Mudik pertama

Lebaran 2007 adalah mudik pertama dalam hidupku.
Bulan Juli aku penempatan di Cirebon dan meninggalkan Malang membuatku merasa senang untuk pulang kampung yang pertama kalinya.
Apalagi lebaran waktu itu adalah lebaran pertamaku mempunyai penghasilan dari jerih payah sendiri sebagai abdi negara.
Ketika memasuki bulan puasa, mulai deh yang namanya tukar uang baru di bank, uang pecahan Rp1000 dan Rp5000 saja, yang penting baru.
Lalu tanya sana sini enaknya pulang naik apa ya, dan berburu tiket supaya tidak kehabisan, secara libur lebaran sangat mepet sebeluum lebaran yang pasti banyak yang akan pulang kampung juga.
Dan akhirnya dapat tiket bus Ezri jurusan Cirebon-Malang yang kemudian menjadi langganku setip pulang ke Malang ataupun balik ke Cirebon.
Uang baru sudah dapat, tiket mudik juga sudah… Senangnya 🙂
Hari minggu terakhir sebelum mudik, aku dan mas kos ku yang merupakan seorang bapak, pergi ke pasar pagi di Cirebon.
Awalnya sih cuma ingin mencari sedikit buah tangan untuk keluarga.
Pilih pilih pilih pilih.
Setelah survei dan memperhatikan lapak mana yang sepertinya cocok, kami putuskan berhenti di suatu lapak pedagang keturunan Arab.
Di lapak tersebut aneka produk khas Cirebon tersedia.
Dari sirup Tjampolay, ikan bawal kering, mangga sisir, terasi, ikan asin, kerupuk udang, gapit, melinjo manis pedas, kerupuk sambal, dan aneka produk yang aku tak pernah tahu yang berasal dari Cirebon.
Menurut teman yang warga Cirebon asli, yang wajib jadi oleh-oleh adalah sirup Tjampolay merah rasa pisang susu.
Ok, beli yang rasa pisang susu 3, lha kok ditawarin yang jenifer alias jeruk nifis feres, yakni tjampolay warna hijau yang rasa jeruk nipis yang menurut saya malah mirip sekali dengan sun*light…
Tergoda juga deh membeli jenifer 2 botol.
Jenifer baru saja diiyakan eh ada lagi rasa mocca warna coklat, ambil juga 2 botol.
Sighhhh aku pikir-pikir wong keluargaku banyak dan ini pulang kampung perdana pasti pada tanya oelh-oleh nih dan pasti habis.

Setelah itu lihat-lihat di lapak tersebut, kok ada terasi…
Wahh ini juga khas Cirebon, ibu, nenek, bulik2 jg pada suka sama terasi… Beli juga deh…
Pertama-tamanya sih cuma ambil 1 bungkus berisi 5 batang terasi yang berbentuk kayak hunkwe gitu…
Eh lha kok dihitung-hitung lagi kayaknya perlu lebih deh, dan akhirnya beli 5 pak, DUA PULUH LIMA buah terasi.
Si penjual nyodorin anaknya, cewek seumuranku buat promosiin produk-produknya lagi.
Kali ini anaknya yang bawel kayak aku nawarin kerupuk udang…
Arghhh ok mbak aku beli beberapa bungkus saja.
Dan seperti sebelumnya, bukan hanya satu, dua atau tiga bungkus, tapi DUA BELAS bungkus…
Yah gak papa lah wong demi keluarga dan jarang-jarang juga pulang…
Lanjut deh ditawari ikan asin…
Aku suka banget ikan asin yang digoreng dengan dilumuri bobok alias adonan yang terbuat dari tepung beras, kunyit, garam, merica… Hmmmm
Nenek juga suka, ibu juga suka, bulik dan sepupu-sepupuku juga suka…
Hitung-hitung eh SEPULUH bungkus akhirnya ikan asin….

Di sela-sela aku menawar dan tanya-tanya, mas kosku juga tidak mau kalah denganku…
Dia juga beli sirup tjampolay, ikan asin, kerupuk udang, terasi dan beberapa makanan khas Cirebon lainnya,
Tapi dia belinya tidak selebay aku… 🙁
Paling setiap jenis produk yang dia beli tidak sampai setengahku…
Adoooohhh ya sudahlah yang penting keluarga senang pikirku… 😀
Dan akhirnya ketika dibungkus, dimasukka kardus eh lha kok 1 kardus lumayan besar tidak mampu menampung…
Sighhhh desak-desaik aja sih mbak pokoknya cukup biar bawanya tidak repot.
Dan tetap harus ada yang di kardus kecil tambahan untuk sisanya…
kalau ditanya harga produk-produk tersebut sih murah dan wajar seperti di pasar tradisional lain.
Apalagi ikan asin dan kerupuk udang pasti lebih murah di Cirebon sebagai penghasilnya.

Walhasil dengan modal sekitar Rp200.000 dan merayu-rayu bapak ibu pemilik lapak, aku sudah bisa mendapatkan semua oleh-oleh itu…
Dan tidak kuduga lha kok ternyata berat ya bawanya…
Yang semula berniat naik angkot untuk pulang sebagaimana berangkat ke pasar akhirnya dialihkan naik angkutan umum khas Cirebon.
Yup… Becak…. 😀
Becak adalah sarana transportasi yang sangat umum dan khas di Cirebon, bentuknya lebih pendek dibanding becak di Malang atau daerah lain.
Aku dan mas kosku akhirnya naik becak.
Aku dan Mas kosku yang badannya memang sama-sama kecil ditambah barang bawaan beberapa kardus yah lumayanlah buat naik becak.
Lumayan berat jadinya 😀
Jarak pasar pagi ke kosan sekitar 6-7KM dengan latar waktu bulan puasa, hari minggu, cuaca terik panas sekali jam 13 an….
Perfecto banget nih pikir tukang becaknya nganterin kita…
Setelah menembus hawa panas kota Cirebon akhirnya sampai juga di kos dengan barang sebanyak itu.

