hingga sepanjang jalan, bisa mencapai Rp25.000-40.000 tergantung kemampuan menawar kita. Setelah berjalan hingga depan pintu masuk bandara, bukannya naik angkot, saya malah memilih naik ojek dengan tarif Rp10.000 agar lebih cepat sampai di meeting point kami di sebuah warung. Dapat ojek lebih murah juga kan akhirnya. Jika akan naik angkot, angkot di Ternate itu tidak ada jurusannya jadi kita harus bertanya apakah sang supir angkot mau melewati rute kita atau kita harus mencari angkot lain. Warung es kacang di Jalan Merdeka ini lah yang menjadi tempat kami bertemu dan makan nasi kuning khas Ternate dan minum es kacang merah yang nikmat dan nyessss, seger. Harga seporsi nasi kuning dengan lauk ikan adalah Rp15.000, sedangkan semangkuk es kacang merah dihargai Rp12.000.

Ternate (28)

Dari warung es kacang, kami berjalan menyusuri Jalan Merdeka untuk mencari penginapan di sekitar Masjid Muhajirin yang menurut Ibu penjual es kacang, di dekat masjid situ banyak penginapan murah. Setelah berjalan cukup jauh dengan membawa tas kerir yang cukup berat, kami tiba di dekat Masjid Muhajirin dan mendapati beberapa hotel. Saat kita memasuki Jalan Sultan Nuku, kita akan melihat Ternate City Hotel dan Hotel New Archie.

Ternate (23)

Di seberang hotel New Archie, ada Hotel Archie. Kedua hotel ini berada dalam satu manajemen tetapi tarif Hotel Archie lebih murah dibanding Hotel New Archie.

Ternate (22)Di Hotel Archie tersedia kamar ekonomi dengan kamar mandi di luar dengan tarif Rp150.000 untuk 2 orang. kami sempat mengintip kamar deluxe dengan single size bed yang tarifnya Rp330.000. Nyaman sih tetapi cukup mahal.

Ternate (27)

Sekitar 10 meter dari Hotel Archie, kita akan menemukan Hotel Nusantara. Tarif hotel di Jalan Sultan Nuku ini semuanya berkisar sekitar Rp300.000,00.

Ternate (24)
Pada saat berada di sekitar Hotel Nusantara dan menimbang-nimbang mau memilih hotel yang mana, tiba-tiba ada seorang Bapak yang melintas dan menawari kami untuk melihat penginapan bagus yang cukup murah di dekat kontrakan ybs. We decided to follow him then he showed us SaQavia Homestay.  From Archie Hotel, we turned right to a small street just before Nusantara Hotel and go ahead just like 150 meters.

Ternate (25)

SaQavia is located at Kampung Kodok street, Falajawa I, Ternate 0921-3111147. Its rate is Rp150.000 per night for two person. Too bad, we couldnt get any room that time. This is maybe one of the most recommended homestay in Ternate with the best location in the city.

Ternate (26)

Then we went ahead and found Penginapan Intan in Salim Fabanyo street. We decided to stay there for 2 nights. Its rate is Rp165.000 per night for 2 person with breakfast and hot shower. Kekurangan penginapan ini adalah kamar tamu ada di lantai 2 rumah pemilik penginapan sehingga jika ingin ke luar atau masuk harus melalui ruang tamu pemilik penginapan yang juga merupakan tempat persewaan alat pesta dan salon kecantikan. Karena siang itu sedang hujan dan kami juga sangat lelah karena belum tidur semalaman, maka kami boboci dulu hingga menjelang senja sebelum mengunjungi pelabuhan.

Di deratan Masjid Muhajirin di depan Pantai Falajawa sebenarnya banyak penginapan murah tetapi beberapa terlihat agak kumuh dengan tarif sekitar Rp100.000,00, seperti Penginapan Anggrek di Jalan Pahlawan Revolusi, masuk gang sedikit di deretan Masjid Muhajirin, dengan nomor telepon 0921-3122821.

Pantai Falajawa di pinggir jalan protokol Kota Ternate yang bersih dan indah.

Ternate (18)

Di Ternate ini penuh dengan orang Jawa Timur dan Makassar.

Ternate (21)

Ada pasar makanan dan ikan yang siap santap di pojokan seberang Pelabuhan Achmad Yani, Ternate. Kue yang dijual saat itu adalah kue cucur serta lemang ketan hitam dan ketan putih, tanpa isi pisang atau lainnya, padahal sudah lama ingin lemang isi pisang. Juga ada ketupat dan sagu.

Ternate (20)

Lalu kami pun mengunjungi Pelabuhan yang sebenarnya sore itu sudah disterilisasi karena pada hari Jumat tanggal 8 Mei 2015 akan dikunjungi presiden Jokowi yang akan menyeberang ke Sofifi. Setelah sedikit ngedumel kecewa gagal masuk pelabuhan padahal sudah jauh-jauh dari Jakarta di sekitar musala dekat pintu gerbang pelabuhan, tak disangka-sangka bapak-bapak aparat yang menjaga pintu pelabuhan memanggil kami dan mempersilakan kami untuk masuk selama maksimal 1 jam untuk berfoto-foto. Terima kasih, Pak. *cium satu-satu*

Ternate (1)

Suasana ruang tunggu di pelabuhan yang dipenuhi calon penumpang kapal entah ke mana.

Ternate (17)

Tulisan Pantai Falajawa di depan Masjid Muhajirin, Ternate.
Ternate (16)

Welcoming Mr. President with no Mr. President’s face in the billboard. This kinda creepy things we have in Indonesia’s tourism billbooards which usually show 90% Governor-and/0r-mayor-and-friends’s-face and 10% tourism destination.

Ternate (15)

And we had such a yummy chicken satay, raw vegetable, fried tofu, fried tempeh, and fried chicken for dinner in Maryam-1, an East Java dishes favor food stall in Sultan M. Djabir Syah Street, for Rp90.000.

Ternate (14)

Freedom in Keraton Cliff

wpid-2015-04-21-19-30-51_deco.jpg

Cover Story: Freedom in Keraton Cliff
Photographer: Lulel, E.A. Paminto
Stylist: E.A. Paminto
Models: E.A. Paminto, Nananana, Lulel, Ridha
Make-Up: Natural
Hair: Natural
Location: Taman Hutan Rakyat (Tahura) Juanda & Tebing Keraton, Bandung
Dress: E.A. Paminto, private collection

wpid-tahura-2.jpg.jpeg

Tebing (in English: cliff) Keraton is the new hype and a must-visit place in Bandung city, the capital of West Java. To get this place, go to Tahura in Bukit Dago Pakar from Terminal Dago.

wpid-tahura.jpg

Go ahead from Tahura then turn right in the first  T-junction after Tahura and go all the way up until you reach Warung Bandrek. Then take the left road until you reach the village and take the left road again until it ends and you’ll reach the gate of Keraton Cliff.

2015-04-24-21-34-28_deco

We took an ojek (motorcycle taxi) ride to Keraton Cliff from Tahura as we parked our car there. The ojek ride costs Rp75.000 per person for a round-trip. Normally, we should pay Rp100.000 (some people said it only costs Rp50.000 last year, but now it increases twice) but we negotiated the price for about 10 minutes,  left the drivers to have a breakfast, then got the deal with the drivers. I was so happy for the Rp75.000 deal. I couldnt imagine that we (i mean the girls, because i just can’t drive the car) had to drive on the bumpy, narrow, and steep road. Ojek ride from Warung Bandrek to Keraton Cliff costs about Rp40.000 for a round-trip.

wpid-2015-04-21-17-19-09_deco.jpg

A misty morning.

2015-04-24-21-13-17_deco

She’s free… I mean she is still available… #dikeplak

2015-04-24-21-14-04_deco

Always pack light when traveling. Bring colourful pashmina, scarf, and hijab, in order to accentuate your fabulous trip and increase your mobility.

2015-04-24-21-12-42_deco

Lulel with cheerful style.

wpid-2015-04-21-17-20-04_deco.jpg

Nananana with boyish style.

wpid-tebing_keraton-2.jpg.jpeg

Ridha with high class style.

wpid-tebing_keraton-1.jpg.jpeg

Myself with dramatic style.

wpid-2015-04-21-17-57-29_deco.jpg

For sure i wore my pashmina better like no one wears Victoria Beckham collection better than her.

wpid-2015-04-21-17-58-47_deco.jpg

Keraton Cliff… Superb view with less effort… 😀

2015-04-24-21-14-33_deco

Anak Gunung Mantai di Belitung: Hari III

Hari terakhir kami di Belitung dimulai dengan kembali berkunjung ke Kopi Kong Djie. Kopi di sini benar-benar nikmat…. arghhh.

Belitung- (141)

Sekitar pukul 07.00 wib kami berangkat ke Pantai Tanjung Tinggi lagi, demi mengejar foto di bebatuan yang gagal kami lakukan di hari pertama. Sebenarnya kami berencana ke Belitung bagian selatan tapi karena jarak tempuh yang lumayan jauh dan takut tidak bisa sampai di bandara tepat waktu, maka kami urungkan niat ke sana.

Belitung- (140)

Whats that?? Its not dugong…. #dicipokDenpe

Belitung- (118)

Setiap sudut di pantai ini benar-benar memanjakan mata kita.

Belitung- (117)

Mahakarya Sang Maha Kuasa.

Belitung- (119)

Pose bergalau di keabadian.

Belitung- (136)

Bring me back to this heaven.

Belitung- (137)

Meungkin butuh waktu satu hingga dua pekan agar puas berkelana di pulau ini.

Belitung- (132)

Strike a pose.

Belitung- (130)

One of the most beautiful beach i’ve ever visited.

Belitung- (126)

Floating….