Hal lebih ribet ku alami ketika akan naik becak ke terminal bersama teman untuk mudik.
Kardus oleh-oleh yang berat dan ribet ditambah tas punggung yang isinya tidak kalah banyak membuat becak semakin sempit.
Dengan penuh kesesakan akhirnya kami berhasil sampai terminal ±45menit sebelum keberangkatan.
Eh eng ing eng lha kok ada kabar mutasi besar-besaran…
Dengan tingkat kepenasarn yang tinggi aku naik becak lagi balik ke kantor untuk mengetahui siapa saja yang kena mutasi dan meminta file mutasi untuk dibaca-baca di rumah.
Jarak kantor dengan terminal yang tak terlalu jauh memang membuatku yakin tidak bakal tertinggal bus, tapi harus buru-buru copy filenya juga kali.
Telepon dan sms pada berdatangan tanya mutasi…
Akhirnya aku minta tolong orang kantor untuk mengantarku dengan motor biar tidak tertinggal bus.
Alhamdulillah pas aku sampai di terminal busnya belum berangkat, baru ngecekin penumpang saja padahal waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 tepat yang seharusnya bus berangkat. 🙂
Sekedar info saja kalau aku ijin pulang cepat dari kantor dan harus menerima konsekuensi pemotongan tunjangan karenanya.
Here we go… Bus berangkat dan inilah mudik pertama saya.
Dan ternyata macet panjang sejak gerbang keluar tol Kanci sampai dengan Brebes…
Tapi masih bisa bergerak kok kendaraan walau pelan-pelan dan bukan macetcetcet.
Setelah ±2jam terjebak macet akhirnya jalanan lancar dan tiba di rumah pukul 07.30 esok harinya.
Dengan disambut hawa diwngin malang dan senyum tawa keluarga yang sudah beberapa bulan tak jumpa, ini aku pulang…

Suasana Ramadanku

Dari kecil sampai dengan 2004 selalu terasa “biasa” karena memang di rumah.
Tahun 2005 puasa di kosan untuk pertama kali tapi masih di Malang jadi masih sering pulang.
Tahun 2006 puasa di rumah, sedang magang menunggu penempatan.
Tahun 2007 puasa di Cirebon, penempatan pertama dan puasa jauh dari keluarga untuk pertama kalinya, dengan makanan yang monoton karena warteg yang ada hanya itu.
Tahun 2008 puasa masih di Cirebon, makanan sudah lebih bervariasi, ibadah juga lebih khusyuk, life was just better.
Tahun 2009 juga masih puasa di Cirebon dengan banyak variasi-variasi yang menghasilkan keceriaan dan keindahan dalan bulan puasa. Makanan yang sederhana, nikmat, beraneka ragam, safari buka di pelbagai tempat. Shalat tarawih ganti-ganti masjid. Sangat menikmati bulan itu.
Tahun 2010 aku sudah pindah di Bintaro. Awal puasa ku lalui di Malang ketika sedang libur kuliah, sangat langka peristiwa seperti ini di tahun-tahun belakangan ataupun di tahun mendatang. Lalu balik ke Bintaro beberapa Minggu dan puasa di sana. Kuliah di saat puasa tidaklah mengerikan tetapi mengantukkan. Di minggu terakhir bulan puasa sudah liburan dan balik ke Malang, ini juga sangat menyenangkan dan pasti jarang terjadi jika tidak sedang kuliah.

Dengan siapa, dimanapun, dan apa yang ku kerjakan pada saat Ramadan, semuanya sangat membekas di hatiku, baik saat suka maupun duka.

Love you, love my family, love my country and Islam is my way

Punk In Love

Apa yang menarik dari film ini?

Latar belakang para pemainnya yang merupakan pemuda-pemuda Malang, dengan dialek Malangan, lokasi shooting banyak di Malang, cerita juga Malangan…

Sebagai orang Malang aka Aremania, saya sangat menyukai film ini.
Sebagian besar adegannya membuat kita terpingkal-pingkal, ada unsur romantis, petualangan, perjuangan hidup, kesederhanaan, masa muda yang penuh gila-gilaan, dialek Malangan yang kasar dan medhok.

Tak ketinggalan pemandangan yang menarik di pelbagai lokasi shooting dari Malang, Bromo, Blitar, Semarang, Brebes, Cirebon, Jakarta.

Dengan bintang utama Andika Pratama yang memang Aremania, punk in love menampilkan para punkers Malang yang rela berganti aliran jadi dangduters demi menggapai cinta di Jakarta.

Walau bukan film box office amaupun film festival yang menjadi spotlight, Punk In Love layak banget ditonton bersama sahabat atau orang yang berarti bagimu.

Dangdut is the new punk.

Heavent Sent

http://www.youtube.com/watch?v=POkQXeTv7-4

Lagu yang sudah sangat mengena sejak 2 tahun lalu, ketika bulan puasa 2008.
Keyshia Cole dengan suara khasnya mampu membawa aura romantis, haru dan bahagia sesuai liriknya.
Lirik yang top banget dan musik yang gak ribet serta video klip yang juga gak macem-macem makin membuat lagu ini wajib didengarkan.

I wanna be the one who you believe in your heart because you’re sent from heaven
There’s a piece of me who leaves when you’re gone because you’re sent from heaven

*sampai sekarang aku masih trenyuh mengharu biru setiap mendengarkan lagu ini*