Belitung- (128)

Mbak Nisa yang karena terlalu hebohnya jadi lupa nyemplung air bareng hape di saku celananya. -,-

Belitung- (123)

Ada yang sedang berlatih bela diri juga.

Belitung- (121)

Di-candid Denpe lagi bergalau.

Belitung- (45)

Boho-chic beach girl.

Belitung- (47)

Keep smile….

Belitung- (48)

:O

Belitung- (53)

Kuat bingits ya si GGS….

Belitung- (133)

Sekitar pukul 10.30 wib kami meninggalkan Pantai tanjung Tinggi untuk menuju Pantai Tanjung Binga sekaligus makan siang. Dan inilah hasilnya. Pose lompatku dengan segenap tenaga yang diakhiri dengan jatuh gedebug di pasir.

Belitung- (14)

Sekitar pukul 12.00 wib , setelah (tidak begitu) kenyang (dan agak buru-buru) makan siang di Resto Bukit Berahu, kami segera kembali ke Hotel Surya untuk mandi, beresin bawaan, check out. Btw, ini poseku dikejar kain. Melempar kain sendiri, kabur-kabur sendiri.

Belitung- (175)

Kami meninggalkan hotel sekitar pukul 12.45 wib pada saat hujan lebat siap melepas kami kembali ke ibu kota, sama seperti hujan lebat yang menyambut kami saat baru mendarat, dan tiba di bandara sekitar pukul 13.15 wib.

Belitung- (16)

Akhirnya kami sudah di ruang tunggu bandara dan siap kembali ke dunia nyata. Hiks… hiks…

Belitung- (15)

Rekapitulasi pengeluaran dan urutan perjalanan kami selama di Belitung, di luar tiket pesawat, adalah sebagai berikut:

Acara Biaya
Hari I: Jumat, 3 April 2015
Snack dan obat-obatan  200.000
Sarapan di Mie Atep 139.000
Menuju Tanjung Tinggi, snack dan air 110.000
Pantai Tanjung Tinggi
Makan siang di Pantai Tanjung Kelayang 352.000
Menuju Pulau Lengkuas 720.000
Pulau Lengkuas 35.000
Pulau Kepayang 75.000
Pulau Pasir/Pulau Gosong
Makan malam di RM Belitong Timpo Duluk 250.000
Menginap di Hotel Surya, Tanjung Pandan
Hari II: Sabtu, 3 April 2015
Warung Kopi Kong Djie 100.000
Balik ke hotel, siap-siap ke Belitung Timur
Menuju Belitung Timur
Vihara Kampit
Open Pit, penambangan timah di Kelapa Kampit 50.000
Danau Mempayak 35.000
Klenteng Dewi Kwan Im
Pantai Burung Mandi
Makan siang di RM Fega 525.000
Bukit Samak A1
Pantai Nyiur Melambai
Museum Kata Andrea Hirata 20.000
Rumah Om Ahok
SD Laskar Pelangi 15.000
Menuju Tanjung Pandan, snack 35.000
Makan malam di Warung Blimbing Mas Arif 152.000
Mencari oleh-oleh di BB 20.00
Tugu Batu Satam di Boulevard Simpang Lima Tanjung Pandan (BSLT)
Ngopi di Kopi Gang 60 42.000
Menginap di Hotel Surya, Tanjung Pandan
Hari III: Minggu, 3 April 2015
Warung Kopi Kong Djie 90.000
Pantai Tanjung Tinggi 50.000
Pantai Tanjung Binga 10.000
Resto Bukit Berahu 386.000
Kembali ke Hotel 1.300.000
Menuju Bandara
Check in, bayar mobil + tip 1.550.000
Total 6.241.000
Per orang 891.571

Dag Dig Dug Akan (Singgah) ke Medan (Lanjut ke Nias)

Perjalanan kali ini sebenarnya sudah lama saya rencanakan, dari pertengahan Oktober 2013 saat mengetahui akan ada promo salah satu maskapai penerbangan, sebut saja Citilink. Malam itu saya berburu tiket ke Medan dengan perkiraan waktu sekitar Maret (seperti perjalanan (galau) saya tahun lalu di awal Maret L ) s.d. Mei 2014 di mana di bulan-bulan itu ada beberapa hari libur nasional sehingga saat yang tepat untuk liburan dengan mengambil sedikit cuti. Dapatlah saya tiket Jakarta-Medan PP untuk tanggal 28 April 2014 ke Medan dan 3 Mei 2014 balik ke Jakarta. Sampailah pada awal Desember dan saya sama sekali belum menyusun itinerary sama sekali untuk perjalanan yang saya perkirakan ke Medan dan sekitar Danau Toba itu lagi dan tiba-tiba ingat perkataan seorang teman di Medan, Mbak Tesa, yang dulu saat saya ke Medan yang bilang ingin jalan-jalan ke Pulau Nias.

Langsung googling tentang Nias dapatlah info sekelebatan tentang Sorake, Teluk Dalam yang pantainya indah, ombaknya tinggi sehingga banyak bule surfing, serta ada lompat batu yang terkenal dan jadi gambar di lembaran uang seribu rupiah di tahun 90-an dulu. Saya memutuskan harus ke Nias di perjalanan kali ini. Kalau daratan Sumatra kan masih mudah dijangkau jika ada promo-promo selanjutnya, tapi jika Nias mungkin di saat itu saya sudah tidak semenggebu-gebu saat ini mengunjunginya dan tantangannya juga beda -,-. Dengan tujuan ke Nias maka saya rasa waktu dari Senin s.d. Sabtu kurang untuk menjelajah sehingga saya intip-intip AirAsia dan Alhamdulillah mendapat tiket yang cukup murah ke Medan untuk tanggal 26 April 2014. Saya juga memutuskan untuk langsung booking tiket Wings Air yang mana jadwalnya cukup banyak dan setiap hari dari Medan ke Gunung Sitoli di Pulau Nias untuk penerbangan Minggu pagi 27 April 2014. Ya, saya hanya pesan tiket berangkat ke Nias, tidak sekalian Nias ke Medan karena saya ingin merasakan perjalanan laut serta darat dari Nias ke Medan yang katanya perlu 24 jam. @_@

*http://uangindo.com/wp-content/uploads/2013/02/1992_03B.jpg

Teng tong teng… sudah akhir Maret, dan saya masih belum menyusun itinerary bahkan belum googling lagi soal Nias setelah googling singkat sebelum booking tiket saat itu. Tiba-tiba ada pengumuman untuk seleksi kuliah lagi, dan saya juga belum siap, belum belajar, belum persiapan sama sekali untuk ujian ini. Karena ini demi masa depan, maka saya sedikit mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian yang akan diadakan pada 22-23 April, beberapa hari sebelum saya ngabur ke Nias itu. Dan akhirnya ujian pada 22 dan 23 April telah selesai, saatnya ngebut gawean kantor yang terbengkalai selama 2 hari dalam 2 hari biar liburan 7 hari minim “gangguan” kerjaan. Jadi apa kabar itinerary ke Nias??? Terlupakan. Toh juga bakal liburan SENDIRI jadi ya berdoa saja semoga nanti bisa kembali dari Nias dengan selamat dan terpuaskan dengan keindahan alamnya. Ngomong-ngomong, saya sudah mengajukan cuti 4 hari pada pertengahan Maret dengan mencantumkan alamat cuti saya di Indonesia yang kemudian diminta mengganti dengan nama kota di mana saya berada oleh atasan saya dan saya tulis Jakarta -,- Saya tidak ingin teman-teman, atasan, bahkan keluarga saya tahu bahwa saya akan jalan-jalan ke Nias seorang diri. Saya tidak mau mereka khawatir. #drama

Jumat malam menjelang Isya’, 25 April 2014, saya masih kejar tayang kerjaan, dan Bu Bos sebelum pulang dan mau pamitan kepada Pak-Pak Bos yang kubikelnya di depanku tiba-tiba bertanya.

Bu Bos: Mau liburan ke mana Mas memang??

Me: Ke suatu pulau, Bu.

Pak Bos1: Paling ke Medan lagi….

Me: -_____-“

Bu Bos: Emang sama siapa Mas jalan-jalannya?

Me: Sendiri, Bu… Agak takut sih apalagi ini lumayan terpencil daerahnya… (mulai deg deg ser karena minim informasi banget). Saya mau ke Nias, Bu…. (akhirnya ngaku)

*Bu Bos, Pak Bos1 dan Pak Bos2 agak kaget sambil tertawa dengan kelakuan anak buahnya 1 ini*

Pak Bos2: Kamu yakin sendirian?? Di sana beda dengan Batak karakter masyarakatnya. (Bos ini Batak jadi sedikit banyak tahu tentang cerita Nias)

Me: hihihi…

Bu Bos: Ya wes, hati-hati saja di Nias… jangan lupa update status biar kalau ada apa-apa terlacak keberadaannya…

Me: Iya Ibu… (sambil mikir iya kalau di sana ada sinyal telepon dan koneksi data)

*Bu Bos pamitan sambil tersenyum-senyum*

Pak Bos1: memang mau nyari apa Mas di sana? *sambil geleng-geleng*

Me: *senyum bingung juga* *mau jawab cari jodoh, bukan karena jodoh yang kuinginkan tidak jauh di sana; cari ketenangan? Bukan juga* Cari pengalaman, Pak. 😀

*Pak Bos1 dan Pak Bos2 tertawa bersama dan makin geleng-geleng*

Malam itu saya sampai kos sekitar pukul 23.00 WIB dan belum ada itinerary sama sekali. Mulailah googling dan berburu informasi sebanyak-banyaknya tentang Nias. Copy-paste blog sana sini hingga hamper jam 1 dan sudah bangun sesuai alarm alami tubuh saya adalah sekitar jam 4.15 pagi. Setelah subuh lanjut googling tentang Nias lagi dan jam 7 lebih baru mulai packing. Dengan tema pantai dan danau yang saya pikir akan mendominasi perjalan kali ini, maka saya memutuskan untuk tidak membawa celana panjang dan jeans melainkan pakaian yang beachy dan summery saja. Satu-persatu saya masukkan ke tas carrier ukuran 48 liter saya yang tidak terisi penuh biar bisa diisi kain-kain atau ulos yang biasanya saya beli kalau sedang jalan-jalan. Setelah packing, mulai membaca file hasil googling mau ke Nias bagian mana, tempat apa, di sana naik apa dan makin bingung @_@

Pukul 09.30 sebelum mandi dan mengecek printilan, baru sadar kalau salah cetak tiket. Bukannya mencetak tiket AirAsia yng tujuan Medan sore ini, saya malah cetak tiket AirAsia dari Surabaya ke Jakarta yang saya gunakan mudik Januari lalu -____-“ Walhasil, setalah mandi langsung ke rental komputer dulu untuk mencetak tiket sebelum membeli sarapan. Tiket Citilink yang berangkatnya batal saya gunakan tetapi pulangnya tetap (akan) saya pakai sudah saya cetak dari jauh-jauh hari.

Pukul 11.00, setelah siap semua perbekalan selama seminggu ke dapan, saya berangkat ke travel yang akna mengantar saya ke bandara Soekarno Hatta pada pukul 11.30. Saya sampai di terminal 3 pada pukul 13.00 WIB. Lumayan lah harus menunggu hingga pukul 14.50 hingga pesawat AirAsia ke Medan akan terbang. Di saat menunggu inilah saya baru mengabari keluarga di Jawa Timur bahwa saya akan jalan-jalan ke Medan dan cuti seminggu ke depan dan itu pun cuma via SMS. I didn’t even tell them that I would go to Nias. Pffttttt. Bukannya apa ya, tetapi agar mereka tidak khawatir akan perjalanan sendiriku ini. Cukup aku yang khawatir akan nasibku di sana. Setelah SMS mengabari bahwa saya akan ke Medan. Setelah itu, saya mengirimi adik saya SMS yang berisi nama dan nomor polis asuransi yang saya ikuti dan saat dia bertanya tentang maksud SMS saya tadi. Saya balas SMS tersebut saat saya sampai di Medan bahwa saya salah kirim SMS. Pffftttt. Perjalanan ke Nias ini membuatku ketar-ketir, pakai banget. Tapi waktu itu sudahlah bismillah saja semoga semua lancer. Amiiiiiiinnn…

*terbang ke Medan, meninggalkan (sejenak kegalauan dan kegundahan di) Jakarta*

Hotel Pradha Syariah Palembang

Hotel Pradha Syariah, Palembang, hotel yang lumayan terjangkau, lumayan nyaman, dapat sarapan nasi goreng prasmanan dengan letak yang strategis di sekitar Kambang Iwak. Kami memilih room dengan rate paling murah yakni sekitar Rp 320.000 per malam. Di sekiatnya banyak tempat makan dan nongkrong dari KFC, warung Padang, surabi Bandung, ada ATM juga, depannya ada Kambang Iwak. Pokoknya lumayan lah.

Bukit Siguntang

@ Bukit Seguntang atau Bukit Siguntang

Sebuah bukit kecil setinggi 29—30 meter dari permukaan laut yang terletak sekitar 3 kilometer dari tepian utara Sungai Musi dan masuk dalam wilayah kota Palembang, Sumatera Selatan. Secara administratif situs ini termasuk kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I, Palembang. Bukit ini berjarak sekitar 4 kilometer di sebelah barat daya pusat kota Palembang. (Wikipedia)

Drama di Travel Menuju Resepsi Niong

Banyak jalan menuju Batak (walaupun saya belum pernah berkunjung ke Sumatera Utara untuk mencari Batak langsung di asalnya tapi mungkin ini bisa menjadi perumpamaan yang paling sesuai), begitulah adanya ketika aku dihadapkan beberapa pilihan menuju ke acara pernikahan nenek Niong di Purbalingga. Karena sudah mengetahui tanggal H pernikahan nenek agak lama maka bisa menimbang-nimbang moda transportasi yang akan kupakai menuju kesana. Berikut beberapa pilihan tersebut:

1. Keret api. Banyak kereta api yang melintasi stasiun Purwokerto yang mana merupakan stasiun paling dekat dari Purbalingga. Naik kereta api memerlukan waktu tempuh perjalanan yang tidak terlalu lama, sekitar 6 jam dari Jakarta dengan tarif bervariasi dari 35.000 yang ekonomi sampai ratusan ribu yang eksekutif. Jam keberangkatan juga bervariasi setelah maghrib sampai jam 21.00.

2. Bus. Moda transportasi ini cukup terjangkau dari Rp.40.000 sd 70.000an tetapi berangkat dari Jakarta sebelum jam 5 sore sehingga harus mengorbankan pulang cepat sebelum waktunya dan memotong tunjangan. 🙁

3. Travel. Naik travel sepertinya enak, tinggal nunggu dijemput, menikmati perjalanan dan sampai deh ke tujuan cus tanpa ganti-ganti kendaraan lagi. Ini yang direkomendasikan oleh nenek. Dijemput biasanya sekitar habis maghrib ddan sampai di Purbalingga subuh atau jam 6an pagi. Harganya juga lumayan terjangkau yakni Rp 120.000

4. Pesawat. Wohohoho yamasak harus naik pesawat ke Jogja dulu lalu lanjut bus ke Purwokerto atau Purbalingga? Sudah pesawatnya mahal masih pakai ganti-ganti kendaraan dan bisa lebih lama lagi di jalan.

5. Nebeng. Omai… masak mau nebeng bus rombongan teman-teman se-ruangan kakek??? Kenal aja nggak… bisa-bisa diusir yes…

Oke yes, dari empat pilihan tersebut rombongan mak-mak yang juga akan hadir ke Purbalingga memilih naik kereta karena yang paling nyaman dan cepat menurut mereka. Aku yang masih bingung naik apa kesana belum juga memutuskan mau ikut rombongan mak-mak atau bagaimana. Nenek mendukung dan sangat menganjurkanku naik travel apalagi agen travelnya adalah tetangganya sehingga lebih tenang lah gak bakal kesasar. Ku putuskan naik travel sesuai instruksi nenek itupun H-4 setelah bertapa brata nan cantik. Setelah memutuskan untuk naik travel itu, si nenek yang mau ngurusin pemesanan travel tiba-tiba tudak bisa dihubungi seharian karena HP nya ketinggalan di rumah dan lupa tidak dibawa ke kantor, makin deg-degan dong takut kehabisan travel. Sudah larut malam akhirnya nenek membalas sms ku dan memberitahu nomer telepon travel tapi karena sudah larut malam jadi belum ku hubunga. Keesokan harinya aku menelepon travel tersebut, mas yang menerima teleponku sudah tahu dong kalau si Diva Purbalingga bakal mengakhiri masa gadisnya jadi aku disambut baik untuk naik travel tersebut demi menghadiri acara hebring disana.

Sesuai rencana, hari jumat aku bakal dijemput setelah maghrib(???) di kantor oleh travel. Jumat menjelang maghrib aku di-sms travelnya kalau mereka(driver dan kenek) masih di Grogol untuk menjemput penumpang lain dan berhubung macet banget karena biasalah jumat sore ditambah habis ada demo perangkat desa di depan gedung DPR/MPR jadinya makin machicha deh jadi mungkin aku jam 7-an dijemputnya. Jam 7 kurang aku sms dan telepon mas travel, katanya sudah di Slipi menuju Gatot Subroto dan aku sudah siap dong dijemput. Karena satu dan lain hal mereka tersesat malah mau jemput aku di dekat Hotel Atlet Senayan, nah lho lah wong aku di Gatsu kok malah jemput di Senayan. Karena susah juga mau muternya jadi mereka memutuskan untuk menjemput penumpang lain yg tadi belum siap dijemput pas mereka di Grogol. Meluncurlah mereka ke Sunter menjemput penumpang tersebut. Walau aku tidak tahu Sunter dimana tapi sepertinya itu jauh di utara mana gitu dan harus muter lagi dong. Aku biarin sajalah toh aku tinggal nunggu saja di kantor.

Jam 20.30an aku belum juga dijemput dan telepon mereka dong agar aku dijemput saja di depan KC biar gak usah muter segala ke kantor apalagi masih macet banget terlihat dari kantor. Saat itu aku tanya mereka dan katanya masih di Sunter kejebak macet. Aku pikir beberapa saat lagi juga bakal sampai dan berrhubung perutku sudah lapar banget jadi aku cabut dari kantor dan makan malam saja dulu di Hokben KC sambil nunggu travel. Tik tok tik tok. Sudah selesai makan, sudah duduk-duduk centil sendirian sampai 1 jam lebih sampai hokben tutup jam 22.00 an tapi belum ada tanda-tanda kedatangan travel dan katanya mereka masih terjebak macet di Sunter. Hiiiiikkkkkksss. Mulai panik dan ngomel-ngomel sendiri dong. Konon ada Porsche nabrak Avanza atau sebaliknya gitu lah yang membuat tol macet parah. Yaksip.

Hokben sudah tutup dan duduk-duduklah aku SENDIRI di depan Hokben dalam remang-remang pegawai Hokben pulang sampai sepi pegawainya pulang dan gerainya benar-benar ditutup. Pukul 22.30 belum ada kabar juga dan agak serem juga sik duduk gajebo di depan Hokben situ jadi aku memutuskan untuk pindah duduk di pinggir jalan dekat pintu masuk parkiran motor. Sambil masih memakai batik hitam putih motif kupu-kupu yang sudah seharian kupakai dan belum sempat mandi di kantor jadilah aku duduk-duduk sendiri di pinggir jalan Gatsu yang tiba-tiba ramai lagi entahlah selain karena truk dan kendaraan besar sudah bisa lewat tol dalkot setelah jam 22.00 atau memang karena macet di ujung mana yang terurai, jadilah macet pindah ke sekitar Gatsu (Batik yang ku pakai ini adalah batik yang kupakai pas mudik dan terpaksa naik travel tengah malam dari Surabaya ke Malang bulan lalu).

Sudah garing banget dong jam 23.15an dan travel belum jemput mana kayak mangkal gini duduk di pinggir jalan sendirian. Setelah telepon-telepon mengabarkan posisiku dan posisi travel akhirnya jam 23.30an aku dijemput dari pinggir jalan itu. Masuk travel aku langsung disuguhi pemandangan yang uwow banget. Pemandangan dimana hanya ada 1 supir, 1 kenek, dan 1 penumpang cowok. Omaiiiii… yakin ini travel mau jalan ke Purbalingga kalau cuma 2 penumpang gini?? Masuklah travel ke tol dalam kota yang masih padat merayap tapi sutralah aku mau tidur saja karena capek banget nunggu dan berharap pas aku bangun sudah di Purbalingga di rumah nenek. Jam 01.30an aku terbangun dan menyadari bahwa travelku ada di suatu arena entahlah yang sepertinya sang supir sedang mencari penumpang di daerah Tambun, Bekasi coret jauh ke antah berantah. Aku lanjut tidur dam jam 1an dong baru berhasil menemukan seorang ibu yang membawa 1 anak balita dan 1 bayi di pelosok Tambun. Makin gemes aja dengan travel ini tapi mau gimana lagi.

Lanjut (pura-pura) tidur lagi. Jam 2.30an travel entahlah berada di daerah Cibitung atau mana yang aku semakin tak tahu. Muter-muterlah mencari penumpang 1 lagi yang ingin dijemput yang mana jam 3an baru berhasil ditemukan lokasinya dan kita lnagsung cus menuju jalan besar yang aku harap itu adalah jalan tol menuju Cikampek. Yah akhirnya masuklah kita ke tol sekitar jam 3.20an dan aku MAKIN khawatir apalagi dapat sms dari rombongan emak-emak yang sudah sampai di Purwokerto jam 3 kurang disaat AKU MASIH DI BEKASI. huwaaaaaaaaa

Memasuki Karawang, sang mempelai wanita tiba-tiba telepon aku.

Nenek: “Cu, sudah dimana?”

Aku: “Baru masuk Cikampek nek… hikss”

Nenek: “Apaaa?? masih di Cikampek? telat dong ke acaraku!!!”

Aku: “Udahlah nek tenang aja, sana make up an gih biar cucok, aku pokoke nyampai sana lah walau telat ya…” (sambil gemes dan jengkel banget karena masik di Cikampek dan bakal gak bisa menyaksikan akadnya nenek)

Dengan travel yang sangat mengebut dan kondisi hatiku yang jengkel banget akhirnya aku tidur lagi. Jam 5an sudah di Indramayu dan jam 6 memasuki Cirebon. Tiba-tiba agak macet dan cenderung memang macet dan aku langsung ingat kalau ini adalah hari sabtu dimana adalah hari pasaran di samping hari selasa di Pasar Tegal Gubug (pusat grosir pakaian di Cirebon). Erghhhh makin gemes dong sudah jam segini tapi malah kejebak macet lagi. Supir travelnya kemudian mengendarai mobil dengan kecepatan cukup tinggi di marka jalan yang berkontur njeglong-njeglong dan aku sudah semakin pasrah aja deh. Setelah melewati macet akhirnya tidak begitu lama kamipun memasuki jalan tol Palimanan-Kanci-Pejagan. Cus pak ayo cus pak.

Jam 7an sudah sampai di Pejagan dan travelnya bukan lewat jalur utama tapi malah masuk ke arah jalanan di tengah sawah-sawah yang agak rusak dan bergelombang gitu dan tetap dengan ngebutnya dan ujug-ujug sampai saja di jalur utama Bumiayu. Jam 8an di sekitar Ajibarang aku semakin geregetan karena tahu gak bakal kekejar akadnya nenek dan dapat sms dari mak Dada kalau akad nikah akan segera dimulai dan genk mak-mak baru saja ketemu nenek L tapi tetap dong dengan kecepatan yang waz wuz agak seremonial.

Jam 9.30an travel sudah memasuki Purwokerto dan aku sudah bisa sedikit bernafas lega karena ya sudahlah gitu ya yang penting sampai dan bisa mengikuti resepsi nenek. Aku mulai sms mak Dada, mbak Lela dan adiknya nenek si Dimas. Gak ada yng balas sms dong dank u telepon juga gak bisa. For your information sik kalau aku dan sebagian besar mak-mak pakai nomor telkomsel yang mana di rumah nenek yang katanya di remote area itu sinyal yang paling bagus adalah XL. Sebenarnya tujuan utamaku menghubungi mereka agar ada yang menyambutku dan membawaku ke tempat dimana aku bisa cus mandi dang anti pakaian karena belum mandi sejak pulang kantor kemarin ditambah makin kucel di travel belasan jam itu.

Penumpang pertama akan diantarkan menuju rumahnya di kecamatan yang sepertinya arah Baturraden tp masuk Purbalingga dan pelosok gitu. Gemes banget dong tahu tujuan nganternya jauh bener gitu. Di tengah kegusaran bakal berpenampilan kucel itu aku segera mengeluarkan peralatanku.  Tisu basah, tisu kering, parfum, sisir, deodorant spray menjadi tumpuan make overku dalam travel. Dengan posisi duduk di deret belakang supir, di tengah diantara 2 penumpang dan di belakangku ada seorang ibu dengan 2 anak balitanya, mulailah aku mengusap-usap muka dengan tisu basah, lanjut ke leher, lengan lalu ulangi muka, leher dan lengan. Dan aku tanpa malu mengusap-usap tisu basah masuk ke dalam kaosku di sekitar dada, ketiak, punggung, dan diulang beberapa kali biar badan terasa lebih segar. Au ah kata penumpang lain dan supirnya 😀

Setelah muter-muter nganterin mas pertama itu, kata supirnya tujuan kedua adalah mengantarku ke Bedagas, rumah nenek. Oke aku masih mencoba menghubungi mak-mak dan Dimas yakale aku bisa disambut di dianterin mandi di sungai kek yang penting cucok murokocodot pas masuk ke acara dan tetap gak ada hasil menghubungi mereka dan sinyalku pun ikut-ikutan hilang L

Dan aku melanjutkan dengan menyemprot deodorant ke ketiak dengan memasukkannya ke dalam kaosku juga. Cus cus semprot ketiak kanan kiri. Lalu semprot parfum ke seluruh penjuru kaos biar gak bau kecut dan nanti bisa langsung didobelin kemeja gitu. Lanjut dong usap-usap tisu basah ke rambut biar lebih segar baru ku basahi dengan air mineral lalu ku sisirin rambut yang sudah bad hair day banget. Semakin dekatlah menuju rumah nenek, sudah melalui kota dan kira-kira 5km lagi rumahnya kata supir travel.

Saat mulai menuju rumah nenek tersebut aku bertanya kepada supir dan mas sebelah kira-kira bisa gak ngedrop aku di pom bensin yang di dekatnya ada tukang ojek jadi ntar biar aku mandi aja di situ lalu tinggalin deh biar aku nanti lanjut dengan tukang ojek. Eh gak ada tukang ojek dong katanya dan gak perlu juga mandi di pom bensin karena mending mandi di tetangga-tetangga nenek -____-“ Baiklah… Lalu aku melihat ada salon di sisi jalan dan aku berpikir bagaimana kalau aku mampir saja ke salon untuk krimbat atau cuci rambut bentar tapi sebelumnya numpang mandi dulu dan setelah cucok sekalian minta dianterin ke rumah nenek. Berharapnya sik yang punya salon baik gitu dan mau menolongku 😀 dan tiba-tiba setelah melewati salon itu beloklah travel ke pom bensin. Aku langsung minta ijin kalau boleh numpang mandi sebentar aja gitu tapi kata mas travelnya gak boleh dan langsung aja menuju rumah nenek. OKESIP!!

Dan…. Sekitar jam 10.30an pas akan keluar pom bensin, supir travel melihat teman atau tetangga atau siapanyalah yang sedang memperbaiki mobil di dekat jalan keluar pom bensin dan dia malah berhenti dan menawarkan bantuan untuk memperbaiki. HUWAAAAAAAA WTH banget pikirku mas-mas ini apadeh. Dan mas supir dan kenek turun dan kita ditinggal di mobil dong. Tapi aku segera mendapat ide untuk segera kabur mandi dan bilang ke mas sebelahku kalau aku dicari tolong bilangin aku ke toilet bentar. Cusss deh aku bawa kemeja dan peralatan mandi dan ngibrit ke toilet. Sekitar 10 menitan aku mandi dan mempercantik diri dan segera kembali ke mobil dan ternyata belum selesai juga membantu  mobil temannya yang rusak dong. Sambil cengengesan sendiri aku bersyukur banget walau datang telat dan masnya pakai membantu temannya tetapi aku bisa mandi dan dandan dikit 😀 Pas travel sudah mulai jalan mereka menyadari kalau aku sudah mandi dang anti baju dan aku diketawain dong mbuh gak jelas. Beberapa kilometer setelah pom bensin itu akhirnya sampailah aku di rumah nenek yang sudah ramai tamu-tamu. Okedeh makasih mas-mas travel dan penumpang-penumpang yang udah bersamaku semalaman sampai siang ini selamat melanjutkan perjalan mengantar penumpang-penumpang lain. That’s all. 😀